Pesisir Kota Bergen, Norwegia
Pesisir kota Bergen

Tulisan ini adalah sambungan dari catatan perjalanan sebelumnya menelusuri pesisir Norwegia. Perjalanan terakhir berujung di Bergen, sebuah kota romantis (saya mengatakannya romantis, karena kota ini hampir selalu hujan dan bernuansa sendu pada waktu itu, musim gugur 2010) yang berbukit-bukit di sebelah barat Norwegia.

Bergen adalah kota yang cantik, terletak di pinggiran fjord. Ia merupakan kota kedua terbesar di negara kaya sumber daya alam ini, dan merupakan salah satu tujuan turis yang paling ramai, terutama karena daerah selatan Norwegia memiliki banyak fjord yang padat dikunjungi wisatawan. Sebut saja antara Oslo dan Bergen, beberapa yang terkenal antara lain Sognefjord, fjord yang terbesar dan terpanjang di Norwegia dan kedua terpanjang di dunia. Sepanjang Sognefjord, ada beberapa cabang fjord lain yang tak kalah cantik, yaitu Nærøyfjord, Lærdalfjord, Ardalsfjord dan Lustrafjord. Selain itu, di antara Bergen dan Oslo terdapat beberapa tujuan pariwisata seperti Gudvangen, Flåm (dengan Flåm Railway-nya yang terkenal), Myrdal, dan Voss. Baik ketika musim panas maupun musim dingin, jalur kereta api Bergen – Oslo selalu ramai. Kalau di Indonesia, barangkali ini mirip dengan jalur Jakarta – Surabaya.

Stasiun Kereta Api di Bergen
Stasiun Kereta Api di Bergen

Kabarnya, jalur kereta api Bergen – Oslo adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya setuju.

Perjalanan dimulai pagi hari sekali di stasiun Bergen yang cukup sederhana. Stasiun ini hanya memiliki empat jalur peron (platform). Kereta hari itu dijadwalkan berangkat pukul tujuh pagi. Menurut rencana, kereta akan sampai di Oslo tujuh jam kemudian.

Gerbong kereta yang saya naiki sangat modern, barangkali salah satu yang paling modern di Skandinavia selama perjalanan saya di Denmark, Swedia & Norwegia. Interior bernada warna hijau toska dan coklat muda menyambut ketika pintu otomatis saya buka. Ternyata, di sini, untuk memasuki gerbong tidak harus mendorong pintu sekuat-kuatnya atau meminta bantuan petugas. Cukup tekan tombol lingkaran yang cukup besar, pintu terbuka dengan sistem hidraulik yang mengesankan. Jarak antara platform dan gerbong terlalu tinggi? Jangan khawatir, selain pintu membuka, sandaran kaki pun turun untuk membantu penumpang menaiki gerbong. Serasa seperti masuk ke pesawat luar angkasa.

Saya sempatkan berkeliling dari gerbong ke gerbong. Ternyata ada fitur lain yang mengesankan dari kereta api ini. Setiap gerbong dilengkapi display elektronik yang menyajikan informasi tujuan dan stasiun. Di bagian pintu masuk, terdapat tempat sampah, dan kompartemen penyimpanan barang besar seperti koper. Mereka yang punya koper besar tak perlu bersusah payah mengangkatnya ke kompartemen di atas tempat duduk. Jalan sedikit lagi, kita sampai di family car. Bukan, bukan mobil keluarga. “Car” di sini artinya gerbong. Gerbong keluarga ini dirancang khusus untuk penumpang yang membawa keluarga muda, dalam hal ini ayah, ibu dan anak-anak. Di sini, ada ruang bermain anak, sebuah meja di tengah yang dikelilingi tempat duduk sofa nan nyaman, lalu ada televisi di atasnya. Anak-anak bisa bermain puzzle atau robot-robotan, sementara orang tuanya menonton televisi, mungkin sambil menikmati makanan ringan.

Tak lama setelah itu, kereta bertolak. Pada setengah jam pertama, kereta masih berusaha keluar dari kota Bergen. Hari itu tidak hujan, syukurlah (sudah dari kemarin hujan dan suhu menjadi lebih dingin). Pemandangan di luar sangat menarik. Pertama, Bergen memang kota yang “bertengger” di fjord, sehingga kontur tanahnya sangat dinamis. Kereta bisa melintas di atas bukit, lalu masuk ke dalam terowongan. Di kejauhan, permainan latar depan dan belakang membuat saya berimajinasi saya sedang berada di rangkaian model kereta api. Tak lama kemudian, lanskap yang tadinya hijau, berubah menjadi sebaran putih karena salju mulai turun. Saya sempat bertanya, kenapa salju turun di musim gugur? Ah, belakangan saya sadari, kami mulai menanjak. Kabarnya, ini adalah jalur kereta api dengan level permukaan paling tinggi di dunia, sekitar 1.222m di atas permukaan laut!

Lanskap Tertutup Salju di antara Bergen dan Oslo
Lanskap seketika tertutup salju ketika mendaki ke elevasi tinggi

Masih juga belum selesai terpana, saya sudah disuguhi lanskap yang lebat tertutup salju. Wow! Salju tebal, dengan hujan salju. Ini spektakuler dan tak biasa bagi mata saya. Saya sibuk dengan kamera karena takut sekali kehilangan momen. Karena mengambil foto sulit, saya aktifkan saja mode videonya agar seluruhnya tertangkap.

Kereta sesekali masuk terowongan. Fakta menarik lain: ada 182 terowongan selama perjalanan dari Bergen ke Oslo. Tentu saja, saya tak sempat menghitung.

Jika Anda punya waktu, ketika kereta berhenti di stasiun Myrdal, turun dan naikilah The Flåm Railway ke sebuah kota kecil di pinggiran Aurlandfjord, Flåm. The Flåm Railway adalah jalur kereta api yang melalui tebing terjal, kabarnya melalui pemandangan yang sangat elok, satu jam lamanya dan beroperasi baik ketika musim panas ataupun musim dingin.

Ada beberapa kegiatan penting yang bisa dilakukan di antara Bergen dan Oslo, antara lain wisata alam ke Hardangervidda National Park antara stasiun Gol dan Gelio, wisata alam di Hallingskarvet di Finse, stasiun dengan elevasi tertinggi di jalur ini, lalu tentu saja Flåm, dan Voss untuk olahraga musim dingin seperti ski dan sledding (Tahukah Anda, kalau kata “ski” itu adalah istilah dari bahasa Norwegia?).

Danau di Pinggir Rel Kereta Api Bergen-Oslo
Salah satu pemandangan elok selama perjalanan

Kalau pun Anda tak berhenti, memang benar, sepanjang perjalanan pandangan kita dimanjakan dengan alunan geografis yang silih berganti, mulai dari tatanan fjord di Bergen, mendaki dataran tinggi yang mulai ditutup salju, melewati gunung putih yang membahana, melihat sejauh mata memandang rumah-rumah dan gedung-gedung kayu yang entah digunakan oleh siapa namun menjadi latar depan yang kontras dengan putihnya salju, keluar dan masuk terowongan, turun lagi dan bertemu dengan hamparan luas kehijauan. Akhir dari perjalanan sudah tiba ketika rangkaian gerbong memasuki daerah urban. Sekedip mata, saya sampai di stasiun utama Oslo yang hiruk-pikuk.