Tiba di Dubai International Airport menjelang matahari bergerak ke ufuk barat, saya masih memiliki setengah hari sebelum keberangkatan penerbangan lanjutan pagi keesokan harinya. Dengan mengantongi visa Uni Emirat Arab (UEA) yang berlaku selama 30 hari, saya pun bergegas menuju ke kaunter imigrasi untuk menuju ke kota terbesar di UEA yang juga ibukota negara, Abu Dhabi.

Sarana dan infrastruktur transportasi di Dubai sangat memudahkan mengunjungi Abu Dhabi dengan menggunakan bus umum. Bus berangkat setiap hari dimulai dari pukul 5.30 pagi hingga bus terakhir 11.30 malam dari kedua terminal. Terminal bus Al-Ghubaiba di Dubai dan terminal bus Al-Wadha di Abu Dhabi dengan interval keberangkatan setiap 30 menit atau lebih awal apabila bus sudah terisi penuh. Tiket bus menuju Abu Dhabi seharga 25 AED dan menuju Dubai seharga 15 AED.

Menumpang taksi murah ke lokasi
Menumpang taksi murah ke lokasi.

Setelah kurang lebih dua jam di dalam bus yang nyaman, terkantuk-kantuk melintasi pemandangan monoton gurun kering sejauh 130 kilometer, saya tiba di terminal bus Al-Wadha, Abu Dhabi. Dari sini saya menggunakan taksi borongan menuju masjid Agung Sheikh Zayed, masjid terbesar di UEA dan ke-6 terbesar di dunia. Dari riset saya di internet, biaya taksi dari terminal bus menuju masjid Agung Sheik Zayed seharga 35 AED, tapi saat itu saya menghindari taksi yang terlihat mengkilap dan beralih menghentikan taksi yang terlihat sedikit kusam. Saya menawar seharga 20 AED sekali jalan dan akhirnya disetujui si supir taksi, pekerja imigran asal Pakistan.

Motif lantai dan pilar yang menawan
Motif lantai dan pilar yang menawan.

Lantai marmer berdekorasi indah
Lantai marmer berdekorasi indah.

Sebenarnya masjid Agung Sheik Zayed bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum. Tapi karena masalah waktu yang mengharuskan saya kembali ke Dubai pada hari yang sama, saya memutuskan untuk menggunakan taksi.

Dari kejauhan, dari balik jendela taksi terlihat minaret dan kubah besar dari masjid Agung Sheik Zayed. Sesuai namanya bangunan masjid berarsitektur Islam kontemporer yang berwarna putih ini dipelopori oleh presiden pertama UEA, HH Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Mesjid yang memiliki empat minaret dan 82 kubah berukuran besar dibangun dengan biaya US$545 juta dan bisa menampung hampir 50.000 umat.

Tampak depan
Tampak depan.

Mesjid Agung Sheikh Zayed ini dibangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat dari edukasi dan budaya Islam yang terbuka bagi siapa saja dan tidak dikenakan biaya apapun, termasuk untuk jasa pemandu yang sangat berpengalaman. Mesjid Agung Sheikh Zayed dibuka setiap hari mulai dari pukul 9.00 pagi hingga 10.00 malam (tutup Jumat pagi) dan khusus selama bulan Ramadan tutup 12.00 malam (tutup hari Jumat).

Pilar megah
Pilar megah.

Mimbar imam
Mimbar imam.

Desain dan pembangunan masjid ini melibatkan 3.000 pekerja dan mendatangkan seniman dan material dari berbagai negara di antaranya berasal dari Italia, Jerman, Moroko, India, Turki, Iran, RRC, Inggris, Selandia Baru, Yunani dan UEA. Mesjid ini dilengkapi dengan perpustakaan dengan berbagai koleksi buku literatur Islam dalam berbagai bahasa antara lain Arab, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, Jerman dan Korea!

Interior
Interior.

Mesjid yang berdiri di atas tanah seluas 22.412 meter persegi atau seluas lima kali lapangan bola memiliki 1.000 kolom marmer dan dilapisi dengan batu berharga seperti lapis lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl. Halaman utama masjid seluas 17.000 meter persegi berbatu marmer putih dengan dekorasi pola bunga dikelilingi oleh kolam refleksi seluas 7.847 meter persegi yang mengelilingi masjid.

Desain interior ruangan pun berlomba tidak mau kalah menandingi estetika eksterior masjid. Marmer putih asal Italia dengan pola bunga menghiasi ruang sholat. Di ruang utama terdapat lampu gantung terbesar di dunia dengan diameter 10 meter dan setinggi 15 meter. Lampu gantung seberat sembilan ton yang tergantung di bawah kubah utama dihiasi ribuan kristal Swarovski asal Austria. Lantai ruang utama dihiasi karpet rajutan tangan terbesar di dunia yang dirancang oleh seniman asal Iran dan dibuat oleh 1.300 pengerajin karpet yang didatangkan langsung dari Mashhadin, desa kecil di Iran yang terkenal dengan keahlian penduduknya membuat karpet.

Ketika malam
Ketika malam.

Interior di sisi lain
Interior di sisi lain.

Pilar-pilar dan refleksi
Pilar-pilar dan refleksi.

Tempat berwudhu
Tempat berwudhu.

Kiblat setinggi 23 meter dengan lebar 50 meter dihiasi oleh seni kaligrafi 99 nama yang menggambarkan Allah, di disain oleh seniman kaligrafi ternama UEA. Secara keseluruhan masjid ini melibatkan seniman kaligrafi asal Syria, Turki dan Jordan.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid ini adalah sebelum dan setelah matahari terbenam. Ketika gelap, kolam refleksi di sekeliling masjid akan merefleksikan deretan kolom sepanjang halaman masjid. Pencahayaan masjid ini juga unik, dirancang arsitek tata lampu Jonathon Spiers, sorotan proyeksi awan abu kebiru biruan pada dinding luar masjid intensitas cahayanya selalu berubah setiap malam mengikuti fase bulan. Redup ketika bulan sabit, terang ketika bulan purnama.

  • Disunting oleh SA 02/08/2012