Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”

Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.


Wah, unyu juga, ya, background-nya?

Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.


Menambahkan lampiran seperti gambar


Jadinya ada preview seperti ini

Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.

Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?

Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:


Contoh itinerary per hari

Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.

Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.