Konon datanglah tiga putra Raja Iskandar Dzulkarnain, Bichitram, Paladutani dan Nilatanam. Mendengar berita ini, Raja Palembang Trimurti Tribuana mengunjungi mereka dan membawa pulang ke kota. Ketika berita ketiga putra raja ini sedang berada di Palembang tersebar, rakyat dan penguasa dari segala penjuru berdatangan dan memberi tahta kepada mereka. Putra raja tertua diangkat menjadi Raja Minangkabau dengan predikat Sang Sapurba. Putra Raja kedua menjadi Raja Tajung Pura dengan predikat Sang Maniaka. Nilatanam, putra bungsu berpredikat Sang Utama yang lebih dikenal dengan nama Sang Utama atau Sri Tri Buana menetap di Palembang dan menjadi Raja Kerajaan Sriwijaya.

Merlion di malam hari.
Merlion di malam hari.

Suatu hari Sri Tri Buana melakukan perjalanan untuk menemukan wilayah kekuasaan baru. Dia pergi ke Bintan yang dikuasain oleh seorang ratu kaya raya, Sakidar Syah yang pada akhirnya mengadopsi Sri Tribuana sebagai putranya sekaligus penerusnya.

Ketika Sri Tri Buana pergi berburu ke Tanjung Bemian, dari tebing batu tinggi dia melihat melihat sebuah pulau dengan hamparan pantai berpasir putih. Dia bertanya kepada Demang Lebar Daun, Indra Bopal, “Daratan apakah itu?” Bopal menjawab “Kami menyebutnya Temasik, yang mulia”, yang dalam bahasa jawa kuno bermakna kota laut.

Dengan segera Sri Tri Buana pergi menuju ke Temasik. Setelah perahu mendarat, mereka pergi berburu ke Kuala Temasik. Sekejap mereka melihat seekor binatang tanpa sempat mengenali binatang apa. Demang Lebar Daun pun mengira-ngira, “Binatang itu terlihat seperti seekor singa”. Sri Tri Buana lalu mengirim pesan ke Ratu Sakidar Syah bahwa dia tidak akan kembali ke Bintan dan akan menetap di Temasik dan mendirikan “pura”, yang berasal dari bahasa Sansekerta, berarti kota. Ia menamai Temasik sebagai Singapura, atau “Kota Singa”, pada abad ke-11. Sri Tri Buana memimpin Singapura selama 48 tahun hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di sebuah bukit di Singapura.

Siapa yang menyangka monster ikan berkepala singa menjadi ikon pariwisata negara tetangga yang sukses mendatangkan turis dari berbagai penjuru dunia. Teringat ketika teman yang baru tiba dari Singapura selalu saja membawa cinderamata mulai dari kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, coklat dengan ikon Merlion yang merepresentasikan singa dari “Kota Singa” dan ikan dari Temasik si “Kota Laut”. Bahkan foto wajib yang harus dimiliki adalah berfoto di depan Merlion yang sedang menyemburkan air.

Desain logo Singapore Tourism Board yang sudah dipatenkan pada tahun 1966 ini digunakan sejak 1964 hingga 1997. Enam tahun setelah itu, pada 15 September 1972 pematung Lim Nang Seng membuat patung Merlion dan diletakkan di muara sungai Singapura, sebagai simbol menyambut pengunjung dengan ucapan “selamat datang di kota Singapura”. Sayangnya, pandangan Merlion dari waterfront tertutup ketika jembatan Esplanade selesai dibangun.

Merlion setinggi delapan meter yang dibangun dengan biaya S$165,000 pun dipindahkan pada tahun 2002 ke seberang jembatan Esplanade di mana Merlion Park berada saat ini dengan biaya sebesar S$6,000,000. Dengan memanfaatkan latar belakang dramatis gedung pencakar langit yang menghiasi horison kota Singapura, Merlion kembali menghiasi Marina Bay dan menyemburkan air dari mulutnya yang sempat terhenti sejak tahun 1998.

Merlion Park merupakan salah satu atraksi gratis yang paling banyak dikunjungi, ratusan ribu pengunjung menyempatkan datang setiap harinya untuk berfoto dengan Merlion dan mereka tetap kembali meskipun sudah pernah mengunjungi sebelumnya. Desain Merlion Park yang baru sangat berorientasi kepada kebutuhan warga Singapura maupun para turis. Merlion Park membuat dermaga yang memungkinkan pengunjung berfoto di depan Merlion dengan latar belakang horison kota. Undakan tempat duduk di sepanjang bibir sungai mendekatkan pengunjung dengan permukaan air ketika duduk menikmati panorama Marina Bay.

Terdapat delapan alternatif lokasi baru Merlion Park yang diusulkan saat itu. Pihak pemerintah Singapura menginginkan Merlion tetap berada di sekitar muara sungai Singapura yang memiliki makna sejarah tempat di mana Sri Tri Buana melihat penampakan seekor binatang yang dia anggap sebagai singa sekaligus menjadi cikal bakal nama Negara Singapura. Dengan pemindahan Merlion 120 meter dari tempat aslinya, terlihat semangat jiwa perubahan yang menjadi karakter terbentuknya Singapura.

  • Disunting oleh SA 11/06/2012