Bepergian dengan bayi tidak sama dengan bepergian sendiri, atau bersama teman-teman saja. Ketika punya bayi tujuh bulan lalu, saya jadi tahu banyak hal tentang bepergian bersama bayi. Oh ya, mungkin karena itu juga blog ini sudah lama tidak diperbaharui, karena saya sibuk dengan keluarga dan pekerjaan. Setelah ini saya punya niat untuk meneruskan blog ini agar tidak terbengkalai, dimulai dari artikel tips ini!

Untungnya, saya punya istri yang mendukung. Saya justru banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengurus bayi dan apa yang sebaiknya dilakukan. Persiapan bayi untuk bepergian memang banyak, tetapi jika kita pintar bersiasat maka semuanya dapat dijalani mudah-mudahan dengan lancar.

Popok

Tentu saja ini barang pertama yang diingat. Sehari-hari, kami tidak pakai popok pakai-buang, tapi popok kain, untuk menghemat, tapi untuk urusan bepergian, kami mengkombinasikan popok pakai-buang untuk pagi, siang dan sore, dan popok kain untuk malam hari agar bayi lebih nyaman. Tapi, tentu saja ini tergantung kebiasaan dan kenyamanan bayi anda. Jika bisa, beli popok sesuai jumlah hari perjalanan. Bayi saya membutuhkan lima sampai delapan popok setiap 24 jam. Jika tidak muat kopernya, bawa setengahnya dan beli di tujuan, jika ada.

Alat makan dan makanan

Jika bayi sudah dalam tahap makanan pendamping ASI (MPASI), maka perlu disiapkan semua yang berkaitan dengannya, seperti alat makan. Siapkan juga sabun cuci dan spons yang baru. Siapkan juga tisu anti-bakteri atau disinfektan lain untuk membersihkan alat makan. Untuk makanannya sendiri, jika di tempat tujuan ada pasar atau swalayan, maka lebih baik membeli buah atau daging yang segar. Tetapi jika tidak bisa, makanan siap saji juga bisa, mulai dari yang dibuat segar sampai yang dijual di swalayan, terutama jika dalam perjalanan terbang, di kereta api atau di bis.

Jangan lupa, ketika mengepak makanan dan minuman si bayi, taruh dalam tempat transparan untuk ditunjukkan pada petugas keamanan di bandara. Biasanya, makanan cair atau minuman bayi diterima walau lebih dari 100ml.

Jadwal perjalanan

Bayi juga makan dua atau tiga kali sehari, terutama pagi dan siang atau sore. Oleh karenanya, kita bisa mencari jadwal terbang di antaranya, misalnya ketika pagi buta (ketika bayi masih terlelap), siang hari (ketika belum makan) atau malam hari (ketika bayi sudah mulai terlelap lagi).

Membawa stroller atau tidak?

Dorongan bayi (stroller) bisa berguna hanya pada tujuan perjalanan yang nyaman dilalui pejalan kaki, misalnya negara maju, di mana infrastrukturnya sudah ada dan aman digunakan. Jika tujuan perjalanan anda ke hutan, pantai terpencil, kota di Vietnam, atau kebanyakan kota di Indonesia di mana anda tidak akan pergi ke mal, maka tinggalkan sajalah dorongan bayi itu di rumah. Anda diharuskan mengepaknya untuk dimasukkan bagasi, dan idealnya anda harus punya tas pelindung agar tidak kotor. Saran saya, lebih baik gunakan gendongan bayi modern seperti ransel yang bisa membawa bayi di depan tubuh orang tuanya agar anak lebih tenang.

Koper apa ransel?

Untuk urusan bayi, gunakan koper. Orang tuanya bisa gunakan ransel, kalau mau. Bayi butuh lebih banyak ruang dan mencuci tidak selalu menjadi solusi. Ada gunanya cari penginapan yang punya mesin cuci atau fasilitas binatu, tapi hanya sebagai jaga-jaga.

Perjalanan udara yang panjang

Perjalanan udara yang panjang, di atas empat jam, bisa menjadi mimpi buruk bagi orang tua dan bayi. Usahakan beli kursi sendiri untuk bayi anda, walau ada opsi lap infant (bayi didudukkan di atas paha orang dewasa). Anda tidak akan mampu memangku bayi anda selama 10 jam. Lebih mahal, tapi sangat berharga!

Siapkan satu popok setiap dua jam. Jadi, jika perjalanannya memakan waktu 10 jam, sediakan minimal lima popok. Lebihkan satu atau dua.

Jangan lupa sedia penutup telinga untuk menghindari anak merasa tidak nyaman dengan pergantian tekanan udara (walau tidak semua bayi memerlukannya).

Beberapa maskapai bahkan menyediakan makanan bayi dan popok tambahan, jadi bisa lihat-lihat opsi maskapai mana yang akan anda gunakan.

Sesuaikan fase anda

Jika anda terbiasa bepergian aktif dan berfase cepat, dengan bayi, anda tidak bisa begitu. Ketika sampai tujuan, misalnya, anda mungkin harus menggunakan taksi atau mobil dan rela mengantri lebih lama, demi kenyamanan. Anda mungkin hanya mengunjungi tempat-tempat yang ramah bayi (tidak bisa lagi, tuh, berlama-lama di pasar yang ramai). Anda mungkin keluar pada jam-jam sesuai jam bangun bayi anda, dan setelah bayi anda makan. Anda mungkin harus pulang sebelum waktu yang anda inginkan. Sesuaikanlah semuanya, yang penting bayi anda bisa menikmati juga perjalanan itu.