Mungkin Anda teringat dengan catatan saya tentang perjalanan yang gagal? Kalau dipikir kembali, selain faktor kurang matangnya perencanaan, ada hal lain yang banyak menyebabkan rencana perjalanan itu jadi berat. Ya betul, karena kami berkeluarga.

Membuat rencana perjalanan bagi keluarga tampak jauh lebih rumit. Ada banyak hal yang harus dipikirkan: orang yang lebih banyak, tujuan spesifik dan harus cocok bagi seluruh anggota keluarga, transportasi yang tidak bisa sembarangan, pemilihan waktu dan lama kunjungan yang lebih santai, dan pada akhirnya semua bermuara pada bujet yang lebih banyak.

Jumlah orang yang lebih banyak tentu akan membuat rencana perjalanan lebih kompleks daripada perjalanan seorang atau dua orang. Apalagi dengan anak kecil, hal itu akan menambah persyaratan ke banyak hal lainnya. Yang paling utama terpengaruh adalah waktu kunjungan yang lebih lama. Jangan sampai keluarga (atau anak) jatuh sakit karena punya niat menghemat waktu lalu memutuskan mengunjungi dua atau tiga lokasi dalam satu hari. Mungkin mereka menikmatinya, tapi ketika kembali ke hotel barulah keluhan atau gejala kelelahan itu akan muncul. Waktu yang lebih lama berakibat pada bujet akomodasi yang lebih banyak.

“Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri.”

Tujuan jalan-jalan keluarga juga terbatas, kalau tidak bisa dibilang kurang menantang. Lokasi wisata yang terlalu keras (adventure) harus dihindari. Apakah tempat yang harus dikunjungi itu harus familiar dengan dunia anak, mungkin tidak harus. Kita bisa saja mengajak anak ke museum sambil mengenalkan banyak pengetahuan baru baginya. Jadi lupakan saja wisata petualangan, kecuali anak sudah pada usia cukup, dan ini berarti di atas 7 tahun. Anda bisa menunggu anak 7 tahun? Sabarlah.

Pertimbangan penting lainnya adalah makanan, apalagi kalau anak masih kecil. Contohnya selain tidak boleh pedas, makanan harus sudah familiar dengan si anak. Bayangkan kalau anak kita tidak mau makan hanya karena ia punya alasan “Aku tidak suka makanan itu karena ia banyak bintik hitam-hitamnya”, “Aku tidak suka mie dicampur sama jamur dan lain-lain”, “Aku tidak suka ada kentangnya dikasih keju”, dan masih banyak alasan lain. Beruntunglah orang tua yang selalu bisa mengenalkan makanan baru pada anaknya. Anak seperti ini adalah jenis yang sudah siap untuk jalan-jalan.

Transportasi bagi keluarga juga tidak bisa macam-macam. Bukan berarti harus kelas eksekutif atau harus pesawat, biar perjalanan lebih cepat. Tetapi mungkin tidak akan bisa mencoba kereta semacam kelas ekonomi. Atau kita tidak bisa mencoba jeep, kalau anak masih terlalu kecil.

Belum lagi kalau Anda dan istri juga bekerja. Mencari cuti bagi kita sendiri saja sudah cukup susah apalagi bisa memadukan cutinya dua orang. Apalagi kalau anak sudah sekolah jangan sampai dibuat pusing untuk mencari padanan waktu yang tepat untuk tiga orang atau lebih ini.

Saya menulis ini bukan karena menyesal sudah menikah dan mempunyai anak kecil usia empat tahun. Tulisan ini saya buat sebagai tips bagi mereka yang menunda untuk jalan-jalan selagi mereka muda. Ketika saya cerita sama istri akan menulis ide tulisan ini, dia langsung menjawab, “Ya, setuju itu. Semua orang muda harus memanfaatkan waktunya sesegera mungkin untuk jalan-jalan keliling dunia.” Tiap orang punya kesempatan dan jalan yang berbeda. Saya menikmati dan selalu ingin melakukan perjalanan bersama keluarga, bila kesempatan memungkinkan. Ada saat jalan-jalan sendiri atau bersama istri saja, dan saat itu adalah waktu yang kurang menyenangkan, entah karena kangen atau sebab lain. Saya juga ingin memberi putri saya kesempatan yang berbeda dengan saya. Saya hanya mengenal tanah Jawa dan pulau-pulau sekitarnya. Saya berharap banyak anak saya bisa mengenal negara, bahasa, dan orang dari seluruh penjuru dunia. Saya akan bahagia kalau bisa menemani dan menjawab semua pertanyaannya.

Berkelanalah sebelum menikah. Jelajahi seluruh dunia ini satu atau dua kali sebelum Anda mendapat kesulitan bahkan sebelum merencanakan rencana perjalanan itu sendiri. Setiap perjalanan itu akan sangat berharga bagi kehidupan Anda di masa mendatang, baik karir atau kehidupan keluarga. Jangan sampai uang habis hanya untuk ganti gadget saja. Harga dua telpon seluler canggih yang Anda pakai dalam dua tahun mungkin cukup untuk tiket pesawat ke Eropa. Jadi, backpacking-lah ke Eropa atau ke Amerika Latin atau Afrika selagi Anda muda. Jangan menunggu dan menyesal belakangan.

  • Disunting oleh SA 27/05/10