Arsip untuk kategori Transportasi

Tips Menggunakan Dubai Metro

Dubai memiliki beberapa pilihan sarana transportasi yang nyaman dan “ekonomis”, salah satunya adalah Dubai Metro yang diresmikan pada tahun 2009. Dubai Metro merupakan sistem kereta otomatis tanpa pengemudi terpanjang di dunia. Ia memiliki dua jalur komuter, jalur merah sepanjang 52 kilometer melintasi Rashidiya hingga Jebel Ali dan jalur hijau yang melintasi area dari Al Qusais hingga Al Jadaf. Dubai Metro sangat mengedepankan kenyamanan penumpang dengan menyediakan gerbong untuk pelanggan kelas “Gold”-nya, gerbong khusus wanita dan anak-anak, lapangan parkir mobil gratis pagi pengguna Dubai Metro, dan bus pengumpan gratis yang melayani daerah di sekitar stasiun Metro.

Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro
Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro.

Baca seutuhnya →

Sang Pengelana Bersepeda

Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja.

Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek.

Saya mewawancarai Reza Prabowo, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!

Reza Prabowo

Baca seutuhnya →

“Airline Mileage”, Pentingkah?

Sering bepergian dengan pesawat terbang? Pasti anda menyadari banyak maskapai yang menawarkan program kesetiaan pelanggan (loyalty) yang bertujuan memberikan insentif untuk anda terbang bersama mereka lagi, dengan bentuk “poin” yang diakumulasikan dalam waktu tertentu. “Poin” ini lazim disebut mileage. Saya tidak tahu padanan Bahasa Indonesia-nya apa. Yang jelas, mulai dari maskapai besar sampai kecil, full-service sampai budget, kiatnya mirip.

Mekanismenya sederhana. Ketika anda terbang bersama sebuah maskapai, anda memiliki opsi untuk mendaftar pada program kesetiaan pelanggan ini, dengan mengisi formulir tertentu, lalu mengakumulasikan mileage dalam jumlah tertentu untuk penerbangan yang anda tumpangi pada hari itu. Jumlah mileage ini dihitung progresif sesuai elemen-elemen penerbangan, seperti jarak atau tarif tertentu. Biasanya, yang bisa dihitung adalah penerbangan dengan tarif normal, bukan tarif promo, dan dengan jarak minimal tertentu. Tentu, parameter ini berbeda bagi setiap maskapai. Semakin sering anda bepergian, semakin seringlah akumulasi mileage-nya, dan semakin “kaya”-lah anda dari sisi mileage.

Baca seutuhnya →

Menjelajah Cepat Asia Tenggara dengan Bus

Catatan Editor: Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar Visa on Arrival di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.

Cerita ini adalah pengalaman backpacking pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.

Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.

Baca seutuhnya →

“Low-Cost Terminal”, Terminal Tepat Sasaran

Tersedianya layanan dari maskapai penerbangan berbiaya rendah (“low-cost airlines”) memudahkan kita untuk merealisasikan rencana perjalanan lintas kota dan negara. Maskapai ini menerapkan beberapa strategi yang memungkinkan untuk menjual tiket dengan harga sangat murah kepada calon penumpang.

(Sekarang kita bisa melakukan perjalanan pulang pergi hanya dengan Rp. 500.000 untuk rute Jakarta-Bangkok dengan AirAsia. Di Eropa, tiket pulang pergi Barcelona-London dengan easyJet hanya berkisar €200. Lalu di Amerika, kita bisa terbang Seattle-San Francisco dengan Southwest Airlines dengan membayar $90 saja.)

Baca seutuhnya →

Menghabiskan Waktu di Bandara

Papan pengumuman bandara
Papan pengumuman di bandara.

Umumnya semua proses dari bepergian selalu menyenangkan. Dari mulai saat memilih milih lokasi tujuan, menghitung anggaran yang dibutuhkan, mencari informasi melalui blog pejalan, membanding-bandingkan harga tiket yang murah, memilih lokasi penginapan, mencari tahu acara atau festival yang akan berlangsung, membuat rencana perjalanan, membuat daftar belanja, berkemas, cuci mata dan mengkritisi bandara keberangkatan, naik pesawat sampai duduk di dalam pesawat hingga mendarat di kota selanjutnya. Terkadang penumpang pesawat diharuskan transit beberapa saat di bandara tertentu, ini pun bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tapi bagaimana dengan penumpang transfer dengan waktu transit yang panjang? Rekor transit saya pribadi pernah selama 20 jam! Berikut aktivitas yang saya lakukan untuk menghabiskan waktu.

Baca seutuhnya →

Pengalaman dengan Business Class Qatar Airways

Catatan redaksi: Ulasan di bawah bersifat independen. Penulis (Kasman Taslim) maupun Ransel Kecil tidak dibayar ataupun diminta oleh Qatar Airways untuk tulisan di bawah. Tulisan ini juga bukan bermaksud untuk mengajak pembaca Ransel Kecil menggunakan kelas bisnis/pertama, tetapi sebagai wawasan dan memberi informasi tentang manfaat yang diraih jika sering bepergian dengan pesawat. Selamat menikmati.

Business Class Qatar Airways
Kesan awal suasana Business Class.

Sudah lebih dari dua tahun terakhir menjadi penumpang setia Qatar Airways, maskapai nasional milik negara Qatar dan termasuk satu dari tujuh maskapai yang mendapatkan rating penerbangan ber-bintang 5 (Cathay Pacific, Kingfisher Airlines, Asiana Airlines, Malaysia Airlines, Singapore Airlines dan Hainan Airlines). Berawal dari membanding-bandingkan harga tiket pesawat yang melayani rute Dubai – Jakarta. Meskipun tidak selalu lebih murah dari harga yang ditawarkan maskapai penerbangan lainnya dengan rute yang sama, secara keseluruhan harga yang ditawarkan Qatar Airways sangat kompetitif.

Dengan tiga kali penerbangan pulang pergi Dubai – Jakarta dalam waktu enam bulan pertama saja saya sudah berhasil mendapatkan keanggotaan Silver dan berhak menggunakan fasilitas Business Class Lounge yang tersedia di lebih dari 101 kota dan 55 negara. Terlebih lagi setelah mengantongi keanggotaan Silver, tiga penerbangan berturut-turut selanjutnya selalu di-upgrade ke Business Class. Dengan enam kali penerbangan pulang pergi dengan rute yang sama dalam satu tahun sudah cukup untuk memperoleh status elit keanggotaan Gold. Relatif lebih cepat dibandingkan untuk mendapatkan status elit di maskapai penerbangan lain.

Baca seutuhnya →

Ramadan di Bandara Dubai

Gerai-Gerai Bebas Cukai di DXB
Gerai-gerai bebas cukai tak pernah tutup di DXB.

Penumpang pesawat udara yang pertama kali transit di Dubai International Airport (kode IATA: DXB) dalam bulan Ramadan umumnya selalu mempertanyakan ketersediaan makanan dan minuman di dalam lingkungan bandara. Bandara ini beroperasi seperti biasa dan penumpang transit dapat menemukan fasilitas seperti layaknya ditemukan di bandara internasional lain pada bulan-bulan lainnya. Kafe dan restoran beroperasi 24 jam. Minuman beralkohol bisa didapat di dalam pub dan bar dalam bandara. Gerai-gerai bebas cukai tetap buka sepanjang hari seperti biasanya, dan penumpang tetap bisa membeli minuman beralkohol. Perokok bisa menggunakan ruang merokok yang tersedia di beberapa tempat di Terminal 1.

Baca seutuhnya →

Lima Video Keselamatan Maskapai Terunik

Penggemar aviasi pasti tak ketinggalan untuk mengamati hal-hal kecil ketika mereka naik pesawat, termasuk membawa pulang barang-barang yang sifatnya cinderamata/promosi yang ada di pesawat, misalnya majalah, tempat makan, tisu, mainan sampai tiket dan boarding pass.

Bagi saya yang seorang penggemar aviasi dan bekerja sebagai desainer grafis, pernak-pernik manifestasi branding menarik perhatian saya. Menumpang pesawat tidak saja pengalaman fisik. Ia bukan saja tentang memindahkan badan dari satu tempat ke tempat lain yang jauh. Perjalanan dengan pesawat adalah mengalami sebuah pengalaman, menikmati kesan dan impresi yang ditawarkan oleh maskapai tersebut. Menumpang maskapai rendah-biaya (low-cost) memberikan kita pengalaman yang paling dasar, tanpa layanan “ekstra” seperti makanan, hiburan dalam pesawat (in-flight entertainment) dan beberapa komponen lain. Sedangkan ketika kita menumpang maskapai yang layanannya penuh (full-service airline), hampir semua detil diurus, mulai dari ruang tunggu, makanan, pusat informasi sampai layanan plus lainnya (hal ini mengingatkan saya pada Cathay Pacific yang sudi mengantarkan bagasi saya ketika diwawancara imigrasi lama di bandara San Francisco).

Baca seutuhnya →

Jalur Kereta Api Bergen-Oslo

Stasiun Kereta Api di Bergen
Stasiun Kereta Api di Bergen

Tulisan ini adalah sambungan dari catatan perjalanan sebelumnya menelusuri pesisir Norwegia. Perjalanan terakhir berujung di Bergen, sebuah kota romantis (saya mengatakannya romantis, karena kota ini hampir selalu hujan dan bernuansa sendu pada waktu itu, musim gugur 2010) yang berbukit-bukit di sebelah barat Norwegia.

Bergen adalah kota yang cantik, terletak di pinggiran fjord. Ia merupakan kota kedua terbesar di negara kaya sumber daya alam ini, dan merupakan salah satu tujuan turis yang paling ramai, terutama karena daerah selatan Norwegia memiliki banyak fjord yang padat dikunjungi wisatawan. Sebut saja antara Oslo dan Bergen, beberapa yang terkenal antara lain Sognefjord, fjord yang terbesar dan terpanjang di Norwegia dan kedua terpanjang di dunia. Sepanjang Sognefjord, ada beberapa cabang fjord lain yang tak kalah cantik, yaitu Nærøyfjord, Lærdalfjord, Ardalsfjord dan Lustrafjord. Selain itu, di antara Bergen dan Oslo terdapat beberapa tujuan pariwisata seperti Gudvangen, Flåm (dengan Flåm Railway-nya yang terkenal), Myrdal, dan Voss. Baik ketika musim panas maupun musim dingin, jalur kereta api Bergen – Oslo selalu ramai. Kalau di Indonesia, barangkali ini mirip dengan jalur Jakarta – Surabaya.

Baca seutuhnya →