Hujan pagi ini di Jakarta mengingatkan saya pada suatu pagi di Krabi, kota kecil di Thailand selatan. Suara gemeritik hujan di luar, suara fan kipas yang terus menyala sepanjang malam di kamar, dan pemandangan penghuni kamar hostel lainnya yang masih tertidur dengan bertelanjang dada.

Krabi, kota favorit saya selama perjalanan enam hari kemarin di antara kota-kota lain yang saya kunjungi dari Kuala Lumpur, Melaka, dan Phuket. Kota kecil di Thailand Selatan ini mayoritas penduduknya beragama muslim. Walaupun tergolong kota kecil, Krabi menjadi tujuan wisata utama para pejalan di Thailand. Ia punya daya tarik sendiri.

Setelah hampir 12 jam perjalanan menggunakan kereta dari Kuala Lumpur ke Hat Yai, dilanjutkan empat jam perjalanan dengan van, sampailah saya di Krabi pada sore hari. Sampai di kota, saya dipandu oleh supir van dan dititipkan ke “taxi motor” (ojek) untuk diantarkan ke hostel tempat saya menginap, Pak Up Hostel. To the hostel, we go!

Where are you from?“, cetus bapak ojek itu. “Jakarta, Indonesia!”, jawab saya. “Oh, Indonesia, so you are muslim?” “Yes, I am muslim“, “Me too,” dengan nada yang lebih ceria dia menutup pembicaraan singkat kami. Kurang dari lima menit saya diantarkan dengan baik ke hostel, beliau tidak keberatan saya bayar 20 baht dari yang tadinya dia minta 30 baht.

Pak Up Hostel
Pak Up Hostel.

Keramahan penduduk lokal ini memang sudah saya rasakan sejak pertama menginjakkan kaki di Krabi. Beberapa kali berinteraksi dengan penduduk lokal di sini, mereka memang sangat ramah dengan wisatawan. Staf hostel yang ramah, supir tuk-tuk, petugas binatu, penjaga toko souvenir, sampai pramuniaga kafe tempat saya makan pad thai terenak selama saya di Krabi, mereka semua ramah. Meskipun dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, mereka berusaha mengerti apa yang kita bicarakan dan menjawab semampunya. Mungkin mereka sadar kota ini ramai dikunjungi wisatawan, jadi mereka sebisa mungkin berlaku ramah terhadap mereka. Kesan awal yang bagus sebelum akhirnya menutup mata hari itu.

Pagi pertama di Krabi, rintik hujan terdengar dari dalam kamar. Melihat jam menunjukkan pukul 06:00, saya bergegas ke kamar mandi untuk membasuh diri. Hujan bertambah deras ketika saya mandi. Oh tidak, jangan kau hambat rencana saya hari ini wahai hujan, gumam saya di kamar mandi. Dan persis ketika saya selesai mandi, hujan ternyata juga berhenti. Mungkin dia tahu saya ingin pergi, menikmati hari, ke Laut Andaman.

Rencananya pagi ini saya akan ikut tur sehari ke Pulau Phi Phi dan pulau-pulau di sekitar Laut Andaman. Tidak sabar, meski cuaca agak mendung. Jam tujuh saya sudah siap untuk pergi. Setelan kaos-celana pendek-sendal jepit dan dry bag saya rasa pas untuk hari ini. Masih ada waktu, pikir saya pagi itu melihat jam dan mengetahui bahwa masih ada satu jam lagi sebelum saya dijemput di hostel oleh staf tur. Penyedia paket tur ini memang menyediakan antar jemput dari hotel/hostel ke pelabuhan di Pantai Au Nang sebelum bertolak menggunakan perahu cepat.

Lalu, jalan-jalanlah saya di sekitar hostel sambil mencari cemilan untuk sarapan. Di Krabi, terdapat hutan bakau yang cukup luas. Ada pula tur mengelilingi hutan bakau dengan sampan atau kano.

Suasana kota Krabi
Suasana kota Krabi di pagi hari.

Hutan bakau
Hutan bakau.

Selesai berjalan-jalan singkat, berangkatlah saya untuk tur sehari ke Pulau Phi Phi dan Laut Andaman. Saya tidak akan bercerita tentang Laut Andaman di tulisan ini. Mungkin akan ada tulisan sendiri mengenai keindahan Laut Andaman. Tapi percayalah, ia indah sekali.

Menginap dua malam di Krabi bukanlah rencana awal saya. Rencana awal saya adalah tinggal di sini semalam untuk kemudian menghabiskan waktu lebih lama di Phuket. Namun, suasana pagi di Krabi ingin saya nikmati sekali lagi. Saya putuskan untuk menginap sehari lagi.

Pagi berikutnya saya bangun dan memutuskan untuk berkunjung ke Tiger Cave (Gua Harimau), sebelum berangkat ke Phuket. Tiger Cave direkomendasikan teman baik saya Willy Irawan, yang juga salah kontributor Ransel Kecil. Setelah saya cek ke staf hostel, ternyata Tiger Cave hanya berjarak sekitar 20 menit menggunakan tuk-tuk dari hostel. Tiger Cave merupakan kawasan kuil di mana para murid belajar untuk menjadi biksu. Konon di sini dulu juga menjadi tempat persembunyian harimau di sebuah gua di lokasi ini, oleh karenanya ia disebut sebagai Tiger Cave.

Selain melihat situs tempat persembunyian harimau tersebut, saya juga tertarik dengan keberadaan patung Buddha di atas bukit di lokasi ini. Patung Buddha tersebut bisa kita temui dengan menaiki 1.237 anak tangga! Bukan anak tangga normal menurut saya, karena di beberapa titik, anak tangga tersebut memiliki kemiringan yang cukup curam.

Saya ke Tiger Cave bersama Irham, seorang pejalan dari Yogyakarta yang kebetulan saya temui di hostel tempat saya menginap. Dia berencana backpacking 10 hari, mulai dari Singapiura dan berakhir di Bangkok, kalau saya tidak salah ingat. Karena dia juga belum ada rencana pagi ini, maka saya ajaklah dia. Kami membayar 50 baht per orang ke pak supir tuk-tuk pagi itu.

1.237 anak tangga ke puncak!
1.237 anak tangga ke puncak!

Patung-patung Buddha
Patung-patung Buddha.

Sejumlah 1.237 anak tangga untuk mencapai puncak adalah perjalanan mendaki yang cukup melelahkan, namun akhirnya kita berhasil menyelesaikannya setelah beberapa kali sempat berpikir untuk menyerah dan turun. Kami menghabiskan waktu setengah jam di atas. Tempatnya memang agak kurang terawat. Mungkin karena saat itu sedang sepi atau kami yang terlalu dini berkunjung.

Setelah sampai di atas juga saya menyesal tidak bangun lebih pagi lagi dan melihat matahari terbit. Sepertinya akan cantik sekali melihat matahari terbit dari sini, karena ini merupakan titik tertinggi di Krabi. Mungkin lain kali.

Puncak Tiger Cave
Puncak Tiger Cave.

Terima kasih Krabi untuk pagi-pagi yang berkesan, meski hanya sempat berjumpa dua kali.

  • Disunting oleh SA 13/08/2012