Category: Esai Foto (Page 4 of 5)

Menyesapi Panorama Wat Arun

Jam nyaris berdetak ke angka sembilan saat saya sampai di Wat Arun. Keindahan Wat Arun yang berdiri kokoh menantang matahari, mengundang decak kagum saya. Begitu menarik, unik dan memesona. Sejenak saya menatap langit dan menghela nafas, lalu menyisir setiap sudut bangunan yang memiliki arsitektur sangat megah ini. Gontai langkah saya pun perlahan mengukir lantai. Potongan kaca dan keramik warna-warni pada dindingnya membuat bangunan bersejarah tersebut tampak semakin indah dan elegan. Didorong penasaran yang tinggi untuk menyaksikan pemandangan yang lebih leluasa, saya mencoba mengumpulkan keberanian mendaki anak tangga yang menanjak tajam. Sungguh memanjakan mata. Rasa lelah seolah terbayar lunas, manakala disuguhkan panorama memukau. Di atas, saya melepas penat sekaligus menikmati karunia Tuhan.
Ah, beginilah seharusnya hidup. Wat Arun memang menyuguhkan ‘surga’ bagi pecinta wisata.
Wat Arun, Kuil Sang Senja
Wat Arun, Kuil Sang Senja
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Pagoda Phra Prang di Kompleks Kuil Wat Arun
Menara Wat Arun
Menara Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun
Detil Bangunan Wat Arun
Biksu-Biksu Berjalan
Biksu-Biksu Berjalan
Kota Bangkok dari Wat Arun
Kota Bangkok dari Wat Arun

  • Disunting oleh SA 16/02/2012

Menyusuri Heningnya Gangga Di Varanasi

Hari itu saya sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Dari jendela kamar atas tempat saya menginap saya mengintip ke arah langit, saat itu ia masih berwarna biru tua dengan rona keunguan. Matahari bahkan belum tampak. Lalu, tiba-tiba, saya mendengar suara dari arah bawah, tatapan saya pun teralihkan. Saya akhirnya mengamati gang sempit di depan pintu penginapan, ternyata sudah banyak orang berlalu-lalang. Ya, di Varanasi denyut kehidupan memang dimulai lebih awal dibandingkan kota-kota lain yang pernah saya kunjungi di India. Ditemani oleh dua orang teman seperjalanan, Daniel dan Vasanti, sayapun bergegas pergi keluar penginapan, ke arah tepian Sungai Gangga demi mendapati perahu sewaan yang bisa kami pakai menyusuri sungai. Salah satu hal yang wajib wisatawan lakukan ketika sedang mengunjungi kota Varanasi, katanya. Ditemani warga lokal pemilik perahu yang kami temui di jalan, sampailah kami bertiga di tepian sungai, dekat dengan dek kapal.
Suasana Pagi di Sungai Gangga
Suasana Pagi di Sungai Gangga
Gadis Penjual Bunga
Gadis Penjual Bunga
Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai
Bunga dan Lilin untuk Dilepaskan ke Sungai
Di bawah rona langit ungu-merah jambu, kami memulai kegiatan di atas perahu dengan melepaskan lilin bertahtakan bunga yang kami beli dari putri pemilik kapal. Konon bunga dan lilin adalah lambang doa
dan harapan, dan dengan melepaskannya ke sungai, niscaya doa dan harapan itu akan menjadi kenyataan. Sayang, kami hanya beberapa saat berada di atas perahu kayu. Kota Varanasi yang kemarin begitu mengejutkan saya dengan carut-marutnya, pagi itu semuanya terasa sangat tenang dan hening. Tidak ada lagi bunyi klakson yang agresif serta raungan mesin. Walaupun dengan sedikit pengalaman tidak menyenangkan yang kami alami dari pemilik kapal, kesyahduan pagi itu tetap tidak terkalahkan.
Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga
Seorang Pria Bersiap-siap untuk Mandi dan Mensucikan Diri di Sungai Gangga
Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai
Sekelompok Peziarah Mandi di Tepi Sungai
Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk
Para Peziarah Mengantri untuk Menenggelamkan Tubuhnya dengan Khusyuk
Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga
Seorang Bocah Pemulung Sampah di Tepi Sungai Gangga
Selama menelusuri tepian sungai, baik dengan berjalan kaki maupun di atas perahu, mata saya dimanjakan dengan berbagai hal menarik yang seringkali membuat saya berdecak kagum. Hampir di setiap susunan anak tangga menurun menuju Sungai Gangga tidak pernah kosong oleh kegiatan manusia. Kebanyakan dari mereka adalah para peziarah yang datang dari berbagai penjuru kota di India. Seolah tidak peduli dengan keruhnya air dan banyaknya sampah yang terapung, banyak dari mereka yang dengan kusyuknya merendamkan tubuhnya atau sekedar membersihkan diri di tepian sungai. Mereka tampak tenang dan apa adanya, walau jelas-jelas di hadapan mereka ada puluhan wisatawan berlalu lalang di atas perahu kayu memperhatikan setiap gerak-gerik yang ada. Setiap bulir air di Sungai Gangga yang mengaliri tubuh manusia dipercaya dapat menghapus dosa-dosa serta kesalahan mereka di masa lalu serta menguapkan karma yang seharusnya mereka jalani. Sungai ini juga menjadi tempat utama bagi penganut Hindu dalam menghanyutkan abu kremasi atau jenazah keluarga yang meninggal dunia. Kesuciannya menjadikan sungai tersebut sebuah gerbang kehidupan akhir dari masa kini, menuju awal kehidupan baru di masa yang akan datang.
Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga
Peziarah Bermeditasi dan Menyendiri Menghadap Sungai Gangga
Tidak jauh dari tepian sungai, sesekali kita melihat kehadiran orang yang sedang menyendiri dan bermeditasi. Tidak sedikit dari mereka terlihat sudah cukup tua dan renta. Konon, menghabiskan sisa hidup di Varanasi dan meninggal di tepi Sungai Gangga merupakan pilihan bagi masyarakat Hindu di India. Layaknya Yerusalem yang merupakan kota penting dalam sejarah tiga agama besar dunia, kehadiran kota Varanasi amatlah penting bagi tiga agama besar di India yakni agama Budha, Jain dan Hindu. Di Varanasi, konon Siddharta Gautama untuk pertama kalinya menyampaikan prinsip ajaran dasar agama Budha. Di kota itu pula, diketahui Parshvanath yang merupakan salah seorang pemuka ajaran Jain dilahirkan. Sedangkan bagi umat Hindu, kota Varanasi dipercayai sebagai sebuah kota yang dibangun oleh Dewa Siwa (salah satu dari Dewa Trimurti). Di dalam kota tersebut, mengalir pula air suci yang dicurahkan oleh putri Dewa Siwa dan Parvati yakni Dewi Gangga, dewi kesuburan dan pembersih dosa. Dalam mitologi umat Hindu, Dewi Gangga sering dilambangkan sebagai seorang wanita cantik yang selalu membawa kendi berisikan air suci untuk dicurahkan ke bumi, curahan air suci itu kemudian sampai saat ini diyakini sebagai Sungai Gangga.

  • Disunting oleh SA 02/02/2012
« Older posts Newer posts »

© 2022 Ransel Kecil

Ikuti kami di Twitter