Singkat Kata
Ransel Kecil adalah blog kolaboratif mengenai perencanaan dan laporan perjalanan untuk perjalanan yang dilakukan secara independen. Perjalanan independen bisa dilakukan di dalam dan luar negeri, oleh perorangan maupun grup, untuk keperluan apapun, tetapi tidak dilakukan dengan agen wisata (kecuali beberapa kasus di mana perjalanan itu sangat sulit dan satu-satunya jalan adalah menggunakan agen atau pemandu perjalanan). Kami membagi isi dari blog ini menjadi beberapa bagian yang berkaitan: catatan perjalanan, rencana perjalanan, tips, akomodasi, makanan, transportasi, isi ransel dan tempat. Baru-baru ini kami juga menawarkan rubrik esai foto, bagi siapapun yang tidak mampu menulis tetapi punya foto-foto yang memikat. Siapapun yang tertarik bisa menjadi kontributor.
Tapi, Kenapa?
Setiap manusia punya prioritas dalam hidupnya. Dengan aset yang dimiliki, kita bebas menentukan apa yang kita lakukan dengan sejumlah aset itu. Ada yang berpikir jangka panjang: menabung untuk menikah, sekolah, membangun usaha. Ada juga yang sifatnya jangka pendek: beli perangkat elektronik, mobil, baju atau penyaluran hobi lainnya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Sejatinya, semua penting, dan apa yang penting bagi setiap orang itu berbeda. Menabung sendiri, atau berinvestasi dalam bentuk-bentuk yang beragam, demi “hari-hari penuh badai”, juga penting. Kita tak pernah tahu kapan kita akan jatuh sakit atau ada anggota keluarga yang meninggal.
Kehidupan mendukung agar kita mempersiapkan diri untuk semua itu. Tapi ada satu bentuk investasi yang mungkin luput dari semua perhatian orang. Investasi yang satu ini bisa saja disamakan dengan pendidikan, sesuatu yang sifatnya membangun insani, bukan fisik. Sesuatu yang keuntungannya tidak didapatkan dalam waktu singkat, dan beberapa orang menyebutnya “tidak nyata”. Bahkan investasi ke pendidikan mungkin bisa dibilang “lebih nyata”: mendapat pekerjaan yang layak, penghasilan yang baik dan dihormati orang. Investasi yang satu ini lebih individual sifatnya. Investasi ini adalah perjalanan. Sebagian besar orang menyebutnya berwisata. Kami tidak ingin menyebutnya sebagai murni “wisata”, istilah itu boleh saja, tetapi esensi dari setiap perjalanan tidak hanya melepas lelah (rekreasi) atau menghabiskan uang, tapi lebih tentang aktualisasi dan realisasi jati diri, pembelajaran terhadap kehidupan dan keragamannya. Ada yang bahkan menganggapnya sebagai spiritualitas, sebagai jalan untuk memahami Tuhan. Perjalanan adalah sebuah pencarian.
Perjalanan bisa dilakukan dalam jarak dekat, mulai dari di dalam kota sendiri sampai ke benua lain. Kami tidak membatasi jarak, jenis maupun kegiatan yang dilakukan, selama kegiatan yang dilakukan memberikan perspektif baru bagi si pelaku. Perjalanan juga tidak ada kaitannya dengan nasionalisme. Karena kami berbahasa Indonesia, belum tentu kami banyak mengulas tentang lokasi-lokasi di Indonesia. Perjalanan itu tanpa batas, kita pergi ke mana kita tertarik.
Namun perjalanan tidak hanya soal idealisme. Ada keuntungan konkrit dan jangka pendek yang didapatkan:
Pemahaman terhadap diri sendiri. Ketika kita melakukan perjalanan sendiri, kita akan tahu bagaimana kita melakukan perencanaan: mulai dari mengumpulkan dana, menentukan tujuan, menentukan rentang waktu. Ketika dalam perjalanan, kita menjadi kenal terhadap situasi baru, posisi kita di dunia, apa reaksi kita terhadap perubahan, sampai hal-hal seperti bagaimana untuk bertahan hidup selama perjalanan. Dari tujuan yang kita pilih sampai bagaimana kita menjalani perjalanan itu, proses dan hasilnya akan menunjukkan kepribadian kita.
Pemahaman multikultural. Ketika berada di lokasi yang asing, kita keluar dari zona kenyamanan. Kita belajar untuk beradaptasi. Kita berkomunikasi dengan orang asing, dengan cara hidup orang asing. Tiba-tiba, apa yang kita anggap normal, apa yang kita pikirkan, menjadi asing bagi orang lain. Ternyata kita tidak hidup dalam tempurung dan harus memahami banyak hal yang di luar ranah pikiran kita selama ini.
Uang dan pekerjaan. Kita bisa mendapatkan uang dari perjalanan dengan menjual foto-foto atau hasil tulisan kita, jika memang kita berbakat pada bidang-bidang itu. Kita juga bisa mendapat pekerjaan dari hasil networking yang kita lakukan selama perjalanan, dan memasukkan poin perjalanan dalam curriculum vitae (CV) kita di bagian pengalaman pribadi – suatu nilai jual dalam hal manajemen pribadi, waktu dan pemahaman multikultural! Bahkan beberapa perusahaan atau institusi akan sangat menghargai hal tersebut sebagai hal yang dipertimbangkan untuk menerima pegawai baru.
Oleh-oleh. Bukan, bukan gantungan kunci, kaos atau makanan. Tidak ada oleh-oleh yang lebih baik daripada sebuah cerita dan kesadaran. Kenapa konflik terjadi? Karena tidak memahami satu sama lain. Kita sudah bertanggungjawab terhadap generasi mendatang dengan mengetahui apa yang berbeda di belahan bumi lainnya – untuk disampaikan dalam bentuk cerita. Bayangkan bercerita mengenai realita sejarah yang terjadi di Kamboja pada anak cucu kita nanti? Lebih berharga daripada sebuah ensiklopedia sekalipun!
Misi
Mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang berwisata. Selama ini kita mengecilkan makna “berjalan-jalan” atau “berwisata” (sekali lagi, kami lebih ingin menyebutnya travelling, atau “melakukan perjalanan”) menjadi kegiatan konsumtif semata yang dilakukan sebagai kegiatan prioritas akhir, membuang uang, ketika ada liburan, atau ketika ada waktu saja. Ironisnya, banyak dari kita yang melampiaskan kejenuhan dengan memenuhi pusat-pusat perbelanjaan, menjadi lebih konsumtif, menghabiskan uang yang ternyata sama banyaknya dengan melakukan perjalanan, membuat macet jalanan karena memiliki pikiran dan tujuan yang sama ketika liburan. Lebih parah lagi, kita menjadi tidak kreatif, hanya mengkonsumsi apa yang disodorkan oleh pihak pemasar.
Menyulut semangat kebebasan dalam perjalanan. Mengubah paradigma mereka yang sudah merencanakan dan melakukan perjalanan melalui agen wisata. Melakukan perjalanan dengan agen wisata membatasi kebebasan dan kesenangan yang didapat dari perjalanan: waktu dibatasi, tempat menginap dibatasi, tujuan dibatasi. Pergerakan juga dibatasi karena kita harus tetap dalam satu grup yang terkadang amat besar jumlahnya. Kita juga tidak maksimal menyerap esensi dari setiap tujuan perjalanan kita karena semua dilakukan dari perspektif outsider. Bayangkan jika kita dapat tinggal dengan orang lokal dan menyelami kehidupan sehari-harinya? Atau menjadi proaktif dan kreatif dalam menentukan apa yang kita lihat dan kita kunjungi?
Membangun koleksi informasi mengenai perencanaan dan pelaporan perjalanan yang komprehensif. Suatu saat sumber ini dapat menjadi panduan perjalanan (travel guide) lepasan yang padat, jelas dan informatif.
Nama
Nama “Ransel Kecil” diambil demi mewakili semangat kebebasan yang kami usung: tidak ada perjalanan yang dapat dilakukan dengan maksimal dengan membawa begitu banyak barang bawaan. Selain itu, bukankah lebih baik kalau kita membuang semua prasangka yang ada, singkirkan sejenak semua yang pernah kita pelajari dan pergi dengan pikiran dan hati yang jernih untuk diisi kembali di tempat tujuan?

