Category: Catatan Perjalanan (Page 2 of 48)

Menjelajah Tasmania Selama Dua Minggu (Bagian 1)

Cradle Mountain

Tasmania adalah negara bagian terkecil dan paling selatan posisinya di Australia. Kebanyakan orang Indonesia mungkin hanya pernah mendengar namanya, tapi tak pernah berkunjung ke sana. Selama beberapa dekade, ia pun hanya dianggap sebagai halaman belakang oleh orang Australia sendiri, dan dari sejarahnya yang cukup kelam—sebagai tempat pembuangan narapidana dari Inggris—tak banyak yang ingin berkunjung ke sana.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, Tasmania, secara pelan tapi pasti, beranjak menjadi destinasi yang semakin terkenal. Jika Islandia menjadi terkenal karena lanskap yang menyerupai planet lain karena aktivitas volkaniknya—dramatis, dari tandus sampai hijau, lapang sampai bergerigi nan memuncak—maka Tasmania adalah kebalikannya, ia adalah tanah yang bersahabat seperti surga, tapi juga memberi kejutan di setiap sisinya.

Ketika kami mulai membuka dan mengikuti akun Instagram @tasmania, dari situlah hati kami jatuh cinta. Kesan pertama kami adalah Tasmania mirip sekali dengan Selandia Baru, dengan gunung menjulang, perjalanan darat, rumput meluas, udara bersih. Tasmania seperti sahabat lama yang hangat, merangkul dan mengundang. Sangat bersahaja. “Hey, kamu. Apa kabar? Bagaimana jalan-jalanmu di tempat lain yang indah itu? Mampirlah, nikmati pekaranganku yang sudah kurapikan dengan bunga, dengan lautan rumput melebar yang sangat hijau, berlatar belakang gunung yang menyingkap dirinya pelan-pelan. Lihatlah wombat, wallaby dan kangguru berlarian menemanimu. Besok hari jika sempat, kita akan melihat pantai dekat rumahku dengan bebatuan yang berapi-api. Nikmatilah, dengan secangkir kopi atau teh manis.”

Ronny Creek, Cradle Mountain

Tasmania memang penuh warna, hangat, bersahabat dan ramah. Seperti surga.

Semua ada di sebuah pulau yang bisa dijangkau relatif mudah dan cepat, serta belum ramai pengunjung. Ia juga menjadi destinasi yang sangat ramah keluarga.

Di sini, semua ada, untuk semua.

Berjalan di hutan hujan subtropis

Mari mulai dari kehidupan kota. Hobart dan Launceston, dua kota terbesar di pulau ini, menjadi nadi utama kehidupan kota. Museum nan berkelas (tanpa antrian gila-gilaan seperti di London atau Paris), pengalaman kuliner yang menyenangkan (tanpa antrian panjang seperti di Eropa atau di Jepang), jalan kaki yang menyenangkan, rileks dan tidak padat. Penuh kejutan kecil di sana-sini. Pemilik warung makan yang ramah. Atau, cobalah Richmond, 30 menit dari Hobart, di mana impian masa kecil tinggal di kota menawan menjadi nyata, hampir seperti kota di sebuah film Walt Disney.

Launceston, kota lembah Tamar Valley yang sendu di pagi hari

Senang dengan alam? Beranjaklah sedikit saja ke luar kota, maka cuplikan menarik dari Tasmania sebagai pulau yang dekat dengan alam akan menampakkan diri. Mount Wellington, sebuah gunung berketinggian 1.200m di atas permukaan laut yang bisa diakses 30 menit dari kota Hobart. Tamar Valley dan Narantwapu National Park, hanya sekitar 1 jam dari Launceston. Beranjaklah beratus-ratus kilometer ke Cradle Mountain, untuk melihat gunung dan danau Dove Lake yang terindah di Tasmania, bagian dari Lake St. Clair National Park yang dicintai para trekker.

Senang dengan pantai? Ketika musim panas, beralihlah ke Bruny Island atau Freycinet National Park untuk bermain di pantai putih berlatar belakang pegunungan menawan serta air biru toska.

Senang dengan hewan? Hampir di setiap taman nasional selalu ada kesempatan untuk melihat hewan asli Australia seperti wallaby, wombat dan yang paling terkenal… Tasmanian devil

Wallaby di depan kabin penginapan kami di Cradle Mountain

Berkelana dengan anak-anak? Kondisi alam yang beragam dan tidak terlalu ekstrem (misal, gunung tinggi atau berapi, atau cuaca ekstrem) membuat Tasmania menjadi pilihan yang tepat buat anak kecil! Musim panasnya tidak terlalu panas, musim dinginnya juga masih boleh tahan. Banyaknya lahan untuk berlari-lari dan kans bertemu hewan liar yang ramah juga menjadi daya tarik buat si kecil.

Yang membuat Tasmania menarik buat kami adalah keseimbangan yang hakiki:

  • Ukuran pulau yang “pas”: Ukurannya yang cukup pas untuk dijelajah dengan mobil. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Dari ujung ke ujung, maksimal 4 jam, dan bisa dipecah menjadi 2-2 atau 1-1-2 jam untuk istirahat atau berhenti bermalam. Ukuran pulau yang pas juga membuat penyusunan rencana perjalanan (itinerary) menjadi lebih mudah, dan hampir semua yang kami inginkan dapat dicapai dalam dua minggu. Kalau pun kami merasa kurang, itu hanya karena Tasmania terlalu indah dan kami ingin lebih berlama-lama!
  • Kombinasi kota besar dan alam yang seimbang: Alam yang terpencil (remoteness) dapat dicapai hanya 1-2 jam dari kota besar. Jika butuh apa-apa atau terjadi keadaan darurat, bisa dengan mudah kembali ke kota besar.
  • Variasi alam yang seimbang: Kecuali gurun (yang tentu bisa diakses di benua Australia yang utama), semua ada di sini, mulai dari gunung (Cradle Mountain, Hartz Mountain, Ben Lomond) sampai pantai (Bay of Fires, Bruny Island, Freycinet National Park, dan hampir seluruh sisi timur pulau), ada. Pulau-pulau kecil juga ada di sekitarnya, seperti Maria Island dan Flinders Island, atau daratan luas di tengah dengan berbagai kota kecil.
  • Bersahaja, tapi tetap memukau: Tasmania memang tidak sedramatis Selandia Baru atau Islandia, tetapi ia tetap punya ketertarikan tersendiri, dan menarik untuk pengelana ekstrem seperti pendaki gunung, sampai wisatawan keluarga yang ingin menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
  • Harga masih relatif terjangkau: Pada saat tulisan ini dibuat, Tasmania masih mengarah menjadi bintang pariwisata dunia, seperti apa yang pernah terjadi pada Islandia beberapa tahun lalu. Harga-harga masih relatif terjangkau, seperti sewa mobil seharga $10-20 AUD per hari. Jika memasak sendiri, biaya-biaya pun akan dapat ditekan. Biaya hidup di kota-kota di sini pun juga lebih murah dibanding biaya hidup di kota-kota Australia lain seperti Sydney atau Melbourne, dan opsi menginap juga hadir di kota-kota menawan seperti Richmond dan Deloraine.
  • Ramah jetlagTerutama bagi yang berasal dari Indonesia atau Asia secara umum, perbedaan waktu tidak terlalu menonjol seperti jika kita ke Islandia (7-8 jam ke belakang), atau Selandia Baru (5-6 jam ke depan). Tasmania masih berbeda 3 jam dengan Waktu Indonesia Barat, atau dari kami di Singapura, hanya 2 jam. Efek jetlag tidak terlalu terasa, terutama buat anak kami.

Untuk perjalanan kali ini, kami cukup konservatif dalam membuat rencananya. Awalnya, memang, kami menganut sistem “kebut dua minggu”, di mana setiap satu atau dua hari, kami berhenti dan menginap di suatu tempat, dirancang sedemikian rupa hingga ia benar-benar mengelilingi pulau secara bundar. 

Ronny Creek, Cradle Mountain
Ross, Tasmania: Salah satu dari sekian banyak kota kecil pemberhentian kami

Rencana perjalanan awal kami:

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Stanley, sebuah kota kecil di pesesir utara Tasmania juga, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Strahan, kota kecil dengan latar hutan hujan, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Lake St. Clair, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke New Norfolk, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Hobart, menginap 2 malam.
  • Lanjut ke Port Arthur, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Orford, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Swansea/Coles Bay, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke St. Helens, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam.
  • Pulang.

Tapi setelah dipikir-pikir, rencana di atas memakan waktu 16 hari, terlalu lama untuk jadwal kami. Selain itu, sepertinya sedikit ngoyo, ya? Hidup di jalan terus dan tidak ada waktu bongkar kemas dan menikmati suasana.

Akhirnya, setelah dipilih-pilih, kami membuat rencana baru yang lebih realistis, dengan harapan suatu saat akan kembali lagi ke Tasmania (amin!):

  • Mendarat di Devonport, sebuah kota kecil di pesisir utara Tasmania, menginap 1 malam.
  • Lanjut ke Cradle Mountain, menginap 3 malam. Mengorbankan Stanley.
  • Lanjut ke Launceston, menginap 2 malam. Mengorbankan Strahan.
  • Lanjut ke Coles Bay, menginap 2 malam. Mengorbankan Bay of Fires/St. Helens.
  • Lanjut ke Hobart via Port Arthur, menginap 4 malam. Mengorbankan Lake St. Clair, New Norfolk.
  • Lanjut ke Devonport, menginap 1 malam. Di perjalanan mampir ke Richmond, Ross dan Deloraine.
  • Hari terakhir, pulang.
Masak sendiri di hotel/kabin self-catering

Total perjalanan darat adalah 13 hari, dengan perjalanan udara 2 hari.

Dengan begini, kami bisa bongkar kemas dan istirahat di setiap tempat minimal selama 2 malam (kecuali Devonport yang hanya singgah). Devonport adalah persinggahan logistik, di mana kami akan membekali diri di awal dan berkemas final dan istirahat di akhir. Devonport juga dipilih sebagai pintu masuk karena tiket terusan dari Melbourne ke sana lebih murah daripada ke kota-kota lain, dan posisinya paling dekat dengan Cradle Mountain, perhentian pertama kami.

Setelah rencana perjalanan difinalisasi, kami menentukan beberapa hal penting lain seperti:

  • Sewa mobil: Kami memutuskan menggunakan Europcar karena mereka paling transparan ketika proses pemesanan. Kalau cari harga yang lebih murah, mungkin bisa coba Budget. Ada beberapa opsi lain yang lebih murah seperti Apex Rental tetapi ia tidak ada di Devonport, tempat kami mendarat. Pastikan anda memilih opsi ekstra yang diperlukan seperti child seatroad side assistance (jika tidak mahir mengganti ban dan lain sebagainya), serta yang paling penting asuransi yang meliputi kecelakaan. Jangan lupa aktifkan asuransi snow cover jika akan pergi ke daerah bersalju.
  • Menyusun menu makanan: Ini akan menentukan anggaran dan kenyamanan. Untuk kami, kami memutuskan untuk masak sendiri ketika pagi dan malam, dan opsi makan di luar ketika siang, atau ketika sedang bepergian dari satu kota ke kota lain. Tips: kami beli penanak nasi mungil yang bisa menyediakan nasi cukup untuk dua dewasa dan satu anak. Langkah selanjutnya setelah memutuskan masak adalah menyusun menu. Menu ini kami variasikan, tapi secara kasar, beginilah kira-kira menu kami bergantian:
    • Pasta bolognaise dengan daging cincang (atau minimal bumbunya saja)
    • Kari ala Jepang dan nasi putih, dengan sayur wortel, brokoli dan kentang (jika ada)
    • Ayam/daging/tuna tumis teriyaki/saus tiram dengan sayur wortel dan brokoli dan nasi putih
    • Tom yam dengan sayuran seadanya plus ayam atau protein lain
    • Sosis domba digoreng saja (sosis di Australia jauh lebih enak dan alami), biasanya untuk sarapan
    • Sandwich isi salmon asap, alpukat potong atau dihancurkan, keju lembaran dan telur mata sapi, biasanya untuk sarapan
    • Telur mata sapi dan nasi untuk sarapan
  • Menyusun daftar belanja: Ini benar-benar kami anggap serius karena ada beberapa hari seperti di Cradle Mountain di mana kami akan benar-benar jauh dari supermarket, atau pun kalau ada, antara lebih mahal harganya atau kami memang malas keluar karena dingin! Berikut daftar belanja yang kami punya secara kasar:
    • Bahan masak dasar seperti beras, daging, ayam, ikan, sayur seperti wortel dan brokoli, pasta, tomat, telur, minyak zaitun dan lainnya
    • Bumbu masak dasar seperti bawang-bawang dan beragam saus
    • Makanan siap makan yang bisa dijadikan makanan utama juga seperti roti tawar dan selai-selai
    • Kudapan, seperti keripik, cokelat, wafer dan lain sebagainya, berguna untuk di jalan misalnya ketika mendaki gunung
    • Minuman, seperti susu, jus, dan air mineral (penting!)
    • Perawatan tubuh seperti sabun, sampo jika diperlukan
    • Peralatan kebersihan, seperti kantung sampah, ini sangat penting ketika sampah banyak tetapi penginapan hanya menyediakan tempat sampah kecil
  • Pesan penginapan: Kami ingin berusaha untuk menggunakan jenis penginapan yang bervariasi, mulai dari hotel, rumah, apartemen, sampai kabin. Syukurlah, kami bisa mencoba semuanya dalam perjalanan ini. Fokus kami ketika di gunung adalah kenyamanan dan keamanan, oleh karenanya pengeluaran akomodasi di gunung paling mahal, di sebuah hotel yang menurut kami sungguh baik dan nyaman. Di kota, kami fokus pada rumah atau apartemen. Di pantai, kami menyewa kabin.
  • Pesan tiket pesawat: Kami memesan tiket pesawat Emirates dari Singapura ke Melbourne (7,5 jam), lalu QantasLink untuk terusan dari Melbourne ke Devonport (50 menit). Pengalaman kedua kami naik pesawat double-decker A380, dan pengalaman pertama kami semua naik De Havilland Dash-8! 
  • Visa Australia: Kebetulan kami sudah punya visa Australia 3 tahun multiple entry, jadi untuk kali ini, urusan visa menjadi mudah.
Hasil hiking 1,5km dengan anak, pemandangan indah di Wineglass Bay

Proses perencanaan berlangsung kurang lebih 2-3 minggu sebelum berangkat, tapi kami puas. Untuk cerita masing-masing hari di perjalanan Tasmania kali ini, ikuti artikel berikutnya, ya!

Perth, Destinasi Terbaik untuk Keluarga

Kami datang ke Perth tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang destinasi ini membosankan. Ada yang bertanya, “Ngapain kamu ke Perth? Ada apa di situ?”

Pemandangan dari Kings Park & Botanic Garden

Yang kami tahu, Australia selalu jadi destinasi yang oke buat keluarga, apalagi yang punya anak kecil seperti kami. Jadi, kami pesan saja tiket pesawat ke Perth dari Singapura, sambil berharap cemas (tapi senang). Oh ya, kami liburan ke Perth ini sebenarnya tidak direncanakan. Kami menang undian di kantor, di mana tiap bulan satu orang pegawai bisa pergi ke mana saja dengan budget S$3,000. Enak kan? Makanya, kerja di HomeAway, ya.

Karena sifatnya mendadak, kami agak malas mengurus visa. Kami pun ingat, masih ada visa Australia yang berlaku tiga tahun itu. Perth juga waktunya sama dengan Singapura, jadi tidak ada masalah jet lag. Cus!

Walaupun beberapa orang mengatakan Perth tidak ada apa-apanya, kami justru terkejut. Kenapa bisa begitu, ketika kami melihat justru banyak sekali pantai yang bagus, iklim yang bersahabat, kota yang tidak terlalu ramai seperti Melbourne atau Sydney… sungguh surga bagi kami. Janis pun bisa berlari-larian ke mana-mana dengan leluasa. Teman kami yang sudah lama tinggal di Perth pun bilang, memang banyak penduduk Perth yang kurang bersyukur dengan keadaannya. Padahal, Perth itu tempat yang enak buat hidup!

Tapi benar deh, pantai di sini yang terbaik yang pernah kami lihat. Pasir bersih dan putih, ombak yang bersahabat dan “santai”, air yang bersih dan berwarna biru toska… luar biasa. Belum lagi melihat Samudera Hindia yang membentang luas sampai Afrika. Pantai di pesisir barat Australia membentang beratus-ratus kilometer, mulai dari Geraldton, sebuah kota kecil jauh di utara Perth, sampai Margaret River, dan terus ke Augusta di ujung selatan.

Kami datang tanpa rencana pasti, yang pasti adalah kami menyewa mobil. Sebuah Toyota Corolla Hatch sederhana yang kami sewa dengan total biaya AU$350 per minggu (tanpa besin, tanpa supir, karena supirnya saya, cukup dibayar makan saja).
Berbekal Google Maps, kami secara acak memilih tujuan pertama kali di Perth. Hompimpa, ternyata yang keluar adalah Matilda Bay. Sebenarnya tanpa hompimpa sih, kami cuma mau tujuan yang dekat dengan rumah menginap saja, sembari menunggu check-in jam 3 sore.

Kami tinggal di daerah Crawley, sebuah suburb di barat pusat bisnis (CBD), tidak jauh dari pusat kota. Senang sekali tinggal di daerah ini, karena tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi suasananya tenang seperti di pinggiran. Selain itu, kami juga dekat dengan pesisir, mungkin sekitar 15-20 menit menyetir mobil. Matilda Bay adalah waterfront terdekat dari tempat menginap kami, dan ada kafenya.

Kopi sore di Bayside Kitchen, Matilda Bay

Di Matilda Bay ini, kita bisa melihat CBD dari kejauhan, di seberang Swan River, sambil menikmati kopi di Bayside Kitchen, sebuah kafe bertema rumah pantai.
Dari 7 hari di sini, kami merencanakan segalanya dari hari ke hari, alias satu hari sebelumnya, bahkan kadang di pagi harinya.

Di hari ke-2, kami mencoba pergi ke Caversham Wildlife Park, untuk melihat kangguru dan koala buat si kecil. Perjalanan dari tempat menginap kami memakan waktu 1 jam. Di sini, kami bisa berinteraksi dengan kangguru langsung, memberi mereka makan (dari pakan yang sudah disediakan). Kita juga bisa berfoto bareng koala, yang ternyata harus tepat waktu, karena mereka punya waktu tidur siang!

Berpose bersama koala di CavershamBermain bersama kangguru di Caversham
Kangguru bersantai
Memberi makan kangguru

Setelah puas ke Caversham Wildlife Park, melihat beberapa hewan lain, seperti burung dan wombat, kami ke tengah kota lagi untuk menikmati kopi sore di South Foreshore, tepatnya di cafe bernama The Boatshed Cafe. Rileksnya!
Di hari ke-3, kami mencoba salah satu pantai. Kami bingung memilih antara Scarborough atau Cottesloe, tapi akhirnya Cottesloe menjadi pilihan karena lebih dekat jaraknya. 15 menit perjalanan menyetir saja. Matahari terik tapi suhu lumayan dingin (20-25 Celcius).

Pantai Cottesloe merupakan salah satu pantai yang populer, selain Scarborough. Oleh karenanya, pantai ini cukup ramai. Ada hotel, pertokoan dan rumah makan di sekitarnya. Tempat parkir banyak. Ini kali pertama anak kami benar-benar main di pantai. Kami makan siang ikan barramundi yang ternyata enak sekali.

Cottesloe Beach
Bermain ayunan di Cottesloe

Kami juga sempatkan berkunjung ke Kings Park dan Botanic Garden, taman botani dan memorial Anzac dengan pemandangan ke arah CBD dan Swan River yang menakjubkan. Lokasinya agak tinggi, dengan rumput yang berkualitas tinggi, membuat piknik menjadi nikmat luar biasa dan kalau tidak berhati-hati, bisa ketiduran sampai sore…

Karena masih belum puas dengan pantai, kami pun pergi ke pantai lain di North Fremantle. Menurut teman kami, ini pantai yang lebih sepi dan pasirnya lebih bagus. Benar. Lebih rileks, walau tidak sedramatis Cottesloe. Kami di sana sambil main air dan menikmati senja.

Janis bermain pasir dari jarak dekat
Bersantai di pantai Coast Port

Puas main di pantai, kami mengakhiri hari dengan makan malam di Chicken Charcoal di bilangan Dianella. Chicken Charcoal, tidak seperti namanya, tidak hanya menyajikan ayam bakar, tapi juga ribs domba bakar, yang luar biasa enaknya. Tekstur luar yang renyah dan dagingnya yang lembut, sangat menggugah selera. Tepat untuk makan malam setelah main di pantai. Apalagi, dilengkapi nasi biryani hangat, kentang goreng dan salad kepiting.

Perth memang bukan destinasi kuliner, tapi jika anda benar-benar ingin mencoba hal baru, cobalah makan daging kangguru. Tenang, daging kangguru di sini berasal dari kangguru yang diternak khusus. Rasanya seperti apa? Sama seperti daging sapi, hanya tidak ada lemaknya. Cukup sehat, bukan?

Perjalanan ini diakhiri dengan klimaks yang cukup menyenangkan: Rottnest Island, atau Pulau Rottnest. Pulau konservasi ini menjadi tujuan wisata banyak orang di Perth, terkenal dengan mamalia unik yang berhabitat di sini: quokka. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai mungil yang indah.

Biasanya, pengunjung akan menyewa sepeda dan berkeliling pulau, sembari menginap semalam atau dua malam. Tapi waktu kami datang, sedang hujan, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan bis yang walau cukup mahal (AU$18 per orang dewasa, gratis buat anak di bawah 4 tahun), bisa membawa kami keliling pulau untuk seharian, tanpa batas.

Pinky Beach, Rottnest Island

Tidak usah khawatir kelaparan, karena di sini banyak makanan dan juga pertokoan, termasuk sebuah supermarket. Bawa makanan ke salah satu tempat duduk yang tersedia, dan voila, kita bisa piknik ditemani quokka yang berkeliaran. Hati-hati, jangan memberi mereka makan karena mereka sudah punya diet khusus.

Mercusuar di Pinky Beach, Rottnest Island
Pinky Beach, Rottnest Island

Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14:30, dan kapal kami kembali ke Fremantle adalah pukul 16:25. Kami sempatkan berkeliling ke pesisir dekat dermaga, untuk melihat sebuah mercusuar di dekat Pinky Beach, sebuah pantai mungil yang sungguh indah.

Quokka

Kami sungguh menyesal karena tidak menyempatkan menginap di Rottnest Island, karena alamnya begitu indah dan tenang. Mungkin lain kali!

« Older posts Newer posts »

© 2021 Ransel Kecil

Ikuti kami di Twitter