Artikel-artikel dari kategori Transportasi (halaman ke-1 dari 7)

Melihat Terminal 3 Baru Cengkareng


Salah satu sisi keren di bandara ini adalah ketika keluar dari pesawat.

Dalam rangka perjalanan kerja, akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba Terminal 3 baru di bandara Soekarno-Hatta, atau yang lebih sering disebut sebagai Terminal 3 Ultimate. Sebenarnya saya agak kurang setuju dengan istilah ini, karena terlalu membesar-besarkan dan seolah sudah final. Bagi saya, bandara akan selalu diperbaiki, ditingkatkan. Tidak pernah selesai.


Hal yang saya kagumi dari bandara ini: langit-langit tinggi dan kaca-kaca besar.

Catatan ini diambil pada bulan September 2016, yaitu satu bulan sejak dibukanya Terminal 3 ini pada bulan Agustus 2016. Saya paham ada beberapa sudut yang mungkin belum optimal. Ada juga berita-berita yang menunjukkan betapa pembukaannya terkesan terburu-buru dengan segudang masalah. Ada soal banjir, ada soal plafon yang rubuh, ada yang soal kualitas bahan bangunan yang kualitas rendah. Saya juga dengar dari teman-teman, kondisinya memang belum siap, papan marka yang tidak ergonomis karena ukuran hurufnya kekecilan, alur yang aneh, dan lain sebagainya. Macam-macam, pokoknya. Hingga, pada akhirnya, saya mencoba sendiri.


Antrian di salah satu pintu.

Pada malam itu saya akan terbang ke Surabaya dengan Garuda Indonesia, satu-satunya maskapai yang beroperasi di Terminal 3 ini, untuk saat ini. Dengan jantung yang berdebar-debar, saya turun dari taksi di area keberangkatan Terminal 3. Kesan pertama, besar dan luas. Mewah? Tidak. Nyaman? Tidak juga. Lantainya seperti lantai ruko atau rumah tinggal. Beberapa pilar tampak seperti tidak selesai, mungkin maksudnya gaya ala “industrial”.


Beberapa sudut masih terlihat suram dan redup.

Ada pemeriksaaan keamanan sesaat setelah masuk di pintu utama mana pun. Ini mungkin mengantisipasi serangan-serangan teroris atau ancaman keamanan lain. Memang, dari teras depan sampai masuk tidak ada pengecekan kendaraan dan siapapun bisa masuk. Kesan pertama? Megah! Tapi agak redup dengan lampu-lampu yang sinarnya kurang merata. Dengan lampu sinar putih, kesan mewah dan nyaman tidak terasa. Seharusnya, jika mereka belajar dan ingin menyaingi Changi, belajar juga ilmu desain interior dan belajarlah bagaimana penerangan mempengaruhi mood para pengguna ruangan itu. Warna kekuningan dapat menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Karena itulah Changi cenderung seperti ini. Perhatikan saja.

Tapi, yang saya suka adalah langit-langitnya yang super tinggi. Dibandingkan dengan Terminal 1 dan 2, saya tidak merasa klaustrofobik di sini. Karena semua kaunter check-in adalah untuk Garuda Indonesia, saya bebas memilih di mana saja selain Business Class dan First Class. Hampir tidak ada antrian panjang. Hanya dua atau tiga orang di depan saya. Proses check-in pun dilakukan sempurna selama 10 menit saja termasuk menunggu antrian.


Mengintip sisi internasional yang belum selesai.

Setelah itu, saya kelaparan. Saya lihat opsi makanan dan minuman di sini masih sangat sedikit, terutama di ruang publik sebelum keberangkatan. Oh ya, lain dengan Terminal 1 atau 2, pengantar bisa bebas masuk ke ruang check-in dan makan minum di sini. Opsinya hanya kafe seperti Starbucks, Krispy Kreme, makanan Bali (kalau tidak salah ingat) dan beberapa kios kecil. Itu pun semua masih dalam skala kios kecil. Saya tak paham. Masih ada ruang luas di mana-mana tapi yang digunakan hanya kios-kios kecil. Menumpuklah semuanya di situ. Antrian mengular. Saya putuskan hanya beli donat saja buat makan malam.

Setelah itu, saya pergi ke ruang keberangkatan (air side). Saya harus melalui pemeriksaan keamanan. Tempatnya sungguh luas dan bisa memilih di mana saja. Saya suka bagian ini, karena sangat luas, bisa menghindari antrian-antrian mengular seperti di Terminal 1 atau 2.

Setelah berada di ruang keberangkatan, terkejutlah saya karena areanya jauh lebih besar lagi, ada mezzanine-nya juga. Opsi makanan dan tokonya juga lebih banyak, seperti Liberica, Eat and Eat To Go dan beberapa kios makanan nasi dan lauk. Ada Mothercare dan Periplus. Seperti mal pada umumnya. Ada beberapa gerai lain yang masih dipersiapkan. Yang saya lihat ada FamilyMart. Yang lain tidak tahu apa. Semoga cepat selesai dan buka, karena kami semua kelaparan dan kehausan.


Sesaat setelah pemeriksaan keamanan.

Satu hal lain yang saya suka juga adalah ketersediaan toilet yang sangat memadai, dan ada di setiap dua pintu. Di tempat yang sama pula terdapat ruang menyusui bagi ibu-ibu yang punya bayi. Bersih dan besar. Ada travelator yang membantu kita untuk lebih cepat di pintu tujuan (ya, walau masih digunakan untuk “berdiri santai” instead of jalan cepat). Ini juga kali pertama saya bisa bekerja di laptop dengan tenang karena banyak sekali sudut-sudut yang tenang. Bagi penikmat pesawat, pasti senang ada di sini karena tersedia tempat-tempat duduk yang menghadap ke jendela besar nan tinggi melihat pesawat-pesawat lalu lalang.


Tempat duduk yang lumayan keras tapi yang penting menghadap ke jendela.

Secara pribadi, saya lebih suka ruang air side ini, karena lebih tenang, luas dan akomodatif terhadap kebutuhan pejalan seperti saya, paling tidak pada saat ini ketika semua fasilitas belum siap secara merata. Yang bisa saya sarankan adalah, tetap, suasana menjadi redup ketika malam dan tidak nyaman karena memakai penerangan putih. Silau sekali melihatnya. Satu pintu juga masih ada tiga penerbangan dan antrian akan menumpuk sehingga membuat penerbangan yang terakhir menjadi tertunda 45 menit.

Ketika turun dari pesawat, di dalam garbarata juga sangat panas sekali, tidak ada pendingin udara.


Turun dari pesawat, di garbarata. Panas sekali di sini.


Di area pengambilan bagasi, masih ada pekerjaan seperti ini.

Satu hal lagi, saya melihat ada beberapa sudut dinding yang sudah berjamur, atau pekerjaan yang tidak rapi. Setengah-setengah. Tolonglah, ini bandara internasional.


Ada jamur di beberapa sisi dinding.

Tapi saya harus tetap mendukung ya? Nanti ada yang mengejek-ngejek saya tidak nasionalis…


Menyentuh Hati Pejalan dengan “The Changi Experience”

Bandara Internasional Changi di Singapura adalah hub udara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu yang terbesar di Asia. Menghubungkan lebih dari 270 kota di 60 negara, bandara ini menawarkan maksimum waktu transfer 60 menit untuk perjalanan transit. Bagi pejalan ransel, juga ditawarkan program Changi Connects yang membuat transfer penerbangan dari dan ke penerbangan hemat biaya tanpa harus melewati imigrasi atau harus mengambil bagasi mereka dulu. Efisiensi perjalanan penerbangan adalah kunci di bandara ini.

Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari
Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari

Bandara Changi dari menara
Bandara Changi dari menara

Bandara Changi di malam hari
Bandara Changi di malam hari

Tidak heran, sejak dibuka, bandara ini telah memenangi lebih dari 460 penghargaan “Best Airport” atau bandara terbaik di dunia, salah satunya “Best Airport in the World” versi publikasi Business Traveller’s selama 26 tahun berturut-turut. Skytrax, penghargaan aviasi bergengsi di dunia juga memberikan Changi titel “World’s Best Airport” selama lima kali, terakhir tahun 2014.

Jika pun anda ingin menghabiskan waktu untuk transit yang lebih panjang, bandara ini menawarkan banyak hal untuk dilakukan dan dilihat. Banyak fasilitas relaksasi, arena hiburan, lima taman-taman tematik dan layanan internet gratis di 550 kios di seluruh terminal. Mereka yang punya waktu transit lebih panjang (minimal lima jam) dapat mengikuti tur gratis keliling kota Singapura selama dua jam ke Merlion, Marina Bay Waterfront Promenade, Chinatown dan Little India. Mereka yang melakukan perjalanan dengan keluarga pun akan merasa dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ramah keluarga, seperti ruang ganti popok bayi, travelator dan ruang tunggu yang besar dan nyaman untuk stroller bayi.

Kios internet gratis
Kios internet gratis

Selain area publik yang bisa dinikmati kapan saja, anda juga bisa mencoba fasilitas Slide@T3, luncuran tertinggi di Singapura, lalu mempelajari dunia aviasi secara menyenangkan di Changi Aviation Gallery, yang memamparkan sejarah operasional bandara ini.

Slide@T3
Slide@T3

Changi Airport memiliki tiga terminal dengan kapasitas tahunan total 66 juta penumpang. Terminal 1 dibuka tahun 1981, terminal 2 tahun 1990 dan terminal 3 tahun 2008. Ada dua landasan sepanjang empat kilometer. Pesawat lepas landas setiap 90 detik sekali. Bayangkan.

Terminal 1 baru saja direnovasi tahun 2012 untuk melayani penumpang lebih baik lagi. Konsep yang diusung dalam renovasi ini adalah membuat terminal menjadi replika “kota tropis”. Terminal ini juga memiliki kolam renang di atapnya yang menghadap ke landasan, alasan yang sempurna untuk menunggu pesawat anda selanjutnya. Anda juga bisa bersantau di jacuzzi atau berolahraga di pusat kebugaran.

Terminal 2 mengusung konsep modern dengan tetap memperhatikan penghijauan dan pencahayaan alami.

Terminal 3 mengusung arsitektur atap yang unik, yang memperhatikan pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik sehingga terminal ini lebih ramah lingkungan.

Di terminal-terminal tersebut kita juga dapat mendapatkan fasilitas pijat seluruh tubuh, manikur-pedikur, potong rambut, gym, fasilitas mandi dan ruang tunggu eksklusif (lounge) yang dapat dibayar tanpa harus memiliki keanggotaan tertentu. Selain itu, jika anda mengantuk dan butuh istirahat, ada tempat istirahat (napping areas) yang tenang dan dapat dinikmati gratis. Selain itu, ada juga hotel transit yang bisa disewa singkat jika ingin privasi lebih.

Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal
Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal

Kolam renang di terminal berpemandangan landasan
Kolam renang di terminal berpemandangan landasan

Konsep “kota tropis” kelihatan di hampir semua terminalnya, dibuktikan dengan berbagai tanaman dan kebun yang ada di sekitarnya. Ada taman tematik yang bisa kita nikmati di setiap terminal, antara lain “Cactus Garden” (Terminal 1), “Enchanted Garden”, “Orchid Garden” dan “Sunflower Garden” (Terminal 2) dan “Butterfly Garden” (Terminal 3).

Taman dalam bandara
Taman dalam bandara

Ruang dan sofa bersantai
Ruang dan sofa bersantai

Tempat beristirahat
Tempat beristirahat

Mereka yang datang di sela-sela perjalanan bisnis, dapat menikmati Business Centre sekiranya membutuhkan layanan pencetakan, fotokopi, faks dan pengiriman dokumen. Tersedia juga Transit Hotel, Ambassador Transit Lounge dan Rainforest Lounge untuk beristirahat atau bekerja dengan tenang. Jika kehabisan baterai ponsel atau tablet anda, jangan khawatir. Ada 856 titik pengisian ulang baterai di semua terminal yang dapat dinikmati gratis.

Ambassador Transit Hotel
Ambassador Transit Hotel

Ada lebih dari 350 toko di terminal-terminal di sini baik di luar ruang keberangkatan maupun di dalamnya untuk memberikan kesempatan berbelanja yang nyaman dan maksimal, dengan harga yang kompetitif. Lapar? Jangan lewatkan 120 outlet makanan dan minuman di seluruh terminal, termasuk sebuah pujasera yang dikunjungi warga Singapura setiap harinya hanya untuk makan.

Ketika saya pergi ke sana dan transit selama enam jam beberapa saat lalu, saya juga menikmati teater film gratis yang dioperasikan 24 jam dan memutarkan film-film blockbuster bergantian. Bagi yang suka game, ada ruang permainan yang menawarkan console game. Yang suka musik dapat pergi ke sudut musik. Yang ingin nonton televisi, tersedia ruang televisi. Tidak akan kehabisan opsi untuk menghibur diri.

Nonton film gratis
Nonton film gratis

Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal
Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal

Lebih detil lagi mengenai Transit Hotel, mereka terletak di area Departure Transit di semua terminal. Khusus Ambassador Transit Hotel dilengkapi fasilitas lebih banyak seperti wake-up call service, televisi, kamar mandi di dalam dan teh/kopi gratis. Jika ada kamar kosong, maka anda bisa menikmati kamar yang menghadap ke landasan dengan jendela besar. Asyik, kan?

The Kinetic Rain
The Kinetic Rain

“The Changi Experience” tidak hanya fokus pada kenyamanan dan kelancaran perjalanan penggunanya, tetapi juga sensory experience atau pengalaman indera. Tidak sekedar dekorasi, tapi juga esensi dari bandara itu sendiri. Beberapa instalasi seni ditampilkan di sini, antara lain “Kinetic Rain” yang terdiri dari 1.216 “tetesan” yang dibuat dari perunggu, digantung, dan digerakkan oleh komputer membentuk 16 bentuk yang berbeda, seperti pesawat terbang, balon udara dan layang-layang. Selain itu, beberapa seni patung dan instalasi juga ditampilkan di berbagai sudut terminal.

Rencana ke depan

Tahun 2017, Bandara Internasional Changi akan membuka Terminal 4 yang dirancang untuk melayani penerbangan full service dan penerbangan hemat biaya. Terminal ini menggantikan Terminal Budget yang sudah tidak operasional lagi. Tentunya, Terminal 4 akan jauh lebih berkelas dari Terminal Budget, dan akan dihubungkan dengan jembatan pejalan kaki dari terminal-terminal lainnya. Terminal 4 diharapkan dapat menampung 16 juta penumpang tiap tahun dengan luas setara 27 lapangan sepak bola.

Itu sajakah? Nanti dulu — Bandara Internasional Changi juga sudah merencanakan pengembangan Terminal 1 yang dinamakan “Project Jewel”. Lokasinya ada di depan Terminal 1, dan merupakan kompleks mixed use yang akan menawarkan fasilitas-fasilitas yang memanjakan penumpang. Fitur utamanya adalah taman di dalam banguann yang lebih besar dari taman-taman lain di Changi. Dirancang oleh arsitek Marina Bay Sands, Moshe Safdie, bangunan ini didesain untuk menjadi ikon Changi yang baru dan diperkirakan selesai 2018. “Project Jewel” dibuat khususnya untuk memanjakan penumpang transit yang diperkirakan sampai 30% total pengunjung ke Changi. Dengan “Project Jewel”, kapasitas penumpang di Changi diperkirakan meningkat hingga 85 juta orang per tahun pada tahun 2018.

"Project Jewel"
Project Jewel

Terminal 5 juga akan dibangun di tanah luas di sebelah timur terminal-terminal yang sudah ada, dan ukurannya adalah gabungan dari Terminal 1, 2, 3, 4 dan Project Jewel. Kabarnya, Terminal 5 akan menjadi terminal terbesar di dunia dan melayani 50 juta penumpang setiap tahunnya.

JetQuay Terminal

Salah satu yang kita tidak tahu dari Changi adalah keberadaan JetQuay CIP (Commercially Important Person) Terminal. JetQuay ini adalah terminal elit bagi para penumpang yang ingin layanan eksklusif. Dengan membayar tarif tertentu, kita dapat menikmati penjemputan dari rumah atau hotel dengan mobil mewah, diantara ke terminal elit yang terpisah dari terminal umum, dilayani seperti raja dengan makanan dan minuman serta ruang istirahat, serta check-in dan layanan imigrasi khusus. Ketika pesawat berangkat, kita akan diantar dengan buggy car ke pintu keberangkatan. Cocok untuk mereka yang ingin privasi lebih, misalnya ketika bulan madu, perjalanan keluarga atau yang punya pesawat pribadi (mana tahu, ya?).

Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal
Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal

Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal
Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal

Indonesia dan Changi

Indonesia adalah pasar utama Bandara Internasional Changi. Penerbangan Jakarta – Singapura adalah penerbangan dengan trafik terbesar, diikuti Bangkok, Kuala Lumpur, Hong Kong dan Manila. Indonesia adalah negara ke-3 terbesar yang memasok penumpang ke bandara ini, baik untuk tujuan akhir maupun transit. Sebaliknya, Singapura menyumbang jumlah pengunjung yang besar ke Indonesia tahun 2013 saja, sekitar 6.4 juta pengunjung, semuanya melalui bandara Changi.

Hebatnya lagi, pengunjung berkewarganegaraan Indonesia ada dalam posisi ke-3 dilihat dari jumlah transaksi belanja di bandara.

The Changi Experience

The Changi Experience” adalah konsep yang menurut saya sangat menarik. Lazimnya, kita melihat bandara secara fungsional saja. Fasilitas untuk menunggu naik pesawat dan tiba dari tujuan lain. Bandara Internasional Changi melihatnya dari sisi yang berbeda: bandara adalah sebuah pengalaman, sebuah destinasi dalam dirinya sendiri. Ia adalah oasis bagi musafir — sebaik-baiknya tuan rumah adalah mereka yang melayani musafir sebaik mungkin. Inilah barangkali yang membuat Bandara Internasional Changi berkomitmen untuk melayani pengunjung dengan sebaik-baiknya.

Sampai jumpa di perjalanan Changi berikutnya!


Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.

Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.

Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.

Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.

Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.

Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.

Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).

Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.

Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.


Artikel sebelumnya

© 2016 Ransel Kecil