Pejalan pemula, yang biasanya masih mahasiswa atau baru saja bekerja, dan ingin melakukan perjalanan ke luar negeri biasanya bertanya-tanya, apakah mereka butuh kartu kredit. Jangankan untuk perjalanan, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin belum merasa perlu untuk memilikinya. “Takut boros,” atau “tidak penting dan tidak butuh,” adalah salah satu di antara alasannya. Ada juga yang mungkin beralasan, “tidak mampu membiayainya.”

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan utama kenapa kita butuh kartu kredit di perjalanan, tidak hanya uang tunai. Uang tunai tentu penting dalam perjalanan, karena ia adalah metode pembayaran yang paling jelas dan dapat diterima. Namun, bayangkan jika kita harus membawa uang tunai sampai beribu-ribu dolar Amerika untuk membiayai dua minggu perjalanan kita ke Cina, misalnya. Apakah itu tidak riskan juga? Tidak hanya soal kecopetan atau kehilangan, tetapi soal ketenangan pikiran dan bagaimana membawanya ke mana-mana. Lebih lagi, banyak penukar uang di Indonesia yang kemudian tidak menerima uang kertas asing yang rusak karena kita masukkan tas atau dilipat-lipat.

Alternatif kedua, tentu saja, kita dapat membawa kartu debit dengan jaringan internasional, yang bisa digunakan untuk tarik tunai di berbagai ATM di luar negeri. Walau dengan biaya dan kurs yang mungkin tidak sesuai keinginan, tetap saja ini menjadi opsi yang menarik dari segi kepraktisan. Namun, sekali lagi, ada hal-hal yang tidak bisa kita bayarkan dengan kartu debit. Misalnya, membeli tiket pesawat online, membayar hotel atau hostel, atau pengeluaran yang “agak besar” lain terutama yang berhubungan dengan transportasi dan akomodasi.

Kartu kredit menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi kesulitan pembayaran mayor, terutama untuk transportasi dan akomodasi. Pernah pesawat saya dari Frankfurt, Jerman, tidak bisa mendarat di Jakarta, Indonesia karena Gunung Merapi dikatakan dalam tahap waspada. Saya diturunkan di Singapura. Karena tidak punya tiket ke Jakarta, saya dengan sigap membuka komputer jinjing dan membeli tiket Garuda Indonesia di situs webnya dengan kartu kredit. Lain cerita, saya salah bandara di Narvik, Norwegia, dan terpaksa tertinggal pesawat. Karena terburu-buru, saya membeli tiket baru lagi dengan kartu kredit, alhasil, saya bisa naik pesawat yang berangkat satu jam kemudian! (Tentu, jangan ditanya berapa harga kursi dadakan ini.)

Beberapa hostel atau hotel membutuhkan deposit atau melunasi seluruh jumlah malam. Bagaimana jika kita tidak sempat membawa uang tunai atau belum menukarnya ke mata uang lokal? Kartu kredit dengan jaringan internasional yang baik akan menjadi penyelamat.

Tentu, menggunakan kartu kredit untuk perjalanan harus dengan bijak. Bukan berarti kita harus impulsif atau jor-joran. Semua tetap dalam koridor perencanaan awal. Buat saya, jika saya membawa uang seribu dolar Amerika, saya hemat-hemat uang tunai dan sebanyak mungkin menggunakan kartu kredit. Siapa yang tahu kita membutuhkan uang tunai di kemudian hari dalam perjalanan kita.