Selamat Datang di Pulau Nami!

Sapaan hangat yang ditulis di papan tembus pandang itu menarik perhatian begitu saya menginjakkan kaki di pulau kecil ini. Ya, sapaan itu tertulis dalam bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa Melayu, mengingat ada bendera Indonesia, Malaysia dan Singapura di bawah tulisan itu), bukan bahasa Inggris apalagi bahasa Korea di mana Pulau Nami ini berada.

Terkenal sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar drama Korea terkenal “Winter Sonata“, Pulau Nami sekarang menjadi salah satu tujuan wisata favorit para turis yang berkunjung ke Korea Selatan. Terletak kurang lebih 63 km dari kota Seoul, kita dapat menjangkau pulau ini dengan beberapa cara. Apabila menggunakan kendaraan pribadi atau mobil sewaan, tinggal arahkan mobil menuju Gapyeong Wharf. Tempat ini merupakan pintu masuk ke “Naminara Republic”. Menuju pulau Nami dengan transportasi umum? Silakan memilih naik shuttle bus atau menggunakan kereta ITX, kereta ekspres yang baru saja beroperasi sejak bulan Februari 2012.

Winter Sonata Lane.
Winter Sonata Lane.

Baca seutuhnya →

Wisata Pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

Ada surga di ujung paling barat Pulau Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon namanya. Di tempat yang merupakan wilayah taman nasional yang dilindungi ini hidup badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.

Bentang alam di Taman Nasional Ujung Kulon amat beragam, mulai dari bentang alam laut, bentang alam hutan rawa dan ekosistem daratan. Jadi, saat saya berkunjung ke taman nasional yang asri ini, saya bisa merasakan serunya petualangan trekking di bentang rawa dan hutan yang masih alami dan snorkeling di bentang alam laut yang masih bersih dengan perpaduan pasir putih nan indah.

Menikmati senja.
Menikmati senja.

Baca seutuhnya →

Tentang Koboi, Steak dan Baseball

Tak pernah terbayangkan bahwa di awal tahun 2012 sudah harus bersiap-siap untuk melakukan perjalanan panjang. Rasanya, ia akan menjadi sebuah perjalanan yang melelahkan namun menjadi salah satu album perjalanan yang tak terlupakan.

Sedikit bercerita, di akhir tahun 2011, saya membawa seluruh barang-barang, kardus-kardus dan semua “warisan”: perlengkapan memasak dari orang tua dan kakek-nenek dari Surabaya menuju Jakarta. Pada saat itu, hanya saya sendiri yang melakukan semua persiapan di rumah baru di Jakarta. Suami masih bekerja di Timur Tengah, tepatnya negara yang baru saja merayakan kemenangannya setelah seluruh pasukan Amerika Serikat ditarik kembali ke negaranya, Irak.

Di awal tahun 2012, saya sudah langsung harus bekerja setidaknya 12 jam sehari di kantor. Mulai jam delapan pagi hingga delapan malam. Di akhir Januari 2012, saya mendapat kabar kalau suami berkesempatan untuk ikut sebuah pelatihan yang sangat penting di Amerika Serikat selama kurang lebih tiga bulan dan pelatihan tersebut akan dimulai di awal bulan Maret. Tidak bisa terbayangkan betapa mendadaknya berita ini. Meski mendadak, ini adalah sebuah berita baik bagi masa depan suami dan tentunya keluarga kami.

Suasana "kota koboi"
Suasana “kota koboi”.

Baca seutuhnya →

Hat Yai, Pesona Thailand Selatan

Tepat jam enam pagi, pintu imigrasi Bukit Kayu Hitam dibuka. Bukit Kayu Hitam yang terletak di negara bagian Kedah ini, merupakan salah satu pintu perbatasan Malaysia dengan Thailand. Kami berdua pun mengantri untuk mendapat cap keluar dari Malaysia di paspor saya.

Pagi ini cuaca cukup dingin. Kamipun bergegas masuk kembali ke dalam bis. Setelah semua penumpang masuk ke dalam bis, bis pun melaju ke arah Sadao, gerbang imigrasi Thailand selatan. Jarak imigrasi Malaysia dan Thailand adalah sekitar 500 meter. Di antara jarak tersebut, di sisi kiri nampak Kedai Bebas Cukai yang telah buka. Di bagian kanan merupakan markas Tentera Darat Diraja Malaysia atau Angkatan Darat Malaysia.

Wat Hat Yai Nai.
Wat Hat Yai Nai.

Baca seutuhnya →

Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Baca seutuhnya →

Goa Pindul, Gunung Kidul

Terkesima saya melihat surga kecil tersembunyi di Desa Beji, kecamatan Karang mojo, Kabupaten Gunung Kidul. Goa Pindul namanya. Saya menyusuri goa ini dengan decak kagum yang tiada henti-hentinya. Mereka yang menyukai kegiatan cave tubing atau penyusuran goa dengan menggunakan ban yang mengapungkan tubuh kita, pasti suka dengan Goa Pindul karena kondisinya cocok untuk kegiatan ini.

Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.
Sampai pada sisi dalam goa yang paling kaya akan sinar sang surya, seorang pelancong telah siap dengan ancang ancangnya untuk terjun menuju kejernihan dan kesegaran air.

Baca seutuhnya →

Taman Lampion

Taman lampion, bukan taman sembarang taman, melainkan taman yang unik dengan kekhasan lampionnya. Taman lampion, destinasi yang berbeda dan menawan.

Persis dengan namanya, taman lampion, di tempat ini di sana-sini bertebaran lampion menerangi taman dengan sinarnya. Sejauh mata memandang terlihat lampion yang bersinar dan berkelip, ada yang tergelantung diatas, ada yang tertanam ditanah, dan ada pula yang mengapung di kolam. Bentuknya pun beragam, mulai dari bentuk yang tak beraturan, bentuk yang menyerupai bangunan-bangunan legendaris dunia, menyerupai tokoh-tokoh kartun, sampai yang menyerupai dunia flora dan fauna.

Baca seutuhnya →

Memotret Laos Melalui Luang Prabang dan Van Vieng

Laos adalah destinasi “underdog” di Asia Tenggara. Namun, tahukah anda, justru di negara ini terdapat kecantikan alam dan hasil budaya yang mengagumkan, seolah belum pernah terjamah. Safir Soeparna membawa kita dalam perjalanan visual yang mencengangkan sepanjang Luang Prabang, yang menjadi UNESCO World Heritage Site, serta Van Vieng, kota kecil yang tenang bagi pejalan yang ingin lepas dari hiruk-pikuk perkotaan, terutama mungkin kecenderungan modernisasi negara tetangganya seperti Thailand atau Vietnam.

Mulai dari kota yang klasik sampai alam penuh rona, Laos memiliki semuanya, tanpa harus terjebak keramaian pengunjung.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Beberapa pemuda lokal terlihat berkunjung ke candi yang sudah berumur ribuan tahun untuk beribadah. Mayoritas penduduk Laos merupakan penganut Buddha Theravada.

Baca seutuhnya →

Uji Nyali di Bukit Bangkirai

Berada di atas Canopy Bridge.
Berada di atas Canopy Bridge.

Di pagi yang cerah sekitar pukul delapan pagi, selepas menyelesaikan sarapan di hotel di Balikpapan. Saya bergegas untuk check out dari hotel dan kemudian saya duduk di lobi, menunggu kawan yang akan menemani saya melancong di sekitar kota Balikpapan.

Sesuai dengan rencana sebelumnya, saya dan keempat kawan saya berencana untuk mengunjungi kawasan Bukit Bangkirai. Kawasan hijau yang merupakan kawasan hutan konservasi yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Untuk melihat keindahannya, dibutuhkan jarak tempuh sekitar 50 km yang menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Perjalanan yang cukup jauh, tapi tidak membosankan, karena di sepanjang perjalanan menuju Bukit Bangkirai, saya disuguhkan pemandangan bukit bukit nan hijau dan hutan yang penuh dengan pepohonan. Suasana dalam perjalanan menjadi semakin seru saat mobil melaju memasuki hutan, melewati jalan kecil yang berkelok, berbatu dan berkerikil, membuat mobil jadi bergoyang.

Baca seutuhnya →

Negombo si “Little Rome”

Kota yang satu ini patut dikunjungi apabila anda berkunjung ke Sri Lanka. Terletak tidak jauh dari Bandaranaike International Airport, kota ini sering dijadikan persinggahan para turis yang baru saja tiba atau sebelum meninggalkan Sri Lanka. Sebagai gambaran Bandaranaike International Airport terletak 37 kilometer dari Colombo, ibukota Negara Sri Lanka.

Dari Bandaranaike International Airport, Negombo mudah dicapai dengan menggunakan beberapa alternatif moda transportasi. Yang paling mudah dan nyaman adalah menggunakan jasa penjemputan yang disediakan dari hotel atau taksi, tentunya dengan harga yang lumayan mahal berkisar dari Rs1.500 hingga Rs2.500 (US$1 = Rs129).

Penjaga pantai Negombo
Penjaga pantai Negombo.

Baca seutuhnya →