Halaman 3 dari 52

Dari Bawah Laut Hingga Atas Bukit Pulau Kanawa

Bar saat senja
Bar saat senja

Perahu saya berlabuh setelah perjalanan dua hari satu malam mengelilingi Pulau Komodo dan pulau-pulau sekitarnya, di sebuah pulau kecil yang sudah disulap menjadi resort sederhana dengan pemandangan yang luar biasa bernama Pulau Kanawa. Menginjakkan kaki di Pulau Kanawa sekitar jam dua siang, tubuh terasa tidak sabar untuk segera melihat apa yang tersembunyi di perairan sekitar pulau ini.

Bawah laut Pulau Kanawa begitu memanjakan mata saya. Kegiatan snorkeling saya mulai dari dermaga yang berada di utara pulau lalu berlanjut menuju ke arah barat. Berbagai koral dan ikan yang beraneka warna menemani sepanjang kepakan kaki di permukaan laut. Petualangan bawah laut ini berawal dari sambutan rombongan ikan menuju laut lepas, ikan nemo yang malu-malu bersembunyi dibalik koral, dan berakhir dengan bertemunya saya dengan penyu yang berenang santai, tenang, dan bebas. Hingga tak terasa saya sudah berenang cukup jauh hingga ke bagian barat pulau ini.

Pesisir pantai Pulau Kanawa
Pesisir pantai Pulau Kanawa

Restoran outdoor
Restoran outdoor

Setelah lelah snorkeling dan badan yang kering dengan sendirinya, saya menghabiskan sore dengan membaca buku di hammock yang berada di samping dermaga. Di pantai sebelah utara pulau ini dengan mudahnya terlihat bayi ikan hiu yang berenang di pinggir pantai menemani pengunjung yang menghabiskan waktu tidur sore di pantai yang sepi ditemani angin semilir yang menjemput tenggelamnya matahari.

Malam hari dihabiskan dengan makan malam di restoran yang ada di pulau dengan tiga bagian restoran yaitu dalam ruangan, luar ruangan yang ditemui dengan pohon rindang berbalut lampu temaram, dan bar kecil di luar ruangan dengan musik mengalun. Pilihan menu terdiri dari berbagai pasta yang memang bukan makanan lokal namun apa boleh buat hanya ini satu-satunya tempat bersantap di pulau kecil ini. Listrik pulau ini padam pada pukul 11 malam, setelah makan malam saya berjalan santai menuju pantai hanya untuk merebahkan badan ke pasir dan mata saya tak berhenti menatap gugusan bintang terbaik yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Dermaga
Dermaga

Fasilitas Bale'
Fasilitas Bale’

Pemandangan dari atas bukit
Pemandangan dari atas bukit

Waktu menunjukkan jam empat pagi, saya terbangun dan pergi ke arah selatan pulau untuk melihat matahari terbit dari puncak bukit. Dengan penerangan senter, saya mendaki bukit yang cukup dengan waktu lima belas menit untuk mencapai ke puncak. Setelah sampai puncak, lambat laun sang surya menampakkan dirinya menerangi seluruh kecantikan pulau ini. Pemandangan dari atas bukit ke arah pantai dan laut dapat terlihat gradasi putih pantai dengan biru laut yang begitu menawan.

Sayang sekali saya hanya menghabiskan satu malam di Pulau Kanawa yang indah ini. Setelah sarapan pagi kapal menuju Labuan Bajo telah berlabuh dan siap mengantarkan saya serta pengunjung lain pulang. Satu malam di Pulau Kanawa seperti mimpi bagi saya, keindahan dari atas bukit hingga bawah laut tidak tercela.

Menyentuh Hati Pejalan dengan “The Changi Experience

Bandara Internasional Changi di Singapura adalah hub udara terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu yang terbesar di Asia. Menghubungkan lebih dari 270 kota di 60 negara, bandara ini menawarkan maksimum waktu transfer 60 menit untuk perjalanan transit. Bagi pejalan ransel, juga ditawarkan program Changi Connects yang membuat transfer penerbangan dari dan ke penerbangan hemat biaya tanpa harus melewati imigrasi atau harus mengambil bagasi mereka dulu. Efisiensi perjalanan penerbangan adalah kunci di bandara ini.

Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari
Arsitektur dan interior yang menawan sepanjang hari

Bandara Changi dari menara
Bandara Changi dari menara

Bandara Changi di malam hari
Bandara Changi di malam hari

Tidak heran, sejak dibuka, bandara ini telah memenangi lebih dari 460 penghargaan “Best Airport” atau bandara terbaik di dunia, salah satunya “Best Airport in the World” versi publikasi Business Traveller’s selama 26 tahun berturut-turut. Skytrax, penghargaan aviasi bergengsi di dunia juga memberikan Changi titel “World’s Best Airport” selama lima kali, terakhir tahun 2014.

Jika pun anda ingin menghabiskan waktu untuk transit yang lebih panjang, bandara ini menawarkan banyak hal untuk dilakukan dan dilihat. Banyak fasilitas relaksasi, arena hiburan, lima taman-taman tematik dan layanan internet gratis di 550 kios di seluruh terminal. Mereka yang punya waktu transit lebih panjang (minimal lima jam) dapat mengikuti tur gratis keliling kota Singapura selama dua jam ke Merlion, Marina Bay Waterfront Promenade, Chinatown dan Little India. Mereka yang melakukan perjalanan dengan keluarga pun akan merasa dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang ramah keluarga, seperti ruang ganti popok bayi, travelator dan ruang tunggu yang besar dan nyaman untuk stroller bayi.

Kios internet gratis
Kios internet gratis

Selain area publik yang bisa dinikmati kapan saja, anda juga bisa mencoba fasilitas Slide@T3, luncuran tertinggi di Singapura, lalu mempelajari dunia aviasi secara menyenangkan di Changi Aviation Gallery, yang memamparkan sejarah operasional bandara ini.

Slide@T3
Slide@T3

Changi Airport memiliki tiga terminal dengan kapasitas tahunan total 66 juta penumpang. Terminal 1 dibuka tahun 1981, terminal 2 tahun 1990 dan terminal 3 tahun 2008. Ada dua landasan sepanjang empat kilometer. Pesawat lepas landas setiap 90 detik sekali. Bayangkan.

Terminal 1 baru saja direnovasi tahun 2012 untuk melayani penumpang lebih baik lagi. Konsep yang diusung dalam renovasi ini adalah membuat terminal menjadi replika “kota tropis”. Terminal ini juga memiliki kolam renang di atapnya yang menghadap ke landasan, alasan yang sempurna untuk menunggu pesawat anda selanjutnya. Anda juga bisa bersantau di jacuzzi atau berolahraga di pusat kebugaran.

Terminal 2 mengusung konsep modern dengan tetap memperhatikan penghijauan dan pencahayaan alami.

Terminal 3 mengusung arsitektur atap yang unik, yang memperhatikan pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik sehingga terminal ini lebih ramah lingkungan.

Di terminal-terminal tersebut kita juga dapat mendapatkan fasilitas pijat seluruh tubuh, manikur-pedikur, potong rambut, gym, fasilitas mandi dan ruang tunggu eksklusif (lounge) yang dapat dibayar tanpa harus memiliki keanggotaan tertentu. Selain itu, jika anda mengantuk dan butuh istirahat, ada tempat istirahat (napping areas) yang tenang dan dapat dinikmati gratis. Selain itu, ada juga hotel transit yang bisa disewa singkat jika ingin privasi lebih.

Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal
Pilihan berbelanja di sepanjang koridor terminal

Kolam renang di terminal berpemandangan landasan
Kolam renang di terminal berpemandangan landasan

Konsep “kota tropis” kelihatan di hampir semua terminalnya, dibuktikan dengan berbagai tanaman dan kebun yang ada di sekitarnya. Ada taman tematik yang bisa kita nikmati di setiap terminal, antara lain “Cactus Garden” (Terminal 1), “Enchanted Garden”, “Orchid Garden” dan “Sunflower Garden” (Terminal 2) dan “Butterfly Garden” (Terminal 3).

Taman dalam bandara
Taman dalam bandara

Ruang dan sofa bersantai
Ruang dan sofa bersantai

Tempat beristirahat
Tempat beristirahat

Mereka yang datang di sela-sela perjalanan bisnis, dapat menikmati Business Centre sekiranya membutuhkan layanan pencetakan, fotokopi, faks dan pengiriman dokumen. Tersedia juga Transit Hotel, Ambassador Transit Lounge dan Rainforest Lounge untuk beristirahat atau bekerja dengan tenang. Jika kehabisan baterai ponsel atau tablet anda, jangan khawatir. Ada 856 titik pengisian ulang baterai di semua terminal yang dapat dinikmati gratis.

Ambassador Transit Hotel
Ambassador Transit Hotel

Ada lebih dari 350 toko di terminal-terminal di sini baik di luar ruang keberangkatan maupun di dalamnya untuk memberikan kesempatan berbelanja yang nyaman dan maksimal, dengan harga yang kompetitif. Lapar? Jangan lewatkan 120 outlet makanan dan minuman di seluruh terminal, termasuk sebuah pujasera yang dikunjungi warga Singapura setiap harinya hanya untuk makan.

Ketika saya pergi ke sana dan transit selama enam jam beberapa saat lalu, saya juga menikmati teater film gratis yang dioperasikan 24 jam dan memutarkan film-film blockbuster bergantian. Bagi yang suka game, ada ruang permainan yang menawarkan console game. Yang suka musik dapat pergi ke sudut musik. Yang ingin nonton televisi, tersedia ruang televisi. Tidak akan kehabisan opsi untuk menghibur diri.

Nonton film gratis
Nonton film gratis

Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal
Ruang istirahat yang bisa disewa untuk privasi dan istirahat maksimal

Lebih detil lagi mengenai Transit Hotel, mereka terletak di area Departure Transit di semua terminal. Khusus Ambassador Transit Hotel dilengkapi fasilitas lebih banyak seperti wake-up call service, televisi, kamar mandi di dalam dan teh/kopi gratis. Jika ada kamar kosong, maka anda bisa menikmati kamar yang menghadap ke landasan dengan jendela besar. Asyik, kan?

The Kinetic Rain
The Kinetic Rain

“The Changi Experience” tidak hanya fokus pada kenyamanan dan kelancaran perjalanan penggunanya, tetapi juga sensory experience atau pengalaman indera. Tidak sekedar dekorasi, tapi juga esensi dari bandara itu sendiri. Beberapa instalasi seni ditampilkan di sini, antara lain “Kinetic Rain” yang terdiri dari 1.216 “tetesan” yang dibuat dari perunggu, digantung, dan digerakkan oleh komputer membentuk 16 bentuk yang berbeda, seperti pesawat terbang, balon udara dan layang-layang. Selain itu, beberapa seni patung dan instalasi juga ditampilkan di berbagai sudut terminal.

Rencana ke depan

Tahun 2017, Bandara Internasional Changi akan membuka Terminal 4 yang dirancang untuk melayani penerbangan full service dan penerbangan hemat biaya. Terminal ini menggantikan Terminal Budget yang sudah tidak operasional lagi. Tentunya, Terminal 4 akan jauh lebih berkelas dari Terminal Budget, dan akan dihubungkan dengan jembatan pejalan kaki dari terminal-terminal lainnya. Terminal 4 diharapkan dapat menampung 16 juta penumpang tiap tahun dengan luas setara 27 lapangan sepak bola.

Itu sajakah? Nanti dulu — Bandara Internasional Changi juga sudah merencanakan pengembangan Terminal 1 yang dinamakan “Project Jewel”. Lokasinya ada di depan Terminal 1, dan merupakan kompleks mixed use yang akan menawarkan fasilitas-fasilitas yang memanjakan penumpang. Fitur utamanya adalah taman di dalam banguann yang lebih besar dari taman-taman lain di Changi. Dirancang oleh arsitek Marina Bay Sands, Moshe Safdie, bangunan ini didesain untuk menjadi ikon Changi yang baru dan diperkirakan selesai 2018. “Project Jewel” dibuat khususnya untuk memanjakan penumpang transit yang diperkirakan sampai 30% total pengunjung ke Changi. Dengan “Project Jewel”, kapasitas penumpang di Changi diperkirakan meningkat hingga 85 juta orang per tahun pada tahun 2018.

"Project Jewel"
Project Jewel

Terminal 5 juga akan dibangun di tanah luas di sebelah timur terminal-terminal yang sudah ada, dan ukurannya adalah gabungan dari Terminal 1, 2, 3, 4 dan Project Jewel. Kabarnya, Terminal 5 akan menjadi terminal terbesar di dunia dan melayani 50 juta penumpang setiap tahunnya.

JetQuay Terminal

Salah satu yang kita tidak tahu dari Changi adalah keberadaan JetQuay CIP (Commercially Important Person) Terminal. JetQuay ini adalah terminal elit bagi para penumpang yang ingin layanan eksklusif. Dengan membayar tarif tertentu, kita dapat menikmati penjemputan dari rumah atau hotel dengan mobil mewah, diantara ke terminal elit yang terpisah dari terminal umum, dilayani seperti raja dengan makanan dan minuman serta ruang istirahat, serta check-in dan layanan imigrasi khusus. Ketika pesawat berangkat, kita akan diantar dengan buggy car ke pintu keberangkatan. Cocok untuk mereka yang ingin privasi lebih, misalnya ketika bulan madu, perjalanan keluarga atau yang punya pesawat pribadi (mana tahu, ya?).

Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal
Ruang tunggu eksklusif di JetQuay CIP Terminal

Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal
Mobil antar-jemput JetQuay CIP Terminal

Indonesia dan Changi

Indonesia adalah pasar utama Bandara Internasional Changi. Penerbangan Jakarta – Singapura adalah penerbangan dengan trafik terbesar, diikuti Bangkok, Kuala Lumpur, Hong Kong dan Manila. Indonesia adalah negara ke-3 terbesar yang memasok penumpang ke bandara ini, baik untuk tujuan akhir maupun transit. Sebaliknya, Singapura menyumbang jumlah pengunjung yang besar ke Indonesia tahun 2013 saja, sekitar 6.4 juta pengunjung, semuanya melalui bandara Changi.

Hebatnya lagi, pengunjung berkewarganegaraan Indonesia ada dalam posisi ke-3 dilihat dari jumlah transaksi belanja di bandara.

The Changi Experience

The Changi Experience” adalah konsep yang menurut saya sangat menarik. Lazimnya, kita melihat bandara secara fungsional saja. Fasilitas untuk menunggu naik pesawat dan tiba dari tujuan lain. Bandara Internasional Changi melihatnya dari sisi yang berbeda: bandara adalah sebuah pengalaman, sebuah destinasi dalam dirinya sendiri. Ia adalah oasis bagi musafir — sebaik-baiknya tuan rumah adalah mereka yang melayani musafir sebaik mungkin. Inilah barangkali yang membuat Bandara Internasional Changi berkomitmen untuk melayani pengunjung dengan sebaik-baiknya.

Sampai jumpa di perjalanan Changi berikutnya!

“Live on Board” di Komodo

Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca
Gili Lawa Laut dari atas pulau Rinca

Tujuan perjalanan saya ke Komodo sangat jelas. Live on board (tinggal di kapal) selama lima hari dan menyelam 15 kali. Perjalanan kali ini telah direncanakan dengan matang oleh saya dan delapan orang teman sejak bulan November 2013. Kami sengaja memilih akhir Maret sampai awal April 2014 sebagai agenda perjalanan kami mengingat curah hujan rendah di daerah Nusa Tenggara Timur pada bulan itu. Awalnya saya berpikir di akhir Maret, Komodo akan bersemi hijau dan saya tidak mungkin bertemu dengan savana cokelat indah khas Komodo yang terkenal. Ternyata salah. Komodo di bulan Maret justru menghadirkan gabungan antara savana dan “musim semi” yang baru mulai.

Trekking di Pulau Rinca
Trekking di Pulau Rinca

Saya dan teman–teman terbang paling pagi dari Denpasar ke Labuan Bajo. Sampai di sana kami disambut udara panas dan matahari terik khas timur Indonesia . Setelah makan siang, kami bertemu dengan tur operator kami, CnD, sebelum akhirnya bertolak ke kapal KM. Embun Laut menggunakan kapal kecil.

Menikmati Pantai Mawan
Menikmati Pantai Mawan

Mengejar matahari terbenam
Mengejar matahari terbenam

Pemilik KM. Embun Laut sekaligus instruktur selam CnD bernama Condo Subagio atau Pak Condo. Kapal tiga level ini dulunya kapal kargo yang kemudian “disulap” oleh Pak Condo menjadi kapal wisata. Terdiri dari lima kamar tamu, dua kamar mandi, Embun Laut mampu mengakomodasi hingga 10 orang tamu. Meskipun lebih populer sebagai tur menyelam, CnD juga menyediakan jasa bagi mereka yang tidak melakukan penyelaman.

Komodo terdiri dari 17 pulau besar dan kecil. Pulau besarnya hanya Pulau Rinca dan Komodo. Di dua pulau inilah habitat utama Komodo. Kami menyempatkan berkunjung ke kantor Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan melakukan trekking, melihat pemandangan Gili Lawa Laut dari atas. Ditemani dua jagawana (forest ranger), trekking siang kami menyenangkan dan informatif. Cerita seputar Komodo si kadal besar begitu menarik. Misalnya, Komodo berenang untuk menyeberang dari pulau satu ke lainnya. Mereka menutup lubang hidung dengan lidah mereka yang panjang bercabang sembari berenang.

Penyelaman kami di Komodo berjalan lancar. Kami puas melihat biota laut luar biasa seperti manta ray, ikan napoleon, black tip dan white tip shark, serta beragam karang (coral reef) yang kaya. Kami menyelam ke satu goa kecil dimana konon ikan–ikan berenang terbalik di dalamnya. Tidak hanya di atas permukaan laut, di bawah lautpun Komodo benar-benar indah.

Matahari terbenam
Matahari terbenam

Berkunjung ke Komodo belum lengkap tanpa berjemur di pantai dengan pasir kemerahan. Kami dibawa ke Pantai Mawan dan menikmati pantai itu untuk kami sendiri. Mewah. Sehari sebelum kembali ke Labuan Bajo, kami trekking ke pulau tak berpenghuni demi mengejar matahari terbenam. Langit bersih Komodo memang benar – benar juara! Pagi hari biasanya langit kemerahan ungu, siang hingga sore biru cerah, malam hari penuh puluhan rasi bintang. Liburan kami di Komodo sukses membuat kami semua tidak ingin pulang. Saya sendiri ingin kembali lagi ke Komodo suatu hari nanti. Semoga.

  • Disunting oleh SA 16/06/2014

Memburu Salju Musim Gugur (Bagian 1)

Toko peta tua di Gamla Stan
Toko peta tua di Gamla Stan.

Beberapa perjalanan udara, darat dan air membawa saya ke kota keberangkatan: Stockholm, Swedia, kota berpenduduk 1,2 juta jiwa. Musim gugur berarti kunjungan turis mengalami penurunan, sebelum melonjak lagi pada musim dingin yang sudah di pelupuk mata. Bis yang membawa saya dari Kopenhagen, Denmark itu berhenti di Cityterminalen pada waktu subuh. Hari sangat gelap, suhu dan angin menusuk dan menembus kulit. Hitungan suhu pun masih dianggap relatif “hangat” dengan kisaran 0-10°C, tetapi tentu ini sama sekali tidak hangat buat saya dan mereka yang berasal dari negara tropis.

Saya lihat dompet. Beruntung, saya sempat menukarkan sisa krona Denmark ke krona Swedia. Setelah mampir ke Pressbyrån, sebuah toko kecil serba ada, sarapan roti isi dan segelas susu hangat melegakan tubuh yang kelaparan ini. Jadwal selanjutnya, mencari hostel di bilangan Södermälarstrand, daerah yang cukup sentral di kota Stockholm. Perjalanan dengan kereta bawah tanah untuk satu zona mencabai 40 krona Swedia atau sekitar Rp52.000,-. Tarif ini relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain seperti Jerman atau Amerika Serikat. Apalagi setelah menyadari ternyata jarak yang ditempuh cukup dekat, hanya sekitar tiga stasiun. Beberapa pertanyaan dan salah jalan berikutnya, sampailah saya di hostel yang dibangun dari kapal bermesin uap yang sudah dinon-aktifkan, tetapi masih mengapung di dermaga.

Sejauh mata memandang dari dalam “dek” hostel, saya melihat lanskap kota di seberang teluk Riddarfjärden: Stadshuset, dewan kota dengan menara bermahkotakan simbol negara, The Three Crowns. Central Station mendampingi di sebelah timurnya, dengan latar distrik Norrmalm, pusat kota modern Stockholm saat ini. Setelah itu, pandangan dengan mudahnya beralih ke bangunan- bangunan tua di Gamla Stan, atau secara harfiah berarti “kota tua”.

Sudut jalan Gamla Stan yang romantis
Sudut jalan Gamla Stan yang romantis.

Jika biasanya kota-kota di dunia hanya memiliki marka “semu” yang memisahkan daerah- daerahnya, maka Stockholm memiliki marka yang nyata: air. Kota ini terdiri dari sekian pulau yang dihubungkan oleh jembatan. Gamla Stan terletak di jantungnya, di sebuah pulau kecil yang menjadi cikal bakal kota Stockholm lebih 700 tahun yang lalu. Tak ubahnya seperti Kota Tua di Jakarta, Gamla Stan memiliki banyak sekali struktur bangunan yang masih mempertahankan keasliannya sejak zaman pertengahan. Tataletak jalan-jalannya pun masih menyerupai zaman itu, organik, seperti labirin dan sempit. Tak semua jalan itu bisa dilalui kendaraan bermotor, selain karena daerah konservasi, kebanyakan juga terlalu sempit untuk dilalui. Adalah mudah untuk tersasar di Gamla Stan, namun mudah juga untuk menikmatinya. Beberapa jalan utama padat sekali turis, tapi banyak jalan-jalan “tikus” yang membawa kita ke sisi “halaman belakang”. Beberapa ruas jalan memang memiliki kesan sebagai “tourist trap”, sisi lebih menarik justru jika kita berjalan menyusuri bagian- bagian yang lebih tersembunyi. Tiba-tiba, akan ada toko buku kecil yang menjual buku-buku fiksi berbahasa Swedia maupun Inggris. Di sisi lain, ada toko yang menjual peta dan gambar kuno. Jika jeli, akan ada restoran yang terletak cukup tersembunyi yang menawarkan pengalaman kuliner lebih autentik dan tenang karena jauh dari hiruk-pikuk para turis. Jika Anda ingin mencoba köttbullar, sajian gilingan daging (bakso) ala Swedia yang dilengkapi dengan kacang polong dan kentang tumbuk, coba sambangi salah satu tempat makan di sini, walau mungkin bukan dalam harga yang terbaik.

Gamla Stan
Gamla Stan.

Stockholm menobatkan dirinya sebagai ibukota budaya dari Skandinavia, sebuah wilayah yang mencakup Denmark, Norwegia dan Swedia. Banyak hal membuktikan vonis ini. Stockholm memiliki lebih dari 100 museum, tersebar di berbagai penjuru kota. Rasanya tak salah jika dikatakan penduduk Stockholm punya obsesi terhadap museum, karena hampir setiap topik atau tema dijadikan museum! Di Stadmuseum contohnya, ada pameran temporer mengenai apa isi dapur penghuni kota Stockholm, sampai studi material yang digunakan dalam interior dapur. Berbagai topik menarik disajikan di masing-masing institusinya: maritim, seni abad pertengahan dan kontemporer, musik, militer, sejarah, nautika, anak-anak, biologi, alam, Nobel sampai museum terbuka (bayangkan Taman Mini Indonesia Indah).

Pulau Djurgården, salah satu tujuan utama di Stockholm, merupakan pintu dari Kongligen nationalstadsparken, atau Royal National City Park di mana terdapat sekitar 20 museum. Saya sempatkan menikmati beberapa museum di pulau ini, terutama Vasamuseet, sebuah museum yang menunjukkan betapa dekat masyarakat Swedia dengan kultur maritim. Tema utama museum ini adalah sebuah kapal perang dari zaman pertengahan yang dievakuasi dari perairan kota. Raja Swedia pada saat itu, Gustavus Adolphus (1594–1632), pernah memerintahkan anak buahnya untuk membuat beberapa kapal perang besar yang bertujuan menegaskan eksistensi kekuatan kerajaan Swedia di negara-negara Laut Baltik. Ketika itu, Swedia sedang gencar-gencarnya berperang dengan Polandia, dan merasa cemas dengan perkembangan Perang Tiga-Puluh Tahun di Jerman. Selain itu, Swedia juga merasa was-was dengan musuh bebuyutannya, Denmark, yang dikhawatirkan akan mendominasi lalu lintas di daerah Baltik. Salah satu kapal utama, dan yang paling kuat direncanakan dinamakan Vasa, akan memimpin empat kapal lain. Kapal Vasa adalah kapal paling besar, namun pada hari perdana berlayar, 10 Agustus 1628, kapal ini tenggelam prematur tak jauh dari pulau Djurgården setelah memulai pelayaran dari tempat pembuatannya di Skeppsgarden, dekat Gamla Stan. Dugaannya, kapal ini tenggelam karena konstruksi tubuh kapal yang kurang baik, serta beban yang tidak mencukupi. Kapal menjadi tidak stabil dan terpaan angin mengakhiri riwayatnya. Sedihnya, sebagian besar personilnya juga terpaksa mengakhiri hidupnya.

Vasa Museum
Vasa Museum, tempat melihat kapal-kapal Viking tua.

Dua jam di museum ini membuat saya mengapresiasi bagaimana masyarakat Swedia menghargai sejarahnya, dan yang lebih penting lagi, memonumenkan kesalahan manusianya. Siapakah dari kita yang mau memuseumkan kesalahan untuk belajar dari kesalahan itu?

Walaupun belum puas berkeliling Stockholm, perjalanan harus saya lanjutkan dengan agenda utama: petualangan kereta api memburu salju musim gugur. Menumpang kereta malam, saya berangkat ke Östersund, sebuah kota di negeri Jamtland, sekitar tujuh jam perjalanan ke arah barat laut Stockholm.

  • Artikel ini pernah dimuat di Yahoo! Indonesia Travel tahun 2011, tetapi karena sudah tidak bisa ditemukan lagi, maka saya tulis ulang di sini. Semoga berkenan!

Soto Ayam Pak Sungeb, Purwokerto

Barangkali ini pengecualian bagi saya yang tak begitu suka soto.

Soto Ayam Pak Sungeb “Jl. Bank” di Jl. R. A. Wiria Atmaja, Purwokerto, Jawa Tengah, menjadi labuhan kami pada waktu itu setelah turun dari stasiun Purwokerto setelah lima jam perjalanan dari Gambir, Jakarta. Bak Sroto Sokaraja yang berisi daging sapi, soto ayam yang juga cukup populer di Purwokerto ini juga dilengkapi dengan sambal kacang.

Soto Ayam Kampung Pak Sungeb, Purwokerto

Awalnya, saya tak begitu simpatik dengan sambal kacang: Kenapa kacang bisa dijadikan sambal? Apa yang menarik dari sambal kacang? Warnanya coklat, pucat, rasanya pun biasa saja. Terkadang, ternyata, kacang menjadi tekstur yang menarik. Rasanya tidak sehebat sambal lain yang benar-benar terbuat dari cabai dan bawang, atau olahan terasi dan udang. Tidak begitu nendang, kata orang.

Melihat kualitas soto kebanyakan yang persentase kuahnya hingga 50%-60%, dilimpahi oleh tauge dan pelengkap seadanya, saya sedikit senang melihat isi soto yang cukup memenuhi mangkok ukuran sedang yang bisa digenggam kedua telapak tangan itu. Isinya suwiran ayam kampung, ketupat, taoge, daun bawang, taburan bawang goreng, dilengkapi kerupuk mi dan kerupuk warna. Suwiran ayamnya istimewa, warnanya kecoklatan seperti daging bebek. Kuahnya manis berkaldu. Dipadu dengan samnbal kacang, teksturnya terasa lebih kaya.

Jangan tertipu dengan nama “Soto Ayam Jl. Bank”, karena jalan aslinya adalah Jl. R. A. Wiria Atmaja — disebut demikian, mungkin karena ada museum bank di jalan yang sama. Sudah turun-temurun dikelola sejak 1958.