Artikel-artikel dari kategori Ulasan

GB Pockit: Stroller Ringan Ramah Jalan-Jalan


Tampak depan dan samping GB Pockit.

Ini bukan artikel berbayar. Kami menulisnya karena memang dasar suka sama suka. Kami punya beberapa stroller buat anak kami, Janis. Pada awal kelahiran Janis, kami punya dua: Cocolatte New Life (untuk kegunaan utama, dengan sandaran yang bisa direbahkan dan ukuran yang lebih besar untuk bayi) dan Cocolatte iSport (persiapan kami jika Janis sudah bisa duduk, dan lebih ringan serta mudah dilipat).


Ketika dibawa, ukurannya cukup mungil.

Kenyataannya, stroller-stroller itu jarang digunakan ketika kami masih tinggal di Jakarta, karena Janis lebih banyak digendong dengan baby carrier. Sepertinya lebih cocok untuk menghadiahkan baby carrier kepada orang tua-orang tua baru, lebih sering dipakai daripada stroller!

Saat ini, Janis sudah menginjak dua tahun. Ukuran badannya sudah terlalu besar untuk digendong di baby carrier, sehingga kami lebih banyak mengandalkan stroller. Ketika baru pindah ke Singapura, kami membeli stroller City Mini GT, karena kami pikir di sini lebih banyak jalan kaki dan butuh roda serta suspensi yang kuat. Ukurannya pun besar, tapi cukup nyaman buat Janis juga.


Detil pegangan dan tutup kepala.

Kami menyukai kombinasi City Mini GT dan Cocolatte New Life di Singapura. City Mini GT untuk kegiatan yang lebih “adventurous“, seperti ke kebun raya, taman atau belanja bulanan dengan jalan kaki (ke mana-mana relatif dekat dan bisa dijangkau dengan jalan kaki dari apartemen kami). Cocolatte New Life untuk petualangan yang agak jauh dan menggunakan kendaraan umum seperti taksi, bis atau MRT, karena gampang dilipat dan ringan dibawa.

Ketika merencanakan liburan ke London, Inggris, pada awal tahun, kami mencoba untuk mencari stroller baru yang lebih compact dan kalau bisa tidak perlu check-in bagasi. Tadinya kami ingin menyewa, tapi ternyata harga sewa ditambah sedikit dapat stroller baru. Kebetulan kami sudah lama kesengsem dengan GB Pockit, stroller super compact yang bisa dilipat sampai masuk ke tas duffel atau semacamnya.


Proses melipat.

Pada suatu Sabtu kami pun memutuskan untuk membelinya, dan tidak menyesal sampai sekarang. Ada juga sih alternatif lain, yaitu Cocolatte Pockit. Lha, kok namanya sama? Memang sama, dan desainnya juga mirip, hanya ada perbedaan sedikit dari sisi desain dan materi. Selain itu, Cocolatte Pockit kabarnya bisa direbahkan sandarannya. Tapi GB Pockit juga baru saja mengeluarkan edisi baru, yakni GB Pockit Plus, yang juga bisa direndahkan sandarannya, sehingga anak bisa tidur dengan lebih pulas atau rileks. GB Pockit lebih mahal (S$299) dari Cocolatte Pockit (S$199), tapi kami kesulitan menemukan Cocolatte Pockit di Singapura, adanya online. Namun, kami ingin mencoba merek lain selain Cocolatte, akhirnya pilihan jatuh pada GB Pockit.

Sejauh ini, kami senang. Bahkan, stroller ini hampir menggantikan Cocolatte New Life kami 100%. City Mini GT juga jadi jarang dipakai karena ukurannya masif. Ke mana-mana pun kami pakai GB Pockit. Rasanya best value buy sekali. Untuk perjalanan ke London kami pun, kami merasa adem ayem, karena hadirnya stroller ini. Gampang dilipat, mungil dan ternyata rodanya kuat. Sebagai pembanding, Cocolatte New Life memiliki roda yang suka menyangkut di bebatuan atau besi di jalan, sedangkan roda-roda GB Pockit lebih ampuh melewati halangan. Memang, tidak seampuh roda City Mini GT yang memang dirancang untuk “offroad“, tapi lumayanlah ya?

Melipatnya pun sederhana. Hanya dorong pegangan ke bawah (harus kedua handle), lalu dorong lagi satu kali untuk melipat. Versi lipatan ada dua. Yang pertama compact fold, yang kedua super compact fold. Lihat gambar di bawah.

Bedanya adalah untuk compact fold, eksekusinya lebih cepat, dan cocok untuk skenario masuk bis, kereta, taksi atau kondisi lain yang butuh kecepatan dan kegesitan. Untuk super compact fold, melipatnya butuh ekstra waktu dan tenaga, karena harus melipat roda belakang masuk ke dalam, tetapi hasilnya menjadi sangat kecil dan bisa masuk ke tas jinjing (yang ukurannya pas). Cocok untuk skenario masuk pesawat, bagasi, atau disimpan di gudang.


Versi lipat “super compact“.


Versi lipat “compact“.

Soal kenyamanan, kami serahkan pada Janis, anak kami. Selama menggunakannya hampir sebulan ke belakang, Janis lebih cepat tidur nyenyak di atas stroller ini, walau sandaran tidak bisa direbahkan. Entah kenapa. Selain itu, dia juga jarang minta turun lagi, hanya sesekali.

Kesimpulannya, untuk jalan-jalan, GB Pockit sangat direkomendasikan. Sekali lagi ini bukan artikel berbayar, murni keikhlasan hati kami. Tertarik?


Memilih Kamera Jalan-Jalan

Memilih kamera untuk jalan-jalan adalah hal yang rumit dilakukan, buat saya. Walau ada yang bilang, dan saya juga percaya akan hal ini, “gears don’t matter“. Tapi ada kalanya kita butuh evaluasi apa peralatan yang harus kita bawa sesuai konteks dan kondisinya.

Saya sudah memiliki Nikon D5000, sebuah DSLR yang sudah lumayan jadul, tapi masih berfungsi dengan baik. Di sisi lain, saya juga punya iPhone 7 dan iPhone 6. Nikon D5000 ini sudah saya beli tujuh tahun yang lalu, saat saya pertama kali backpacking ke Eropa. Waktu itu saya masih sendiri, belum menikah. DSLR masih menjadi tren. Belum banyak alternatif seperti kamera mirrorless. Saya belilah dengan harapan hasil yang saya dapat bisa lebih baik. Saya sempat membuat video-video dokumentasi perjalanan saya, ini dan ini. Bukan vlog sih, hanya klip singkat. Pada saat itu, saya cukup puas dengan kamera itu.


Nikon D5000, teman setia selama 7 tahun

Oh ya, sebenarnya cerita saya soal kamera digital ini panjang. Yang pertama kali saya gunakan dulu adalah Sony Digital Mavica, yang menyimpan data di floppy disk! Bayangkan, dulu saya harus menenteng satu tas penuh disket-disket kecil, dan satu disket biasanya isinya hanya puluhan gambar sebelum diganti lagi. Kamera ini bukan milik saya, tapi milik sekolah yang saya pinjam karena saya terlibat seksi dokumentasi di OSIS sekolah.

Setelah itu, saya sempat memiliki kamera Sony pertama, tipenya adalah DSC-F717. Kamera ini keren di jamannya, dan saya bersyukur bisa memilikinya pada saat itu. Saya gunakan terutama untuk tugas kuliah di Desain Komunikasi Visual. Saya juga sempat membeli kamera film, Nikon FM10, juga untuk tugas kuliah fotografi.


Sony DSC-F717, bentuknya memang unik


Nikon FM10

Dua kamera itu saya jual, sebelum membeli Nikon D5000 yang saya miliki sampai sekarang. Selama tujuh tahun, saya tidak membeli kamera baru, karena memang minat saya kepada fotografi hanya sebatas dokumentasi. Pada perjalanan kami terakhir ke Melbourne, Australia, pun, saya masih menggunakan Nikon D5000 ini.

Tahun ini, saya berencana pergi liburan lagi dengan keluarga. Dengan hadirnya Janis, anak kami yang sudah dua tahun, kami berpikir untuk lebih mengutamakan perjalanannya daripada “ribet” dengan alat-alat yang berkaitan. Saya pun merasa mungkin Nikon D5000 ini tidak cocok lagi dengan gaya jalan-jalan kami yang sudah lebih menurut kondisi Janis, bukan maunya kami saja. Kami memutuskan untuk mencari-cari kamera yang lebih kecil ukurannya. Ukuran jadi pertimbangan utama karena kami ingin lebih fleksibel dalam menemani Janis ke mana pun kami bereskplorasi nantinya.

Pilihan tentu saja jatuh kepada beberapa merek dan tipe kamera mirrorless. Setelah membanding-bandingkan sesuai anggaran, pilihan jatuh pada beberapa merek dan tipe berikut ini:

  • Sony A5000/6000/6300: Kompromi antara kualitas dan harga, serta pilihan lensa yang sepertinya sudah mumpuni.
  • Sony A7 (Mark II): Kualitas dan spesifikasi yang tertinggi, tetapi mahal.
  • Panasonic Lumix GX85: Kualitas dan spesifikasi yang lumayan, sesuai dengan anggaran.

Setelah ditimbang-timbang lagi, kami ternyata juga kepincut beberapa premium compact seperti Sony RX100 (antara Mark IV atau Mark V) dan Canon G7X atau G9X. Pertimbangan utamanya adalah ukuran dan tidak ribet gonta-ganti lensa. Lagipula, menurut banyak ahli fotografi, yang paling kita butuhkan untuk perjalanan kasual adalah kamera yang bisa dengan cepat kita gunakan dalam berbagai situasi, tanpa harus khawatir gonta-ganti lensa atau pengaturan yang berlebihan. Kecuali subjek fotonya adalah kehidupan hewan liar yang harus dipotret dari jarak jauh, atau potret manusia yang butuh mengaburkan latar belakang, sehingga butuh apertur yang lebih besar, misalnya. Lensa zoom juga sebenarnya tidak begitu penting dalam konteks perjalanan kasual, karena mendorong kita untuk memilih subjek atau objek dengan lebih hati-hati, dan mencoba eksplorasi sudut pandang dengan lebih bervariasi.

Sebenarnya, hal ini juga sudah saya praktekkan dengan iPhone, yang mendorong kita untuk hadir di lokasi, dekat dengan subjek atau objek, dan berpikir lebih pada komposisi daripada teknologi. Saya tidak ingin teknologi menjadi penghambat spontanitas. Apalagi jika hasil akhirnya hanya posting di Instagram.

Banyak juga kok di Instagram yang kualitas fotonya bagus, bukan dari kameranya, tapi dari orang yang memotretnya. Setelah dilihat, ternyata mereka hanya mengambil foto dengan iPhone atau kamera ponsel, lalu disunting sedikit dengan aplikasi seperti Snapseed atau VSCO.

Akhirnya, dengan pertimbangan di atas, dan dengan niat untuk memperbaiki kemampuan komposisi terlebih dahulu, kami memutuskan membeli Sony RX100 V, kamera compact dengan bodi yang sangat kecil tapi dengan kemampuan segudang. 


Sony RX100 V, dengan layar yang bisa dilipat ke depan


Sony RX100 V, tampak atas

Mungkin kalau soal spesifikasi, bisa dilihat di sini ya, saya tidak akan bercerita panjang lebar. Yang paling penting buat saya pada saat ini, auto-fokus yang cepat, sehingga tidak perlu lama-lama mengambil gambar. Yang kedua, sensitivitas cahaya gelap (low-light sensitivity) yang walaupun tidak sempurna, tapi sebanding dengan DSLR saya, atau minimal lebih baik dari iPhone saya, apertur yang besar (f1.8-f2.8), sehingga bisa melakukan potret wajah (anak saya, istri saya) dengan lebih baik pada kondisi-kondisi tertentu, kecepatan operasi, dan yang paling penting, video HD dan 4K (jika diperlukan), kalau-kalau saya harus membuat vlog.

Ini beberapa hasilnya:

Hello.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Little feet.

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Rainless. #SonyRX #SonyRXMoments #SonySG_RX #RXthroughmyeyes #SonyRX100M5 @sonysingapore

A post shared by Sigit Adinugroho (@sigit) on

Lumayan, kan!

Kemungkinan, jika ada uangnya lagi, saya akan berinvestasi di kamera Sony lainnya, yakni Sony A7 atau A7 Mark II.

Sejauh ini, saya puas, dan sangat merekomendasikan kamera ini untuk perjalanan jenis apapun!


Buku-Buku Penginspirasi Perjalanan

Berikut beberapa buku yang dapat menginspirasi anda untuk melakukan perjalanan. Ketagihan tidak ditanggung, ya. Bukan, bukan “Eat, Pray, Love”, kok.

The Great Railway Bazaar oleh Paul Theroux

Paul Theroux adalah salah satu penulis perjalanan paling terkenal di dunia. Buku-bukunya menangkap esensi perjalanan dengan narasi yang jujur tetapi tetap imajinatif. Dalam buku ini, ia menceritakan tentang perjalananannya melalui kereta api di benua Asia, mulai dari The Orient Express di Singapura, Malaysia dan Thailand, Khyber Pass di Afganistan, Golden Arrow di Malaysia, Mandalay Express di Myanmar sampai Trans-Siberian Express yang membentang dari Cina, Mongolia sampai Rusia.

Istanbul oleh Orhan Pamuk

Siapa yang tidak tertarik pada Istanbul? Sejatinya, kota ini memang selalu dalam persimpangan, bahkan sejak dulu, jaman Kekaisaran Ottoman. Orhan Pamuk, seorang sastrawan terkemuka dari Turki, dilahirkan dan dibesarkan di Istanbul. Dalam buku ini, beliau menceritakan dan menggambarkan dengan detil dan menarik tentang semua sudut-sudut kota tempat ia dibesarkan. Tapi, tidak hanya itu, ia juga membumbuinya dengan cerita-cerita masa kecilnya, mulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti makanan masa kecilnya, ketidaksukaannya pada beberapa aspek di keluarganya, sampai bagaimana kota ini membentuknya sebagai penulis. Jika ada tulisan yang “cantik dan menawan”, inilah hasilnya.

The Rice Mother oleh Rani Manicka


Saya tak pernah merasa jatuh cinta lebih besar pada Asia Tenggara, terutamanya Malaysia, sebelum membaca buku ini. Namun, fiksi yang berlatar belakang Malaysia dan Sri Lanka ini membuat saya lebih mengapresiasi detil-detil kultural dan kehidupan sehari-hari di ranah geografi yang lebih dekat dengan tempat saya dibesarkan: Indonesia dan Malaysia. Mulai dari detil-detil seperti kain, rumah, buah dan makanan lokal, sampai detil-detil sosiokultural seperti kebiasaan atau adat-istiadat. Semuanya diramu dalam fiksi tentang pubertas, pernikahan, pertikaian keluarga sampai konflik eksternal: penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Di sini, kita bisa melihat perjuangan seorang Lakshmi, gadis desa dari Sri Lanka yang pindah ke Malaysia karena pernikahan (yang agak dipaksakan). Melihat budaya dari sisi pendatang dan bagaimana pendatang itu berusaha dengan keras untuk berasimilasi, walau dengan konflik batin.

The Lonely Planet Story oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler

Tidak banyak yang tahu tentang pendiri (atau istilah kerennya sekarang, founders) Lonely Planet, penerbit buku-buku panduan perjalanan. Adalah Tony Wheeler dan Maureen Wheeler, sepasang suami istri yang awalnya berasal dari Inggris, dan mengawali konsep backpacking dengan melakukan perjalanan darat dari Inggris ke Australia. Dari hasil perjalanannya ini, mereka memutuskan untuk membuat sebuah panduan perjalanan pertama di dunia, yang diberi judul “Across Asia on the Cheap“. Ternyata, edisi pertama laku keras. Mereka akhirnya “ketagihan” untuk menulis buku-buku lainnya, hingga pada akhirnya meminta penulis-penulis lain untuk berkontribusi dalam satu brand yang sama, yakni Lonely Planet.

Mereka memutuskan untuk berdomisili di Melbourne, Australia, dan beroperasi dari situ.

Di buku ini, mereka bercerita tidak hanya soal detil perjalanan lintas negara dari Inggris ke Australia melalui jalan darat, tetapi juga tentang motivasi bagaimana Lonely Planet lahir, serta apa visi dan misi mereka melalui publikasi ini.


Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.

Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.

Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.

Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!

Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.

Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.

Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.

Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.

Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.

Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.

Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.


Mengalami Halloween di Resorts World Sentosa, Singapura

Salam hangat dari Resorts World Sentosa, Singapura!

Resorts World Sentosa telah beroperasi lebih dari empat tahun, dan mereka terus mengajak para pengunjung datang kembali. Ini adalah resor terintegrasi pertama di Singapura.

Oktober mendatang, Universal Studios Singapura akan mempersembahkan acara Halloween unggulan – Halloween Horror Nights. Acara yang telah dilangsungkan ke empat kalinya, dijanjikan sebagai pengalaman Halloween paling menyeramkan di Asia. Dengan 4 rumah hantu, 4 scare zone yang menyeluruh, dan 13 malam acara menakutkan selama bulan Oktober dan November, para pengunjung akan dibawa ke dalam set film horor berkualitas tinggi ketika mereka menghadapi ketakutan mereka. Alami Universal Studios Singapura tidak seperti biasanya dengan beberapa pilihan wahana, pertunjukan dan atraksi yang tersedia sepanjang malam. Ini adalah pengalaman taman bermain Halloween yang menyeluruh, hanya untuk Anda yang bernyali besar.

Sebagai tambahan terbaru di resor ini, Trick Eye Museum Singapura adalah cabang luar negri pertama dari galeri seni Korea terkenal dengan berbagai lukisan 3-D dan karya seni ilusi optik. Museum ini melampaui lebih dari sekadar galeri; langkahkan kaki dan jadilah bagian karya seni ketika Anda berinteraksi di dalamnya. Biarkan imajinasi Anda terbang bebas!

Dari tanggal 29 September 2014 sampai 1 Oktober 2014, Ransel Kecil akan menghadiri “Halloween Horror Nights” yang ke-4 di Universal Studios Singapura. Seperti apa liputannya? Nantikan di blog ini.


Bagaimana AirAsia Mengubah Hidup (Jalan-Jalan) Saya

Pramugari AirAsia melayani penumpang
Pramugari AirAsia melayani penumpang

Saya baru senang jalan-jalan sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009, itu juga karena beberapa tahun sebelumnya saya sudah mulai bekerja, bisa menabung dan bisa menentukan bagaimana saya membelanjakan tabungan saya. Dari kuliah, saya sudah senang membaca artikel-artikel perjalanan. Bahkan, dari SMP pun, saya kadang membaca majalah National Geographic dan bermimpi menjadi fotografer. Fotografer idola saya waktu itu adalah Reza Deghati. Liputan yang membuat saya terinspirasi adalah liputan tentang Iran dan Maroko. Warna-warna menarik dan lanskap yang getir membuat saya ingin langsung pergi ke sana dan mencoba merekam semuanya dari kacamata saya sendiri.

Sebenarnya, beberapa kali sebelum bekerja saya sempat bepergian ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Jepang, Malaysia dan Singapura — namun kalau tidak dibiayai orang tua, kebetulan ada pihak lain yang membiayainya. Pengalaman 5 tahun tinggal di Malaysia tahun 1996 – 2001 juga memberikan kontribusi pada kesukaan saya jalan-jalan dan “melihat dunia”.

Kesempatan pertama itu datang pada Desember 2008, ketika teman saya, Arif, mengajak untuk pergi ke Vietnam. Kebetulan, saya punya teman di Hanoi, dia orang Vietnam. Kami terakhir kali bertemu di Amerika Serikat tahun 2005. Kami pikir, apa salahnya untuk berkunjung ke sana sembari bertemu teman lama. Saat itu, posisi keuangan kami terbatas, dan tidak semua maskapai memiliki sistem reservasi online dengan kartu kredit. Dengan membeli tiket pesawat online, pada pandangan saya, bisa mendapatkan tarif lebih murah dari jika melakukan pemesanan melalui telepon atau datang langsung ke kantor reservasi, misalnya. Konsumen lebih leluasa memilah-milah mana harga, waktu dan tempat yang terbaik. Pilihan akhirnya jatuh pada AirAsia.

Sejak melakukan pesanan pertama kali di AirAsia, tidak ada maskapai lain yang memiliki sistem reservasi online serapi AirAsia — setidaknya begitu menurut pengalaman saya pribadi. Semua prosesnya jelas, pembayaran lancar, ada opsi ekstra lain seperti makanan dan penambahan bagasi, dan dukungan customer service yang membantu.

Sebagai aviation geek juga, saya lebih suka terbang dengan Airbus A320/A320neo. Usia pesawat-pesawat yang digunakan AirAsia lebih muda, interiornya bersih dan terang. Beberapa maskapai beranggaran rendah lain yang saya gunakan menggunakan varian lain dan pesawat yang lebih tua usianya. Tempat duduk kulit tampak baru, bersih dan tidak kusam. Makanan dan minuman yang ditawarkan lebih mengena di hati dan disesuaikan dengan tujuan.

Penerbangan pertama saya adalah dari Kuala Lumpur ke Hanoi. Waktu itu, terminal di Kuala Lumpur masih LCCT (Low-cost Carrier Terminal) yang bersebelahan dengan terminal utama KLIA. Proses check-in sampai naik pesawat memang tak senyaman sekarang di KLIA2, tapi cukup lancar. Pertama kali naik ke pesawat AirAsia, impresi saya adalah pesawat ini baru dan bersih. Waktu itu, kursi tidak di-assign alias bisa duduk di mana saja. Kami pun terbang dengan antisipasi yang mungkin agak berlebihan. Perjalanan selama tiga jam itu kami lalui dengan damai.

Namun, kedamaian itu berakhir ketika hendak mendarat.

Bukan, bukan masalah pesawatnya. Tetapi, beberapa penumpang (yang kebetulan warga negara Vietnam) tiba-tiba berdiri melepas sabuk pengaman ketika pesawat sudah mulai descending (turun). Mereka ingin berfoto-foto bersama dengan blitz kamera. Kabin yang sudah gelap karena hendak mendarat tiba-tiba heboh dan silau. Mereka tak mau duduk. Pramugara dan pramugari terpaksa meminta mereka duduk. Akhirnya, mereka duduk.

Ternyata, kehebohan belum berakhir! Ketika pesawat baru saja touch down dan masih di landasan, mereka berdiri lagi dan berteriak terkagum-kagum. Saya dan teman hanya tertawa geli. Tentu saja, para staf pramugara dan pramugari cepat tanggap meminta mereka kembali duduk.

Singkat cerita, perjalanan pertama saya dengan AirAsia heboh namun lancar. Tidak ada yang mengecewakan. Perjalanan ini menjadi pembuka bagi perjalanan-perjalanan berikutnya dengan AirAsia yang selalu menyenangkan — dan menandakan diluncurkannya blog travel saya di Ransel Kecil ini.

Setelah itu, seperti tumbuh harapan untuk selalu jalan-jalan, karena semuanya jadi mudah dengan AirAsia. Untuk penerbangan dalam negeri pun, saya lebih suka menggunakan AirAsia karena dari Jakarta berangkat di Terminal 3 dan kabinnya lebih nyaman. Sampai sekarang, walau tak benar-benar pergi, saya suka iseng buka AirAsia.com hanya untuk melihat-lihat harga dan kemungkinan destinasi selanjutnya.


Film-film Bertema Perjalanan

Banyak inspirasi yang bisa didapat dari menyaksikan film-film bertema perjalanan. Walaupun perspektifnya adalah fiksi, dan banyak hal yang didramatisir, tetap saja ia menjadi motivasi untuk segera berkemas dan berangkat ke suatu tempat. Ada beberapa film yang dapat anda saksikan untuk mendapatkan inspirasi perjalanan, di antaranya:

The Darjeeling Limited

The Darjeeling Limited
The Darjeeling Limited

Film arahan Wes Anderson ini menampilkan Owen Wilson, Jason Schwartzman dan Adrien Brody sebagai tiga saudara kandung yang berkelana ke India untuk menjadi lebih dekat satu sama lain. Ikuti petualangan mereka yang penuh romansa, kejadian aneh dan komedi selama perjalanan di India di dalam kereta api, kota-kota kecil dan perkampungan di sana. Gaya visual menarik, sound design yang menghibur dan warna yang hangat membuat film ini layak ditonton.

Into the Wild

Into the Wild
Into the Wild

Berdasarkan kisah nyata Christopher McCandless yang melayangkan protes terhadap kehidupan modern dengan cara mengasingkan diri ke pedalaman Alaska. Tabungan $24.000 yang dia punya diserahkan seluruhnya ke badan amal, lalu, tanpa kendaraan apapun, ia menumpang bertahap dari Emory University, Atlanta, ke Alaska. Selama perjalanan banyak hal yang dia pelajari. Bagaimana akhirnya ia sampai di Alaska dan apa yang dia petik dari pengalaman ini, dapat kita saksikan di film ini.

The Motorcycle Diaries

The Motorcycle Diaries
The Motorcycle Diaries

Film ini adalah biopik Ernesto “Che” Guevara, yang ketika berusia 23 tahun melakukan ekspedisi dengan sepeda motor sepanjang Amerika Selatan bersama temannya Alberto Granado. Dalam perjalanan ini kita dapat menyaksikan bagaimana Guevara menyadari realita kehidupan yang penuh hedonisme dan ketidakadilan, yang kemudian menjadi inspirasinya menjadi komandan gerilya Marxist di kemudian hari. Perjalanan ini mengubah hidupnya dan membuatnya menjadi punya pandangan radikal terhadap hidup.

Midnight in Paris

Midnight in Paris
Midnight in Paris

Cocok ditonton bersama pasangan, Owen Wilson memukan dalam komedi romantis arahan Woody Allen. Gil Pender adalah seorang penulis yang berusaha menyelesaikan novelnya sedang berlibur ke Paris bersama tunangan dan keluarga tunangannya yang kaya raya dan hedonis. Gil, yang idealis, ingin pindah ke Paris untuk selamanya demi mengejar romantika Paris dan penyelesaian novelnya, namun tak disetujui tunangan dan keluarganya. Di Paris, tiap tengah malam, ia mengalami perjalanan lintas waktu ke masa lalu yang mengubah hidup dan cara pandangnya.

Little Miss Sunshine

Little Miss Sunshine
Little Miss Sunshine

Satu keluarga dengan beragam karakter melakukan perjalanan darat dengan mobil tua mereka. Masing-masing anggota keluarga punya mimpi, kebiasaan dan sifat yang kontras. Bagaimana mereka dapat menyelesaikan perjalanan ini? Atau apakah perjalanannya sesuai yang direncanakan?

Life of Pi

Life of Pi
Life of Pi

India selalu menarik menjadi latar belakang fiksi, terutama dalam film ini. Pondicherry adalah kantong kolonialis Perancis yang berada di tenggara India, lokasi di mana film ini dimulai. Keluarga India yang memutuskan pindah ke Amerika Serikat dengan kapal laut — sebuah keputusan kepala keluarga yang tidak begitu disetujui anak lelakinya. Anak lelaki ini pun tak pernah tahu apa yang akan terjadi di tengah perjalanan.

Amélie

Amelie
Amélie

Kisah tentang wanita muda beranama Amélie (Audrey Tautou) yang mengalami masa kecil kurang bahagia karena didiagnosa penyakit kelainan jantung, dan selalu menghabiskan waktu di kamarnya dengan beragam imajinasi. Ibunya meninggal pada usia delapan tahun. Ketika tumbuh dewasa, ia memutuskan untuk membahagiakan orang lain dengan berbuat bermacam-macam kebaikan, mulai dari menjalin pertemanan antara orang-orang asing, mengembalikan barang hilang dan lain sebagainya. Latar belakangnya menjadi inspirasi untuk pergi ke Perancis dengan detil-detil menawan!

Lost in Translation

Lost in Translation
Lost in Translation

Bob Harris (Bill Murray) adalah seorang aktor Amerika terkenal yang karirnya sedang suram. Karena butuh pekerjaan ia pergi ke Tokyo, Jepang, untuk menjadi model iklan wiski dengan bayaran yang lumayan. Ia kemudian bertemu Charlotte (Scarlett Johansson) di bar hotel tempat ia menginap. Charlotte adalah wanita yang sudah menikah dan sedang ikut ke Tokyo bersama suaminya seorang fotografer, yang sibuk bekerja setiap hari. Baik Bob maupun Charlotte merasakan ketidakpuasan pada hidupnya masing-masing. Apakah yang terjadi pada mereka berdua di sebuah hutan beton di tanah asing? Menarik melihat berbagai detil kehidupan Tokyo di film ini.

Up in the Air

Up in the Air
Up in the Air

Ryan Bingham (George Clooney) adalah pegawai sebuah perusahaan manajemen transisi kepegawaian di mana ia bertugas untuk datang ke berbagai tempat, bertemu dan memberitahu beberapa pegawai kliennya yang akan dipecat atau di-PHK (“giving away the pink slips“). Karena sering terbang ke berbagai kota di Amerika Serikat, ia tak punya “kehidupan tetap” dan selalu berpindah-pindah. Namun, kehidupan seperti ini justru dinikmatinya dan ia dapat bertemu banyak orang, walaupun pekerjaannya mendikte ia untuk selalu memberi kabar buruk.

The Rum Diary

The Rum Diary
The Rum Diary

Berlatar belakang Puerto Rico dan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Eisenhower, Paul Kemp (Johnny Depp) adalah wartawan yang melamar pekerjaan di sebuah surat kabar yang berbasis di San Juan, Puerto Rico. Pergaulannya membawanya bertemu Chenault (Amber Heard), tunangan dari pengusaha asal Connecticut bernama Sanderson (Aaron Eckhart). Sanderson sedang berusaha untuk membangun resor mewah untuk orang kaya dan fasilitas-fasilitas lainnya dengan cara-cara yang kurang etis. Kemp menghadapi dilema yang luar biasa karena di satu sisi Sanderson membutuhkan jasa wartawan untuk membangun citra baik, sedangkan hati nuraninya berkata lain. Di film ini, kita bisa menikmati San Juan, Puerto Rico tahun 1950an dengan bangunan unik serta pantai-pantai yang indah.


Withlocals: Menjadi Tuan Rumah Berbagi Pengetahuan Perjalanan & Kuliner

Anda suka makanan dan perjalanan? Ada situs rekomendasi untuk anda: Withlocals. Situs Withlocals menggabungkan kecintaan pada makanan dan perjalanan, dalam sebuah platform perjalanan yang menghubungkan Asia dengan pejalan-pejalan di seluruh dunia, berbagi gairah terhadap makanan dan perjalanan. Di situs ini, anda bisa memamerkan keahlian memasak anda, memasak masakan rumahan yang diajarkan turun-temurun dari ibu, sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan (barangkali, untuk jalan-jalan berikutnya). Atau, jika anda lebih suka dimanjakan sebagai tetamu, kenapa harus pergi jauh kalau kita bisa jelajahi tempat-tempat lokal yang lebih dekat?

Withlocals.com memberikan pejalan kesempatan untuk menjelajahi kota dengan perspektif yang baru: “pergi ke mana masyarakat setempat pergi, makan di mana masyarakat setempat makan, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat setempat pula”. Pejalan akan mendapatkan pengalaman otentik di destinasi mereka, dan host pula mendapatkan uang tambahan dengan berbagi pengetahuan serta kemampuan. Anda tak suka memasak? Jangan khawatir, selain makanan, Withlocals juga merekomendasikan kegiatan-kegiatan atau tur-tur lain yang bisa dilakukan.

Masyarakat setempat dapat memberikan kursus singkat pada pengunjung atau menjadi pemandu dalam tur lokal. Sebagai contoh, sebuah keluarga host di situs ini memiliki sawah dan menawarkan kursus singkat bagaimana memanen padi dan memrosesnya menjadi beras! Kegiatan-kegiatan lain termasuk kursus berselancar, kursus memahat/dekorasi buah-buahan dan kursus membatik.

Lebih jauh lagi, masyarakat setempat adalah pemandu yang sempurna untuk menunjukkan pada pengunjung bahwa tak ada pihak lain yang lebih kenal pada destinasi tersebut selain mereka sendiri. Sesekali bisa kita kesampingkan pemandu perjalanan dalam bentuk buku atau aplikasi itu dan langsung mengalami “harta karun” tersembunyi dalam sebuah kota. Apakah anda punya tempat menarik di sebuah kota, baik itu lokasi memandang dari atas bukit, air terjun, atau yang lain, tapi tidak ada di pemandu perjalanan? Inilah saatnya menunjukkan tempat-tempat hebat itu.

Selain bertemu dengan orang-orang dan budaya dari seluruh dunia, anda juga bisa berinteraksi dengan tetangga-tetangga sendiri di kota yang sama. Bisa jadi, anda sedang mencari restoran atau warung makan yang tersembunyi tetapi ternyata makanannya lezat? Situs ini juga bisa merekomendasikannya. Kalau ada punya sejuta cerita dan petualangan yang siap dibagi kepada pengunjung ke kota anda, jadilah host di Withlocals.


Ulasan Buku: “Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia’s Capital”

Jakarta: 25 Excursions In and Around Indonesia's Capital

Kemarin saya baru dibelikan buku “Jakarta: 25 Excursions In and Around Jakarta’s Capital” oleh istri saya. Sudah lama saya mengincar buku ini karena isinya merekomendasikan jalan kaki (dan menggunakan transportasi umum) ke lokasi-lokasi Jakarta yang umumnya tidak ada di buku panduan wisata atau bahkan tidak direkomendasikan pemerintah, misalnya melalui program “Enjoy Jakarta!“.

Temuilah Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood, pasangan suami istri yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Pada bagian perkenalan, Andrew mengaku ketika pertama kali pindah ke Jakarta, ia merasa seperti “sudah mati dan masuk neraka”. Sempat frustrasi, namun cepat beradaptasi, Andrew kemudian mulai berkeliling Jakarta dengan sepeda dan peta. Ia mengakui, lama-kelamaan ia jatuh cinta dengan Jakarta. Kehidupan yang dulu “nyaman” di Amerika Serikat dan profesi lalu sebagai penjaga perdamaian di Republik Georgia ditinggalkan untuk kemudian menjadi penulis perjalanan bersama istrinya, Melanie, sang fotografer, yang ditemuinya ketika bekerja di Tbilisi, Republik Georgia dulu.

Saya tidak banyak membeli buku panduan wisata, dan sekalinya membeli, biasanya untuk destinasi luar negeri. Biasanya saya tak begitu tertarik membeli buku panduan wisata di Jakarta, karena memang jarang atau tidak ada, atau buku-buku seputar Jakarta biasanya ditujukan pada ekspat atau pengunjung. Tentu, buku Whitmarsh ini juga diakuinya ditujukan terutama pada ekspat, tetapi bagi saya yang orang lokal sekalipun, banyak dari destinasi dan rekomendasi yang tidak terpikirkan oleh saya. Selain itu, menarik untuk mengetahui bagaimana seorang Andrew dan Melanie, yang bukan asli Jakarta, melihat Jakarta dan mengkurasi kota ini sebegitu rapi dan menariknya.

Sesuai judulnya, buku ini merekomendasikan 25 rute perjalanan di kota Jakarta dan sekitarnya (Bogor, Puncak, Jatiluhur, Jonggol). Ke-25 rute ini tidak semuanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, tetapi sebisa mungkin, Andrew merekomendasikan untuk melakukannya dengan jalan kaki atau menaiki transportasi umum. Saya kagum dengan detil-detil seperti mendeskripsikan secara tepat jalan dan lingkungannya (baca: “ancer-ancer“), harga-harga transportasi umum dan gerai makanan yang biasanya tak mungkin digunakan atau dikunjungi turis kebanyakan, sampai bagaimana memahami karakter penduduk di Jakarta dan menghadapi jalan raya yang “kejam”.

Ulasan-ulasannya juga sangat jujur, tidak semata memuji, tapi juga tidak menjelek-jelekkan. Apa adanya. Misalnya, ketika mendeskripsikan Kota Tua, ia menggunakan kata “grungy“, namun mengerti potensinya belum terbangun dengan baik. Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik di Kota Tua tidak begitu lengkap, katanya, tetapi justru yang menjadi magnet adalah arsitektur gedungnya. Selain itu, buku panduan wisata ini tidak berusaha untuk memberi informasi kontak untuk setiap tempat, tetapi ia justru ingin pembacanya fokus pada perjalanan itu sendiri.

Tidak ada yang pernah membayangkan jalan kaki di Jakarta untuk berwisata, termasuk saya sendiri. Saya jalan kaki hanya untuk keperluan kerja atau jika memang butuh. Andrew Whitmarsh dan Melanie Wood membuka mata saya kembali bahwa masih ada harapan untuk melihat Jakarta dari sisi lain, dari sisi yang lebih individual. Tipsnya adalah, “Sebisa mungkin, jauhi jalan-jalan utama dan lihatlah kehidupan di balik jalan raya. Surga dunia,” katanya. Saya mengerti maksudnya. Jika di Sudirman, mulailah melihat Bendungan Hilir dan selami “kampung” di tengah kota. Pondok Indah pun dapat menjadi menarik jika kita menjelajah jalan-jalan di belakangnya, tidak hanya arteri atau Mal Pondok Indah. Taman pemakaman umum (TPU) pun dapat menjadi atraksi yang menarik bagi Andrew, “tempat yang tenang dari hiruk-pikuk lalu-lintas.”

Tak kalah menarik, jika banyak buku panduan wisata hanya merekomendasikan wisata kuliner yang terkenal, nyaman atau “ramah” kepada turis, maka Andrew justru juga merekomendasikan makanan di gerobak seperti gorengan. Atau, bagaimana dengan mencoba bekam atau terapi api bersamaan dengan spa mewah yang nyaman?


© 2017 Ransel Kecil