Tempat (halaman 1 dari 9)

Panduan Wisata Islandia

Thinglevir National Park

Alex Cornell melakukan perjalanan ke Islandia dan mendokumentasikannya dalam bentuk panduan wisata di majalah Gone.

  • Cara terbaik menikmati Islandia adalah dengan mobil berkeliling negara pulau ini. “The Ring Road” adalah jalan lingkar negara yang buka sepanjang tahun, dan dapat ditempuh non-stop selama 18 jam. Idealnya, kita habiskan waktu 8 – 14 hari berhenti dan menginap di sepanjang jalan. Waktu ideal road trip adalah bulan Mei – Agustus.
  • Islandia terkenal dengan Aurora Borealis (“The Northern Lights”). Idealnya anda pergi di musim dingin untuk menyaksikannya. Namun, musim panas juga menarik: anda bisa menyaksikan “senja abadi” dari jam 9 malam hingga jam 3 pagi.
  • Walau ada musim panas dan musim panas menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Islandia, perlu diwaspadai bahwa cuaca tidak menentu di negara ini. Terkadang cerah, terkadang berkabut, dan terkadang hujan. Pastikan anda selalu update soal cuaca.
  • Bawa variasi pakaian mulai dari kaos hingga jaket. Anda tidak tahu kapan cuaca bagus dan buruk.

Baca lebih lengkap lagi di sini.

Beberapa jalan bisa tiba-tiba ditutup

Bagi saya, Islandia adalah tujuan idaman dengan nuansa magis dan petualangan yang kental. Semoga suatu saat saya bisa ke sana.

Menikmati Warisan Kuliner di Jonker Street, Melaka

Melaka adalah kota kaya sejarah sekitar dua jam perjalanan dengan bis dari bandara internasional Kuala Lumpur, ke arah selatan. Bersama dengan Penang, dulunya Melaka menjadi tempat persinggahan pedagang. Hasilnya, kota ini menjadi lokasi strategis yang diperebutkan negara-negara Eropa. Beberapa gedung peninggalan Belanda (gedung-gedung di kompleks Stadhuys) dan Portugis (benteng Famosa) menjadi bukti jelas pengaruh kolonialisme. Di sisi lain Sungai Melaka, kita lihat pula kota tua Cina dengan rumah-rumah toko Cina Selat yang khas dan jalan-jalan serta gang-gang kecil. Di antaranya pula, ada kuil, mesjid dan vihara, menyiratkan perpaduan budaya dan agama yang kental dulu di sini.

Penjual "carrot cake" di Jonker Street

Sekarang, pusat kota Melaka yang bersejarah itu dikonservasi dan dijadikan atraksi bagi pejalan. Salah satu jalan utama di kota tua, yakni Jalan Hang Jebat, juga dijadikan atraksi kuliner setiap akhir pekan, antara lain pada malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin. Jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai jam enam sore hingga 10 malam. Dengan cepat pun jalan ini dipenuhi kios, meja, kursi dan gerobak makanan “dadakan”.

Puluhan penjaja makanan dan pernak-pernik lucu pun menghiasi senja.

Jalan ini lebih dikenal dengan nama lamanya, Jonker Street. Siang hari, kesibukan toko-toko di sekitarnya menarik perhatian para pengunjung. Malam hari, seolah ada kehidupan baru dari pedagang-pedagang spontan ini.

Kosongkan perut ketika datang ke sini. Mulai dari salah satu ujungnya, lalu nikmatilah berbagai sajian kuliner mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Tentu saja, ini adalah kiasan semata — karena tidak ada yang akan menghidangkan anda langsung. Andalah yang memilihnya dan nikmatilah di jalan sambil berdiri atau duduk (jika tersedia!).

Hidangan pembuka yang bisa dinikmati antara lain carrot cake, telur dadar kerang (oyster omelette), cumi bakar disate dan beraneka dim sum. Jangan salah artikan carrot cake sebagai kue manis berbahan dasar wortel. Lebih tepatnya, ia disebut chai tow kway. Bahan dasarnya lobak, dicampur tepung beras lalu digoreng dengan saus, bumbu dan garnish. Perhatikan cara masaknya yang serba cepat dan menggunakan wajan datar. Menarik! Setelah itu, carilah penjual telur dadar isi kerang. Bahan dasarnya hanya telur dan kerang, ditambah kecap asin dan daun bawang. Dimakan dengan kucuran jeruk nipis. Bukanlah opsi tersehat, tetapi tetap enak. Jika anda ingin yang lebih ringan, bisa mencoba aneka dim sum jalanan yang juga tak kalah nikmat dan tetap bersahabat di kantong. Kalau tertarik, anda juga bisa mencoba sate cumi bakar yang langsung dibakar dipinggir jalan. Hm!

Hidangan utama yang bisa dinikmati antara lain chicken rice ball dan nyonya assam laksa. Nasi ayam “bola” ini uniknya ada di nasinya yang dikepal menjadi bola-bola seukurang bola golf. Alkisah, dulu penjual nasi ayam ingin menjual nasi ayamnya ke buruh-buruh angkutan dan kelasi kapal yang tidak punya waktu untuk makan nasi dengan piring. Akhirnya, supaya praktis, dibuatlah nasi kepal bola-bola ini. Assam laksa adalah salah satu makanan khas yang terdiri dari kuah kaldu ikan, mi beras, daun ketumbar, kecombrang dan asam jawa, dan ditaburi potongan ikan.

Penjaja makanan di Jonker Street

Hidangan penutup yang bisa dinikmati antara lain es cendol durian, coconut shake, kue tart nanas dan durian puff. Sesuai namanya, es cendol durian adalah es bersantan yang berisi cendol (di Indonesia disebut dawet), gula merah dan ditambah potongan durian asli. Kue tar nanas sebenarnya adalah versi besar dari kue nastar yang kita tahu di Indonesia, tetapi nanasnya bisa lebih segar. Durian puff adalah hidangan penutup istimewa lain yang bisa dicoba — gulungan puff yang diisi esensi durian atau malah durian segar.

Bagi anda yang suka nongkrong sampai larut lewat jam 10 malam, jangan khawatir, ketika anda sudah selesai di Jonker Street, bisa mampir di beberapa kafe di sekitarnya yang buka sampai tengah malam.

Mengunjungi Grand Central Terminal, New York

Ruang Utama
Ruang Utama

Dari luar, Grand Central Terminal tak ubahnya seperti gedung-gedung lain di kota New York, hanya lebih cantik sedikit. Tapi tentu saja, banyak gedung cantik di New York, saya pun terkagum-kagum. Lebih kagum lagi karena semuanya dapat dilihat dengan jalan kaki saja dari blok ke blok.

The Whispering Hall
The Whispering Hall

Grand Central Terminal terletak di antara 42nd Street dan Park Avenue di kota New York. Dulunya dibangun sebagai stasiun utama kota yang melayani jalur kereta api antar kota. Sempat melayani layanan kereta nasional Amtrak yang tahun 1991 dipindah ke Penn Station.

Grand Central Terminal dijuluki sebagai salah satu terminal kereta api tercantik di dunia. Berdiri sejak 1871, beberapa renovasi telah menghampirinya. Tahun 1960, gedung ini hampir dirobohkan untuk digantikan gedung lain, tetapi, Jacqueline Kennedy, istri presiden John F. Kennedy, berinisiatif untuk menobatkannya sebagai warisan nasional.

Secara arsitektur, gayanya adalah Beaux-Arts, ditandai dengan atap datar, lantai satu dengan langit-langit tinggi, penyekatan ruang walau pada satu lantai — misalnya pintu besar lalu ada anak tangga masuk ke ruang utama, jendela-jendela lengkung, pintu-pintu lengkung, desain simetris, seni patung dan detail-detail arsitektur klasik lainnya.

Papan Pengumuman Kereta Api
Papan Pengumuman Kereta Api

Khusus di Grand Central Terminal, terdapat mural astronomi di langit-langitnya yang tingginya bisa jadi mencapai dua lantai.

Diajak seorang teman yang bersikukuh ingin saya mengunjungi Grand Central Terminal, siang itu, seperti biasa, jalan menuju ke sana begitu riuh dengan banyaknya penumpang kereta yang lalu lalang. Selain dikunjungi oleh komuter setiap harinya, stasiun ini juga dikunjungi turis-turis hingga 21 juta orang tiap tahun (menjadikannya salah satu dari sepuluh besar atraksi turis di dunia versi majalah Travel+Leisure).

Ruang Utama
Ruang Utama, dari sisi lain

Setelah turun dari subway jalur N kami langsung menuju ke ruang utama terminal ini. Sungguh megah terlihatnya! Suasana keemasan yang ditimbulkan dari pencahayaan dan warna material gedung membuatnya semakin memesona.

Grand Central Terminal ini lebih sering disebut sebagai Grand Central Station, karena kebanyakan orang datang ke sini dengan kereta api. Kabarnya, ia jadi fasilitas terminal perkeretaapian terbesar di dunia dengan 67 jalur kereta api. Ada dua tingkat platform, keduanya berada di bawah tanah. Selain melayani subway dalam kota, Grand Central Station juga melayani kereta jarak jauh komuter yang melayani kota-kota di sekitar seperti Westchester, Putnam, Fairfield dan New Haven.

Teman saya menunjuk ke langit-langit dan mencoba mengarahkan pandangan saya ke bagian kecil di sudut atap stasiun ini.

“Lihat, ada kotak kecil berwarna hitam, kan?”

Saya mengernyitkan dahi sambil memperhatikan dengan seksama.

“Ah ya, memangnya itu apa?”, tanya saya.

“Itu adalah warna langit-langit stasiun ini sebelum dibersihkan tahun 1998. Kotor begitu karena dulu banyak residu asap rokok yang menempel.”

Wah, kontras sekali. Warna sekarang adalah hijau toska dengan mural zodiak berlatarbelakang hijau toska yang mencolok, dikelilingi warna keemasan dinding di sekitarnya.

Di tengah aula utama terdapat sebuah kaunter mungil. Ada petugas di situ yang bertugas memberikan informasi dan petunjuk arah. Tiket bisa dibeli di kaunter terdekat atau di mesin.

Saya sempatkan ke tengah-tengah aula dekat kaunter informasi itu dan melihat berbagai kalangan lalu-lalang mengejar keretanya. Mereka tampak masuk dari pintu-pintu sekeliling, dari tangga di atas dan di bawah, berjalan dengan cepat ke tengah seolah ingin bertemu kami… namun mempercepat laju jalannya lagi ke tempat lain. Kami berada tepat di tengah kesibukan kota yang tidak pernah tidur ini.

Teman saya kemudian mengajak ke sisi lain stasiun yang disebut The Whispering Hall (aula berbisik). Ada empat pilar di sini. Di setiap pilar kita dapat berbisik ke tembok, lalu orang lain yang berada di pilar berseberangan dapat mendengar bisikan kita! Entah apa yang memotivasi arsiteknya untuk membuatnya. Bahkan, kita tak tahu apakah keadaan ini memang sengaja dibuat atau benar-benar aksidental.

Belum sempat puas menikmati suasana di Grand Central, teman saya langsung mengajak saya menaiki kereta berikutnya.

Taj Mahal: Sebuah Memorial Cinta atau Kuil Bagi Shiva?

Kemegahan Taj Mahal
Kemegahan Taj Mahal.

Di antara sekian banyak warisan UNESCO di India, Taj Mahal merupakan destinasi utama yang biasanya menjadi niat awal para turis mengunjungi negara ini. Namanya muncul lebih dari 42 ribu kali bila kita memasukan kata kunci ini di kotak pencarian Google. Berbagai ulasan di beberapa situs wisata mengenai tempat ini banyak mengungkap keindahannya yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya dan dibuktikan dengan adanya pengunjung yang dapat mencapai sekitar 45 ribu per hari.

Menulis tentang Taj Mahal ternyata lebih sulit daripada menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Taj Mahal adalah salah satu monumen di India yang tidak mampu dideskripsikan keindahannya melalui torehan pena. Mengunjungi Taj kali kedua ini, saya bermaksud membuktikan semua kontroversinya yang pernah marak beberapa tahun lalu. Entahlah, kisah cinta yang melatarbelakangi pembuatan monumen ini yang selalu didengung-dengungkan menurut saya masih “kurang cukup” sebagai alasan pembuatannya.

Berlokasi di Agra yang merupakan bagian utara dari Uttar Pradesh, di pinggir sungai Yamuna, Taj Mahal konon dibangun pada tahun 1631 oleh Shah Jahan, seorang raja dari dinasti Mughal sebagai bentuk cinta kasihnya terhadap istri ketiganya yang bernama Mumtaz ul-Zamani. Mumtaz sendiri diceritakan meninggal dunia saat melahirkan anak ke-14 nya. Bagian utama mausoleum selesai pada tahun 1648, sedangkan lima tahun berikutnya daerah taman dan bangunan lainnya baru dapat diselesaikan. Taj Mahal sendiri merupakan gabungan dari arsitektur Mughal dan Persia, dan dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari penjuru dunia lainnya, misalnya Afganistan, Arab, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, dan lainnya. Marmer putih merupakan bahan utama dalam pendirian bangunan megah ini selain berbagai jenis batu berharga lainnya dan konon diperoleh dari daerah Makrana, Rajashtan. Dua puluh ribu buruh bekerja siang-malam selama 22 tahun untuk membangun Taj yang megah ini.

Agra dapat dicapai dengan menggunakan kereta api, bis ataupun pesawat dari kota-kota besar di India. Perjalanan kereta api dari New Delhi sekitar dua jam saja.

Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11
Darwaza i-rauja dengan pasak berjumlah 11.

Memasuki Taj Mahal, pengunjung lokal akan dikenai biaya 10 rupee (kecuali kunjungan malam 510 rupee), sedangkan turis asing 750 rupee, tiga kali lipat bila dibandingkan tempat peninggalan UNESCO lainnya. Barang-barang elektronik, rokok, korek api, dan bahkan makanan atau minuman tidak diperkenankan untuk dibawa. Sebagai gantinya, pengunjung akan mendapatkan satu botol air mineral setelah membayar tiket masuk. Pengamanan saat memasuki Taj Mahal hampir serupa di bandara. Wajar saja, mengingat beberapa kali monumen ini diancam akan dibom oleh teroris. Bagi para fotografer, pemakaian tripod tidak diperkenankan (percayalah, saya tidak pernah mengerti alasannya) dan harus ditinggal di bagian sekuriti. Kotak deposit disewakan di bagian sekuriti dengan biaya 20 rupee saja. Namun saran saya, sejak awal, hanya membawa tas tangan berisikan kacamata hitam, dompet, hp dan kamera saja untuk menghindari masalah dengan sekuriti ini. Taj Mahal dapat dikunjungi kapanpun, kecuali hari Jumat. Tidak disarankan datang saat musim panas, karena temperaturnya biasa mencapai 50 derajat.

Darwaza-i Rauza merupakan pintu gerbang utama yang akan kita temui sesaat sebelum memasuki area utama Taj Mahal. Dari gerbang ini dapat dilihat kekuatan arsitektur Mughal yang seirama dengan tulisan kaligrafi yang terlukis di dinding Taj Mahal nantinya.

Setelah itu, kita akan disambut dengan taman Mughal seluas 300m. Taman ini terbagi empat dengan adanya air mancur dan sepasang jalan setapak. Konon taman ini merupakan penggambaran dari lukisan tentang surga yang memiliki 4 sungai yang mengalir di dalamnya. Desainnya simetris sedemikian rupa bagaikan bayangan pada kaca dan semua mengarah ke mausoleum. Terdapat kolam berbentuk oktagonal di pertengahan taman yang dapat menunjukkan refleksi Taj di dalam air. Hingga kini, taman ini merupakan area yang menjadi tempat bagi para pengunjung untuk mengabdikan momen di Taj Mahal dengan kameranya atau sekedar duduk-duduk menikmati keindahan taman yang cukup teduh. Di pertengahan taman terdapat sebuah bangku marmer yang biasanya menjadi tempat bagi para pengunjung untuk berfoto dengan gaya seperti sedang “menjepit” bagian kubah dari Taj Mahal. Bangku ini merupakan bangku yang sama yang diduduki Ratu Diana saat berfoto di depan Taj Mahal.

Di penghujung taman, menjulanglah sosok bangunan utama dari komplek ini yaitu daerah mausoleum yang berbentuk struktur oktagonal simetris dengan empat buah pintu masuk berbentuk lengkung busur. Bangunan marmer putih ini ditaburi arsitektur campuran Persia dan Hindustani. Di sana-sini tampak berbagai pahatan dekoratif dan bunga lotus. Kaligrafi Qur’an mewarnai dinding dengan torehan surat Ya Sin, Al Fajr, AL Ikhlas, dan lain-lain.

Keempat menara (chattris) yang juga berbentuk simetris berada di sekeliling mausoleum ini. Nampak pula kedua makam dari Mumtaz. Di sinilah pemandu tur biasanya akan membuai Anda dengan kisah cinta sang raja yang telah jatuh cinta pertama kali pada Mumtaz saat melihatnya dari balik dinding istana semenjak usia 15 tahun. Mumtaz digambarkan sedemikian cantiknya, yang bahkan diungkapkan dengan untaian baris kata, “even the moon feels shy to hit her face“. Di kanan dan kiri mausoleum ini terdapat bangunan yang hampir sama miripnya satu sama lain, terbuat dari batu pasir merah, dimana yang satu diperuntukan untuk mausoleum kedua istri Shah Jahan lainnya dan yang satunya sebagai makam pembantu kesayangan Mumtaz itu sendiri. Di penghujung kompleks ini sendiri terdapat dua bangunan lainnya, yang digunakan sebagai masjid dan guest house. Desain masjid ini hampir sama dengan desain Jama Masjid di Delhi yang juga dibangun Shah Jahan. Tampak struktur lain yang lebih kecil yang konon merupakan music house di zamannya dan kini dijadikan museum.

Keindahan Taj selain menimbulkan decak kagum, namun juga berbagai mitos dan kontroversi turut berjalan mengiringinya. Adalah P.N. Oak, seorang penulis dari India yang memperdalam mitologi, mengungkap “cerita sesungguhnya” dari Taj Mahal melalui bukunya pada tahun 2001. Sedemikian kuatnya kontroversi ini sehingga pemerintah India melarang pencetakan buku dan bahkan mengancam para penerbit yang berusaha mencetak ulang. Cerita P.N. Oak inilah yang membawa saya kembali mengunjungi Taj setelah bertahun-tahun larut dengan kisah cinta dari tempat ini, yang mestinya dibangun dengan alasan lebih dari sekedar cinta di baliknya. Bagi saya sendiri, semua monumen di India memiliki cerita yang cukup unik untuk ditelusuri.

Opini mengenai Taj awalnya adalah sebuah kuil Shiva diawali dengan kerancuan arti dari nama Taj itu sendiri. Seperti kita telah tahu bahwa pada kata Mumtaz, terdapat lafal Taz dan bukan Taj. Mahal sendiri dapat diartikan sebagai istana; bukan mausoleum atau makam. Nama Taj Mahal sendiri tidak pernah muncul dalam beberapa pencatatan selama dinasti Shah Jahan atau anaknya, Aurangzeb. Padahal dengan jumlah buruh sedemikian banyak dan modal uang yang sedemikian besar untuk membangunnya, sewajarnya terdapat pencatatan mengenai hal ini. Nama Taj ini bahkan justru lebih sering disebutkan dengan kata Tejo Mahalaya, yang menunjukan sebagai nama kuil Hindu bagi Shiva. Aurangzeb yang memang terkenal anti-hIndu bahkan lebih sering menyebutnya sebagai tempat suci.

Di India, konon pernah disebutkan adanya 12 jyotirlingas (lambang Shiva yang utama) dan dikatakan yang terbesar dan terakhir berada di Taj dalam bentuk Naganathesawar; di mana Shiva berada dalam relung ular kobra. Struktur ini yang diprediksi tertimbun di bawah makam “palsu” dari Mumtaz di areal Taj. Agra sendiri sebagai kota Shiva memiliki ritual dan kepercayaan kuno yang telah berlangsung berabad tahun lamanya. Kepercayaan Agra juga menunjukkan bahwa kota ini memiliki lima patung Shiva, yang hingga kini baru ditemukan empat di antaranya, oleh karena di Taj Mahal-lah patung shiva kelima ini konon berada.

P.N. Oak juga menuturkan berbagai bukti lainnya, misalnya kadar karbon-14 pintu sisi timur Taj yang ternyata berusia 500 tahun sebelum masa pemerintahan Shah Jahan dan hilangnya struktur gajah yang pernah disebutkan oleh turis asing yang pernah mengunjungi Taj pada masa 1700 an. Tidak diketahuinya secara jelas kapan Mumtaz sebenarnya meninggal dunia, kapan Taj didirikan, dan kenyataan bahwa Shah Jahan memiliki lebih dari 5000 wanita di haremnya membuat motif pembuatan Taj berdasar cinta semata rasanya terlalu dipaksakan.

Langkah kaki saya berusaha menyelami bukti arsitektur Taj sebagai kuil Hindu yang konon merupakan rampasan perang dari seorang Raja Rajput bernama Jaisingh dari Jaipur. Di awali dengan gerbang utama, maka dapat dilihat motif seperti kubah atau mangkuk terbalik selalu berjumlah ganjil, yaitu 11, dimana hal ini merupakan kepercayaan dalam Hindu. Memasuki daerah makam yang octagonal. Oktagonal merupakan bangunan bergaya Hindu, karena Hindu sendiri memiliki arti 8 arah mata angin. Keempat menara yang ada di sekililing bangunan utama juga merupakan arsitektur Hindu, karena menara (minaret) dalam bangunan Muslim umumnya berada pada bahu bangunan utama, sedangkan pada Hindu berdiri dari bagian lantainya. Ornamen lotus yang menghiasi di seluruh dinding Taj Mahal jelas bukan menampilkan ciri Islam, karena memang lotus merupakan lambang dari Hindu. Hal ini makin diperkuat oleh adanya lambang Trident yang tersembunyi di antara struktur lotus ini. Trident ini sendiri merupakan lambang dari dewa Shiva. Pada bagian atap dari kubah Taj, tampak lambang yang sering disalahartikan sebagai lambang bulan sabit dan bintang. Namun bila diperhatikan secara awas, maka lambang ini membentuk kalash (pot sesembahan) dan kemudian buah kelapa dan dua buah daun mangga yang jelas merupakan ciri persembahan pemeluk Hindu bagi Dewanya. Tampak di sana-sini motif ular menghiasi dinding Taj, sebuah struktur yang tidak mungkin ada di bangunan Muslim di belahan dunia manapun.

Bila kita memperhatikan dengan seksama, saat kita memasuki bangunan utama Taj, maka dapat terlihat bahwa Taj sebenarnya tidak hanya memiliki satu lantai. Taj sendiri ternyata memiliki tujuh lantai dengan jumlah ruangan hingga 1.000 buah, sebuah kenyataan yang rasanya tidak pas dengan sebutan moumen untuk sebuah makam. Lantai paling dasar yang berada di bawah permukaan air sungai (ciri dari bangunan kuno Hindu) terkubur dalam pintu batu bata. Konon di lantai inilah beberapa patung dewa Hindu ditempatkan di sana. P.N. Oak menuturkan bahwa Taj didirikan di pinggir sungai atau pantai, suatu kekhasan dari kuil Hindu yang memang selalu mendirikan bangunan kuilnya di dekat sungai dan menghadap ke arah Timur.

Mumtaz sendiri meninggal di Bushnapur dan makamnya hingga kini masih terdapat utuh di sana. Maka dipertanyakanlah keberadaan kedua makam di dalam Taj dan mengapa satu makam terletak lebih tinggi dibanding makam yang lain. Apakah bagian tubuh Mumtaz terbelah dua? PN Oak menuliskan bahwa makam ini seakan dibuat untuk menutupi “sesuatu”. Di bagian depan makam akan kita dapati lantai datar tanpa ornamen yang konon awalnya merupakan tempat patung Nandi (sapi) yang memang biasa terletak berhadapan dengan dewa Shiva di setiap bagian depan altar kuil Hindu. Music House yang berada dalam kompleks makin menunjukkan bahwa bangunan ini bukan merupakan bangunan Muslim, karena memang hanya di Hindu terdapat ruang ini untuk mengakomondasi para pemeluknya bernyanyi saat beribadah.

Perjalanan saya ke Taj kali ini tidak membuat saya terjebak dalam opini kontroversi tentang asal muasal Taj. Keindahan bangunan yang dengan seluruh kisah masa lalunya mestinya tidak perlu diperdebatkan. Sebuah bangunan yang membuat India merasa bangga memilikinya sebagai warisan kunonya. Amatlah wajar apabila memang benar Shah Jahan merubah kuil Hindu sebagai bukti kekuasaannya yang telah menang terhadap raja di Rajashtan. Shah Jahan sendiri nampaknya tidak berniat untuk memperoleh kredit atas pendirian Taj. Oleh karenanya struktur awal Taj dirombak dan bagian emas serta batu berlian lainnya dipindahkan dan kaligrafi Quran ditorehkan, hanya agar struktur ini tidak kembali direbut oleh Raja Rajput. Mungkin itulah alasannya mengapa bangunan ini tidak tercatat pendiriannya. Entahlah.

Memandang Taj di kejauhan, maka yang tertinggal hanyalah decak kekaguman dan haru akan suatu monumen megah di pinggir sungai suci Yamuna, yang punya cerita cinta yang sangat besar sebagai latar belakangnya. Sebuah cerita cinta seorang raja terhadap ratu yang paling dikasihinya atau cerita cinta pemeluk Hindu terhadap dewa Shivanya…

Let the splendor of the diamond, pearl and ruby vanish like the magic shimmer of the rainbow. Only let this one teardrop, the Taj Mahal, glisten spotlessly bright on the cheek of time…
(Rabindranath Tagore)

Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur

Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo.

Dari sekian banyak cerita perjalanan saya di Indonesia, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat yang punya paling banyak cerita. Terlalu banyak keindahan yang bisa di ceritakan sampai tiada habisnya.

Saya mengunjungi Taman Nasional Komodo bertepatan dengan acara puncak Sail Komodo 2013. Sengaja saya pilih waktu yang bertepatan dengan acara tersebut, agar dapat merasakan nuansa salah satu acara pariwisata terbesar di Indonesia. Banyak sekali serangkaian acara yang di selanggarakan pada acara puncak Sail Komodo 2013, mulai dari acara pariwisata dan acara budaya. Saking banyaknya, saya harus membagi waktu untuk menikmati kedua acara tersebut.

Sabtu pagi yang cerah saya sudah berdiri di dermaga Labuan Bajo, dan siap untuk berpetualang di Taman Nasional Komodo selama satu hari penuh. Sengaja saya memilih one day trip, karena saya ingin melihat pergelaran budaya di hari berikutnya.

Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.
Penjelasan mengenai trekking oleh ranger.

Selamat datang di Taman Nasional Komodo!
Selamat datang di Taman Nasional Komodo!

“Hari ini ada dua pilihan, pilihan pertama kita ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, tapi kita tidak ke pulau-pulau kecil di sekitarnya untuk snorkeling, karena waktu pasti tidak akan cukup. Dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo saja akan ditempuh selama tiga jam, pulang pergi sudah enam jam dan itu cuma perjalanannya saja,” ujar sang penjaga kapal. “Pilihan kedua, kita ke Pulau Rinca saja—tidak usah ke Pulau Komodo—kemudian kita bisa keliling ke Pulau-Pulau sekitarnya sambil snorkeling,” lanjut penjelasan dari penjaga kapal.

“Enaknya bagaimana ya, Pakl supaya bisa berpetualang dari pagi sampai sore sampai puas,” tanya saya dan keempat rekan saya serentak. “Saran saya lebih baik pilihan kedua saja, kita tidak usah ke Pulau Komodo, karena terlalu jauh dari Labuan Bajo. Kalau hanya mau lihat komodo saja sih mending ke Pulau Rinca, di sana lebih banyak komodonya daripada di Pulau Komodo. Dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca pun tidak begitu jauh, hanya sekitar satu setengah jam. Setelahnya kita masih punya banyak waktu untuk mengelilingi pulau-pulau kecil di sekitarnya yang lebih eksotis dari Pulau Komodo, bisa menikmati pantainya dan snorkeling lebih lama,” jelas petugas kapal sembari memberi saran.

Sip deh Pak kalau begitu, kita pakai pilihan kedua saja untuk petualangan hari ini,” serentak saya dan keempat teman saya memilih. Suara bising mesin kapal pun mulai terdengar, dan kapal siap berlabuh meninggalkan dermaga Labuan Bajo.

Pulau Sebayur
Pulau Sebayur. Cantik, ya?

Savana di Taman Nasional Komodo
Savana di Taman Nasional Komodo.

Kapal terus melaju menembus ombak, saya melihat banyak kapal-kapal yang lego jangkar yang akan meramaikan acara puncak Sail Komodo 2013. Saya sungguh terkesan dengan panorama yang luar biasa terbentang dihadapan mata saya, laut yang biru, dan pulau-pulau menjadi perpaduan yang mempesona.

Asyik mengobrol dengan rekan-rekan saya, satu setengah jam berlalu tanpa terasa tiba-tiba kapal sudah mendekat ke Dermaga Pulau Rinca. Setelah merapat kami pun perlahan menuruni kapal dan siap berpetualang di Pulau Rinca.

Tak jauh dari dermaga terdapat pintu masuk Pulau Rinca, di pintu masuk saya dan rekan-rekan saya langsung di sambut oleh ranger yang akan mendampingi saya Trekking di Pulau Rinca. Baru saja melewati pintu masuk, saya langsung disuguhi tanah lapang berisi pohon-pohon bakau, terhampar perbukitan savana yang membuat saya merasa sedang berada di Afrika.

Komodo!
Komodo!

Komodo Resort
Komodo Resort.

Sebelum trekking dimulai saya dan rekan-rekan saya harus lapor dahulu di pos lapor dengan menulis identitas diri masing-masing, semacam buku tamu. Kemudian setelah itu ranger menjelaskan tentang jenis-jenis trekking. Di Pulau Rinca ada beberapa trek yang bisa dipilih. Dari jalur pendek sampai panjang yang memakan waktu satu hingga tiga jam. Rute trekking-nya sama sekali tidak membosankan. Oleh ranger saya diajak menanjak, menurun, melewati bebatuan dan hutan menikmati nuasa liar Pulau Rinca. Sungguh terasa petualangan liarnya.

Baru beberapa meter berjalan dari pos lapor, komodo-komodo sudah menyambut. Mereka berada di bawah rumah dan dapur para ranger. Para komodo banyak berkeliaran di sini, berkeliarannya komodo di area ini karena bau makanan yang memancing mereka berkumpul. Penciuman hewan pemangsa ini memang sangat tajam. Para komodo tanpak sedang tiduran di tanah, namun para ranger tetap menginstruksikan saya agar tetap waspada, sambil waspada saya tetap berfoto mengambil gambar dengan sudut yang pas.

Trekking dilanjutkan kembali, di tengah trek saya melewati sarang tempat komodo bertelur. Sarang komodo ini berbentuk lubang berkedalaman sekitar 2 meter. Di tempat inilah sang kadal raksasa ini bertelur. Tampak di dekat lubang tersebut seekor komodo betina yang menjaga sarang.

Sepanjang trekking, ranger terus mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati. Terutama saat berada di sekeliling pepohonan karena anak komodo biasanya tinggal di atas pohon. Jangan sampai tertiban atau kejatuhan ludahnya yang mengandung banyak bakteri. Itulah mengapa, para peserta trekking harus selalu berada dekat dengan rangernya. Agar lebih aman dan perjalanan trekking lebih nyaman.

Dari sepanjang jalan trekking tempat trekking di Pulau Rinca yang menurut saya paling berkesan adalah saat berada di Puncak Bukit. Saat saya berada di puncak bukit saya memberhentikan sejenak langkah saya dengan pandangan mata melihat sekeliling. Terhampar birunya laut yang bergradasi dengan birunya langit, ditambah dengan hijaunya pepohonan di kejauhan. Sungguh panorama yang indah dipandang, amat menenangkan mata. Kumpulan bebatuan dan ilalang semakin menambah keelokannya. Apalagi kala itu cuaca sedang bagus dan mendukung, pemandangan semakin luar biasa.

Tak terasa trekking pun usai, puas berpetualang di Pulau Rinca, saya lekas melanjutkan petualangan selanjutnya yaitu menuju Pulau Sebayur. Pulau Sebayur berada tepat di perbatasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini bisa dicapai dengan menempuh perjalanan laut kira-kira selama setengah jam dari Pulau Rinca ataupun selama kira-kira 1,5 jam dari Pulau Labuan Bajo. Kala itu perjalanan kapal agak cepat, hanya sekitar satu jam kapal sudah merapat di dermaga Pulau Sebayur.

Pulau Sebayur dikenal oleh banyak pelancong sebagai salah satu di antara lokasi menyelam dan snorkeling yang paling bagus di Kawasan Taman Nasional Komodo. Pulau ini disewakan oleh pemerintah kepada pihak asing dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 30 tahun, investor asing yang menyewa tanah di Pulau ini membangun fasilitas penginapan yang luar biasa indahnya. Suatu kombinasi yang sempurna, pulau indah yang dikelilingi oleh laut, difasilitasi dengan resor yang menawarkan, laksana sebuah area pantai dan pulau pribadi.

Resor di pulau ini bernama Komodo Resort. Saya tidak menginap di sini. Dari luar, resor sangat terlihat antik sekaligus mewah, masing-masing kamar memiliki sebuah teras pribadi di mana orang bisa menikmati pemandangan laut. saya berpikiran suatu saat nanti ingin bulan madu di sini.

Saya juga merasa puas mengamati keindahan ekosistem penghuni dasar laut, mulai dari koral, terumbu karang, beragam jenis ikan cantik bisa diamati dengan bebas di sini.

Pulau sebayur meninggalkan bekas keindahan yang sampai sekarang masih terbayang di pikiran saya, dari sekian banyak pulau yang saya kunjungi di Indonesia, Pulau Sebayur termasuk menjadi pulau terfavorit bagi saya.

  • Disunting oleh SA 18/03/2014