Lelaki Tua Penjual Burung

Lelaki Tua Penjual Burung

Jalan beraspal dua arah itu padat disesaki mobil-mobil tua. rumah rumah toko tiga lantai di sepanjang jalan terlihat kusam bercat pudar tertutup debu. Setiap jengkal tempat kosong di pinggir jalan selalu terisi gerobak pedagang kaki lima yang menjual kebutuhan sehari-hari seolah berlomba mencari nafkah. Belum lagi ditambah ramainya pengunjung yang berlalu lalang menambah kesemerawutan siang itu. Wajah yang berparas asing ini pun tenggelam dalam kesibukan mereka. Tidak ada anak-anak kecil yang membuntuti ke mana saya pergi, tidak ada sorotan mata mengikuti seperti alat perekam gambar, tidak ada ramahnya tegur sapa “Hello, mister”. Saya pun tidak merasa sebagai orang asing ketika mereka tidak peduli dengan keberadaan saya.

Di bawah teriknya matahari dan hembusan angin kencang bercampur debu, dengan cekatan teman saya Qurban Ali membelah keramaian dan hiruk-pikuknya Pasar Kabul sambil sesekali menoleh ke belakang untuk meyakinkan saya tidak tertinggal. Pasar Kabul ini memang termasuk pasar yang besar di kota Kabul, Afghanistan. Hampir semua kebutuhan sehari hari bisa didapati di pasar ini. Uniknya mereka juga mengenal sistem pengelompokan tempat, penempatan toko yang menjual produk yang sama di satu tempat yang mempermudah pengunjung mencari barang tertentu. Ada tempat khusus menjual daging potong, buah dan biji-bijian, tekstil, plastik, karpet, gerabah, alat-alat dapur dan lain lain. Semakin kami masuk jauh ke dalam pasar, kepadatan pengunjung pun semakin berkurang hingga akhirnya kami tiba di tempat khusus menjual burung dan perlengkapannya yang disebut masyarakat lokal Ka Firushi.

Sangkar-Sangkar Burung

Sangkar-Sangkar Burung

Memasuki kawasan pasar burung Ka Firushi yang terletak di belakang Masjid Pul-e Khishti seperti mundur ke kehidupan berpuluh-puluh tahun yang lalu, tidak tersentuh oleh perang dan modernisasi. Lorong-lorong panjang dan sempit beratapkan terpal dan beralaskan tanah dengan bangunan tanah lempung dan struktur kayu yang tak terpelihara di kiri dan kanannya. Sangkar burung yang beraneka ragam besar dan bentuknya tergantung di sepanjang lorong Ka Firushi. Kicauan merdu berbagai jenis burung turut meramaikan perbincangan tawar-menawar antara pembeli dan penjual burung.

Sudut Lain Pasar Burung

Walaupun penjudian tidak dibenarkan pada masa kekuasaan Taliban di Afghanistan, pertaruhan burung dibenarkan pada saat ini dengan alasan adu burung merupakan tradisi yang menyenangkan dan sudah dilakukan secara turun-temurun. Dimulai di musim semi, kegiatan favorit di Kabul ini diadakan setiap hari Jumat di taman-taman kota, dengan nilai taruhan per orang sebesar antara USD20 sampai USD200. Burung yang menang bisa dihargai sampai USD500, tak heran pemilik burung tersebut sangat memelihara dan memanjakan burung pemenangnya.

  • Disunting oleh SA 20/06/2011