Artikel-artikel dari kategori Transportasi (halaman ke-1 dari 2)

Melihat Terminal 3 Baru Cengkareng


Salah satu sisi keren di bandara ini adalah ketika keluar dari pesawat.

Dalam rangka perjalanan kerja, akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba Terminal 3 baru di bandara Soekarno-Hatta, atau yang lebih sering disebut sebagai Terminal 3 Ultimate. Sebenarnya saya agak kurang setuju dengan istilah ini, karena terlalu membesar-besarkan dan seolah sudah final. Bagi saya, bandara akan selalu diperbaiki, ditingkatkan. Tidak pernah selesai.


Hal yang saya kagumi dari bandara ini: langit-langit tinggi dan kaca-kaca besar.

Catatan ini diambil pada bulan September 2016, yaitu satu bulan sejak dibukanya Terminal 3 ini pada bulan Agustus 2016. Saya paham ada beberapa sudut yang mungkin belum optimal. Ada juga berita-berita yang menunjukkan betapa pembukaannya terkesan terburu-buru dengan segudang masalah. Ada soal banjir, ada soal plafon yang rubuh, ada yang soal kualitas bahan bangunan yang kualitas rendah. Saya juga dengar dari teman-teman, kondisinya memang belum siap, papan marka yang tidak ergonomis karena ukuran hurufnya kekecilan, alur yang aneh, dan lain sebagainya. Macam-macam, pokoknya. Hingga, pada akhirnya, saya mencoba sendiri.


Antrian di salah satu pintu.

Pada malam itu saya akan terbang ke Surabaya dengan Garuda Indonesia, satu-satunya maskapai yang beroperasi di Terminal 3 ini, untuk saat ini. Dengan jantung yang berdebar-debar, saya turun dari taksi di area keberangkatan Terminal 3. Kesan pertama, besar dan luas. Mewah? Tidak. Nyaman? Tidak juga. Lantainya seperti lantai ruko atau rumah tinggal. Beberapa pilar tampak seperti tidak selesai, mungkin maksudnya gaya ala “industrial”.


Beberapa sudut masih terlihat suram dan redup.

Ada pemeriksaaan keamanan sesaat setelah masuk di pintu utama mana pun. Ini mungkin mengantisipasi serangan-serangan teroris atau ancaman keamanan lain. Memang, dari teras depan sampai masuk tidak ada pengecekan kendaraan dan siapapun bisa masuk. Kesan pertama? Megah! Tapi agak redup dengan lampu-lampu yang sinarnya kurang merata. Dengan lampu sinar putih, kesan mewah dan nyaman tidak terasa. Seharusnya, jika mereka belajar dan ingin menyaingi Changi, belajar juga ilmu desain interior dan belajarlah bagaimana penerangan mempengaruhi mood para pengguna ruangan itu. Warna kekuningan dapat menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Karena itulah Changi cenderung seperti ini. Perhatikan saja.

Tapi, yang saya suka adalah langit-langitnya yang super tinggi. Dibandingkan dengan Terminal 1 dan 2, saya tidak merasa klaustrofobik di sini. Karena semua kaunter check-in adalah untuk Garuda Indonesia, saya bebas memilih di mana saja selain Business Class dan First Class. Hampir tidak ada antrian panjang. Hanya dua atau tiga orang di depan saya. Proses check-in pun dilakukan sempurna selama 10 menit saja termasuk menunggu antrian.


Mengintip sisi internasional yang belum selesai.

Setelah itu, saya kelaparan. Saya lihat opsi makanan dan minuman di sini masih sangat sedikit, terutama di ruang publik sebelum keberangkatan. Oh ya, lain dengan Terminal 1 atau 2, pengantar bisa bebas masuk ke ruang check-in dan makan minum di sini. Opsinya hanya kafe seperti Starbucks, Krispy Kreme, makanan Bali (kalau tidak salah ingat) dan beberapa kios kecil. Itu pun semua masih dalam skala kios kecil. Saya tak paham. Masih ada ruang luas di mana-mana tapi yang digunakan hanya kios-kios kecil. Menumpuklah semuanya di situ. Antrian mengular. Saya putuskan hanya beli donat saja buat makan malam.

Setelah itu, saya pergi ke ruang keberangkatan (air side). Saya harus melalui pemeriksaan keamanan. Tempatnya sungguh luas dan bisa memilih di mana saja. Saya suka bagian ini, karena sangat luas, bisa menghindari antrian-antrian mengular seperti di Terminal 1 atau 2.

Setelah berada di ruang keberangkatan, terkejutlah saya karena areanya jauh lebih besar lagi, ada mezzanine-nya juga. Opsi makanan dan tokonya juga lebih banyak, seperti Liberica, Eat and Eat To Go dan beberapa kios makanan nasi dan lauk. Ada Mothercare dan Periplus. Seperti mal pada umumnya. Ada beberapa gerai lain yang masih dipersiapkan. Yang saya lihat ada FamilyMart. Yang lain tidak tahu apa. Semoga cepat selesai dan buka, karena kami semua kelaparan dan kehausan.


Sesaat setelah pemeriksaan keamanan.

Satu hal lain yang saya suka juga adalah ketersediaan toilet yang sangat memadai, dan ada di setiap dua pintu. Di tempat yang sama pula terdapat ruang menyusui bagi ibu-ibu yang punya bayi. Bersih dan besar. Ada travelator yang membantu kita untuk lebih cepat di pintu tujuan (ya, walau masih digunakan untuk “berdiri santai” instead of jalan cepat). Ini juga kali pertama saya bisa bekerja di laptop dengan tenang karena banyak sekali sudut-sudut yang tenang. Bagi penikmat pesawat, pasti senang ada di sini karena tersedia tempat-tempat duduk yang menghadap ke jendela besar nan tinggi melihat pesawat-pesawat lalu lalang.


Tempat duduk yang lumayan keras tapi yang penting menghadap ke jendela.

Secara pribadi, saya lebih suka ruang air side ini, karena lebih tenang, luas dan akomodatif terhadap kebutuhan pejalan seperti saya, paling tidak pada saat ini ketika semua fasilitas belum siap secara merata. Yang bisa saya sarankan adalah, tetap, suasana menjadi redup ketika malam dan tidak nyaman karena memakai penerangan putih. Silau sekali melihatnya. Satu pintu juga masih ada tiga penerbangan dan antrian akan menumpuk sehingga membuat penerbangan yang terakhir menjadi tertunda 45 menit.

Ketika turun dari pesawat, di dalam garbarata juga sangat panas sekali, tidak ada pendingin udara.


Turun dari pesawat, di garbarata. Panas sekali di sini.


Di area pengambilan bagasi, masih ada pekerjaan seperti ini.

Satu hal lagi, saya melihat ada beberapa sudut dinding yang sudah berjamur, atau pekerjaan yang tidak rapi. Setengah-setengah. Tolonglah, ini bandara internasional.


Ada jamur di beberapa sisi dinding.

Tapi saya harus tetap mendukung ya? Nanti ada yang mengejek-ngejek saya tidak nasionalis…


Menyentuh Hati Pejalan dengan “The Changi Experience”

Bandara Internasional Changi di Singapura adalah hub udara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu yang terbesar di Asia. Menghubungkan lebih dari 270 kota di 60 negara, bandara ini menawarkan maksimum waktu transfer 60 menit untuk perjalanan transit. Bagi pejalan ransel, juga ditawarkan program Changi Connects yang membuat transfer penerbangan dari dan ke penerbangan hemat biaya tanpa harus melewati imigrasi atau harus mengambil bagasi mereka dulu. Efisiensi perjalanan penerbangan adalah kunci di bandara ini.

Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari
Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari

Bandara Changi dari menara
Bandara Changi dari menara

Bandara Changi di malam hari
Bandara Changi di malam hari

Tidak heran, sejak dibuka, bandara ini telah memenangi lebih dari 460 penghargaan “Best Airport” atau bandara terbaik di dunia, salah satunya “Best Airport in the World” versi publikasi Business Traveller’s selama 26 tahun berturut-turut. Skytrax, penghargaan aviasi bergengsi di dunia juga memberikan Changi titel “World’s Best Airport” selama lima kali, terakhir tahun 2014.

Jika pun anda ingin menghabiskan waktu untuk transit yang lebih panjang, bandara ini menawarkan banyak hal untuk dilakukan dan dilihat. Banyak fasilitas relaksasi, arena hiburan, lima taman-taman tematik dan layanan internet gratis di 550 kios di seluruh terminal. Mereka yang punya waktu transit lebih panjang (minimal lima jam) dapat mengikuti tur gratis keliling kota Singapura selama dua jam ke Merlion, Marina Bay Waterfront Promenade, Chinatown dan Little India. Mereka yang melakukan perjalanan dengan keluarga pun akan merasa dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ramah keluarga, seperti ruang ganti popok bayi, travelator dan ruang tunggu yang besar dan nyaman untuk stroller bayi.

Kios internet gratis
Kios internet gratis

Selain area publik yang bisa dinikmati kapan saja, anda juga bisa mencoba fasilitas Slide@T3, luncuran tertinggi di Singapura, lalu mempelajari dunia aviasi secara menyenangkan di Changi Aviation Gallery, yang memamparkan sejarah operasional bandara ini.

Slide@T3
Slide@T3

Changi Airport memiliki tiga terminal dengan kapasitas tahunan total 66 juta penumpang. Terminal 1 dibuka tahun 1981, terminal 2 tahun 1990 dan terminal 3 tahun 2008. Ada dua landasan sepanjang empat kilometer. Pesawat lepas landas setiap 90 detik sekali. Bayangkan.

Terminal 1 baru saja direnovasi tahun 2012 untuk melayani penumpang lebih baik lagi. Konsep yang diusung dalam renovasi ini adalah membuat terminal menjadi replika “kota tropis”. Terminal ini juga memiliki kolam renang di atapnya yang menghadap ke landasan, alasan yang sempurna untuk menunggu pesawat anda selanjutnya. Anda juga bisa bersantau di jacuzzi atau berolahraga di pusat kebugaran.

Terminal 2 mengusung konsep modern dengan tetap memperhatikan penghijauan dan pencahayaan alami.

Terminal 3 mengusung arsitektur atap yang unik, yang memperhatikan pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik sehingga terminal ini lebih ramah lingkungan.

Di terminal-terminal tersebut kita juga dapat mendapatkan fasilitas pijat seluruh tubuh, manikur-pedikur, potong rambut, gym, fasilitas mandi dan ruang tunggu eksklusif (lounge) yang dapat dibayar tanpa harus memiliki keanggotaan tertentu. Selain itu, jika anda mengantuk dan butuh istirahat, ada tempat istirahat (napping areas) yang tenang dan dapat dinikmati gratis. Selain itu, ada juga hotel transit yang bisa disewa singkat jika ingin privasi lebih.

Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal
Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal

Kolam renang di terminal berpemandangan landasan
Kolam renang di terminal berpemandangan landasan

Konsep “kota tropis” kelihatan di hampir semua terminalnya, dibuktikan dengan berbagai tanaman dan kebun yang ada di sekitarnya. Ada taman tematik yang bisa kita nikmati di setiap terminal, antara lain “Cactus Garden” (Terminal 1), “Enchanted Garden”, “Orchid Garden” dan “Sunflower Garden” (Terminal 2) dan “Butterfly Garden” (Terminal 3).

Taman dalam bandara
Taman dalam bandara

Ruang dan sofa bersantai
Ruang dan sofa bersantai

Tempat beristirahat
Tempat beristirahat

Mereka yang datang di sela-sela perjalanan bisnis, dapat menikmati Business Centre sekiranya membutuhkan layanan pencetakan, fotokopi, faks dan pengiriman dokumen. Tersedia juga Transit Hotel, Ambassador Transit Lounge dan Rainforest Lounge untuk beristirahat atau bekerja dengan tenang. Jika kehabisan baterai ponsel atau tablet anda, jangan khawatir. Ada 856 titik pengisian ulang baterai di semua terminal yang dapat dinikmati gratis.

Ambassador Transit Hotel
Ambassador Transit Hotel

Ada lebih dari 350 toko di terminal-terminal di sini baik di luar ruang keberangkatan maupun di dalamnya untuk memberikan kesempatan berbelanja yang nyaman dan maksimal, dengan harga yang kompetitif. Lapar? Jangan lewatkan 120 outlet makanan dan minuman di seluruh terminal, termasuk sebuah pujasera yang dikunjungi warga Singapura setiap harinya hanya untuk makan.

Ketika saya pergi ke sana dan transit selama enam jam beberapa saat lalu, saya juga menikmati teater film gratis yang dioperasikan 24 jam dan memutarkan film-film blockbuster bergantian. Bagi yang suka game, ada ruang permainan yang menawarkan console game. Yang suka musik dapat pergi ke sudut musik. Yang ingin nonton televisi, tersedia ruang televisi. Tidak akan kehabisan opsi untuk menghibur diri.

Nonton film gratis
Nonton film gratis

Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal
Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal

Lebih detil lagi mengenai Transit Hotel, mereka terletak di area Departure Transit di semua terminal. Khusus Ambassador Transit Hotel dilengkapi fasilitas lebih banyak seperti wake-up call service, televisi, kamar mandi di dalam dan teh/kopi gratis. Jika ada kamar kosong, maka anda bisa menikmati kamar yang menghadap ke landasan dengan jendela besar. Asyik, kan?

The Kinetic Rain
The Kinetic Rain

“The Changi Experience” tidak hanya fokus pada kenyamanan dan kelancaran perjalanan penggunanya, tetapi juga sensory experience atau pengalaman indera. Tidak sekedar dekorasi, tapi juga esensi dari bandara itu sendiri. Beberapa instalasi seni ditampilkan di sini, antara lain “Kinetic Rain” yang terdiri dari 1.216 “tetesan” yang dibuat dari perunggu, digantung, dan digerakkan oleh komputer membentuk 16 bentuk yang berbeda, seperti pesawat terbang, balon udara dan layang-layang. Selain itu, beberapa seni patung dan instalasi juga ditampilkan di berbagai sudut terminal.

Rencana ke depan

Tahun 2017, Bandara Internasional Changi akan membuka Terminal 4 yang dirancang untuk melayani penerbangan full service dan penerbangan hemat biaya. Terminal ini menggantikan Terminal Budget yang sudah tidak operasional lagi. Tentunya, Terminal 4 akan jauh lebih berkelas dari Terminal Budget, dan akan dihubungkan dengan jembatan pejalan kaki dari terminal-terminal lainnya. Terminal 4 diharapkan dapat menampung 16 juta penumpang tiap tahun dengan luas setara 27 lapangan sepak bola.

Itu sajakah? Nanti dulu — Bandara Internasional Changi juga sudah merencanakan pengembangan Terminal 1 yang dinamakan “Project Jewel”. Lokasinya ada di depan Terminal 1, dan merupakan kompleks mixed use yang akan menawarkan fasilitas-fasilitas yang memanjakan penumpang. Fitur utamanya adalah taman di dalam banguann yang lebih besar dari taman-taman lain di Changi. Dirancang oleh arsitek Marina Bay Sands, Moshe Safdie, bangunan ini didesain untuk menjadi ikon Changi yang baru dan diperkirakan selesai 2018. “Project Jewel” dibuat khususnya untuk memanjakan penumpang transit yang diperkirakan sampai 30% total pengunjung ke Changi. Dengan “Project Jewel”, kapasitas penumpang di Changi diperkirakan meningkat hingga 85 juta orang per tahun pada tahun 2018.

"Project Jewel"
Project Jewel

Terminal 5 juga akan dibangun di tanah luas di sebelah timur terminal-terminal yang sudah ada, dan ukurannya adalah gabungan dari Terminal 1, 2, 3, 4 dan Project Jewel. Kabarnya, Terminal 5 akan menjadi terminal terbesar di dunia dan melayani 50 juta penumpang setiap tahunnya.

JetQuay Terminal

Salah satu yang kita tidak tahu dari Changi adalah keberadaan JetQuay CIP (Commercially Important Person) Terminal. JetQuay ini adalah terminal elit bagi para penumpang yang ingin layanan eksklusif. Dengan membayar tarif tertentu, kita dapat menikmati penjemputan dari rumah atau hotel dengan mobil mewah, diantara ke terminal elit yang terpisah dari terminal umum, dilayani seperti raja dengan makanan dan minuman serta ruang istirahat, serta check-in dan layanan imigrasi khusus. Ketika pesawat berangkat, kita akan diantar dengan buggy car ke pintu keberangkatan. Cocok untuk mereka yang ingin privasi lebih, misalnya ketika bulan madu, perjalanan keluarga atau yang punya pesawat pribadi (mana tahu, ya?).

Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal
Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal

Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal
Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal

Indonesia dan Changi

Indonesia adalah pasar utama Bandara Internasional Changi. Penerbangan Jakarta – Singapura adalah penerbangan dengan trafik terbesar, diikuti Bangkok, Kuala Lumpur, Hong Kong dan Manila. Indonesia adalah negara ke-3 terbesar yang memasok penumpang ke bandara ini, baik untuk tujuan akhir maupun transit. Sebaliknya, Singapura menyumbang jumlah pengunjung yang besar ke Indonesia tahun 2013 saja, sekitar 6.4 juta pengunjung, semuanya melalui bandara Changi.

Hebatnya lagi, pengunjung berkewarganegaraan Indonesia ada dalam posisi ke-3 dilihat dari jumlah transaksi belanja di bandara.

The Changi Experience

The Changi Experience” adalah konsep yang menurut saya sangat menarik. Lazimnya, kita melihat bandara secara fungsional saja. Fasilitas untuk menunggu naik pesawat dan tiba dari tujuan lain. Bandara Internasional Changi melihatnya dari sisi yang berbeda: bandara adalah sebuah pengalaman, sebuah destinasi dalam dirinya sendiri. Ia adalah oasis bagi musafir — sebaik-baiknya tuan rumah adalah mereka yang melayani musafir sebaik mungkin. Inilah barangkali yang membuat Bandara Internasional Changi berkomitmen untuk melayani pengunjung dengan sebaik-baiknya.

Sampai jumpa di perjalanan Changi berikutnya!


Wajah Bajai di India

Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning
Bajai paling terkenal, berwarna hitam dan kuning.

Siapa yang tidak kenal bajai. Kendaraan sederhana ini selalu menemani hari-hari semasa saya belajar di Mumbai. Hal ini dikarenakan bajai di Mumbai mudah didapat, memakai argo dan jelas tarifnya murah. Memang awalnya sulit, mengingat umumnya supir bajai ini tidak bisa berbahasa Inggris. Maka dengan Hindi yang terbata-bata, saya menuntun mereka untuk menuju tempat yang saya inginkan. Yang membedakan supir bajai di India dengan Jakarta adalah mereka sangat mudah menolak penumpang, seringkali malas memutar balik, terlebih jika penumpang ingin bepergian ke arah yang berlawanan. Entah kenapa, supir bajai ini cenderung belok ke arah kiri. Benar-benar menjengkelkan.

Tak kenal maka tak sayang. Karena saya memang sayang akan kendaraan beroda tiga yang setia mengantar saya ke mana saja ini, tak pelak lagi saya pun tertarik mencari tahu tentangnya. Ternyata benar bajai itu berasal dari India. Kendaraan yang di India disebut “auto” ini (walau beberapa turis masih menyebutnya “tuk-tuk”) dibuat oleh perusahaan Bajaj Group, yang didirikan oleh Jamnalal Bajaj di Rajasthan pada tahun 1930-an. Pada tahun 1959, perusahaan ini diizinkan oleh pemerintah India untuk membuat kendaraan beroda dua dan tiga. Perusahaan ini semakin berkembang, hingga dalam kurun waktu setahun terakhir, mereka telah menjual sekitar 480.000 kendaraan roda tiga yang hampir setengahnya di ekspor ke luar India. Jumlah yang sangat fantastis.

Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil
Bentuk bajai lain yang menyerupai mobil.

Bajai beragam warna menunggu penumpang
Bajai beragam warna menunggu penumpang.

Bajai berwarna biru
Bajai berwarna biru.

Bila bajai di Jakarta umumnya berwarna merah dan biru (sehingga sering diplesetkan sebagai BMW, singkatan dari “Bajai Merah Warnanya”), maka di Mumbai atau Delhi bajai ini biasanya berwarna hitam, dengan argo yang terletak di sisi kiri. Hal yang berbeda saya temui ketika saya menjelajahi wilayah Rajashtan, India. Di wilayah ini, tampak berbagai penampakan dari kendaraan beroda tiga kesayangan saya ini. Secara garis besar, bajai di sana akan diwarnai dengan ornamen warna-warni sesuai khas daerah masing-masing. Yang menjadi favorit saya adalah bajai yang berada di wilayah Juhunjhunu, Rajashtan. Tampak bajai dipenuhi pita warna-warni, lukisan dewa-dewinya dan lonceng. bajai di Jaisalmer biasanya lebih sederhana, berwarna kebiruan. Sedangkan di wilayah Jodhpur, bajai berbentuk lebih ramping dan berhiaskan pita, namun bagian belakangnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampung penumpang lebih banyak. Variasi lainnya, ada bajai yang tampak berbentuk sedikit ‘bulat’ dengan warna kekuningan seperti ikan mas koki.

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (1).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (2).

Detil dekorasi bajai di India
Detil dekorasi bajai di India (3).

Umumnya bajai diperuntukkan untuk tiga penumpang di belakang dan seorang supir demi alasan keamanan. Walau jumlah ini juga disesuaikan dengan besarnya badan penumpang. Berhubung teman-teman saya dari Tanzania umumnya bertubuh besar, dengan sendirinya tiga orang di belakang akan membuat sesak. Namun jangan salah, di India 10 orang pun bisa muat di dalam satu bajai. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepala bila melihat supir bajai duduk berimpitan dengan dua hingga empat penumpang di depan. Terkadang polisi bisa menegur bila melihat situasi ini. Namun bukan supir bajai namanya kalau tidak bisa berdalih. Penumpang ekstra tersebut akan turun saat berpapasan dengan polisi untuk kemudian naik kembali setelah berada cukup jauh.

Berbagai wajah bajai dapat ditemukan di India dengan semua ciri khasnya. Namun kesamaannya tetap ada, tetap berjalan dengan bunyi yang berisik dan hanya supir bajai (dan Tuhan) yang tahu kapan mereka akan belok.


Naik Sleeper Train Dari Penang ke Kuala Lumpur

Usai menikmati keindahan George Town, Penang, saya melanjutkan perjalan saya ke Kuala Lumpur. Dalam perjalanan tersebut ada satu hal yang saya rasakan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, yaitu naik rangkaian kereta api bertempat tidur (sleeper train).

Ada dua alasan kenapa saya memilih sleeper train, alasan pertama adalah untuk menghilangkan rasa penasaran, yang kedua untuk menghemat biaya penginapan. Rangkaian kereta tersebut berangkat dari Butterworth pukul 23.00 dan sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 06.00. Tidur di sleeper train sangat nyaman, tidur nyenyak sampai pagi dan sampai di Kuala Lumpur. Badan kembali segar di pagi hari.

Kereta berangkat dari Butterworth yang letaknya bukan di Pulau Penang, tapi sudah menyeberang ke semenanjung Malaysia. Negara bagian Pulau Penang memang terbagi dua, yakni pulaunya itu sendiri dan sebagian semenanjung Malaysia. Untuk meuju Butterworth, saya menggunakan kapal feri yang berangkat dari dermaga (Weld Quay) yang letaknya tidak jauh dari penginapan saya di George Town. Perjalanan tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Sesampainya di Butterworth saya pun langsung menuju stasiun kereta api Butterworth yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Petunjuk arah menuju stasiun kereta cukup lengkap dan jelas, jadi tidak perlu takut tersasar.

Peron stasiun Butterworth di malam hari.
Peron stasiun Butterworth di malam hari.

Sesampainya di stasiun Butterworth saya langsung membeli tiket sleeper train di loket pembelian, harganya RM46 (sekitar Rp150.000). Jangan sampai salah beli tiket, sleeper train dari Butterworth ke Kuala Lumpur dioperasikan oleh perusahaan kereta api nasional, Keretapi Tanah Melayu (KTM) Berhad. Sebenarnya tiket bisa dipesan secara online di situs web KTM, tapi saya memutuskan untuk beli langsung saja di loket stasiun Butterworth.

Ruang tunggu stasiun Butterworth.
Ruang tunggu stasiun Butterworth.

Stasiun kereta di Butterworth sangat nyaman, ruang tunggunya sangat dingin oleh pendingin udara. Kantinnya juga sangat nyaman, banyak penjual berbagai makanan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kala itu masih pukul 20.00, sedangkan kerata berangkat pukul 23.00, sengaja saya datang lebih awal agar tidak kehabisan tiket. Sehabis membeli tiket saya pun membeli beberapa makanan di kantin stasiun yang letaknya di belakang. Di sana dijual berbagai makanan yang harganya relatif murah. Kantin tersebut juga dilengkapi fasilitas TV kabel, jadi menunggu kereta tidak menjadi hal yang membosankan!

Menurut jadwal, kereta akan berangkat pukul 23.00 dan sampai di KL Sentral pukul 06.00. Keretanya tepat waktu! Sebelum pukul 23.00 pengumuman sudah berbunyi melalui pengeras suara bahwa kereta sudah siap dan penumpang harap bersiap-siap menuju peron.

Dengan rasa penuh antusias saya naik ke dalam kereta. Setelah memasuki gerbong saya sejenak terkesima dengan kenyamanan interior gerbong. Tempat tidurnya ada di sisi kiri dan kanan jendela. Di tengah-tengah ada lorong panjang untuk berjalan. Saya tidur di tempat tidur bagian bawah, ukuran tempat tidurnya lumayan, tidak terlalu lebar tapi juga tidak sempit. Sepreinya berwarna putih, sarung bantalnya juga. Kereta terus melaju, satu jam pertama saya masih memandangi suasana malam dari jendela, setelah itu saya menutup tirai jendela dan siap untuk tidur.

Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.
Tempat tidur bersusun yang nyaman di gerbong.

Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.
Suasana gerbong kereta malam dari Butterworth ke Kuala Lumpur.

Esok paginya, saat kereta sebentar lagi sampai di stasiun KL Sentral, ada petugas yang mengingatkan bahwa kereta sesaat lagi akan sampai tujuan. Saya pun terbangun dengan segar. Saya pun bergegas merapikan barang bawaan saya kemudian turun dari kereta dan siap untuk menjelajahi Kuala Lumpur.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Tips Menggunakan Dubai Metro

Dubai memiliki beberapa pilihan sarana transportasi yang nyaman dan “ekonomis”, salah satunya adalah Dubai Metro yang diresmikan pada tahun 2009. Dubai Metro merupakan sistem kereta otomatis tanpa pengemudi terpanjang di dunia. Ia memiliki dua jalur komuter, jalur merah sepanjang 52 kilometer melintasi Rashidiya hingga Jebel Ali dan jalur hijau yang melintasi area dari Al Qusais hingga Al Jadaf. Dubai Metro sangat mengedepankan kenyamanan penumpang dengan menyediakan gerbong untuk pelanggan kelas “Gold”-nya, gerbong khusus wanita dan anak-anak, lapangan parkir mobil gratis pagi pengguna Dubai Metro, dan bus pengumpan gratis yang melayani daerah di sekitar stasiun Metro.

Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro
Arsitektur salah satu stasiun Dubai Metro.

Sejumlah 29 stasiun di jalur merah melintasi beberapa atraksi wisata utama modern di Dubai seperti pusat perbelanjaan dan landmark ikon kota Dubai mulai dari Terminal 1 dan 3 bandara Dubai, kawasan perbelanjaan Diera City Center, Burj Al Arab—sebuah hotel berbintang tujuh, Dubai Mall dengan Burj Khalifa—gedung tertinggi di dunia, Mall of the Emirates, Medinat Jumeirah, pulau buatan The Palm dan The Atlantis, hingga Dubai Marina—kota kanal buatan. Sejumlah 18 stasiun di jalur hijau melintasi area kawasan kota tuanya, di sekitar The Creek. Wilayah ini dimulai dari Terminal 2 bandara Dubai, souk (pasar) yang menjual emas dan rempah, Shaeek Shaid House, Heritage and Diving Village, Bastakiya, Dubai Museum, Dubai Creek Abra (taksi air) dan Wafi City Mall.

Untuk menggunakan Dubai Metro, kita diharuskan membeli “Nol Card” berupa kartu plastik atau kertas.

Kartu plastik Nol Card bisa juga digunakan untuk bus umum dan taksi air, serta berlaku selama lima tahun dan dapat menyimpan kredit hingga maksimum 500 AED.

Terdapat empat jenis Nol card. Nol Blue Card diperoleh dengan mendaftar secara online dan membutuhkan 10 hari kerja. Nol Gold Card untuk yang menginginkan perjalanan dengan gerbong VIP. Kedua kartu ini lebih cocok apabila anda berdomisili di Dubai.

Di samping itu juga ada Nol Silver Card, kartu standar bisa menyimpan kredit dan cocok untuk pejalan yang sering mengunjungi Dubai.

Untuk pengunjung singkat atau turis lebih cocok menggunakan Nol Red Card. Kartu Nol dari bahan kertas tidak bisa menyimpan kredit dan hanya bisa digunakan maksimal 10 kali perjalanan atau lima kali tiket terusan harian (Daily Passes) dengan mengisi ulang sesuai harga standar per segmen perjalanan (trip). Selain harga per segmennya, setiap kartu kertas Nol Red Card dikenakan biaya tambahan 2 AED yang tidak dapat diuangkan kembali (bukan merupakan deposit).

Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern
Interior gerbong Dubai Metro yang bersih dan modern.

Apabila anda sering melakukan perjalanan lebih baik membeli tiket terusan harian seharga 14 AED/hari plus 2 AED untuk kartunya dan bebas digunakan tak terbatas untuk Metro dan bus selama sehari.
Perlu diperhatikan dalam membeli Red Nol Card, mekanismenya tidak sama seperti MRT di Singapura yang tinggal menentukan awal dan akhir stasiun. Dengan Metro Dubai, harga tiket tidak ditentukan awal dan tujuan stasiun, melainkan dengan sistem zona yang dilintasi: single zone, two zones, dan all zones.

Saya sendiri sempat bingung pada awalnya. Single zone saya maknai kalau saya naik dan turun di stasiun di sepanjang jalur yang berwarna sama, sedangkan two zones saya maknai kalau saya naik di stasiun di jalur hijau dan turun di jalur merah atau sebaliknya.

Papan penunjuk sistem zona
Papan penunjuk sistem zona.

Seperti yang terlihat di foto jalur metro melintasi beberapa zona; zona lima, enam, dua dan satu.
Ketika anda membeli tiket di mesin pembelian, terdapat tiga pilihan: single zone, two zones, dan all zones. Supaya tidak salah beli, pilih single zone apabila stasiun keberangkatan dan tujuan akhir anda berada di zona yang sama (contohnya, dari Terminal 1 bandara Dubai ke Diera City yang sama-sama berada di zona lima). Pilih two zones apabila zona tujuan akhir anda berada di sebelah zona stasiun keberangkatan anda (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Burj Khalifa di zona enam). Terakhir, pilih all zones apabila dari stasiun keberangkatan anda hingga stasiun tujuan akhir melintasi lebih dari dua zona (contohnya dari Terminal 1 bandara di zona lima ke Dubai Marina di zona dua atau Zebel Ali di zona satu).

Apabila anda ragu, lebih baik beli tiket melalui petugas di loket.

Jam operasional setiap hari dari pukul 05:00 pagi – tengah malam (00:00), kecuali hari Kamis dan Jumat kereta beroperasi hingga pukul 01:00 dini hari, dan khusus hari Jumat dibuka pukul 01.00 siang. Untuk hari besar tertentu seperti malam tahun baru, jam operasional Dubai metro akan beroperasi lebih panjang.


Sang Pengelana Bersepeda

Banyak cara untuk berkelana, salah satunya adalah dengan bersepeda. Ada yang ekstrim, menjelajahi jarak antar kota dengan sepeda, bahkan ada juga yang antar benua. Ada juga yang kasual, menjelajahi kota dengan sepeda. Semuanya sah-sah saja.

Bersepeda saat ini tidak hanya moda transportasi, tapi juga gaya hidup dan kepercayaan. Terlepas dari kontroversi tentang sepeda di jalan raya dan perkotaan, ia sudah lama menjadi bagian dari perjalanan, baik sebagai objek maupun subjek.

Saya mewawancarai Reza Prabowo, seorang penggiat kreatif dan teknologi informasi dari Bandung yang juga senang bersepeda serta jalan-jalan. Setiap aspek dari perjalanan Reza pasti didedikasikan untuk kesenangannya pada sepeda. Menurut kami beliau orang yang cocok untuk topik ini, jadi silakan dibaca kutipannya!

Reza Prabowo

Apakah Reza pernah melakukan perjalanan jauh dengan sepeda? Di mana dan sejauh apa?

Pernah beberapa kali, pertama kali dekat, Jakarta – Bogor – Jakarta, sekitar 120km dalam satu hari tapi banyak berhentinya. Lalu, yang kedua Bandung – Jakarta via Purwakarta, sekitar 180km dalam delapan jam. Pernah juga Jakarta – Anyer – Jakarta, sekitar 250km tapi dua hari, kita menginap di Cilegon. Kalau di luar negeri sempat mencoba bersepeda keliling Amsterdam dan Kopenhagen. Waktu di Helsinki sempat ingin bersepeda tetapi kesulitan mencari pinjaman sepeda! Terakhir sih di Singapura, dapat sekitar 100km keliling-keliling dua hari, dan ternyata negara ini punya jalan pesepeda yang nyaris sempurna menurut saya.

Persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk perjalanan dengan sepeda?

Lebih banyak persiapan mental dibanding fisik. Sebelum perjalanan, usahakan latihan lagi bersepedanya, jadi tidak kaget ketika diajak jarak lumayan jauh. Menurut saya sepeda itu lebih menantang mental pesepedanya dibanding fisiknya. Siap dengan kondisi jalan dan cuaca yang tidak menentu, situasi darurat (bocor ban, kecelakaan) juga penting. Lalu soal logistik, persiapkan sepeda dalam kondisi prima sebelum digunakan, kalau sempat, bawa ke bengkel untuk servis, dan lengkapilah dengan baik sepeda untuk perjalanan dengan tas sepeda atau kardus sepeda karena sering sekali sepeda rusak di perjalanan karena perlengkapan kurang baik. Jangan lupa bawa P3K, mini-tool, tire lever, spare tubes, helm, windbreaker dan lampu sepeda. GPS atau telepon pintar ber-GPS juga sangat membantu di perjalanan.

Idealnya, berapa minimum jarak perjalanan jauh dengan sepeda?

Tergantung sudah biasa seberapa jauh setiap hari. Kalau biasanya bersepeda baru bisa 20km, jangan coba lebih dari dua kali jarak tersebut. Lebih baik sedikit-sedikit naik tapi rutin. Naikkan porsi latihan, minggu pertama 20km, kedua 40km, lalu coba 80km, baru ikut perjalanan sepeda jarak jauh. Kalau sudah percaya diri bisa ikut “Century ride“, bersepeda 160km dalam waktu kurang dari 12 jam or even “randonneuring“, bersepeda 200km lebih. Saya pribadi biasanya sekitar 120km itu masih dapat dinikmati, di atas 150km sudah mulai menyiksa, dan mendekati 200km itu rasanya sudah seperti mau menyerah di jalan. Tetapi setelah sampai tujuan, rasa puas selalu ada dan jangan lupa katakan, “it is always worth the trip!“.

Sepeda apa yang cocok dibeli untuk perjalanan jarak menengah dan jauh?

Idealnya, menurut saya, adalah road bikes, touring bikes atau cyclo-cross. Alasannya sepeda tipe-tipe seperti ini memang dirancang untuk melahap jarak yang jauh dengan efisiensi tinggi, namun memang konsekuensinya permukaan yang dilalui agak terbatas. Bagi yang lebih doyan offroad lebih baik menggunakan mountain bike.

Apa kekurangan dan kelebihan bersepeda sebagai sarana perjalanan dibanding dengan kendaraan bermotor atau dengan kegiatan seperti jalan kaki/trekking, misalnya?

Dengan menggunakan sepeda, kita bisa belajar dan melihat kontur daerah non-urban seperti desa dengan lebih intens, karena kita harus bergelut dengan konturnya itu sendiri. Detilnya menjadi lebih diingat. Berjalan-jalan dengan kendaraan bermotor kurang memberikan detil dan interaksi yang sepadan.

Kalau kata Ernest Hemingway, “It is by riding a bicycle that you learn the contours of a country best, since you have to sweat up the hills and coast down them. Thus you remember them as they actually are, while in a motor car only a high hill impresses you, and you have no such accurate remembrance of country you have driven through as you gain by riding a bicycle.”

Perjalanan dengan sepeda apa yang menurut Reza menantang di dunia?

Saya bermimpi untuk mencoba rute-rute yang dilewati pada grand tour, seperti Perancis dengan Le Tour de France, salah satu lokasi legendarisnya L’Alpe d’Huez dan mungkin Italia dengan Giro d’Italia.

Sudah berapa lama Reza bersepeda dan apa alasannya? Berapa total jarak ditempuh?

Saya waktu masih SMP tiap hari Minggu diajak ayah keliling kota Medan sekitar 10km tiap perjalanan. Saya baru mulai lagi bersepeda tahun 2010, seketika jatuh cinta dengan sepeda sebagai moda transportasi, olahraga dan rekreasi. Kemudian, saya telah melihat beberapa negara di Eropa membudayakan sepeda sebagai salah satu solusi pemecah masalah transportasi, saya jadi lebih giat lagi, melihat keadaan transportasi di Indonesia yang didominasi kendaraan bermotor. Tahun 2011 saya mencatat 5.400km dalam satu tahun dari aplikasi Endomondo saya.

Pernah bersepeda di luar negeri? Bagaimana rasanya?

Pernah, and sangat fantastis! Kita bisa melihat lebih banyak dengan sepeda. Jalan dan infrastruktur di tempat-tempat yang saya kunjungi lebih berpihak kepada pesepeda dan pejalan kaki, jadi saya merasa sangat nyaman bersepeda, apalagi di Kopenhagen, ibukota pesepeda dunia. Masyarakatnya pun sudah terbiasa melihat sepeda di jalan dan menghargainya. Terlihat ada sinergi yang baik antar berbagai tipe pengguna jalan, baik kendaraan bermotor maupun pesepeda dan pejalan kaki. Sesuatu yang pastinya bisa kita pelajari untuk Indonesia.

Terima kasih atas waktunya, Reza!


“Airline Mileage”, Pentingkah?

Sering bepergian dengan pesawat terbang? Pasti anda menyadari banyak maskapai yang menawarkan program kesetiaan pelanggan (loyalty) yang bertujuan memberikan insentif untuk anda terbang bersama mereka lagi, dengan bentuk “poin” yang diakumulasikan dalam waktu tertentu. “Poin” ini lazim disebut mileage. Saya tidak tahu padanan Bahasa Indonesia-nya apa. Yang jelas, mulai dari maskapai besar sampai kecil, full-service sampai budget, kiatnya mirip.

Mekanismenya sederhana. Ketika anda terbang bersama sebuah maskapai, anda memiliki opsi untuk mendaftar pada program kesetiaan pelanggan ini, dengan mengisi formulir tertentu, lalu mengakumulasikan mileage dalam jumlah tertentu untuk penerbangan yang anda tumpangi pada hari itu. Jumlah mileage ini dihitung progresif sesuai elemen-elemen penerbangan, seperti jarak atau tarif tertentu. Biasanya, yang bisa dihitung adalah penerbangan dengan tarif normal, bukan tarif promo, dan dengan jarak minimal tertentu. Tentu, parameter ini berbeda bagi setiap maskapai. Semakin sering anda bepergian, semakin seringlah akumulasi mileage-nya, dan semakin “kaya”-lah anda dari sisi mileage.

Lantas, apa keuntungan mendapatkan mileage? Banyak. Antara lain, anda bisa menikmati penaikan taraf atau kelas, misalnya dari ekonomi ke bisnis, atau bisnis ke kelas pertama. Lalu, anda bisa membeli tiket dengan mileage yang terkumpul, dengan harga tertentu sesuai kalkulator mileage. Keuntungan lain adalah seputar akomodasi hotel gratis atau diskon tertentu pada jasa dan barang yang disediakan mitra maskapai, misalnya executive lounge.

Ada pelaku perjalanan yang memang getol sekali memanfaatkan mileage ini, apalagi jika perjalanannya dibiayai oleh orang lain, misalnya perusahaan. Tak disadari, ia bisa membeli tiket gratis dari Jakarta ke Tokyo pulang pergi. Enak, bukan?

Lalu, apakah mileage itu hanya berlaku untuk satu maskapai? Hari ini, banyak maskapai yang mendirikan aliansi dengan maskapai-maskapai lain, yang kemudian berbagi manfaat mileage satu sama lain. Contohnya adalah SkyTeam, Star Alliance dan OneWorld. Sehingga, pelanggan maskapai tertentu bisa “menukarkan” atau menggunakan mileage-nya untuk mendapatkan manfaat di maskapai lain. Mileage yang diakumulasikan di suatu maskapai dapat dikonversikan ke sistem mileage maskapai lain. Ini sangat bermanfaat jika kita sering bepergian dan ada rute-rute tertentu yang tidak dilayani maskapai kesayangan, tapi dilayani maskapai lain dalam aliansi yang sama.

Bagaimana dengan penerbangan yang sudah berlalu? Apakah masih bisa dihitung akumulasi mileage-nya? Silakan cek maskapai yang dimaksud. Terkadang, kita bisa mengklaim kembali penerbangan yang lalu walaupun kita lupa menaruh nomor keanggotaan pada saat terbang. Prosedur ini disebut mileage accrual.

Nah, seberapa pentingkah mengumpulkan “mata uang angkasa” ini? Menurut saya, kita perlu memperhatikan poin-poin berikut. Jika sering bepergian, misalnya minimal lima sampai sepuluh kali setahun, anda bisa mempertimbangkan untuk mendaftar kepada program kesetiaan pelanggan sebuah maskapai. Tentu, pilih satu maskapai yang sering anda tumpangi, dan jika bisa memilih lebih lanjut, pilih maskapai yang terjalin dalam aliansi yang kokoh dan jaringannya luas. Dengan begini, anda tak perlu mendaftar untuk banyak sekali program serupa. Jangan lupa manfaatkan mileage dari waktu ke waktu sebelum habis masa berlakunya (biasanya setahun atau dua tahun). Tentunya, jangan sampai terlalu terobsesi sehingga menjadi tidak realistis dalam melakukan perjalanan, misalnya belanja tiket berlebihan, batal melakukan perjalanan karena tidak ada layanan ke sebuah destinasi, atau menjadi pelit dengan teman atau pasangan seperjalanan dengan memisahkan diri karena ingin menikmati tiket gratis.


Menjelajah Cepat Asia Tenggara dengan Bus

Catatan Editor: Kami meralat bagian perjalanan penulis memasuki Laos dari Thailand. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa perlu membuat dan membayar Visa on Arrival di imigrasi. Terima kasih. Mohon maaf atas kesalahan ini.

Cerita ini adalah pengalaman backpacking pertama saya ke luar negeri seorang diri. Semua dimulai dengan sebuah perjalanan dengan ojek ke pelabuhan kapal feri internasional di Batam Centre. Setelah melalui imigrasi, saya tumpangi kapal feri yang berangkat tepat pukul 17:45 meninggalkan Pulau Batam menuju Johor Bahru, Malaysia. Tarifnya Rp240.000 dan waktu tempuhnya adalah satu jam 45 menit.

Setibanya di pelabuhan feri Stulang Laut di Johor Bahru, Malaysia, saya mencari taksi menuju terminal bus Larkin. Jika Anda menemui calo, hindarilah dan langsung saja ke agen pejualan tiket. Tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jam keberangkatan 23.30 seharga RM31 saya beli tanpa pikir panjang. Jadwal ini adalah yang terakhir untuk hari itu. Lebih baik menaiki bus terakhir di malam hari karena perjalanannya cukup singkat, sekitar empat jam. Sampai di Kuala Lumpur saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk pagi menjelang.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Bus berangkat meninggalkan terminal bus Larkin. Tepat pukul empat pagi bus tiba di terminal bus Puduraya, Kuala Lumpur. Bus tidak memasuki kawasan terminal. Semua penumpang diturunkan di sisi luar terminal bus Puduraya tepatnya di sekitar perempatan sebuah jalan raya. Di tempat ini banyak juga penumpang lainnya yang sedang duduk menunggu waktu pagi tiba. Tak jauh dari tempat bus berhenti terdapat sebuah rumah makan yang buka 24 jam yang bisa dijadikan alternatif untuk menghilangkan rasa bosan selama menunggu waktu pagi.

Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand
Bus dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Hat Yai, Thailand

Ketika hari mulai terang, saya datangi terminal bus Puduraya yang terdapat di seberang jalan untuk membeli tiket tujuan Hat Yai, Thailand. Akhirnya tiket bus tujuan Kuala Lumpur, Malaysia – Hat Yai, Thailand saya dapatkan dengan harga RM50. Bus ini akan berangkat pukul sembilan pagi. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Saya manfaatkan sisa waktu ini dengan menjelajahi sebagian kecil dari kota Kuala Lumpur dengan berjalan kaki.

Tepat pukul sembilan pagi bus berangkat meninggalkan Kuala Lumpur. Pemandangan di kiri dan kanan sepanjang perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai, Thailand terlihat monoton karena didominasi oleh deretan pepohonan kelapa sawit.

Bus tiba di kantor imigrasi Malaysia di perbatasan. Semua penumpang turun dari bus untuk melakukan prosedur imigrasi. Selesai proses ini semua penumpang masuk kembali ke dalam bus untuk menuju kantor imigrasi Thailand yang waktu tempuhnya sekitar tiga menit.

Tak lama kemudian bus tiba di Hat Yai, Thailand sekitar pukul tujuh malam. Tanpa menunggu lama, saya mencari tiket tujuan Phuket. Tiket Hat Yai ke Phuket ini tarifnya ฿400.

Tepat pukul 20.30 bus berangkat meninggalkan Hat Yai menuju Phuket. Kali ini bus terlihat sedikit lusuh. Sekitar pukul empat pagi bus tiba di Terminal Bus Phuket. Suasana di terminal tampak sepi dan hanya ada beberapa penumpang yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Terminal bus Phuket ini terbuka dan tidak dibatasi oleh tembok, sehingga dapat didatangi siapa saja termasuk penyedia jasa ojek yang akan mencari penumpang.

Hari masih tampak gelap. Namun beberapa loket penjualan tiket sudah mulai buka. Saya tak akan lama di sini, karena tujuan berikutnya sudah di depan mata: Bangkok. Setelah terjadi tawar-menawar dengan petugas loket di sini, akhirnya tiket Phuket – Bangkok seharga ฿470 saya dapatkan. Seperti biasa, jadwal terakhir pukul 19.30 malam nanti menjadi pilihan. Hasilnya, saya memiliki waktu seharian untuk berkeliling Phuket.

Matahari masih bersembunyi di ufuk timur. Waktu Subuh masih tersisa. Saya mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar terminal mengenai keberadaan mesjid terdekat. Sempat ragu tentang adanya mesjid, namun terpatahkan oleh tawaran penyedia jasa ojek yang bersedia mengantarkan ke mesjid terdekat dengan tarif ฿40.

Mesjid yang diberi nama Yameay ini bentuknya cukup besar, bersih, dan nyaman. Saat memasuki mesjid, saya berpapasan dengan seorang pria paruh baya menggunakan sorban putih yang ternyata bisa berbahasa Melayu.

Saya menuju pelabuhan Phuket, tempat berlabuhnya kapal wisata, lalu memutuskan membeli paket tur ke teluk Phang Nga. Rata-rata penumpang di kapal ini didominasi oleh turis berambut pirang, hanya beberapa saja yang berwajah Asia. Dari kejauhan tampak beberapa deretan pulau berbentuk bukit besar yang ditutupi oleh tumbuhan hijau. Semakin kapal mendekat semakin jelas terlihat keindahan dan eksotisme Pulau Phi-Phi, salah satu pulau di teluk ini. Subhanallah. Selama lebih kurang 20 menit para penumpang dimanjakan untuk menyaksikan keindahan pulau yang pernah menjadi lokasi syuting film “The Beach“-nya Leonardo Di Caprio ini.

Setelah puas menikmati keindahan Pulau Phi-Phi, melakukan snorkeling dan makan siang, kapal beranjak pulang menuju Phuket. Semua penumpang tampak kelelahan dan memilih beristirahat di kursi masing-masing. Ketika sampai di pelabuhan, satu per satu penumpang turun dari kapal dan menuju bus masing-masing. Saya menaiki bus yang khusus mengantarkan langsung ke terminal bus Phuket bersama beberapa penumpang lainnya.

Saatnya tiba untuk menaiki bus yang akan membawa saya ke Bangkok. Perjalanan ini memakan waktu lebih kurang 14 jam. Di akhir perjalanan, sinar matahari mulai benderang. Mentari perlahan beranjak naik. Tampak dari kejauhan gedung-gedung pencakar langit kota Bangkok. Sepintas wujud Bangkok mirip dengan Jakarta.

Sekitar pukul delapan pagi bus tiba di Terminal Chatuchak Bangkok. Selama sehari saya menghabiskan waktu di Bangkok untuk berkeliling. Puas menikmati pemandangan kota Bangkok yang tidak jauh berbeda dengan Jakarta ini, saya kembali ke terminal bus untuk menuju kota selanjutnya, yakni Nong Khai, masih di negara yang sama.

Bus akan berangkat sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Lama perjalanan dari Bangkok menuju Nong Khai adalah sekitar delapan jam.

Bus tiba di Nong Khai, Thailand, sekitar pukul empat pagi. Hari masih gelap. Suasana di terminal tampak sepi. Hanya terlihat beberapa penumpang saja yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu dan beberapa pekerja sekitar terminal.

Nong Khai adalah kota yang terletak di timur laut Thailand, tepat berbatasan dengan Laos. Saya menuju kantor imigrasi Thailand dengan menggunakan tuk-tuk seharga ฿60. Saya melewati jembatan persahabatan Thailand – Laos dengan bus khusus perbatasan bertarif ฿20. Lama perjalanan melintasi perbatasan hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Warga negara Indonesia sekarang bisa memasuki Laos tanpa Visa on Arrival, hanya menunjukkan paspor.

Roti Baguette Khas Laos
Roti Baguette Khas Laos

Kota Vientiane sangat berdebu, sehingga kurang nyaman. Karena bertepatan dengan hari Jumat, saya pun menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Jumat di Mesjid Jamia.

Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos
Sholat Jumat di Masjid Jamia, Vientiane, Laos

Setelah puas menikmati Vientiane, terminal bus lokal saya sambangi untuk mencari tiket tujuan Hanoi, Vietnam. Bus Vientiane, Laos – Hanoi, Vietnam dapat merupakan Sleeper Bus yang kursinya berbentuk tempat tidur sehingga posisi kaki hanya bisa lurus ke depan. Sekitar pukul dua dini hari bus tiba di perbatasan Laos – Vietnam, tepatnya di kota kecil Nam Phao, Laos. Di perbatasan ini bus berhenti menunggu hingga kantor imigrasi Laos buka di pagi hari. Banyak juga bus lainnya yang berhenti dan menunggu di sini.

Ketika hari mulai terang, saya dan beberapa penumpang lainnya turun sebentar membersihkan diri di sebuah toilet umum yang tidak jauh dari tempat pemberhentian bus. Udara sangat dingin. Seluas mata memandang saya hanya melihat perbukitan berkabut. Kantor imigrasi mulai buka dan petugas bus mengurus inspeksi paspor para penumpangnya. Selain warga negara Laos atau Vietnam penumpang diharuskan untuk datang sendiri ke imigrasi.

Selesai melakukan inspeksi paspor, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan menuju imigrasi Vietnam. Jarak dari imigrasi Laos ke imigrasi Vietnam sangat dekat. Tidak sampai lima menit bus sudah sampai di kantor imigrasi Vietnam, tepatnya di kkota Cau Treo. Semua penumpang turun kembali untuk melakukan inspeksi paspor. Suasana di sini tampak berkabut. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter. Warga negara Indonesia tidak perlu visa kunjungan ke Vietnam.

Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo
Pemeriksaan Sebelum Memasuki Vietnam di Cau Treo

Perjalanan dilanjutkan ke Hanoi. Hujan turun tidak begitu deras menemani perjalanan pagi ini. Bus berhenti di tempat peristirahatan untuk makan siang. Semua penumpang diharuskan turun walau tidak ikut makan siang. Hal ini dilakukan oleh petugas bus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang. Di tempat peristirahatan ini Saya tidak ikut makan karena takut tidak terjamin kehalalannya.

Selama perjalanan menuju Hanoi, pemandangan menyuguhkan deretan perbukitan, hutan, sungai, hamparan sawah dan kehidupan warga di sekitar perbatasan Vietnam yang masih banyak menggunakan sepeda sebagai alat transportasi.

Sekitar pukul tujuh malam bus tiba di terminal bus Hanoi. Menggunakan taksi, saya menuju Old Quarter untuk mencari penginapan. Penginapan hostel bertarif lima dolar AS per malam saya dapatkan. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat.

Hari kedua di Vietnam. Saya mulai bersiap-siap untuk mengunjungi Halong Bay yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban alam di dunia. Tepat pukul delapan pagi seorang pemandu wisata tur ke Halong Bay mendatangi hostel untuk menjemput. Bus yang saya tumpangi berkeliling Old Quarter untuk menjemput turis lainnya.

Perjalanan dari Hanoi ke Halong Bay memakan waktu sekitar tiga jam. Setibanya di Halong Bay peserta tur memasuki pelabuhan dan diajak menikmati keindahan lokasi ini dengan kapal wisata yang bercorak tradisional, menyusuri perbukitan karst. Peserta tur puas menikmati Halong Bay yang eksotis dan menyaksikan gua stalaktit dan stalagmit.

Eksotisme Halong Bay
Eksotisme Halong Bay

Setelah kapal merapat di pelabuhan, peserta tur turun dari kapal dan menuju bus untuk selanjutnya diantar ke tujuan masing-masing. Bus berjalan membawa seluruh peserta tur untuk menikmati perjalanan tiga jam menuju Hanoi.

Hari ketiga di Hanoi, saya tak memiliki agenda khusus. Pilihan jatuh pada mengelilingi Old Quarter. Tempat-tempat menarik di sekitar wilayah ini adalah Danau Hoan Kiem dan Mesjid Hanoi. Karena kelelahan, saya pulang ke hostel dan tertidur pulas hingga pukul 10 malam.

Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam
Pesona Danau Hoan Kiem, Hanoi, Vietnam

Memasuki hari terakhir di Hanoi. Selasa, 29 November 2011, saya mulai berkemas mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa. Tertera di tiket bahwa pesawat yang akan saya naiki akan berangkat pukul 10.45 waktu setempat. Bis dari kota Hanoi ke bandara memakan waktu 45 menit. Perjalanan Hanoi – Singapura ini membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Sesampainya di Singapura, saya langsung menaiki MRT (Mass Rapid Transit) ke stasiun HarbourFront, lalu menuju pelabuhan feri yang akan membawa saya kembali ke Batam.

Tepat pukul 20.00 kapal feri berangkat meninggalkan Singapura. Perjalanan dengan kapal feri ke Batam ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Persediaan Rupiah sudah mulai menipis. Saat sudah terasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah tiba-tiba seorang tukang ojek menawarkan ojeknya sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”

  • Disunting oleh SA 18/01/12, 17/01/12
  • ฿ = Baht Thailand, silakan cek kurs terkini di Google
  • RM = Ringgit Malaysia, silakan cek kurs terkini di Google

“Low-Cost Terminal”, Terminal Tepat Sasaran

Tersedianya layanan dari maskapai penerbangan berbiaya rendah (“low-cost airlines”) memudahkan kita untuk merealisasikan rencana perjalanan lintas kota dan negara. Maskapai ini menerapkan beberapa strategi yang memungkinkan untuk menjual tiket dengan harga sangat murah kepada calon penumpang.

(Sekarang kita bisa melakukan perjalanan pulang pergi hanya dengan Rp. 500.000 untuk rute Jakarta-Bangkok dengan AirAsia. Di Eropa, tiket pulang pergi Barcelona-London dengan easyJet hanya berkisar €200. Lalu di Amerika, kita bisa terbang Seattle-San Francisco dengan Southwest Airlines dengan membayar $90 saja.)

Strategi yang paling terlihat jelas adalah tidak adanya layanan gratis dalam pesawat, seperti makanan ataupun surat kabar. Strategi lainnya bisa berupa utilisasi satu jenis pesawat (umumnya Boeing seri 737 atau Airbus 320) sehingga biaya perawatan bisa diminimalisir; maskapai juga memiliki jadwal terbang yang padat dan mengurangi waktu tidak produktif di bandara.

Menurut Center of Asia Pacific Aviation, pada tahun 2001, kapasitas yang ditawarkan maskapai berbiaya rendah ini sekitar 8% dari total trafik dunia. Tahun 2011, meningkat menjadi 24.4%.

Meningkatnya jumlah layanan maskapai berbiaya rendah ini mendorong bandara untuk melakukan ‘penyesuaian’. Beberapa bandara di dunia telah menyediakan terminal khusus untuk melayani maskapai jenis ini. Terminal ini memiliki terminologi yang seirama: terminal berbiaya rendah (“low-cost terminal”).

Terminal didesain sesuai kebutuhan, yaitu menitikberatkan pada efisiensi, bukan pada keindahan atau kemewahan. Terminal dibangun dengan investasi minimum, namun diharapkan bisa menunjang proses keberangkatan dan kedatangan penumpang dengan lebih efisien dari segi biaya dan waktu. Di antaranya:

  • Menyediakan layanan self check-in, sehingga maskapai bisa mengurangi jumlah staf; lebih banyak kaunter tersedia dengan waktu proses lebih cepat
  • Menggunakan satu ruang tunggu (common room) untuk seluruh keberangkatan, sehingga mengurangi kebutuhan ruang
  • Letak apron pesawat dan bangunan terminal berdekatan, sehingga tidak diperlukan fasilitas air bridge atau jembatan penghubung (yang tidak disukai oleh maskapai karena biaya sewanya yang cukup mahal)

Terkadang maskapai juga menuntut operator bandara untuk memberikan tarif yang lebih murah. Tahun 2001-2004, Ryanair memperoleh diskon 50% untuk landing charges di bandara Charleroi, London. Alasannya, maskapai ini membantu meningkatkan trafik bagi bandara tersebut.

Terminal ini akan mengurangi fasilitas yang tidak esensial. Tidak ada taman zen seperti di bandara Dubai, ataupun kolam renang seperti di bandara Changi. Karena kesederhanaannya ini, seorang arsitek berkomentar (dan dikutip oleh Richard de Neuvfille, pakar penerbangan di MIT), “low-cost terminal has the charm of a high school gymnasium”.

Hingga saat ini ada 12 terminal berbiaya rendah di dunia, tujuh di Eropa, tiga di Asia, dan dua di Amerika:

  • Terminal 2 di bandara Tampere Pirkkala, Finlandia (beroperasi sejak 2003)
  • Terminal 1 di bandara Budapest, Hungaria (2005)
  • Pier H dan M di bandara Schiphol, Belanda (2005)
  • Concourse A/B di bandara Baltimore, Amerika Serikat (2005)
  • Terminal 2 di bandara Marseille, Perancis (2006)
  • Low-Cost Carrier Terminal (LCCT) di bandara Kuala Lumpur, Malaysia (2006)
  • Budget Terminal di bandara Changi, Singapura (2006)
  • Terminal 3 di bandara Lyon, Perancis (2008)
  • Terminal 5 di bandara John F. Kennedy, Amerika Serikat (2008)
  • Budget terminal di bandara Zhengzhou, Cina (2008)
  • Terminal Bordeux Illico di bandara Bordeaux, Perancis (2010)

Kebanyakan terminal ini merupakan terminal penumpang maupun barang yang didesain dan dibangun ulang. (Bahkan, budget terminal di bandara Zhengzhou hanya berasal dari international hall terminal lama yang direnovasi!).

Bagaimana jika dilihat dari sisi fasilitas restoran? Apakah juga bersifat ‘berbiaya rendah’? Tidak juga. Beberapa terminal memiliki pilihan makanan dan minuman yang cukup bervariasi dan memuaskan. Alasannya, karena penumpang tidak memperoleh makanan gratis di pesawat, maka penumpang cenderung untuk menggunakan fasilitas makan dan minum di terminal.

Variasi restoran tersedia mulai dari restoran cepat saji, kaunter “grab-and-go“, juga restoran bertempat duduk. Terminal 5 JFK bahkan selangkah lebih maju dengan menyediakan lebih dari 200 monitor sentuh di seluruh bagian terminal di mana penumpang bisa memesan makanan minuman dan membayarnya dengan kartu kredit.

Menggunakan terminal ini sebagai titik keberangkatan atau kedatangan tidak akan mengurangi nilai perjalanan kita. Walau kemewahan merupakan satu nilai tambahan dari bandara (yang jelas tidak didapat di terminal ini), namun yang terpenting adalah mendapati fasilitas yang esensial. Tepat sasaran.

  • Disunting oleh SA 15/10/2011

Menghabiskan Waktu di Bandara

Papan pengumuman bandara
Papan pengumuman di bandara.

Umumnya semua proses dari bepergian selalu menyenangkan. Dari mulai saat memilih milih lokasi tujuan, menghitung anggaran yang dibutuhkan, mencari informasi melalui blog pejalan, membanding-bandingkan harga tiket yang murah, memilih lokasi penginapan, mencari tahu acara atau festival yang akan berlangsung, membuat rencana perjalanan, membuat daftar belanja, berkemas, cuci mata dan mengkritisi bandara keberangkatan, naik pesawat sampai duduk di dalam pesawat hingga mendarat di kota selanjutnya. Terkadang penumpang pesawat diharuskan transit beberapa saat di bandara tertentu, ini pun bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Tapi bagaimana dengan penumpang transfer dengan waktu transit yang panjang? Rekor transit saya pribadi pernah selama 20 jam! Berikut aktivitas yang saya lakukan untuk menghabiskan waktu:

Eksis di Dunia Maya

Kios internet yang disediakan bandara menjadi tempat pelarian untuk mengakses internet. Maklum, saya cuma bawa ponsel selama dalam perjalanan. tidak membawa komputer jinjing, tidak punya iPad, ponsel pintar ataupun gadget sejenisnya. Aktivitas yang saya lakukan sekedar membaca dan mengirim e-mail, memperbaharui status, atau nge-twit laporan pandangan mata.

Memanjakan Mata

Bandara internasional saat ini sudah layaknya seperti pusat perbelanjaan, tapi sayangnya bukan tempat yang tepat untuk berbelanja. Karena tidak ada pesaing, otomatis harga yang dipasang agak tinggi. Tapi, masih ada yang bisa dilakukan tanpa harus membeli, seperti mencoba-coba alat elektronik yang dipajang, membaca buku dan majalah, mencoba berbagai contoh parfum atau kembali menjadi anak kecil dengan mencoba berbagai mainan anak-anak!

Memanjakan Lidah

Ini wajib hukumnya apalagi kalau baru mendarat dari pesawat low-cost. Manjakan lidah anda dengan berbagai pilihan makanan dan minuman yang lezat. Biasanya yang saya pesan makanan bercita rasa lokal. Pernah ketika di bandara udara Suvarnabhumi Bangkok, walaupun hanya tersisa 20 menit sebelum naik ke pesawat, saya masih memaksakan memesan tom yam udang, pad thai, lumpia isi sayur dan Thai iced tea. Yang ada malah makan terburu-buru.

Kembali ke Alam

Taman Kupu-Kupu di Bandara Changi, Singapura
Taman Kupu-Kupu di Bandara Changi, Singapura.

Bosan terkurung di balik dinding beton dan kaca? Beberapa bandara memiliki fasilitas taman dalam bandara, tempat yang tepat untuk menghindar dari keramaian penumpang. Taman hutan hujan tropis bandara internasional Kuala Lumpur, taman minimalis zen bandara internasional Dubai, apalagi bandara Changi, Singapura yang menyediakan beragam jenis taman mulai dari taman kupu kupu, taman kaktus, taman pakis, kolam ikan koi, taman anggrek, taman bunga matahari hingga taman yang hanya khusus ditanami jenis tumbuhan yang menghasilkan bau yang wangi.

Nge-Lounge

Tempat yang boleh dicoba untuk bersantai dan menikmati aneka pilihan makanan mulai dari makanan pembuka hingga pencuci mulut dan minuman, semua tersedia selama 24 jam. Menggunakan fasilitas internet, membaca beberapa majalah yang tersedia, atau bersantai di sofa yang nyaman. Di beberapa ruang tunggu eksklusif tertentu malah disediakan kursi pijat, kamar mandi hingga tempat beristirahat. Tidak memiliki status elit maskapai penerbangan? ada beberapa ruang tunggu eksklusif yang terbuka untuk umum, tentunya dikenakan biaya untuk menggunakan semua fasilitas yang tersedia.

Keluar Bandara

Apabila memiliki cukup waktu, keluar dari bandara dan melakukan perjalanan singkat ke pusat kota merupakan pilihan yang tepat. Bandara Hongkong dan Singapura misalnya, tersedia infrastruktur transportasi yang memudahkan penumpang untuk bepergian. Malah Bandara Changi menyediakan fasilitas gratis city tour selama dua jam untuk penumpang yang transit lebih dari 5 jam. Tapi ada kalanya ketika sedang mengirit dan harga visa on arrival yang mahal, menunggu di dalam bandara menjadi satu-satunya pilihan.

Berburu Foto

Saya kebetulan memiliki hobi fotografi dan buat saya kamera sama pentingnya dengan paspor. Berburu foto di dalam bandara cukup mengasyikkan. Banyak objek yang bisa difoto mulai dari tampilan produk, aktivitas penumpang dan kru pesawat, interior bandara sampai makanan dan minuman.

Mengamati Manusia

Tanpa disadari kita selalu mengamati manusia-manusia lain di sekitar kita, dan ternyata ia merupakan kegiatan yang menyenangkan. Di dalam ruang merokok saya suka menguping topik pembicaraan orang lain dan gaya mereka berbicara, melirik nama yang tersemat di pakaian atau melalui kartu identitas yang tergantung, terkadang ditemukan nama yang lucu, atau memperhatikan kotak rokok yang mereka hisap, kalau Gudang Garam, sudah tidak salah lagi pasti mereka dari Indonesia.

Berinteraksi Dengan Penumpang Lain

Berbincanglah dengan penumpang lain, sekedar menanyakan dari mana, mau ke mana, sampai pembicaraan yang akan berkembang ke topik lainnya. Giliran mereka menanyakan dari mana saya berasal, saya selalu meminta mereka menebak dan sampai saat ini belum pernah menemukan jawaban yang tepat. Jangan mengajak bicara penumpang yang sedang membaca buku atau sibuk dengan alat elektroniknya, biasanya mereka tidak mau diganggu apabila sedang melakukan hal lain.

Menikmati Keheningan

Ketika sudah tidak ada hal yang menarik dilakukan, gunakan fasilitas quiet room di mana tersedia kursi malas yang bisa digunakan untuk beristirahat. Terkadang, saya membawa selimut yang tersedia di dalam kabin pesawat apabila akan transit dalam waktu yang lama.

  • Disunting oleh SA 11/09/2011

Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil