Memilih Kamera Jalan-Jalan

Memilih kamera untuk jalan-jalan adalah hal yang rumit dilakukan, buat saya. Walau ada yang bilang, dan saya juga percaya akan hal ini, “gears don’t matter“. Tapi ada kalanya kita butuh evaluasi apa peralatan yang harus kita bawa sesuai konteks dan kondisinya.
Saya sudah memiliki Nikon D5000, sebuah DSLR yang sudah lumayan jadul, tapi masih berfungsi dengan baik. Di sisi lain, saya juga punya iPhone 7 dan iPhone 6. Nikon D5000 ini sudah saya beli tujuh tahun yang lalu, saat saya pertama kali backpacking ke Eropa. Waktu itu saya masih sendiri, belum menikah. DSLR masih menjadi tren. Belum banyak alternatif seperti kamera mirrorless. Saya belilah dengan harapan hasil yang saya dapat bisa lebih baik. Saya sempat membuat video-video dokumentasi perjalanan saya, ini dan ini. Bukan vlog sih, hanya klip singkat. Pada saat itu, saya cukup puas dengan kamera itu.

Nikon D5000, teman setia selama 7 tahun
Oh ya, sebenarnya cerita saya soal kamera digital ini panjang. Yang pertama kali saya gunakan dulu adalah Sony Digital Mavica, yang menyimpan data di floppy disk! Bayangkan, dulu saya harus menenteng satu tas penuh disket-disket kecil, dan satu disket biasanya isinya hanya puluhan gambar sebelum diganti lagi. Kamera ini bukan milik saya, tapi milik sekolah yang saya pinjam karena saya terlibat seksi dokumentasi di OSIS sekolah.
Setelah itu, saya sempat memiliki kamera Sony pertama, tipenya adalah DSC-F717. Kamera ini keren di jamannya, dan saya bersyukur bisa memilikinya pada saat itu. Saya gunakan terutama untuk tugas kuliah di Desain Komunikasi Visual. Saya juga sempat membeli kamera film, Nikon FM10, juga untuk tugas kuliah fotografi.

Sony DSC-F717, bentuknya memang unik

Nikon FM10
Dua kamera itu saya jual, sebelum membeli Nikon D5000 yang saya miliki sampai sekarang. Selama tujuh tahun, saya tidak membeli kamera baru, karena memang minat saya kepada fotografi hanya sebatas dokumentasi. Pada perjalanan kami terakhir ke Melbourne, Australia, pun, saya masih menggunakan Nikon D5000 ini.
Tahun ini, saya berencana pergi liburan lagi dengan keluarga. Dengan hadirnya Janis, anak kami yang sudah dua tahun, kami berpikir untuk lebih mengutamakan perjalanannya daripada “ribet” dengan alat-alat yang berkaitan. Saya pun merasa mungkin Nikon D5000 ini tidak cocok lagi dengan gaya jalan-jalan kami yang sudah lebih menurut kondisi Janis, bukan maunya kami saja. Kami memutuskan untuk mencari-cari kamera yang lebih kecil ukurannya. Ukuran jadi pertimbangan utama karena kami ingin lebih fleksibel dalam menemani Janis ke mana pun kami bereskplorasi nantinya.
Pilihan tentu saja jatuh kepada beberapa merek dan tipe kamera mirrorless. Setelah membanding-bandingkan sesuai anggaran, pilihan jatuh pada beberapa merek dan tipe berikut ini:

  • Sony A5000/6000/6300: Kompromi antara kualitas dan harga, serta pilihan lensa yang sepertinya sudah mumpuni.
  • Sony A7 (Mark II): Kualitas dan spesifikasi yang tertinggi, tetapi mahal.
  • Panasonic Lumix GX85: Kualitas dan spesifikasi yang lumayan, sesuai dengan anggaran.

Setelah ditimbang-timbang lagi, kami ternyata juga kepincut beberapa premium compact seperti Sony RX100 (antara Mark IV atau Mark V) dan Canon G7X atau G9X. Pertimbangan utamanya adalah ukuran dan tidak ribet gonta-ganti lensa. Lagipula, menurut banyak ahli fotografi, yang paling kita butuhkan untuk perjalanan kasual adalah kamera yang bisa dengan cepat kita gunakan dalam berbagai situasi, tanpa harus khawatir gonta-ganti lensa atau pengaturan yang berlebihan. Kecuali subjek fotonya adalah kehidupan hewan liar yang harus dipotret dari jarak jauh, atau potret manusia yang butuh mengaburkan latar belakang, sehingga butuh apertur yang lebih besar, misalnya. Lensa zoom juga sebenarnya tidak begitu penting dalam konteks perjalanan kasual, karena mendorong kita untuk memilih subjek atau objek dengan lebih hati-hati, dan mencoba eksplorasi sudut pandang dengan lebih bervariasi.
Sebenarnya, hal ini juga sudah saya praktekkan dengan iPhone, yang mendorong kita untuk hadir di lokasi, dekat dengan subjek atau objek, dan berpikir lebih pada komposisi daripada teknologi. Saya tidak ingin teknologi menjadi penghambat spontanitas. Apalagi jika hasil akhirnya hanya posting di Instagram.
Banyak juga kok di Instagram yang kualitas fotonya bagus, bukan dari kameranya, tapi dari orang yang memotretnya. Setelah dilihat, ternyata mereka hanya mengambil foto dengan iPhone atau kamera ponsel, lalu disunting sedikit dengan aplikasi seperti Snapseed atau VSCO.
Akhirnya, dengan pertimbangan di atas, dan dengan niat untuk memperbaiki kemampuan komposisi terlebih dahulu, kami memutuskan membeli Sony RX100 V, kamera compact dengan bodi yang sangat kecil tapi dengan kemampuan segudang. 


Sony RX100 V, dengan layar yang bisa dilipat ke depan

Sony RX100 V, tampak atas
Mungkin kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di sini ya, saya tidak akan bercerita panjang lebar. Yang paling penting buat saya pada saat ini, auto-fokus yang cepat, sehingga tidak perlu lama-lama mengambil gambar. Yang kedua, sensitivitas cahaya gelap (low-light sensitivity) yang walaupun tidak sempurna, tapi sebanding dengan DSLR saya, atau minimal lebih baik dari iPhone saya, apertur yang besar (f1.8-f2.8), sehingga bisa melakukan potret wajah (anak saya, istri saya) dengan lebih baik pada kondisi-kondisi tertentu, kecepatan operasi, dan yang paling penting, video HD dan 4K (jika diperlukan), kalau-kalau saya harus membuat vlog.
Ini beberapa hasilnya:

Hello.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Little feet.
A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Rainless. #SonyRX #SonyRXMoments #SonySG_RX #RXthroughmyeyes #SonyRX100M5 @sonysingapore

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on


Lumayan, kan!
Kemungkinan, jika ada uangnya lagi, saya akan berinvestasi di kamera Sony lainnya, yakni Sony A7 atau A7 Mark II.
Sejauh ini, saya puas, dan sangat merekomendasikan kamera ini untuk perjalanan jenis apapun!

2 Comments

  1. Wah kecil-kecil tapi keren banget yah! Saya juga pengen beli sony A7S tapi kenapa mahal banget hahaha. Ngelihat ini juga sepertinya bisa jadi pertimbangan. Terimakasih sharingnya :))

    • A7S itu untuk profesional, atau pro end user. Saran kami, yang penting tujuannya. Kalau memang traveling dengan tujuan mengumpulkan portfolio foto yang bagus, maka A7S bisa jadi pilihan. Tapi, kalau hanya untuk dokumentasi, RX100V sudah lebih dari cukup. Ada pilihan lain yang lebih murah juga seperti A5000.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2020 Ransel Kecil