Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia's Capital

Kemarin saya baru dibelikan buku “Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta’s Capital” oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program “Enjoy Jakarta!“.

Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti “sudah mati dan masuk neraka”. Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu “nyaman” di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.

Saya tidak banyak membeli buku panduan wisata, dan sekalinya membeli, biasanya untuk destinasi luar negeri. Biasanya saya tak begitu tertarik membeli buku panduan wisata di Jakarta, karena memang jarang atau tidak ada, atau buku-buku seputar Jakarta biasanya ditujukan pada ekspat atau pengunjung. Tentu, buku Whitmarsh ini juga diakuinya ditujukan terutama pada ekspat, tetapi bagi saya yang orang lokal sekalipun, banyak dari destinasi dan rekomendasi yang tidak terpikirkan oleh saya. Selain itu, menarik untuk mengetahui bagaimana seorang Andrew dan Melanie, yang bukan asli Jakarta, melihat Jakarta dan mengkurasi kota ini sebegitu rapi dan menariknya.

Sesuai judulnya, buku ini merekomendasikan 25 rute perjalanan di kota Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Puncak, Jatiluhur, Jonggol). Ke-25 rute ini tidak semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, tetapi sebisa mungkin, Andrew merekomendasikan untuk melakukannya dengan jalan kaki atau menaiki transportasi umum. Saya kagum dengan detil-detil seperti mendeskripsikan secara tepat jalan dan lingkungannya (baca: “ancer-ancer“), harga-harga transportasi umum dan gerai makanan yang biasanya tak mungkin digunakan atau dikunjungi turis kebanyakan, sampai bagaimana memahami karakter penduduk di Jakarta dan menghadapi jalan raya yang “kejam”.

Ulasan-ulasannya juga sangat jujur, tidak semata memuji, tapi juga tidak menjelek-jelekkan. Apa adanya. Misalnya, ketika mendeskripsikan Kota Tua, ia menggunakan kata “grungy“, namun mengerti potensinya belum terbangun dengan baik. Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua tidak begitu lengkap, katanya, tetapi justru yang menjadi magnet adalah arsitektur gedungnya. Selain itu, buku panduan wisata ini tidak berusaha untuk memberi informasi kontak untuk setiap tempat, tetapi ia justru ingin pembacanya fokus pada perjalanan itu sendiri.

Tidak ada yang pernah membayangkan jalan kaki di Jakarta untuk berwisata, termasuk saya sendiri. Saya jalan kaki hanya untuk keperluan kerja atau jika memang butuh. Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood membuka mata saya kembali bahwa masih ada harapan untuk melihat Jakarta dari sisi lain, dari sisi yang lebih individual. Tipsnya adalah, “Sebisa mungkin, jauhi jalan-jalan utama dan lihatlah kehidupan di balik jalan raya. Surga dunia,” katanya. Saya mengerti maksudnya. Jika di Sudirman, mulailah melihat Bendungan Hilir dan selami “kampung” di tengah kota. Pondok Indah pun dapat menjadi menarik jika kita menjelajah jalan-jalan di belakangnya, tidak hanya arteri atau Mal Pondok Indah. Taman pemakaman umum (TPU) pun dapat menjadi atraksi yang menarik bagi Andrew, “tempat yang tenang dari hiruk-pikuk lalu-lintas.”

Tak kalah menarik, jika banyak buku panduan wisata hanya merekomendasikan wisata kuliner yang terkenal, nyaman atau “ramah” kepada turis, maka Andrew justru juga merekomendasikan makanan di gerobak seperti gorengan. Atau, bagaimana dengan mencoba bekam atau terapi api bersamaan dengan spa mewah yang nyaman?