Halaman ke-3 dari 30

Minum Cantik di Brunetti, Tanglin, Singapura

Sejak ke Melbourne pada Maret lalu, kami sekeluarga kesengsem Brunetti, bakeri/patiseri yang berasal dari Carlton, sebuah wilayah di Melbourne. Konsepnya adalah “Italian pasticceria“. Intinya, patiseri ala Italia. Waktu di Melbourne, kami diundang Iliyas, teman dari teman kami, Carol, untuk makan siang di sana. Benar saja, pilihan kue, gelato, kopi, roti isi dan salad-nya menggugah selera.

Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall
Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall.

Interior
Interior kafe.

Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk
Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk.

Setelah googling pada suatu malam soal Brunetti, kami sadari ternyata Brunetti punya cabang di Singapura. Dengan semangat membara, kami impulsif membeli tiket ke Singapura dua minggu kemudian. Ya, sebenarnya, ada acara lain juga, tapi sekalian kan tidak ada salahnya ya?

Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya
Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya.

Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase
Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase.

Tempat duduk favorit kami ada di luar
Tempat duduk favorit kami ada di luar.

Letaknya di Tanglin Mall, di persimpangan Grange Rd dan Tanglin Rd. daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan Orchard yang terkenal itu. Lingkungannya sepi, malnya juga sepi, walau dekat dengan Orchard.

"Pameran" gelato yang begitu menggoda...
“Pameran” gelato yang begitu menggoda…

Brunetti sendiri kalau di Indonesia mungkin mirip dengan Harvest Cakes, tapi mungkin tidak ada kue keringnya.

Untuk ke Brunetti di Tanglin Mall, silakan naik bis no. 7, 77, 106, 111, 123 dan 174, langsung dari seberang stasiun MRT Orchard. Cari Orchard Parksuites dan seberangi jalan, dan naik dari halte itu. Gampangnya, Uber atau taksi ke sana.

Untuk ngemil kue dan minum kopi atau teh, siapkan anggaran S$30-40 (Rp300.000 – Rp400.000) untuk dua orang, karena satu kue bisa berharga S$8-12 (Rp80.000 – Rp120.000).

Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue
Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue.




Menurut kami, rasanya masih lebih enak di Melbourne, apa mungkin terpengaruh suasananya? Tapi, kelebihan Brunetti di Singapura adalah tidak seramai di Australia dan kursi-kursi di bagian luar suasananya lebih enak dengan angin semilir yang menambah nikmatnya kopi atau teh sore.

Kaunter kopi
Kaunter kopi dan minuman lain.

Pear and Cheese Crumble
Pear and Cheese Crumble, favorit kami.

Latte dan iced chocolate
Latte dan iced chocolate.

Saat itu, kami tidak makan besar, tapi mereka juga menjual makanan utama/pembuka seperti pasta, pizza dan sup.

Alamat & Kontak

Brunetti
163 Tanglin Rd, Tanglin Mall #01-35,
Singapore 247933
Telepon: +65 6733 9088
Jam buka: 09:00 – 21:00


Sarapan Mengesankan di Pinggir Rel

Satu-satunya pengalaman makan di pinggir rel yang saya punya di Indonesia adalah Bakso Presiden di Malang. Baksonya lumayan, suasananya juga cukup nyaman walau selang beberapa waktu kita harus rela “berangin-angin” seperti mau terbang karena kereta lewat tepat di samping kuping kita.

Di Melbourne, ada tempat jajan serupa, tapi untungnya, bukan di rel kereta api, tapi di pinggir rel tram. Adalah di salah satu sudut Albert Park, sebuah stasiun tram tua yang sudah direnovasi, dan fungsinya sebagai stasiun seutuhnya sudah diganti dengan sebuah kafe mungil bernama Mart 130.

Di Dalam Kafe
Interior kafe.

Papan Marka Stasiun Middle Park
Papan marka Stasiun Middle Park.

Penampakan Kafe dari Luar
Penampakan kafe dari luar.

Pintu Masuk ke Kafe
Pintu masuk ke kafe, yang juga difungsikan sebagai peron.

Ruang Makan di Teras
Ada ruang makan di teras belakang juga! Menghadap taman!

Kami tahu kafe ini dari sebuah review blog, dan karena bingung mau makan di mana, kami putuskan pergi ke tempat ini. Tempat ini menyajikan makan brunch dan makan siang, sehingga buka hanya dari pukul tujuh pagi hingga tiga petang.

Hampir semua comfort food untuk sarapan, brunch dan makan siang ada di sini. Bayangkan roti bakar, oats, grains, telur, pancake, buah-buahan sampai pide, pizza ala timur tengah yang bentuknya seperti wajik itu. Urusan kopi juga ada, juga chai latte dengan bonsoy dan madu (hm!), lassi stroberi, mangga dan tak lupa jus penambah stamina.

Scrambled Egg on Toast
Scrambled egg on toast.

Bircher Muesli
Bircher muesli. Salah satu yang terenak yang pernah saya makan.

Setelah enam hari pertama yang hiruk-pikuk dan sibuk, kami putuskan untuk memulai hari ini dengan bersantai di tempat yang jauh dari keramaian sambil menikmati pagi. Pilihan kami ternyata tepat. Di Mart 130, tidak ada orang lain lalu-lalang, karena memang letaknya agak jauh dari jalan raya dan pusat bisnis, lalu di sebelah timurnya ada taman yang besar (Albert Park), yang biasa dipakai untuk Formula 1. Saat itu tidak ada Formula 1, jadi taman tampak sepi.

Di Dalam Tram
Di dalam tram.

Perjalanan ke kafe ini cukup panjang. Kami mulai dari Jolimont Terrace di timur Melbourne dengan mengambil kereta atau tram ke Southern Cross, setelah itu lanjut tram no. 96 ke arah selatan. Sekitar lima atau enam pemberhentian, anda akan menemukan pemberhentian tram Middle Park. Jangan lupa, untuk naik tram di Melbourne, anda harus tekan tombol berhenti agar operatornya dapat memberhentikan tram. Jika tidak, ada kemungkinan keterusan.

Stasiun Southern Cross
Stasiun Southern Cross tempat menunggu tram no. 96.

Setelah Makan, Pose Dulu!
Setelah makan, pose dulu.

Alamat & Kontak

107A Canterbury Road
Middle Park, Victoria, 3206
Telepon: (03) 9690 8831
Email: mart130cafe@gmail.com


Tentang Rumah Mungil di Pantai Brighton

Begitu tahu kami akan ke Melbourne, istri saya, Lintang, langsung berkata, “Di Melbourne bukannya ada pantai yang ada rumah-rumah berwarna-warni itu, ya?”

Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton
Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton.

Saya sekilas teringat, sepertinya, ya, ada! Setelah mencarinya di Google, ternyata memang ada, dan letaknya di Brighton Beach, di sebelah selatan pusat kota Melbourne. St. Kilda, tujuan pantai dan dermaga populer itu, berbatasan langsung dengan Brighton, kota di sebelah selatannya. Pantai Brighton ada di pesisir barat kota Brighton.

Seagull?
Sekumpulan burung camar barangkali mencari makanan.

Kami berencana pergi ke sana setelah perjalanan ke Phillip Island dibatalkan karena alasan kenyamanan Janis. Menurut Google Maps, jika dari East Melbourne, kami harus menyetir sekitar 25-30 menit dan menempuh jarak sekitar 13-14 km ke arah selatan.

Kami pun bertanya-tanya, sebenarnya rumah-rumah kecil berwarna-warni di pinggir pantai ini apa dan buat apa ya? Ternyata, setelah diselidiki, mereka punya sejarah panjang. Pada abad ke-18, mereka digunakan sebagai tempat ganti baju untuk wanita yang sedang rekreasi di pantai Brighton. Sejak saat itu, fungsinya tetap sama. Hari ini, ia dikelola pemerintah, ada yang dimiliki pribadi, dan ada sebagian yang dijual lagi oleh pemiliknya. Harganya hari ini bisa mencapai Rp2,5 milyar, namun tak ada listrik dan air, dan tidak bisa diinapi semalaman atas alasan keamanan dan kenyamanan pengguna pantai. Jadi, siapapun yang menjadi pemiliknya harus menggunakannya sebagai sarana rekreasi pantai pada saat pantai buka saja. Setelah itu, pack up and leave.

Ada aturan juga tentang pengecetan dan modifikasi. Rumah-rumah kecil ini tidak boleh dicat dengan menampilkan merek atau usaha tertentu, tidak boleh dipakai beriklan, dan tidak boleh dimodifikasi melebihi ruang yang disediakan. Selain itu, tidak boleh digunakan sebagai tempat usaha, misalnya dijadikan warung kelontong, tempat nasi pecel, apalagi usaha fotokopi.

Keramaian di Pantai Brighton

Keramaian di Pantai Brighton
Keramaian di Pantai Brighton.

Terkesan eksklusif dan restriktif, tapi mungkin saya bisa paham tujuannya: untuk melindungi pantai ini dan melestarikan sejarah rumah-rumah kecil ini.

Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai
Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai.

Kami suka daerah Brighton. Saat itu sudah musim gugur, angin sejuk cukup kencang tapi tidak terik dan berkeringat. Kami berjalan agak jauh menyisir pantai dari mulai dari The Baths at Middle Brighton, sebuah restoran dan klub olahraga—dengan ruang parkir mobil yang agak luas—menuju ke selatan.

Melihat ke pusat kota Melbourne
Jika melihat ke utara, anda dapat melihat pusat kota Melbourne dari kejauhan.

Perjalanan diakhiri dengan membeli fish and chips di “warung” terdekat dan memarkir mobil tempat di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin senja.

Carol, Janis dan Lintang menikmati senja dan fish and chips
Carol, Janis dan Lintang di dalam mobil.

Pantai Brighton menjelang senja
Pantai Brighton menjelang senja.

Kami akan kembali, Brighton.


Bertemu Fauna Asli Australia di Healesville

Jika berkunjung ke Australia, hewan-hewan pertama yang terpikir hanyalah kangguru dan koala. Mungkin Tasmanian Devil, karena ia teman Bugs Bunny dan Daffy Duck yang terkenal itu. Siapa yang terpikir bertemu echidna, wombat, wallaby atau platypus? Bahkan tak ada nama Indonesia-nya!

Hewan-hewan inilah yang kami lihat dalam perjalanan kami ke Healesville Sanctuary, tempat perlindungan hewan khas Australia, yang jaraknya sekitar 65.1km dari Melbourne dan rata-rata memakan waktu 1 jam 15 menit menggunakan mobil sewa. Beruntungnya pada waktu itu, kami tinggal naik mobil sewaan Carol dan keluarga.


Perkiraan Google Maps untuk rute dari Melbourne ke Healesville Sanctuary.

Pagi-pagi jam tujuh kami sudah di luar menunggu jemputan Carol. Sebenarnya janji kami adalah pada pukul delapan, tetapi kami sengaja mencari sarapan dulu di sekitar apartemen, dan agar Janis bisa sarapan di taman. Kapan lagi, selain di sini? Di Jakarta sulit, ya.

Janis senang sekali makan roti. Kami pun membeli beberapa paket roti di 7-11. Orang tuanya makan sushi paketan sudah bahagia.

Sarapan sebelum berangkat.
Sarapan dulu sebelum berangkat, yuk?

Sekitar pukul delapan, Carol, Jillian, Eleanor dan Miranda datang membawa dua mobil. Kami langsung berangkat dan menuju Healesville!

Di Australia, jika membawa anak di bawah 12 tahun, atau ketika tingginya belum cukup, wajib menggunakan booster seat, dan tidak boleh dilepas selama perjalanan. Ini membuat kami sedikit kewalahan karena peraturan di Indonesia yang lebih rileks. Kami punya booster seat di mobil kami di Jakarta, tapi terkadang untuk menyusui, harus kami lepas dan dipangku. Di Australia, tidak bisa begitu. Akhirnya, setiap Janis rewel karena takut atau haus, kami harus berhenti dulu di jalan.

Pemandangan selama perjalanan, lebih kurang seperti ini
Pemandangan selama perjalanan lebih kurang seperti ini.

Pemandangan selama di jalan begitu cantik, walau tidak hijau seperti di Indonesia. Sejauh mata memandang, topografi relatif datar, namun cuaca begitu baik hingga hamparan pohon, perdu dan rumput terlihat bagus. Apalagi, di beberapa tempat, kami melihat kebun stroberi dan anggur. Tidak seperti di Indonesia, perjalanan di lingkungan pedesaan di sini begitu sepi dan tenang. Jalanan besar dan mulus. Tidak ada truk dan bis berlomba-lomba di jalan. Semuanya cukup santun.

Sekitar satu jam kemudian kami berhenti di kafe Church & Main untuk brunch. Lintang dan saya memesan calamari salad. Janis kami suapi makanan yang kami bawa sebagai bekal. Makan pagi menjelang siang ini berlangsung agak lama karena kami bertemu teman Carol di sana. Janis cukup mentolerir perjalanan ini, walau di jalan kami sempat berhenti tiga atau empat kali.

Makan apa ya?
Makan apa, ya? Janis di kafe Church & Main, Healesville.

Sesampainya di Healesville Sanctuary, kami langsung membeli tiket. Tempatnya dijaga sealami mungkin, sehingga tidak terlalu banyak pengkondisian atau lingkungan buatan manusia. Jangan heran kalau tampak agak “raw” atau kasar. Jalan untuk pejalan kaki pun hanya tanah. Satu lokalitas atau kandang hanya dibatasi oleh pintu dua sisi, selebihnya pembatas alami seperti bebatuan dan pohon. Ini barangkali untuk menjaga agar hewan-hewan di sini tidak merasa terkungkung dan stres, ya?

Koala!
Koala yang selalu bertengger.

Hewan-hewan yang kami lihat bervariasi, mulai dari yang terkenal seperti kangguru dan koala, sampai yang kami, orang Indonesia ini, belum tahu: echidna, wombat, wallaby, tasmanian devil atau platypus. Hewan-hewan apa sajakah itu?

Echidna (dibaca “ekidna”), adalah hewan mamalia yang mirip landak. Makanannya adalah semut, dan masih satu keluarga dengan platypus. Walaupun ia mamalia, tapi ia bertelur. Ukurannya cukup besar, seperti landak. Hidupnya di Australia dan Papua Nugini.

Echidna!
Echidna, mirip landak ya?

Wombat adalah hewan mamalia berkaki empat yang menurut kami sangat lucu. Bulunya banyak, mirip seperti beruang tapi versi kecil, atau marmut tapi versi besar. Bagaimana, ya? Lucu, deh, pokoknya. Ketika kami berkunjung ke kandangnya, ada satu yang sedang tidur terlentang. Janis terhibur melihatnya.

janisdanwombat
Janis, perkenalkan, wombat. Wombat, perkenalkan, Janis.

Wallaby adalah, gampangnya, “versi kecil” dari kangguru, karena secara taksonomi, mereka masih satu genus. Sekilas, wallaby lebih lincah lari ke sana ke mari karena badannya lebih kecil. Tapi, mereka tampaknya lebih pemalu.

Wallaby sedang minum!
Wallaby sedang minum!

Tasmanian Devil atau Tassie versi Warner Bros tampaknya besar dan garang. Aslinya, badannya lebih kecil, dan wajahnya lebih imut. Ia adalah mamalia berkaki empat yang masih juga marsupial. Banyak ditemukan di Pulau Tasmania, yaitu pulau di selatan benua Australia. Sedihnya, generasi berikutnya mungkin tidak dapat melihat hewan ini lagi karena mereka terancam punah. Beberapa pusat penangkaran di Australia berusaha untuk menyelamatkan hewan ini dari kepunahan. Penyebabnya? Tumor wajah yang menular dari satu hewan ke hewan lain. Di Healesville Sanctuary ini, ada tempat konservasi Tasmanian Devil di mana mereka diternakkan dan dihindarkan dari tumor.


Video tentang Tassie.

Platypus adalah hewan mamalia yang hidup setengah di darat dan setengah di air. Bentuknya seperti gabungan antar bebek dan berang-berang.

platypus_detail
Platypus. Sumber gambar di sini.

Selain hewan-hewan di atas, masih ada lagi yang lain seperti dilansir di situs web mereka. Ada Emu juga, burun besar dengan bulu yang sangat lebat.

Emu!
Burung Emu yang legendaris itu. Besar sekali!

Healesville Sanctuary ini bagian dari sistem konservasi hewan di negara bagian Victoria, khususnya di area Melbourne dan sekitarnya. Ia fokus pada hewan bushland atau hewan-hewan yang asli Australia. Ada tiga “kebun hewan” di sekitar Melbourne yang tergabung dalam wadah Zoos Victoria, antara lain: Werribee Open Range Zoo, Melbourne Zoo, dan Healesville Sanctuary.

Di Sanctuary ini juga ada rumah sakit, di mana hewan-hewan yang sakit bisa disembuhkan. Mulia, bukan?

Peta Healesville Sanctuary
Peta Healesville Sanctuary. Sumber gambar di sini.

Kangguru sedang beristirahat!
Kangguru sedang beristirahat!

Kami berputar-putar hampir dua jam lamanya, untung saja ada tempat berlabuh bagi Janis untuk menyusu di tengah hutan.

Setelah puas melihat hewan-hewan yang kami tak pernah lihat secara langsung, kami pun pulang untuk mengejar beberapa agenda lain, seperti makan malam, karena kami sudah lapar berat. Selain itu, kami khawatir Janis akan rewel karena sudah seharian di luar. Benar saja, kami berhenti sekitar dua atau tiga kali di perjalanan pulang untuk menyusui Janis. Tapi, kami semua puas.

bersama-miranda-dan-jillian
Menunggu yang tertinggal, sudah setengah jalan, nih!

Rencana esok harinya sebenarnya adalah ke Phillip Island untuk melihat penguin, tapi akhirnya kami batalkan karena jaraknya ditempuh dalam waktu dua jam dan kami tak membayangkan Janis mungkin akan merasa sangat letih. Sepertinya, road trip belum bisa jadi opsi buat si kecil. Nanti ya, Nak, tunggu agak besar sedikit!


Kisah Pabrik Mentega dan Sungai Yarra

Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.


Si Turis Kecil Penggemar Focaccia

Si Kecil Penggemar Foccacia
Si Kecil Penggemar Foccacia.

Setelah diminta untuk menunggu selama tiga jam di Melbourne Cricket Ground (untungnya, taman di luar sangat luas dan nyaman), kami akhirnya ditelepon oleh pemilik Airbnb yang mengatakan kami sudah bisa masuk. Sepertinya, mereka kasihan dengan kondisi kami yang “melas”, baru datang dari penerbangan panjang dan membawa bayi. Syukurlah!

Kami pun masuk dan diinstruksikan untuk mengambil kunci di tempat rahasia di luar apartemennya.

Apartemen ini mungil, terdiri dari tiga lantai, dan kami berada di lantai dasar. Untunglah, karena ternyata tidak ada lif, dan kami juga membawa banyak barang. Apartemen studio di daerah Jolimont ini luasnya mungkin sekitar 30 meter persegi, dengan dapur tanpa sekat. Cukup buat kami bertiga selama sepuluh hari di Melbourne. Harganya sekitar A$110 per malam. Bagi kami, yang penting ada dapur, untuk membuat makanan si kecil. Ada microwave oven, kulkas, dan kompor, sudah cukup.

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne
Sudut-sudut Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne.

Kami sempatkan mandi dan istirahat sebentar. Namun, karena khawatir ketiduran sampai malam, kami hanya istirahat sebentar dan segera keluar dalam waktu satu jam, sambil menunggu pengantaran stroller.

Stroller datang diantar oleh seorang bapak bernama Rob. Beliau menjelaskan cara mengoperasikannya, dan konfirmasi tanggal penjemputan, sekitar sembilan hari lagi.

Setelah semua siap, kami langsung keluar cari makan siang. Opsinya di mana saja, ya?

Ada beberapa opsi makanan seperti makanan India, Jepang dan Italia, dan keinginan untuk ke Flinders St. atau pusat kota sekalian, tetapi karena terlalu letih, kami akhirnya memutuskan beredar di sekitar apartemen saja, jalan kaki.

Daerah yang kami tinggali sangatlah nyaman dan sepi. Sebenarnya, kesan sepi ini kesan yang pasti didapat dari kami-kami yang biasa tinggal di Indonesia yang penuh keramaian. But really, it’s like a fresh blow of air.

Janis, Senyum Dong?
Janis, Senyum Dong?

Kami berjalan ke arah Fitzroy Garden. Fitzroy Garden adalah salah satu taman terbesar di Melbourne. Didirikan tahun 1848, luasnya mencapai 26 hektar, tepat membatasi Central Business District di sebelah timur. Anda bisa jalan kaki ke taman ini dari stasiun Parliament, salah satu stasiun dalam jalur looping kereta di Melbourne, atau berhenti di stasiun kereta Jolimont dan jalan kaki sebentar ke arah barat.

Fitzroy Garden
Halo, Fitzroy Garden! (Foto diambil di lain hari.)

Salah satu fitur utama di Fitzroy Garden adalah Cook’s Cottage, tempat tinggal orang tua James Cook, penjelajah asal Inggris yang menemukan pesisir timur Australia pada abad ke-17. Ada juga kafe spesialis sarapan KereKere Green, dan restoran yang lebih upscale bernama The Pavilion, jika anda ingin makan di tengah hijaunya taman dan berwarnanya bunga-bunga. Saya membayangkan, Syahrini pasti bisa menghabiskan setengah hari di sini.

Anak kami Janis senang sekali di atas stroller. Padahal, di Jakarta, Janis hampir tidak betah di atas stroller. Mungkin karena angin semilir dan udara yang lebih bersih? Tapi memang, suasana yang berbeda ketika melakukan perjalanan berpengaruh besar terhadap mood si kecil!

Ayo cari makan siang!
Ayo, cari makan siang!

Kami berjalan menyusuri Wellington Parade untuk fokus mencari makanan. Karena sudah lapar berat, kami langsung belok ke sebuah kafe kecil sederhana (bukan makanan padang). Karena masih hari pertama, kami menghindari makan di kafe yang lebih “mahal”, untuk menghemat uang jika nanti ada tempat jajan yang lebih pantas sesuai ulasan.

Karena Janis suka makan roti, kami putuskan membeli roti focaccia isi ayam Cajun, bayam, tomat, mayonais, mustard dan keju untuk dimakan bersama. Istri saya pesan yang sama dengan isi ayam Schnitzel. Rasanya enak, tidak terlalu tajam, seperti makanan-makanan berbasis roti lain. Cukup mengenyangkan bagi perut jetlag kami ini.

Hari pertama ini kami gunakan untuk menyesuaikan diri dengan waktu, membeli kartu Myki untuk transportasi umum dan stok jajanan di 7-11 terdekat. Tidak lupa juga mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak.

Setelah puas makan, kami pulang lagi ke apartemen dan tak heran, kami semua tertidur pulas dari jam dua sampai jam tujuh malam!

Bagaimana makan malam kami? Apa rencana kami di hari esoknya? Tunggu di artikel selanjutnya, ya!


Terdampar di Melbourne Cricket Ground

Kami tiba di Melbourne sekitar pukul tujuh pagi waktu lokal, atau sekitar pukul empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Janis yang tidur sepanjang perjalanan baru saja bangun sekitar 20 menit sebelum pendaratan. Menangis sedikit, tapi tetap pintar, ya Nak!

Begitu mendarat, kami langsung diwanti-wanti oleh pramugari untuk membersihkan dan membuang semua makanan yang dibawa, apalagi jika itu makanan segar, seperti nasi dan ikan bandeng yang kami bawa untuk Janis. Akhirnya, terpaksa kami buang, dan untungnya, ikan bandeng itu sudah agak bau. Karena khawatir diendus oleh anjing pelacak, kami juga terpaksa mencuci semua alat makan dengan sabun seadanya di toilet.

Menunggu di taman MCG
Halo Melbourne! Maafkan perut yang agak “offside“!

Antrian imigrasi berjalan lambat. Sekitar 50 orang ada di depan kami dan kami harus berpindah jalur ketika ada bagian yang dibuka. Sekitar 45 menit kemudian, kami lolos imigrasi. Syukurlah!

Kami sudah pesan shuttle bus ke kota, tapi kesulitan menemukan dan menelepon shuttle-nya. Lagipula, kami belum beli kartu telepon lokal, dan dengan antrian pembelian kartu telepon yang begitu panjang, kami terpaksa merelakan pesanan shuttle bus itu yang sudah “pakem” di jam tertentu. Akhirnya, kami pilih saja sembarang shuttle bus yang kiranya tersedia, dan langsung bayar di tempat. It worked. Kami memilih Starbus Shuttle dan biayanya sekitar A$18 pulang pergi untuk masing-masing dewasa, sedangkan anak kami karena masih di bawah 2 tahun, gratis.

unspecified-3
Kami mengantri untuk kartu sim ini selama 30 menit!

Bentuk shuttle-nya lucu, mobil dengan 9 tempat duduk lalu di belakangnya menarik wagon kecil tempat menaruh bagasi, jadi tidak mengambil tempat di dalam mobil. Seperti layaknya shuttle bus bandara, kami harus berkeliling mengantar tamu-tamu lain ke tempat penginapannya masing-masing.

Perjalanan dari bandara Tullamarine ke pusat kota Melbourne memakan waktu sekitar satu jam. Ternyata ada beberapa titik yang macet juga. Kami agak terburu-buru menuju penginapan Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne, karena sudah capek dan khawatir Janis butuh istirahat di tempat tidur.

Ini kali pertama kali kami ke Melbourne. Kotanya nyaman dan bersih, agak mendung ketika kami datang. Yang jelas, banyak taman dan hijau-hijau. Sekilas sangat walkable. Oh ya, untuk perjalanan kali ini kami memutuskan menyewa stroller City Mini (bukan yang GT) di BebaBaby, demi menghemat bawaan dan kenyamanan di jalan. Kami juga mengejar waktu karena rencananya stroller ini akan dikirim ke penginapan jam 12 siang, padahal jam menunjukkan jam 11:30 siang.

Kami tinggal di daerah Jolimont, tepat di seberang Melbourne Cricket Ground (MCG), stadium kriket terbesar di Melbourne. Lokasinya sangat strategis: tenang, di depan taman yang luas, namun tetap bisa jalan kaki ke sarana transportasi kereta.

Sekitar pukul 11:45 kami tiba di lokasi, namun apa daya, kami belum bisa masuk! Pemilik Airbnb mengatakan kami baru bisa check-in jam 3 sore. Kami bawa satu koper ukuran medium dan satu koper ukuran kecil. Bagaimana ini? Bagaimana membunuh waktu 3 jam, dalam keadaan belum mandi dan makan?

Pemilik Airbnb menyarankan kami ke stasiun Flinders St. atau Southern Cross, dua stasiun utama di pusat kota Melbourne, untuk menitipkan barang dan makan siang di sana. Tapi, jalan ke sana agak jauh dan kami agak malas dan capek.

Kami putuskan menunggu di taman, sambil menikmati suara burung dan angin semilir. Untungnya, cuaca sangat baik.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Apakah kami menunggu tiga jam di taman? Baca cerita selanjutnya, ya!


Perjalanan Menuju Melbourne Itu

Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh
Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh

Setelah sepuluh tahun menunggu dan menabung, akhirnya kami sekeluarga (saya, Lintang dan anak kami, Janis, yang berusia 11 bulan) bisa berangkat ke Australia, untuk menemui keluarga angkat saya yang berada di sana. Keluarga angkat saya ini tinggal di Newcastle, tetapi kami memutuskan untuk bertemu di Melbourne, karena saya bisa sambil bekerja (cuti saya habis) dan ada cabang kantor di sana, lalu kami juga ingin sekali ke Melbourne, yang katanya kota paling nyaman ditinggali sedunia.

Kami pergi dengan Singapore Airlines, setelah menimbang-nimbang antara itu dan Garuda Indonesia. Memang, Garuda Indonesia punya penerbangan langsung enam jam dan 30 menit, tetapi kami merasa lebih mantap dengan Singapore Airlines, dengan pesawat yang lebih bagus—menurut saya—Boeing 777-300ER dan pelayanan yang lebih atentif, dengan reputasi penanganan anak bayi yang lebih mantap. Benar saja, kami diperhatikan lebih baik karena membawa balita. Bassinet (tempat tidur bayi) dan makanan bayi pun dapat dipesan di situs webnya dengan mudah. Asuransi perjalanan juga disandingkan jadi satu dengan harga tiket, dengan harga terjangkau dan mencakup semua penumpang. Kebetulan, kami suka pakai AIG, dan kebetulan pula, Singapore Airlines juga menggunakan AIG. Memang jodoh.

Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam
Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam

Tak masalah juga bagi kami untuk transit dulu di Singapura, karena bandaranya sangat nyaman dan saya berkesempatan nostalgia karena sempat tinggal di sini tahun lalu. Lagipula, bisa bertemu dengan teman lama selama empat jam transit itu.

Bertemu teman kami di Singapura
Bertemu teman kami di Singapura

Perjalanan dimulai jam 10:00 pagi, walau penerbangan baru lepas landas pada pukul 14:00 siang. Ini untuk menghindari kemacetan yang tak terduga dari Pondokgede ke bandara. Sampai di bandara pukul 11:00 lebih sedikit, check-in dan langsung masuk ke ruang tunggu. Lebih enak menunggu di dalam daripada melihat kesemrawutan bandara Soekarno-Hatta di luar, apalagi kami membawa bayi.

Kami agak khawatir Janistra akan rewel selama di perjalanan. Tapi ternyata tidak terlalu. Kami sudah siapkan makanan dalam tempat kecil untuknya kalau-kalau dia lapar selama di bandara, dan untungnya, Janis juga mau makan makanan yang kami beli atau yang diberi di pesawat.

Benar saja, pengalaman terbang jauh pertama kali dengan bayi bersama Singapore Airlines sangat mengesankan. Hampir setiap pramugara dan pramugari menanyakan nama anak kami, dan selanjutnya memanggilnya dengan nama. Mereka juga langsung menawarkan untuk memasang bassinet sesaat setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan.

Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne
Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne

Transit di Singapura selama empat jam, kami sempatkan untuk keluar imigrasi dan bertemu teman kami di sana, Bady. Sengaja kami rencanakan transit yang agak lama agar Janistra bisa istirahat, bermain dan bersih-bersih badan. Kami juga bisa makan malam yang lebih enak. Tempat langganan saya di Changi adalah pujasera di Terminal 3, tapi kami kemudian pindah ke Heavenly Wang di area kedatangan Terminal 3 area keberangkatan.

Asyik berbicara dengan teman kami, tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan kami harus masuk ke area keberangkatan dan imigrasi untuk melanjutkan penerbangan ke Melbourne pada pukul 9 malam.

(Tulisan ini akan berlanjut di bagian berikutnya!)


24 Jam di Jakarta

Jakarta adalah tempat kelahiran saya, hometown, dan jadi kota pertama saya mulai bekerja dan sekarang, membina rumah tangga (walau secara teknis saya tinggal di Pondokgede, perbatasan Jakarta dan Bekasi). Sudah hampir delapan tahun blog ini ada, tapi saya belum pernah menulis tentang Jakarta. Ada sih, tapi lebih ke ulasan tentang buku mengenai Jakarta.

Saya punya hubungan benci tapi rindu dengan kota ini, seperti halnya kebanyakan penghuni Jakarta lain.

Benci, karena kacaunya tata kelola kota, menyebabkan penduduknya untuk mencari alternatif sendiri dalam menghidupi dirinya, sehingga menyebabkan banyak masalah. Secara umum, hidup di kota ini juga tak nyaman, karena mobilitas rendah dengan tingkat kenyamanan transportasi umum yang tak memadai. Bagi saya, sebuah kota menjadi nyaman ketika setiap individu dapat bergerak ke bagian mana pun di kota ini dengan nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Artinya, kenyamanan berjalan kaki dan sarana transportasi umum menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah kota. Itu susah didapatkan di Jakarta.

Rindu, ya, karena keluarga saya di sini, dan kenyamanan dari sisi lain juga ada: makanan, tempat tinggal, rasa dekat dengan bahasa dan budaya, dan lainnya. Di Jakarta jugalah, saya menemukan segudang kesempatan karir dan berkarya. Yang pasti, dengan kesemrawutan yang ada, Jakarta susah membuat anda bosan.

Ada tiga kata yang menurut saya menjadi karakter jakarta: spontanitas, survivalitas dan energi.

Saya sebenarnya malu juga jika dibilang tak punya rekomendasi tempat jalan-jalan di Jakarta, misalnya, jika ada tamu berkunjung. Namun, saya coba merangkumnya di bawah, tentunya ada kombinasi antara mal dan tempat-tempat lain di luar mal. Bagi saya, tak masalah suatu tempat ada di mal, karena yang penting adalah kualitas tempat itu sendiri. Mohon maaf, kebanyakan tempat-tempat ini adalah tempat makan dan nongkrong, karena itu yang saya suka.

Tjikini

Mungkin anda lelah dengan outlet kopi jaringan terkenal atau kopi hipster yang tak jelas konsepnya. Buat saya, warung kopi yang tidak terlalu pretensius selalu memikat. Salah satunya adalah Tjikini, di Jl. Cikini, tepat di seberang Menteng Huis. Memang, popularitasnya sudah mereda, karena memuncak sekitar dua tahun lalu. Namun, saya suka berkunjung ke sini karena lokasinya ada di ruko ala kolonial dengan ceiling yang tinggi dan tingkat kebisingan yang rendah di dalam walaupun terletak di pinggir jalan. Kuncinya ada di arsitektur dan kualitas bangunan yang kokoh dan kedap suara. Lokasinya juga strategis di pusat seni Jakarta, sehingga bisa menyusuri Cikini melewati Taman Ismail Marzuki.

Makanan favorit saya adalah kudapan Indonesia seperti pisang goreng, tempe goreng dan puteri singkong, tetapi juga menu utama seperit nasi rawon dan sup pindang bandeng.

Pilihan kopinya juga menarik dengan pilihan kopi Sumatera dipadu susu atau jahe. Pilihan tehnya cukup bervariasi mulai dari Goal Para, Rosela, Tjatoet sampai teh tradisional dengan tambahan rasa apel, blueberry, jahe, jeruk nipis, leci dan lainnya. Bahkan anda yang ingin bir pun dapat menikmatinya. Untuk penggemar pencuci mulut, ada es cendol, es cincau, es krim ragusa (dengan tambahan durian dan rum raisin), es buah segar, gula asam sampai sarsaparila.

Setelah puas minum kopi dan ngobrol, mampir ke toko roti Tan Ek Tjoan beberapa toko di sebelahnya untuk membawa pulang oleh-oleh roti buat keluarga.

Wahid Hasyim & H. Agus Salim/Sabang

Jika ada yang bertanya, “Kalau saya hanya punya waktu satu malam, apa yang harus saya lakukan di Jakarta?”, maka saya akan menjawab, “Pergilah ke Jl. Wahid Hasyim dan atau Jl. Sabang.” Di sini, semua yang anda butuhkan untuk “merasakan Jakarta”, ada. Paling tidak menurut saya. Lain cerita kalau anda mencari “yang lain-lain”…

Mau cari makanan pinggir jalan (street food), di sini banyak, atau di sekitarnya. Sate, bakso, nasi goreng, martabak, semua ada. Jalan kaki sepanjang jalan, atau naik bajaj berkeliling, tidak masalah.

Ingin yang sedikit lebih nyaman ala kafe atau restoran, juga ada. Kopi Oey yang terkenal itu, Sabang 16, Kedai Tiga Nyonya, Phoenam Coffee, semua ada di sekitar sini.

Oh ya, selagi di sini, menginaplah di Morrissey, hotel yang cukup strategis untuk menjelajah daerah ini. Mereka juga menyediakan bajaj gratis yang lebih bersih dan trendi untuk berkeliling. Rekomendasi kami pesanlah hotel ini melalui situs ini.

Art 1: Museum

Jakarta dan museum? Apakah mereka berjodoh? Apakah museum di Jakarta ada yang keren?

Menurut saya ada, salah satunya Museum Bank Indonesia. Tapi, selain itu, ada museum lain, dan ini adalah museum seni. Apakah penduduk Jakarta sempat menikmati berkesenian? Tentunya!

Museum modern yang cukup baru ini dikelola swasta dan berada di daerah yang cukup tidak diketahui bagi penikmat museum, di Jl. Rajawali Selatan Raya No. 3. Tepatnya, ada di dekat Jakarta Expo Kemayoran. Galerinya ada yang permanen dan ada yang temporer, menampilkan karya seni modern dan kontemporer.

Setiabudi One

Saya pergi ke mal besar karena nyaman untuk anak bayi saya. Itu saja. Selebihnya, ya berdasarkan kebutuhan dan keinginan, misalnya berbelanja atau makan sesuatu. Dulu, sih, nonton film. Sekarang masih sulit karena ada anak bayi.

Sejujurnya, saya lebih suka mal yang lebih kecil, yang lebih laid back, seperti Setiabudi One di Rasuna Said ini, kalau memang masih boleh dibilang mal.

Tidak ramai, tapi juga tidak senyaman mal, tapi siapa peduli? Di sini kita bisa makan, minum, belanja, olahraga dan nonton dalam sekali kunjungan. Ada kedai kopi baru dari Melbourne, St. Ali, yang juga semakin membuat tempat ini laris dikunjungi.

Lokasinya strategis, di daerah perkantoran Rasuna Said, tapi jauh dari mal kebanyakan, jadi rasanya seperti pergi ke kantor pada hari Sabtu dan Minggu. Sepi, rileks dan sempurna.

Pondok Indah

Anda suka berlari? Bukan, bukan lari dari kenyataan, tapi lari untuk badan yang sehat. Jika ya, beberapa pilihan yang tidak terlalu ramai ada di Jakarta. Salah satunya di lingkungan dalam Pondok Indah, di mana pohon masih rimbun dan jalanan masih besar dan tidak ramai angkutan. Berlari dan bersepeda di sini masih lumayan membuat rileks, udara juga relatif masih bersih. Kalau anda ingin berenang, coba juga Pondok Indah Waterpark, walau agak ramai sedikit. Ya, saya memang kurang suka tempat ramai.

Selesai berolahraga, sarapan dim sum di Lotus atau kafe-kafe di ruko Pondok Indah, asal tidak kebanyakan.

Sederhana, Lot 18, SCBD

Rumah Makan Sederhana ada di mana-mana di Jakarta, tapi satu yang jadi favorit saya: di Lot 18, SCBD. Menurut saya, rasanya relatif lebih enak dari yang lain. Entah mengapa. Mungkin tergantung kokinya? Pengelola franchise-nya? Entahlah.

Tempat ini ramai sekali pada hari kerja. Saya, sih, senang dendeng balado atau baraciak, juga ayam bakarnya.

Kopi Oey, Duren Tiga

Kopi Oey di Jalan H. Agus Salim (Sabang) adalah yang pertama, lalu merambah ke tempat-tempat lain. Secara pribadi, Kopi Oey favorit saya ada di Duren Tiga, di dekat Jl. Mampang Prapatan Raya. Kedai kopi ini awalnya ditubuhkan oleh Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia dan selebrita televisi. Konsepnya adalah kopitiam (warung kopi peranakan dari Malaysia dan Singapura), tapi dipadu dengan menu lokal Indonesia.

Menunya standar dan biasa saja, walau saya suka sego ireng dan teh tariknya. Namun, tempat di Duren Tiga ini cukup tenang, karena jalannya tidak dilalui banyak kendaraan, parkirnya cukup luas (jika membawa kendaraan) dan di belakangnya juga ada Umaku Sushi, jika anda masih lapar, dan tempatnya tersambung dengan Kopi Oey karena memang masih satu manajemen.

Vinna Cake

Lupakan tempat kue lain. Jika anda ingin merasakan “kuih-muih” Indonesia yang sangat bervariasi dengan harga yang lumayan murah, datangi Vinna Cake. Tempatnya cukup kecil, di belakang Hotel Amaris Panglima Polim, tepatnya di Jl. Sambas Raya 6. Dimiliki oleh Sutrisno yang sudah memulai bisnis ini sejak tahun 1998, Vinna Cake menawarkan 30 macam jenis kue, mulai dari kue tradisional seperti klepon, semar mendhem, kucur, sampai kue modern seperti kue lapis, brownies, bolu gulung dan lain sebagainya.

Turkuaz

Saya merekomendasikan tempat ini, walau bukan makanan atau minuman Indonesia, karena pengalaman positif saya di sini. Suatu ketika istri saya ingin makan makanan Turki, dan kami tak tahu tempat mana di Jakarta. Jangan bilang Doner Kebab, karena tentu saja itu tidak mencerminkan Turki yang sejati.

Akhirnya, pilihan jatuh di sebuah restoran di Jl. Gunawarman, Turkuaz. Makanannya cukup autentik karena pemilik dan chef-nya adalah orang Turki, Sezai Zorlu. Beliau sudah sejak 1999 bekerja di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia. Ia berasal dari Iskenderun, sebuah kota kecil di tenggara Turki, dan di sanalah ia membangun kecintaan pada dunia kuliner.

Kecintaannya ini membuahkan hasil dengan mendirikan restoran Turkuaz, dan bisa kita lihat di menunya dengan bahasa asli Turki. Namun demikian, jangan khawatir, nama-nama seperti Suzme Mercimek Corbasi, Zeytinyagli Humus, Sigara Boregi dan Tavuklu Muska Boregi semua dijelaskan komposisinya dalam bahasa Inggris.

Waktu saya berkunjung ke sana, chef Sezai Zorlu datang ke meja kami dan menanyakan sendiri bagaimana masakannya. Kami merasa dilayani oleh sang pilot sendiri!


Transit di Bandara Incheon

Salah satu kegiatan favorit saya ketika terbang adalah transit. Semakin lama transitnya, seringkali saya semakin senang. Bagi orang lain yang sedang terburu-buru mungkin ini menyebalkan, tapi buat saya, transit adalah bagian dari perjalanan dengan pesawat terbang yang patut dinikmati. Kapan lagi bisa berlama-lama di perjalanan? Kalau perjalanan kantor, biasanya saya buat sedemikian rupa hingga saya punya banyak waktu transit untuk rileks, jalan-jalan dan yang penting, karena itu perjalanan kantor, semua pengeluaran dibiayai kantor. Asyik, bukan?

Maka, ketika pergi ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu, saya menyempatkan berkesperimen dengan reservasi penerbangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil transit cukup lama (hingga 11 jam) di bandara Incheon, Korea Selatan. Ternyata, saya suka dengan bandara ini.

Hal pertama yang saya lakukan tentu adalah makan. Seperti bandara internasional yang megah di berbagai belahan dunia, tentu bandara Incheon juga memiliki banyak pilihan makanan. Harganya tentu saja tidak selalu bersahabat, tapi, buat saya yang dibayari waktu itu… tidak masalah. Berbagai pilihan pujasera, seperti Global Chow, Food Capital, Vita Via, Food Square, dan lain sebagainya, membuat saya bisa menikmati sedikit Korea Selatan walau tidak berkunjung ke Seoul. Harga-harganya cukup bersahabat dengan standar “harga bandara”. Satu porsi bi bim bap (secara harfiah berarti “nasi campur”) masih dalam kisaran 10.000 won, atau Rp87.700. Porsi ini memiliki lauk dasar tetapi bisa ditambahkan sajian pelengkap (ban chan). Tentu, ada makanan jenis lain, tidak hanya makanan Korea Selatan.

Jika sudah kenyang, kita bisa berjalan-jalan keliling bandara. Nah, ini tentu terkait dengan apakah kita sudah masuk ke aula keberangkatan atau belum. Jika dalam status transit, maka sebagai warga negara Indonesia, pilihan kita ada dua: keluar melalui imigrasi dengan visa transit yang gratis, lalu melihat-lihat bandara di luar, atau langsung masuk ke aula keberangkatan melalui proses transit internal, dan gerak kita terbatas di aula keberangkatan. Pilihan makanan pun terbatas. Tentunya, sebagai pelancong oportunis, bisa jadi saya akan lebih memilih keluar bandara, bahkan bisa mampir ke Seoul jika sempat.

Jika berada di aula keberangkatan dan tak sempat keluar, maka jangan sedih. Kita bisa tetap makan dan istirahat. Ada ruang istirahat di lantai atas yang terdiri dari banyak kursi malas dan sofa. Di dekatnya juga ada konter makanan dan minuman ringan untuk menyegarkan diri setelah istirahat. Jika ingin menghubungi keluarga, bisa mampir ke stasiun komputer terdekat untuk chatting dengan sanak keluarga. Ingin terhibur? Mampirlah ke ruang televisi. Karena waktu itu saya mempersiapkan diri untuk perjalanan paling tidak 10 jam lagi, maka saya sempatkan untuk mandi di tempat pemandian umum di dalam bandara. Jangan bayangkan pemandian umum ini kotor, ramai dan sesak. Tempatnya bersih, privasinya terjaga karena kita mendapatkan tempat mandi sendiri, lalu mendapatkan perlengkapan mandi mulai dari handuk, sikat gigi, pelembab kulit, sabun dan syampo. Tentu, ada harganya, ketika saya ke sana tahun 2011 tarifnya sekitar USD14.

Bagi yang membawa anak-anak, waktu saya datang ke sana, ada workshop budaya Korea di mana kita bisa belajar tentang seni rupa Korea, misalnya Korean fan painting (mengecat kipas Korea) atau belajar tari-tarian. Tentu, acara-acara seperti ini bersifat sementara dan justru menarik, karena tidak akan ada pengalaman yang sama ketika berkunjung. Selain itu, ada juga pameran budaya Korea yang sifatnya lebih semi-permanen, menampilkan hanbok (pakaian tradisional) atau khazanah budaya lain seperti lukisan dan artefak keramik.

Jika memang anda bukan tipe yang senang di bandara, maka tidak ada salahnya mencoba keluar bandara dengan visa transit. Kita tidak perlu membuat visa transit ini sebelumnya di Jakarta. Izin transit diberikan kepada berbagai warga negara, termasuk Indonesia, dengan durasi maksimum 30 hari asal kita bisa menunjukkan tiket terusan. Dengan visa transit ini, anda bebas ingin ke Seoul atau hanya berkeliling di sekitar kota Incheon yang terdekat.


« Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya »

© 2017 Ransel Kecil