
Jalan beraspal dua arah itu padat disesaki mobil-mobil tua. rumah rumah toko tiga lantai di sepanjang jalan terlihat kusam bercat pudar tertutup debu. Setiap jengkal tempat kosong di pinggir jalan selalu terisi gerobak pedagang kaki lima yang menjual kebutuhan sehari-hari seolah berlomba mencari nafkah. Belum lagi ditambah ramainya pengunjung yang berlalu lalang menambah kesemerawutan siang itu. Wajah yang berparas asing ini pun tenggelam dalam kesibukan mereka. Tidak ada anak-anak kecil yang membuntuti ke mana saya pergi, tidak ada sorotan mata mengikuti seperti alat perekam gambar, tidak ada ramahnya tegur sapa “Hello, mister”. Saya pun tidak merasa sebagai orang asing ketika mereka tidak peduli dengan keberadaan saya.





