Sapaan hangat yang ditulis di papan tembus pandang itu menarik perhatian begitu saya menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Ya, sapaan itu tertulis dalam bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa Melayu, mengingat ada bendera Indonesia, Malaysia dan Singapura di bawah tulisan itu), bukan bahasa Inggris apalagi bahasa Korea di mana Pulau Nami ini berada.

Terkenal sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar drama Korea terkenal “Winter Sonata“, Pulau Nami sekarang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Terletak kurang lebih 63 km dari kota Seoul, kita dapat menjangkau pulau ini dengan beberapa cara. Apabila menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan, tinggal arahkan mobil menuju Gapyeong Wharf. Tempat ini merupakan pintu masuk ke “Naminara Republic”. Menuju pulau Nami dengan transportasi umum? Silakan memilih naik shuttle bus atau menggunakan kereta ITX, kereta ekspres yang baru saja beroperasi sejak bulan Februari 2012.

Kapal kecil ke Pulau Nami.
Kapal kecil ke Pulau Nami.

Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.
Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.

Sesampainya di Gapyeong Wharf, kita harus membeli tiket masuk yang mereka sebut “visa fee“. Asyiknya, berbeda dengan kebanyakan di tempat lain, Pulau Nami ini mematok harga “visa” lebih murah untuk orang asing. Harga “visa” untuk orang asing adalah 8.000 won, atau sekitar Rp72.000, sementara harga “visa” yang diperuntukkan untuk warga setempat adalah 10.000 won. Mau lebih murah lagi? Datang saja ke pulau Nami diatas jam enam malam, harga “visa”-nya 4.000 won saja. Tapi, jangan lupa membawa senter karena penerangan sangat jarang.

Sengaja dibuat seolah-olah sebuah “negara” yang berdiri sendiri, Pulau Nami menamai wilayah mereka yang hanya seluas 480.000 meter per segi atau kurang lebih lima kilometer per segi itu dengan sebutan “Naminara Republic” sejak tahun 2006. Mereka mempunyai stempel resmi, seragam resmi para perangkat negara (yang agak mirip koboi, lengkap dengan topinya), harga “visa” dan “paspor”. Paspor ini merupakan sebutan untuk tiket terusan (pass) gratis yang berlaku selama satu tahun. Pemegang paspor Naminara Republic berhak untuk keluar masuk pulau ini selama setahun penuh sejak waktu pembeliannya. Harga paspor itu dibanderol 25.000 won (sekitar Rp225.000). Cukup murah untuk sebuah daerah wisata yang lengkap seperti Pulau Nami.

Setelah mendapatkan visa, kita harus mengantri naik feri menuju Pulau Nami, karena pulau ini sejatinya terletak di tengah-tengah Danau Cheongpyeong. “Visa” yang dibeli sebelumnya sudah termasuk biaya pulang pergi untuk naik feri ini. Feri berangkat setiap 10 – 30 menit sekali,  semakin sore semakin lama selang waktu keberangkatannya. Feri terakhir beroperasi hingga pukul 21.45 malam. Malas naik feri? Ada cara terkeren untuk mencapai pulau Nami yang ada di tengah danau itu. Caranya? Naik zip wire! Pemerintah “Naminara Republic” menyediakan flying fox untuk menyeberangi Danau Cheongpyeong. Cukup membayar 38.000 won (sekitar Rp341.000), maka anda bisa meluncur ria menyeberangi Danau Cheongpyeong menuju Pulau Nami. Tentu saja, zip wire ini hanya ditujukan untuk yang berani. Maksudnya, mungkin, berani tidak membayar begitu mahal untuk menyeberang danau!

Piknik di Pulau Nami.
Piknik di Pulau Nami.

Winter Sonata Cafe.
Winter Sonata Cafe.

Winter Sonata Lane.
Winter Sonata Lane.

Begitu memasuki daerah Pulau Nami, kita akan disambut dengan deretan pohon tinggi yang berjejer lurus. Dingin sekali rasanya melihat suasana alam yang masih terjaga seperti itu. Pulau Nami ini memang menjunjung konsep perpaduan antara manusia, hewan dan tumbuhan untuk “living in harmony far away from crowd and civilization“. Jadi pulau ini memang seperti tempat berlibur untuk bersantai dan istirahat bagi warga kota Seoul dan sekitarnya. Mereka masih bisa menikmati udara bersih, tanaman yang rindang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Pada umumnya pengunjung adalah pasangan muda yang asyik berpacaran. Tidak jarang juga, saya melihat keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang menghabiskan waktu mereka dengan berpiknik di pulau ini. Di suatu sudut pulau, malah ada tempat yang disediakan untuk menyimpan buku yang dapat dibaca oleh pengunjung dengan bebas. Saya melihat seorang ibu yang sedang tekun membacakan cerita dari buku untuk kedua putrinya, manis sekali.

Berkeliling di pulau selain jalan kaki, bisa juga menggunakan kereta yang disediakan oleh “pemerintah Naminara Republic”. Penyewaan sepeda dan Nami Car juga ada. Tidak akan capek, deh, keliling pulau kecil ini. Tempat yang paling populer di Pulau Nami tak lain tak bukan adalah Winter Sonata Lane. Tempat romantis ini menjadi lokasi utama pengambilan gambar drama Korea yang terkenal pada zamannya itu. Nama sebenarnya Metaseqouia Lane. Metaseqouia Lane sebenarnya merupakan jajaran pepohonan yang ditanam oleh tim Seoul National University di tahun 1977. Di sekitarnya banyak terdapat tempat yang berbau Winter Sonata. Ada patung pemeran cowok dan cewek utama di drama Korea tersebut, penyewaan sepeda, Winter Sonata Café dan toko cinderamata. Penggemar drama Winter Sonata pasti akan “menggila” di sini. Selain Winter Sonata Lane ini, banyak juga spot lain yang menjadi lokasi pengambilan gambar drama seperti First Kiss Bridge, lokasi di mana kedua tokoh utama melakukan ciuman pertama. Aduhai.

Seperti halnya tempat wisata terkenal, tidak perlu khawatir akan akomodasi dan kuliner. Di Pulau Nami, terdapat berbagai macam restoran, mulai dari tradisional Korea, Jepang, Cina, sampai masakan Italia. Mau lebih lama menjelajah Pulau Nami? Tinggal pesan kamar di Naminara Hotel Jeonggwanru saja untuk bermalam. Anda tidak akan menemukan internet dan TV di hotel ini, karena konsepnya memang sengaja mendekatkan diri ke alam. Tarifnya cukup terjangkau dan ada potongan harga pula jika menginap di hari minggu sampai kamis. Lumayan, kan?

Namun dari semua itu, yang membuat saya salut dengan pulau kecil ini adalah bagaimana mereka melakukan branding. Bagaimana mereka mencoba menarik para turis mancanegara dengan semua fasilitas yang ada. Tidak jauh dari deretan pepohonan tinggi tadi, anda akan menemukan deretan papan dengan bendera beberapa negara. Papan ini memuat foto dan beberapa informasi penting tentang negara yang bersangkutan. Sayangnya seluruh informasi ditulis dalam bahasa Hanggeul. Buat saya, ini sungguh strategi pemasaran yang menarik. Bisa ditebak, para turis ini pasti akan senang sekali melihat nama dan bendera negaranya terpasang di sebuah pulau kecil yang jaraknya ribuan kilometer dari negara asalnya. Belum lagi bagaimana mereka menggunakan nama tenar Winter Sonata sebagai salah satu media promosi wisatanya. Wah, semakin ramai sepertinya pulau kecil ini. Tahun 2012 ini, Pulau Nami diperkirakan telah dikunjungi oleh sekitar 500.000 wisatawan mancanegara. Itu baru jumlah wisatawan yang mengunjungi Nami melalui agen perjalanan dan semacamnya. Belum termasuk yang perorangan dan backpacker macam saya dan teman-teman.

Satu lagi yang membuat saya salut dengan Pulau Nami. Mereka menyediakan fasilitas prayer room (musholla) untuk pengunjung yang beragama Islam. Letaknya di dalam bangunan yang jadi satu dengan restoran dan ruang pameran seni. Saya sangat terkejut mendapati fasilitas musholla di sini. Jujur saja, fasilitas musholla di Pulau Nami ini sangat pantas dan termasuk salah satu yang terbaik menurut saya. Dengan semua fasilitas itu, saya tidak apabila sutau hari nanti, Pulau Nami akan jadi ikon pariwisata Korea Selatan. Daebak, Nami!

Ada dua cara menggunakan kendaraan umum yang cukup mudah menuju Pulau Nami:

  • Gunakan shuttle bus Naminara. Ada dua tempat di mana kita bisa menemukan shuttle bus ini, yakni Insa-dong (di sebelah Tapgol Park) dan di Jamsil. Bus berangkat pukul 09.30 pagi dari masing-masing tempat tersebut dan hanya satu kali keberangkatan setiap harinya. Jadi pastikan untuk memesan terlebih dahulu (bisa melalui email ke namibus@naminara.com). Harga tiket sekitar 23.000 won (sekitar Rp206.000) untuk perjalanan pulang-pergi dan “visa” untuk Pulau Nami.
  • Gunakan ITX (Intercity Train Xpress), kereta ekspres yang menghubungkan Seoul dengan Cheongchun. Dari Seoul bisa berangkat dari Yongsan atau stasiun Cheongyangni dan berhenti di stasiun Gapyeong (merupakan stasiun kereta terdekat dengan Gapyeong Wharf untuk menuju Pulau Nami). Dari stasiun Gapyeong dilanjutkan dengan taksi dengan ongkos sekitar 3.000-4.000 won saja ke Gapyeong Wharf.
  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012