Banyak dari kita yang bepergian dengan membawa perangkat komunikasi seperti telepon seluler yang memiliki kemampuan koneksi data, sehingga bisa mengakses internet ketika di perjalanan. Bagi yang aktif di Twitter, pasti tidak ketinggalan untuk melakukan kegiatan “tweeting” atau “ngetwit”. Kapan lagi bisa ngetwit, “Saya lagi di Tembok Cina! Cuacanya cerah dan langitnya biru!”, atau “Okonomiyaki yang asli ternyata enak, ya! [Masukkan TwitPic di sini]”. Dengan begini, tujuannya biasanya memberitahu follower tentang kegiatan kita selama di perjalanan. Lebih cepat dari email dan blog.

Tapi sayangnya, semua itu akan hilang dalam beberapa waktu. Twitter tidak punya kemampuan mengarsipkan pikiran-pikiran secuil kita itu dalam waktu yang lama. Kalaupun ya, mungkin kita harus memasukkan hashtag tertentu agar bisa dilihat secara rapi dan tersaring.

Alangkah baiknya jika kita dapat kemudian mendayagunakan kemampuan Twitter yang real-time ini untuk melakukan pencatatan observasi secara langsung, namun tetap kita rekapitulasi di akhir hari sebagai catatan harian (tentu saja, dengan catatan, Anda tidak lelah melakukannya).

Hal ini dapat berguna bagi kita yang tidak suka menulis atau merekam perjalanannya untuk kemudian dibagikan ke orang lain di kemudian hari, misalnya dalam sebuah blog atau dokumen. Salah satu tujuan blog ini adalah untuk merekam perjalanan dan pernak-perniknya untuk kemudian dibagikan ke orang lain.

Tidak perlu perangkat yang heboh untuk proses pencatatan ini, Anda hanya perlu sebuah ponsel pintar dan buku catatan (jika perlu). Saya rasa, jika rata-rata satu orang memperbaharui linimasa Twitternya 20 – 30 kali sehari ketika perjalanan, jejaknya masih bisa dilihat di akhir hari. Dari semua catatan Anda hari itu, coba tuliskan intisari singkat, jika perlu dianotasi dengan foto-foto yang sudah diambil.

Cara gampang lain, gunakan jasa-jasa pengarsipan Twitter, atau lakukan sendiri dengan copy dan paste ke dokumen atau blog Anda. Tapi jangan sampai di situ saja, lakukan penulisan ulang agar lebih menarik dan informatif. Jika Anda paham mengutak-atik sistem blog, twit-twit Anda bisa langsung di-crosspost ke bagian blog pribadi Anda.

Lakukan ini secara rutin setiap hari dalam perjalanan Anda. Jika perjalanan itu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, coba lakukan ikhtisar mingguan atau bulanan. Alhasil, ketika Anda pulang, pengalaman Anda tercatat rapi dan detilnya masih tersimpan, siap untuk dibagikan dalam sebuah tulisan.