Suasana Jalan di George Town, Penang
Suasana Jalan di George Town, Penang

Mungkin jika Anda mendengar “George Town”, maka yang terbesit dalam pikiran Anda adalah sebuah universitas di Amerika Serikat atau suatu kawasan di Washington D.C. Padahal tidak hanya itu, negara bagian Penang, Malaysia, memiliki ibukota dengan nama yang sama. Berada di timur laut pulau Penang, George Town memiliki keunikan tersendiri sebagai sebuah kota budaya yang sudah diakui oleh UNESCO. Menapaki jalan-jalan di George Town memang rasanya kental sekali dengan campuran budaya Inggris, India, Cina dan Melayu.

Balai Kota George Town, Penang
Balai Kota George Town, Penang

Wilayah eks-jajahan Inggris ini memiliki berbagai peninggalan sejarah, terutama dalam hal arsitektur bangunan. Balai Kota di kawasan Esplanade, The Whiteaways Arcade yang kini dijadikan tempat pameran, teater terbuka, dan kafe, Penang State Museum yang tadinya merupakan bangunan sekolah kolonial merupakan beberapa bangunan di George Town yang memiliki gaya arsitektur Inggris. Yang menjadi bangunan kolonial favorit saya adalah bangunan Eastern & Oriental Hotel di dekat Upper Penang Road pada malam hari. Saya bisa berlama-lama memandangi dan hanya mengagumi bangunan ini di plaza yang berada tepat di depan hotel. Dengan tata cahaya yang enak dipandang mata, bangunan hotel ini tampak begitu megah dan jauh dari kesan menyeramkan.

Little India
Little India

George Town juga memiliki Little India yang tentu menawarkan hal yang berhubungan dengan etnis India. Di kawasan ini terdapat banyak toko pernak-pernik, bumbu, dan kain India, restoran hidangan India, dan yang untuk saya paling menarik adalah kuil. Ketika saya menyambangi Sri Mahamariamman Temple, yang merupakan kuil Hindu tertua di George Town, ternyata sedang ada upacara keagamaan di sana. Dupa-dupa setinggi manusia dibakar di depan kuil, meninggalkan serpihan abu pada baju para pendoa yang berdiri di depannya. Perempuan-perempuan mengenakan kain sari dengan manik-manik yang menyilaukan, lampion-lampion warna-warni bergelantungan di jalanan, dan hingar-bingar musik India dari corong di toko-toko merupakan suasana biasa di Little India. Terasa begitu meriah meskipun tidak ada yang sedang dirayakan. Bayangkan bagaimana ramainya kawasan ini saat Deepavali!

Peranakan Mansion
Peranakan Mansion

Jika ada tempat yang dapat menggambarkan bagaimana kaum Cina Peranakan hidup di George Town maka tempat itu adalah Pinang Peranakan Mansion. Sesuai namanya, tempat ini sebelumnya merupakan rumah dari Baba dan Nyonya keturunan Cina yang sekarang dijadikan museum. Museum ini menggambarkan tradisi, gaya hidup, dan kebiasaan kaum berada Cina melalui arsitektur dan benda-benda yang mereka gunakan dikala hidup. Ruangan-ruangan yang ada di museum ini dipertahankan penataannya seperti aslinya, sehingga kita dapat membayangkan bagaimana mereka hidup. Di sebelah museum terdapat kuil yang cukup besar, tempat Baba dan Nyonya berdoa. Selain kuil pribadi ini, George Town memiliki banyak kuil Cina kuno yang menjadi daya tarik, misalnya Goddess of Mercy Temple yang didirikan tahun 1700an. Nuansa warna merah begitu kuat terlihat pada bangunan kuil ini. Meski sudah tua dan terlihat tidak terlalu terawat, kuil ini masih digunakan hingga sekarang. Mengenai makanan, restoran-restoran sederhana di pinggir-pinggir jalan George Town banyak yang menawarkan masakan khas Cina otentik.

Kuil Peranakan Mansion
Kuil Peranakan Mansion

Budaya Melayu dibawa oleh para pendatang dari Aceh yang berdagang di Pulau Penang. Islamic Museum, yang dahulu merupakan kediaman seorang pedagang kaya dari Aceh, dan Masjid Melayu Lebuh Acheh merupakan peninggalan budaya ini. Meski tidak banyak peninggalan fisiknya, namun komunitas Islam di George Town begitu hidup. Kabarnya pada bulan suci Ramadhan jalanan George Town dan sekitar Menara Komtar dipenuhi oleh para pedagang makanan sepanjang malam. Mereka menyebutnya Bazar Ramadhan.

Saya tidak merasa cukup membenamkan diri dalam budaya Inggris, India, Cina, dan Melayu di George Town hanya dalam beberapa hari. Budaya-budaya tersebut seakan-akan sudah bercampur menjadi satu dan menjadi keunikan tersendiri untuk kota ini. Jika ditanya apa yang saya lihat ketika mengunjungi George Town, maka jawaban saya adalah nuansa penuh budaya di George Town.

  • Disunting oleh SA 10/10/2011