Jakarta adalah tempat kelahiran saya, hometown, dan jadi kota pertama saya mulai bekerja dan sekarang, membina rumah tangga (walau secara teknis saya tinggal di Pondokgede, perbatasan Jakarta dan Bekasi). Sudah hampir delapan tahun blog ini ada, tapi saya belum pernah menulis tentang Jakarta. Ada sih, tapi lebih ke ulasan tentang buku mengenai Jakarta.

Saya punya hubungan benci tapi rindu dengan kota ini, seperti halnya kebanyakan penghuni Jakarta lain.

Benci, karena kacaunya tata kelola kota, menyebabkan penduduknya untuk mencari alternatif sendiri dalam menghidupi dirinya, sehingga menyebabkan banyak masalah. Secara umum, hidup di kota ini juga tak nyaman, karena mobilitas rendah dengan tingkat kenyamanan transportasi umum yang tak memadai. Bagi saya, sebuah kota menjadi nyaman ketika setiap individu dapat bergerak ke bagian mana pun di kota ini dengan nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Artinya, kenyamanan berjalan kaki dan sarana transportasi umum menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah kota. Itu susah didapatkan di Jakarta.

Rindu, ya, karena keluarga saya di sini, dan kenyamanan dari sisi lain juga ada: makanan, tempat tinggal, rasa dekat dengan bahasa dan budaya, dan lainnya. Di Jakarta jugalah, saya menemukan segudang kesempatan karir dan berkarya. Yang pasti, dengan kesemrawutan yang ada, Jakarta susah membuat anda bosan.

Ada tiga kata yang menurut saya menjadi karakter jakarta: spontanitas, survivalitas dan energi.

Saya sebenarnya malu juga jika dibilang tak punya rekomendasi tempat jalan-jalan di Jakarta, misalnya, jika ada tamu berkunjung. Namun, saya coba merangkumnya di bawah, tentunya ada kombinasi antara mal dan tempat-tempat lain di luar mal. Bagi saya, tak masalah suatu tempat ada di mal, karena yang penting adalah kualitas tempat itu sendiri. Mohon maaf, kebanyakan tempat-tempat ini adalah tempat makan dan nongkrong, karena itu yang saya suka.

Tjikini

Mungkin anda lelah dengan outlet kopi jaringan terkenal atau kopi hipster yang tak jelas konsepnya. Buat saya, warung kopi yang tidak terlalu pretensius selalu memikat. Salah satunya adalah Tjikini, di Jl. Cikini, tepat di seberang Menteng Huis. Memang, popularitasnya sudah mereda, karena memuncak sekitar dua tahun lalu. Namun, saya suka berkunjung ke sini karena lokasinya ada di ruko ala kolonial dengan ceiling yang tinggi dan tingkat kebisingan yang rendah di dalam walaupun terletak di pinggir jalan. Kuncinya ada di arsitektur dan kualitas bangunan yang kokoh dan kedap suara. Lokasinya juga strategis di pusat seni Jakarta, sehingga bisa menyusuri Cikini melewati Taman Ismail Marzuki.

Makanan favorit saya adalah kudapan Indonesia seperti pisang goreng, tempe goreng dan puteri singkong, tetapi juga menu utama seperit nasi rawon dan sup pindang bandeng.

Pilihan kopinya juga menarik dengan pilihan kopi Sumatera dipadu susu atau jahe. Pilihan tehnya cukup bervariasi mulai dari Goal Para, Rosela, Tjatoet sampai teh tradisional dengan tambahan rasa apel, blueberry, jahe, jeruk nipis, leci dan lainnya. Bahkan anda yang ingin bir pun dapat menikmatinya. Untuk penggemar pencuci mulut, ada es cendol, es cincau, es krim ragusa (dengan tambahan durian dan rum raisin), es buah segar, gula asam sampai sarsaparila.

Setelah puas minum kopi dan ngobrol, mampir ke toko roti Tan Ek Tjoan beberapa toko di sebelahnya untuk membawa pulang oleh-oleh roti buat keluarga.

Wahid Hasyim & H. Agus Salim/Sabang

Jika ada yang bertanya, “Kalau saya hanya punya waktu satu malam, apa yang harus saya lakukan di Jakarta?”, maka saya akan menjawab, “Pergilah ke Jl. Wahid Hasyim dan atau Jl. Sabang.” Di sini, semua yang anda butuhkan untuk “merasakan Jakarta”, ada. Paling tidak menurut saya. Lain cerita kalau anda mencari “yang lain-lain”…

Mau cari makanan pinggir jalan (street food), di sini banyak, atau di sekitarnya. Sate, bakso, nasi goreng, martabak, semua ada. Jalan kaki sepanjang jalan, atau naik bajaj berkeliling, tidak masalah.

Ingin yang sedikit lebih nyaman ala kafe atau restoran, juga ada. Kopi Oey yang terkenal itu, Sabang 16, Kedai Tiga Nyonya, Phoenam Coffee, semua ada di sekitar sini.

Oh ya, selagi di sini, menginaplah di Morrissey, hotel yang cukup strategis untuk menjelajah daerah ini. Mereka juga menyediakan bajaj gratis yang lebih bersih dan trendi untuk berkeliling. Rekomendasi kami pesanlah hotel ini melalui situs ini.

Art 1: Museum

Jakarta dan museum? Apakah mereka berjodoh? Apakah museum di Jakarta ada yang keren?

Menurut saya ada, salah satunya Museum Bank Indonesia. Tapi, selain itu, ada museum lain, dan ini adalah museum seni. Apakah penduduk Jakarta sempat menikmati berkesenian? Tentunya!

Museum modern yang cukup baru ini dikelola swasta dan berada di daerah yang cukup tidak diketahui bagi penikmat museum, di Jl. Rajawali Selatan Raya No. 3. Tepatnya, ada di dekat Jakarta Expo Kemayoran. Galerinya ada yang permanen dan ada yang temporer, menampilkan karya seni modern dan kontemporer.

Setiabudi One

Saya pergi ke mal besar karena nyaman untuk anak bayi saya. Itu saja. Selebihnya, ya berdasarkan kebutuhan dan keinginan, misalnya berbelanja atau makan sesuatu. Dulu, sih, nonton film. Sekarang masih sulit karena ada anak bayi.

Sejujurnya, saya lebih suka mal yang lebih kecil, yang lebih laid back, seperti Setiabudi One di Rasuna Said ini, kalau memang masih boleh dibilang mal.

Tidak ramai, tapi juga tidak senyaman mal, tapi siapa peduli? Di sini kita bisa makan, minum, belanja, olahraga dan nonton dalam sekali kunjungan. Ada kedai kopi baru dari Melbourne, St. Ali, yang juga semakin membuat tempat ini laris dikunjungi.

Lokasinya strategis, di daerah perkantoran Rasuna Said, tapi jauh dari mal kebanyakan, jadi rasanya seperti pergi ke kantor pada hari Sabtu dan Minggu. Sepi, rileks dan sempurna.

Pondok Indah

Anda suka berlari? Bukan, bukan lari dari kenyataan, tapi lari untuk badan yang sehat. Jika ya, beberapa pilihan yang tidak terlalu ramai ada di Jakarta. Salah satunya di lingkungan dalam Pondok Indah, di mana pohon masih rimbun dan jalanan masih besar dan tidak ramai angkutan. Berlari dan bersepeda di sini masih lumayan membuat rileks, udara juga relatif masih bersih. Kalau anda ingin berenang, coba juga Pondok Indah Waterpark, walau agak ramai sedikit. Ya, saya memang kurang suka tempat ramai.

Selesai berolahraga, sarapan dim sum di Lotus atau kafe-kafe di ruko Pondok Indah, asal tidak kebanyakan.

Sederhana, Lot 18, SCBD

Rumah Makan Sederhana ada di mana-mana di Jakarta, tapi satu yang jadi favorit saya: di Lot 18, SCBD. Menurut saya, rasanya relatif lebih enak dari yang lain. Entah mengapa. Mungkin tergantung kokinya? Pengelola franchise-nya? Entahlah.

Tempat ini ramai sekali pada hari kerja. Saya, sih, senang dendeng balado atau baraciak, juga ayam bakarnya.

Kopi Oey, Duren Tiga

Kopi Oey di Jalan H. Agus Salim (Sabang) adalah yang pertama, lalu merambah ke tempat-tempat lain. Secara pribadi, Kopi Oey favorit saya ada di Duren Tiga, di dekat Jl. Mampang Prapatan Raya. Kedai kopi ini awalnya ditubuhkan oleh Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia dan selebrita televisi. Konsepnya adalah kopitiam (warung kopi peranakan dari Malaysia dan Singapura), tapi dipadu dengan menu lokal Indonesia.

Menunya standar dan biasa saja, walau saya suka sego ireng dan teh tariknya. Namun, tempat di Duren Tiga ini cukup tenang, karena jalannya tidak dilalui banyak kendaraan, parkirnya cukup luas (jika membawa kendaraan) dan di belakangnya juga ada Umaku Sushi, jika anda masih lapar, dan tempatnya tersambung dengan Kopi Oey karena memang masih satu manajemen.

Vinna Cake

Lupakan tempat kue lain. Jika anda ingin merasakan “kuih-muih” Indonesia yang sangat bervariasi dengan harga yang lumayan murah, datangi Vinna Cake. Tempatnya cukup kecil, di belakang Hotel Amaris Panglima Polim, tepatnya di Jl. Sambas Raya 6. Dimiliki oleh Sutrisno yang sudah memulai bisnis ini sejak tahun 1998, Vinna Cake menawarkan 30 macam jenis kue, mulai dari kue tradisional seperti klepon, semar mendhem, kucur, sampai kue modern seperti kue lapis, brownies, bolu gulung dan lain sebagainya.

Turkuaz

Saya merekomendasikan tempat ini, walau bukan makanan atau minuman Indonesia, karena pengalaman positif saya di sini. Suatu ketika istri saya ingin makan makanan Turki, dan kami tak tahu tempat mana di Jakarta. Jangan bilang Doner Kebab, karena tentu saja itu tidak mencerminkan Turki yang sejati.

Akhirnya, pilihan jatuh di sebuah restoran di Jl. Gunawarman, Turkuaz. Makanannya cukup autentik karena pemilik dan chef-nya adalah orang Turki, Sezai Zorlu. Beliau sudah sejak 1999 bekerja di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia. Ia berasal dari Iskenderun, sebuah kota kecil di tenggara Turki, dan di sanalah ia membangun kecintaan pada dunia kuliner.

Kecintaannya ini membuahkan hasil dengan mendirikan restoran Turkuaz, dan bisa kita lihat di menunya dengan bahasa asli Turki. Namun demikian, jangan khawatir, nama-nama seperti Suzme Mercimek Corbasi, Zeytinyagli Humus, Sigara Boregi dan Tavuklu Muska Boregi semua dijelaskan komposisinya dalam bahasa Inggris.

Waktu saya berkunjung ke sana, chef Sezai Zorlu datang ke meja kami dan menanyakan sendiri bagaimana masakannya. Kami merasa dilayani oleh sang pilot sendiri!