Artikel-artikel dari kategori Tempat (halaman ke-2 dari 5)

Bergamo, Kota Kecil di Italia

Saya pulang dari perjalanan di Bergamo dengan senyum lebar―selebar brioche yang setiap hari saya makan untuk sarapan.

Bergamo adalah kota kecil berlokasi sekitar 42km dari Milan. Kotanya terbagi dua: città alta dan città bassa. Città alta atau daerah atas berisi bangunan bersejarah, sedangkan città bassa atau daerah bawah berisi perumahan dan pusat perbelanjaan yang lebih modern.

Stasiun kereta ada di città bassa. Saya naik kereta lokal dari Milan, memakan waktu 50 menit dan ongkos 6 Euro.

Città bassa
Città bassa.

Bergamo bukan tujuan wisata populer turis mancanegara. Masih kalah jauh dibanding kota lain seperti Roma, Venice dan Florence. Hal ini rasanya yang membuat perjalanan tambah menyenangkan, tidak ada gerombolan turis seperti di kota-kota populer, namun tetap bisa merasakan pengalaman berada di Italia.

Sejak maskapai berbiaya rendah Ryanair menjadikan bandara Bergamo Orio al Serio sebagai salah satu pusat jaringannya (hub), pertambahan pengunjung di kota ini meningkat cukup banyak. Ryanair telah menghubungkan Bergamo dengan banyak kota di Eropa.

Tiket pulang pergi Ryanair dari bandara Frankfurt-Hahn ke Bergamo misalnya, sekitar 50 Euro. (Sebagai perbandingan, saya menggunakan Lufthansa dari bandara Frankfurt ke Milan Malpensa pulang pergi menghabiskan 120 Euro.) Dengan tiket semurah itu, semakin banyak turis datang mengunjungi Bergamo.

Populasi Bergamo hanya sekitar 120 ribu jiwa, namun jumlah pengunjung tahunan bisa sampai enam juta. Maskapai seperti Ryanair diberitakan membantu perekonomian Bergamo, sekalipun perekonomian Italia secara keseluruhan sedang menurun.

Saya sewa satu apartemen melalui Airbnb. Harga per malam lebih murah daripada hotel maupun penginapan bed and breakfast. Namun lokasi apartemen di bassa, sedangkan daerah wisata di alta. Dari bassa ke alta sebenarnya tidak jauh karena kota ini kecil. Bisa jalan kaki 20 menit (pilihan bijaksana setelah makan seporsi besar pasta), atau dengan bis. Bisa juga kombinasi jalan kaki dan cable car.

Di tengah-tengah città alta ada Piazza Vecchia, termasuk square paling indah di Eropa. Ada tiga bangunan utama di alta: katedral Bergamo, katedral Santa Maria Maggiore dan kapel Calleoni. Calleoni adalah prajurit upahan abad ke-15 yang dikenal sangat macho (ehem, konon dia memiliki tiga testis). Pada malam hari setiap pukul 10 kita bisa dengar menara lonceng di alta berbunyi 100 kali. Dulu ini untuk menandakan penduduk bahwa mereka harus kembali ke alta sebelum gerbang yang memisahkan alta dan bassa ditutup.

Pemandangan dari alta juga indah sekali. Kita bisa melihat pemandangan seluruh Italia bagian utara dari atas. Berada di sana, dengan tiupan angin sepoi-sepoi dan gelato di tangan, benar-benar menenangkan dan membahagiakan.

Pemandangan dari Castello di San Vigillio, città alta
Pemandangan dari Castello di San Vigillio, città alta.

I came to Italy pinched and thin, but soon fills out in waist and soul.” kata Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat, Pray, Love.

Satu bagian buku tersebut menceritakan perjalanan Elizabeth di Italia, yang didominasi oleh kegiatan belajar bahasa dan makan makanan Italia. “I love my pizza so much, in fact, that I have come to believe in my delirium that my pizza might actually love me, in return.”

Selain pizza, ada beberapa makanan khas Bergamo yang patut dicoba. Yang ada di daftar saya kemarin: casoncelli, polenta, keju taleggio dan gelato rasa stracciatella.

Casoncelli adalah pasta yang diisi campuran daging giling, telur, bayam dan remah roti. Pasta ini populer di bagian utara Italia. Sedangkan Polenta, pada dasarnya adalah bubur jagung. Polenta ada juga versi manisnya, disebut Polenta e Osei. Saya tidak suka versi manis ini karena rasanya seperti memakan sesendok penuh gula!

Keju taleggio disarankan oleh teman Couchsurfing. Aromanya kuat, teksturnya lembek dan pinggirannya tipis. Untuk penggemar keju seperti saya, ini luar biasa enaknya.

Gelato stracciatella
Gelato stracciatella.

Terakhir, gelato rasa stracciatella yang ekuivalen dengan rasa chocolate chip. Gelato rasa ini sebenarnya bisa ditemukan di seluruh penjuru Italia, tapi konon ditemukan/dibuat pertama kali di Bergamo tahun 1961 oleh Enrico Panattoni di gelateria La Marianna. Gelateria La Marianna masih ada sampai sekarang dan lokasinya di alta. Orang Italia menganggap gelato adalah sesuatu yang wajar untuk dimakan pada jam 9 pagi, yang tentu saja saya sambut dengan senang hati.

Kota kecil seperti Bergamo tidak kalah indah dan makanannya juga tidak kalah istimewa dari kota-kota populer lainnya. Menghabiskan waktu sehari atau dua hari di sini cukup menyenangkan. Walaupun jumlah turis di Bergamo semakin meningkat, namun tetap relatif lebih sepi dari Milan, Venice dan Roma. Bergamo bisa jadi alternatif tujuan wisata di Italia, terutama kalau bosan dengan keramaian dan lelah sikut-sikutan dengan turis lain.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Museum Kereta Api Ambarawa

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengunjungi Semarang, tapi dari kesekian kalinya saya ke Semarang selalu tidak sempat untuk mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa. Ini semua karena pengaruh letak Ambarawa yang agak jauh dari pusat kota Semarang.

Kali ini saya benar-benar niatkan untuk ke sana. Pagi-pagi buta saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menunggu penerbangan ke Semarang. Kala itu ada banyak rencana dan kegiatan yang akan saya lakukan di Semarang, tapi satu hal wajib yang harus terlaksana adalah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa.

Tampak depan museum
Tampak depan museum.

Interior museum
Interior museum.

Sekitar pukul 6.30 pagi saya sudah mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang dan bergegas menuju Ambarawa. Untuk menuju Ambarawa saya tidak menggunakan taksi atau jasa shuttle, tapi bis Trans-Semarang atau BRT.

Saya menunggu bis Trans-Semarang di halte Kalibanteng. Tidak terlalu lama menunggu, sekitar lima menit kemudian bis sudah datang. Saya pun menaiki bus dan membayar tarif sebesar Rp3.500. Bila ingin menuju Ambarawa, dengan gamblang petugas BRT menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada rute langsung ke Ambarawa, tapi dia menyarankan untuk tetap naik bis menuju lokasi terdekat ke Ambarawa, nanti dari tempat terdekat itu perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan bis biasa.

Peralatan teknis perkeretaapian
Peralatan teknis perkeretaapian.

Halaman museum yang asri
Halaman museum yang asri.

Dari shelter bis Trans-Semarang Banyumanik, bis ke arah Ambarawa tarifnya hanya Rp5.000. Sebelum naik bis saya mengingatkan keneknya bahwa saya akan turun di pertigaan Monumen Palagan.

Sekitar jam 10.00 saya sampai di Monumen Palagan. Sebenarnya perjalanan normal menuju Ambarawa bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu setengah jam, namun kala itu ada insiden kecelakaan antar truk yang menyebabkan jalan menjadi macet.

Sesampainya di Monumen Palagan, untuk menuju Museum Kereta Api Ambarawa bisa jalan kaki sebentar sekitar sepuluh menit, tapi karena cuaca kala itu sudah cukup terik saya memutuskan untuk naik angkot bewarna hijau dengan tarif Rp2.000 dan turun di depan Museum Kereta Api Ambarawa.

Saat tiba di depan museum saya melihat spanduk pengumuman bahwa Museum Kereta Api Ambarawa sedang dalam masa renovasi. Dalam pengumuman tersebut sebenarnya dalam masa renovasi museum ditutup, tapi entah mengapa saat saya melihat ke arah dalam museum suasana tetap ramai pengunjung, dan juga banyak bus pariwisata parkir di halaman depan museum. Saya membuat kesimpulan sendiri bahwa museum tidak ditutup dalam masa renovasi ini.

Di dalam museum terdapat banyak poster yang menjelaskan mengenai sejarah Stasiun Kereta Api Ambarawa. Menurut sejarah, pada awalnya tujuan dibangunnya stasiun Ambarawa ini adalah untuk keperluan mengangkut tentara Belanda pada masa pemerintahan kolonial. Stasiun ini dibangun atas perintah Raja Willem I. Tahun 1976 Stasiun Ambarawa dijadikan sebagai tempat melestarikan lokomotif uap.

Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan
Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan.

Lokomotif 30023 yang tampak amat tua
Lokomotif 30023 yang tampak amat tua.

Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi
Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi.

Saya melihat ke sekeliling museum, terdapat banyak lokomotif tua terparkir di sekitarnya, sebagian masih ada yang bisa digunakan dan sebagian sudah harus pensiun beroperasi. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Lokomotif itu sangat terkenal pada zamannya, walaupun umurnya sudah tua sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.

Sayangnya saya tidak bisa mencoba menaiki kereta wisata itu karena ketinggalan. sesaat setelah saya masuk museum, kereta uap baru saja jalan, saya pun ketinggalan kereta uap. Namun saya tidak lantas kecewa karena toh tujuan utama saya datang ke museum ini sebenarnya hanya ingin melihat sejarah kereta api di Indonesia sekaligus ingin melihat lokomotif dan kereta tua sejak zaman kolonial Belanda.

Tempat ini amat direkomendasikan untuk semua orang yang suka wisata sejarah sekaligus wisata alam, para pengunjung bisa naik kereta lori wisata dengan kapasitas 15-20 penumpang yang akan dijalankan menyusuri rel Ambarawa-Tuntang sambil menikmati hijaunya alam Ambarawa sambil mengetahui sejarah kereta api di Indonesia. Untuk info, Rute yang dilayani oleh kereta wisata kuno ini adalah Ambarawa-Bedono dan Ambarawa-Tuntang. Kereta wisata ini biasanya hanya melayani bila jumlah peserta wisata mencapai jumlah tertentu, atau bisa juga melayani rombongan dengan sistem sewa per gerbong.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

The Owl Museum, Penang Hill, Malaysia

Satu tempat yang menarik perhatian saya saat mengunjungi Penang Hill adalah The Owl Museum. The Owl Museum merupakan museum burung hantu pertama di Asia Tenggara, tempatnya amat unik, di dalamnya terdapat koleksi patung, gambar, foto, lukisan, replika, film, boneka kayu, dan lainnya yang berbentuk burung hantu. Museum ini berisi lebih dari 1.000 koleksi replika burung hantu, koleksi ini berasal lebih dari 20 negara seperti Jepang, Korea Selatan, Uruguay, China, Vietnam, Thailand, Inggris, Indonesia dan Perancis.

Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.
Eksibisi yang ditata menarik di The Owl Museum.

Untuk menuju ke tempat ini saya naik bus Rapid Penang dari Komtar dan turun langsung di depan pintu gerbang Penang Hill, kemudian dilanjutkan naik kereta kabel menuju puncak Penang Hill. Museum ini terletak di tempat yang nyaman, udaranya sangat sejuk ditambah dengan pemandangan langit biru dan laut biru yang tampak menyatu dari kejauhan.

The Owl Museum sangat mudah untuk ditemukan, terdapat plang nama besar yang bertuliskan “The Owl Museum”. Dari luar bangunan The Owl Museum terlihat dengan mayoritas bahan kayu, terlihat amat bernafaskan etnik. Gedung museum ini jadi satu dengan gedung tempat menjual makanan dan cinderamata di Penang Hill. The Owl Museum terletak di bawah tempat penjual makanan dan cinderamata.

Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.
Poster, gambar dan ilustrasi burung hantu dalam pigura-pigura cantik.

Boneka-boneka lucu burung hantu.
Boneka-boneka lucu burung hantu.

Di depan tangga menuju pintu masuk The Owl Museum terdapat lobi penjualan tiket, saya membeli tiket masuk di tempat tersebut seharga RM5 (sekitar Rp15.000). Harga sebenarnya untuk tiket masuk adalah RM10, namun ada diskon RM5 bila pengunjung masih mahasiswa dan bisa menunjukan kartu mahasiswa, kebetulan status saya selain sebaga karyawan swasta saya juga berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana, saya tunjukanlah kartu mahasiswa saya kepada petugas, dan saya pun berhasil mendapat potongan setengah harga.

Satu langkah memasuki The Owl Museum langsung disuguhi ornamen burung hantu yang unik. Terdapat banyak ornamen burung hantu yang terbuat dari bermacam-macam material seperti kayu, batu, logam, kaca, tanah liat, plastik, tanduk kerbau, kerang, kacang-kacangan, tanaman serat, kristal, porselen, gerabah, kertas dan barang-barang daur ulang. Semuanya sangat unik.

Ada beberapa lukisan dan gambar burung hantu yang tertempel dengan rapi di dinding museum. Selain itu terdapat pula koleksi burung hantu dalam bentu patung dan boneka yang tersusun rapi di dalam rak kaca, semua dalam bentuk yang berbeda, terlihat sangat menarik.

Toko cinderamata.
Toko cinderamata.

Rak penuh dengan patung burung hantu.
Rak penuh dengan patung burung hantu.

Di sudut sebelah kiri dekat dengan pintu masuk terdapat meja dan dan kursi kayu, di atas meja itu tersusun replika burung hantu yang terbuat dari kayu yang dibuat dengan cara dipahat. Di sekitar meja tersebut juga terdapat alat-alat ukir dan pahat yang menandakan bahwa replika burung hantu tersebut dibuat dari kayu yang diukir dan dipahat. Sungguh kombinasi karya yang penuh dengan nilai seni.

Di sebelah kanan pintu masuk terdapat karpet tebal yang tergelar di lantai, dan di atas karpet tersebut terdapat banyak boneka burung hantu. Kemudian tepat di depan karpet tersebut terdapat TV layar datar yang memutarkan video dan film yang bertemakan burung hantu.

Satu hal unik lain dalam museum ini adalah kutipan kata-kata yang terpampang di dalam museum. Ada satu kutipan yang paling menarik perhatian saya, bunyinya, “A wise old owl lived in an oak, the more he saw the less he spoke, the less he spoke the more he heard. Why can’t we be like that wise old bird?”.

Tempat yang paling terakhir saya kunjungi adalah toko cinderamata museum, di tempat itu dijual boneka, kaos, patung, jam, alat tulis, gantungan kunci, pin, dan lain sebagainya. Harga-harganya juga terjangkau.

Tempat ini sangat direkomendasikan bagi semua pelancong yang sedang berlibur di Penang, terutama saat mengunjungi Penang Hill. The Owl Museum buka setiap hari dari pukul 9:00 sampai dengan pukul 18:00.

  • Disunting oleh SA 24/06/2013

Musim Gugur di Canberra

Canberra sebagaimana yang kita kenal sebagai ibu kota Australia saat ini sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-100. Dengan penduduk hanya sekitar 200.000 jiwa, Canberra yang terletak di antara Sydney dan Melbourne saat ini sayangnya belum menjadi destinasi wisata utama apabila di bandingkan dengan kedua kota tersebut. Didorong oleh hasrat saya mengamati arsitektur dan perkotaan, sudah lama saya ingin meluangkan waktu agak lama untuk lebih mendalami isi kota yang konon merupakan salah satu dari dua kota buatan manusia di dunia yang dirancang dari nol.

Gedung parlemen Australia.
Gedung parlemen Australia.

Karena merupakan kota yang dirancang sejak awal, maka segalanya terlihat sangat teratur. Inti kota adalah gedung Australian War Memorial di titik utara kota, kemudian jika kita tarik garis lurus akan sampai di Central Business District (pusat kota dan perdagangan) di titik tengah, kemudian ditarik garis lagi ke selatan, kita menjumpai danau buatan (Lake Burley Griffin) dan diakhiri dengan gedung parlemen di selatan kota.

Australian War Memorial.
Australian War Memorial.

Pemandangan paling utama ketika musim gugur di kota ini adalah taman dengan perpohonan yang menguning di mana-mana. Sungguh indah dan sangat berasa suasana musim gugur di kota ini. Untuk pembaca yang ingin merasakan tinggal di kota yang modern tapi tenang, penduduk yang ramah, aman, pepohonan di mana-mana dengan udaranya yang segar bisa memasukkan kota ini sebagai wish list perjalanan mereka.

National Museum of Australia.
National Museum of Australia.

Oh ya, karena sedang merayakan ulang tahun yg ke-100, maka pemerintah kota menyediakan suttle bus gratis (bus nomor 100) yang akan mengelilingi obyek wisata yang ada di kota ini, misalnya Australian War Memorial, Australia Gallery, Old Parliament Building, New Parliament Building (semua orang bisa masuk ke dalam gedung tanpa biaya, sampai ke ruang rapat anggota parlemen) dan National Museum of Australia, mulai dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Lebih asyik lagi, sebagian besar tiket masuk obyek wisatanya juga gratis. Semoga fasilitas bus gratis ini akan tetap dipertahankan di tahun-tahun mendatang.

Di dalam gedung parlemen Australia.
Di dalam gedung parlemen Australia.

Bagi yang bertanya-tanya tentang cara mencapai Canberra, ada banyak cara yang bisa ditempuh. Antara yang paling sering digunakan adalah menyewa mobil atau naik bus dari Sydney. Tapi, saya memilih untuk naik kereta dari Sydney (Central Station) dengan lama perjalanan sekitar 4,5 jam. Setiap hari ada dua kali perjalanan kereta dari Sydney ke Canberra maupun sebaliknya. Ingin yang lebih cepat? Naik pesawat bisa jadi pertimbangan anda. Tunggu apa lagi? Ayo, cek cuti dan tabungan anda, setelah itu berangkat!


Mount Buller, Australia

Penggemar olahraga ski atau bukan, anda wajib mengunjungi Mount Buller apabila anda (baik sendiri maupun bersama keluarga) sedang mengunjungi Melbourne di saat musim dingin (Juni-Agustus). Terletak 208 kilometer di sebelah timur kota Melbourne dan dapat di tempuh dalam 3 jam perjalanan darat, anda bisa mencapai Mount Buller yang memiliki area bermain ski seluas 300 hektar.

Fasilitas baik untuk bermain salju maupun sarana penunjang di Mount Buller sangat lengkap. Mulai dari fasilitas bermain salju untuk anak anak (terdapat dua lapangan toboggan), area bermain ski untuk pemula (tersedia juga instruktur untuk yang ingin belajar ski) sampai lereng lereng curam untuk yang sudah mahir. Asyik, bukan?

Area Ski Mount Buller

Untuk yang hanya ingin leyeh-leyeh (karena faktor usia ataupun faktor lainnya), duduk di depan restoran/kafe sambil melihat pemandangan juga tak kalah mengesankan. Apalagi sambil di temani secangkir kopi hangat dan sepotong cheese cake.

Untuk yang kalap ingin bermain salju, mohon berhati-hati saat berjalan karena area bermain salju ini menyatu dengan area untuk belajar ski. Jangan sampai seperti kejadian istri saya yang sudah berjalan di pinggiran untuk pejalan kaki tapi masih ditabrak dari belakang, karena si pemula masih belum bisa rem dan akhirnya nyelonong kepinggiran dan menabrak istri saya. Efeknya dahsyat, istri saya yang biasanya bicara bahasa Inggris dengan aksen patah-patah, tiba-tiba menjadi lancar sambil memberi “kuliah” ke si penabrak. Saya yakin setelah itu si penabrak akan trauma untuk bermain ski lagi!

Bila ingin ke sana, selain menyetir sendiri, bisa juga mengikuti tur sehari yang berangkat dari Melbourne. Ada beberapa agen perjalanan yang bertetangga di Federation Square (sebelah Flinder St. Station) yang menawarkan tur ke Mount Buller. Silahkan membandingkan harga yang ada, kadang ada yang sedang menawarkan promosi dengan harga miring. Tidak usah khawatir dengan servis karena mereka sudah memiliki standar yang sama. Tak jarang, apabila sedang sepi, peserta dari beberapa agen akan digabung jadi satu bus.

  • Disunting oleh SA 18/12/2013

Menelusuri Seni Bercinta di Kuil Khajuraho

Siapapun pasti pernah mendengar tentang Kama Sutra dari India, bukan? Kama Sutra merupakan turunan dari bahasa Sanskrit yang berarti seni bercinta, ditulis secara indah oleh Vatsyayana. Konon, Kama Sutra ini pertama kali disebarkan oleh Nandi, seekor sapi keramat penjaga dari Dewa Shiva saat ia mencuri dengar Shiva ketika sedang berhubungan seksual dengan istrinya Parvati.

Saya yang memang sangat tertarik dengan keindahan budaya India sangat penasaran dengan Kama Sutra ini. Dulu saya memang pernah mendengar adanya kuil Kama Sutra di India, tapi memang tidak terpikir akan mencarinya. Dari pencarian melalui internet, saya menemukan bahwa relief Kama Sutra bisa ditemukan di dua tempat di India, yaitu di kuil Khajuraho, Madhya Pradesh dan Konark di Orissa. Saya memutuskan mengunjungi Khajuraho dulu, karena Orissa relatif lebih dekat dari Mumbai jadi bisa saya kunjungi kapan pun.

Dimulailah “perjalanan cinta” saya mengunjungi kuil Khajuraho ini. Untuk menuju Khajuraho, saya naik kereta ekspres dari Mumbai. Kebetulan saya pergi saat musim dingin, menjelang natal dan memang di bulan Desember, India daerah utara memang sangat ekstrim dinginnya, hingga empat sampai lima derajat Celcius di pagi dan malam hari. Walau namanya ekspres, tetap saya perjalanan kereta sekitar 26 jam. Keretanya lumayan nyaman, dengan biaya sekitar 1000 rupee (sekitar Rp176.000). Kompartemen 2-tier sleeper class memang pilihan terbaik mengingat perjalanan yang cukup panjang. Jhansi adalah stasiun terakhir dari perjalanan kereta saya. Sebuah mobil lalu menjemput saya untuk diantar ke Khajuraho. Saya yang tadinya sudah sangat lelah kembali segar bugar saat menikmati perjalanan berpemandangan indah sepanjang jalur Jhansi-Khajuraho yang memakan waktu 3 jam. Di kiri dan kanan jalan terbentang persawahan, di sana-sini terdapat kuil-kuil kecil kuno. Terasa seperti kembali ke masa lalu.

Kuil Lakhsmana.
Kuil Lakshmana.

Khajuraho ternyata adalah sebuah kota kecil di distrik Chattarpur, Madhya Pradesh. Kota ini memiliki sekitar 85 kuil, walau hanya 25 yang terpelihara. Pagi itu begitu cerah saat kami memasuki kota ini. Hotel bintang tiga yang kami pesan memang terletak di sekitar kuil Khajuraho yang akan kami kunjungi. Di sekitar kompleks ini banyak sekali hotel bintang tiga dan guesthouse dengan tarif 500-1000 rupee/malam. Untuk memasuki kawasan monument kuil Khajuraho, turis asing membayar 250 rupee yang merupakan harga standar setiap UNESCO Heritage Site di India, sedangkan penduduk lokal hanya membayar 10 rupee.

Seni yang mengagumkan, itu adalah kata pertama yang muncul di benak saya pertama kali melihatnya. Saya sudah melihatnya beberapa kali di internet, tapi melihat kuil ini secara nyata memang luar biasa. Nama Khajuraho berasal dari kata “Kharjuravahaka“, yang berarti “seseorang yang membawa kurma”. Namun demikian, seseorang yang lama tinggal di India pasti tahu “khaju” yang artinya cashew atau kacang mete/biji jambu monyet. Konon, awalnya dinamakan demikian karena saat itu di kompleks monumen ini banyak barisan pohon khaju. Kompleks monumen khajuraho terbagi wilayahnya menjadi barat, timur dan selatan. Dari semuanya, barat adalah yang paling utama. Keseluruhan kuil di kompleks monumen Khajuraho memiliki kesatuan desain yang mendasar. Kuil-kuil ini umumnya terbuat dari sandstones yang berasal dari Panna atau Sungai Ken yang direkatkan satu sama lain dengan memakai konsep mortise dan tenon joint. Beberapa kuil seperti Brahma dan Lalguan-Mahadeva terbuat dari granit.

Kejayaan kultur dinasti Chandella yang memerintah India sekitar abad 9-13 SM terurai dengan adanya keberadaan kuil Khajuraho ini, saat ia “ditemukan” kembali oleh arsitek Inggris bernama T.S. Burt di tahun 1838.

Berpose di salah satu kuil.
Berpose di salah satu kuil.

Kuil-kuil di Khajuraho memiliki konsep pahatan erotis yang sangat indah dan detil. Kuil-kuil ini sendiri kebanyakan didedikasikan ke dewa Shiva, Vaishnava dan Jaina. Keseluruhan ruang di dalam kuil terhubungkan secara eksternal dan internal, sebagai satu aksis dari timur ke barat, sehingga merupakan konsep ruang yang terstruktur. Elemen utama tiap kuil adalah “ardha-mandapa” (pintu masuk), “mandapa” (hall), “antrala” (pintu masuk tempat pemujaan), dan “garbha griha” (tempat pemujaan). Atap-atap kuil Khajuraho sangat tinggi dan berundak-undak berbentuk piramida. Interior di dalam kuil memperlihatkan detil dekorarif yang sangat luar biasa, dari mulai pilar, dinding, lantai, hingga plafon. Motif gemotris dan bunga banyak dipakai di sini dan menunjukan tingkat keahlian pahat yang tinggi.

Pahatan-pahatan relief di kompleks monumen ini bisa terbagi menjadi lima bagian secara umum, Pertama adalah pahatan dewa-dewa, kedua adalah keluarga dari dewa-dewa ini, ketiga adalah dewi-dewi yang biasanya memakai pakaian dan perhiasan yang indah dalam berbagai pose sedang menari, keempat tentang hal-hal umum seperti guru, penari, dan beberapa pasangan yang sedang bercinta, dan kelima adalah hewan-hewan dalam mitos agama Hindu termasuk Vyala, suatu monster berwujud singa.

Detil pahatan.
Detil pahatan.

Pahatan erotis di Khajuraho memang membuat kita sulit melepaskan diri dari pandangan. Struktur ini membawa kita ke interpretasi yang berbeda-beda. Beberapa merasa bahwa ini adalah suatu kemunduran moral, sedangkan yang lain menghargainya sebagai ilustrasi dari seluruh postur erotis dari kitab kuno Kama Sutra. Seluruh posisi bercinta ada di sini, dengan satu atau lebih pasangan, bahkan dengan binatang (baca: kuda). Saya kaget mendengar ini, pemandu saya justru bilang itu wajar karena kalau raja berperang, dia akan terpisah dari istrinya selama berbulan-bulan. Jadi tidak ada ratu, kuda pun jadi.

Pahatan ini juga menunjukan adanya seni bercinta di saat zaman India kuno yang sarat dengan penggabungan ritual simbolik, yoga (latihan spiritual), bhoga (kenikmatan fisik), hingga tercapai kepuasan yang hakiki. Sangat bisa dimengerti bahwa saat itu mereka tidak tabu terhadap seks, sehingga cukup bebas mengeksplornya, mengingat Kama atau kenikmatan seksual adalah satu dari empat tujuan hidup sesuai kitab kuno.

Kandariya-Mahadeva adalah kuil terbesar yang cukup menyolok keberadaannya di kompleks kuil di barat ini dan merupakan kuil yang memiliki keseluruhan konsep elemen utama. Dengan tinggi sekitar 30 meter dengan desain yang simetris dan proporsional, kuil ini sangat indah. Pahatan di kuil ini tampak lebih tinggi dan langsing, namun konturnya lebih halus. Di dalam kuil Varaha, bisa ditemui struktur Varaha yang merupakan salah satu dari bentuk inkarnasi dewa Vishnu. Menariknya, menurut mitos, Vishnu menyelamatkan bumi dari banjir dengan meletakkannya di atas moncongnya. Sebaliknya, struktur Nandi setinggi 1,8 meter bisa ditemui di dalam kuil Visvanatha. Nandi merupakan kendaraan dari Dewa Shiva. Chitragupta adalah satu-satunya kuil di kompleks ini yang didedikasikan untuk Surya, dewa matahari. Beberapa reliefnya memperlihatkan aksi gajah sedang berperang atau aktivitas berburu lainnya. Totalnya ada 11 kuil dalam kompleks bagian barat. Tidak ada tradisi tertentu, hanya tiap hendak memasuki kuil harus melepas alas kaki dan dilarang mengabdikan foto dari Vyala. Jangan kaget bila kadang turis lokal ingin mengajak berfoto bersama, hal ini biasa terjadi di India.

Kuil Jain.
Kuil Jain.

Di kompleks bagian timur terdapat tiga kuil Brahma dan tiga kuil Jain, sedangkan bagian selatan memiliki dua kuil, bisa dicapai dengan sepeda atau mobil dalam waktu 20 menit dari kompleks kuil bagian barat. Kuil-kuil di kompleks timur dan selatan ini lebih sederhana desain pahatannya. Walau disebut kuil Brahma, kuil-kuil ini ternyata didedikasikan untuk Dewa Vishnu. Yang menarik waktu saya melihat pahatan di kuil Chaturbuja yang justru menunjukan hubungan monogami dewa dengan dewi pasangannya, seperti Shiva dengan Parvati atau Vishnu dengan Lakshmi. Chaturbuja di bagian selatan adalah satu-satunya kuil tanpa pahatan erotis di Khajuraho.

Puas menjelajah kompleks monumen Khajuraho, kita bisa menikmati jajanan sekitar kompleks. Di tempat ini banyak restoran lokal dengan harga sangat murah dan enak, beberapa yang saya coba adalah Raja’s Café, Bamboori Treat dan Paradise yang juga direkomendasikan di banyak situs. Restoran-restoran ini beberapa memiliki view ke arah monumen, jadi bisa dibayangkan anda sedang makan malam sambil menatap kuil Khajuraho di bawah sinar lampu di kejauhan. Khajuraho juga memiliki acara light and sound yang diselenggarakan tiap malam di kompleks kuil. Bisa dicoba tapi disarankan jangan lupa memakai lotion anti-nyamuk! Untuk belanja oleh-oleh, toko kerajinan tangan tersebar di sini, namun harus pandai menawar memang. Saya membeli oleh-oleh gantungan kunci bergambar pahatan erotis untuk teman-teman.

Perjalanan saya pun berakhir setelah menghabiskan tiga hari di Khajuraho. Amatlah benar bila tempat ini termasuk dalam buku “1000 Places You Must Visit Before You Die“. Seluruh kata-kata yang saya tulis di atas ini rasanya tidak pernah cukup untuk merangkum keindahannya. Simply beautiful, that’s it!

  • Disunting oleh SA 19/12/2012

Selamat Datang di Pulau Nami!

Sapaan hangat yang ditulis di papan tembus pandang itu menarik perhatian begitu saya menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Ya, sapaan itu tertulis dalam bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa Melayu, mengingat ada bendera Indonesia, Malaysia dan Singapura di bawah tulisan itu), bukan bahasa Inggris apalagi bahasa Korea di mana Pulau Nami ini berada.

Terkenal sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar drama Korea terkenal “Winter Sonata“, Pulau Nami sekarang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Terletak kurang lebih 63 km dari kota Seoul, kita dapat menjangkau pulau ini dengan beberapa cara. Apabila menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan, tinggal arahkan mobil menuju Gapyeong Wharf. Tempat ini merupakan pintu masuk ke “Naminara Republic”. Menuju pulau Nami dengan transportasi umum? Silakan memilih naik shuttle bus atau menggunakan kereta ITX, kereta ekspres yang baru saja beroperasi sejak bulan Februari 2012.

Kapal kecil ke Pulau Nami.
Kapal kecil ke Pulau Nami.

Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.
Pintu gerbang Pulau Nami dan penjaganya.

Sesampainya di Gapyeong Wharf, kita harus membeli tiket masuk yang mereka sebut “visa fee“. Asyiknya, berbeda dengan kebanyakan di tempat lain, Pulau Nami ini mematok harga “visa” lebih murah untuk orang asing. Harga “visa” untuk orang asing adalah 8.000 won, atau sekitar Rp72.000, sementara harga “visa” yang diperuntukkan untuk warga setempat adalah 10.000 won. Mau lebih murah lagi? Datang saja ke pulau Nami diatas jam enam malam, harga “visa”-nya 4.000 won saja. Tapi, jangan lupa membawa senter karena penerangan sangat jarang.

Sengaja dibuat seolah-olah sebuah “negara” yang berdiri sendiri, Pulau Nami menamai wilayah mereka yang hanya seluas 480.000 meter per segi atau kurang lebih lima kilometer per segi itu dengan sebutan “Naminara Republic” sejak tahun 2006. Mereka mempunyai stempel resmi, seragam resmi para perangkat negara (yang agak mirip koboi, lengkap dengan topinya), harga “visa” dan “paspor”. Paspor ini merupakan sebutan untuk tiket terusan (pass) gratis yang berlaku selama satu tahun. Pemegang paspor Naminara Republic berhak untuk keluar masuk pulau ini selama setahun penuh sejak waktu pembeliannya. Harga paspor itu dibanderol 25.000 won (sekitar Rp225.000). Cukup murah untuk sebuah daerah wisata yang lengkap seperti Pulau Nami.

Setelah mendapatkan visa, kita harus mengantri naik feri menuju Pulau Nami, karena pulau ini sejatinya terletak di tengah-tengah Danau Cheongpyeong. “Visa” yang dibeli sebelumnya sudah termasuk biaya pulang pergi untuk naik feri ini. Feri berangkat setiap 10 – 30 menit sekali,  semakin sore semakin lama selang waktu keberangkatannya. Feri terakhir beroperasi hingga pukul 21.45 malam. Malas naik feri? Ada cara terkeren untuk mencapai pulau Nami yang ada di tengah danau itu. Caranya? Naik zip wire! Pemerintah “Naminara Republic” menyediakan flying fox untuk menyeberangi Danau Cheongpyeong. Cukup membayar 38.000 won (sekitar Rp341.000), maka anda bisa meluncur ria menyeberangi Danau Cheongpyeong menuju Pulau Nami. Tentu saja, zip wire ini hanya ditujukan untuk yang berani. Maksudnya, mungkin, berani tidak membayar begitu mahal untuk menyeberang danau!

Piknik di Pulau Nami.
Piknik di Pulau Nami.

Winter Sonata Cafe.
Winter Sonata Cafe.

Winter Sonata Lane.
Winter Sonata Lane.

Begitu memasuki daerah Pulau Nami, kita akan disambut dengan deretan pohon tinggi yang berjejer lurus. Dingin sekali rasanya melihat suasana alam yang masih terjaga seperti itu. Pulau Nami ini memang menjunjung konsep perpaduan antara manusia, hewan dan tumbuhan untuk “living in harmony far away from crowd and civilization“. Jadi pulau ini memang seperti tempat berlibur untuk bersantai dan istirahat bagi warga kota Seoul dan sekitarnya. Mereka masih bisa menikmati udara bersih, tanaman yang rindang, tupai yang berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, cantik sekali. Pada umumnya pengunjung adalah pasangan muda yang asyik berpacaran. Tidak jarang juga, saya melihat keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang menghabiskan waktu mereka dengan berpiknik di pulau ini. Di suatu sudut pulau, malah ada tempat yang disediakan untuk menyimpan buku yang dapat dibaca oleh pengunjung dengan bebas. Saya melihat seorang ibu yang sedang tekun membacakan cerita dari buku untuk kedua putrinya, manis sekali.

Berkeliling di pulau selain jalan kaki, bisa juga menggunakan kereta yang disediakan oleh “pemerintah Naminara Republic”. Penyewaan sepeda dan Nami Car juga ada. Tidak akan capek, deh, keliling pulau kecil ini. Tempat yang paling populer di Pulau Nami tak lain tak bukan adalah Winter Sonata Lane. Tempat romantis ini menjadi lokasi utama pengambilan gambar drama Korea yang terkenal pada zamannya itu. Nama sebenarnya Metaseqouia Lane. Metaseqouia Lane sebenarnya merupakan jajaran pepohonan yang ditanam oleh tim Seoul National University di tahun 1977. Di sekitarnya banyak terdapat tempat yang berbau Winter Sonata. Ada patung pemeran cowok dan cewek utama di drama Korea tersebut, penyewaan sepeda, Winter Sonata Café dan toko cinderamata. Penggemar drama Winter Sonata pasti akan “menggila” di sini. Selain Winter Sonata Lane ini, banyak juga spot lain yang menjadi lokasi pengambilan gambar drama seperti First Kiss Bridge, lokasi di mana kedua tokoh utama melakukan ciuman pertama. Aduhai.

Seperti halnya tempat wisata terkenal, tidak perlu khawatir akan akomodasi dan kuliner. Di Pulau Nami, terdapat berbagai macam restoran, mulai dari tradisional Korea, Jepang, Cina, sampai masakan Italia. Mau lebih lama menjelajah Pulau Nami? Tinggal pesan kamar di Naminara Hotel Jeonggwanru saja untuk bermalam. Anda tidak akan menemukan internet dan TV di hotel ini, karena konsepnya memang sengaja mendekatkan diri ke alam. Tarifnya cukup terjangkau dan ada potongan harga pula jika menginap di hari minggu sampai kamis. Lumayan, kan?

Namun dari semua itu, yang membuat saya salut dengan pulau kecil ini adalah bagaimana mereka melakukan branding. Bagaimana mereka mencoba menarik para turis mancanegara dengan semua fasilitas yang ada. Tidak jauh dari deretan pepohonan tinggi tadi, anda akan menemukan deretan papan dengan bendera beberapa negara. Papan ini memuat foto dan beberapa informasi penting tentang negara yang bersangkutan. Sayangnya seluruh informasi ditulis dalam bahasa Hanggeul. Buat saya, ini sungguh strategi pemasaran yang menarik. Bisa ditebak, para turis ini pasti akan senang sekali melihat nama dan bendera negaranya terpasang di sebuah pulau kecil yang jaraknya ribuan kilometer dari negara asalnya. Belum lagi bagaimana mereka menggunakan nama tenar Winter Sonata sebagai salah satu media promosi wisatanya. Wah, semakin ramai sepertinya pulau kecil ini. Tahun 2012 ini, Pulau Nami diperkirakan telah dikunjungi oleh sekitar 500.000 wisatawan mancanegara. Itu baru jumlah wisatawan yang mengunjungi Nami melalui agen perjalanan dan semacamnya. Belum termasuk yang perorangan dan backpacker macam saya dan teman-teman.

Satu lagi yang membuat saya salut dengan Pulau Nami. Mereka menyediakan fasilitas prayer room (musholla) untuk pengunjung yang beragama Islam. Letaknya di dalam bangunan yang jadi satu dengan restoran dan ruang pameran seni. Saya sangat terkejut mendapati fasilitas musholla di sini. Jujur saja, fasilitas musholla di Pulau Nami ini sangat pantas dan termasuk salah satu yang terbaik menurut saya. Dengan semua fasilitas itu, saya tidak apabila sutau hari nanti, Pulau Nami akan jadi ikon pariwisata Korea Selatan. Daebak, Nami!

Ada dua cara menggunakan kendaraan umum yang cukup mudah menuju Pulau Nami:

  • Gunakan shuttle bus Naminara. Ada dua tempat di mana kita bisa menemukan shuttle bus ini, yakni Insa-dong (di sebelah Tapgol Park) dan di Jamsil. Bus berangkat pukul 09.30 pagi dari masing-masing tempat tersebut dan hanya satu kali keberangkatan setiap harinya. Jadi pastikan untuk memesan terlebih dahulu (bisa melalui email ke namibus@naminara.com). Harga tiket sekitar 23.000 won (sekitar Rp206.000) untuk perjalanan pulang-pergi dan “visa” untuk Pulau Nami.
  • Gunakan ITX (Intercity Train Xpress), kereta ekspres yang menghubungkan Seoul dengan Cheongchun. Dari Seoul bisa berangkat dari Yongsan atau stasiun Cheongyangni dan berhenti di stasiun Gapyeong (merupakan stasiun kereta terdekat dengan Gapyeong Wharf untuk menuju Pulau Nami). Dari stasiun Gapyeong dilanjutkan dengan taksi dengan ongkos sekitar 3.000-4.000 won saja ke Gapyeong Wharf.
  • Disunting oleh PW & SA 18/12/2012

Goa Pindul, Gunung Kidul

Terkesima saya melihat surga kecil tersembunyi di Desa Beji, kecamatan Karang mojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul namanya. Saya menyusuri goa ini dengan decak kagum yang tiada henti-hentinya. Mereka yang menyukai kegiatan cave tubing atau penyusuran goa dengan menggunakan ban yang mengapungkan tubuh kita, pasti suka dengan Goa Pindul karena kondisinya cocok untuk kegiatan ini.

Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik  keindahan yang memanggil-manggil.
Welcome to Goa Pindul. Sungguh pesona yang luar biasa, dari bibir goa saja sudah terasa daya tarik keindahan yang memanggil-manggil.

Cave Tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk ala cave tubing dengan mulut ternganga mendongak keatas melihat keindahan yang sempurna.
Cave tubing atau menyusuri goa dimulai. Stalaktit dan stalakmit mulai menyapa. Terduduk dengan mulut ternganga mendongak ke atas melihat keindahan yang sempurna.

Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata 'selamat berpetualang di Goa Pindul'.
Dari celah goa, sinar sang surya menyapa, seraya berkata “selamat berpetualang di Goa Pindul”.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Saat semua pelancong terpesona dengan keelokan goa, sibuk menyusuri goa dan berenang. Sang pemandu Goa Pindul membantu mengambil gambar dengan kamera, merekam saat saat istimewa di tempat super istimewa.

  • Disunting oleh PW & SA 06/11/2012

Negombo si “Little Rome”

Kota yang satu ini patut dikunjungi apabila anda berkunjung ke Sri Lanka. Terletak tidak jauh dari Bandaranaike International Airport, kota ini sering dijadikan persinggahan para turis yang baru saja tiba atau sebelum meninggalkan Sri Lanka. Sebagai gambaran Bandaranaike International Airport terletak 37 kilometer dari Colombo, ibukota Negara Sri Lanka.

Dari Bandaranaike International Airport, Negombo mudah dicapai dengan menggunakan beberapa alternatif moda transportasi. Yang paling mudah dan nyaman adalah menggunakan jasa penjemputan yang disediakan dari hotel atau taksi, tentunya dengan harga yang lumayan mahal berkisar dari Rs1.500 hingga Rs2.500 (US$1 = Rs129).

Penjaga pantai Negombo
Penjaga pantai Negombo.

Terminal bis Negombo
Terminal bis Negombo.

Berkeliling Negombo dengan bajaj
Berkeliling Negombo dengan bajaj.

Alternatif lain menggunakan bajai yang disebut masyarakat lokal sebagai three wheelers dengan harga berkisar dari Rs500. Bajaj tidak diperbolehkan masuk kawasan bandara, tapi tersedia di luar komplek bandara, begitu keluar bandara belok kanan hingga melewati gerbang masuk komplek bandara.
Yang paling murah adalah menggunakan bis umum. Keluar dari bandara belok kiri kurang lebih 100 meter tersedia fasilitas angkutan bis bandara gratis yang mengantar penumpang ke terminal bus terdekat di Katunayake lima menit dari bandara. Dari terminal bis Katunaye juga bisa menggunakan bajai atau bis umum untuk menuju Negombo.

Negombo terkenal dengan industri perikanan
Negombo terkenal dengan industri perikanan.

Kanal buatan Belanda yang masih digunakan nelayan
Kanal buatan Belanda yang masih digunakan nelayan.

Bis dari terminal bis Kutanaye menuju terminal bis di Negombo seharga Rs24 ditempuh kurang lebih 30 menit, sangat murah memang tapi bukan untuk mereka yang tidak suka berdesak-desakan dengan penumpang lain. Dari terminal bis Negombo dilanjutkan menggunakan bis yang melewati Lewis Place seharga Rs12 melintasi jalan di sepanjang pantai yang dipenuhi penginapan, rumah makan, pertokoan dan hiburan malam.

Bis yang melewati Lewis Place hanya tersedia hingga pukul 19.00 dengan interval setiap 30 menit. Apabila anda tiba di terminal bis Negombo lewat dari pukul 19.00 bisa menggunakan bajai seharga Rs150. Dari terminal bis Negombo juga tersedia berbagai bis tujuan ke kota lain.
Pernah menjadi pelabuhan dagang Portugis dan Belanda, Negombo dijuluki sebagai “Little Rome” dengan peninggalan bangunan tua abad ke-17 dan komunitas Katolik yang mencapai dua pertiga dari total populasi kota Negombo.

Gedung perpustakaan tua di kompleks kuil Buddha
Gedung perpustakaan tua di kompleks kuil Buddha.

Deretan depan dalam bis dikhususkan untuk para biksu
Deretan depan dalam bis dikhususkan untuk para biksu.

Gereja Katolik
Gereja Katolik.

Dua hari sudah lebih dari cukup untuk melihat atraksi wisata di Negombo dan bebelanja di toko cinderamata di sepanjang jalan Lewis Place atau bersantai di hamparan pantai berpasir putih yang lumayan bersih dan terawat.

Kuil Hindu
Kuil Hindu.

Tidak perlu menggunakan jasa operator pariwisata untuk menikmati kota Negombo. Di sepanjang jalan sesekali pengendara bajaj akan menawarkan bajajnya untuk mengunjungi beberapa atraksi wisata di Negombo dengan harga pasaran Rs1.500 dan berlangsung kurang lebih dua jam. Tanya atraksi wisata apa saja yang akan dikunjungi, dengan tanggap si supir bajai akan menyebutkan satu persatu beserta penjelasannya. Bermodalkan peta dan sepeda sewaan seharga Rs250 merupakan cara yang paling ekonomis menjelajah kota Negombo.

  • Disunting oleh SA 18/10/2012

Menengok Keunikan Tempat Ibadah di Semarang

Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.

Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.

Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.

Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong.
Kelenteng Sam Po Kong.

Kala siang itu matahari bersinar cukup terik, saya memasuki gerbang pintu kelenteng, saya sudah disuguhkan keindahan arsitektur pintu gerbang dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Setelah langkah saya sampai di dalam komplek kelenteng, sesuai dugaan saya, ternyata bagian dalamnya memang menawan.

Kelenteng ini merupakan bangunan yang amat bersejarah yang terletak di barat daya Semarang. Dahulu kala kelenteng ini merupakan tempat pendaratan pertama Laksamana China beragama Islam yang bernama Cheng Ho. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat mengunjungi kelenteng tersebut, saat Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau juga mendirikan bangunan untuk tempat beribadah agama Islam dengan arsitektur Tiongkok (saat ini bernama Kelenteng Sam Po Kong). Dalam pembangunan tempat ibadah tersebut terdapat unsur akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Islam. Dalam perkembangannya, karena bangunan tempat ibadah tersebut berarsitektur Tiongkok, orang Indonesia keturunan Tiongkok menganggap bangunan tersebut sebagai kelenteng. Sampai saat ini kelenteng tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat ibadah. Selain itu tempat ini juga kerap dijadikan tempat untuk berziarah sekaligus berwisata sambil menikmati Kota Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk.

Gereja ini terletak di Kota Lama Semarang. Saya singgah di sini sambil mengambil banyak foto di berbagai sudut. Kota lama identik dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa, kalau dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini mirip dengan Kota Tua, yang ada Museum Fatahillah-nya.

Begitu pun dengan gereja blenduk, bangunannya tua dengan arsitektur Eropa. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda ini merupakan Gereja tertua di Jawa Tengah. Dari bagian depan bangunan tua terlihat tulisan “Gereja GPIB Immanuel”, bukan Gereja Blenduk. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak masuk ke dalam gereja tersebut karena di dalam sedang dilangsungkan ibadah, selain itu gereja ini juga bukan merupakan tempat wisata umum seperti halnya dengan Kelenteng Sam Pho Kong. Hanya umat Kristiani yang berniat ingin beribadah saja yang dapat masuk ke bangunan tua ini. Kala itu, saya hanya berfoto-foto memotret keindahan bangunannya.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah.

Sampai di tempat ini, sang surya sudah tenggelam, dan hari mulai berganti malam. Sesampainya di pintu gerbang, saya di sambut dengan penampakan Masjid Agung yang bersinar terang, lagi-lagi saya terpesona, terpatri di tempat saya berpijak sejenak. Saat setelah sadar terbangun dari hipnotis pesona Masjid Agung saya perlahan melangkahkan kaki saya menuju bagian atas masjid. Sesampainya di atas, terbaca oleh saya pada prasasti atau semacam piagam pengesahan yang terbuat dari keramik bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.

Sungguh luar biasa. Malam itu, Masjid Agung terlihat bersinar terang disinari oleh cahaya lampu, terlihat arsitektur Masjid yang begitu mempesona. Terlihat atap kubah dengan struktur tumpang yang dikelilingi lima pilar putih. Menurut saya, masjid ini terlihat sangat elegan, dengan gaya arsitektur modern.

Di depan Masjid ini, dekat dengan pintu masuk, terdapat menara masjid yang menjulang tinggi. Berdasarkan informasi penduduk setempat di atas menara tersebut terdapat restoran kecil yang biasa digunakan untuk tempat makan umum. Setiap pengunjung masjid ini bisa menaiki menara ini baik untuk sekedar melihat pemandangan dari atas atau untuk bersantai ria sambil makan sambil menikmati pemandangan kota Semarang. Satu hal yang saya sesalkan kala itu adalah saya tidak bisa naik ke menara tersebut, karena saya sampai sudah terlalu malam, jadi menara tersebut sudah ditutup.

Itulah ketiga tempat ibadah yang menurut saya amat menarik, terdapat tiga tempat ibadah unik untuk tiga agama berbeda dalam satu kota. Sungguh realita prularisme agama yang dibingkai dalam nuasa keindahan. Semoga keindahan tersebut juga bisa dimaknai sebagai indahnya toleransi beragama.

  • Disunting oleh SA 16/09/2012

Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil