Pramugari AirAsia melayani penumpang
Pramugari AirAsia melayani penumpang

Saya baru senang jalan-jalan sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009, itu juga karena beberapa tahun sebelumnya saya sudah mulai bekerja, bisa menabung dan bisa menentukan bagaimana saya membelanjakan tabungan saya. Dari kuliah, saya sudah senang membaca artikel-artikel perjalanan. Bahkan, dari SMP pun, saya kadang membaca majalah National Geographic dan bermimpi menjadi fotografer. Fotografer idola saya waktu itu adalah Reza Deghati. Liputan yang membuat saya terinspirasi adalah liputan tentang Iran dan Maroko. Warna-warna menarik dan lanskap yang getir membuat saya ingin langsung pergi ke sana dan mencoba merekam semuanya dari kacamata saya sendiri.

Sebenarnya, beberapa kali sebelum bekerja saya sempat bepergian ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Jepang, Malaysia dan Singapura — namun kalau tidak dibiayai orang tua, kebetulan ada pihak lain yang membiayainya. Pengalaman 5 tahun tinggal di Malaysia tahun 1996 – 2001 juga memberikan kontribusi pada kesukaan saya jalan-jalan dan “melihat dunia”.

Kesempatan pertama itu datang pada Desember 2008, ketika teman saya, Arif, mengajak untuk pergi ke Vietnam. Kebetulan, saya punya teman di Hanoi, dia orang Vietnam. Kami terakhir kali bertemu di Amerika Serikat tahun 2005. Kami pikir, apa salahnya untuk berkunjung ke sana sembari bertemu teman lama. Saat itu, posisi keuangan kami terbatas, dan tidak semua maskapai memiliki sistem reservasi online dengan kartu kredit. Dengan membeli tiket pesawat online, pada pandangan saya, bisa mendapatkan tarif lebih murah dari jika melakukan pemesanan melalui telepon atau datang langsung ke kantor reservasi, misalnya. Konsumen lebih leluasa memilah-milah mana harga, waktu dan tempat yang terbaik. Pilihan akhirnya jatuh pada AirAsia.

Sejak melakukan pesanan pertama kali di AirAsia, tidak ada maskapai lain yang memiliki sistem reservasi online serapi AirAsia — setidaknya begitu menurut pengalaman saya pribadi. Semua prosesnya jelas, pembayaran lancar, ada opsi ekstra lain seperti makanan dan penambahan bagasi, dan dukungan customer service yang membantu.

Sebagai aviation geek juga, saya lebih suka terbang dengan Airbus A320/A320neo. Usia pesawat-pesawat yang digunakan AirAsia lebih muda, interiornya bersih dan terang. Beberapa maskapai beranggaran rendah lain yang saya gunakan menggunakan varian lain dan pesawat yang lebih tua usianya. Tempat duduk kulit tampak baru, bersih dan tidak kusam. Makanan dan minuman yang ditawarkan lebih mengena di hati dan disesuaikan dengan tujuan.

Penerbangan pertama saya adalah dari Kuala Lumpur ke Hanoi. Waktu itu, terminal di Kuala Lumpur masih LCCT (Low-cost Carrier Terminal) yang bersebelahan dengan terminal utama KLIA. Proses check-in sampai naik pesawat memang tak senyaman sekarang di KLIA2, tapi cukup lancar. Pertama kali naik ke pesawat AirAsia, impresi saya adalah pesawat ini baru dan bersih. Waktu itu, kursi tidak di-assign alias bisa duduk di mana saja. Kami pun terbang dengan antisipasi yang mungkin agak berlebihan. Perjalanan selama tiga jam itu kami lalui dengan damai.

Namun, kedamaian itu berakhir ketika hendak mendarat.

Bukan, bukan masalah pesawatnya. Tetapi, beberapa penumpang (yang kebetulan warga negara Vietnam) tiba-tiba berdiri melepas sabuk pengaman ketika pesawat sudah mulai descending (turun). Mereka ingin berfoto-foto bersama dengan blitz kamera. Kabin yang sudah gelap karena hendak mendarat tiba-tiba heboh dan silau. Mereka tak mau duduk. Pramugara dan pramugari terpaksa meminta mereka duduk. Akhirnya, mereka duduk.

Ternyata, kehebohan belum berakhir! Ketika pesawat baru saja touch down dan masih di landasan, mereka berdiri lagi dan berteriak terkagum-kagum. Saya dan teman hanya tertawa geli. Tentu saja, para staf pramugara dan pramugari cepat tanggap meminta mereka kembali duduk.

Singkat cerita, perjalanan pertama saya dengan AirAsia heboh namun lancar. Tidak ada yang mengecewakan. Perjalanan ini menjadi pembuka bagi perjalanan-perjalanan berikutnya dengan AirAsia yang selalu menyenangkan — dan menandakan diluncurkannya blog travel saya di Ransel Kecil ini.

Setelah itu, seperti tumbuh harapan untuk selalu jalan-jalan, karena semuanya jadi mudah dengan AirAsia. Untuk penerbangan dalam negeri pun, saya lebih suka menggunakan AirAsia karena dari Jakarta berangkat di Terminal 3 dan kabinnya lebih nyaman. Sampai sekarang, walau tak benar-benar pergi, saya suka iseng buka AirAsia.com hanya untuk melihat-lihat harga dan kemungkinan destinasi selanjutnya.