Category: Ulasan (Page 2 of 5)

Buku-Buku Penginspirasi Perjalanan

Berikut beberapa buku yang dapat menginspirasi anda untuk melakukan perjalanan. Ketagihan tidak ditanggung, ya. Bukan, bukan “Eat, Pray, Love”, kok.

The Great Railway Bazaar oleh Paul Theroux

Paul Theroux adalah salah satu penulis perjalanan paling terkenal di dunia. Buku-bukunya menangkap esensi perjalanan dengan narasi yang jujur tetapi tetap imajinatif. Dalam buku ini, ia menceritakan tentang perjalananannya melalui kereta api di benua Asia, mulai dari The Orient Express di Singapura, Malaysia dan Thailand, Khyber Pass di Afganistan, Golden Arrow di Malaysia, Mandalay Express di Myanmar sampai Trans-Siberian Express yang membentang dari Cina, Mongolia sampai Rusia.

Istanbul oleh Orhan Pamuk

Siapa yang tidak tertarik pada Istanbul? Sejatinya, kota ini memang selalu dalam persimpangan, bahkan sejak dulu, jaman Kekaisaran Ottoman. Orhan Pamuk, seorang sastrawan terkemuka dari Turki, dilahirkan dan dibesarkan di Istanbul. Dalam buku ini, beliau menceritakan dan menggambarkan dengan detil dan menarik tentang semua sudut-sudut kota tempat ia dibesarkan. Tapi, tidak hanya itu, ia juga membumbuinya dengan cerita-cerita masa kecilnya, mulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti makanan masa kecilnya, ketidaksukaannya pada beberapa aspek di keluarganya, sampai bagaimana kota ini membentuknya sebagai penulis. Jika ada tulisan yang “cantik dan menawan”, inilah hasilnya.

The Rice Mother oleh Rani Manicka


Saya tak pernah merasa jatuh cinta lebih besar pada Asia Tenggara, terutamanya Malaysia, sebelum membaca buku ini. Namun, fiksi yang berlatar belakang Malaysia dan Sri Lanka ini membuat saya lebih mengapresiasi detil-detil kultural dan kehidupan sehari-hari di ranah geografi yang lebih dekat dengan tempat saya dibesarkan: Indonesia dan Malaysia. Mulai dari detil-detil seperti kain, rumah, buah dan makanan lokal, sampai detil-detil sosiokultural seperti kebiasaan atau adat-istiadat. Semuanya diramu dalam fiksi tentang pubertas, pernikahan, pertikaian keluarga sampai konflik eksternal: penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Di sini, kita bisa melihat perjuangan seorang Lakshmi, gadis desa dari Sri Lanka yang pindah ke Malaysia karena pernikahan (yang agak dipaksakan). Melihat budaya dari sisi pendatang dan bagaimana pendatang itu berusaha dengan keras untuk berasimilasi, walau dengan konflik batin.

The Lonely Planet Story oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler

Tidak banyak yang tahu tentang pendiri (atau istilah kerennya sekarang, founders) Lonely Planet, penerbit buku-buku panduan perjalanan. Adalah Tony Wheeler dan Maureen Wheeler, sepasang suami istri yang awalnya berasal dari Inggris, dan mengawali konsep backpacking dengan melakukan perjalanan darat dari Inggris ke Australia. Dari hasil perjalanannya ini, mereka memutuskan untuk membuat sebuah panduan perjalanan pertama di dunia, yang diberi judul “Across Asia on the Cheap“. Ternyata, edisi pertama laku keras. Mereka akhirnya “ketagihan” untuk menulis buku-buku lainnya, hingga pada akhirnya meminta penulis-penulis lain untuk berkontribusi dalam satu brand yang sama, yakni Lonely Planet.
Mereka memutuskan untuk berdomisili di Melbourne, Australia, dan beroperasi dari situ.
Di buku ini, mereka bercerita tidak hanya soal detil perjalanan lintas negara dari Inggris ke Australia melalui jalan darat, tetapi juga tentang motivasi bagaimana Lonely Planet lahir, serta apa visi dan misi mereka melalui publikasi ini.

Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.
Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.
Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.
Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.
Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.
Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.
Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.
Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.

« Older posts Newer posts »

© 2021 Ransel Kecil

Ikuti kami di Twitter