Pintu Dekoratif, Hoi AnHoi An adalah kota bersejarah yang diakui oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage. Letaknya di provinsi Quảng Nam di bagian sentral Vietnam. Dengan luas hanya sekitar 60 km per segi dan 120.000 jiwa penduduk, ia telah menjadi salah satu tujuan utama pengunjung ke Vietnam. Hoi An sangat tergantung dengan keberadaan kota Da Nang, kota berkembang sekitar 30km di utaranya, karena di Da Nang-lah terletak bandara internasional dan stasiun kereta api terdekat.

Sebagai bekas kota pelabuhan dan perdagangan pun, Hoi An tak memiliki fasilitas pelabuhan yang memadai untuk menampung jumlah pengunjung yang semakin melonjak. Kebanyakan pengunjung mencapai Hoi An melalui pesawat yang mendarat di bandara internasional atau pun stasiun kereta api yang berada di Da Nang. Dari situ, mereka dapat menaiki taksi (sekitar USD 12-20) atau bis (turis maupun umum) dengan tarif yang berbeda-beda (sekitar USD 0.80 untuk bis umum atau USD 4 untuk bis turis). Pengunjung dapat meminta hotel di Hoi An untuk menjemput di bandara atau stasiun kereta api dengan tambahan biaya, biasanya tak jauh beda dengan biaya taksi.

Hoi An Ketika MalamJudul resminya adalah “Hoi An: The Ancient Town“. Terletak di jantung hati kota Hoi An adalah Old Town, yakni kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya. Mengunjungi Old Town serasa mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17. Hanya saja, pengunjung tak akan menemui pedagang yang menjual keramik, mendorong gerobak ataupun menjajakan rempah-rempah, tapi justru pernak-pernik cenderamata, memorabilia, baju khas Vietnam yang tersedia untuk beragam usia, benda-benda seni seperti lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer, sampai miniatur beragam kapal antik! Ruas jalan yang cukup sempit membuat beberapa jalan benar-benar tak bisa dilalui mobil dan hanya dilalui sepeda biasa dan sepeda motor. Ruas jalan yang sempit ini pulalah, yang menjadi andalan para pemilik restoran di sekitar situ untuk memanggil Anda masuk karena pada jam-jam tertentu memang cukup padat dengan pejalan kaki. Pada malam hari, banyak sekali lampion yang dipasang di pohon-pohon dengan warna-warni yang menyenangkan, apalagi ditambah alunan tembang instrumental yang mengumandang dari sistem audio yang memang dipasang di beragam penjuru kota. Siap-siaplah memakai baju berlapis karena suhu bisa lebih sejuk pada malam hari.

Hoi An tak pernah sepi pengunjung. Setiap hari selalu saja ada turis dari Eropa, Amerika, Australia dan Asia yang berjalan kaki keliling, memandang kagum akan kualitas konservasi kota tua ini. Bagi mereka yang senang fotografi, Old Town adalah ladang yang siap dipanen sepanjang tahun. Peluang eksplorasi fotografi sangat terbuka luas. Anda bisa fokus pada arsitektur kota tua atau mencoba menangkap nadi kegiatan penduduk dan pengunjungnya. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah _shophouse_ yang belum tentu bisa mengakomodir kepala kita saking rendahnya langit-langit yang dimiliki, lalu memotret ke arah jalan. Atau menghabiskan waktu hanya duduk di salah satu kafenya sambil memotret mereka yang lalu lalang, naik perahu kecil di sungainya untuk melihat Hoi An dari perspektif yang berbeda.

Fasad Salah Satu Bangunan di Hoi An

Tips ideal: Pesan salah satu hotel murah meriah (satu kamar dengan tempat tidur double hanya bertarif USD 15 – USD 20 per malam) yang terletak sedikit jarak jalan kaki dari Old Town, lalu jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD 0.50 per hari!) berkeliling Old Town. Sewa sepeda motor tarifnya sekitar USD 4 per hari. Setelah itu, Anda bisa beli tiket terusan 3 hari untuk mengunjungi beberapa situs menarik di Old Town seperti rumah-rumah tua yang sengaja tak dijadikan situs komersil, museum-museum, jembatan dengan arsitektur Jepang (_Japanese Covered Bridge_) serta beberapa gedung pertemuan rakyat (_assembly hall_) dengan arsitektur mirip pagoda. Dari sejumlah kualitas arsitektur, dapat dilihat bahwa memang kota ini dulu menjadi ruang leburnya beberapa etnis dan budaya: Vietnam, Cina, Jepang dan India.

Penjual Makanan di Hoi AnSetelah puas berkeliling, coba duduk di salah satu kafe atau rumah makan. Pilih tempatnya dengan bijak, karena tak semua berharga ramah bagi kantong orang Indonesia (sama seperti Bali, harga-harga di sini sudah “di-westernisasi”). Kalau Anda berani, cobalah makan makanan pinggir jalan yang mirip dengan jajanan Indonesia: pisang goreng penyet, lalu semacam onde-onde yang berisi kelapa. Selain itu, cobalah sajian khas Hoi An yang disebut Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat.

Wisata pantai juga tak ketinggalan dengan dua pantai yang paling dekat yakni pantai Cua Dai dan An Bang. Namun bersiaplah, jika Anda berharap pantai di sini adalah pantai tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun, karena pada masa-masa tertentu anginnya cukup kencang, ombak tinggi dan tanpa sinar matahari. Walau begitu, banyak sekali hotel mewah yang lokasinya di sepanjang pantai Cua Dai.

Candi My Son

Bagi Anda yang tertarik wisata sejarah, cobalah untuk mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi peninggalan masyarakat Cham ini memang tak sebesar kompleks candi Prambanan atau Borobudur, tapi cukup impresif, walau banyak yang sudah tinggal puing-puing karena sempat dibom ketika perang. Masyarakat Cham sendiri konon berasal dari Borneo, mayoritas memeluk agama Islam dan memiliki bahasa yang mirip dengan bahasa Indonesia, Melayu dan Tagalog karena termasuk dalam satu keluarga bahasa Malayo-Polynesia. Kompleks candi Mỹ Sơn sendiri adalah pusat peribadatan masyarakat dan makam raja-raja Cham. Ada sekitar 70 candi besar dan kecil di kompleks ini yang sedang dipugar.

Disunting oleh ARW 12/04/2010 & SA 26/04/2010