Artikel

Menu

Tempat

Museum Kereta Api Ambarawa

dalam kategori Tempat ditulis oleh

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mengunjungi Semarang, tapi dari kesekian kalinya saya ke Semarang selalu tidak sempat untuk mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa. Ini semua karena pengaruh letak Ambarawa yang agak jauh dari pusat kota Semarang.

Kali ini saya benar-benar niatkan untuk ke sana. Pagi-pagi buta saya sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta menunggu penerbangan ke Semarang. Kala itu ada banyak rencana dan kegiatan yang akan saya lakukan di Semarang, tapi satu hal wajib yang harus terlaksana adalah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa.

Tampak depan museum
Tampak depan museum.

Interior museum
Interior museum.

Sekitar pukul 6.30 pagi saya sudah mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang dan bergegas menuju Ambarawa. Untuk menuju Ambarawa saya tidak menggunakan taksi atau jasa shuttle, tapi bis Trans-Semarang atau BRT.

Saya menunggu bis Trans-Semarang di halte Kalibanteng. Tidak terlalu lama menunggu, sekitar lima menit kemudian bis sudah datang. Saya pun menaiki bus dan membayar tarif sebesar Rp3.500. Bila ingin menuju Ambarawa, dengan gamblang petugas BRT menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada rute langsung ke Ambarawa, tapi dia menyarankan untuk tetap naik bis menuju lokasi terdekat ke Ambarawa, nanti dari tempat terdekat itu perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan bis biasa.

Peralatan teknis perkeretaapian
Peralatan teknis perkeretaapian.

Halaman museum yang asri
Halaman museum yang asri.

Dari shelter bis Trans-Semarang Banyumanik, bis ke arah Ambarawa tarifnya hanya Rp5.000. Sebelum naik bis saya mengingatkan keneknya bahwa saya akan turun di pertigaan Monumen Palagan.

Sekitar jam 10.00 saya sampai di Monumen Palagan. Sebenarnya perjalanan normal menuju Ambarawa bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu setengah jam, namun kala itu ada insiden kecelakaan antar truk yang menyebabkan jalan menjadi macet.

Sesampainya di Monumen Palagan, untuk menuju Museum Kereta Api Ambarawa bisa jalan kaki sebentar sekitar sepuluh menit, tapi karena cuaca kala itu sudah cukup terik saya memutuskan untuk naik angkot bewarna hijau dengan tarif Rp2.000 dan turun di depan Museum Kereta Api Ambarawa.

Saat tiba di depan museum saya melihat spanduk pengumuman bahwa Museum Kereta Api Ambarawa sedang dalam masa renovasi. Dalam pengumuman tersebut sebenarnya dalam masa renovasi museum ditutup, tapi entah mengapa saat saya melihat ke arah dalam museum suasana tetap ramai pengunjung, dan juga banyak bus pariwisata parkir di halaman depan museum. Saya membuat kesimpulan sendiri bahwa museum tidak ditutup dalam masa renovasi ini.

Di dalam museum terdapat banyak poster yang menjelaskan mengenai sejarah Stasiun Kereta Api Ambarawa. Menurut sejarah, pada awalnya tujuan dibangunnya stasiun Ambarawa ini adalah untuk keperluan mengangkut tentara Belanda pada masa pemerintahan kolonial. Stasiun ini dibangun atas perintah Raja Willem I. Tahun 1976 Stasiun Ambarawa dijadikan sebagai tempat melestarikan lokomotif uap.

Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan
Lokomotif 2502 yang sedang dalam perawatan.

Lokomotif 30023 yang tampak amat tua
Lokomotif 30023 yang tampak amat tua.

Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi
Lokomotif 5210 yang terparkir di halaman dan tidak beroperasi lagi.

Saya melihat ke sekeliling museum, terdapat banyak lokomotif tua terparkir di sekitarnya, sebagian masih ada yang bisa digunakan dan sebagian sudah harus pensiun beroperasi. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Lokomotif itu sangat terkenal pada zamannya, walaupun umurnya sudah tua sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata.

Sayangnya saya tidak bisa mencoba menaiki kereta wisata itu karena ketinggalan. sesaat setelah saya masuk museum, kereta uap baru saja jalan, saya pun ketinggalan kereta uap. Namun saya tidak lantas kecewa karena toh tujuan utama saya datang ke museum ini sebenarnya hanya ingin melihat sejarah kereta api di Indonesia sekaligus ingin melihat lokomotif dan kereta tua sejak zaman kolonial Belanda.

Tempat ini amat direkomendasikan untuk semua orang yang suka wisata sejarah sekaligus wisata alam, para pengunjung bisa naik kereta lori wisata dengan kapasitas 15-20 penumpang yang akan dijalankan menyusuri rel Ambarawa-Tuntang sambil menikmati hijaunya alam Ambarawa sambil mengetahui sejarah kereta api di Indonesia. Untuk info, Rute yang dilayani oleh kereta wisata kuno ini adalah Ambarawa-Bedono dan Ambarawa-Tuntang. Kereta wisata ini biasanya hanya melayani bila jumlah peserta wisata mencapai jumlah tertentu, atau bisa juga melayani rombongan dengan sistem sewa per gerbong.

  • Disunting oleh SA 18/07/2013

Madi Muktiyono Madi Muktiyono. Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia. Bekerja sebagai penasehat legal di salah satu perusahaan energi di Jakarta, sambil kuliah melanjutkan magister kenotariatan di kampus yang sama. Bermimpi bisa keliling Indonesia untuk menyelami keindahan negeri dari Sabang sampai Merauke.

MEDIA SOSIAL

LANGGANAN