Bulan: March 2014 (halaman 2 dari 2)

Makati City: Kota Paling Banyak Selfie di Dunia

Makati City, Filipina, menjadi kota nomor satu di dunia dilihat dari rasio pengambilan foto selfie (foto diri yang diambil sendiri) per 100.000 jiwa. Total jumlah selfie yang diambil per 100.000 jiwa adalah 258. Kedua adalah Manhattan, AS, diikuti Miami, Florida, AS. George Town, Penang, Malaysia, menjadi nomor 10 dengan 95 selfie per 100.000 jiwa. Jakarta tak masuk sepuluh besar, walau tongsis populer.
Lihat statistik lengkap.
Statistik selfie dunia versi Time
Statistik selfie dunia versi Time.

Iboih Inn Bar & Resto Pulau Weh, Aceh

Dermaga tempat bersantai
Dermaga tempat bersantai.
Berbicara mengenai Sabang, tak bisa menghindar dari lagu “Dari Sabang Sampai Merauke”. Benar saja, Indonesia adalah negara kepulauan, dan kepulauan tersebut dimulai dari ujung paling barat yaitu Pulau Weh dengan Sabang sebagai pusat kotanya. Beruntung sekali bagi saya bisa mengunjungi tempat seindah ini. Banyak tempat menarik di Pulau Weh, diantaranya yang saya kunjungi adalah Tugu Nol Kilometer, Iboih, Rubiah, Gapang, Sabang sebagai pusat kota Pulau Weh, dan Sumur Tiga, dan dari semua tempat tersebut yang paling berkesan menurut saya adalah Iboih.
Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga
Pintu masuk Iboih Inn melalui dermaga.
Resepsionis
Resepsionis.
Iboih terletak di bagian tengah Pulau Weh. Butuh sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan mobil dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih. Iboih memiliki banyak pantai yang menawan. Sesampainya di Iboih mobil yang saya naiki parkir di sekitar dermaga Iboih, pas di tepi pantai. Suasana laut mulai saya rasakan, hembusan angin saya dengar seakan sedang menyapa saya “Selamat Datang di Iboih”.
Hari sudah menunjukan Pukul 12 siang, namun matahari tidak begitu terik, tak lama setelah itu saya langsung mencari tempat untuk menginap. Banyak sekali penginapan di Iboih, mulai dari tarif yang murah sampai dengan tarif yang mahal. Setelah berdikusi dengan teman saya, akhirnya saya putuskan untuk menginap di Iboih Inn.
Banyak pertimbangan mengapa saya memilih untuk menginap di Iboih Inn, salah satunya menurut referensi dari masyarakat lokal, Iboih Inn merupakan salah satu penginapan yang ternyaman. Dari segi harga, Iboih Inn memang tergolong agak mahal dibandingkan dengan penginapan yang lainnya, namun hal ini sebanding dengan kenyamanan yang di dapat yang mungkin tidak bisa di dapat dari penginapan lain.
Saya pikir, sudah jauh-jauh datang dari Jakarta ke Sabang, untuk harga soal belakangan, yang penting saya dan teman saya bisa menginap di penginapan ternyaman dan terindah, dan menurut saya Iboih Inn merupakan penginapan yang tepat untuk saya.
Untuk menuju penginapan ini, dari dermaga Pantai Iboih Inn ada dua cara, cara yang pertama bisa minta dijemput di dermaga Pantai Iboih oleh pihak Penginapan Iboih Inn menggunakan kapal, atau jalan kaki lewat perbukitan. Saya jalan kaki menuju atas perbukitan, karena saya belum booking sebelumnya, terdapat jalan setapak menuju Iboih Inn, jalannya rapi dan dari jalan itu terlihat pemandangan laut dan pantai yang menyenangkan mata. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki 15 menit sebelum sampai di Iboih Inn.
Saya langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar. Untungnya masih ada kamar tersedia. Saya memilih kamar yang paling mahal yang letaknya pas di tepi laut. Terdapat bebagai macam jenis kamar di Iboih Inn, mulai dari Budget Room, Deluxe Seaview-fan, dan Deluxe AC Seaview.
Dermaga apung
Dermaga apung.
Jenis Budget Room terletak di atas perbukitan, letaknya agak jauh dari tepi laut, jenis kamar ini adalah jenis kamar yang paling murah harganya Rp200.000 (tahun 2013) harga tersebut sudah termasuk free sarapan. Tipe kamar ini ada yang twin bed ada pula yang single bed, bisa di pilih sesuai dengan kebutuhan.
Tipe kamar yang kedua adalah Deluxe Seaview-Fan, letak kamar ini agak dekat dengan laut, tidak dilengkapi dengan AC hanya kipas angin saja, harganya sekitar Rp300.000 (tahun 2013), harga ini sudah termasuk sarapan.
Tipe Kamar yang terakhir adalah Deluxe AC Seaview, letak kamar ini pas sekali di pinggir laut, harganya Rp400.000 (tahun 2013). saya menginap di tipe kamar ini, sengaja saya memilih tempat ternyaman, tak masalah bagi saya harus mengeluarkan kocek yang lebih mahal, asalkan bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih. Saya cukup puas dengan kenyamanan di kamar ini, dari kamar saya terlihat laut yang amat biru, saya bisa merasakan hembusan angin pantai dan bisa mendengarkan suara ombak. Kenyamanan tidak cukup sampai di situ, kamar ini juga dilengkapi pendingin udara dan air panas di kamar mandinya.
Persewaan alat snorkeling
Persewaan alat snorkeling.
Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap
Kamar Deluxe AC Sea-View tempat saya menginap.
Terdapat banyak fasilitas-fasilitas menarik di penginapan ini, di antaranya bar dan resto yang terdapat di tepi laut dan dermaga apung. Bar dan restorannya menyediakan banyak makanan yang enak dengan harga yang terjangkau, saya sempat memesan nasi goreng di restoran ini. Di dekat restoran dan bar terdapat dermaga tempat untuk bersantai ria, terdapat meja dan bangku yang nyaman untuk ngobrol-ngobrol dan menikmati hangatnya matahari. Terdapat juga dermaga terapung yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai ataupun memancing.
Fasilitas lain di penginapan ini disediakan persewaan alat-alat snorkeling, harganya relatif murah, selain ini terdapat pula persewaan kamera bawah air, jadi para pengunjung yang suka dengan aktivitas laut tidak perlu takut karena fasilitas semuanya sudah disediakan di sini. Iboih Inn juga menyediakan persewaan kapal kecil yang bisa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Rubiah yang letaknya tidak jauh dari Iboih.
Menu sarapan Iboih Inn sangat istimewa dan lengkap: nasi, lauk dan sayur.
Secara keseluruhan saya puas menginap di Iboih Inn, bagi anda yang berniat untuk berlibur ke Pulau Weh terutama di daerah Iboih, penginapan ini bisa dijadikan salah satu pilihan terbaik, informasi lebih lengkapnya dan pemesanan bisa di hubungi di:
Iboih Inn
Teupin Layeu, Iboih, Pulau Weh
Sabang, Aceh, Indonesia
E-mail: iboih.inn@gmail.com atau contact@iboihinn.com
Telepon: +62 811 841 570, +62 812 699 1659

  • Disunting oleh SA 04/03/2014

Menyantap Mie Aceh dan Sate Gurita di Aceh

Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang
Kedai Sate Gurita di Pujasera Pulau Sabang
Saat saya berkunjung ke Aceh, saya mencoba beberapa menu masakan khas daerah ini, di antaranya yang menurut saya memiliki cita rasa tersendiri adalah mie aceh dan sate gurita. Mie aceh saya nikmati di Banda Aceh dan sate gurita saya nikmati di Sabang.
Restoran Mie Razali
Restoran Mie Razali
Mie Aceh yang digoreng kering
Mie Aceh yang digoreng kering
Menikmati mie aceh langsung di Aceh tentunya terdapat sensasi tersediri bagi saya, rasanya beda dengan menikmati mie aceh di kota asal saya yaitu Jakarta. Saat di Aceh, saya menimati mie aceh di salah satu restoran mie aceh yang cukup terkenal, Restoran Mie Razali. Letak restoran ini tidak jauh dari hotel tempat saya menginap yaitu di Hotel 61 Jalan Panglima Polim, Banda Aceh. Saya saat berkunjung ke restoran ini, tempatnya tak sepi, tempatnya ramai mungkin karena strategis, mudah dijangkau karena letaknya di pusat kota.
Saya tahu dari papan nama restoran ini Mie Razali nampaknya sudah ada sejak tahun 1967. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum. Bisnis mie di retsoran tersebut kini ditangani dan diteruskan oleh keluarganya.
Secara umum di restoran Mie Razali ini ada tiga menu, yaitu mie kuah basah, mie goreng basah dengan sedikit kuah, dan mie goreng kering tanpa kuah. Di restoran ini saya memesan mie kesukaan saya, yaitu mie aceh goreng yang kering. Setelah pesanan saya terhidang di meja saya, aromanya begitu menggoda selera. Setelah saya makan, suapan pertama rasanya begitu menggoda, saya pun makan dengan enaknya, rasanya amat maknyus.
Sate Gurita dengan Bumbu Kacang
Sate Gurita dengan Bumbu Kacang
Mie aceh terlihat unik bila dibandingkan dengan mie lainnya, perbedaan dengan mie lainnya terutama pada bentuknya. Mie yang saya makan di restoran Mie Razali ini terbuat dari tepung dan berwarna kuning, ukurannya sedikit lebih besar dari mie biasanya. Bila saya rasakan dengan lidah saya, mie aceh terdiri dari berbagai macam bumbu masakan, yang saya rasakan ada rasa cabai, bawang putih, kemiri, bawang merah dan kacang tanah.
Di Restoran Mie Razali, menu hidangannya sangat variatif. Sebagai pelengkap, mie acehnya juga bisa dihidangkan dengan mencampurkan daging, udang atau kepiting. Kala itu sebenarnya saya penasaran dengan mie aceh yang dicampur dengan kepiting besar, namun saya urungkan memesannya, karena saya takut alergi kepiting.
Menu lain yang saya coba saat saya berkunjung ke Aceh adalah sate gurita, makanan khas ini lebih tepatnya saya coba saat saya berkunjung ke Sabang, Pulau Weh, salah satu pulau yang terletak di Aceh.
Makanan laut memang menjadi primadona kuliner di kota yang menjadi titik nol kilometer Indonesia ini, dari berbagai jenis makanan laut, gurita merupakan salah satu kuliner yang paling unik dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia. Gurita memang mudah ditemui di sekitar perairan dangkal Pulau Weh. Nelayan lokal sering kali menemukan gurita di antara hasil tangkapan mereka.
Saya menikmati sate gurita ini di Kedai Pujasera Kota Sabang bersama teman saya dan supir mobil yang sewa di Sabang. Letaknya tidak jauh dari Hotel Tempat saya menginap. Di kedai ini, sate gurita bisa dihidangkan dengan bumbu padang yang terdiri dari paduan cabai merah, kunyit, serta jintan yang dikentalkan dengan tepung beras dan sagu, atau dengan pilihan kedua yaitu bumbu kacang. Kala itu saya dan teman saya memesan sate gurita dengan bumbu kacang.
Saat saya mencicipi sate gurita ini, tanpa sadar, tusuk demi tusuk sate ini habis saya nikmati. Begitu nikmat terasa di lidah saya, daging yang saya rasakan sedikit kenyal dan gurih berbalur bumbu kacang, Sensasi kenyalnya, waktu saya kuyah dan bumbu rasa manis khas pada gurita keluar dan bercampur dengan bumbu dagingnya keluar, makyus sekali! sate ini menjadi santapan nikmat dan cocok sebagai pengisi perut yang lapar di malam hari itu setelah sebelumnya seharian saya berkeliling di Pulau Weh.
Secara keseluruhan sate gurita di Kedai Pujasera ini rasanya cukup lezat, manis, serta dagingnya kenyal dan gurih. Sekali menikmati sate gurita, saya merasa ketagihan.
Intinya, bila berkunjung ke Aceh dan Sabang jangan lupa menikmati kedua makanan tersebut. Rasanya enak dan harganya juga sangat terjangkau. Selamat berlibur sekaligus menikmati kuliner nusantara!

  • Disunting oleh SA 04/03/2014
Halaman selanjutnya

© 2021 Ransel Kecil