Di tengah pusat kota Yangon (Ranggon), Myanmar, sebuah pagoda menjulang dengan megahnya membelah cakrawala. Pagoda Shwedagon atau yang juga dikenal sebagai Pagoda Emas memang merupakan tempat tersuci di Myanmar ini, yang didirikan di bagian barat dari Danau Kandawgyi, tepat di daerah perbukitan suci Singgutara. Konon, di tempat inilah terdapat keempat struktur suci Buddha, yaitu staf dari Kakusandha, air suci Koṇāgamana, jubah Kassapa dan rambut suci Siddharta Gautama.

Sekitar 2.500 tahun yang lalu, hidup seorang raja bernama Okkalapa yang memerintah Suvvanabhumi. Raja ini mengetahui bahwa seorang Buddha akan “muncul” setiap 5.000 tahun sekali. Pada saat itu, Siddharta masih menjadi seorang pangeran Hindu di India Utara dan belum mendapatkan ‘pencerahan’. Sesuai perhitungan Okkalapa, saat pemerintahannya, semestinya seorang Buddha baru akan datang.

Bukit Singgutara telah lama memiliki sebutan suci, karena di tempat inilah warisan dari ketiga Buddha terdahulu dikuburkan. Untuk mempertahankan kesucian bukit ini, maka Raja Okkalapa merasa bahwa harus ada hadiah yang diberikan oleh Buddha yang baru. Sedemikian takutnya Okkalapa, sehingga ia pun mengunjungi bukit ini untuk memohon. Okkalapa tidak mengetahui pada saat itu Siddharta sudah mendapatkan pencerahan. Dikisahkan Sang Buddha yang baru muncul dalam alam meditasi Okkalapa dan menyerukan untuk bersabar menantikan hadiah dari-Nya.

Ketika Siddharta sedang menyelesaikan meditasinya di bawah pohon Bodhi, pada hari ke-49, datang seorang pedagang bernama Tappusa dan Bhalika yang rupanya utusan dari Okkalapa. Kedua pedagang ini menawarkan kue madu pada Sang Buddha dan kepada keduanya, Buddha menitipkan kedelapan buah rambut sucinya sebagai ucapan terima kasih. Namun dalam perjalanan kembali menuju Myanmar, keduanya dirampok, sehingga mereka hanya sanggup membawa empat buah rambut suci Buddha. Kedatangan mereka disambut dengan meriah dan keempat rambut suci dikuburkan di bukit Singgutara untuk mempertahankan kesuciannya. Dikisahkan bahwa ketika keempat rambut suci ini dikeluarkan dari kotaknya, maka bumi bergoncang hebat, orang buta dapat melihat kembali, dan pohon-pohon berbunga. Akhirnya didirikanlah sebuah pagoda setinggi 300 kaki, yang hingga kini dapat dilihat dari sudut kota manapun, yang dihiasi dengan emas dan batu permata.

Pendirian pagoda Shwedagon hingga kini tidak diketahui, namun diperkirakan sekitar abad ke-11. Setelah didirikan, pagoda ini mengalami beberapa renovasi dan tetap selamat dari segala ancaman alam dan bahkan saat penjajahan bangsa asing di Myanmar. Keteguhan pagoda ini untuk terus bertahan membangkitkan semangat pada rakyat Myanmar yang sangat menyanjung dan membanggakannya. Bahkan pada tahun 2007, seluruh pendeta melakukan protes dan berjalan dari pagoda ini untuk membebaskan Aung San Suu Kyi.

Dari segi arsitektur, Shwedagon merupakan suatu kompleks luas berwarna keemasan. Terdapat empat buah pintu masuk. Turis asing dapat memasukinya dengan biaya delapan dolar Amerika. Alas kaki harus ditanggalkan di sini. Setelah menaiki lif, kita akan sampai di salah satu pintu masuk kawasan pagoda. Tampak bentuk singa mistis mengawal setiap pintu masuk pagoda ini. Suatu bentuk yang sama yang dapat kita temui pada kuil Hindu di India. Beberapa pemeluk agama Buddha telah bersiap untuk melakukan ritual doa dengan membawa bunga teratai, dupa, daun emas dan lain-lain. Penduduk lokal tidak dikenakan biaya untuk memasuki pagoda ini. Para pemeluk agama Buddha yang mengunjunginya akan mengelilingi pagoda ini sesuai arah jarum jam, umumnya sebanyak tiga kali. Pagoda dapat dicapai dari bandara internasional dengan menggunakan taksi bandara dengan biaya sekitar 7.000 kyat (satu dolar Amerika setara dengan 950 kyat).

Bagian dasar dari stupa atau jedi ini terbuat dari batu bata yang dilapisi oleh batang emas. Bagian selanjutnya adalah teras yang hanya dapat dimasuki para pendeta. Bentukan seperti lonceng adalah struktur yang terdapat di atasnya, selanjutnya semacam bentuk turban, pot sesembahan terbalik, kelopak lotus, tunas pisang, dan selanjutnya mahkota. Bagian mahkota ini dihiasi sekitar 5.500 berlian dan 2.300 batu rubi.

Astrologi dan ajaran Buddha tidak dapat dipisahkan dari hidup warga Myanmar. Posisi planet ditentukan sesuai hari kapan mereka dilahirkan. Satu minggu terbagi menjadi delapan hari, karena hari Rabu terbagi atas siang dan malam. Setiap hari memiliki lambang hewan masing-masing, misalnya macan untuk senin, singa untuk selasa, gajah bercula untuk rabu siang dan tidak bercula untuk malam, tikus untuk kamis, babi untuk jumat, naga untuk sabtu, dan minggu disimbolkan oleh garuda. Setiap planet memiliki patung Buddha masing-masing dan para pemeluknya akan memandikan, menaruh bunga serta berdoa di patung masing-masing.

Oleh karena akar dari Buddha adalah ajaran Hindu, maka dalam beberapa hal cukup banyak kemiripan dari kedua ajaran ini. Namun satu hal yang berbeda, adalah kepercayaan mereka terhadap Rahu dan Ketu. Kedua planet ini pernah saya ungkap saat membahas kuil Konark. Perbedaannya dengan Hindu adalah, bagi warga Buddhist Myanmar, kedua planet ini terpisah. Ketu dianggap sebagai raja dari semua planet dan keseluruhan planet menentukan hidup manusia kecuali Ketu. Planet yang menjadi hari dimana kita dilahirkan akan menentukan jalan hidup kita secara keseluruhan, namun beberapa planet tertentu dapat mempengaruhi fase-fase dalam hidupnya. Warga Myanmar akan mengunjungi ahli astrologi ini untuk meminta saran dalam setiap tahapan penting dalam hidupnya misalnya pernikahan, ujian, lamaran kerja, dan sebagainya.

Kuil-kuil kecil berisikan patung Buddha dengan berbagai gaya dan posisi berada dalam area kompleks ini. Para pemeluk dibebaskan untuk berdoa di kuil manapun yang mereka suka. Dari kejauhan nampak bagian kuil yang sering menjadi tempat untuk doa khusus, misalnya mendapatkan anak. Beberapa wanita dengan khusyuk berdoa dalam kuil ini.

Beberapa orang asing berusaha mencuri lonceng-lonceng dari pagoda ini yang memang luar biasa indahnya. Sebut saja Philip de Brito yang berusaha mencuri 30 ton lonceng, namun saat menuju Portugis, lonceng-lonceng ini terjatuh ke Sungai Bago dan kemudian hilang. Lonceng di pagoda kemudian diganti, dan kembali dicuri oleh prajurit dari Inggris. Namun saat menuju Kolkata, kapalnya karam, walaupun lonceng dapat diselamatkan dan diletakkan pada bagian tenggara pagoda.

Keindahan pagoda emas ini dapat dinikmati kapanpun, waktu terbaik adalah di malam hari, karena pagoda ini akan dilingkupi lampu yang bertaburan berpadu dengan kemolekan cahaya emas dari pagoda itu sendiri. Saya sendiri lebih memilih pagi hari untuk mengunjunginya, saat pagoda berwarna kontras dengan birunya langit di atasnya. Samar-samar tercium bau dupa yang baru saja dibakar dan terdengar suara lonceng-lonceng kecil tertiup angin. Seorang gadis kecil tampak berdiri di dekat saya sambil membawa setangkai lotus di tangan mungilnya untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha.