Salah satu kenangan dalam perjalanan ke negeri asing adalah masalah berkomunikasi. Bagi Anda yang bisa bahasa lokal negeri itu, tentu hal ini tidak terasa. Tetapi bagi yang tidak bisa pasti ada beberapa kesan tentang hal ini. Ini adalah catatan perjalanan saya.

Bandara Los Angeles
Bandara Los Angeles

Saat itu saya berada di bandara Los Angeles (LAX), Amerika Serikat. Bandara LA, adalah kanal transportasi udara yang sibuk. Maklumat dalam bahasa Inggris, Spanyol, China, dan Jepang itu terdengar membahana tiada henti; pesannya agar kita tidak meninggalkan bagasi sembarangan. Memandang sekilas, banyak manusia dari segala ras, berjalan-berkeliling, sibuk dengan segala urusan mereka. Ada muda-mudi Jepang yang ngejreng dandanannya. Seorang pekerja yang menilik penampilannya adalah dari India, terlihat rapi dan ringkas. banyak wisatawan China yang sudah renta, dan lebih banyak lagi warga A.S. Sekelompok keluarga, dengan beberapa wanita, lelaki, dan anak-anak, patuh berjalan seperti gembalaan. Menilik perawakan dan wajah mereka, saya kira dari Bangladesh. Seorang petugas membawa tanda besar bertuliskan IOM dengan sabar melayani mereka. Kelompok itu menjalani imigrasi khusus yang terpisah untuk imigran. Riuh dan ramai, itulah bandara LA.

Perlu diketahui, ini adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, juga pertama kali ke Amerika, demikian halnya uji-coba perdana kemampuan bahasa Inggris saya, yang menurut saya masih belepotan. Karena tujuan akhir adalah AS, maka saya diwajibkan mendaftarkan di imigrasi sebelum melanjutkan untuk transit penerbangan lokal. Setelah masuk imigrasi dan diikuti registrasi kedua di imigrasi, semuanya memakan waktu hampir 2 jam, akhirnya saya bisa keluar gerbang.

Akibatnya, saya hampir terlambat mengejar penerbangan selanjutnya. Waktu tersisa kira-kira 40-an menit. Mana saya tidak punya referensi atau riset mengenai bandara itu sebelumnya.

Saya keluar dan bertanya kepada seorang petugas bandara berkulit hitam. Saya tahu dia petugas bandara karena ada lencana bertuliskan TSA. “Bagaimana saya harus ke Gerbang 6?,” tanya saya. Bapak agak diam sejenak. Apakah bahasa Inggris saya kurang jelas? Ataukah pertanyaan saya yang bodoh?

Tapi dia lalu menjawab, “Oh, kamu bisa jalan ke sana” Dia menunjuk arah di belakang saya. “Atau kamu bisa naik bis berkode A” Saya saat itu di Gerbang 7. Tapi saya benar-benar tak tahu bahwa Gerbang 6 adalah gerbang selanjutnya, bukan memutar atau berada di wilayah lain, seperti di Bandara Soekarno-Hatta misalnya. Perlu diketahui, bandara LA strukturnya berbentuk U. Makanya saya memutuskan bertanya takut gerbang itu berada di wilayah lain itu.

“Ugh, okay. Bus A, ya?” tanya saya.

“Ya, A… seperti untuk A, p, e, l. Apel. Tahu kan?”

Apel? Batin saya. Oh iya, A, si Apel. Ah parah betul nih, masak A saja saya tidak tahu. Demikian pikir saya. Lalu saya bilang, “Terima kasih, Tuan.”

Itulah sebagian contoh komunikasi di negeri asing, dengan kemampuan bahasa Inggris seperti saya. Problem komunikasi dalam bahasa adalah sebuah hal yang menarik dalam setiap perjalanan. Banyak kisah lain. Anda pun pasti punya.

Tapi ketika saya mendarat di lokasi tujuan dan menumpang taksi. Saya sempatkan ngobrol dengan pengemudinya. Dan saya mendapatkan pujian bahwa bahasa Inggris saya bagus. Dia bertanya, “Apakah saya sering berkunjung ke Amerika?” Nah. Belum tentu kalau kita merasa kurang bagus ternyata menurut orang lain tidak bagus. Bahkan menurut pengemudi itu, dia bilang banyak orang Amerika yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris. Saya agak tak percaya. Tapi ketika ada orang lain yang memuji bahasa Inggris saya lagi, saya baru percaya bahwa bahasa saya meski jelek, cukup untuk bisa bertahan berpetualang di sana.

Masalah lain adalah ketika melakukan perjalanan di negara yang tidak mempunyai tulisan dasar huruf latin, seperti Jepang, China, Thailand, atau negera-negara Arab.

Papan Petunjuk di Bandar Beijing
Di Bandara Beijing

Suatu ketika di bandara Beijing, China, saya ingin bertanya di manakah lokasi tempat makan. Dan meluncurlah jawaban ala pantomim itu. Tunjuk sana. Tunjuk situ. Wajah melotot. Frustrasi. Tanya ke petugas lain sama saja. Tanpa keluar bahasa Inggris pun. Mungkin ada yang bisa, tapi sangat sedikit.

Suasana di sebuah pasar malam, Thailand
Suasana di sebuah pasar malam, Thailand

Di Thailand juga sama parahnya. Rata-rata orang di sana kurang cakap berbahasa Inggris. Tapi jangan takut untuk mencoba, ada beberapa yang bisa bahasa Inggris, meskipun itu juga sangat terbatas. Suatu ketika ketika sampai lokasi pemberhentian terakhir angkutan di Krabi. Saya tanya pada petugas tentang lokasi hotel saya, saya tunjukkan cetakan nama hotel itu sambil mengucapkannya. Dia mungkin tahu. Tapi dia tidak bisa menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Atau dia juga tidak bisa menulis aksara latin. Parah kan?

Yang lebih menyakitkan adalah ketika orang lokal pun tidak mengenal angka. Tuntas sudah keterasingan kita. Bayangkan ketika untuk membayar pun tidak tahu. Salah satu strategi saya biasanya hanya menyodorkan uang kecil, lalu meminta penjual itu mengambilnya. Beres sudah.

Yang agak tak enak adalah ketika kita mencicipi makanan lezat, lalu kita tak tahu nama makanan itu. Orang lokal pun tak bisa menjelaskan dengan jelas. Kita tak mampu menangkap bahasanya. Tulisan pun tidak membantu.

Itulah problem bahasa. Susah, memang. Tapi jangan takut. Berani untuk berkomunikasi sering membantu perjalanan kita. Bahkan mungkin jadi kenangan terindah dalam perjalanan Anda.

Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan orang Thailand, Jepang, dan Arab. Mereka semua tidak bisa bahasa Inggris. Dan saya tidak bisa bahasa mereka. Dan meluncurlah bahasa kita yang asing itu. Bahasa tubuh. Bahasa melotot. Bahasa senyum. Tapi saya tahu mereka bilang bahwa Indonesia itu bagus, orangnya suka senyum seperti mereka. Dan komunikasi dunia tercipta.