Categories
Catatan Perjalanan

Hong Kong: Sebuah Catatan Ringan (Bagian 1)

Hong Kong adalah sebuah tempat yang menarik untuk saya. Sebuah perpaduan Timur dan Barat dari Cina (tepatnya provinsi Guangdong) dan kolonialisme Inggris. Meski Hong Kong sudah diserahkan kembali ke Cina pada tahun 1997 (saya pun masih cukup ingat dengan seremoninya di televisi waktu itu), namun Hong Kong saat ini adalah salah satu Special Administrative Region (SAR, sering disebut “Hong Kong SAR”) dari Cina yang mempunyai hak otonomi khusus. Wilayah otonomi khusus lainnya adalah Macau.
Sekitar awal bulan ini, saya mendapati kenyataan bahwa bulan ini: pekerjaan saya di kantor sedang lengang, kursus bahasa Perancis saya setiap hari Minggu sedang libur, dan seorang teman dekat ditugaskan di Hong Kong selama sekitar enam bulan.
Puncak Hong Kong
Puncak Hong Kong
Saya pun mulai mencari-cari tiket untuk berlibur di bulan ini, karena mulai bulan depan sepertinya akan susah untuk mendapat persetujuan cuti. Awalnya saya memilih tujuan wisata lokal yang lebih hemat atau mungkin Bangkok, yang lebih dekat. Namun saya pikir, kapan lagi saya ke Hong Kong dan mendapatkan akomodasi gratis? Walau, pada akhirnya nanti, saya ternyata menyewa kasur ekstra seharga HK$100 per malam, saya anggap itu sangatlah murah.
Akhirnya, saya mendapatkan tiket Jetstar seharga US$320 dari Jakarta ke Hong Kong dengan persinggahan di Singapura. Setelah dikurs, sekitar dua juta sembilan ratus rupiah. Lumayanlah! Namun, yang baru saya betul-betul sadari kemudian adalah, ternyata saya berangkat pagi hari tanggal 21 April dan baru tiba jam 19:45. Ketika di Singapura pun akan susah untuk keluar dari Changi karena hanya transit selama tiga jam.
Tapi, mau bagaimana lagi?
Pada hari H, saya pun berangkat dengan sebuah ranselk (yang saya check-in-kan, karena takut menjadi beban saat transit, dan lagipula saya membawa beberapa bahan cair). Persinggahan di Changi selama tiga jam tidaklah terasa lama. Waktu itu tepat waktu makan siang dan sayapun memesan sebuah roti lapis tuna di restoran cepat saji Subway dan juga segelas smoothies mangga dari Boost Juice. Selepas makan, saya memutuskan untuk melihat Cactus Garden di Terminal 1 yang ternyata cukup menarik dengan berbagai jenis spesies kaktus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Penerbangan ke Hong Kong dari Singapura berlangsung selama tiga setengah jam dan tanpa makanan! Saya cukup kecewa dan menyumpahi diri sendiri karena membuang roti cokelat dari penerbangan sebelumnya (yang ternyata dioperasikan oleh ValuAir). Hasilnya, saya mendarat di Hong Kong dengan kondisi sangat lapar. Suhu di Hong Kong saat itu tidak berbeda jauh dengan Jakarta atau Singapura, tapi memang lebih sejuk.
Saya pun langsung mengisi ulang Octopus Card saya (yang saya pinjam dari seorang teman) sebanyak HK$200, dan diberitahu bahwa tarif naik Airport Express (kereta cepat) ke Central Station adalah HK$100 dengan menggunakan Octopus Card tersebut. Cukup mahal. Namun ternyata yang dinamakan Airport Express bukanlah MTR (kereta rapid) biasa, namun sebuah kereta super cepat yang bertempat duduk seperti kabin pesawat dan hanya berhenti di tiga stasiun, yaitu Tsing Yi (di Lantau Island), Kowloon, dan Hong Kong. Saya harus turun di Hong Kong Station. Aneh juga, saya baru saja mendarat di Hong Kong, dan sekarang saya naik kereta ke Hong Kong. Ternyata sebelumnya saya belum sampai di Hong Kong?
Saya pun bertemu dengan teman saya yang sedang ditugaskan di Hong Kong itu di Central Station (hanya berbeda lantai dengan Hong Kong Station). Target malam itu adalah naik Peak Tram dan tentunya ke The Peak. Namun karena saya sangat lapar, saya pun makan sejenak di McDonald’s di mal yang terhubung dengan Central Station tersebut.
Sehabis makan, karena terburu-buru (The Peak tutup jam 11 malam), kamipun naik taksi ke Peak Tram, yang sebetulnya cukup dekat dengan Central Station, dengan ongkos HK$20 (tarif minimal) dan langsung membeli tiket tram pulang pergi dan tiket ke viewing terrace seharga HK$65. Peak Tram adalah tram yang sangat bersejarah karena sudah ada sejak tahun 1888 dan tram-nya pun masih asli (meski sudah tidak terbuat dari kayu lagi) dan berfungsi dengan baik dan terkomputerisasi. Naik Peak Tram adalah pengalaman yang sangat unik karena tram menaiki bukit dengan kemiringan 45 derajat dan seolah-olah gedung-gedung di sekitarnyalah yang miring 45 derajat.
Taksi di Hong Kong
Taksi di Hong Kong
Saya dan teman saya pun langsung bergegas menuju viewing terrace dimana kita dapat melihat pulau Hong Kong dari atas bukit (aslinya bernama Victoria Peak). Dan di atas sana udara cukup dingin (dan sedikit berkabut). Indah sekali gedung-gedung berwarna-warni di wilayah Hong Kong dan Kowloon yang dipisahkan oleh sebuah selat dan juga pemandangan di sekitarnya yang dapat kita lihat 360 derajat. Mungkin lain kali saya akan kembali kesini untuk menikmati matahari terbenam dan sinarnya yang keemasan menerpa gedung-gedung tinggi itu, yang satu-per-satu menyalakan lampunya.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan kami pun diusir dari teras karena akan segera tutup, meski masih sempat menikmati plaza yang berada di bawahnya. Kami memutuskan untuk menuju ke hotel (sebetulnya adalah serviced apartment) yang terletak di wilayah Tsim Sha Tsui (baca: Chim Sa Choy) di Kowloon dengan taksi karena tidak yakin MTR masih beroperasi. Kami pun naik taksi dan menyeberangi selat di antara Hong Kong dan Kowloon dengan melewati terowongan yang cukup panjang. Saya pun terkesima karena belum pernah melewati terowongan bawah laut sebelumnya.
Saat turun di Tsim Sha Tsui, betapa kagetnya kami ketika sang supir meminta ongkos sebesar HK$180! Kami pun protes meski sia-sia karena supir taksi kami tidak berbahasa Inggris. Akhirnya kami mengerti bahwa taksi tersebut adalah taksi dari Hong Kong Island, dan untuk melewati terowongan, dikenakan tarif ekstra sebesar HK$45, dan dia pun harus kembali lagi dari Kowloon melewati terowongan tersebut, sehingga total tarif ekstra sebesar HK$90. Sungguh mahal, mengingat secara jarak, Peak Tram dan Tsim Sha Tsui sangatlah dekat meski terpisah oleh selat Hong Kong. Akhirnya sopir taksi kami pun memberi keringanan sedikit dan kami boleh membayar 160HKD. Kami belajar. Jangan pernah naik taksi jika harus menyeberangi selat Hong Kong. Lebih baik naik kapal feri atau MTR (dan ternyata MTR beroperasi sampai jam satu pagi!). Namun dengan MTR pun, jika kita melewati terowongan itu, akan dikenakan tarif ekstra sebesar kira-kira HK$6.
Sebelum ke hotel, saya dan teman saya sempat mencari makanan pencuci mulut di wilayah Tsim Sha Tsui dan akhirnya menemukan sebuah tempat dan saya memesan mango with sago balls in coconut milk, squid balls, dan Portuguese egg tart, ditutup dengan bubble tea dari tempat favorit kami, Gong Cha.

  • Disunting oleh SA 09/05/2012
Categories
Catatan Perjalanan

Perayaan Hidup Kedua

Tiba-tiba ada suara ribut-ribut di halaman upacara. Orang-orang berteriak sampai memekikkan telinga. Saya tersentak lalu beranjak mencari tahu apa yang terjadi.
Saya semakin terkejut melihat seekor babi berlari tak tentu arah. Ternyata, babi yang akan dikorbankan terlepas dari ikatan di sebatang bambu. Dengan badan berdarah-darah, babi itu mencoba melepaskan diri dari kerumunan orang-orang.
Orang-orang di sekitar panik menyelamatkan diri naik ke rumah-rumah seketika itu juga. Untung saja tak berapa lama, situasi dapat dinetralisir. Babi mampu kembali ditangkap dan diikat. Itulah akhir perjuangan heroik dari seekor babi yang akan dikorbankan sebagai bagian dari ritual upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Babi yang Dikurbankan
Babi yang dikurbankan
Saya sampai di terminal bis Lita di kota Makassar malam itu untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja. Sempat takjub melihat wujud bis yang terlampau eksklusif. Serius. Saya sudah siap menumpang bis apa saja tapi ketika kemudian bis yang tersedia terlampau nyaman, saya merasakan rentetan keberuntungan dimulai. Harganya pun cukup murah, Rp110.000,- untuk delapan jam perjalanan malam ke Toraja. Kursinya nyaman, jarak antar kursi cukup luas. Bahkan ada wi-fi! Moda transportasi yang patut diadaptasi untuk bis antar provinsi di Jawa.
Perjalanan delapan jam pun jadi tak terasa. Yang saya tahu, tiba-tiba bis sudah berhenti pagi itu. Jam masih menunjukkan jam lima pagi.
Bis berhenti sebentar di depan sebuah gang. Saya masih tertidur pulas saat sang kernek membangunkan. Dari awal, saya memang meminta sopir untuk menurunkan saya di penginapan murah yang juga menyediakan penyewaan motor.
Kernek bis mengantarkan saya ke Hotel Bison, hotel sederhana di dekat Jalan Raya Rantepao. Hanya 20 meter dari jalan raya, masuk lewat gang kecil. Meski cukup sederhana, hotel ini nyaman sekali dengan konsep bangunan rumahan. Harga per malam juga sangat terjangkau, Rp150.000,-, ditambah mereka menyediakan motor untuk disewa seharga Rp65.000,- per hari minus bahan bakar.
Alam Toraja yang Asri
Alam Toraja yang asri
Saya tak punya kemewahan akan waktu hari itu. Mesti memanfaatkan setiap menitnya untuk sebanyak-banyaknya menjelajahi kota penuh kultur unik nan bersahaja ini. Sekitar jam tujuh pagi, saya pergi ke lobi untuk mencari-cari informasi. Tak banyak juga informasi yang bisa penjaga hotel ini berikan. Untung saja saya bertemu John Rante, seorang pemandu wisata yang rumahnya berdekatan dengan hotel.
Saya berbincang banyak sampai sepakat untuk menyewa jasa Pak John sebagai pemandu wisata seharian itu. Setelah tawar menawar, harganya pun cukup murah Rp150.000,- sudah termasuk bensin motornya. Sebenarnya tarif normalnya Rp250.000,- belum termasuk ongkos bensin. Namun, karena memang bukan musim liburan, saya bisa mendapat tarif terbaik.
Destinasi pertama yang saya kunjungi adalah pesta pemakaman di Kecamatan Kete Kesu. Pestanya berlangsung cukup sederhana dibanding trademark upacara pemakaman yang sering diberitakan memakan biaya sampai ratusan juta bahkan miliaran. Keluarga yang berkabung kebetulan hanya keluarga petani.
Akan tetapi, mereka tetap harus mengorbankan tiga ekor tedong (kerbau) dan tiga ekor bai (babi) sebagai teman menuju dunia yang lain bagi yang sudah wafat. Meski ‘cuma’ sedikit hewan yang dikurbankan, tetap saja biayanya sampai puluhan juta jika menghitung satu kerbau biasa dijual Rp15-30 juta dan satu babi Rp1-3 juta. Belum ditambah biaya-biaya lainnya.
Saya mencoba menelisik masuk ke dalam. Memberi salam pada keluarga yang berkabung kemudian menuju dapur yang sepertinya sedang ramai. Terdengar sampai luar suaranya, suara ibu-ibu mengoceh dan goresan panci. Benar saja, mereka sedang rumpi rupanya. Saya sempat mengabadikan aktivitas unik mereka, sambil menguyah sesuatu, entah apa, meminum kopi hitam Toraja, dan menanak nasi satu gentong.
Mereka memandang saya asing. Wajar tentu saja. Akan tetapi, mereka ternyata ramah sekali. Tak lama, saya ditawari kopi. Secangkir kopi dan tak lupa kue-kue khas Toraja yang terbuat dari beras merah. Saya lupa namanya. Yang jelas, rasanya legit dan renyah, tak kalah dengan kue-kue dari toko.
Pak John lalu menceritakan banyak hal tentang ritual pemakaman itu. Masyarakat Toraja menganggap ada dua kehidupan yang mesti dijalani. Sebelum dan setelah mati. Ketika mati, mereka harus diperlakukan istimewa demi kebahagiaan hidup setelahnya. Puya, nama ‘dunia’ setelah kematian untuk masyarakat Toraja. Hewan-hewan yang dikurbankan menjadi teman bagi yang wafat di Puya. Sebuah prosesi untuk meninggikan yang tiada.
Kemudian, saya mampir ke Kuburan Batu yang terletak di Desa Lemo, Kecamatan Sanggalange. Mengapa dinamakan kuburan batu? Sesederhana karena memang mayatnya dikuburkan di tebing-tebing batu. Selain dikuburkan di sana, dibuat juga replika manusia dari kayu lengkap dengan baju adatnya.
Kuburan Batu di Desa Lemo
Kuburan batu di Desa Lemo
Beberapa kuburan di sana terlihat masih baru. Ada juga pahatan-pahatan yang baru dibuat sebagai persiapan sebagai tempat persemayaman terakhir orang-orang yang meninggal.
“Walau terlihat kecil, sebenarnya lubang di dalamnya besar sekali. Bisa menampung beberapa mayat,” jelas Pak John sambil menunjuk sebuah kuburan di ujung tebing.
Setiap sisi tebing di bukit itu dipenuhi kuburan dengan replika manusia. Saya sempat mengitari tebing ke sisi-sisi yang berbeda dan selalu mendapati kuburan-kuburan batu yang lain. Menurut Pak John, semakin ke belakang dan tersembunyi, berarti kasta atau tingkatan orang tersebut lebih rendah.
Di sekitar kompleks kuburan batu, banyak warga sekitar yang menjual kerajinan khas Toraja. Selain bentuknya yang khas, harganya juga tak terlalu mahal. Kain cantik buatan tangan sepanjang dua meter misalnya hanya dihargai Rp60-80 ribu. Patung-patung khas atoraja dengan bentuk pasangan orang tua diharga Rp25-60 ribu tergantung ukuran.
Pak John mengantar saya ke tempat pemakaman bayi atau Baby’s grave di Kampung Kambira, Kecamatan Sanggala. Tempat pemakaman bayi hanya berupa pohon besar diselimuti sabut-sabut hitam sebagai penutup lubang tempat bayi-bayi dimakamkan. Pohon ini diperuntukkan bagi bayi yang meninggal di dalam kandungan atau berusia di bawah enam bulan.
Dari sana, kami beranjak ke pasar tradisional di Kampung Tokesan. Di sini, seperti banyak pasar tradisional lain, ramai penjual menjajakan berbagai macam dagangan, mulai dari kebutuhan sehari-hari, sampai daging babi juga ada. Pasarnya mulai dari pagi hingga siang menjelang sore.
Saya kembali terkagum-kagum saat sampai di Kampung Bonoran di Kecamatan Kete Kesu, lokasi rumah-rumah adat Tongkonan. Ada dua belas rumah khas Toraja berjejer rapi di kedua sisi. Atap Rumah adat Tongkonan sekilas mirip tanduk kerbau.
“Bukan tanduk kerbau. Itu perahu,” kata Pak John mengoreksi. Menurut sejarah, nenek moyang orang Toraja dulu memang pelaut. Ketika sampai di daratan, mereka membuat rumah dengan memanfaatkan perahu-perahu mereka.
Kompleks Rumah Adat Tongkonan
Kompleks rumah adat Tongkonan
Di depan setiap rumah adat, hampir pasti selalu dipajang jejeran tanduk-tanduk kerbau yang telah dikurbankan. Lengkap dengan patung kepala kerbau dari kayu.
Dari salah satu rumah yang saya masuki, kondisi dalam rumah tersebut pun terlampau sederhana, hanya terdiri dari 3 ruangan. Kamar, ruang keluarga, dan ruang makan. Dapur, ruang makan, dan bahkan WC digabung menjadi satu di tengah. Agak risih ya.
Saya sangat penasaran ketika Pak John akan mengajak saya ke kuburan yang disimpan di goa. Dalam hati, “Di tebing, di gunung, di pohon, sekarang di gua?” Memang Toraja kaya akan budaya menghormati yang tiada. Sampai-sampai mereka rela bertaruh nyawa untuk memakamkan orang-orang yang mereka cintai di tempat yang mereka anggap terbaik.
Lokasi kuburan goa ini ada di daerah Londa, sebelah selatan Rantepao. Untuk melihat ke dalam goa, kita mesti menyewa lampu petromax seharga Rp25.000,-. Masuk ke goa ini mesti ekstra hati-hati, jalanan agak terjal, sempit, dan licin. Salah-salah bisa terpeleset.
Lokasi Kuburan Goa di Londa
Lokasi kuburan goa di Londa
Masih ada mayat yang baru dikubur dua tahun lalu. Peti matinya masih utuh. Berbeda dengan banyak peti mati lainnya yang sudah rapuh dan berlubang sehingga tulang-belulang pun sampai terjulur keluar. Sesaji juga banyak sekali diberikan oleh warga yang berziarah. Rokok, bunga, air minum, atau buah-buahan. Semuanya diberikan sebagai bekal yang sudah wafat di alam sana. Walaupun yang terjadi sesajinya kian hari kian menumpuk, tak ada satu pun yang berani mengambil atau sekedar membersihkan. Alasannya klise, atau tidak, karena takut dihantui sepanjang hidup.
Naik beberapa anak tangga di sisi bukit dekat goa, Pak John menunjukkan ada kuburan tertinggi yang terletak hampir di puncak tebing terjal. Sudutnya hampir tegak lurus. Tak terbayang bagaimana orang-orang bisa sampai ke sana hanya untuk menguburkan mayat. Ceroboh sedikit malah bisa ikut menjadi mayat. Tapi itulah, kata Pak John, sebuah dedikasi akan sebuah ritual. “Mereka yang berangkat ke atas memang harus ahli. Ke atas hanya dengan berbekal bambu sebagai penyangga.”
Luar biasa.
Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin mewah pula jenazahnya mesti dilengkapi. Seringkali dengan kain-kain mahal dan perhiasan. Oleh karena itu, biasanya jenazah orang-orang seperti itu diletakkan di tebing paling atas agar sulit dicapai orang lain.
Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah sebuah akhir. Justru, mati adalah gerbang menuju Puya, dunia yang baru. Dunia di mana arwah-arwah kembali menjalani hidup yang lain bersama dengan para hewan yang dikurbankan. Sungguh sebuah penghargaan yang tinggi pada kematian dan hidup setelah mati.
Bagi mereka, mati adalah hidup yang kedua kali.
Itulah sekelumit kisah perjalanan saya di Toraja. Memang cuma sehari, tapi saya tak bisa melupakan setiap menit penelusuran budaya unik di sana. Masih banyak yang belum saya saksikan, salah satunya adalah mitos mayat berjalan sendiri. Suatu hari saya pasti akan kembali untuk mencari tahu lebih banyak, dan menelusuri lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Toraja yang bersahaja.
Seorang jurnalis dan penulis, Patricia Schultz, memasukkan Toraja dalam bukunya, “1000 Places to See Before You Die”. Well, kini saya tahu benar mengapa dia berpendapat demikian.
Dalam hati, saya mengangguk seraya setuju.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012
Categories
Tempat

Hari Minggu di Tanjung Papuma

Kesibukan kami yang cukup padat setiap minggunya seakan harus ditebus dengan kegiatan melarikan diri dari kejenuhan rutinitas dengan sekedar berkumpul atau mengunjungi tempat-tempat wisata atau hiburan di akhir pekan. Pagi itu saya dan dua sahabat saya memutuskan untuk mengunjungi pantai Tanjung Papuma sebagai kegiatan melepas penat di akhir pekan.
Pantai dengan pasir putih alami dan tidak terlalu jauh dari pusat kota membuat saya tidak pernah bosan ketika berkunjung ke pantai ini. Apalagi hanya bermodalkan tidak lebih dari Rp7.000,- kita bisa memasuki lokasi wisata pantai yang dikelola oleh Perhutani ini. Bahkan jika berkunjung tidak pada akhir pekan atau hari libur, para pengunjung cukup membayar Rp5.000,- saja.
Pantai lengang di Tanjung Papuma
Pantai lengang di Tanjung Papuma
Secara geografis, Tanjung Papuma adalah tempat wisata pantai yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kabupaten Jember sendiri berjarak sekitar 197 km dari ibukota propinsi, Surabaya. Sedangkan jarak Tanjung Papuma dengan pusat Jember sekitar 37 km. Jarak yang relatif dekat ini yang membuat saya yang arek Jember, cukup sering berkunjung ke Tanjung Papuma. Tanjung Papuma sendiri berarti dataran yang menjorok ke laut yang bernama Papuma. Papuma sendiri merupakan akronim dari Pasir Putih Malikan. Malikan adalah nama dari pantai ini yang diberikan oleh Perhutani selaku pengelola.
Minggu, 15 April 2012. Pukul 7.30, kami bertiga berangkat dengan menaiki sepeda motor hingga sekitar pukul 8 pagi kami bertiga sampai di persimpangan jalan menuju pantai Tanjung Papuma. “Selamat Datang di Tanjung Papuma”. Baliho berukuran sedang menyambut kedatangan kami pagi ini.
<em>Snorkeling</em> di Tanjung Papuma
Snorkeling di Tanjung Papuma
Dalam perjalanan kali ini, ransel kecil yang saya bawa cukup diisi dengan jas hujan dan peralatan mandi seadanya. Walaupun udara cukup cerah saya tetap membawa jas hujan. Mengingat akhir-akhir ini Jember memang sering diguyur hujan ketika senja dimulai.
Perjalanan menuju Tanjung Papuma belum selesai namun aroma pantai sudah mulai terasa disini. Kami masih harus menempuh perjalanan lagi dari baliho hingga sampai ke Tanjung Papuma. Mulai dari baliho hingga sampai ke loket pantai Tanjung Papuma, setiap pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan jati, perbukitan dan persawahan yang cukup asri. Pemandangan yang cukup menyegarkan mata.
Setelah membeli tiket di loket kami harus melalui jalanan yang menanjak dan menurun mulai dari loket hingga sampai ke pantai Tanjung Papuma. Tidak heran jika hampir di setiap sudut jalan terdapat peringatan pada semua pengendara agar selalu berhati-hati. Hingga akhirnya kami sampai di salah satu pantai kebanggaan masyarakat Jember.
Suasana pantai sangatlah lengang. Pengunjung yang datang pagi itu cukup sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari, hingga salah satu sahabat saya berkata, “Serasa di pantai yang masih terisolasi ya…”.
Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya yang ramai akan pengunjung. Suasana pantai cukup sepi dan hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Saya sempat bingung dengan kondisi pantai pagi itu hingga akhirnya sahabat saya lainnya berkata, “Mungkin karena besok Ujian Nasional dan sekarang masih pagi juga kan”.
Tanpa pikir panjang, kami bertiga langsung berjalan-jalan di pinggir pantai sambil berfoto dengan kamera saku yang saya bawa. Kami menyusuri tiap sudut tempat yang ada di pantai ini. Mulai dari menyusuri bebatuan kokoh di sekitar pantai hingga melihat-lihat penginapan-penginapan yang ada di Tanjung Papuma.
Selain menyuguhkan pasir putih alami, Tanjung Papuma juga memiliki beberapa bukit kecil berupa bebatuan kokoh, sehingga setiap pengunjung yang datang bisa melihat keindahan Tanjung Papuma dari ketinggian sekitar 20 meter ketika mendaki ke atas bukit tersebut.
Setelah merasa cukup puas berjalan-jalan, rugi rasanya jika berkunjung ke pantai tanpa berenang. Berkunjung ke pantai tanpa berenang ibarat sayur tanpa garam. Ada yang kurang rasanya. Apalagi matahari yang semakin terik semakin mendorong kami untuk segera berenang. Pantai Tanjung Papuma yang mempunyai ombak yang cukup besar dan merupakan pantai selatan dengan berbagai mitosnya membuat kami hanya berenang di pinggiran pantai saja. Berenang bersama teman seperjalan dengan didera ombak cukup menyenangkan dan berhasil membantu melepaskan segala kepenatan saya.
Setelah puas berenang, menikmati es kelapa muda di bawah pohon sambil memandangi indahnya pantai yang mulai ramai pengunjung sepertinya juga sangat menyenangkan. Dengan bermodalkan Rp 18.000,00 kami mendapatkan bisa mendapatkan 3 es kelapa muda yang banyak dijual di warung-warung makan sederhana yang menjamur di sekitar pantai Tanjung Papuma. Para pengunjung juga bisa menikmati ikan bakar yang merupakan hasil tangkapan nelayan yang tinggal di sekitar Tanjung Papuma dan diolah di warung-warung makan tersebut.
Tak terasa hari sudah hampir sore, kami memutuskan untuk segera membersihkan diri di kamar mandi umum yang ada di Tanjung Papuma. Terdapat banyak lokasi pemandian umum dan toilet di sekitar pantai, cukup dengan Rp 2.000,00 pengunjung bisa menggunakan air sebanyak mungkin untuk sekali mandi. Setelah membersihkan diri, kami memutuskan untuk segera pulang mengingat sisa waktu pada hari itu akan kami gunakan untuk mempersiapkan rutinitas kami berikutnya.
Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma
Salah satu sudut pantai di Tanjung Papuma
Berat memang untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum menikmati proses tenggelamnya matahari di Tanjung Papuma, namun masing-masing dari kami memiliki urusan masing-masing yang harus dipersiapkan. Meskipun pantai Tanjung Papuma merupakan pantai selatan, namun kondisi geografis yang berupa tanjung memungkinkan pengunjung untuk bisa menikmati proses terbenamnya matahari di Tanjung Papuma.
Setiap perjalanan selalu memiliki arti bagi setiap individu yang melakukannya. Bagi saya perjalanan kali ini semakin membuat saya bersyukur masih bisa menikmati salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa indah dan di sisi lain perjalanan ini semakin memperkokoh persahabatan kami.

  • Disunting oleh SA 03/05/2012