Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) merupakan taman nasional yang ada di wish list teratas taman nasional wajib kunjung saya. Saya melompat kegirangan ketika kantor mengirim saya ke sana untuk survei lapangan. Satu hal yang membuat saya lebih gembira lagi adalah saya akan ditemani oleh Jimmy Syahirsyah, seorang wildlife photographer handal sekaligus kolega saya di kantor. Jimmy bekerja di Kalimantan Barat dan rutin keluar masuk hutan untuk berbagai ekspedisi sehingga kami jarang sekali bertemu.

Rumah di Danau Sentarum

Untuk menuju TNDS, cara tercepat adalah dengan pesawat Trigana Air dari Pontianak sampai Putusibbau. Pesawat jurusan ini hanya terbang dua kali seminggu, Kamis dan Sabtu dengan harga tiket Rp 700.000,-. Dari Putussibau, kami naik mobil sampai ke daerah Lanjak di Kapuas Hulu. Total perjalanan darat saya 6 jam: dua jam di jalan beraspal sementara empat jam berikutnya jalan tanah putih yang sangat buruk pada beberapa titik. Untung saja malam itu kami hanya ditemani hujan gerimis dan tanpa pungutan liar dari masyarakat sekitar.

Perjalanan ke TNDS memakan waktu 1 jam 10 menit dari pelabuhan Lanjak dengan speedboat. Sebelumnya saya dan Bang Jimmy harus melapor ke kantor perwakilan TNDS untuk membayar karcis masuk dan mengurus Simaksi (Surat Ijin Masuk Wilayah Konservasi). Biaya yang dikenakan adalah Rp 30.000,- untuk Simaksi dan Rp 1,500,- untuk karcis masuk TNDS per orang per hari. Matahari sudah terik di atas sana ketika kami duduk rapi di speedboat. Satu hal yang sangat menarik sekaligus khas dari danau ini adalah warna airnya yang gelap sehingga semua benda di atas air terefleksikan secara sempurna. Namun hal ini juga yang membuat udara dua kali lebih panas karena matahari memantul dengan baik. Ketika saya di sana air sedang pasang akibat musim hujan berkepanjangan tahun ini. Saat kemarau, beberapa wilayah danau bisa dilewati oleh sepeda motor.

Kami menuju rumah kepala desa (kades) di kampung Meliau. Total ada 21 kampung yang tersebar di danau. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

  • Listrik belum mencapai TNDS. Listrik bisa dinikmati oleh mereka yang bisa membeli genset.
  • Danau merupakan sumber kehidupan sekaligus pusat kegiatan masyarakat (mulai dari mandi, mencuci, memancing, tempat pembuangan, dll).
  • Ada dua jenis buaya yang hidup di danau: buaya senyulong (buaya pemakan ikan) dan buaya pemakan daging.
  • Danau ini merupakan salah satu penghasil ikan toman (fishzilla).
  • Meskipun semua rumah di atas air, masyarakat juga memelihara ternak seperti sapi, babi dan ayam yang ditempatkan pada kandang terapung lengkap dengan anjing penjaga.
  • Menangkap ikan adalah pekerjaan utama masyarakat danau.
  • Ada petani–petani madu yang menghasilkan madu organik. Produksi mereka mencapai 16 ton pada tahun 2009 kemarin.
  • Dalam kehidupan sehari–hari, masyarakat di sana berbicara dalam bahasa Melayu Iban (bahasa yang sama dipakai di Serawak).
  • Sinyal telepon hanya ada di beberapa area tertentu.
  • Pernikahan di usia remaja merupakan hal yang wajar.

Perahu Panjang

Sisa hari itu kami habiskan untuk berjalan–jalan di danau sekitar kampung Meliau dengan perahu panjang. Saya melihat pulau terapung. Nelayan yang menemani kami bercerita bahwa pulau tersebut sering berpindah–pindah tempat sebelum akhirnya diam di satu titik. Saat pulau bergerak, nelayan sering mengaitkan tali perahu mereka di pohon yang tumbuh di pulau apung, menebeng pulau sampai agak jauh ke tengah. Sebelum sunset, kami berburu foto tanaman kantung semar yang tumbuh subur di pinggir–pinggir hutan.

Di malam hari kami bediskusi dengan Bapak Kades mengenai kegiatan konservasi masyarakat, panen ikan toman, panen padi di Kapuas Hulu sambil membuat rencana survei selama di danau.

Kami bangun pagi sekali keesokan harinya. Di dapur, keluarga Bapak Kades sudah menyiapkan peralatan “piknik” untuk kami yang terdiri dari kompor minyak tanah portable, panci, nasi, piring, sendok sampai bumbu–bumbu untuk memasak. Kami naik perahu kayu ditemani dua orang kampung yang sudah kenal baik dengan Bang Jimmy. Kami menuju hutan untuk melihat kegiatan menangkap ikan masyarakat di sana. Sebuah pengalaman baru bagi saya masuk hutan naik perahu kayu dengan jarak pohon yang rapat di kanan kiri. Beberapa kali kami tersesat dan harus memutar. Ketika air pasang, kondisi “jalan” tidak bisa diprediksi, jarak antar pohon seringkali tidak cukup dilewati perahu. Namun, perjalanan siang itu sungguh luar biasa. Saya melihat banyak binatang liar dan langka di dalam hutan.

Makan Siang bersama Nelayan

Jam satu siang kami kelaparan. Keluar hutan, kami bertemu nelayan–nelayan sedang makan siang. Mereka membagi tangkapan ikan mereka untuk kami masak bersama jamur yang tadi sempat kami petik di dalam hutan. Ikan dan jamur segar direbus kemudian diberi bumbu, makan di tengah danau dengan kicauan burung. Satu hal yang “mahal sekali” harganya untuk warga Jakarta seperti saya.

Kantung Semar

Menunggu matahari bergeser, kami duduk–duduk di gundukan batu sambil mengobrol. Hanya saya satu–satunya orang yang tidak bercakap dalam bahasa Iban. Pukul tiga sore kami masuk hutan lagi menuju Danau Belaram. Pemandangan di sana cantik sekali dan untuk pertama kalinya saya melihat burung pecut ular. Pecut ular memiliki kepala seperti bangau, bersayap seperti elang dan kaki berselaput seperti bebek. Jumlahnya hanya tinggal 2.000 ekor saja di Kalimantan. Sayang saya tidak berhasil memotret burung langka ini karena mereka terbang cepat. Kami pulang saat hari mulai gelap. Suasana danau cukup mencekam ketika malam hari. Kami kembali ke rumah Bapak Kades.

Nelayan Istirahat

Hari berikutnya, saya dan Bang Jimmy mendatangi beberapa kampung. Banyak objek foto menarik kegiatan warga: membuat tepung beras, selai ikan, panen ikan toman serta bekas kebakaran hutan akibat kemarau berkepanjangan pada 2004 silam. Kami juga mengunjungi petani madu organik. Dari petani inilah saya mengetahui satu fakta baru tentang madu: “usia khasiat” madu hanya enam bulan sejak madu tersebut dikemas.

Saya bersiap kembali ke Lanjak dengan speedboat keesokan paginya. Namun sebelum kami menuju pelabuhan Lanjak, kami menyempatkan berpamitan ke kampung sebelah dimana salah satu rumah betan/ rumah panjang (long house) berada. Warga kampung tersebut sedang menyiapkan pesta pernikahan. Sungguh menyenangkan melihat semua orang bergotong royong membantu persiapan pesta. Bahan–bahan sayuran yang sedang direndam semua berasal dari hutan. Bapak – bapak menghias teras rumah panjang dengan kain bermotif warna warni serta pelaminan sederhana namun terkesan meriah. Tidak ada yang rumit buat mereka. Semua tersedia di alam, semua orang bersaudara, semua orang membantu tanpa pamrih—nilai yang tidak banyak saya temui di kota besar.

Burung Enggang (Hornbill)

Dalam perjalanan menuju pelabuhan Lanjak, saya melihat sekumpulan bekantan. Jarak mereka hanya sekitar tiga meter dari speedboat kami. Belum pernah saya melihat primata sedekat itu di alam bebas. Selain bekantan, entah berapa belas hornbill (burung enggang), ular, dan kera yang saya temui selama di sana.

  • Disunting oleh ARW & SA 19/07/10