Stasiun kereta api Tanjung Priuk pernah menjadi bangunan megah dan mewah yang pernah ada di utara Batavia pada jaman Hindia Belanda. Letaknya yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Priuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan yang penting sekaligus sebagai tempat transit, keluar masuknya orang Eropa yang datang ke tanah Jawa.

Tidak hanya memiliki delapan peron, stasiun ini juga dilengkapi dengan aula yang luas dan kamar penginapan. Gerbong restorannya pun dilayani dengan petugas berseragam dan bersarung tangan putih yang menyajikan makanan di atas piring keramik dan gelas kristal. Ditemukan juga bunker di bawah stasiun bagian utara yang masih belum diketahui fungsinya pada jaman tersebut.

Bangunan simetris dua lantai bercat putih karya arsitek Ir. C.W. Koch didesain dengan pengaruh kubisme. Didominasi bentuk geometris persegi empat dan garis garis vertikal dan horisontal pada semua bagian bangunan. Kolom struktur batu bata, jendela berukuran besar dan hiasan kaca patri seperti layaknya desain bangunan kolonial Belanda yang banyak ditemukan di bagian kota lama Jakarta.

Tenggelam di balik hiruk pikuk manusia, cuaca panas dan bisingnya terminal bis Tanjung Priuk yang tepat berada di depan stasiun, berada di dalam bangunan ini jutstru memberi kesan yang sangat berbeda. Pencahayaan alami yang masuk melalui deretan jendela kaca, langit-langit yang tinggi, batu keramik yang menutupi permukaan lantai dan sebagian dinding serta bukaan-bukaan ventilasi menciptakan suasana yang tenang dan sejuk.

Sebagai stasiun pertama yang menggunakan kereta bertenaga listrik pada masa Hindia Belanda, kini stasiun Tanjung Priuk hanya melayani tiga keberangkatan. Pukul 15.20 dengan tujuan Cirebon, Tegal, Pekalonga, Waleri, Semarang, Cepu, Bojonegoro, Lamongan dan Surabaya. Pukul 08.30 dan 16.20 dengan tujuan Pasar Senen, Jatinegara, Klender, Cakung, Bekasi, Cikampek dan Purwakarta.

Aneh sepertinya, stasiun yang berukuran cukup besar hanya memiliki satu keberangkatan di pagi hari dan dua di sore hari. Tapi entahlah, saya tidak begitu paham tentang sistem perkeretaapian. Saat saya di sana, stasiun terlihat kosong. Hanya ada seseorang sedang membersihkan rangkaian kereta yang menanti pada sebuah rel.

Menaiki gerbong kereta yang baru saja dibersihkan mengingatkan saya terakhir kali bepergian dengan kereta dari stasiun Senen, Jakarta menuju stasiun Tugu, Yogyakarta. Interior gerbong dan kursi tetap sama seperti lima belas tahun yang lalu. Di sisi lain gerbong kereta terlihat pekerja anak anak menjual makanan dan minuman yang sedang bermain sambil menunggu datangnya penumpang.

Di sudut lain peron tampak dua anak kecil bermain kartu bergambar. Hmmm… mudah mudahan mereka bisa menikmati sistem kereta api yang lebih maju, seperti mimpi akan monorel, ketika mereka dewasa nanti.

  • Disunting oleh SA & ARW 21/07/2011