Halaman ke-3 dari 94

Bertemu Fauna Asli Australia di Healesville

Jika berkunjung ke Australia, hewan-hewan pertama yang terpikir hanyalah kangguru dan koala. Mungkin Tasmanian Devil, karena ia teman Bugs Bunny dan Daffy Duck yang terkenal itu. Siapa yang terpikir bertemu echidna, wombat, wallaby atau platypus? Bahkan tak ada nama Indonesia-nya!

Hewan-hewan inilah yang kami lihat dalam perjalanan kami ke Healesville Sanctuary, tempat perlindungan hewan khas Australia, yang jaraknya sekitar 65.1km dari Melbourne dan rata-rata memakan waktu 1 jam 15 menit menggunakan mobil sewa. Beruntungnya pada waktu itu, kami tinggal naik mobil sewaan Carol dan keluarga.


Perkiraan Google Maps untuk rute dari Melbourne ke Healesville Sanctuary.

Pagi-pagi jam tujuh kami sudah di luar menunggu jemputan Carol. Sebenarnya janji kami adalah pada pukul delapan, tetapi kami sengaja mencari sarapan dulu di sekitar apartemen, dan agar Janis bisa sarapan di taman. Kapan lagi, selain di sini? Di Jakarta sulit, ya.

Janis senang sekali makan roti. Kami pun membeli beberapa paket roti di 7-11. Orang tuanya makan sushi paketan sudah bahagia.

Sarapan sebelum berangkat.
Sarapan dulu sebelum berangkat, yuk?

Sekitar pukul delapan, Carol, Jillian, Eleanor dan Miranda datang membawa dua mobil. Kami langsung berangkat dan menuju Healesville!

Di Australia, jika membawa anak di bawah 12 tahun, atau ketika tingginya belum cukup, wajib menggunakan booster seat, dan tidak boleh dilepas selama perjalanan. Ini membuat kami sedikit kewalahan karena peraturan di Indonesia yang lebih rileks. Kami punya booster seat di mobil kami di Jakarta, tapi terkadang untuk menyusui, harus kami lepas dan dipangku. Di Australia, tidak bisa begitu. Akhirnya, setiap Janis rewel karena takut atau haus, kami harus berhenti dulu di jalan.

Pemandangan selama perjalanan, lebih kurang seperti ini
Pemandangan selama perjalanan lebih kurang seperti ini.

Pemandangan selama di jalan begitu cantik, walau tidak hijau seperti di Indonesia. Sejauh mata memandang, topografi relatif datar, namun cuaca begitu baik hingga hamparan pohon, perdu dan rumput terlihat bagus. Apalagi, di beberapa tempat, kami melihat kebun stroberi dan anggur. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan di lingkungan pedesaan di sini begitu sepi dan tenang. Jalanan besar dan mulus. Tidak ada truk dan bis berlomba-lomba di jalan. Semuanya cukup santun.

Sekitar satu jam kemudian kami berhenti di kafe Church & Main untuk brunch. Lintang dan saya memesan calamari salad. Janis kami suapi makanan yang kami bawa sebagai bekal. Makan pagi menjelang siang ini berlangsung agak lama karena kami bertemu teman Carol di sana. Janis cukup mentolerir perjalanan ini, walau di jalan kami sempat berhenti tiga atau empat kali.

Makan apa ya?
Makan apa, ya? Janis di kafe Church & Main, Healesville.

Sesampainya di Healesville Sanctuary, kami langsung membeli tiket. Tempatnya dijaga sealami mungkin, sehingga tidak terlalu banyak pengkondisian atau lingkungan buatan manusia. Jangan heran kalau tampak agak “raw” atau kasar. Jalan untuk pejalan kaki pun hanya tanah. Satu lokalitas atau kandang hanya dibatasi oleh pintu dua sisi, selebihnya pembatas alami seperti bebatuan dan pohon. Ini barangkali untuk menjaga agar hewan-hewan di sini tidak merasa terkungkung dan stres, ya?

Koala!
Koala yang selalu bertengger.

Hewan-hewan yang kami lihat bervariasi, mulai dari yang terkenal seperti kangguru dan koala, sampai yang kami, orang Indonesia ini, belum tahu: echidna, wombat, wallaby, tasmanian devil atau platypus. Hewan-hewan apa sajakah itu?

Echidna (dibaca “ekidna”), adalah hewan mamalia yang mirip landak. Makanannya adalah semut, dan masih satu keluarga dengan platypus. Walaupun ia mamalia, tapi ia bertelur. Ukurannya cukup besar, seperti landak. Hidupnya di Australia dan Papua Nugini.

Echidna!
Echidna, mirip landak ya?

Wombat adalah hewan mamalia berkaki empat yang menurut kami sangat lucu. Bulunya banyak, mirip seperti beruang tapi versi kecil, atau marmut tapi versi besar. Bagaimana, ya? Lucu, deh, pokoknya. Ketika kami berkunjung ke kandangnya, ada satu yang sedang tidur terlentang. Janis terhibur melihatnya.

janisdanwombat
Janis, perkenalkan, wombat. Wombat, perkenalkan, Janis.

Wallaby adalah, gampangnya, “versi kecil” dari kangguru, karena secara taksonomi, mereka masih satu genus. Sekilas, wallaby lebih lincah lari ke sana ke mari karena badannya lebih kecil. Tapi, mereka tampaknya lebih pemalu.

Wallaby sedang minum!
Wallaby sedang minum!

Tasmanian Devil atau Tassie versi Warner Bros tampaknya besar dan garang. Aslinya, badannya lebih kecil, dan wajahnya lebih imut. Ia adalah mamalia berkaki empat yang masih juga marsupial. Banyak ditemukan di Pulau Tasmania, yaitu pulau di selatan benua Australia. Sedihnya, generasi berikutnya mungkin tidak dapat melihat hewan ini lagi karena mereka terancam punah. Beberapa pusat penangkaran di Australia berusaha untuk menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Penyebabnya? Tumor wajah yang menular dari satu hewan ke hewan lain. Di Healesville Sanctuary ini, ada tempat konservasi Tasmanian Devil di mana mereka diternakkan dan dihindarkan dari tumor.


Video tentang Tassie.

Platypus adalah hewan mamalia yang hidup setengah di darat dan setengah di air. Bentuknya seperti gabungan antar bebek dan berang-berang.

platypus_detail
Platypus. Sumber gambar di sini.

Selain hewan-hewan di atas, masih ada lagi yang lain seperti dilansir di situs web mereka. Ada Emu juga, burun besar dengan bulu yang sangat lebat.

Emu!
Burung Emu yang legendaris itu. Besar sekali!

Healesville Sanctuary ini bagian dari sistem konservasi hewan di negara bagian Victoria, khususnya di area Melbourne dan sekitarnya. Ia fokus pada hewan bushland atau hewan-hewan yang asli Australia. Ada tiga “kebun hewan” di sekitar Melbourne yang tergabung dalam wadah Zoos Victoria, antara lain: Werribee Open Range Zoo, Melbourne Zoo, dan Healesville Sanctuary.

Di Sanctuary ini juga ada rumah sakit, di mana hewan-hewan yang sakit bisa disembuhkan. Mulia, bukan?

Peta Healesville Sanctuary
Peta Healesville Sanctuary. Sumber gambar di sini.

Kangguru sedang beristirahat!
Kangguru sedang beristirahat!

Kami berputar-putar hampir dua jam lamanya, untung saja ada tempat berlabuh bagi Janis untuk menyusu di tengah hutan.

Setelah puas melihat hewan-hewan yang kami tak pernah lihat secara langsung, kami pun pulang untuk mengejar beberapa agenda lain, seperti makan malam, karena kami sudah lapar berat. Selain itu, kami khawatir Janis akan rewel karena sudah seharian di luar. Benar saja, kami berhenti sekitar dua atau tiga kali di perjalanan pulang untuk menyusui Janis. Tapi, kami semua puas.

bersama-miranda-dan-jillian
Menunggu yang tertinggal, sudah setengah jalan, nih!

Rencana esok harinya sebenarnya adalah ke Phillip Island untuk melihat penguin, tapi akhirnya kami batalkan karena jaraknya ditempuh dalam waktu dua jam dan kami tak membayangkan Janis mungkin akan merasa sangat letih. Sepertinya, road trip belum bisa jadi opsi buat si kecil. Nanti ya, Nak, tunggu agak besar sedikit!


Kisah Pabrik Mentega dan Sungai Yarra

Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.


Si Turis Kecil Penggemar Focaccia

Si Kecil Penggemar Foccacia
Si Kecil Penggemar Foccacia.

Setelah diminta untuk menunggu selama tiga jam di Melbourne Cricket Ground (untungnya, taman di luar sangat luas dan nyaman), kami akhirnya ditelepon oleh pemilik Airbnb yang mengatakan kami sudah bisa masuk. Sepertinya, mereka kasihan dengan kondisi kami yang “melas”, baru datang dari penerbangan panjang dan membawa bayi. Syukurlah!

Kami pun masuk dan diinstruksikan untuk mengambil kunci di tempat rahasia di luar apartemennya.

Apartemen ini mungil, terdiri dari tiga lantai, dan kami berada di lantai dasar. Untunglah, karena ternyata tidak ada lif, dan kami juga membawa banyak barang. Apartemen studio di daerah Jolimont ini luasnya mungkin sekitar 30 meter persegi, dengan dapur tanpa sekat. Cukup buat kami bertiga selama sepuluh hari di Melbourne. Harganya sekitar A$110 per malam. Bagi kami, yang penting ada dapur, untuk membuat makanan si kecil. Ada microwave oven, kulkas, dan kompor, sudah cukup.

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne
Sudut-sudut Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne.

Kami sempatkan mandi dan istirahat sebentar. Namun, karena khawatir ketiduran sampai malam, kami hanya istirahat sebentar dan segera keluar dalam waktu satu jam, sambil menunggu pengantaran stroller.

Stroller datang diantar oleh seorang bapak bernama Rob. Beliau menjelaskan cara mengoperasikannya, dan konfirmasi tanggal penjemputan, sekitar sembilan hari lagi.

Setelah semua siap, kami langsung keluar cari makan siang. Opsinya di mana saja, ya?

Ada beberapa opsi makanan seperti makanan India, Jepang dan Italia, dan keinginan untuk ke Flinders St. atau pusat kota sekalian, tetapi karena terlalu letih, kami akhirnya memutuskan beredar di sekitar apartemen saja, jalan kaki.

Daerah yang kami tinggali sangatlah nyaman dan sepi. Sebenarnya, kesan sepi ini kesan yang pasti didapat dari kami-kami yang biasa tinggal di Indonesia yang penuh keramaian. But really, it’s like a fresh blow of air.

Janis, Senyum Dong?
Janis, Senyum Dong?

Kami berjalan ke arah Fitzroy Garden. Fitzroy Garden adalah salah satu taman terbesar di Melbourne. Didirikan tahun 1848, luasnya mencapai 26 hektar, tepat membatasi Central Business District di sebelah timur. Anda bisa jalan kaki ke taman ini dari stasiun Parliament, salah satu stasiun dalam jalur looping kereta di Melbourne, atau berhenti di stasiun kereta Jolimont dan jalan kaki sebentar ke arah barat.

Fitzroy Garden
Halo, Fitzroy Garden! (Foto diambil di lain hari.)

Salah satu fitur utama di Fitzroy Garden adalah Cook’s Cottage, tempat tinggal orang tua James Cook, penjelajah asal Inggris yang menemukan pesisir timur Australia pada abad ke-17. Ada juga kafe spesialis sarapan KereKere Green, dan restoran yang lebih upscale bernama The Pavilion, jika anda ingin makan di tengah hijaunya taman dan berwarnanya bunga-bunga. Saya membayangkan, Syahrini pasti bisa menghabiskan setengah hari di sini.

Anak kami Janis senang sekali di atas stroller. Padahal, di Jakarta, Janis hampir tidak betah di atas stroller. Mungkin karena angin semilir dan udara yang lebih bersih? Tapi memang, suasana yang berbeda ketika melakukan perjalanan berpengaruh besar terhadap mood si kecil!

Ayo cari makan siang!
Ayo, cari makan siang!

Kami berjalan menyusuri Wellington Parade untuk fokus mencari makanan. Karena sudah lapar berat, kami langsung belok ke sebuah kafe kecil sederhana (bukan makanan padang). Karena masih hari pertama, kami menghindari makan di kafe yang lebih “mahal”, untuk menghemat uang jika nanti ada tempat jajan yang lebih pantas sesuai ulasan.

Karena Janis suka makan roti, kami putuskan membeli roti focaccia isi ayam Cajun, bayam, tomat, mayonais, mustard dan keju untuk dimakan bersama. Istri saya pesan yang sama dengan isi ayam Schnitzel. Rasanya enak, tidak terlalu tajam, seperti makanan-makanan berbasis roti lain. Cukup mengenyangkan bagi perut jetlag kami ini.

Hari pertama ini kami gunakan untuk menyesuaikan diri dengan waktu, membeli kartu Myki untuk transportasi umum dan stok jajanan di 7-11 terdekat. Tidak lupa juga mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak.

Setelah puas makan, kami pulang lagi ke apartemen dan tak heran, kami semua tertidur pulas dari jam dua sampai jam tujuh malam!

Bagaimana makan malam kami? Apa rencana kami di hari esoknya? Tunggu di artikel selanjutnya, ya!


« Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya »

© 2016 Ransel Kecil