Category: Transportasi (Page 2 of 10)

Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.
Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.
Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.
Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.
Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.
Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.
Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).
Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).
Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).
Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.
Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.

Naik Sleeper Train Dari Penang ke Kuala Lumpur

Usai menikmati keindahan George Town, Penang, saya melanjutkan perjalan saya ke Kuala Lumpur. Dalam perjalanan tersebut ada satu hal yang saya rasakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, yaitu naik rangkaian kereta api bertempat tidur (sleeper train).
Ada dua alasan kenapa saya memilih sleeper train, alasan pertama adalah untuk menghilangkan rasa penasaran, yang kedua untuk menghemat biaya penginapan. Rangkaian kereta tersebut berangkat dari Butterworth pukul 23.00 dan sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 06.00. Tidur di sleeper train sangat nyaman, tidur nyenyak sampai pagi dan sampai di Kuala Lumpur. Badan kembali segar di pagi hari.
Kereta berangkat dari Butterworth yang letaknya bukan di Pulau Penang, tapi sudah menyeberang ke semenanjung Malaysia. Negara bagian Pulau Penang memang terbagi dua, yakni pulaunya itu sendiri dan sebagian semenanjung Malaysia. Untuk meuju Butterworth, saya menggunakan kapal feri yang berangkat dari dermaga (Weld Quay) yang letaknya tidak jauh dari penginapan saya di George Town. Perjalanan tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Sesampainya di Butterworth saya pun langsung menuju stasiun kereta api Butterworth yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Petunjuk arah menuju stasiun kereta cukup lengkap dan jelas, jadi tidak perlu takut tersasar.
Peron stasiun Butterworth di malam hari.
Peron stasiun Butterworth di malam hari.
Sesampainya di stasiun Butterworth saya langsung membeli tiket sleeper train di loket pembelian, harganya RM46 (sekitar Rp150.000). Jangan sampai salah beli tiket, sleeper train dari Butterworth ke Kuala Lumpur dioperasikan oleh perusahaan kereta api nasional, Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad. Sebenarnya tiket bisa dipesan secara online di situs web KTM, tapi saya memutuskan untuk beli langsung saja di loket stasiun Butterworth.
Ruang tunggu stasiun Butterworth.
Ruang tunggu stasiun Butterworth.
Stasiun kereta di Butterworth sangat nyaman, ruang tunggunya sangat dingin oleh pendingin udara. Kantinnya juga sangat nyaman, banyak penjual berbagai makanan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kala itu masih pukul 20.00, sedangkan kerata berangkat pukul 23.00, sengaja saya datang lebih awal agar tidak kehabisan tiket. Sehabis membeli tiket saya pun membeli beberapa makanan di kantin stasiun yang letaknya di belakang. Di sana dijual berbagai makanan yang harganya relatif murah. Kantin tersebut juga dilengkapi fasilitas TV kabel, jadi menunggu kereta tidak menjadi hal yang membosankan!
Menurut jadwal, kereta akan berangkat pukul 23.00 dan sampai di KL Sentral pukul 06.00. Keretanya tepat waktu! Sebelum pukul 23.00 pengumuman sudah berbunyi melalui pengeras suara bahwa kereta sudah siap dan penumpang harap bersiap-siap menuju peron.
Dengan rasa penuh antusias saya naik ke dalam kereta. Setelah memasuki gerbong saya sejenak terkesima dengan kenyamanan interior gerbong. Tempat tidurnya ada di sisi kiri dan kanan jendela. Di tengah-tengah ada lorong panjang untuk berjalan. Saya tidur di tempat tidur bagian bawah, ukuran tempat tidurnya lumayan, tidak terlalu lebar tapi juga tidak sempit. Sepreinya berwarna putih, sarung bantalnya juga. Kereta terus melaju, satu jam pertama saya masih memandangi suasana malam dari jendela, setelah itu saya menutup tirai jendela dan siap untuk tidur.
Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.
Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.
Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.
Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.
Esok paginya, saat kereta sebentar lagi sampai di stasiun KL Sentral, ada petugas yang mengingatkan bahwa kereta sesaat lagi akan sampai tujuan. Saya pun terbangun dengan segar. Saya pun bergegas merapikan barang bawaan saya kemudian turun dari kereta dan siap untuk menjelajahi Kuala Lumpur.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013
« Older posts Newer posts »

© 2021 Ransel Kecil

Ikuti kami di Twitter