Penulis: admin (halaman 2 dari 101)

Tips Jalan Bersama Anak di Istanbul

Ketika kami memutuskan untuk pergi ke Istanbul, kami tidak tahu apakah kota ini ramah anak-anak atau tidak. Apakah ramah stroller atau tidak. Atau secara umum, apakah kota ini aman dan nyaman, mengingat banyak kejadian terorisme di sini dalam beberapa tahun terakhir. Ketika membeli tiket pun kami berpikir, is this the right thing?

Si kecil di Dolmabahce Palace
Pada saat itu, pikiran saya cuma seputar betapa cantiknya kota ini dan imajinasi berkat membaca buku Orhan Pamuk.
Akhirnya kami pe-de saja, toh kejadian tidak mengenakkan bisa terjadi di mana saja, bahkan di Singapura, tempat kami berdomisili saat ini.
Apakah Janis bisa survive 11 jam di udara, itu lain cerita. Tapi kami lebih percaya diri soal itu. Kami memutuskan naik Turkish Airlines, di antara pilihan lain Singapore Airlines. Yang penting langsung tanpa transit.
Kami sadar, orang tua manapun yang ingin membawa anak-anak-nya jalan di Istanbul, pasti akan berpikir banyak hal, mulai dari biaya, memilih akomodasi, penerbangan sampai rencana perjalanan. Berikut beberapa tips-nya, supaya perjalanan anda lancar.

Pilihlah penerbangan langsung

Sebisa mungkin, pilihlah penerbangan langsung dari Jakarta atau dari kota tempat anda tinggal. Dari Singapura, perjalanan memakan waktu 11 jam, dan di malam hari. Ini membuat kondisi tubuh lebih tidak letih dan tidak repot turun dan naik pesawat lagi. Kami memilih Turkish Airlines, dan servis mereka luar biasa.

Hotel atau Airbnb?

Kami memilih hotel dengan opsi sarapan, untuk memastikan anak kami sudah makan sesuatu setiap harinya sebelum beraktivitas. Tentu saja, Airbnb bisa jadi alternatif yang baik jika anda ingin lebih hemat atau punya ruang lebih lega. Tetapi, pilihlah Airbnb yang dekat dengan supermarket, sehingga anda tak perlu jauh-jauh untuk belanja makanan yang bisa dimasak untuk sarapan.

Sultanahmet atau Beyoglu?

Ada dua area populer untuk menginap di Istanbul: Sultanahmet dan Beyoglu. Keduanya dipisahkan selat Golden Horn yang membelah kota dari utara ke selatan. Sultanahmet adalah kota tua di mana Constantinople, ibukota Romawi, berada. Di sini pulalah anda bisa menemukan sebagian besar atraksi seperti Hagia Sofia, Basilica Cistern, Grand Bazaar dan Blue Mosque. Kelemahannya, area ini cukup padat dan hotelnya pun kecil-kecil. Beyoglu adalah kota “baru” nan trendi dengan pusat perbelanjaan seperti Istiklal Cadesi dan jalan bergaya Eropa modern. Di sini pula terdapat banyak cafe modern. Atraksi lain adalah Galata Tower, beberapa museum, Taksim Square, dan Dolmabahce Palace.
Kami memilih untuk tinggal di Beyoglu, tepatnya di Taksim, karena hotel yang kami inginkan ada di daerah ini. Aksesnya ternyata mudah karena dari Taksim kami bisa naik subway atau tram. Plus, di Beyoglu banyak supermarket dan makanan juga.
Ada alternatif lain jika anda sudah kedua kalinya ke Istanbul, anda bisa tinggal di Kadikoy, di sisi Asia. Dari sini memang untuk ke kota area utamanya harus naik subway atau kapal feri dulu (murah, dan sering), tapi tidak terlalu touristy seperti Sultanahmet atau Beyoglu, dan ada pasar Kadikoy dengan makanan-makanan yang murah meriah.

Belilah kartu Istanbulkart

Jika anda tidak punya banyak anggaran untuk transportasi, maka kartu Istanbulkart jadi solusi handal. Kartu ini sama fungsinya dengan kartu ezLink di Singapura atau Suica/Pasmo di Jepang, di mana kita bisa isi saldo tertentu dan dipakai di berbagai moda transportasi. Lebih kerennya lagi, untuk sampai lima orang, kita bisa menggunakan satu kartu saja. Anda dapat membelinya di stasiun Metro Istanbul atau halte tram mana saja, dengan memasukkan nominal yang diinginkan secara tunai.

Stroller mungkin tidak selalu berguna, tapi jika mesti, pakailah yang ringkas

Jalan dan trotoar di Istanbul masih banyak yang berbatu dan becek, serta trotoar tidak sambung-menyambung sehingga perlu kelihaian luar biasa dalam membawa stroller. Selain itu, di beberapa tempat seperti Beyoglu, naik turun tangga tidak dapat dihindari karena kontur kota yang berbukit. Untuk stasiun Metro Istanbul, kebanyakan dilengkapi lif, jadi aman. Untuk tram, masalah utama adalah ruang yang sempit dan keramaian penumpang. Saran kami, belilah stroller ringan yang mudah dilipat, tapi juga kokoh.

Uang tunai adalah raja

Meskipun pusat perbelanjaan menerima kartu kredit dan debit internasional, uang tunai masih menjadi raja terutama jika anda ingin menikmati street food, berbelanja di Grand Bazaar atau Pasar Kadikoy, atau membayar pengisian Istanbulkart.

Biarkan si kecil memuaskan rasa ingin tahu

Ketika kami berjalan di Jembatan Galata, jembatan yang menghubungkan antara Beyoglu, Janis tiba-tiba berhenti di salah satu kotak berisi ikan hasil pancingan seorang paman. Di jembatan ini memang banyak orang memancing. “Look! Fish!“, ujarnya riang. Ada kalanya, kita biarkan dia bersenang-senang, karena liburan tidak melulu agenda orang dewasa!

Look! Fish!

Makan makanan kesukaan si kecil

Kadang kami harus “mengalah” sedikit untuk tidak mencoba makanan baru atau yang lebih asing, demi si kecil berselera makan. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba hal baru juga!

Makanan enak favorit Janis di Galata Tower

Siapkan mental untuk macet dan antrian museum

Istanbul mirip seperti Jakarta: macet. Bedanya, Istanbul sudah memiliki sistem transportasi yang relatif lebih baik dari Jakarta. Namun, terkadang kita perlu naik Uber atau bis, dan perhitungan waktu di jalan harus memperkirakan waktu di kemacetan. Berangkatlah 30 menit lebih awal, terutama ke bandara. Selain itu, karena banyak atraksi turis di kota ini, antrian masuknya bisa panjang, belum lagi ada pengecekan keamanan, yang juga mengantri. Saran kami, jika anda membawa anak-anak:

  • Belilah tiket terusan museum atau Istanbul Museum Pass, atau Istanbul Tourist Pass, untuk menghindari antrian.
  • Jika tidak sempat beli tiket terusan, datanglah pagi hari ketika tempat itu buka.
  • Jika ada anggaran lebih, gunakanlah tur sehari untuk mengunjungi semua kunjungan wajib (di mana tiket dan transportasi diurus semua), sehingga hari lain anda bisa lebih santai.

Cobalah naik feri ke sisi Asia

Sisi Asia sering terlewatkan, apalagi jika anda hanya berkunjung selama kurang dari 24 jam (untuk transit misalnya). Tapi jika ada waktu, kunjungilah sisi Asia, rekomendasi kami adalah Kadikoy. Jangan lupa naik feri, yang sangat murah tarifnya jika anda membayar dengan Istanbulkart. Nikmati juga teh (chay) di atas feri, sambil melihat burung albatros dan jika beruntung, lantunan musik Turki dari pemusik di dalam kapal. Indah!

Manfaatkan taman bermain

Kami menemukan taman bermain umum di Taksim Square, dan tentunya, anak kami senang sekali bermain di sini. Ingat, kunjungan wisata harus bisa dinikmati semua orang, termasuk si kecil.

Bermain di Taksim Square
Orang Turki hampir semuanya ramah pada anak-anak. Janis bolak-balik dicubit pipinya, digoda, diminta foto bersama. Istanbul adalah kota yang ramah anak, tetapi dengan tips-tips di atas, semoga akan semakin mempermudah dan membahagiakan perjalanan anda sekalian. Selamat berlibur di Istanbul.

Perth, Destinasi Terbaik untuk Keluarga

Kami datang ke Perth tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ada yang bilang destinasi ini membosankan. Ada yang bertanya, “Ngapain kamu ke Perth? Ada apa di situ?”
Pemandangan dari Kings Park & Botanic Garden
Yang kami tahu, Australia selalu jadi destinasi yang oke buat keluarga, apalagi yang punya anak kecil seperti kami. Jadi, kami pesan saja tiket pesawat ke Perth dari Singapura, sambil berharap cemas (tapi senang). Oh ya, kami liburan ke Perth ini sebenarnya tidak direncanakan. Kami menang undian di kantor, di mana tiap bulan satu orang pegawai bisa pergi ke mana saja dengan budget S$3,000. Enak kan? Makanya, kerja di HomeAway, ya.
Karena sifatnya mendadak, kami agak malas mengurus visa. Kami pun ingat, masih ada visa Australia yang berlaku tiga tahun itu. Perth juga waktunya sama dengan Singapura, jadi tidak ada masalah jet lag. Cus!
Walaupun beberapa orang mengatakan Perth tidak ada apa-apanya, kami justru terkejut. Kenapa bisa begitu, ketika kami melihat justru banyak sekali pantai yang bagus, iklim yang bersahabat, kota yang tidak terlalu ramai seperti Melbourne atau Sydney… sungguh surga bagi kami. Janis pun bisa berlari-larian ke mana-mana dengan leluasa. Teman kami yang sudah lama tinggal di Perth pun bilang, memang banyak penduduk Perth yang kurang bersyukur dengan keadaannya. Padahal, Perth itu tempat yang enak buat hidup!
Tapi benar deh, pantai di sini yang terbaik yang pernah kami lihat. Pasir bersih dan putih, ombak yang bersahabat dan “santai”, air yang bersih dan berwarna biru toska… luar biasa. Belum lagi melihat Samudera Hindia yang membentang luas sampai Afrika. Pantai di pesisir barat Australia membentang beratus-ratus kilometer, mulai dari Geraldton, sebuah kota kecil jauh di utara Perth, sampai Margaret River, dan terus ke Augusta di ujung selatan.
Kami datang tanpa rencana pasti, yang pasti adalah kami menyewa mobil. Sebuah Toyota Corolla Hatch sederhana yang kami sewa dengan total biaya AU$350 per minggu (tanpa besin, tanpa supir, karena supirnya saya, cukup dibayar makan saja).
Berbekal Google Maps, kami secara acak memilih tujuan pertama kali di Perth. Hompimpa, ternyata yang keluar adalah Matilda Bay. Sebenarnya tanpa hompimpa sih, kami cuma mau tujuan yang dekat dengan rumah menginap saja, sembari menunggu check-in jam 3 sore.
Kami tinggal di daerah Crawley, sebuah suburb di barat pusat bisnis (CBD), tidak jauh dari pusat kota. Senang sekali tinggal di daerah ini, karena tidak begitu jauh dari pusat kota, tapi suasananya tenang seperti di pinggiran. Selain itu, kami juga dekat dengan pesisir, mungkin sekitar 15-20 menit menyetir mobil. Matilda Bay adalah waterfront terdekat dari tempat menginap kami, dan ada kafenya.
Kopi sore di Bayside Kitchen, Matilda Bay
Di Matilda Bay ini, kita bisa melihat CBD dari kejauhan, di seberang Swan River, sambil menikmati kopi di Bayside Kitchen, sebuah kafe bertema rumah pantai.
Dari 7 hari di sini, kami merencanakan segalanya dari hari ke hari, alias satu hari sebelumnya, bahkan kadang di pagi harinya.
Di hari ke-2, kami mencoba pergi ke Caversham Wildlife Park, untuk melihat kangguru dan koala buat si kecil. Perjalanan dari tempat menginap kami memakan waktu 1 jam. Di sini, kami bisa berinteraksi dengan kangguru langsung, memberi mereka makan (dari pakan yang sudah disediakan). Kita juga bisa berfoto bareng koala, yang ternyata harus tepat waktu, karena mereka punya waktu tidur siang!
Berpose bersama koala di Caversham
Bermain bersama kangguru di Caversham
Kangguru bersantai
Memberi makan kangguru
Setelah puas ke Caversham Wildlife Park, melihat beberapa hewan lain, seperti burung dan wombat, kami ke tengah kota lagi untuk menikmati kopi sore di South Foreshore, tepatnya di cafe bernama The Boatshed Cafe. Rileksnya!
Di hari ke-3, kami mencoba salah satu pantai. Kami bingung memilih antara Scarborough atau Cottesloe, tapi akhirnya Cottesloe menjadi pilihan karena lebih dekat jaraknya. 15 menit perjalanan menyetir saja. Matahari terik tapi suhu lumayan dingin (20-25 Celcius).
Pantai Cottesloe merupakan salah satu pantai yang populer, selain Scarborough. Oleh karenanya, pantai ini cukup ramai. Ada hotel, pertokoan dan rumah makan di sekitarnya. Tempat parkir banyak. Ini kali pertama anak kami benar-benar main di pantai. Kami makan siang ikan barramundi yang ternyata enak sekali.
Cottesloe Beach
Bermain ayunan di Cottesloe
Kami juga sempatkan berkunjung ke Kings Park dan Botanic Garden, taman botani dan memorial Anzac dengan pemandangan ke arah CBD dan Swan River yang menakjubkan. Lokasinya agak tinggi, dengan rumput yang berkualitas tinggi, membuat piknik menjadi nikmat luar biasa dan kalau tidak berhati-hati, bisa ketiduran sampai sore…
Karena masih belum puas dengan pantai, kami pun pergi ke pantai lain di North Fremantle. Menurut teman kami, ini pantai yang lebih sepi dan pasirnya lebih bagus. Benar. Lebih rileks, walau tidak sedramatis Cottesloe. Kami di sana sambil main air dan menikmati senja.
Janis bermain pasir dari jarak dekat
Bersantai di pantai Coast Port
Puas main di pantai, kami mengakhiri hari dengan makan malam di Chicken Charcoal di bilangan Dianella. Chicken Charcoal, tidak seperti namanya, tidak hanya menyajikan ayam bakar, tapi juga ribs domba bakar, yang luar biasa enaknya. Tekstur luar yang renyah dan dagingnya yang lembut, sangat menggugah selera. Tepat untuk makan malam setelah main di pantai. Apalagi, dilengkapi nasi biryani hangat, kentang goreng dan salad kepiting.
Perth memang bukan destinasi kuliner, tapi jika anda benar-benar ingin mencoba hal baru, cobalah makan daging kangguru. Tenang, daging kangguru di sini berasal dari kangguru yang diternak khusus. Rasanya seperti apa? Sama seperti daging sapi, hanya tidak ada lemaknya. Cukup sehat, bukan?
Perjalanan ini diakhiri dengan klimaks yang cukup menyenangkan: Rottnest Island, atau Pulau Rottnest. Pulau konservasi ini menjadi tujuan wisata banyak orang di Perth, terkenal dengan mamalia unik yang berhabitat di sini: quokka. Pulau ini juga memiliki beberapa pantai mungil yang indah.
Biasanya, pengunjung akan menyewa sepeda dan berkeliling pulau, sembari menginap semalam atau dua malam. Tapi waktu kami datang, sedang hujan, sehingga kami memutuskan untuk berkeliling menggunakan bis yang walau cukup mahal (AU$18 per orang dewasa, gratis buat anak di bawah 4 tahun), bisa membawa kami keliling pulau untuk seharian, tanpa batas.
Pinky Beach, Rottnest Island
Tidak usah khawatir kelaparan, karena di sini banyak makanan dan juga pertokoan, termasuk sebuah supermarket. Bawa makanan ke salah satu tempat duduk yang tersedia, dan voila, kita bisa piknik ditemani quokka yang berkeliaran. Hati-hati, jangan memberi mereka makan karena mereka sudah punya diet khusus.
Mercusuar di Pinky Beach, Rottnest Island
Pinky Beach, Rottnest Island
Sambil menunggu hujan reda, kami makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14:30, dan kapal kami kembali ke Fremantle adalah pukul 16:25. Kami sempatkan berkeliling ke pesisir dekat dermaga, untuk melihat sebuah mercusuar di dekat Pinky Beach, sebuah pantai mungil yang sungguh indah.
Quokka
Kami sungguh menyesal karena tidak menyempatkan menginap di Rottnest Island, karena alamnya begitu indah dan tenang. Mungkin lain kali!

Paella Nikmat di Tower Bridge


Naik tube pertama kali
Siapa sangka, pertama kali kami makan paella, makanan kebanggan Spanyol, malah bukan di Spanyol. Tapi di Inggris. Di London. Tepatnya, di pinggir Tower Bridge. Itu pun juga mendadak, karena kami semua keburu lapar, dan Janis lagi senang nasi. Untung, ada bazar makanan di sekitar Tower Bridge waktu itu, dan pilihan jatuh ke paella, antara makanan Thailand dan Korea yang juga ada nasinya.

Makan siang paella di Tower Bridge
Ternyata, Janis pun suka. Syukurlah.
London, buat kami, bukan destinasi kuliner. Walau ternyata kami salah, karena seperti ibukota negara lain yang dinamis, banyak imigran di sini yang pada akhirnya membawa banyak pengaruh budaya, salah satunya makanan.
Tower Bridge adalah atraksi turis pertama yang kami kunjungi, karena dekat dengan hotel. Sebenarnya tidak dekat juga sih, sekitar lima atau enam stop bis kota.
Hari itu juga kami pertama kali naik bis double decker merah yang terkenal itu. Sayangnya, bukan versi routemaster. Namun, jauh lebih modern, dan agak berbeda dari versi bis tingkat Singapura yang kami biasa naiki: penumpang bisa naik dan turun dari tiga pintu, di depan, di tengah dan di belakang. Di Singapura, kami hanya bisa naik dari pintu depan dan turun dari pintu tengah atau depan. Ternyata, stroller bayi juga bisa masuk tanpa harus dilipat.
Kami menghabiskan banyak waktu di Tower Bridge, hanya melihat-lihat keramaian yang ada, sembari menunggu check-in di hotel yang baru bisa pukul dua siang. Kami juga sempat eksplorasi beberapa sudut kota sambil menuju British Museum.

Salah satu fasad kafe di Bloomsbury




Beberapa sudut kota London yang menarik hati kami
Perjalanan kami hari itu sebenarnya dimulai di hotel dekat bandara. Begitu datang, kami memang pesan hotel dekat bandara sehingga bisa cepat istirahat. Pengalaman kami di Melbourne tahun lalu, satu hingga dua hari pertama dihabiskan di tempat tidur karena jetlag. Karena kami membawa anak kecil, maka kami tak ambil resiko. Daripada linglung dan keletihan mencari alamat penginapan di pusat kota London, mungkin ada baiknya kami langsung istirahat saja.


Bersiap naik bis ke bandara dari hotel dekat bandara, untuk naik kereta ke kota

Tiba di stasiun kereta di bandara Heathrow
Benar, kami tertidur pulas delapan jam setelah itu. Janis lebih lama lagi, mungkin sekitar 12 jam.
Bandara Heathrow terletak 23 km di sebelah barat kota London, dan hitungannya mungkin lebih ke “countryside“. Lingkungan sekitarnya cukup rileks dan sepi. Kami berpikir, lucu juga ya, kalau lain kali kita berlibur menghindari kota besar dan hanya mampir di sebuah desa.

Naik kereta Heathrow Express, cuma 15 menit sampai ke kota!
Untuk ke kota London dari bandara, ada banyak opsi. Opsi paling sering digunakan adalah Heathrow Express (tanpa berhenti, sekitar 15 menit, paling mahal) dan Heathrow Connect (berhenti di beberapa stasiun, sekitar 30-45 menit) tube (paling lama, sekitar 1 jam 15 menit), bis (1 jam lebih) dan taksi (1 jam lebih). Saran kami, jika banyak bawaan dan ada anak kecil, naik taksi atau Uber saja. Biayanya memang agak mahal, sekitar Rp1.000.000-an, tapi langsung ke penginapan tanpa basa-basi. Pengalaman kami waktu itu, naik kereta Heathrow Express sampai ke Paddington (karena memang akhirnya di situ), masih harus disambung beberapa line underground yang ternyata tidak ramah stroller dan koper. Alhasil, kami kesulitan menggotong koper dan membawa Janis di gendongan dan stroller. Opsi lain yang murah adalah menyewa penginapan di Paddington atau sepanjang underground jalur biru, Picadilly line.

Ruang stroller di bis kota

Transit di Paddington
Tapi, tak apa. Dari sini belajar. Begitulah gunanya traveling, ya kan?
UPDATE: Tonton vlog kami tentang hari ini di sini:

Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya

© 2021 Ransel Kecil