Categories
Catatan Perjalanan

Perth, Destinasi Terbaik untuk Keluarga

Kami datang ke Perth tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang destinasi ini membosankan. Ada yang bertanya, “Ngapain kamu ke Perth? Ada apa di situ?”
Pemandangan dari Kings Park & Botanic Garden
Yang kami tahu, Australia selalu jadi destinasi yang oke buat keluarga, apalagi yang punya anak kecil seperti kami. Jadi, kami pesan saja tiket pesawat ke Perth dari Singapura, sambil berharap cemas (tapi senang). Oh ya, kami liburan ke Perth ini sebenarnya tidak direncanakan. Kami menang undian di kantor, di mana tiap bulan satu orang pegawai bisa pergi ke mana saja dengan budget S$3,000. Enak kan? Makanya, kerja di HomeAway, ya.
Karena sifatnya mendadak, kami agak malas mengurus visa. Kami pun ingat, masih ada visa Australia yang berlaku tiga tahun itu. Perth juga waktunya sama dengan Singapura, jadi tidak ada masalah jet lag. Cus!
Walaupun beberapa orang mengatakan Perth tidak ada apa-apanya, kami justru terkejut. Kenapa bisa begitu, ketika kami melihat justru banyak sekali pantai yang bagus, iklim yang bersahabat, kota yang tidak terlalu ramai seperti Melbourne atau Sydney… sungguh surga bagi kami. Janis pun bisa berlari-larian ke mana-mana dengan leluasa. Teman kami yang sudah lama tinggal di Perth pun bilang, memang banyak penduduk Perth yang kurang bersyukur dengan keadaannya. Padahal, Perth itu tempat yang enak buat hidup!
Tapi benar deh, pantai di sini yang terbaik yang pernah kami lihat. Pasir bersih dan putih, ombak yang bersahabat dan “santai”, air yang bersih dan berwarna biru toska… luar biasa. Belum lagi melihat Samudera Hindia yang membentang luas sampai Afrika. Pantai di pesisir barat Australia membentang beratus-ratus kilometer, mulai dari Geraldton, sebuah kota kecil jauh di utara Perth, sampai Margaret River, dan terus ke Augusta di ujung selatan.
Kami datang tanpa rencana pasti, yang pasti adalah kami menyewa mobil. Sebuah Toyota Corolla Hatch sederhana yang kami sewa dengan total biaya AU$350 per minggu (tanpa besin, tanpa supir, karena supirnya saya, cukup dibayar makan saja).
Berbekal Google Maps, kami secara acak memilih tujuan pertama kali di Perth. Hompimpa, ternyata yang keluar adalah Matilda Bay. Sebenarnya tanpa hompimpa sih, kami cuma mau tujuan yang dekat dengan rumah menginap saja, sembari menunggu check-in jam 3 sore.
Kami tinggal di daerah Crawley, sebuah suburb di barat pusat bisnis (CBD), tidak jauh dari pusat kota. Senang sekali tinggal di daerah ini, karena tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi suasananya tenang seperti di pinggiran. Selain itu, kami juga dekat dengan pesisir, mungkin sekitar 15-20 menit menyetir mobil. Matilda Bay adalah waterfront terdekat dari tempat menginap kami, dan ada kafenya.
Kopi sore di Bayside Kitchen, Matilda Bay
Di Matilda Bay ini, kita bisa melihat CBD dari kejauhan, di seberang Swan River, sambil menikmati kopi di Bayside Kitchen, sebuah kafe bertema rumah pantai.
Dari 7 hari di sini, kami merencanakan segalanya dari hari ke hari, alias satu hari sebelumnya, bahkan kadang di pagi harinya.
Di hari ke-2, kami mencoba pergi ke Caversham Wildlife Park, untuk melihat kangguru dan koala buat si kecil. Perjalanan dari tempat menginap kami memakan waktu 1 jam. Di sini, kami bisa berinteraksi dengan kangguru langsung, memberi mereka makan (dari pakan yang sudah disediakan). Kita juga bisa berfoto bareng koala, yang ternyata harus tepat waktu, karena mereka punya waktu tidur siang!
Berpose bersama koala di Caversham
Bermain bersama kangguru di Caversham
Kangguru bersantai
Memberi makan kangguru
Setelah puas ke Caversham Wildlife Park, melihat beberapa hewan lain, seperti burung dan wombat, kami ke tengah kota lagi untuk menikmati kopi sore di South Foreshore, tepatnya di cafe bernama The Boatshed Cafe. Rileksnya!
Di hari ke-3, kami mencoba salah satu pantai. Kami bingung memilih antara Scarborough atau Cottesloe, tapi akhirnya Cottesloe menjadi pilihan karena lebih dekat jaraknya. 15 menit perjalanan menyetir saja. Matahari terik tapi suhu lumayan dingin (20-25 Celcius).
Pantai Cottesloe merupakan salah satu pantai yang populer, selain Scarborough. Oleh karenanya, pantai ini cukup ramai. Ada hotel, pertokoan dan rumah makan di sekitarnya. Tempat parkir banyak. Ini kali pertama anak kami benar-benar main di pantai. Kami makan siang ikan barramundi yang ternyata enak sekali.
Cottesloe Beach
Bermain ayunan di Cottesloe
Kami juga sempatkan berkunjung ke Kings Park dan Botanic Garden, taman botani dan memorial Anzac dengan pemandangan ke arah CBD dan Swan River yang menakjubkan. Lokasinya agak tinggi, dengan rumput yang berkualitas tinggi, membuat piknik menjadi nikmat luar biasa dan kalau tidak berhati-hati, bisa ketiduran sampai sore…
Karena masih belum puas dengan pantai, kami pun pergi ke pantai lain di North Fremantle. Menurut teman kami, ini pantai yang lebih sepi dan pasirnya lebih bagus. Benar. Lebih rileks, walau tidak sedramatis Cottesloe. Kami di sana sambil main air dan menikmati senja.
Janis bermain pasir dari jarak dekat
Bersantai di pantai Coast Port
Puas main di pantai, kami mengakhiri hari dengan makan malam di Chicken Charcoal di bilangan Dianella. Chicken Charcoal, tidak seperti namanya, tidak hanya menyajikan ayam bakar, tapi juga ribs domba bakar, yang luar biasa enaknya. Tekstur luar yang renyah dan dagingnya yang lembut, sangat menggugah selera. Tepat untuk makan malam setelah main di pantai. Apalagi, dilengkapi nasi biryani hangat, kentang goreng dan salad kepiting.
Perth memang bukan destinasi kuliner, tapi jika anda benar-benar ingin mencoba hal baru, cobalah makan daging kangguru. Tenang, daging kangguru di sini berasal dari kangguru yang diternak khusus. Rasanya seperti apa? Sama seperti daging sapi, hanya tidak ada lemaknya. Cukup sehat, bukan?
Perjalanan ini diakhiri dengan klimaks yang cukup menyenangkan: Rottnest Island, atau Pulau Rottnest. Pulau konservasi ini menjadi tujuan wisata banyak orang di Perth, terkenal dengan mamalia unik yang berhabitat di sini: quokka. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai mungil yang indah.
Biasanya, pengunjung akan menyewa sepeda dan berkeliling pulau, sembari menginap semalam atau dua malam. Tapi waktu kami datang, sedang hujan, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan bis yang walau cukup mahal (AU$18 per orang dewasa, gratis buat anak di bawah 4 tahun), bisa membawa kami keliling pulau untuk seharian, tanpa batas.
Pinky Beach, Rottnest Island
Tidak usah khawatir kelaparan, karena di sini banyak makanan dan juga pertokoan, termasuk sebuah supermarket. Bawa makanan ke salah satu tempat duduk yang tersedia, dan voila, kita bisa piknik ditemani quokka yang berkeliaran. Hati-hati, jangan memberi mereka makan karena mereka sudah punya diet khusus.
Mercusuar di Pinky Beach, Rottnest Island
Pinky Beach, Rottnest Island
Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14:30, dan kapal kami kembali ke Fremantle adalah pukul 16:25. Kami sempatkan berkeliling ke pesisir dekat dermaga, untuk melihat sebuah mercusuar di dekat Pinky Beach, sebuah pantai mungil yang sungguh indah.
Quokka
Kami sungguh menyesal karena tidak menyempatkan menginap di Rottnest Island, karena alamnya begitu indah dan tenang. Mungkin lain kali!

Categories
Catatan Perjalanan

Paella Nikmat di Tower Bridge


Naik tube pertama kali
Siapa sangka, pertama kali kami makan paella, makanan kebanggan Spanyol, malah bukan di Spanyol. Tapi di Inggris. Di London. Tepatnya, di pinggir Tower Bridge. Itu pun juga mendadak, karena kami semua keburu lapar, dan Janis lagi senang nasi. Untung, ada bazar makanan di sekitar Tower Bridge waktu itu, dan pilihan jatuh ke paella, antara makanan Thailand dan Korea yang juga ada nasinya.

Makan siang paella di Tower Bridge
Ternyata, Janis pun suka. Syukurlah.
London, buat kami, bukan destinasi kuliner. Walau ternyata kami salah, karena seperti ibukota negara lain yang dinamis, banyak imigran di sini yang pada akhirnya membawa banyak pengaruh budaya, salah satunya makanan.
Tower Bridge adalah atraksi turis pertama yang kami kunjungi, karena dekat dengan hotel. Sebenarnya tidak dekat juga sih, sekitar lima atau enam stop bis kota.
Hari itu juga kami pertama kali naik bis double decker merah yang terkenal itu. Sayangnya, bukan versi routemaster. Namun, jauh lebih modern, dan agak berbeda dari versi bis tingkat Singapura yang kami biasa naiki: penumpang bisa naik dan turun dari tiga pintu, di depan, di tengah dan di belakang. Di Singapura, kami hanya bisa naik dari pintu depan dan turun dari pintu tengah atau depan. Ternyata, stroller bayi juga bisa masuk tanpa harus dilipat.
Kami menghabiskan banyak waktu di Tower Bridge, hanya melihat-lihat keramaian yang ada, sembari menunggu check-in di hotel yang baru bisa pukul dua siang. Kami juga sempat eksplorasi beberapa sudut kota sambil menuju British Museum.

Salah satu fasad kafe di Bloomsbury




Beberapa sudut kota London yang menarik hati kami
Perjalanan kami hari itu sebenarnya dimulai di hotel dekat bandara. Begitu datang, kami memang pesan hotel dekat bandara sehingga bisa cepat istirahat. Pengalaman kami di Melbourne tahun lalu, satu hingga dua hari pertama dihabiskan di tempat tidur karena jetlag. Karena kami membawa anak kecil, maka kami tak ambil resiko. Daripada linglung dan keletihan mencari alamat penginapan di pusat kota London, mungkin ada baiknya kami langsung istirahat saja.


Bersiap naik bis ke bandara dari hotel dekat bandara, untuk naik kereta ke kota

Tiba di stasiun kereta di bandara Heathrow
Benar, kami tertidur pulas delapan jam setelah itu. Janis lebih lama lagi, mungkin sekitar 12 jam.
Bandara Heathrow terletak 23 km di sebelah barat kota London, dan hitungannya mungkin lebih ke “countryside“. Lingkungan sekitarnya cukup rileks dan sepi. Kami berpikir, lucu juga ya, kalau lain kali kita berlibur menghindari kota besar dan hanya mampir di sebuah desa.

Naik kereta Heathrow Express, cuma 15 menit sampai ke kota!
Untuk ke kota London dari bandara, ada banyak opsi. Opsi paling sering digunakan adalah Heathrow Express (tanpa berhenti, sekitar 15 menit, paling mahal) dan Heathrow Connect (berhenti di beberapa stasiun, sekitar 30-45 menit) tube (paling lama, sekitar 1 jam 15 menit), bis (1 jam lebih) dan taksi (1 jam lebih). Saran kami, jika banyak bawaan dan ada anak kecil, naik taksi atau Uber saja. Biayanya memang agak mahal, sekitar Rp1.000.000-an, tapi langsung ke penginapan tanpa basa-basi. Pengalaman kami waktu itu, naik kereta Heathrow Express sampai ke Paddington (karena memang akhirnya di situ), masih harus disambung beberapa line underground yang ternyata tidak ramah stroller dan koper. Alhasil, kami kesulitan menggotong koper dan membawa Janis di gendongan dan stroller. Opsi lain yang murah adalah menyewa penginapan di Paddington atau sepanjang underground jalur biru, Picadilly line.

Ruang stroller di bis kota

Transit di Paddington
Tapi, tak apa. Dari sini belajar. Begitulah gunanya traveling, ya kan?
UPDATE: Tonton vlog kami tentang hari ini di sini:

Categories
Catatan Perjalanan

Perjalanan ke London Itu

Setelah menunggu lebih dari lima tahun, kami sekeluarga akhirnya punya kesempatan untuk pergi ke London, Inggris. Destinasi ini adalah salah satu bucket list kami, selain Iceland. Mengingat usia Janis yang masih dua tahun, kami memutuskan untuk pergi ke London dulu, karena secara tantangan lebih mudah.
Akhir Januari 2017, kami mulai merencanakan kapan berangkat. Setelah menimbang-nimbang, dipilihlah sekitar bulan April atau Mei 2017, karena pada saat itu sudah terkumpul cukup cuti dan uang untuk bisa berangkat. Pertengahan Februari 2017, kami mulai daftar visa Inggris. Kami bisa melakukannya melalui VFS Global di Singapura, dan ternyata prosesnya cukup mudah. Formulirnya diisi online lalu dicetak, dan dilengkapi dengan beberapa dokumen pendukung standar. Karena kami penduduk Singapura, maka kami juga perlu melampirkan izin tinggal di sini.
“Visa diperkirakan jadi 15 hari kerja.”
Tidak masalah buat kami, karena perjalanan masih jauh hari. Beruntung, enam hari kemudian, visa kami semua sudah keluar. Syukurlah!
Kami pun sibuk cari tiket pesawat. Akhirnya, setelah menimbang antara Malaysia Airlines dan Qatar Airways, pilihan jatuh pada Qatar Airways. Harga lebih mahal sedikit, tetapi perjalanan dibagi menjadi dua bagian (masing-masing sekitar tujuh jam dengan transit di Doha, Qatar).
Berbagai persiapan kami lakukan, mulai dari belanja baju hangat (karena diperkirakan suhu masih antara 8 hingga 15 derajat Celcius), sampai makanan, untuk mengantisipasi lapar malam karena jetlag. Dua koper medium, satu tas stroller dan dua ransel menjadi teman kami. Kami juga membeli stroller kompak dan kamera mungil untuk mengurangi beban dalam perjalanan kali ini.
Kamis, 27 April 2017, 18:00. Kami sudah tiba di bandara Changi, dan proses check-in sudah dilakukan untuk penerbangan dari Singapura ke Doha, lalu dari Doha ke London. Kami sempat was-was, apakah Janis bisa tidur? Apakah dia betah? Terakhir kali waktu perjalanan ke Melbourne yang juga tujuh jam lamanya, ia masih berusia satu tahun dan masih muat di baby bassinet. Sekarang, badannya sudah besar, dan sudah mendapatkan tempat duduk sendiri. Kami pasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Area bermain di Changi

Menunggu sambil menelepon eyang dan tante

Sudah boarding di Qatar Airways tujuan Doha

Child’s meal versi Qatar Airways
Janis sempat rewel di bandara, mungkin merasa asing. Tapi setelah diajak main jungkat-jungkit di bandara, ia pun senang lagi. Tersenyum bahagia. Kami sempatkan menelepon eyang dan tantenya, agar ia merasa senang. Saya sempat menukar uang secukupnya, supaya dapat digunakan untuk, terutama, makan dan transpor ketika sudah sampai di London.
Ini pertama kali kami naik Qatar Airways. Cukup menyenangkan. Para pramugara dan pramugarinya sangat ramah dan baik hati, terutama terhadap anak kecil. Janis dapat berbagai macam hadiah, dan makanannya diberikan dalam bentuk koper mungil. Perjalanan tujuh jam pun tidak terasa, walau saya tidak bisa tidur. Syukurlah, Janis bisa tidur sepanjang perjalanan!
Sampai di bandara Doha, Qatar, sekitar pukul satu pagi waktu lokal, atau sekitar pukul enam pagi waktu Singapura. Sesuai dengan waktu bangun Janis. Janis pun bangun seketika mendarat, dan kami bisa “sarapan” walau seadanya. Dalam perjalanan kali ini, kami mencoba sebuah lounge berbayar, tapi suasananya ternyata tidak nyaman: ruang sempit dan ada yang merokok di dalam ruangan. Pelajaran: tidak usah begini lagi lain kali, mending di luar saja, pilihan banyak dan ruang lebih luas buat anak untuk berlari-lari.

Berfoto di depan instalasi seni karya Urs Fischer yang populer itu

Tiba di Doha
Transit kali ini sekitar lima jam. Tidak terasa. Hanya saya yang memanfaatkan fasilitas mandi, ibu dan anak tidak karena penuh sekali antriannya. Hanya lap badan dan ganti popok untuk Janis.
Seketika, waktu untuk boarding ke pesawat A380-800 tujuan London pun tiba. Kami sangat terpompa semangatnya. Ini pengalaman pertama kami semua naik pesawat sebesar ini, sayang Janis tidur, walau tak lama setelah lepas landas, ia bangun. Alhamdulillah, lepas landas sangat mulus, pesawat tidak mengalami guncangan berarti, dan walau mata terbuka, Janis tidak rewel dan malah mau makan dan bermain.

Menunggu boarding A380-800!

Pertama kalinya kami sekeluarga naik pesawat sebesar ini

Akhirnya mendarat di London Heathrow!
Kami tiba di bandara Heathrow, London, di terminal 4, dalam cuaca mendung. Setelah melewati antrian imigrasi yang panjang dan melelahkan, kami akhirnya menunggu bis untuk menuju hotel di hari pertama. Hotel di hari pertama ini kami pilih di dekat bandara, untuk bisa segera beristirahat. Esok harinya baru kami akan ke tengah kota.

Menunggu bis Hotel Hoppa ke hotel dekat bandara
Untuk lebih dekat dengan kami, silakan tonton vlog kami di hari perjalanan ini. Bagaimana pengalaman hari ke-2? Tunggu ceritanya ya.