Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.