Rencana Perjalanan (halaman 1 dari 3)

Dari Singapura ke Phuket?

Kami mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar perjalanan dari Singapura menuju Phuket, dari seorang pembaca yang terinspirasi perjalanan lintas Asia Tenggara di salah satu artikel kami.

Mudah-mudahan jawaban berikut bisa membantu, tidak hanya yang menanyakan tapi buat semua. Selamat menikmati!

Dari Singapura ke Genting Highlands bagaimana caranya?

Dari Singapura banyak opsi ke Genting Highlands. Pertama, kita harus ke Kuala Lumpur dahulu. Banyak opsi di sini: kereta api, bis atau pesawat. Asumsi ingin menikmati perjalanan, maka kereta api atau bis adalah paling cocok. Namun, ada triknya. Baru-baru ini Singapura memindahkan stasiun kereta api dari Tanjong Pagar ke Woodlands, dekat perbatasan dengan Johor Bahru, Malaysia. Semua kereta api lintas negara berangkat dari sana. Yang kedua, opsi dengan bis antar negara. Namun, kami tak sarankan berangkat langsung dari Singapura karena harganya bisa dua kali lipat. Lebih baik naik bis kota ke Johor Bahru. Ada layanan SBS Transit (bis kota di Singapura) ke Johor Bahru dengan total biaya tak mencapai S$5 per orang. Tujuan akhirnya adalah terminal bis Larkin di Johor Bahru. Dari sini, kita bisa beli tiket bis apa saja ke Kuala Lumpur yang rata-rata bertarif RM35 sampai RM40 (sekitar Rp100.000 – Rp120.000).

Jika waktu menjadi prioritas maka bisa naik pesawat. Tarifnya bervariasi. Terakhir kami cek di AirAsia, sekitar S$43 (sekitar Rp350.000) sekali jalan.

Dari Kuala Lumpur, ada bis resmi Genting Highlands dari Kuala Lumpur Sentral, bertarif RM10.30 sekali jalan. Ada juga opsi paket dengan tiket masuk atraksi-atraksi Genting Highlands.

Bagaimana mencapai Kuala Lumpur Sentral? Dengan kereta api, kita langsung dibawa ke terminal ini. Dengan bis, tanyakan apakah bisa berhenti di terminal ini atau terminal lain (biasanya, Terminal Puduraya). Dari terminal Puduraya akses ke Kuala Lumpur Sentral cukup mudah. Naik LRT (light rail transit) di stasiun Plaza Rakyat, ke arah stasiun Masjid Jamek, turun, lalu sambung ke stasiun KL Sentral.

Dari bandara, asumsi dengan penerbangan AirAsia, cari bis yang mengarah ke KL Sentral. Biayanya sekitar RM10, memakan waktu satu jam.

Bagaimana menuju Phuket dari Genting?

Kembali dulu ke Kuala Lumpur dengan bis yang sama di atas.

Setelah itu, anda bisa naik kereta api ke Hat Yai. Cek biayanya di situs web resmi Keretapi Tanah Melayu. Nama keretanya “Senandung Langkawi”. Ada berbagai kelas dengan tarif berbeda-beda, mulai dari RM26 (sekitar Rp75.000) sampai RM117 (sekitar Rp360.000).

Dari Hat Yai, silakan naik bis ke Phuket.

Jika waktu menjadi prioritas, terbang langsung dari Kuala Lumpur, dan beli tiket pulang pergi.

Estimasi waktu kereta api dari Kuala Lumpur ke Hat Yai adalah 12 jam. Ditambah waktu tempuh bis (dari Genting, dan ke Phuket) kemungkinan bisa menambah waktu menjadi 20 jam.

Kami pernah mengulas perjalanan ke perbatasan Malaysia-Thailand di sini.

Kalau dari Phuket ke Singapura naik apa dan berapa lama?

Ulangi rute di atas.

Ada rekomendasi penginapan murah dan kuliner halal?

Kami belum pernah mengulas penginapan di Phuket, kami sarankan mencari di hostelbookers.com, hostelworld.com atau jika ingin mencoba sesuatu yang berbeda, yaitu menginap di rumah/tempat tinggal orang ala homestay, silakan buka airbnb.com. Ingin penginapan gratis? Coba komunitas CouchSurfing.

Di semua situs itu kita bisa menyaring per lokasi dan per anggaran.

Soal kuliner halal, di Singapura tidak perlu terlalu khawatir. Jika ingin pasti halal, makan di restoran Melayu. Di Malaysia, hampir terjamin halal karena negara muslim. Di Hat Yai, ini ada ulasannya. Untuk Phuket juga ada.

Di internet banyak informasi bertebaran. Google adalah teman terbaik kita.

Atraksi Wajib-Kunjung Istanbul

Kalau sebelumnya saya menulis rekomendasi atraksi utama kota Istanbul yang tidak dipungut bayaran, kali ini rekomendasi beberapa atraksi yang wajib dikunjungi karena memberikan pengalaman unik dan melihat secara langsung peninggalan sejarah dari masa kekasairan Roma, Ottoman hingga Istanbul modern saat ini.

Selat Bosphorus

Selat Bosphorus
Selat Bosphorus

Selat Bosphorus terletak di antara benua Asia dan Eropa dan menghubungi Laut Marmara dan Laut Hitam. Bosphorus terkenal akan wisata pesiar dengan pemandangan dan beberapa peninggalan sejarah tepi benua Asia dan Eropa. Untuk menikmati wisata pesiar Bosphorus bisa menggunakan jasa penyeberangan kapal feri Sehir Hatlari, jasa kapal pesiar Turyol atau jasa kapal pesiar swasta yang banyak bertebaran di Eminonu. Alternatif lain bagi yang tidak punya banyak waktu, coba penyeberangan kapal feri dari Eminonu ke Kadikoy, berbaur dengan masyarakat lokal, yang juga merupakan tempat pas untuk menikmati pemandangan kota Sultan Ahmed dengan pemandangan Blue Mosque, Hagia Sophia dan Topkapi Palace. Sedangkan di sisi Asia akan terlihat barak militer Selimiye. Harga tiket penyeberangan dua lira dan pesiar mulai dari 12-25 lira.

Hagia Sophia

Hagia Sophia
Hagia Sophia

Hagia Sophia, gereja yang dibangun pada tahun 537 Masehi oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada saat itu, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada tahun 1453 oleh Sultan Mehmet ketika berhasil mengalahkan Constantinople. Tokoh sekuler Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. Hagia Sophia buka setiap hari, kecuali hari Senin dengan tiket masuk 20 lira.

Basilica Cistern

Basilica Cistern
Basilica Cistern

Terletak di bawah tanah, bangunan kecil sekaligus loket tiket masuk di seberang Hagia Sophia, Basilica Cistern membawa pengunjung ke suasana tenang dari keramaian kota Istanbul. Dikenal juga sebagai “istana tenggelam”, waduk tertutup yang memiliki 336 kolom marmer dan granit ini dibangun pada tahun 532 Masehi untuk memenuhi kebutuhan air istana agung Constatinople dan Topkapi. Basilica Cistern berkapasitas 100.000 ton, mendatangkan air dari hutan Belgrade yang mengalir melalui jembatan air sepanjang 19 kilometer. Ada dua kolom yang paling menarik perhatian di dalam Basilica Cistern, kolom dengan alas kepala Medusa yang dalam mitologi Yunani dipercaya sebagai jelmaan perempuan berambut ular. Basilica Cistern buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

Topkapı Palace

Maket Topkapı Palace
Maket Topkapı Palace

Terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, merupakan atraksi wisata yang paling banyak dikunjungi di Istanbul. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. Istana ini menyimpan koleksi harta sultan mulai dari perhiasan berharga, kereta, pakaian, senjata dan artefak suci. Salah satu tempat yang paling menarik adalah Harem, dulunya hanya boleh dimasuki oleh orang terdekat Sultan termasuk keluarga, istri, selir dan pembantu pribadinya. Semua kehidupan di dalam Harem diatur oleh ibu sultan. Topkapi Palace tutup pada hari Selasa dan buka dari hari Rabu hingga Senin dengan tiket masuk 20 lira, tiket tambahan masuk Harem 15 lira. Tersedia pula pemandu grup dengan biaya 10 lira dan sistem audio pemandu bertarif lima lira.

Çemberlitaş Hamamı

Çemberlitaş Hamamı
Çemberlitaş Hamamı

Berkunjung ke Turki tidak lengkap tanpa mencoba Hamam atau pemandian ala Turki yang menyegarkan. Walaupun terasa sedikit risih dimandikan orang lain, pemandian tradisional Turki yang berawal dari tahun 600 Masehi memberikan pengalaman yang berakar dari kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Cemberlitas Hamami di Istanbul dibangun pada tahun 1584 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bangunan tua berkubah dengan interior berbatu marmer dan dihiasi ornamen yang indah, pencahayaan dan temperatur suhu udara yang terkontrol dengan ritual pemandian masa lalu menciptakan suasana yang santai. Untuk mengalami pengalaman yang unik ini pengunjung dikenakan biaya 70 lira dan terbuka untuk pria dan wanita dengan ruang yang terpisah.

Whirling Dervishes

Whirling Dervishes
Whirling Dervishes

Nikmati pertunjukan whirling dervishes Sufi yang sangat magis. Dimulai dengan pembacaan doa dan dialuni suara gendering dan seruling, penari bertopi coklat dengan jubah putih yang terkembang berputar-putar sebagai simbol dari bulan yang mengelilingi matahari, sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan tangan kiri ke bawah, simbol dari “tuhan” dan bumi. Kebudayaan yang dimulai sejak abad ke-13 dapat disaksikan di beberapa tempat, salah satunya Dede Efendi House dekat Blue Mosque sekaligus menjadi museum dengan koleksi peralatan musik tradisional Sufi. Tiket masuk 50 lira setiap hari Selasa, Kamis, Sabtu dan Minggu.

Istanbul Museum of Modern Art

Istanbul Museum of Modern Art
Istanbul Museum of Modern Art

Sebagai alternatif bagi yang ingin melihat Istanbul masa kini, kunjungilah tempat ini. Dibangun pada tahun 2004, galeri seni ini memamerkan karya-karya seni abad ke-20 karya seniman lokal maupun internasional. Terdapat juga perpustakaan seni, toko cinderamata, kafe dan restoran dimana pengunjung dapat menikmati secangkir kopi Turki sambil melihat perahu hilir mudik atau matahari terbenam. Istanbul Museum of Modern Art buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari libur keagamaan. Dikenakan tarif tiket masuk seharga 7 lira dan jika ingin tiket gratis, datanglah pada hari Kamis. Mengambil foto tidak diperkenankan sama sekali.

Galata Tower

Galata Tower
Galata Tower

Salah satu ikon kota Istanbul, menara yang memiliki sembilan lantai dan tinggi 70 meter ini dibangun pada abad pertengahan. Pada zaman Byzantine, menara ini terbuat dari kayu, kemudian dibangun kembali dengan menggunakan batu pada tahun 1384. saat ini menara dilengkapi dengan dua lif. Sesuai fungsinya sebagai menara pemantau, lantai teratas menara merupakan tempat yang tepat untuk menikmati pemandangaqn kota, sambil minum teh atau kopi di kafe yang tersedia di lantai yang sama menunggu matahari terbenam. Galata Tower buka setiap hari dengan tiket masuk 10 lira.

  • Disunting oleh SA 17/01/12

Luar Negeri vs. Dalam Negeri

Ketika merencanakan perjalanan, pasti ada perdebatan, apakah itu dari dalam diri atau dengan sesama individu yang ikut melakukan perjalanan tentang destinasi manakah yang harus dikunjungi. Salah satu topik yang paling penting biasanya adalah apakah harus berkunjung ke destinasi luar negeri atau ke dalam negeri?

Menurut saya, penentuan destinasi sebaiknya tidak berawal dari keinginan pihak lain, baik itu negara sekali pun. Perjalanan tentunya adalah pengalaman individu yang berawal dari minat dan keinginan sendiri. Kita sendiri yang harus memastikan apa yang ingin kita dapatkan dari perjalanan ini. Jika memang ingin berkunjung ke sebuah destinasi domestik, maka lakukanlah. Sebaliknya, jika memang niat awal sudah ingin ke luar negeri, yang jauh sekali pun, silakan pergi saja. Tidak ada yang menghalangi.

Setidaknya, menurut saya, ada beberapa hal yang menjadi penentu pemilihan destinasi antara dalam negeri dan luar negeri.

Hal pertama adalah anggaran. Bisa jadi anggaran kita menjadi sangat terbatas secara tiba-tiba dan harus memutuskan mengalihkan destinasi ke daerah di dalam negeri yang jauh lebih murah. Namun, bahkan di luar negeri, misalnya seperti Vietnam, biayanya bisa lebih murah dari berkunjung ke beberapa tempat di Indonesia. Sama pula jika kita malah lebih boros dalam hal pengeluaran sehari-hari di dalam negeri. Tujuan tidak selalu menentukan anggaran.

Hal kedua adalah regulasi. Mungkin teman seperjalanan tidak punya atau tidak sempat membuat paspor. Mungkin juga visa negara yang akan dikunjungi sulit atau tidak sempat diraih. Tiket pesawat atau transportasi tidak tersedia.

Hal ketiga adalah keterbatasan fisik/psikologis. Jika mengajak individu yang lebih senior untuk berjalan jauh di dalam pesawat, apalagi sampai melewati batas waktu, maka kita harus memperhatikan kesehatan atau kemampuan fisiknya. Mungkin ada juga yang trauma jika harus ke suatu destinasi. Alternatifnya bisa kita berikan destinasi yang lebih ramah untuk golongan ini.

Selebihnya saya pikir tidak ada alasan kita untuk memberikan kotak-kotak pada destinasi pilihan. Jika alasannya adalah nasionalisme, membantu ekonomi domestik, atau membantu pariwisata nasional… kita harus yakin bahwa perjalanan tersebut dapat kita nikmati. Jika terpaksa, buat apa? Lagipula, berkunjung ke daerah asing di luar negeri dapat memperluas pengetahuan dan wawasan yang dapat digunakan sebagai kacamata untuk melihat situasi dalam negeri. Syukur-syukur dapat membantu Indonesia.

Sebenarnya, ada perspektif yang lebih baik dalam memandang sebuah destinasi: responsible travel. Perjalanan yang bertanggungjawab artinya kita tidak sekedar melakukan kegiatan konsumsi di suatu destinasi, tapi juga memberikan kontribusi. Tidak perlu membantu membersihkan selokan atau memberikan uang, tapi misalnya, lebih memilih untuk menggunakan transportasi minim polusi seperti sepeda, tidak memberikan tip/uang terlebih pada anak-anak, konsumsi produk lokal, tinggal di rumah penduduk, berinteraksi dengan penduduk setempat layaknya orang lokal, mengunjungi situs-situs bersejarah, dan masih banyak lagi. Kalau kita masih belum bisa berbuat baik dalam kunjungan kita ke destinasi domestik, buat apa?

Bekerja Sambil Berlibur di Australia

Perjalanan Darat di
Perjalanan Darat di “Outback” Australia. Foto oleh Tourism Northern Territory.

Beberapa waktu lalu kami mengulas tentang bekerja sambil berlibur dengan Work & Holiday visa, atau biasa disebut juga Working Holiday visa. Konsep bekerja sambil berlibur tidaklah baru dan tidak mesti memiliki visa tersebut. Artinya bekerja sambil berlibur (atau jika Anda lebih suka: berlibur sambil bekerja) adalah mendapatkan penghasilan di daerah tujuan dengan bekerja kasual (santai) dengan tujuan mendapatkan uang secukupnya untuk melanjutkan perjalanan/liburan. Konsep ini berbeda dengan berlibur biasa yang menuntut adanya jumlah uang/anggaran tertentu yang bisa dihabiskan selama durasi perjalanan, tetapi tidak ada tujuan menambahnya dan langsung pulang ke daerah domisili ketika selesai.

Biasanya, jenis pekerjaan yang dilakukan bukanlah pekerjaan yang menimbulkan pajak (sektor informal), berbasis kontrak dan jangka pendek. Kemampuan/keterampilan yang dibutuhkan juga cukup sederhana, seperti memetik buah-buahan, menggarap lahan, mengupas buah, bertukang, menjadi pelayan restoran, memasak, dan mengajar. Namun tentu saja tidak menutup kemungkinan untuk jenis-jenis pekerjaan lain yang lebih membutuhkan keterampilan tinggi seperti fotografi, menulis, desain web, dan lain sebagainya.

Seperti ketentuan visa lainnya, kita tidak bisa menyeragamkan regulasi visa bekerja sambil belajar di seluruh negara di dunia. Bahkan, hanya segelintir saja negara yang menyediakan visa ini. Jadi, jangan menganggap kalau semua negara di dunia memiliki visa bekerja sambil belajar, apalagi menganggap ketentuan-ketentuannya sama!

Berikut beberapa negara yang sampai saat ini tercatat menyelenggarakan visa Work and Holiday:

  • Australia
  • Selandia Baru
  • Kanada
  • Inggris
  • Jepang
  • Argentina
  • Amerika Serikat

Banyak alasan mengapa Work and Holiday ini diminati banyak orang, antara lain kesempatan bepergian dalam jangka waktu yang lama (enam bulan sampai satu tahun, bahkan lebih). Ada yang bepergian sebagai atau jeda karir setelah bertahun-tahun bekerja dan mencari pengalaman baru. Ada juga yang lulus kuliah dan melaksanakan gap year atau satu tahun berkelana di luar negeri sebelum kembali ke tanah air dan bekerja. Ada juga yang mungkin ingin menjajaki peluang pekerjaan sebenarnya di luar negeri.

Untuk lebih jelasnya tentang Work and Holiday visa ini, kami mewawancarai Anida Dyah Pratiwi, seorang pecinta perjalanan yang akan menjalankan bekerja sambil belajar di Australia selama satu tahun mulai bulan Oktober.

Apa yang dimaksud dengan “working holiday visa“, khususnya yang ditawarkan pemerintah Australia?

Sebenarnya ada dua istilah yang serupa tapi tak sama. Ada Working Holiday Visa (Subclass 417 – untuk warganegara Eropa) dan Work and Holiday Visa (Subclass 462 – untuk negara-negara Asia termasuk Indonesia & Amerika Serikat). Bedanya, kalau Working Holiday Visa bisa diperpanjang ke tahun kedua, kalau Work and Holiday Visa maksimum satu tahun saja.

Visa ini merupakan jenis kerjasama antar pemerintah yang diberikan kepada pemuda usia 18-30 tahun agar bisa traveling sambil bekerja secara legal di negara tersebut selama satu tahun lamanya.

Kenapa Anid ingin mendaftar program ini?

Career break. Istilah ini sudah terkenal digunakan di negara barat tapi tidak di Indonesia. Setelah mengalami beberapa titik emosional beberapa waktu terakhir dan empat tahun mengerjakan hal yang sama membuat saya berada pada titik jenuh dan memutuskan untuk membuat suatu perubahan besar pada hidup saya yang memang mencintai dunia perjalanan. Sometimes you have to get lost to find yourself.

Saya bukan orang yang kaya secara materi sehingga saya harus mencari cara agar bisa bertahan hidup selama perjalanan. Work and Holiday ini solusi yang tepat untuk saya.

Kenapa Australia?

Sejauh ini, hanya Australia yang memberikan keistimewaan Work and Holiday Visa pada Indonesia. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa tidak? Australia punya paket lengkap keindahan alam yang unik dari pedesaan, pantai, hingga gurun liar yang mengagumkan.

Apa sudah ada rencana perjalanan yang akan Anid lalui? Misalnya dari mana ke mana?

Karena saya akan pergi dalam waktu lama, saya hanya membuat gambaran umum saja.

Kemungkinan: Jakarta – Kuala Lumpur – Perth – kota-kota kecil di Western Australia – road trip ke Broome – Darwin – Alice Springs – Cairns – Great Barrier Reefs – Brisbane – Sydney – Selandia Baru – kembali ke Australia lagi – Melbourne – Tasmania dan sekitarnya. Sewaktu-waktu sangat mungkin berubah.

Apa yang akan Anid lakukan selama mengemban Working Holiday Visa?

Bekerja full-time selama beberapa bulan di satu kota, menabung. Mencari travel buddy kemudian pindah kota lain dengan cara road trip sambil eksplorasi beberapa taman nasional di Australia yang terkenal itu. Berdiam di kota lain untuk mengisi tabungan sebelum akhirnya jalan lagi. Hidup nomaden. Ada rencana untuk mengembangkan hobi seperti fotografi atau penata bunga karena visa ini memungkinkan kita untuk mengambil short course selama maksimum empat bulan.

Rencana setelah Working Holiday berakhir?

Banyak sekali yang bisa dilakukan. Terpikir untuk melanjutkan perjalanan setengah keliling dunia, membuat buku tentang perjalanan saya, mengembangkan semua hobi-hobi saya, atau mungkin saja kembali ke rutinitas lama. Semua hal mungkin terjadi, saya serahkan ke mana nasib akan membawa saya.

Kenapa belum banyak warga negara Indonesia (WNI) yang tahu dan ikut program ini?

Program ini baru ada sejak tahun 2009 jadi mungkin WNI belum familiar dengan konsep ini. Saya adalah angkatan ketiga. Sekarang sudah mulai banyak orang tahu sehingga semakin susah mendapatkannya karena pemerintah memberlakukan kuota hanya 100 orang/tahun.

Kalau boleh tahu, modal awalnya berapa?

Harga visa Rp. 2,7 juta, medical check-up sekitar Rp. 300 ribu, tiket AirAsia promo yang sudah saya beli dari tahun lalu Kuala Lumpur-Perth seharga Rp. 570 ribu. Silahkan hitung sendiri.

Tanggapan keluarga?

Mendukung dan ikut excited. Kecemasan pasti ada, namanya juga perempuan jalan sendirian untuk waktu yang lama. Tapi mereka sangat percaya bahwa ini mimpi yang harus saya wujudkan dan saya tahu apa yang saya lakukan.

Siapa pelaku perjalanan idola?

Evelyn Hannon dari @JourneyWoman yang tulisan-tulisan dan pengalamannya sangat bersahaja.

Saya juga mengidolakan sahabat-sahabat backpacker saya dari berbagai penjuru dunia yang telah singgah ke rumah saya melalui Couchsurfing.org. Cerita dan semangat perjalanan mereka sangat luar biasa dan nyata. Hal ini membuat saya yakin mimpi saya pun bisa menjadi nyata.

  • Disunting oleh SA 15/10/2011
  • Foto diizinkan untuk digunakan asal mencantumkan pemilik dan pranala.

Mengenal “Experimental Travel”

Perjalanan tidak harus selalu melihat tempat baru, tetapi bisa juga melihat tempat yang sudah familiar dengan perspektif yang baru. Sebaliknya, melihat tempat yang baru tidak harus dengan cara yang biasa dilakukan orang lain.

Idenya adalah mendapatkan pengalaman dan perspektif baru tentang suatu tempat melalui cara-cara yang tidak biasa. Cara ini tidak perlu mahal, tetapi biasanya penuh spontanitas, jenaka dan kejutan.

Konsep “experimental travel” ditemukan oleh Joel Henry dari Perancis. Tidak jelas siapa sebenarnya Joel ini, tetapi idenya tentang perjalanan eksperimental menjadi perhatian masyarakat dunia, sampai-sampai Lonely Planet menerbitkan satu buku khusus tentang topik ini.

Anda bisa memulai perjalanan eksperimental dari kota atau tempat sendiri, atau ketika merencanakan perjalanan. Kuncinya? Kreativitas dan imajinasi. Bayangkan permainan-permainan masa kecil yang pernah dilakukan, lalu aplikasikan konsep-konsepnya ke dalam perencanaan perjalanan Anda. Anda juga bisa mencari ide di internet.

Ada beberapa contoh yang menarik, yang saya himpun di bawah ini:

Keliling Kota dari A-Z

Lihat buku telepon, cari nama jalan di kota Anda yang berawalan huruf A, lalu nama jalan lain yang berawalan huruf Z. Sekarang, lihat peta dan jalan kaki/berkendaralah dari jalan A ke jalan Z.

Menginap di Hostel

Kalau ke luar negeri, kita sering menginap di hostel. Sekarang, apakah kita tahu ada hostel atau tidak di kota sendiri? Jika ya, beranikah kita menginap di situ?

Berkelana di Bandara

Jika memungkinkan, tinggal di bandara kota sendiri selama 48 jam, tidur layaknya penumpang transit, menyewa kamar, makan di bandara, melihat orang-orang berlalu-lalang lalu mendokumentasikannya.

Rekomendasi Ms. Ariadne

Cari seseorang bernama Ariadne di kota tujuan Anda, hubungi dia lewat informasi yang ada di buku telepon kota itu, lalu coba tanyakan 10 tempat favorit di kotanya. Kunjungi 10 tempat ini. PS: Tentu saja, tidak perlu bernama Ariadne, coba cari nama lain!

Fotografi Terbalik

Kunjungi tempat-tempat atraktif yang terkenal di sebuah kota lalu ambil fotonya, tetapi bukan langsung menghadap ke tempat-tempat tersebut. Baliklah badan dan ambil foto dari arah berlawanan.

Di Manakah Dia?

Pergi berdua bersama teman Anda ke sebuah kota yang tak familiar, berpencar tanpa memberitahu ke mana tujuan masing-masing, lalu cobalah saling mencari satu sama lain dengan kiat-kiat tertentu, misalnya hanya dengan mengirimkan foto ke ponselnya.

Ke Ujung Jalan

Beli tiket kereta api atau bis ke tujuan terjauh menurut hitungan kilometernya, tanpa peduli keinginan pribadi, lalu menginaplah satu atau dua malam di tempat itu.

Perjalanan Gastronomi Beruntun

Pergi ke kafe atau tempat makan favorit, lalu tanya salah satu pegawai atau pengunjung tentang makanan atau tempat makan favoritnya. Pergilah ke tempat itu, lalu lakukan hal yang sama satu hari penuh.

Lima, Lima, Lima

Pergi selama lima hari ke lima tempat (mungkin dalam satu atau dua kota), lalu makan lima macam jenis makanan, pergi sekitar pukul lima, mengajak lima teman… Anda terbayang, kan? Coba dengan angka lain!

Bagaimana? Apakah Anda tertarik atau mungkin merasa konsep ini terlalu merepotkan? Saya sendiri belum pernah mencobanya, mungkin kita bisa menemukan konsep baru yang cukup menarik dan realistis untuk dicoba sesuai keadaan kita.