Berbagai pilihan kamera!

Merekam kegiatan selama perjalanan adalah hal utama yang harus dilakukan, selain tentu saja menikmatinya secara langsung. Kenangan yang didapat dari memori bisa hilang atau tergerus dengan memori selanjutnya, tapi dengan bantuan alat perekam seperti kamera atau tulisan, perjalanan menjadi monumen yang lebih konkrit, dapat kita rujuk berkali-kali di masa akan datang, semoga sampai ke generasi anak cucu kita.

Kamera apakah yang kita diskusikan di sini? Dua jenis kamera: kamera fotografi (still photography) dan kamera video.

Banyak dari kita yang sudah memiliki kamera untuk merekam kegiatan sehari-hari, tak hanya perjalanan. Tapi ada juga yang masih mencari, atau memang merencanakan untuk memaksimalkan perekaman perjalanan dengan perangkat yang lebih memberikan fleksibilitas dan kemudahan. Ingat, kata kuncinya adalah fleksibilitas dan kemudahan, karena seberapa bagus pun kualitas kameranya, secara teknis fotografi, tetap manusia di belakang alatnya yang menentukan apakah hasil foto itu bagus atau tidak. Kamera-kamera lebih canggih, mahal dan yang memiliki fitur terkini bukan berarti dapat secara otomatis menghasilkan foto yang lebih baik! Kemajuan teknologi hanya membuat segalanya menjadi lebih fleksibel dan mudah. Misalnya, jika dulu kita harus “sedikit” repot dengan membeli dan memasang film, kini tidak lagi. Kamera digital sekarang juga memiliki layar elektronik sehingga kita tak perlu memicingkan mata lewat viewfinder.

Sebelum membeli kamera baru, perlu diperhatikan pertimbangan berikut ini:

Tujuan dokumentasi

Apa yang kita inginkan dari dokumentasi perjalanan kita? Apakah sebatas sebagai album yang kita lihat di kemudian hari? Atau sebagai sarana belajar fotografi dan menangkap momentum? Atau mungkin, bagian dari proyek kreatif pribadi (misalnya, kita bisa membuat film pendek ala dokumenter yang kemudian bisa kita tunjukkan ke teman-teman dan keluarga)?

Portabilitas

Setelah menentukan tujuan di atas, kita bisa menentukan seberapa banyak atau seberapa besar yang bisa kita bawa. Hal ini tidak hanya melihat dari seberapa jauh kita ingin mendedikasikan waktu kita untuk dokumentasi, tapi juga jenis kegiatan dan destinasi. Tidak pantas, misalnya, membawa begitu banyak peralatan jika kita berada di tengah keluarga yang justru membutuhkan perhatian lebih dari kita. Atau, tidak membawa tripod ketika ada kans bagus untuk mengambil foto long exposure. Umumnya, untuk perjalanan pribadi atau wisata yang cenderung santai, kita tak perlu membawa begitu banyak lensa dan kamera. Cukup satu kamera berkualitas, mata yang jeli, serta pengetahuan yang memadai.

Bagaimana dengan membawa dua jenis kamera? Misalnya, kamera Digital-Single Lens Reflex (D-SLR) dan kamera saku point-and-shoot? Kalau kita jalan sendirian, rasanya kurang praktis. Memang, ada kredo yang mengatakan bahwa D-SLR kita bawa ketika kita ingin menangkap momentum yang lebih ‘serius’ atau ‘teknis’, lalu secara bersamaan kita bawa kamera saku, yang sewaktu-waktu bisa kita keluarkan ketika momentum bagus tiba-tiba muncul dengan cepat. Kamera D-SLR tidak dapat menangkap momentum ini secepat kamera saku, misalnya. Tapi menurut saya, selama kita bukan fotografer professional yang sedang bekerja dalam sebuah penugasan, atau benar-benar mendedikasikan sepenuhnya waktu berlibur kita untuk dokumentasi, rasanya tak perlu membawa dua kamera sekaligus. Istilahnya, kalap, karena kita punya semua, maka harus semuanya. Dokumentasi adalah suatu seni juga, tujuannya bukan merekam sebanyak-banyaknya (kecuali memang ingin begitu), tetapi bagaimana semua direncanakan dengan matang, sehingga kita lebih selektif dalam merekam. Percayalah, berapa banyak foto-foto yang tak kita gunakan atau benar-benar dibanggakan?

Pengetahuan dan Pengalaman

Banyak yang bisa membeli kamera sangat mahal tapi ternyata hasilnya tidak nyata atau biasa saja. Bagaimana hasil yang nyata itu? Mungkin kita punya situs Flickr yang aktif, dan tidak hanya memotret ketika liburan. Atau, punya photoblog yang rutin diisi. Atau, kita seorang profesional. Yang jelas, kita memang punya antusiasme terhadap fotografi sehingga pengetahuan yang dimiliki pun memadai. Punya kamera mahal, tapi digunakan. Pengalaman dan jam terbangnya tinggi.

Jika memang siap untuk meginvestasikan uang dalam bentuk kamera yang mahal, ada baiknya diimbangi dengan dedikasi yang “mahal” juga. Jangan sampai sudah beli kamera mahal-mahal tetapi hasilnya tetap “sama” saja dengan kamera lebih murah. Yang membedakan adalah tujuan-tujuan spesifik, misalnya dalam kasus kamera D-SLR vs. kamera saku, D-SLR lebih unggul dalam menangkap objek-objek bergerak. Semuanya kembali ke tujuan dokumentasi di atas.

Membawa terlalu banyak kamera tapi naif menggunakannya juga membuat kita tampak seperti turis yang terlalu sibuk dengan hal-hal teknis tapi lupa menangkap dan merasakan momentum yang sebenarnya!

Membawa begitu banyak kamera, inginkah kita?

Anggaran

Faktor ini yang paling bisa diukur. Seberapa banyak uang yang mau kita keluarkan (atau, investasikan) untuk sebuah perangkat dokumentasi, baik itu kamera fotografi atau video. Ada yang berpendapat bahwa kita harus menganggap pembelian sebuah kamera sebagai sebuah investasi, dalam arti, uang yang benar-benar dihabiskan adalah setara jumlah penyusutan nilai barang ketika dijual lagi. Jadi, misalnya, kita beli kamera yang kemungkinan besar masih dicari orang di masa akan datang, sehingga ketika dijual lagi, turunnya nilai jual tidak terlalu jauh. Selisih antara nilai waktu dibeli dan dijual inilah yang sebenarnya kita bayar. Menurut saya, jangan ragu untuk berinvestasi di kamera yang kualitas dan reputasinya sangat baik. Mungkin permintaannya juga tinggi.

Kesimpulannya, jangan sampai besar pasak daripada tiang. Tidak hanya soal uang, tapi juga soal manusianya. Tujuan utama dari perjalanan adalah menangkap pengalaman yang tak bisa ditangkap oleh alat buatan manusia. Kecuali kita seorang profesional yang ditugaskan untuk meliput, ada baiknya kita teguh pada nalar dan kepraktisan kamera itu sendiri.

Disunting oleh ARW 26/09/10 & SA 15/11/10