Sesuai dengan namanya, Ujung Genteng, pantai ini memang benar-benar terletak paling “ujung”, ke arah selatan kota Sukabumi. Kala itu, saya memulai perjalanan ke Ujung Genteng dari Depok saat hari sudah mulai berganti malam. Entah mengapa saya lebih suka perjalanan malam, lebih asyik berjalan menyusuri destinasi ditemani dinginnya malam. Duduk anteng di bis, memandangi sinar lampu, sinar rembulan dan kelap-kelip bintang dari bilik jendela, satu hal yang dirasa: nikmat!

Seperti biasa, saya dan teman-teman kampus, berpetualang dengan cara “menggembel”. Saya harus naik bis tanpa AC. Walau tanpa pendingin, hawa panas dan gerah tidak terasa, entah karena angin malam yang dengan semilirnya masuk melalui celah jendela, atau karena saya sudah terbiasa menggembel dalam perjalanan.

Bis terus melaju, sampai akhirnya tepat tengah malam saya sampai di Kota Sukabumi. Perjalanan belum usai, karena saya harus melanjutkan perjalanan ke Surade. Saya turun perlahan dan tak lama kemudian saya langsung dikerumuni banyak supir van yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke Surade. Saya sempat bingung ketika dikerumuni banyak supir, namun saya tetap berusaha bernegosiasi untuk mendapatkan tarif van termurah.

Setelah bernegosiasi ria dengan beberapa supir van, akhirnya saya dan teman-teman saya mendapatkan harga termurah, langsunglah kami semua memasukkan daypack ke dalam van.

Perjalanan dilanjutkan ke Surade, trek menuju surade lumayan panjang, masih sekitar tiga jam lagi. Saya merasakan petualangan yang seru di destinasi menuju Surade, ditemani trek yang berliku-liku, menanjak, menurun, dan terkadang dijumpai jalan yang rusak, perjalanan terasa seperti offroad. Mau tidur pun sulit, van bergoyang bak penari dangdut handal. Memandang keluar hanya terlihat bayang-bayang semak dan pepohonan, sesekali terlihat cahaya saat melewati depan rumah penduduk.

Tak terasa tiga jam berlalu, van mulai berhenti perlahan, pertanda sudah sampai kawasan Ujung Genteng. Saat pintu van terbuka, saya langsung disapa oleh angin pantai, semilir membelai rambut saya. Ombak pun tidak mau kalah menyambut saya, dalam kegelapan terdengar suara ombak berdebur, pantai memang tidak terlihat jelas, tapi saya bisa merasakan sensasi keindahannya.

Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, bagi umat muslim seharusnya sedang fokus sholat tahujud, tapi saya dan teman-teman saya baru saja sampai serta kebingunan untuk mencari homestay untuk bermalam. Inilah hal-hal tak terduga yang terkadang saya temukan dalam perjalanan. Namun, Hal-hal yang tak terduga itulah yang biasanya paling berkesan.

Setelah keluar masuk homestay dan ternyata penuh semua, kami semua tidak kehabisan akal. Kami bertanya pada penduduk sekitar yang masih bercengkerama di warung pinggir pantai mengenai alternatif penginapan, setelah diskusi panjang, akhirnya kami semua diarahkan ke rumah penduduk yang letaknya agak jauh dari pantai.

Saya terus berjalan menyusuri jalan berbatu, sampai akhirnya tiba di rumah penduduk yang pemiliknya bersedia agar rumahnya disewakan sebagai tempat penginapan. Sungguh tidak terduga, saya ternyata bermalam di rumah penduduk. Tarifnya jauh lebih murah dari homestay.

Rumah tersebut ternyata lumayan besar, tidak kalah nyaman dengan homestay. Tanpa pikir panjang karena semua sudah kelelahan, kami langsung terbaring mengambil posisi tidur paling nyaman. Semua bergegas tidur agar energi pulih tuk bekal petualangan esok ke pantai, air terjun, dan goa.

Mentari pagi mulai muncul dari ufuk timur, saya sudah terbangun dari lelap kemudian langsung bersiap-siap tuk memulai petualangan sesungguhnya.

Dengan angkot carteran, saya berpetualang di kawasan Ujung Genteng, destinasi nomor wahid yang saya singgahi adalah Air Terjun Cikaso. Air terjun ini memiliki pesona luar biasa, disini saya disuguhkan empat air terjun sekaligus, keempatnya berjejer dalam posisi berdampingan. Terpana saya memandangi air terjun sambil merasakan kesejukan cipratan buih air terjun, sebuah pesona yang unik. Terlihat lumut-lumut menyelimuti tebing-tebing air tenjun, terlihat hijau terang dan amat menyegarkan mata. Air terjunnya sangat deras, membentuk sebuah kubangan air luas menyerupai danau. Airnya jernih dan sejuk, bisa digunakan untuk berenang.

Disarankan untuk tidak berenang terlalu jauh mendekati letak posisi air terjun, karena semakin menjauh semakin dalam, tidak disarankan untuk orang yang tidak mahir berenang.

Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.
Lumut-lumut hijau menghiasi Air Terjun Cikaso.

Saat di sana, saya tidak berenang sungguhan, saya hanya di pinggiran main air sambil membasahkan kaki saja. Saat teman-teman saya sibuk berenang, saya malah sibuk mengabadikan keindahan Cikaso dengan kamera saya, saya abadikan dari berbagai sudut, semuanya tampak sempurna, indah terekam dalam lensa saya.

Puas dengan pesona Air Terjun Cikaso, saya lanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu Goa Walet. Saya caving di sini. Letak goa Walet tidak terlalu jauh dari Air Terjun Cikaso, mobilisasi dengan angkot carteran hanya sekitar lima belas menit. Akses menuju goa ini hanya berupa jalan setapak, jadi angkot tidak bisa mendekat. Selanjutnya modal kaki, jalan menyusuri jalan setapak, melewati perkampungan dan sawah-sawah, sensasi trekking-nya amat terasa.

Terus melangkah menyusuri hamparan padi, sampai akhirnya tiba di bibir goa. Setelah izin dengan penduduk setempat, mulailah saya memasuki goa, akses pertama yang harus dilalui adalah jalan menurun yang terjal. Bahu-membahu kami memasuki goa tersebut. Goa amat gelap, bermodalkan sinar lampu petromaks, saya berjalan membuntuti seorang penduduk setempat yang menjadi pemandu wisata dadakan. Walaupun terasa pengap, sedikit udara, kegerahan, dan pakaian terbasahi dengan keringat yang mengucur, saya tetap menikmati sensasi caving di goa Walet, sangat direkomendasikan bagi para pelancong yang singgah di kawasang Ujung Genteng.

Pantai Pangumbahan.
Pantai Pangumbahan.

Puas dengan bentang alam air terjun dan goa, saya melanjutkan destinasi utama, yaitu pantai. Di kawasan Ujung Genteng, saya singgah ke beberapa pantai. Pertama, Pantai Ujung Genteng itu sendiri, lalu Pantai Pangumbahan dan terakhir Pantai Amanda Ratu. Ketiga pantai tersebut memiliki keunikan yang berbeda, masing-masing memiliki daya magnet atau daya tarik yang berbeda. Pantai Ujung Genteng memiliki keunikan dengan karang-karangnya. Terdapat banyak karang di sekitar bibir pantainya, bila air surut akan terlihat lebih jelas hamparan karang yang luas, jadi para pelancong bisa menikmati keindahan karang-karang ini sambil berjalan menjauh dari bibir pantai ke arah laut.

Berbeda lagi dengan Pantai Pangumbahan, di sini saya disuguhkan dengan keunikan penyu dan tukik. Pantai ini terkenal dengan habitat penyu menetaskan telur-telurnya. Penyu-penyu menjadikan pantai ini sebagai tempat yang paling nyaman untuk bertelur, bila para pelancong beruntung, pada tengah malam bisa melihat secara langsung prosesi penyu bertelur. Di dekat pintu masuk pantai ini terdapat penangkaran penyu, telur-telur penyu dieramkan dengan sistem penangkaran, tukik yang menetas dari telur tersebut akan dilepaskan kembali ke lautan lepas. Satu keunikan lagi dari pantai ini yaitu para pelancong dapat ikut bersama melepaskan tukik ke laut lepas, biasanya disore hari, sayang sekali saat saya berkunjung ke sana saya agak telat, sehingga prosesi pelepasan tukik ke laut lepas terlewatkan. Tapi tak mengapa, karena kekecewaan itu terbayarkan dengan keindahan pantainya. Pantainya amat indah, pasir putihnya terhampar luas, melangkahkan kaki di pantai ini akan merasakan kelembutan tiap butir pasirnya. Sama seperti pantai-pantai lain yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, ombak di pantai ini amat besar, mengalir dengan derasnya menuju bibir pantai. Jadi, jangan coba-coba berenang terlalu jauh dari bibir pantai.

Pulau Kecil di Amanda Ratu.
Pulau Kecil di Amanda Ratu.

Pantai lain yang tidak kalah elok adalah Pantai Amanda Ratu. Pantai ini sudah mulai dikembangkan oleh investor pariwisata setempat, sehingga fasilitas di kawasan pantai ini sudah cukup eksklusif. Terdapat penginapan mewah di sekitar pantai ini, penginapan yang langsung terletak di pinggir pantai. Untuk para pelancong tipe “menggembel” sebaiknya tidak menginap di sini, karena dijamin harganya agak menguras kantong. Lebih baik mencari homestay di sekitar Pantai Ujung genteng yang harganya bersahabat dengan kantong. Tapi, bagi pelancong khas “koper” yang menginginkan fasilitas yang agak mewah, Amanda Ratu sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat menginap, karena fasilitas di Amanda Ratu sudah lumayan lengkap, termasuk fasilitas kolam renang di dalamnya.

Saya menyebut Pantai Amanda ratu dengan Tanah Lot versi Ujung Genteng. Pantai Amanda Ratu selintas memang menyerupai Pantai Tanah Lot yang terkenal di Pulau Dewata sana. Kemiripan itu terletak pada pulau kecil yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.