Tempat (halaman 1 dari 15)

Panduan Wisata Islandia

oleh

Thinglevir National Park

Alex Cornell melakukan perjalanan ke Islandia dan mendokumentasikannya dalam bentuk panduan wisata di majalah Gone.

  • Cara terbaik menikmati Islandia adalah dengan mobil berkeliling negara pulau ini. “The Ring Road” adalah jalan lingkar negara yang buka sepanjang tahun, dan dapat ditempuh non-stop selama 18 jam. Idealnya, kita habiskan waktu 8 – 14 hari berhenti dan menginap di sepanjang jalan. Waktu ideal road trip adalah bulan Mei – Agustus.
  • Islandia terkenal dengan Aurora Borealis (“The Northern Lights”). Idealnya anda pergi di musim dingin untuk menyaksikannya. Namun, musim panas juga menarik: anda bisa menyaksikan “senja abadi” dari jam 9 malam hingga jam 3 pagi.
  • Walau ada musim panas dan musim panas menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Islandia, perlu diwaspadai bahwa cuaca tidak menentu di negara ini. Terkadang cerah, terkadang berkabut, dan terkadang hujan. Pastikan anda selalu update soal cuaca.
  • Bawa variasi pakaian mulai dari kaos hingga jaket. Anda tidak tahu kapan cuaca bagus dan buruk.

Baca lebih lengkap lagi di sini.

Beberapa jalan bisa tiba-tiba ditutup

Bagi saya, Islandia adalah tujuan idaman dengan nuansa magis dan petualangan yang kental. Semoga suatu saat saya bisa ke sana.

Menikmati Warisan Kuliner di Jonker Street, Melaka

oleh

Melaka adalah kota kaya sejarah sekitar dua jam perjalanan dengan bis dari bandara internasional Kuala Lumpur, ke arah selatan. Bersama dengan Penang, dulunya Melaka menjadi tempat persinggahan pedagang. Hasilnya, kota ini menjadi lokasi strategis yang diperebutkan negara-negara Eropa. Beberapa gedung peninggalan Belanda (gedung-gedung di kompleks Stadhuys) dan Portugis (benteng Famosa) menjadi bukti jelas pengaruh kolonialisme. Di sisi lain Sungai Melaka, kita lihat pula kota tua Cina dengan rumah-rumah toko Cina Selat yang khas dan jalan-jalan serta gang-gang kecil. Di antaranya pula, ada kuil, mesjid dan vihara, menyiratkan perpaduan budaya dan agama yang kental dulu di sini.

Penjual "carrot cake" di Jonker Street

Sekarang, pusat kota Melaka yang bersejarah itu dikonservasi dan dijadikan atraksi bagi pejalan. Salah satu jalan utama di kota tua, yakni Jalan Hang Jebat, juga dijadikan atraksi kuliner setiap akhir pekan, antara lain pada malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin. Jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai jam enam sore hingga 10 malam. Dengan cepat pun jalan ini dipenuhi kios, meja, kursi dan gerobak makanan “dadakan”.

Puluhan penjaja makanan dan pernak-pernik lucu pun menghiasi senja.

Jalan ini lebih dikenal dengan nama lamanya, Jonker Street. Siang hari, kesibukan toko-toko di sekitarnya menarik perhatian para pengunjung. Malam hari, seolah ada kehidupan baru dari pedagang-pedagang spontan ini.

Kosongkan perut ketika datang ke sini. Mulai dari salah satu ujungnya, lalu nikmatilah berbagai sajian kuliner mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Tentu saja, ini adalah kiasan semata — karena tidak ada yang akan menghidangkan anda langsung. Andalah yang memilihnya dan nikmatilah di jalan sambil berdiri atau duduk (jika tersedia!).

Hidangan pembuka yang bisa dinikmati antara lain carrot cake, telur dadar kerang (oyster omelette), cumi bakar disate dan beraneka dim sum. Jangan salah artikan carrot cake sebagai kue manis berbahan dasar wortel. Lebih tepatnya, ia disebut chai tow kway. Bahan dasarnya lobak, dicampur tepung beras lalu digoreng dengan saus, bumbu dan garnish. Perhatikan cara masaknya yang serba cepat dan menggunakan wajan datar. Menarik! Setelah itu, carilah penjual telur dadar isi kerang. Bahan dasarnya hanya telur dan kerang, ditambah kecap asin dan daun bawang. Dimakan dengan kucuran jeruk nipis. Bukanlah opsi tersehat, tetapi tetap enak. Jika anda ingin yang lebih ringan, bisa mencoba aneka dim sum jalanan yang juga tak kalah nikmat dan tetap bersahabat di kantong. Kalau tertarik, anda juga bisa mencoba sate cumi bakar yang langsung dibakar dipinggir jalan. Hm!

Hidangan utama yang bisa dinikmati antara lain chicken rice ball dan nyonya assam laksa. Nasi ayam “bola” ini uniknya ada di nasinya yang dikepal menjadi bola-bola seukurang bola golf. Alkisah, dulu penjual nasi ayam ingin menjual nasi ayamnya ke buruh-buruh angkutan dan kelasi kapal yang tidak punya waktu untuk makan nasi dengan piring. Akhirnya, supaya praktis, dibuatlah nasi kepal bola-bola ini. Assam laksa adalah salah satu makanan khas yang terdiri dari kuah kaldu ikan, mi beras, daun ketumbar, kecombrang dan asam jawa, dan ditaburi potongan ikan.

Penjaja makanan di Jonker Street

Hidangan penutup yang bisa dinikmati antara lain es cendol durian, coconut shake, kue tart nanas dan durian puff. Sesuai namanya, es cendol durian adalah es bersantan yang berisi cendol (di Indonesia disebut dawet), gula merah dan ditambah potongan durian asli. Kue tar nanas sebenarnya adalah versi besar dari kue nastar yang kita tahu di Indonesia, tetapi nanasnya bisa lebih segar. Durian puff adalah hidangan penutup istimewa lain yang bisa dicoba — gulungan puff yang diisi esensi durian atau malah durian segar.

Bagi anda yang suka nongkrong sampai larut lewat jam 10 malam, jangan khawatir, ketika anda sudah selesai di Jonker Street, bisa mampir di beberapa kafe di sekitarnya yang buka sampai tengah malam.

Mengunjungi Grand Central Terminal, New York

oleh

Ruang Utama
Ruang Utama

Dari luar, Grand Central Terminal tak ubahnya seperti gedung-gedung lain di kota New York, hanya lebih cantik sedikit. Tapi tentu saja, banyak gedung cantik di New York, saya pun terkagum-kagum. Lebih kagum lagi karena semuanya dapat dilihat dengan jalan kaki saja dari blok ke blok.

The Whispering Hall
The Whispering Hall

Grand Central Terminal terletak di antara 42nd Street dan Park Avenue di kota New York. Dulunya dibangun sebagai stasiun utama kota yang melayani jalur kereta api antar kota. Sempat melayani layanan kereta nasional Amtrak yang tahun 1991 dipindah ke Penn Station.

Grand Central Terminal dijuluki sebagai salah satu terminal kereta api tercantik di dunia. Berdiri sejak 1871, beberapa renovasi telah menghampirinya. Tahun 1960, gedung ini hampir dirobohkan untuk digantikan gedung lain, tetapi, Jacqueline Kennedy, istri presiden John F. Kennedy, berinisiatif untuk menobatkannya sebagai warisan nasional.

Secara arsitektur, gayanya adalah Beaux-Arts, ditandai dengan atap datar, lantai satu dengan langit-langit tinggi, penyekatan ruang walau pada satu lantai — misalnya pintu besar lalu ada anak tangga masuk ke ruang utama, jendela-jendela lengkung, pintu-pintu lengkung, desain simetris, seni patung dan detail-detail arsitektur klasik lainnya.

Papan Pengumuman Kereta Api
Papan Pengumuman Kereta Api

Khusus di Grand Central Terminal, terdapat mural astronomi di langit-langitnya yang tingginya bisa jadi mencapai dua lantai.

Diajak seorang teman yang bersikukuh ingin saya mengunjungi Grand Central Terminal, siang itu, seperti biasa, jalan menuju ke sana begitu riuh dengan banyaknya penumpang kereta yang lalu lalang. Selain dikunjungi oleh komuter setiap harinya, stasiun ini juga dikunjungi turis-turis hingga 21 juta orang tiap tahun (menjadikannya salah satu dari sepuluh besar atraksi turis di dunia versi majalah Travel+Leisure).

Ruang Utama
Ruang Utama, dari sisi lain

Setelah turun dari subway jalur N kami langsung menuju ke ruang utama terminal ini. Sungguh megah terlihatnya! Suasana keemasan yang ditimbulkan dari pencahayaan dan warna material gedung membuatnya semakin memesona.

Grand Central Terminal ini lebih sering disebut sebagai Grand Central Station, karena kebanyakan orang datang ke sini dengan kereta api. Kabarnya, ia jadi fasilitas terminal perkeretaapian terbesar di dunia dengan 67 jalur kereta api. Ada dua tingkat platform, keduanya berada di bawah tanah. Selain melayani subway dalam kota, Grand Central Station juga melayani kereta jarak jauh komuter yang melayani kota-kota di sekitar seperti Westchester, Putnam, Fairfield dan New Haven.

Teman saya menunjuk ke langit-langit dan mencoba mengarahkan pandangan saya ke bagian kecil di sudut atap stasiun ini.

“Lihat, ada kotak kecil berwarna hitam, kan?”

Saya mengernyitkan dahi sambil memperhatikan dengan seksama.

“Ah ya, memangnya itu apa?”, tanya saya.

“Itu adalah warna langit-langit stasiun ini sebelum dibersihkan tahun 1998. Kotor begitu karena dulu banyak residu asap rokok yang menempel.”

Wah, kontras sekali. Warna sekarang adalah hijau toska dengan mural zodiak berlatarbelakang hijau toska yang mencolok, dikelilingi warna keemasan dinding di sekitarnya.

Di tengah aula utama terdapat sebuah kaunter mungil. Ada petugas di situ yang bertugas memberikan informasi dan petunjuk arah. Tiket bisa dibeli di kaunter terdekat atau di mesin.

Saya sempatkan ke tengah-tengah aula dekat kaunter informasi itu dan melihat berbagai kalangan lalu-lalang mengejar keretanya. Mereka tampak masuk dari pintu-pintu sekeliling, dari tangga di atas dan di bawah, berjalan dengan cepat ke tengah seolah ingin bertemu kami… namun mempercepat laju jalannya lagi ke tempat lain. Kami berada tepat di tengah kesibukan kota yang tidak pernah tidur ini.

Teman saya kemudian mengajak ke sisi lain stasiun yang disebut The Whispering Hall (aula berbisik). Ada empat pilar di sini. Di setiap pilar kita dapat berbisik ke tembok, lalu orang lain yang berada di pilar berseberangan dapat mendengar bisikan kita! Entah apa yang memotivasi arsiteknya untuk membuatnya. Bahkan, kita tak tahu apakah keadaan ini memang sengaja dibuat atau benar-benar aksidental.

Belum sempat puas menikmati suasana di Grand Central, teman saya langsung mengajak saya menaiki kereta berikutnya.