Terpukau di National Library, Bugis

Suatu ketika, saya mengobrol dengan teman saya. Saya bertanya, “Kenapa orang Indonesia kalau ke Singapura selalu mengeluh Singapura itu membosankan? Sudah ke mal ini dan itu, lalu tidak ada apa-apa lagi.”

Teman saya itu kemudian menjawab, “Karena mereka tidak melihat sisi lain dari Singapura. Mereka ke sini hanya ingin bersenang-senang tapi dari sudut pandang mereka saja. Tidak salah sih, tapi andaikan mereka melihat dari sisi lain, Singapura itu tidak membosankan.”

Dia melanjutkan, “Di sini, anakmu bisa leluasa berjalan dan bermain, tanpa takut kena polusi, macet, bahaya ditabrak, atau kejadian-kejadian lain. Coba saja melakukan itu di Jakarta. Paling aman anak diajak ke mal atau ke luar kota. Lihat di sini, begitu banyak ruang publik, gratis pula.”


Berlarian tanpa henti di Marina Bay Sands

Betul. Saya mensyukuri saya tinggal di sini saat ini. Memang, semuanya mahal, paling tidak lebih mahal dari di Indonesia. Tapi mahal-nya itu sebanding dengan apa yang saya dapatkan di sini. Terutama, untuk saat ini, buat anak saya yang masih dua tahun.

Jika dipikir-pikir, ada beberapa hal yang membuat anak saya, Janis, bahagia di sini:

1. Perpustakaan yang selalu punya ruang khusus anak

Stigma perpustakaan yang membosankan, kusam dan jelek sirna seketika, ketika mengunjungi hampir semua perpustakaan umum di Singapura. Rasanya, Singapura lebih punya banyak perpustakaan per 10 km persegi dibanding kota mana pun di Indonesia. Ini bukti komitmen pemerintahnya untuk meningkatkan minat baca dan literasi penduduknya. Pendidikan benar-benar utama di sini, baik formal maupun informal. Bayangkan, bagian anak-anak di perpustakaan nasional di Bugis saja punya ruang bermain yang luas. Anak-anak bisa berlari-lari sepuasnya di sini. Orang tuanya? Malah membaca buku anak-anak. Nah, Bugis bukan hanya belanja, kan?

2. Main air, tak perlu bayar

Main air di Indonesia, di tempat yang bersih dan terjamin keselamatannya, biasanya harus bayar. Mahal pula. Di Singapura, taman bermain air tersedia banyak dan gratis. Contohnya, Gardens by the Bay. Berapa banyak dari turis Indonesia tipikal yang tahu ada tempat bermain air anak gratis di belakang Flower Dome dan Cloud Forest?

Atau, di mal apakah cuma makan dan belanja, tapi anaknya dibiarkan saja tanpa bermain? VivoCity, Katong I12 Mall dan Kallang Wave semuanya adalah pusat perbelanjaan yang di atasnya ada tempat bermain air anak. Kalau pun bayar, biasanya tidak mahal. Go splash your heart out, kids!


Aku main air, tidak ya?

3. Menikmati hutan kota

“Lho, bukannya Singapura itu kota besar yang isinya gedung semua?” Begitulah pemikiran orang Jakarta yang di kotanya memang susah ditemukan ruang terbuka hijau. Di Singapura, pemerintahnya berusaha untuk merencanakan hutan dan taman kota sebagai bagian utama, bukan “selipan”. Contoh saja, dekat tempat tinggal kami, ada East Coast Park, taman dengan pantai terpanjang di Singapura sepanjang 15km dari Marine Parade ke Changi. Di sini, anak-anak bisa bersepeda dan berlari dengan aman. Pantai juga ada, walau tak sebagus di Bali, tapi cukup.

Alternatifnya, tidak usah ke taman yang besar dan terkenal. Bahkan, di antara gedung-gedung dan kompleks perumahan tempat tinggal, juga ada taman-taman kecil yang dilengkapi fasilitas bermain dan olahraga. Semua taman-taman itu dipelihara dengan baik, dan tentu saja, ada burung-burung yang terbang, menandakan betapa sehatnya lingkungan di sini.


Bersantai di hamparan rumput di Botanic Gardens


Piknik di telaga di MacRitchie Reservoir

4. Trotoar dan ruang publik yang besar

Tak perlu jauh-jauh untuk menemani anak ke ruang yang cukup besar untuknya berlari-lari ke sana kemari, atau membayar uang ke tempat bermain anak di dalam mal-mal. Cukup jalan-jalan di Esplanade, Gardens by the Bay, Clarke Quay, atau bahkan di antara flat-flat dan apartemen, ada saja trotoar lebar yang cukup aman dan nyaman untuk berlari-lari. 

Ingin naik bukit atau hutan? Bisa saja ke MacRitchie Reservoir. Selain itu, anak-anak bisa saja main ke sekitar Asian Civilisations Museum atau Bishan Park dan habiskan petang di sana dengan rasa senang di hati, energi pun tersalurkan.


Kanopi, ruang yang luas untuk berlarian, bahkan “berpose ala putri duyung”

5. Aturan yang berpihak pada keselamatan

Keselamatan di ruang publik adalah hal yang penting dan ditegakkan di Singapura. Di dalam bis, orang tua yang membawa anak diwajibkan untuk diberi ruang untuk duduk, dan itulah yang kami alami. Hampir setiap saat ada orang yang berbaik hati merelakan tempat duduk di bis atau di MRT untuk kami. Supir bis pun menunggu kami untuk duduk dengan sempurna sebelum menginjak pedal gas. Jika anda penyandang disabilitas, supir bis wajib membantu menurunkan anda sebelum mempersilakan orang lain untuk masuk. Di jalan-jalan hampir selalu ada trotoar dan kanopi sambung-menyambung, melindungi anda dari kecelakaan dan cuaca. Menyeberang juga tidak sembarangan dan jelas aturannya, dibantu lampu penyeberangan orang. Jembatan hampir selalu ada lif atau ramp untuk stroller.


Sarana bis yang memadai, dan jalan yang aman untuk dilintasi

6. Tidak selalu ke mal

Seperti saya bilang di atas, a good weekend is not always about going to the malls. Anak saya punya opsi untuk pergi ke taman, ruang publik mana pun, ke pantai, ke tempat bermain air. 

Bahkan, jika anaknya suka pesawat, kita bisa mengajaknya berkunjung ke bandara (dapat ditempuh hanya 20 menit dari tempat kami). Bandara Changi tidak membosankan, kami dapat menghabiskan waktu berjam-jam di situ bersama Janis. 

Museum juga menjadi opsi yang sangat memungkinkan. Kami belum memutuskan apakah anak kami akan kami daftarkan ke pre-school, tapi kami bisa ajak mereka ke museum dan mendapatkan pengalaman yang sama mendidiknya. Museum di sini tidak kusam, malah selalu dihidupkan (tidak mesjid saja yang dihidupkan, ya). Suka seni? Bisa ke National Gallery, ArtScience Museum atau Singapore Arts Museum. Jangan lupa pula, di Esplanade Theatres on the Bay, ada banyak acara yang bisa dipilih untuk anak anda.


Mau ke kafe tanpa ke mal? Bisa! Mau ke museum dan tetap bersenang-senang? Bisa!