Belur dan Halebidu

Berawal dari sebuah percakapan di meja operasi di suatu Senin pagi di sebuah rumah sakit kanker Mumbai, antara saya dengan seorang teman yang berasal dari Karnataka:

Teman: “Sudah pernah ke Karnataka?”

Saya: “Sudah, dong.”

Teman: “Kamu kan suka kuil Hindu kuno, sudah lihat Halebidu dan Belur?”

Jawabannya tentu saja tidak. Kening saya mengkerut sambil berusaha mengingat-ngingat. Seluruh daftar monumen yang termasuk dalam Warisan Dunia UNESCO di India tentu saja sudah saya hapal di luar kepala. Jadi waktu teman saya mendadak menyebutkan nama ini, di satu pihak saya membela diri dengan alasan bahwa nama kuil ini tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Teman: “Memang, tapi dua kuil ini arsitekturnya bagus sekali. You can have heart attack there, trust me! Belum afdol rasanya kalau belum pernah ke sana…”

Saya tahu jawaban ini terlalu hiperbolis, namun pada akhirnya cukup bisa membuat saya mencari tahu dan ujung-ujungnya menenteng ransel untuk pergi ke Karnataka beberapa hari kemudian.

Perjalanan saya dimulai dengan insiden saya tertinggal pesawat dari Mumbai menuju Bangalore yang menyebabkan saya harus menaiki pesawat berikutnya. Ditambah lagi, insiden yang ‘kecil’ ini berbuntut panjang, karena mengakibatkan saya tertinggal dari bus tur yang membawa saya ke kedua kuil ini. Setelah perjalanannya panjang dan melelahkan, akhirnya saya bisa sampai di depan kuil Belur. Dari Bangalore, perjalanan bisa mencapai waktu empat hingga lima jam, karena lewat tol, maka perjalanan yang jauh ini tidak terasa karena tidak mengalami kemacetan. Terdapat situs bus perjalanan berpendingin udara milik pemerintah yang bisa dipesan online dengan harga 900 rupee (ekuivalen 170 ribu rupiah).

Belur dan Halebidu seringkali disebut-sebut sebagai kuil Hindu yang amat indah karena dipenuhi dengan dekorasi arsitektur Hoysala. Kuil-kuil ini dibangun di masa pemerintahan Hoysala, antara abad ke-11 hingga ke-14 Masehi yang merefleksikan budaya dinasti saat itu. Walaupun ukurannya tidak semegah kuil Khajuraho atau kuil Surya di Konark, konon yang membuatnya spesial adalah arsitekturnya sangat indah dan tidak erotis.

Belur dan Halebidu

Sampailah saya akhirnya di Halebidu. Seluruh penilaian saya yang agak merendahkan kualitas kedua kuil ini runtuh seketika saat saya memasuki pintu gerbangnya. Kuil ini bukanlah sebuah kuil biasa, namun suatu karya seni dalam wujud nyata. Seluruh dindingnya berpahatkan mitologi Hindu yang tidak berkesudahan berpadu dengan hewan, bunga, dan postur penari. Kuil yang “dijaga” oleh patung Nandi (sapi) ini merupakan hasil kerja dari raja Vishnu Vardhana selama 86 tahun yang konon belum selesai. Walau sekilas tampak sederhana, namun kuil ini memiliki pilar-pilar berukir yang memukau setiap pasang mata yang melihatnya. Ketinggian kuil ini dibuat sedemikian rupa sehingga terdapat harmonisasi antara struktur horizontal dan vertikal untuk menampung berbagai ukuran pahatan di dalamnya. Kuil ini memiliki empat pintu masuk, namun biasanya para pengunjung memasukinya dari arah samping. Halebidu terkenal akan keindahan arsitektur pahatan pada dinding luar kuil, dimulai dengan pahatan Ganesha yang terlihat sedang menari. Pada dasar dinding yang berpahat dapat ditemui motif-motif seperti gajah, singa, kuda, raksasa dalam mitologi Hindu, dan angsa. Hal yang membedakan arsitektur Hoysala dengan lainnya adalah strukturnya sangat detil, indah, halus, dan biasanya memiliki perhiasan di bagian kepala figur pahatan. Walau kuil ini diperuntukan untuk Shiva, namun berbagai wajah Vishnu dan berbagai avatarnya dapat ditemukan dengan mudah. Tidak ada satupun bagian dari dinding kuil ini yang tidak berpahatkan wajah dewa Shiva atau Vishnu.

Belur dan Halebidu

Belur merupakan kuil yang lebih sederhana dibanding Halebidu. Kuil ini didirikan oleh Shantaladevi, istri dari raja Vishnu. Kuil ini lebih didedikasikan untuk dewa Vishnu dan lebih terkenal akan arsitektur di dalam kuil. Walau dalam kegelapan, kami dapat meilhat keindahan dekorasi di dalam kuil ini. Terdapat suatu cerita yang tidak dapat dipisahkan dari kuil Belur ini. Alkisah anak dari arsitek yang membangun kuil ini menemukan patung dewa Vishnu di dalam kuil tampak rusak dan terdapat seekor kodok di dalam kuil. Ia kemudian melaporkannya kepada ayahnya, Jakana. Jakana mendengar hal ini langsung merasa kecewa dan memotong kedua tangannya. Oleh karenanya kuil ini juga dinamakan “kappechennigaraaya” yang berarti kuil katak. Sayangnya hari itu saya tidak melihat seekor katak satupun, jadi sulit buat saya mempercayai cerita ini.

Walau terdapat beberapa bagian dari kedua kuil ini yang rusak, namun siapapun dapat menilai bahwa arsitektur keduanya tidak terbantahkan. Saya amat beruntung bisa menjadi saksi untuk melihat arsitektur kedua kuil ini, karena memang dibandingkan kuil shiva lainnya, wajah Tuhan dapat ditemukan secara mudah dalam pahatan yang sedemikian luar biasa indahnya. Samar-samar masih terdengar ucapan pemandu saya sebelum ia mengakhiri turnya:

“Devils are everywhere, but in Belur and Halebidu, God is everywhere…”