Hampir semua orang pasti sudah tahu kota ini, kota besar di Jawa Tengah yang merupakan ibukota provinsi. kota ini terkenal dengan wilayah dataran rendahnya, terutama daerah Semarang Bawah, yakni sekitar empat kilometer dari garis pantai. Kawasan dataran rendah tersebut kerap dilanda banjir yang disebabkan luapan air laut atau biasa dikenal dengan istilah rob.

Bicara soal banjir Semarang Bawah, saya jadi ingat lagu “Jangkrik Genggong” yang dalam salah satu penggalan liriknya berbunyi “Semarang kaline banjir, aja sumelang ora dipikir, jangkrik mlumpat saba neng tangga…“. Tuh kan, saking terkenalnya banjir di Semarang, sampai-sampai hal ini dimasukan dalam bait lirik lagu.

Pastinya sudah banyak sekali pejalan yang sering mengunjungi kota ini, baik itu hanya untuk sekedar lewat atau sengaja niat untuk menikmati keindahan kota ini. Kala itu, saya singgah di Semarang memang sengaja berniat untuk berplesir.

Seperti biasa, saya melancong ala backpacker, keliling kota Semarang bersama teman-teman kampus. Saat plesiran kala itu ada hal unik yang saya temukan dari Kota Semarang. Kota ini memiliki banyak bangunan tempat ibadah yang bersejarah dengan arsitektur menawan. Kala itu, saya mengunjungi Kelenteng Sam Po Kong, Gereja Blenduk, dan Masjid Agung Jawa Tengah. Semua tempat ibadah tersebut memiliki keunikan tersendiri, dan sangat indah untuk di kunjungi. Mari kita bahas satu per satu!

Kelenteng Sam Po Kong

Kelenteng Sam Po Kong.
Kelenteng Sam Po Kong.

Kala siang itu matahari bersinar cukup terik, saya memasuki gerbang pintu kelenteng, saya sudah disuguhkan keindahan arsitektur pintu gerbang dengan gaya arsitektur Tiongkok yang khas. Setelah langkah saya sampai di dalam komplek kelenteng, sesuai dugaan saya, ternyata bagian dalamnya memang menawan.

Kelenteng ini merupakan bangunan yang amat bersejarah yang terletak di barat daya Semarang. Dahulu kala kelenteng ini merupakan tempat pendaratan pertama Laksamana China beragama Islam yang bernama Cheng Ho. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat mengunjungi kelenteng tersebut, saat Cheng Ho singgah di Semarang dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau juga mendirikan bangunan untuk tempat beribadah agama Islam dengan arsitektur Tiongkok (saat ini bernama Kelenteng Sam Po Kong). Dalam pembangunan tempat ibadah tersebut terdapat unsur akulturasi antara budaya Tiongkok dengan Islam. Dalam perkembangannya, karena bangunan tempat ibadah tersebut berarsitektur Tiongkok, orang Indonesia keturunan Tiongkok menganggap bangunan tersebut sebagai kelenteng. Sampai saat ini kelenteng tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat ibadah. Selain itu tempat ini juga kerap dijadikan tempat untuk berziarah sekaligus berwisata sambil menikmati Kota Semarang.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk.
Gereja Blenduk.

Gereja ini terletak di Kota Lama Semarang. Saya singgah di sini sambil mengambil banyak foto di berbagai sudut. Kota lama identik dengan bangunan-bangunan tua dengan arsitektur Eropa, kalau dibandingkan dengan Jakarta, tempat ini mirip dengan Kota Tua, yang ada Museum Fatahillah-nya.

Begitu pun dengan gereja blenduk, bangunannya tua dengan arsitektur Eropa. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda ini merupakan Gereja tertua di Jawa Tengah. Dari bagian depan bangunan tua terlihat tulisan “Gereja GPIB Immanuel”, bukan Gereja Blenduk. Saat saya berkunjung ke sana, saya tidak masuk ke dalam gereja tersebut karena di dalam sedang dilangsungkan ibadah, selain itu gereja ini juga bukan merupakan tempat wisata umum seperti halnya dengan Kelenteng Sam Pho Kong. Hanya umat Kristiani yang berniat ingin beribadah saja yang dapat masuk ke bangunan tua ini. Kala itu, saya hanya berfoto-foto memotret keindahan bangunannya.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah.
Masjid Agung Jawa Tengah.

Sampai di tempat ini, sang surya sudah tenggelam, dan hari mulai berganti malam. Sesampainya di pintu gerbang, saya di sambut dengan penampakan Masjid Agung yang bersinar terang, lagi-lagi saya terpesona, terpatri di tempat saya berpijak sejenak. Saat setelah sadar terbangun dari hipnotis pesona Masjid Agung saya perlahan melangkahkan kaki saya menuju bagian atas masjid. Sesampainya di atas, terbaca oleh saya pada prasasti atau semacam piagam pengesahan yang terbuat dari keramik bahwa Masjid Agung Jawa Tengah ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006.

Sungguh luar biasa. Malam itu, Masjid Agung terlihat bersinar terang disinari oleh cahaya lampu, terlihat arsitektur Masjid yang begitu mempesona. Terlihat atap kubah dengan struktur tumpang yang dikelilingi lima pilar putih. Menurut saya, masjid ini terlihat sangat elegan, dengan gaya arsitektur modern.

Di depan Masjid ini, dekat dengan pintu masuk, terdapat menara masjid yang menjulang tinggi. Berdasarkan informasi penduduk setempat di atas menara tersebut terdapat restoran kecil yang biasa digunakan untuk tempat makan umum. Setiap pengunjung masjid ini bisa menaiki menara ini baik untuk sekedar melihat pemandangan dari atas atau untuk bersantai ria sambil makan sambil menikmati pemandangan kota Semarang. Satu hal yang saya sesalkan kala itu adalah saya tidak bisa naik ke menara tersebut, karena saya sampai sudah terlalu malam, jadi menara tersebut sudah ditutup.

Itulah ketiga tempat ibadah yang menurut saya amat menarik, terdapat tiga tempat ibadah unik untuk tiga agama berbeda dalam satu kota. Sungguh realita prularisme agama yang dibingkai dalam nuasa keindahan. Semoga keindahan tersebut juga bisa dimaknai sebagai indahnya toleransi beragama.

  • Disunting oleh SA 16/09/2012