Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo.

Dari sekian banyak cerita perjalanan saya di Indonesia, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat yang punya paling banyak cerita. Terlalu banyak keindahan yang bisa di ceritakan sampai tiada habisnya.

Saya mengunjungi Taman Nasional Komodo bertepatan dengan acara puncak Sail Komodo 2013. Sengaja saya pilih waktu yang bertepatan dengan acara tersebut, agar dapat merasakan nuansa salah satu acara pariwisata terbesar di Indonesia. Banyak sekali serangkaian acara yang di selanggarakan pada acara puncak Sail Komodo 2013, mulai dari acara pariwisata dan acara budaya. Saking banyaknya, saya harus membagi waktu untuk menikmati kedua acara tersebut.

Sabtu pagi yang cerah saya sudah berdiri di dermaga Labuan Bajo, dan siap untuk berpetualang di Taman Nasional Komodo selama satu hari penuh. Sengaja saya memilih one day trip, karena saya ingin melihat pergelaran budaya di hari berikutnya.

Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.
Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.

Selamat datang di Taman Nasional Komodo!
Selamat datang di Taman Nasional Komodo!

“Hari ini ada dua pilihan, pilihan pertama kita ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, tapi kita tidak ke pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk snorkeling, karena waktu pasti tidak akan cukup. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo saja akan ditempuh selama tiga jam, pulang pergi sudah enam jam dan itu cuma perjalanannya saja,” ujar sang penjaga kapal. “Pilihan kedua, kita ke Pulau Rinca saja—tidak usah ke Pulau Komodo—kemudian kita bisa keliling ke Pulau-Pulau sekitarnya sambil snorkeling,” lanjut penjelasan dari penjaga kapal.

“Enaknya bagaimana ya, Pakl supaya bisa berpetualang dari pagi sampai sore sampai puas,” tanya saya dan keempat rekan saya serentak. “Saran saya lebih baik pilihan kedua saja, kita tidak usah ke Pulau Komodo, karena terlalu jauh dari Labuan Bajo. Kalau hanya mau lihat komodo saja sih mending ke Pulau Rinca, di sana lebih banyak komodonya daripada di Pulau Komodo. Dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca pun tidak begitu jauh, hanya sekitar satu setengah jam. Setelahnya kita masih punya banyak waktu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil di sekitarnya yang lebih eksotis dari Pulau Komodo, bisa menikmati pantainya dan snorkeling lebih lama,” jelas petugas kapal sembari memberi saran.

Sip deh Pak kalau begitu, kita pakai pilihan kedua saja untuk petualangan hari ini,” serentak saya dan keempat teman saya memilih. Suara bising mesin kapal pun mulai terdengar, dan kapal siap berlabuh meninggalkan dermaga Labuan Bajo.

Pulau Sebayur
Pulau Sebayur. Cantik, ya?

Savana di Taman Nasional Komodo
Savana di Taman Nasional Komodo.

Kapal terus melaju menembus ombak, saya melihat banyak kapal-kapal yang lego jangkar yang akan meramaikan acara puncak Sail Komodo 2013. Saya sungguh terkesan dengan panorama yang luar biasa terbentang dihadapan mata saya, laut yang biru, dan pulau-pulau menjadi perpaduan yang mempesona.

Asyik mengobrol dengan rekan-rekan saya, satu setengah jam berlalu tanpa terasa tiba-tiba kapal sudah mendekat ke Dermaga Pulau Rinca. Setelah merapat kami pun perlahan menuruni kapal dan siap berpetualang di Pulau Rinca.

Tak jauh dari dermaga terdapat pintu masuk Pulau Rinca, di pintu masuk saya dan rekan-rekan saya langsung di sambut oleh ranger yang akan mendampingi saya Trekking di Pulau Rinca. Baru saja melewati pintu masuk, saya langsung disuguhi tanah lapang berisi pohon-pohon bakau, terhampar perbukitan savana yang membuat saya merasa sedang berada di Afrika.

Komodo!
Komodo!

Komodo Resort
Komodo Resort.

Sebelum trekking dimulai saya dan rekan-rekan saya harus lapor dahulu di pos lapor dengan menulis identitas diri masing-masing, semacam buku tamu. Kemudian setelah itu ranger menjelaskan tentang jenis-jenis trekking. Di Pulau Rinca ada beberapa trek yang bisa dipilih. Dari jalur pendek sampai panjang yang memakan waktu satu hingga tiga jam. Rute trekking-nya sama sekali tidak membosankan. Oleh ranger saya diajak menanjak, menurun, melewati bebatuan dan hutan menikmati nuasa liar Pulau Rinca. Sungguh terasa petualangan liarnya.

Baru beberapa meter berjalan dari pos lapor, komodo-komodo sudah menyambut. Mereka berada di bawah rumah dan dapur para ranger. Para komodo banyak berkeliaran di sini, berkeliarannya komodo di area ini karena bau makanan yang memancing mereka berkumpul. Penciuman hewan pemangsa ini memang sangat tajam. Para komodo tanpak sedang tiduran di tanah, namun para ranger tetap menginstruksikan saya agar tetap waspada, sambil waspada saya tetap berfoto mengambil gambar dengan sudut yang pas.

Trekking dilanjutkan kembali, di tengah trek saya melewati sarang tempat komodo bertelur. Sarang komodo ini berbentuk lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di tempat inilah sang kadal raksasa ini bertelur. Tampak di dekat lubang tersebut seekor komodo betina yang menjaga sarang.

Sepanjang trekking, ranger terus mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati. Terutama saat berada di sekeliling pepohonan karena anak komodo biasanya tinggal di atas pohon. Jangan sampai tertiban atau kejatuhan ludahnya yang mengandung banyak bakteri. Itulah mengapa, para peserta trekking harus selalu berada dekat dengan rangernya. Agar lebih aman dan perjalanan trekking lebih nyaman.

Dari sepanjang jalan trekking tempat trekking di Pulau Rinca yang menurut saya paling berkesan adalah saat berada di Puncak Bukit. Saat saya berada di puncak bukit saya memberhentikan sejenak langkah saya dengan pandangan mata melihat sekeliling. Terhampar birunya laut yang bergradasi dengan birunya langit, ditambah dengan hijaunya pepohonan di kejauhan. Sungguh panorama yang indah dipandang, amat menenangkan mata. Kumpulan bebatuan dan ilalang semakin menambah keelokannya. Apalagi kala itu cuaca sedang bagus dan mendukung, pemandangan semakin luar biasa.

Tak terasa trekking pun usai, puas berpetualang di Pulau Rinca, saya lekas melanjutkan petualangan selanjutnya yaitu menuju Pulau Sebayur. Pulau Sebayur berada tepat di perbatasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan laut kira-kira selama setengah jam dari Pulau Rinca ataupun selama kira-kira 1,5 jam dari Pulau Labuan Bajo. Kala itu perjalanan kapal agak cepat, hanya sekitar satu jam kapal sudah merapat di dermaga Pulau Sebayur.

Pulau Sebayur dikenal oleh banyak pelancong sebagai salah satu di antara lokasi menyelam dan snorkeling yang paling bagus di Kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini disewakan oleh pemerintah kepada pihak asing dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 30 tahun, investor asing yang menyewa tanah di Pulau ini membangun fasilitas penginapan yang luar biasa indahnya. Suatu kombinasi yang sempurna, pulau indah yang dikelilingi oleh laut, difasilitasi dengan resor yang menawarkan, laksana sebuah area pantai dan pulau pribadi.

Resor di pulau ini bernama Komodo Resort. Saya tidak menginap di sini. Dari luar, resor sangat terlihat antik sekaligus mewah, masing-masing kamar memiliki sebuah teras pribadi di mana orang bisa menikmati pemandangan laut. saya berpikiran suatu saat nanti ingin bulan madu di sini.

Saya juga merasa puas mengamati keindahan ekosistem penghuni dasar laut, mulai dari koral, terumbu karang, beragam jenis ikan cantik bisa diamati dengan bebas di sini.

Pulau sebayur meninggalkan bekas keindahan yang sampai sekarang masih terbayang di pikiran saya, dari sekian banyak pulau yang saya kunjungi di Indonesia, Pulau Sebayur termasuk menjadi pulau terfavorit bagi saya.

  • Disunting oleh SA 18/03/2014