Artikel-artikel dari kategori Tips (halaman ke-1 dari 4)

Merencanakan Perjalanan dengan Trello

Mungkin saat ini anda bertanya-tanya, “Apa pula Trello itu?”, atau yang sudah biasa menggunakannya di kantor akan menggerutu, “Aduh, di kantor sudah jenuh pakai itu, malah pas jalan-jalan disuruh pakai itu lagi!”

Ini bukan artikel berbayar, murni karena kecintaan saya pada aplikasi yang satu ini. Jika anda pernah mendengar papan kanban, atau sederhananya adalah metode perencanaan dan pengembangan produk atau proyek yang berdasar pada visualisasi apa yang direncanakan, apa yang sedang dilakukan, dan apa yang sudah selesai dilakukan. Berikut definisi situs LeanKit:

Kanban is Japanese for “visual signal” or “card.” Toyota line-workers used a kanban (i.e., an actual card) to signal steps in their manufacturing process. The system’s highly visual nature allowed teams to communicate more easily on what work needed to be done and when. It also standardized cues and refined processes, which helped to reduce waste and maximize value.

Terdengar berat? Ya, memang, awalnya metode ini digunakan dalam produksi pabrik di Jepang, lalu sekarang populer lagi di dunia startup yang gemerlap itu, untuk merencanakan dan mengembangkan perangkat lunak atau aplikasi yang sering kita pakai sehari-hari, misalnya aplikasi berbasis web atau aplikasi di ponsel. Intinya adalah pada visualisasinya sehingga lebih gampang dicerna. OK, sebelum kita jadi pusing, mari kita selami langsung Trello itu sendiri. Berikut adalah contoh papan kanban di Trello.


Wah, unyu juga, ya, background-nya?

Standarnya, dibagi menjadi tiga bucket, yakni “To Do” (yang akan dilakukan), “Doing” (yang sedang dilakukan), dan “Done” (yang selesai dilakukan). Tentu saja ada banyak cara lain untuk menggolongkan dan menamai bagian-bagian vertikal ini. Bebas sih. Tapi pada dasarnya struktur ini paling berguna untuk kebanyakan situasi.


Menambahkan lampiran seperti gambar


Jadinya ada preview seperti ini

Intinya, semacam to do list, tapi lebih komprehensif, lebih mendetil. Buat saya, satu vertikal to do list saja tidak cukup, karena untuk beberapa perjalanan yang kompleks, setiap aktivitas punya “anak-anaknya” lagi yang membutuhkan penjabaran. Bahkan dalam satu aktivitas ada check list yang lebih khusus. Belum lagi mengumpulkan pranala atau melampirkan foto, PDF, dan lain-lain. Bisa juga menggunakan Google Drive atau Dropbox, tapi tidak bisa melihat dengan jelas dan cepat apa yang harus dilakukan dan apa yang sedang dilakukan.

Setiap vertikal (disebut “list”) dapat memiliki sebanyak mungkin kartu (“card”), dan setiap kartu ini bisa dipindahkan ke vertikal lain dengan mudah, semudah menggesernya saja. Asyik, bukan?

Teman saya bahkan menggunakannya untuk merencanakan perjalanan dari hari ke hari, mirip seperti kalender. Jadi, misalnya:


Contoh itinerary per hari

Dalam setiap kartu di situ, dia akan memasukkan informasi tempat dari website lain, atau menambahkan check list apa yang akan dilakukannya.

Jadi, banyak sekali manfaat Trello ini untuk merencanakan perjalanan. Cara memakainya pun terserah anda, sesuai kebutuhan. Semua bisa diakses dari browser atau download aplikasinya di iOS maupun Android. Berbagi dengan sesama pejalan yang akan berkelana bersama-sama, dan tak perlu khawatir kehilangan arah atau dokumen tertentu.


Trik Memilih Kursi Penerbangan

Buat saya, posisi menentukan prestasi. Sama halnya dengan kursi penerbangan. Posisi menentukan situasi. Situasi apakah saya akan menjadi lebih nyaman dalam perjalanan pesawat atau tidak. Untuk penerbangan jarak jauh, ini menjadi penting. Ini beberapa “formula” saya. Tentu saja, kelasnya kelas ekonomi karena jarang-jarang saya punya kesempatan duduk di kelas bisnis atau kelas pertama.

Window vs. Aisle

Jika bepergian sendiri, untuk penerbangan jarak pendek, saya selalu mencoba memilih duduk dekat jendela (window seat, kursi A dalam diagram di atas). Ini karena saya terkadang takut terbang, dan melihat keluar jendela membantu sedikit untuk mengurangi ketakutan itu. Untuk penerbangan jarak jauh, saya lebih suka memilih duduk di gang (aisle seat, kursi B), agar mudah ke toilet atau jalan kaki agar sirkulasi darah lebih lancar.

Depan, Tengah, vs. Belakang

Jika saya membawa bayi yang masih bisa tidur dalam bassinet, saya akan duduk di paling depan, dekat dinding, atau sering disebut sebagai bulkhead seat (deretan C). Alasannya jelas, karena bassinet hanya bisa digantungkan di dinding. Jika saya bepergian sendiri, saya suka di tengah pesawat (deretan D), karena lebih tenang (jauh dari bayi dan toilet). Jika bepergian dengan anak kecil yang sudah bisa duduk, saya lebih memilih di baris paling belakang dari satu segmen, tapi bukan di belakang pesawat (deretan E). Ini karena saya dapat memastikan ruang privasi yang lebih buat saya dan anak saya, serta tidak ada orang yang akan terganggu di belakang saya. Memang sih, resikonya kursi tidak fully reclined, tapi tak apa.

3-4-3 vs. 3-3-3 vs. 2-4-2

Beberapa pesawat berbadan lebar memiliki skema 3-4-3, yakni 3 di sayap kiri, 4 di tengah dan 3 di kanan. Dalam hal ini, jika grup saya jumlahnya 3 orang, maka lebih baik berada di sayap kiri atau kanan. Logika mudah. Tapi, jika skemanya 3-3-3, saya lebih suka di tengah karena kami menguasai dua gang (aisle). Dalam kasus 2-4-2, agak lebih tricky. Saya mungkin akan memilih kursi tengah, dengan resiko ada orang lain di situ. Atau mungkin, tukar jam/pesawat jika memungkinkan. Untuk pesawat berbeadan sempit yang biasanya 3-3, sudah jelas, saya bebas memilih mana saja.

Bagian Tengah Pesawat

Beberapa riset menunjukkan bahwa duduk di bagian tengah pesawat (dekat sayap) berpotensi mengurangi guncangan turbulensi karena (katanya) lebih “seimbang”. Saya tak tahu pasti ini hoax apa bukan, tapi boleh dicoba, dan sejauh ini saya tak mengalami masalah berarti. Malah, ketika saya pernah duduk di kursi paling belakang sebuah pesawat Boeing 777-300ER, saya mengalami guncangan luar biasa dan mendengar bising mesin yang begitu kuat.

Kursi “premium”

Beberapa kursi dijual sebagai kursi “premium”, biasanya yang dekat dengan pintu darurat. Kalau anda sendiri, bolehlah dicoba, asal tahan dingin. Jika membawa anak-anak, biasanya tidak diperbolehkan duduk di dekat pintu darurat.


Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura

Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.

Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.

Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.

Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.


Mengurus SIM Internasional

Ketika berkunjung ke Australia awal tahun ini, saya sedikit menyesal karena tidak mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi) internasional, sehingga bisa menyewa mobil sendiri dan menyetir sendiri, walau sebenarnya bisa melegalisir SIM Indonesia di konsulat. Tapi, sayangnya, waktu agak mepet pada saat itu.

Setelah pulang, saya berpikir, mari bersiap-siap mana tahu bisa ke luar negeri lagi dan harus menyetir (seperti, misalnya, ke Islandia).

Akhirnya, berbekal nekat dan informasi dari blog orang lain, saya pergi ke Korlantas Polri di Jl. MT. Haryono, Tebet, Jakarta Selatan. Karena tidak yakin ada tempat parkir, saya ke sana dengan transportasi umum.

Sesampainya di sana, sekitar pukul jam 8 pagi, saya langsung bertanya ke polisi yang bertugas di pos di depan, “Di mana tempat mengurus SIM internasional, Pak?”

“Bapak lurus saja sampai ke dalam, nanti ada mesjid, sebelah kirinya.”

Saya berharap semoga Bapaknya tidak melihat saya sebagai ahli neraka dan menyuruh saya bertaubat.

Ternyata benar, ada mesjid, tapi tempat pengurusan SIM internasional sebenarnya ada di dalam kompleks NTMC (National Traffic Management Center), tempat di mana polisi memonitor lalu lintas Jakarta dan sekitarnya melalui kamera pengintai yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.

Ketika saya datang, kantor pengurusan SIM internasional belum buka. Kantornya baru buka pukul 08:30. Ada beberapa orang yang sudah menunggu dan mengambil nomor antrian. Tepat pukul 08:30, pintu dibuka dan terkejutnya saya karena tempat mengurusnya sungguh nyaman. Ada pendingin udara, dispenser minuman, bunga di tengah, dan sofa yang nyaman. Tidak ada calo atau orang yang jongkok atau berdiri tidak jelas di luar dan di dalam.

Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri

Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri
Ruang tunggu pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri.

Saya mempersiapkan beberapa persyaratan seperti:

  • SIM asli dan fotokopi
  • KTP asli dan fotokopi
  • Paspor asli dan fotokopi
  • Uang tunai Rp250.000
  • Materai Rp6.000, satu lembar
  • Pas foto 4x6cm terbaru berwarna berlatar belakang biru dan berdasi (laki-laki), satu lembar

Setelah menunggu sekitar lima menit, saya dipanggil dan diminta menyerahkan semua persyaratan di atas. Dokumen asli hanya dilihat dan diverifikasi saja, lalu dikembalikan. Kurang dari 30 detik, mbak polisi meminta saya membayar Rp250.000, tunai (tidak bisa digantikan dengan logam mulia atau perhiasan). Setelah dibuatkan tanda terima saya diminta kembali ke tempat duduk.

Bukti bayar
Bukti pembayaran.

Tidak sampai lima menit, tiba masanya untuk foto dan sidik jari di ruang terpisah. Setelah itu, foto saya langsung dicetak, sidik jari saya langsung direkam dan SIM internasional pun sudah di depan mata.

Saya senang sekali, karena prosesnya tidak sampai 15 menit dari awal saya duduk sampai menerima dokumen-dokumennya.

Sebenarnya, SIM internasional ala kepolisian Indonesia ini sifatnya endorsement, dan mudah dilakukan karena menerjemahkan dokumen SIM Indonesia yang sudah ada dan membuatnya dalam versi beberapa bahasa utama di dunia.

Alternatifnya, anda dapat pergi ke kedutaan atau konsulat Indonesia di negara tujuan dan melakukan proses terjemah resmi serta legalisir SIM Indonesia anda, dan SIM Indonesia anda pun dapat juga digunakan di luar negeri. Tapi, tentunya, cek juga regulasi lalu lintas setempat di negara tempat anda berada. Setiap negara punya aturan berbeda-beda.

Saya mendengar bahkan beberapa negara Eropa juga mau menerima SIM Indonesia apa adanya tanpa harus mengurus SIM internasional.

SIM Internasional sudah jadi!
Hore! SIM Internasional-nya sudah jadi!


5 Cara Dapatkan Tiket Pesawat Murah

Dulu saya lebih sering menerima saja harga tiket yang saya beli, tanpa memikirkan apa ada alternatif lain, misalnya dari segi maskapai, waktu, hari terbang, sampai bandara asal dan tujuan. Namun, sejak beberapa tahun terakhir dan mulai lebih aktif traveling lagi, saya menemukan ada beberapa cara yang biasanya dapat menurunkan sedikit atau banyak harga tiket pesawat. Paling tidak, bisa menghemat untuk akomodasi, makan atau visa.

Terbang pada tengah minggu

Ini mungkin trik yang awam digunakan. Biasanya, tarif pesawat cenderung lebih murah pada tengah minggu, misalnya Selasa, Rabu dan Kamis. Cobalah berangkat pada hari Rabu, lalu pulang lagi pada hari Kamis, misalnya. Bandara juga tidak seramai itu pada hari-hari tengah minggu ini.

Terbang pada siang hari

Biasanya, perjalanan bisnis dimulai pada pagi hari dan diakhiri pada malam hari. Coba untuk hindari jam-jam kritis ini, mulai dari jam 6 pagi hingga 9 pagi, lalu jam 6 sore hingga 9 malam. Jika ingin pagi, cobalah penerbangan jam 4 atau 5 pagi sekalian, dan jika ingin malam, cobalah penerbangan jam 9 ke atas. Selain itu, satu trik yang biasanya ampuh adalah cari jam terbang di atas jam 9 pagi, atau menjelang makan siang seperti jam 11 atau jam 12.

Terbanglah dengan maskapai flag carrier

Jika tujuan anda Helsinki, maka terbanglah dengan flag carrier atau maskapai penerbangan resmi negara tersebut, dalam kasus ini Finnair. Jika tujuan anda Hong Kong, cobalah terbang dengan Cathay Pacific. Tidak semua begini, tapi ada kalanya mereka sedang mempromosikan negaranya sendiri, sehingga maskapai resminya membanting harga.

Manfaatkan promosi stopover

Ketika saya terbang ke Melbourne, Australia, dari Jakarta, saya pilih Singapore Airlines dan saya mendapatkan harga yang relatif murah. Saya memang harus bersusah-payah transit di Singapura dulu (walau tak apa juga, sih!), tapi selisih harga dengan Garuda Indonesia yang penerbangan langsung dari Jakarta saat itu sampai 2-3 juta rupiah. Ternyata, Singapore Airlines memang ingin banyak pengunjung transit untuk menarik devisa dan kemungkinan menginap. Icelandair juga punya promosi serupa, memberikan 7 malam gratis di Reykjavik antara destinasi-destinasi Amerika Utara dan Eropa, dengan harga yang relatif lebih murah pula.

Terbang pada off-peak seasons

Jika anda terbang ke belahan bumi utara, cobalah terbang pada Oktober-Desember, kemungkinan harga lebih murah karena tidak banyak turis yang datang pada saat itu. Konsekuensinya sih, cuaca musim gugur memang gloomy dan suhunya sudah mulai sangat dingin.


24 Jam di Jakarta

Jakarta adalah tempat kelahiran saya, hometown, dan jadi kota pertama saya mulai bekerja dan sekarang, membina rumah tangga (walau secara teknis saya tinggal di Pondokgede, perbatasan Jakarta dan Bekasi). Sudah hampir delapan tahun blog ini ada, tapi saya belum pernah menulis tentang Jakarta. Ada sih, tapi lebih ke ulasan tentang buku mengenai Jakarta.

Saya punya hubungan benci tapi rindu dengan kota ini, seperti halnya kebanyakan penghuni Jakarta lain.

Benci, karena kacaunya tata kelola kota, menyebabkan penduduknya untuk mencari alternatif sendiri dalam menghidupi dirinya, sehingga menyebabkan banyak masalah. Secara umum, hidup di kota ini juga tak nyaman, karena mobilitas rendah dengan tingkat kenyamanan transportasi umum yang tak memadai. Bagi saya, sebuah kota menjadi nyaman ketika setiap individu dapat bergerak ke bagian mana pun di kota ini dengan nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Artinya, kenyamanan berjalan kaki dan sarana transportasi umum menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah kota. Itu susah didapatkan di Jakarta.

Rindu, ya, karena keluarga saya di sini, dan kenyamanan dari sisi lain juga ada: makanan, tempat tinggal, rasa dekat dengan bahasa dan budaya, dan lainnya. Di Jakarta jugalah, saya menemukan segudang kesempatan karir dan berkarya. Yang pasti, dengan kesemrawutan yang ada, Jakarta susah membuat anda bosan.

Ada tiga kata yang menurut saya menjadi karakter jakarta: spontanitas, survivalitas dan energi.

Saya sebenarnya malu juga jika dibilang tak punya rekomendasi tempat jalan-jalan di Jakarta, misalnya, jika ada tamu berkunjung. Namun, saya coba merangkumnya di bawah, tentunya ada kombinasi antara mal dan tempat-tempat lain di luar mal. Bagi saya, tak masalah suatu tempat ada di mal, karena yang penting adalah kualitas tempat itu sendiri. Mohon maaf, kebanyakan tempat-tempat ini adalah tempat makan dan nongkrong, karena itu yang saya suka.

Tjikini

Mungkin anda lelah dengan outlet kopi jaringan terkenal atau kopi hipster yang tak jelas konsepnya. Buat saya, warung kopi yang tidak terlalu pretensius selalu memikat. Salah satunya adalah Tjikini, di Jl. Cikini, tepat di seberang Menteng Huis. Memang, popularitasnya sudah mereda, karena memuncak sekitar dua tahun lalu. Namun, saya suka berkunjung ke sini karena lokasinya ada di ruko ala kolonial dengan ceiling yang tinggi dan tingkat kebisingan yang rendah di dalam walaupun terletak di pinggir jalan. Kuncinya ada di arsitektur dan kualitas bangunan yang kokoh dan kedap suara. Lokasinya juga strategis di pusat seni Jakarta, sehingga bisa menyusuri Cikini melewati Taman Ismail Marzuki.

Makanan favorit saya adalah kudapan Indonesia seperti pisang goreng, tempe goreng dan puteri singkong, tetapi juga menu utama seperit nasi rawon dan sup pindang bandeng.

Pilihan kopinya juga menarik dengan pilihan kopi Sumatera dipadu susu atau jahe. Pilihan tehnya cukup bervariasi mulai dari Goal Para, Rosela, Tjatoet sampai teh tradisional dengan tambahan rasa apel, blueberry, jahe, jeruk nipis, leci dan lainnya. Bahkan anda yang ingin bir pun dapat menikmatinya. Untuk penggemar pencuci mulut, ada es cendol, es cincau, es krim ragusa (dengan tambahan durian dan rum raisin), es buah segar, gula asam sampai sarsaparila.

Setelah puas minum kopi dan ngobrol, mampir ke toko roti Tan Ek Tjoan beberapa toko di sebelahnya untuk membawa pulang oleh-oleh roti buat keluarga.

Wahid Hasyim & H. Agus Salim/Sabang

Jika ada yang bertanya, “Kalau saya hanya punya waktu satu malam, apa yang harus saya lakukan di Jakarta?”, maka saya akan menjawab, “Pergilah ke Jl. Wahid Hasyim dan atau Jl. Sabang.” Di sini, semua yang anda butuhkan untuk “merasakan Jakarta”, ada. Paling tidak menurut saya. Lain cerita kalau anda mencari “yang lain-lain”…

Mau cari makanan pinggir jalan (street food), di sini banyak, atau di sekitarnya. Sate, bakso, nasi goreng, martabak, semua ada. Jalan kaki sepanjang jalan, atau naik bajaj berkeliling, tidak masalah.

Ingin yang sedikit lebih nyaman ala kafe atau restoran, juga ada. Kopi Oey yang terkenal itu, Sabang 16, Kedai Tiga Nyonya, Phoenam Coffee, semua ada di sekitar sini.

Oh ya, selagi di sini, menginaplah di Morrissey, hotel yang cukup strategis untuk menjelajah daerah ini. Mereka juga menyediakan bajaj gratis yang lebih bersih dan trendi untuk berkeliling. Rekomendasi kami pesanlah hotel ini melalui situs ini.

Art 1: Museum

Jakarta dan museum? Apakah mereka berjodoh? Apakah museum di Jakarta ada yang keren?

Menurut saya ada, salah satunya Museum Bank Indonesia. Tapi, selain itu, ada museum lain, dan ini adalah museum seni. Apakah penduduk Jakarta sempat menikmati berkesenian? Tentunya!

Museum modern yang cukup baru ini dikelola swasta dan berada di daerah yang cukup tidak diketahui bagi penikmat museum, di Jl. Rajawali Selatan Raya No. 3. Tepatnya, ada di dekat Jakarta Expo Kemayoran. Galerinya ada yang permanen dan ada yang temporer, menampilkan karya seni modern dan kontemporer.

Setiabudi One

Saya pergi ke mal besar karena nyaman untuk anak bayi saya. Itu saja. Selebihnya, ya berdasarkan kebutuhan dan keinginan, misalnya berbelanja atau makan sesuatu. Dulu, sih, nonton film. Sekarang masih sulit karena ada anak bayi.

Sejujurnya, saya lebih suka mal yang lebih kecil, yang lebih laid back, seperti Setiabudi One di Rasuna Said ini, kalau memang masih boleh dibilang mal.

Tidak ramai, tapi juga tidak senyaman mal, tapi siapa peduli? Di sini kita bisa makan, minum, belanja, olahraga dan nonton dalam sekali kunjungan. Ada kedai kopi baru dari Melbourne, St. Ali, yang juga semakin membuat tempat ini laris dikunjungi.

Lokasinya strategis, di daerah perkantoran Rasuna Said, tapi jauh dari mal kebanyakan, jadi rasanya seperti pergi ke kantor pada hari Sabtu dan Minggu. Sepi, rileks dan sempurna.

Pondok Indah

Anda suka berlari? Bukan, bukan lari dari kenyataan, tapi lari untuk badan yang sehat. Jika ya, beberapa pilihan yang tidak terlalu ramai ada di Jakarta. Salah satunya di lingkungan dalam Pondok Indah, di mana pohon masih rimbun dan jalanan masih besar dan tidak ramai angkutan. Berlari dan bersepeda di sini masih lumayan membuat rileks, udara juga relatif masih bersih. Kalau anda ingin berenang, coba juga Pondok Indah Waterpark, walau agak ramai sedikit. Ya, saya memang kurang suka tempat ramai.

Selesai berolahraga, sarapan dim sum di Lotus atau kafe-kafe di ruko Pondok Indah, asal tidak kebanyakan.

Sederhana, Lot 18, SCBD

Rumah Makan Sederhana ada di mana-mana di Jakarta, tapi satu yang jadi favorit saya: di Lot 18, SCBD. Menurut saya, rasanya relatif lebih enak dari yang lain. Entah mengapa. Mungkin tergantung kokinya? Pengelola franchise-nya? Entahlah.

Tempat ini ramai sekali pada hari kerja. Saya, sih, senang dendeng balado atau baraciak, juga ayam bakarnya.

Kopi Oey, Duren Tiga

Kopi Oey di Jalan H. Agus Salim (Sabang) adalah yang pertama, lalu merambah ke tempat-tempat lain. Secara pribadi, Kopi Oey favorit saya ada di Duren Tiga, di dekat Jl. Mampang Prapatan Raya. Kedai kopi ini awalnya ditubuhkan oleh Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia dan selebrita televisi. Konsepnya adalah kopitiam (warung kopi peranakan dari Malaysia dan Singapura), tapi dipadu dengan menu lokal Indonesia.

Menunya standar dan biasa saja, walau saya suka sego ireng dan teh tariknya. Namun, tempat di Duren Tiga ini cukup tenang, karena jalannya tidak dilalui banyak kendaraan, parkirnya cukup luas (jika membawa kendaraan) dan di belakangnya juga ada Umaku Sushi, jika anda masih lapar, dan tempatnya tersambung dengan Kopi Oey karena memang masih satu manajemen.

Vinna Cake

Lupakan tempat kue lain. Jika anda ingin merasakan “kuih-muih” Indonesia yang sangat bervariasi dengan harga yang lumayan murah, datangi Vinna Cake. Tempatnya cukup kecil, di belakang Hotel Amaris Panglima Polim, tepatnya di Jl. Sambas Raya 6. Dimiliki oleh Sutrisno yang sudah memulai bisnis ini sejak tahun 1998, Vinna Cake menawarkan 30 macam jenis kue, mulai dari kue tradisional seperti klepon, semar mendhem, kucur, sampai kue modern seperti kue lapis, brownies, bolu gulung dan lain sebagainya.

Turkuaz

Saya merekomendasikan tempat ini, walau bukan makanan atau minuman Indonesia, karena pengalaman positif saya di sini. Suatu ketika istri saya ingin makan makanan Turki, dan kami tak tahu tempat mana di Jakarta. Jangan bilang Doner Kebab, karena tentu saja itu tidak mencerminkan Turki yang sejati.

Akhirnya, pilihan jatuh di sebuah restoran di Jl. Gunawarman, Turkuaz. Makanannya cukup autentik karena pemilik dan chef-nya adalah orang Turki, Sezai Zorlu. Beliau sudah sejak 1999 bekerja di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia. Ia berasal dari Iskenderun, sebuah kota kecil di tenggara Turki, dan di sanalah ia membangun kecintaan pada dunia kuliner.

Kecintaannya ini membuahkan hasil dengan mendirikan restoran Turkuaz, dan bisa kita lihat di menunya dengan bahasa asli Turki. Namun demikian, jangan khawatir, nama-nama seperti Suzme Mercimek Corbasi, Zeytinyagli Humus, Sigara Boregi dan Tavuklu Muska Boregi semua dijelaskan komposisinya dalam bahasa Inggris.

Waktu saya berkunjung ke sana, chef Sezai Zorlu datang ke meja kami dan menanyakan sendiri bagaimana masakannya. Kami merasa dilayani oleh sang pilot sendiri!


Bepergian dengan Bayi

Bepergian dengan bayi tidak sama dengan bepergian sendiri, atau bersama teman-teman saja. Ketika punya bayi tujuh bulan lalu, saya jadi tahu banyak hal tentang bepergian bersama bayi. Oh ya, mungkin karena itu juga blog ini sudah lama tidak diperbaharui, karena saya sibuk dengan keluarga dan pekerjaan. Setelah ini saya punya niat untuk meneruskan blog ini agar tidak terbengkalai, dimulai dari artikel tips ini!

Untungnya, saya punya istri yang mendukung. Saya justru banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengurus bayi dan apa yang sebaiknya dilakukan. Persiapan bayi untuk bepergian memang banyak, tetapi jika kita pintar bersiasat maka semuanya dapat dijalani mudah-mudahan dengan lancar.

Popok

Tentu saja ini barang pertama yang diingat. Sehari-hari, kami tidak pakai popok pakai-buang, tapi popok kain, untuk menghemat, tapi untuk urusan bepergian, kami mengkombinasikan popok pakai-buang untuk pagi, siang dan sore, dan popok kain untuk malam hari agar bayi lebih nyaman. Tapi, tentu saja ini tergantung kebiasaan dan kenyamanan bayi anda. Jika bisa, beli popok sesuai jumlah hari perjalanan. Bayi saya membutuhkan lima sampai delapan popok setiap 24 jam. Jika tidak muat kopernya, bawa setengahnya dan beli di tujuan, jika ada.

Alat makan dan makanan

Jika bayi sudah dalam tahap makanan pendamping ASI (MPASI), maka perlu disiapkan semua yang berkaitan dengannya, seperti alat makan. Siapkan juga sabun cuci dan spons yang baru. Siapkan juga tisu anti-bakteri atau disinfektan lain untuk membersihkan alat makan. Untuk makanannya sendiri, jika di tempat tujuan ada pasar atau swalayan, maka lebih baik membeli buah atau daging yang segar. Tetapi jika tidak bisa, makanan siap saji juga bisa, mulai dari yang dibuat segar sampai yang dijual di swalayan, terutama jika dalam perjalanan terbang, di kereta api atau di bis.

Jangan lupa, ketika mengepak makanan dan minuman si bayi, taruh dalam tempat transparan untuk ditunjukkan pada petugas keamanan di bandara. Biasanya, makanan cair atau minuman bayi diterima walau lebih dari 100ml.

Jadwal perjalanan

Bayi juga makan dua atau tiga kali sehari, terutama pagi dan siang atau sore. Oleh karenanya, kita bisa mencari jadwal terbang di antaranya, misalnya ketika pagi buta (ketika bayi masih terlelap), siang hari (ketika belum makan) atau malam hari (ketika bayi sudah mulai terlelap lagi).

Membawa stroller atau tidak?

Dorongan bayi (stroller) bisa berguna hanya pada tujuan perjalanan yang nyaman dilalui pejalan kaki, misalnya negara maju, di mana infrastrukturnya sudah ada dan aman digunakan. Jika tujuan perjalanan anda ke hutan, pantai terpencil, kota di Vietnam, atau kebanyakan kota di Indonesia di mana anda tidak akan pergi ke mal, maka tinggalkan sajalah dorongan bayi itu di rumah. Anda diharuskan mengepaknya untuk dimasukkan bagasi, dan idealnya anda harus punya tas pelindung agar tidak kotor. Saran saya, lebih baik gunakan gendongan bayi modern seperti ransel yang bisa membawa bayi di depan tubuh orang tuanya agar anak lebih tenang.

Koper apa ransel?

Untuk urusan bayi, gunakan koper. Orang tuanya bisa gunakan ransel, kalau mau. Bayi butuh lebih banyak ruang dan mencuci tidak selalu menjadi solusi. Ada gunanya cari penginapan yang punya mesin cuci atau fasilitas binatu, tapi hanya sebagai jaga-jaga.

Perjalanan udara yang panjang

Perjalanan udara yang panjang, di atas empat jam, bisa menjadi mimpi buruk bagi orang tua dan bayi. Usahakan beli kursi sendiri untuk bayi anda, walau ada opsi lap infant (bayi didudukkan di atas paha orang dewasa). Anda tidak akan mampu memangku bayi anda selama 10 jam. Lebih mahal, tapi sangat berharga!

Siapkan satu popok setiap dua jam. Jadi, jika perjalanannya memakan waktu 10 jam, sediakan minimal lima popok. Lebihkan satu atau dua.

Jangan lupa sedia penutup telinga untuk menghindari anak merasa tidak nyaman dengan pergantian tekanan udara (walau tidak semua bayi memerlukannya).

Beberapa maskapai bahkan menyediakan makanan bayi dan popok tambahan, jadi bisa lihat-lihat opsi maskapai mana yang akan anda gunakan.

Sesuaikan fase anda

Jika anda terbiasa bepergian aktif dan berfase cepat, dengan bayi, anda tidak bisa begitu. Ketika sampai tujuan, misalnya, anda mungkin harus menggunakan taksi atau mobil dan rela mengantri lebih lama, demi kenyamanan. Anda mungkin hanya mengunjungi tempat-tempat yang ramah bayi (tidak bisa lagi, tuh, berlama-lama di pasar yang ramai). Anda mungkin keluar pada jam-jam sesuai jam bangun bayi anda, dan setelah bayi anda makan. Anda mungkin harus pulang sebelum waktu yang anda inginkan. Sesuaikanlah semuanya, yang penting bayi anda bisa menikmati juga perjalanan itu.


Antara Nyaman dan Hemat, Pilih Mana?

Melakukan perjalanan atau liburan identik dengan menghabiskan uang. Karena itu, muncullah kredo jalan-jalan hemat atau backpacking. Lalu muncullah lagi istilah flashpacking, di mana tetap hemat tapi ada kalanya mencari kenyamanan. Bagusnya, industri pariwisata mendukung. Banyak maskapai penerbangan murah, hotel dan hostel yang terjangkau, serta infrastruktur beberapa negara menunjang perjalanan independen.

Ambil kereta api malam untuk menghemat akomodasi.
Ambil kereta api malam untuk menghemat akomodasi.

Awal saya rutin melakukan perjalanan, saya juga mengikuti kredo flashpacking. Ada beberapa hal yang saya hemat sekali, tetapi ada beberapa situasi di mana menurut saya pantas jika kita mendapatkan yang terbaik walau harga lebih mahal.

Ditinjau dari beberapa komponen perjalanan, saya dapat menilik beberapa hal yang bisa dihemat dan beberapa hal yang bisa ditoleransi dari segi anggaran.

Akomodasi

Penginapan bisa dihemat jika kita fokus ke pengalaman di lokasi. Penginapan biasanya hanya untuk istirahat atau tidur. Yang paling penting justru lokasi dari tempat menginap, walau jauh tapi jika akses ke sarana transportasi umum baik, maka semua penderitaan terbayar sudah.

Jika bepergian berdua atau lebih, anda bisa menghemat pengeluaran juga dengan berbagi kamar.

Wisata yang dipandu. Tur atau wisata yang dipandu dapat menjadi lebih hemat atau malah boros. Perhatikan destinasi, apakah bisa dieksplorasi dengan jalan kaki atau harus dengan kendaraan? Ada kalanya akan lebih hemat jika jarak antar destinasi cukup jauh dan mengejar kepastian dari segi waktu dan biaya. Jika semua destinasi bisa dijangkau dengan jalan kaki atau naik kendaraan umum yang relatif murah, maka lebih baik melakukan eksplorasi sendiri.

Penerbangan

Menurut saya, tak apa membayar lebih untuk jam penerbangan yang lebih masuk akal atau sekedar membeli perasaan aman. Penerbangan panjang justru memerlukan kenyamanan lebih, sehingga jangan ragu untuk membeli tiket maskapai yang lebih baik atau kursi ekonomi plus itu.

Selain transportasi udara, transportasi darat seperti bis umum dan kereta api juga lebih baik mengutamakan kenyamanan dan keamanan. Trik menghemat untuk ini adalah selalu gunakan jam malam ke pagi sehingga dapat menghemat akomodasi. Cari sleeper bus atau sleeper train. Tidur di kelas yang lebih nyaman agar bisa segar di esok hari ketika sampai di tujuan.

Kuliner

Untuk saya pribadi, pengalaman kuliner adalah salah satu yang terpenting, oleh karenanya saya tidak masalah untuk sedikit mengeluarkan uang lebih demi pengalaman yang menyenangkan. Tetapi, ada kalanya kita memang harus berhemat. Ketika di Berlin, Jerman, setiap hari saya hanya beli roti yang cukup besar untuk dibawa sambil berjalan kaki. Lumayan menghemat makan siang. Air minum saya bawa dari hostel, diisi dari air keran. Namun, ketika di Hanoi, Vietnam, saya banyak makan karena tertarik dengan hampir semua makanan di jalan.

Tas dan isinya

Baju, alat mandi, dan tasnya sendiri dapat menambah pengeluaran. Saya suka berlatih untuk hidup seadanya dari pilihan yang terbatas. Jika pergi seminggu, saya pak 3 atau 4 pasang baju saja, dengan 1 atau 2 celana pergi. Alat mandi juga saya bawa secukupnya, tidak lebih dari 100ml untuk setiap cairan. Jika terpaksa, kita bisa beli di tujuan dengan harga yang relatif murah. Membawa beban berlebih dan membawa koper dapat menyebabkan kita harus naik taksi, yang tentu saja lebih mahal.

Menghabiskan waktu di bandar bisa menyenangkan sambil menghemat waktu.
Menghabiskan waktu di bandar bisa menyenangkan sambil menghemat waktu.

Komunikasi dan data

Komunikasi dan data cukup penting, sehingga biasanya saya akan membeli paket yang maksimal. Dengan modal internet cepat, kita bisa eksplorasi lokasi lebih cepat dan efektif. Jadi, jangan pelit untuk yang satu ini.

***

Kesimpulannya, saya lebih baik mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi, kuliner dan komunikasi. Namun, tentunya semua ini berbeda untuk setiap orang. Bagaimana dengan anda?


Menggunakan Mobile Wi-Fi Router untuk Berwisata di Singapura

Salah satu masalah ketika bepergian ke luar negeri adalah kebutuhan paket telepon dan data. Paket data bisa jadi adalah masalah yang lebih penting saat ini karena hampir semua kegiatan di telepon atau perangkat mobile kita dilakukan over the cloud atau melalui internet.

Sudah tidak zaman lagi kita berkirim SMS, kita akan bertukar pesan melalui aplikasi ngobrol seperti WhatsApp, Line atau iMessage. Sudah tidak zaman lagi kita mengkhawatirkan bertelepon mahal ke keluarga di tanah air, karena kita sudah bisa menggunakan Skype atau Google Hangout. Semua dalam satu tarif yang jauh lebih ekonomis. Selain itu, kebutuhan navigasi di daerah tujuan menjadi hal lain yang penting. Dengan Google Maps atau aplikasi peta lain, kita tak perlu bertanya jika sesat di jalan. Kita bisa lihat ulasan restoran atau atraksi tertentu sebelum mencobanya agar tidak kerugian. Kita tahu jarak dan waktu yang harus ditempuh dari titik A ke titik B. Bagi yang senang ngeblog atau beraktivitas di media sosial, kebutuhannya lebih konstan dari menit ke menit.

Wi-Fi Router
Wi-fi router.

Jika kita melakukan perjalanan ke Singapura, misalnya, ada beberapa alternatif untuk mendapatkan paket data ini. Yang pertama, kita bisa menyewa paket telepon seluler lokal. Namun, seringkali kecepatannya tidak terlalu mencukupi dan repot registrasi. Yang kedua, kita bisa mengaktifkan roaming data pada paket seluler dari Indonesia, namun bisa jadi mahal per harinya. Yang ketiga, kita bisa menyewa mobile wi-fi router yang tersedia di bandara Changi, yang disediakan oleh Changi Recommends. Opsi kedua ini bisa dicoba dan cukup direkomendasikan. Dengan tarif sewa S$10 per hari, saya dapat mengakses internet di seluruh pelosok Singapura menggunakan jaringan 4G dengan kecepatan tinggi dan kuota tak terbatas. Router ringan yang mudah dibawa ke mana-mana jadi kemudahan tersendiri, apalagi jika bisa dihubungkan dengan hingga delapan perangkat seperti ponsel, tablet dan laptop. Tidak perlu instalasi juga!

Ada dua cara untuk mendapatkan mobile wi-fi router ini di Bandara Changi. Ketika baru datang, anda bisa langsung walk-in ke kaunter penjualan Changi Recommends di Terminal 1, Terminal 2 maupun Terminal 3. Untuk lebih jelasnya, perhatikan peta ini.

Peta terminal lokasi kaunter Changi Recommends
Peta terminal kaunter Changi Recommends.

Yang kedua, anda bisa reservasi perangkat ini secara online terlebih dahulu. Buka formulir online ini dan isilah paling lambat tiga kali 24 jam (tiga hari) sebelum hari keberangkatan. Setelah itu, cetak email konfirmasi (dalam satu hari kerja). Pada hari kedatangan anda di Bandara Changi, pergi ke kaunter penjualan yang sama dengan di atas dan bayar deposit, anda sudah bisa mendapatkan router-nya!

Ketika menyewa router ini, jangan lupa siapkan hasil cetak konfirmasi email (jika membuat reservasi online), paspor yang sah, serta kartu kredit (deposit S$200, digunakan hanya jika router dan aksesorisnya hilang).

Kaunter Changi Recommends
Kaunter Changi Recommends.

Melayani dengan ramah
Melayani dengan ramah.

Nikmatilah router ini di mana pun anda berada di Singapura. Cara menggunakannya pun mudah: nyalakan router, nyalakan wi-fi pada perangkat anda, lalu sambungkan dengan SSID dan key wi-fi yang tertera di belakang router.

Pembayaran dilakukan terakhir sebelum ada berangkat di kaunter penjualan Changi Recommends di Bandara Changi.

Untuk para pembaca sekalian, nikmati diskon 20% Mobile Wifi Router dengan minimum penyewaan 3 hari. Silakan reservasi online dan masukkan kode promosi “ROUTER20”. Promosi valid dari 17 Oktober hingga 31 Desember 2014.


Berhemat Pangkal Jalan-Jalan Maksimal

Sampai saat ini banyak yang bertanya bagaimana “berwisata murah ala ransel” atau malah ada juga yang ingin “wisata murah atau nyaris gratis tetapi fasilitas maksimal”. Berwisata murah ala ransel tentu lebih terdengar logis dan sangat bisa diusahakan, tetapi wisata murah atau nyaris gratis dengan fasilitas maksimal? Mungkin perlu pintar-pintar mencari kesempatan promosi, undangan atau dengan “nebeng” keluarga atau teman di tempat tujuan.

Tidak ada formula khusus untuk berwisata murah ala ransel, dan niat berwisata murah bisa saja tiba-tiba pudar ketika kita tidak disiplin pada rencana ketika sampai di tujuan. Namun, ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya sebelum, ketika dan setelah perjalanan itu.

Beli tiket transportasi pada hari-hari kerja

Biasanya, tiket-tiket transportasi seperti pesawat, bis dan kereta api akan lebih mahal pada ujung minggu dibanding tengah minggu. Cari keberangkatan hari Rabu atau Kamis dan pulang pada hari yang sama. Resikonya memang kita harus cuti lebih panjang dari kantor, misalnya. Tetapi harga yang didapat bisa lebih murah hampir setengahnya. Jangan lupa juga lihat grafik pergerakan harga tiket pesawat pada bulan-bulan ke depan.

Berkemas ringkas

Sudah seringkali diulas di situs ini maupun di situs-situs lain, berkemas ringkas merupakan kunci wisata murah pengalaman maksimal. Anda tak perlu membayar bagasi berlebih, bisa naik angkutan umum lebih leluasa tanpa harus membayar taksi, lebih cepat bergerak dan mengejar jadwal berikutnya, serta belanja awal lebih murah. Lupakan oleh-oleh.

Menginap di rumah teman atau keluarga

Sewaktu saya ke Hanoi tahun 2009, saya menginap di rumah teman lama di sana. Teman yang orang Vietnam ini justru juga membuat rencana jalan-jalan di kotanya. Selain menghemat uang, saya juga menghemat waktu. Saya cukup membawa oleh-oleh dan sesekali, jika mau, membawakannya makanan dari hasil jalan-jalan atau memasak sesuatu di sana.

Gunakan transportasi umum

Jangan malas untuk mempelajari transportasi umum, apalagi jika hanya jalan-jalan. Kecuali anda mengejar waktu, menggunakan transportasi umum adalah salah satu cara mengenal kultur dan kebiasaan orang lokal.

Bawa air minum sendiri

Dari botol kosong, bawa air minum putih sendiri dari penginapan atau rumah teman. Ini akan menghemat banyak waktu. Isi di jalan.

Beli makanan yang tahan beberapa hari

Contohnya, roti. Roti yang bisa dimakan dua hari dapat jadi cemilan ketika lapar, dan makanan utama juga dapat lebih dihemat jika kita bisa “mencampurnya” dengan roti. Misalnya, beli salad saja, lalu kita makan pakai roti. Atau…

Makan besar 2 kali sehari

Sarapan cukup roti dan gratisan kopi atau teh. Makan siang dan malam bolehlah kita beli di jalan kalau memang kita tak tahan lapar dan fokus perjalanan adalah wisata kuliner.

Jangan beli oleh-oleh

Kedengarannya jahat, tapi minimalisir pembelian oleh-oleh atau tidak sama sekali. Ini akan membuat pengeluaran membengkak. Jika harus, belilah yang ukurannya kecil, murah, banyak dan bisa dibawa di ransel.

Pelajari bahasa lokal

Jika bisa berbahasa lokal seringkali kita bisa menawar harga lebih murah, karena dianggap lebih akrab.

Kontrol diri

Ingat, tidak semua tempat harus dikunjungi dalam satu waktu. Walaupun ada tempat-tempat yang “wajib dikunjungi”, jangan terjebak dengan kecenderungan itu. Setiap perjalanan ke suatu tempat adalah milik Anda sendiri dan percaya naluri Anda. Lebih baik santai dan fokus di dua atau tiga tempat daripada berkeliling enam tempat sekaligus dalam satu hari. Tentunya, ini akan menghemat biaya juga.


Artikel sebelumnya

© 2017 Ransel Kecil