Halaman ke-3 dari 30

Terdampar di Melbourne Cricket Ground

Kami tiba di Melbourne sekitar pukul tujuh pagi waktu lokal, atau sekitar pukul empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Janis yang tidur sepanjang perjalanan baru saja bangun sekitar 20 menit sebelum pendaratan. Menangis sedikit, tapi tetap pintar, ya Nak!

Begitu mendarat, kami langsung diwanti-wanti oleh pramugari untuk membersihkan dan membuang semua makanan yang dibawa, apalagi jika itu makanan segar, seperti nasi dan ikan bandeng yang kami bawa untuk Janis. Akhirnya, terpaksa kami buang, dan untungnya, ikan bandeng itu sudah agak bau. Karena khawatir diendus oleh anjing pelacak, kami juga terpaksa mencuci semua alat makan dengan sabun seadanya di toilet.

Menunggu di taman MCG
Halo Melbourne! Maafkan perut yang agak “offside“!

Antrian imigrasi berjalan lambat. Sekitar 50 orang ada di depan kami dan kami harus berpindah jalur ketika ada bagian yang dibuka. Sekitar 45 menit kemudian, kami lolos imigrasi. Syukurlah!

Kami sudah pesan shuttle bus ke kota, tapi kesulitan menemukan dan menelepon shuttle-nya. Lagipula, kami belum beli kartu telepon lokal, dan dengan antrian pembelian kartu telepon yang begitu panjang, kami terpaksa merelakan pesanan shuttle bus itu yang sudah “pakem” di jam tertentu. Akhirnya, kami pilih saja sembarang shuttle bus yang kiranya tersedia, dan langsung bayar di tempat. It worked. Kami memilih Starbus Shuttle dan biayanya sekitar A$18 pulang pergi untuk masing-masing dewasa, sedangkan anak kami karena masih di bawah 2 tahun, gratis.

unspecified-3
Kami mengantri untuk kartu sim ini selama 30 menit!

Bentuk shuttle-nya lucu, mobil dengan 9 tempat duduk lalu di belakangnya menarik wagon kecil tempat menaruh bagasi, jadi tidak mengambil tempat di dalam mobil. Seperti layaknya shuttle bus bandara, kami harus berkeliling mengantar tamu-tamu lain ke tempat penginapannya masing-masing.

Perjalanan dari bandara Tullamarine ke pusat kota Melbourne memakan waktu sekitar satu jam. Ternyata ada beberapa titik yang macet juga. Kami agak terburu-buru menuju penginapan Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne, karena sudah capek dan khawatir Janis butuh istirahat di tempat tidur.

Ini kali pertama kali kami ke Melbourne. Kotanya nyaman dan bersih, agak mendung ketika kami datang. Yang jelas, banyak taman dan hijau-hijau. Sekilas sangat walkable. Oh ya, untuk perjalanan kali ini kami memutuskan menyewa stroller City Mini (bukan yang GT) di BebaBaby, demi menghemat bawaan dan kenyamanan di jalan. Kami juga mengejar waktu karena rencananya stroller ini akan dikirim ke penginapan jam 12 siang, padahal jam menunjukkan jam 11:30 siang.

Kami tinggal di daerah Jolimont, tepat di seberang Melbourne Cricket Ground (MCG), stadium kriket terbesar di Melbourne. Lokasinya sangat strategis: tenang, di depan taman yang luas, namun tetap bisa jalan kaki ke sarana transportasi kereta.

Sekitar pukul 11:45 kami tiba di lokasi, namun apa daya, kami belum bisa masuk! Pemilik Airbnb mengatakan kami baru bisa check-in jam 3 sore. Kami bawa satu koper ukuran medium dan satu koper ukuran kecil. Bagaimana ini? Bagaimana membunuh waktu 3 jam, dalam keadaan belum mandi dan makan?

Pemilik Airbnb menyarankan kami ke stasiun Flinders St. atau Southern Cross, dua stasiun utama di pusat kota Melbourne, untuk menitipkan barang dan makan siang di sana. Tapi, jalan ke sana agak jauh dan kami agak malas dan capek.

Kami putuskan menunggu di taman, sambil menikmati suara burung dan angin semilir. Untungnya, cuaca sangat baik.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Apakah kami menunggu tiga jam di taman? Baca cerita selanjutnya, ya!


Perjalanan Menuju Melbourne Itu

Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh
Pengalaman pertama Janistra naik pesawat jarak jauh

Setelah sepuluh tahun menunggu dan menabung, akhirnya kami sekeluarga (saya, Lintang dan anak kami, Janis, yang berusia 11 bulan) bisa berangkat ke Australia, untuk menemui keluarga angkat saya yang berada di sana. Keluarga angkat saya ini tinggal di Newcastle, tetapi kami memutuskan untuk bertemu di Melbourne, karena saya bisa sambil bekerja (cuti saya habis) dan ada cabang kantor di sana, lalu kami juga ingin sekali ke Melbourne, yang katanya kota paling nyaman ditinggali sedunia.

Kami pergi dengan Singapore Airlines, setelah menimbang-nimbang antara itu dan Garuda Indonesia. Memang, Garuda Indonesia punya penerbangan langsung enam jam dan 30 menit, tetapi kami merasa lebih mantap dengan Singapore Airlines, dengan pesawat yang lebih bagus—menurut saya—Boeing 777-300ER dan pelayanan yang lebih atentif, dengan reputasi penanganan anak bayi yang lebih mantap. Benar saja, kami diperhatikan lebih baik karena membawa balita. Bassinet (tempat tidur bayi) dan makanan bayi pun dapat dipesan di situs webnya dengan mudah. Asuransi perjalanan juga disandingkan jadi satu dengan harga tiket, dengan harga terjangkau dan mencakup semua penumpang. Kebetulan, kami suka pakai AIG, dan kebetulan pula, Singapore Airlines juga menggunakan AIG. Memang jodoh.

Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam
Fasilitas bassinet yang sangat membantu bayi kami tidur selama 7 jam

Tak masalah juga bagi kami untuk transit dulu di Singapura, karena bandaranya sangat nyaman dan saya berkesempatan nostalgia karena sempat tinggal di sini tahun lalu. Lagipula, bisa bertemu dengan teman lama selama empat jam transit itu.

Bertemu teman kami di Singapura
Bertemu teman kami di Singapura

Perjalanan dimulai jam 10:00 pagi, walau penerbangan baru lepas landas pada pukul 14:00 siang. Ini untuk menghindari kemacetan yang tak terduga dari Pondokgede ke bandara. Sampai di bandara pukul 11:00 lebih sedikit, check-in dan langsung masuk ke ruang tunggu. Lebih enak menunggu di dalam daripada melihat kesemrawutan bandara Soekarno-Hatta di luar, apalagi kami membawa bayi.

Kami agak khawatir Janistra akan rewel selama di perjalanan. Tapi ternyata tidak terlalu. Kami sudah siapkan makanan dalam tempat kecil untuknya kalau-kalau dia lapar selama di bandara, dan untungnya, Janis juga mau makan makanan yang kami beli atau yang diberi di pesawat.

Benar saja, pengalaman terbang jauh pertama kali dengan bayi bersama Singapore Airlines sangat mengesankan. Hampir setiap pramugara dan pramugari menanyakan nama anak kami, dan selanjutnya memanggilnya dengan nama. Mereka juga langsung menawarkan untuk memasang bassinet sesaat setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan.

Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne
Menunggu penerbangan Singapore Airlines 227 ke Melbourne

Transit di Singapura selama empat jam, kami sempatkan untuk keluar imigrasi dan bertemu teman kami di sana, Bady. Sengaja kami rencanakan transit yang agak lama agar Janistra bisa istirahat, bermain dan bersih-bersih badan. Kami juga bisa makan malam yang lebih enak. Tempat langganan saya di Changi adalah pujasera di Terminal 3, tapi kami kemudian pindah ke Heavenly Wang di area kedatangan Terminal 3 area keberangkatan.

Asyik berbicara dengan teman kami, tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan kami harus masuk ke area keberangkatan dan imigrasi untuk melanjutkan penerbangan ke Melbourne pada pukul 9 malam.

(Tulisan ini akan berlanjut di bagian berikutnya!)


24 Jam di Jakarta

Jakarta adalah tempat kelahiran saya, hometown, dan jadi kota pertama saya mulai bekerja dan sekarang, membina rumah tangga (walau secara teknis saya tinggal di Pondokgede, perbatasan Jakarta dan Bekasi). Sudah hampir delapan tahun blog ini ada, tapi saya belum pernah menulis tentang Jakarta. Ada sih, tapi lebih ke ulasan tentang buku mengenai Jakarta.

Saya punya hubungan benci tapi rindu dengan kota ini, seperti halnya kebanyakan penghuni Jakarta lain.

Benci, karena kacaunya tata kelola kota, menyebabkan penduduknya untuk mencari alternatif sendiri dalam menghidupi dirinya, sehingga menyebabkan banyak masalah. Secara umum, hidup di kota ini juga tak nyaman, karena mobilitas rendah dengan tingkat kenyamanan transportasi umum yang tak memadai. Bagi saya, sebuah kota menjadi nyaman ketika setiap individu dapat bergerak ke bagian mana pun di kota ini dengan nyaman tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Artinya, kenyamanan berjalan kaki dan sarana transportasi umum menjadi tolok ukur kesuksesan sebuah kota. Itu susah didapatkan di Jakarta.

Rindu, ya, karena keluarga saya di sini, dan kenyamanan dari sisi lain juga ada: makanan, tempat tinggal, rasa dekat dengan bahasa dan budaya, dan lainnya. Di Jakarta jugalah, saya menemukan segudang kesempatan karir dan berkarya. Yang pasti, dengan kesemrawutan yang ada, Jakarta susah membuat anda bosan.

Ada tiga kata yang menurut saya menjadi karakter jakarta: spontanitas, survivalitas dan energi.

Saya sebenarnya malu juga jika dibilang tak punya rekomendasi tempat jalan-jalan di Jakarta, misalnya, jika ada tamu berkunjung. Namun, saya coba merangkumnya di bawah, tentunya ada kombinasi antara mal dan tempat-tempat lain di luar mal. Bagi saya, tak masalah suatu tempat ada di mal, karena yang penting adalah kualitas tempat itu sendiri. Mohon maaf, kebanyakan tempat-tempat ini adalah tempat makan dan nongkrong, karena itu yang saya suka.

Tjikini

Mungkin anda lelah dengan outlet kopi jaringan terkenal atau kopi hipster yang tak jelas konsepnya. Buat saya, warung kopi yang tidak terlalu pretensius selalu memikat. Salah satunya adalah Tjikini, di Jl. Cikini, tepat di seberang Menteng Huis. Memang, popularitasnya sudah mereda, karena memuncak sekitar dua tahun lalu. Namun, saya suka berkunjung ke sini karena lokasinya ada di ruko ala kolonial dengan ceiling yang tinggi dan tingkat kebisingan yang rendah di dalam walaupun terletak di pinggir jalan. Kuncinya ada di arsitektur dan kualitas bangunan yang kokoh dan kedap suara. Lokasinya juga strategis di pusat seni Jakarta, sehingga bisa menyusuri Cikini melewati Taman Ismail Marzuki.

Makanan favorit saya adalah kudapan Indonesia seperti pisang goreng, tempe goreng dan puteri singkong, tetapi juga menu utama seperit nasi rawon dan sup pindang bandeng.

Pilihan kopinya juga menarik dengan pilihan kopi Sumatera dipadu susu atau jahe. Pilihan tehnya cukup bervariasi mulai dari Goal Para, Rosela, Tjatoet sampai teh tradisional dengan tambahan rasa apel, blueberry, jahe, jeruk nipis, leci dan lainnya. Bahkan anda yang ingin bir pun dapat menikmatinya. Untuk penggemar pencuci mulut, ada es cendol, es cincau, es krim ragusa (dengan tambahan durian dan rum raisin), es buah segar, gula asam sampai sarsaparila.

Setelah puas minum kopi dan ngobrol, mampir ke toko roti Tan Ek Tjoan beberapa toko di sebelahnya untuk membawa pulang oleh-oleh roti buat keluarga.

Wahid Hasyim & H. Agus Salim/Sabang

Jika ada yang bertanya, “Kalau saya hanya punya waktu satu malam, apa yang harus saya lakukan di Jakarta?”, maka saya akan menjawab, “Pergilah ke Jl. Wahid Hasyim dan atau Jl. Sabang.” Di sini, semua yang anda butuhkan untuk “merasakan Jakarta”, ada. Paling tidak menurut saya. Lain cerita kalau anda mencari “yang lain-lain”…

Mau cari makanan pinggir jalan (street food), di sini banyak, atau di sekitarnya. Sate, bakso, nasi goreng, martabak, semua ada. Jalan kaki sepanjang jalan, atau naik bajaj berkeliling, tidak masalah.

Ingin yang sedikit lebih nyaman ala kafe atau restoran, juga ada. Kopi Oey yang terkenal itu, Sabang 16, Kedai Tiga Nyonya, Phoenam Coffee, semua ada di sekitar sini.

Oh ya, selagi di sini, menginaplah di Morrissey, hotel yang cukup strategis untuk menjelajah daerah ini. Mereka juga menyediakan bajaj gratis yang lebih bersih dan trendi untuk berkeliling. Rekomendasi kami pesanlah hotel ini melalui situs ini.

Art 1: Museum

Jakarta dan museum? Apakah mereka berjodoh? Apakah museum di Jakarta ada yang keren?

Menurut saya ada, salah satunya Museum Bank Indonesia. Tapi, selain itu, ada museum lain, dan ini adalah museum seni. Apakah penduduk Jakarta sempat menikmati berkesenian? Tentunya!

Museum modern yang cukup baru ini dikelola swasta dan berada di daerah yang cukup tidak diketahui bagi penikmat museum, di Jl. Rajawali Selatan Raya No. 3. Tepatnya, ada di dekat Jakarta Expo Kemayoran. Galerinya ada yang permanen dan ada yang temporer, menampilkan karya seni modern dan kontemporer.

Setiabudi One

Saya pergi ke mal besar karena nyaman untuk anak bayi saya. Itu saja. Selebihnya, ya berdasarkan kebutuhan dan keinginan, misalnya berbelanja atau makan sesuatu. Dulu, sih, nonton film. Sekarang masih sulit karena ada anak bayi.

Sejujurnya, saya lebih suka mal yang lebih kecil, yang lebih laid back, seperti Setiabudi One di Rasuna Said ini, kalau memang masih boleh dibilang mal.

Tidak ramai, tapi juga tidak senyaman mal, tapi siapa peduli? Di sini kita bisa makan, minum, belanja, olahraga dan nonton dalam sekali kunjungan. Ada kedai kopi baru dari Melbourne, St. Ali, yang juga semakin membuat tempat ini laris dikunjungi.

Lokasinya strategis, di daerah perkantoran Rasuna Said, tapi jauh dari mal kebanyakan, jadi rasanya seperti pergi ke kantor pada hari Sabtu dan Minggu. Sepi, rileks dan sempurna.

Pondok Indah

Anda suka berlari? Bukan, bukan lari dari kenyataan, tapi lari untuk badan yang sehat. Jika ya, beberapa pilihan yang tidak terlalu ramai ada di Jakarta. Salah satunya di lingkungan dalam Pondok Indah, di mana pohon masih rimbun dan jalanan masih besar dan tidak ramai angkutan. Berlari dan bersepeda di sini masih lumayan membuat rileks, udara juga relatif masih bersih. Kalau anda ingin berenang, coba juga Pondok Indah Waterpark, walau agak ramai sedikit. Ya, saya memang kurang suka tempat ramai.

Selesai berolahraga, sarapan dim sum di Lotus atau kafe-kafe di ruko Pondok Indah, asal tidak kebanyakan.

Sederhana, Lot 18, SCBD

Rumah Makan Sederhana ada di mana-mana di Jakarta, tapi satu yang jadi favorit saya: di Lot 18, SCBD. Menurut saya, rasanya relatif lebih enak dari yang lain. Entah mengapa. Mungkin tergantung kokinya? Pengelola franchise-nya? Entahlah.

Tempat ini ramai sekali pada hari kerja. Saya, sih, senang dendeng balado atau baraciak, juga ayam bakarnya.

Kopi Oey, Duren Tiga

Kopi Oey di Jalan H. Agus Salim (Sabang) adalah yang pertama, lalu merambah ke tempat-tempat lain. Secara pribadi, Kopi Oey favorit saya ada di Duren Tiga, di dekat Jl. Mampang Prapatan Raya. Kedai kopi ini awalnya ditubuhkan oleh Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia dan selebrita televisi. Konsepnya adalah kopitiam (warung kopi peranakan dari Malaysia dan Singapura), tapi dipadu dengan menu lokal Indonesia.

Menunya standar dan biasa saja, walau saya suka sego ireng dan teh tariknya. Namun, tempat di Duren Tiga ini cukup tenang, karena jalannya tidak dilalui banyak kendaraan, parkirnya cukup luas (jika membawa kendaraan) dan di belakangnya juga ada Umaku Sushi, jika anda masih lapar, dan tempatnya tersambung dengan Kopi Oey karena memang masih satu manajemen.

Vinna Cake

Lupakan tempat kue lain. Jika anda ingin merasakan “kuih-muih” Indonesia yang sangat bervariasi dengan harga yang lumayan murah, datangi Vinna Cake. Tempatnya cukup kecil, di belakang Hotel Amaris Panglima Polim, tepatnya di Jl. Sambas Raya 6. Dimiliki oleh Sutrisno yang sudah memulai bisnis ini sejak tahun 1998, Vinna Cake menawarkan 30 macam jenis kue, mulai dari kue tradisional seperti klepon, semar mendhem, kucur, sampai kue modern seperti kue lapis, brownies, bolu gulung dan lain sebagainya.

Turkuaz

Saya merekomendasikan tempat ini, walau bukan makanan atau minuman Indonesia, karena pengalaman positif saya di sini. Suatu ketika istri saya ingin makan makanan Turki, dan kami tak tahu tempat mana di Jakarta. Jangan bilang Doner Kebab, karena tentu saja itu tidak mencerminkan Turki yang sejati.

Akhirnya, pilihan jatuh di sebuah restoran di Jl. Gunawarman, Turkuaz. Makanannya cukup autentik karena pemilik dan chef-nya adalah orang Turki, Sezai Zorlu. Beliau sudah sejak 1999 bekerja di Indonesia, menikah dengan orang Indonesia. Ia berasal dari Iskenderun, sebuah kota kecil di tenggara Turki, dan di sanalah ia membangun kecintaan pada dunia kuliner.

Kecintaannya ini membuahkan hasil dengan mendirikan restoran Turkuaz, dan bisa kita lihat di menunya dengan bahasa asli Turki. Namun demikian, jangan khawatir, nama-nama seperti Suzme Mercimek Corbasi, Zeytinyagli Humus, Sigara Boregi dan Tavuklu Muska Boregi semua dijelaskan komposisinya dalam bahasa Inggris.

Waktu saya berkunjung ke sana, chef Sezai Zorlu datang ke meja kami dan menanyakan sendiri bagaimana masakannya. Kami merasa dilayani oleh sang pilot sendiri!


Transit di Bandara Incheon

Salah satu kegiatan favorit saya ketika terbang adalah transit. Semakin lama transitnya, seringkali saya semakin senang. Bagi orang lain yang sedang terburu-buru mungkin ini menyebalkan, tapi buat saya, transit adalah bagian dari perjalanan dengan pesawat terbang yang patut dinikmati. Kapan lagi bisa berlama-lama di perjalanan? Kalau perjalanan kantor, biasanya saya buat sedemikian rupa hingga saya punya banyak waktu transit untuk rileks, jalan-jalan dan yang penting, karena itu perjalanan kantor, semua pengeluaran dibiayai kantor. Asyik, bukan?

Maka, ketika pergi ke Amerika Serikat beberapa tahun lalu, saya menyempatkan berkesperimen dengan reservasi penerbangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil transit cukup lama (hingga 11 jam) di bandara Incheon, Korea Selatan. Ternyata, saya suka dengan bandara ini.

Hal pertama yang saya lakukan tentu adalah makan. Seperti bandara internasional yang megah di berbagai belahan dunia, tentu bandara Incheon juga memiliki banyak pilihan makanan. Harganya tentu saja tidak selalu bersahabat, tapi, buat saya yang dibayari waktu itu… tidak masalah. Berbagai pilihan pujasera, seperti Global Chow, Food Capital, Vita Via, Food Square, dan lain sebagainya, membuat saya bisa menikmati sedikit Korea Selatan walau tidak berkunjung ke Seoul. Harga-harganya cukup bersahabat dengan standar “harga bandara”. Satu porsi bi bim bap (secara harfiah berarti “nasi campur”) masih dalam kisaran 10.000 won, atau Rp87.700. Porsi ini memiliki lauk dasar tetapi bisa ditambahkan sajian pelengkap (ban chan). Tentu, ada makanan jenis lain, tidak hanya makanan Korea Selatan.

Jika sudah kenyang, kita bisa berjalan-jalan keliling bandara. Nah, ini tentu terkait dengan apakah kita sudah masuk ke aula keberangkatan atau belum. Jika dalam status transit, maka sebagai warga negara Indonesia, pilihan kita ada dua: keluar melalui imigrasi dengan visa transit yang gratis, lalu melihat-lihat bandara di luar, atau langsung masuk ke aula keberangkatan melalui proses transit internal, dan gerak kita terbatas di aula keberangkatan. Pilihan makanan pun terbatas. Tentunya, sebagai pelancong oportunis, bisa jadi saya akan lebih memilih keluar bandara, bahkan bisa mampir ke Seoul jika sempat.

Jika berada di aula keberangkatan dan tak sempat keluar, maka jangan sedih. Kita bisa tetap makan dan istirahat. Ada ruang istirahat di lantai atas yang terdiri dari banyak kursi malas dan sofa. Di dekatnya juga ada konter makanan dan minuman ringan untuk menyegarkan diri setelah istirahat. Jika ingin menghubungi keluarga, bisa mampir ke stasiun komputer terdekat untuk chatting dengan sanak keluarga. Ingin terhibur? Mampirlah ke ruang televisi. Karena waktu itu saya mempersiapkan diri untuk perjalanan paling tidak 10 jam lagi, maka saya sempatkan untuk mandi di tempat pemandian umum di dalam bandara. Jangan bayangkan pemandian umum ini kotor, ramai dan sesak. Tempatnya bersih, privasinya terjaga karena kita mendapatkan tempat mandi sendiri, lalu mendapatkan perlengkapan mandi mulai dari handuk, sikat gigi, pelembab kulit, sabun dan syampo. Tentu, ada harganya, ketika saya ke sana tahun 2011 tarifnya sekitar USD14.

Bagi yang membawa anak-anak, waktu saya datang ke sana, ada workshop budaya Korea di mana kita bisa belajar tentang seni rupa Korea, misalnya Korean fan painting (mengecat kipas Korea) atau belajar tari-tarian. Tentu, acara-acara seperti ini bersifat sementara dan justru menarik, karena tidak akan ada pengalaman yang sama ketika berkunjung. Selain itu, ada juga pameran budaya Korea yang sifatnya lebih semi-permanen, menampilkan hanbok (pakaian tradisional) atau khazanah budaya lain seperti lukisan dan artefak keramik.

Jika memang anda bukan tipe yang senang di bandara, maka tidak ada salahnya mencoba keluar bandara dengan visa transit. Kita tidak perlu membuat visa transit ini sebelumnya di Jakarta. Izin transit diberikan kepada berbagai warga negara, termasuk Indonesia, dengan durasi maksimum 30 hari asal kita bisa menunjukkan tiket terusan. Dengan visa transit ini, anda bebas ingin ke Seoul atau hanya berkeliling di sekitar kota Incheon yang terdekat.


Menjadi Pengguna Airbnb yang Baik

Menjadi Pengguna Airbnb yang Baik

Saya sudah tiga tahun terakhir jarang sekali menginap di hotel maupun hostel, dan selalu menggunakan Airbnb. Banyak manfaat dari Airbnb, jika dilakoni dengan cermat. Pertama, dengan harga yang mirip hotel maupun hostel, kita bisa mendapat kamar atau apartemen (bahkan rumah!) dengan kualitas yang sepadan atau lokasi dan fasilitas yang tepat di tempat kita mau. Yang kedua, kita bisa hidup seperti orang lokal dan menikmati rutinitas sehari-hari orang lokal. Ketiga, menjalin persahabatan baru dengan pemilik penginapan. Barangkali bisa jadi jodoh pula!

Namun, tetap waspada karena beberapa kasus melanda baik pemilik maupun pengguna Airbnb. Ada yang apartemennya diacak-acak setelah pesta ilegal, ada yang benar-benar hancur porak poranda, ada pengguna Airbnb yang meninggal karena kecelakaan ayunan di pohon (sehingga isu keselamatan mengemuka) dan beragam kasus lain. Sedikit dibanding jumlah pemesanan Airbnb sepanjang masa, tetapi dampaknya luar biasa ketika terjadi.

Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk mencari penginapan yang tidak hanya sedap dipandang foto-fotonya, tetapi juga melihat komentar dan reputasi. Kalau perlu, saya klarifikasi dulu kepada pemiliknya, dan mencoba berkomunikasi dengannya. Apakah pemiliknya berkomunikasi dengan baik dan cepat membalas? Apakah ia bisa berbahasa Inggris dengan lancar? Menurut saya komunikasi penting karena begitu ada masalah, pemiliknya-lah yang akan kita hubungi dulu. Ingat, foto cantik bisa menipu.

Saya juga lebih suka pemilik yang mau menerima dan menyambut tamunya secara langsung. Beberapa kali saya datang ke Airbnb dan hanya pembantunya yang menyambut, karena pemiliknya tinggal di tempat lain. Ini penting karena jika terjadi apa-apa, saya tahu benar berurusan dengan siapa. Selain itu, pengalaman menginap di Airbnb seharusnya adalah pengalaman autentik: bercakap-cakap dengan pemilik, mengetahui cerita pribadinya dan cerita tentang tempat yang saya inapi, dijamu seperti sahabat. Kalau tidak, apa bedanya dengan menginap di hotel dan hostel?

Sebagai tamu, jangan lupa pula untuk menghargai tempat dan pemilik. Jangan mengotorinya sembarangan dan tidak membersihkannya. Bersihkanlah dan kembalikan segalanya seperti semula ketika anda pergi. Jangan melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan menghancurkan reputasi pemilik tempat. Jangan meminta yang aneh-aneh seperti mengantarkan ke bandara kecuali ditawarkan. Walau semua benda yang ada di tempat menginap bisa anda nikmati, rawatlah seperti benda-benda itu milik sendiri. Tempat anda menginap adalah rumah kesayangan bagi pemiliknya.


Kelonggaran Visa Australia untuk WNI

Warga negara Indonesia akan mendapat kelapangan visa kunjungan Australia mulai 2016. Australia akan memberikan visa multiple entry dengan masa berlaku tiga tahun. Saat ini, visa tipe ini hanya diberikan untuk periode satu tahun. Mulai 2017, akan diberlakukan aplikasi online visa sehingga kita tak perlu lagi datang ke pusat aplikasi visa di Jakarta atau kota-kota lain.


Menapaki Sejarah di Hoi An

hoian_bangunantua

Ketika membaca tentang Hoi An di salah satu novel, saya jadi penasaran dan merencanakan perjalanan ke sana. Kota yang diakui UNESCO sebagai salah satu khazanah warisan dunia ini terletak di provinsi Quang Nam di bagian sentral Vietnam. Kota kecil berpenduduk 120.000 jiwa.

Walaupun menjadi kota turis, akses ke kota ini sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utara. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat.

Setelah riset sana-sini, akhirnya saya memutuskan naik kereta api ke Da Nang setelah perjalanan dari Hue, kota historis lain di utara kota itu. Dari Da Nang, berlanjut dengan taksi yang sudah saya pesan dari hotel di Hoi An, seharga 100.000 rupiah. Ada alternatif lebih murah yaitu dengan bis, yang hanya sekitar 8.000 rupiah untuk bis umum atau 40.000 rupiah untuk bis turis.

Sepanjang perjalanan singkat dari Da Nang ke Hoi An, saya melihat sebuah perkembangan pesisir yang pesat. Pemerintah tampaknya ingin menjadikan pesisir antara kedua kota ini sebagai pusat wisata pantai atau bahari. Beberapa hotel lokal dan internasional pun sedang dibangun. Jalanan cukup besar dan sepi.

hoian_museum

Hoi An memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Jangan bayangkan kota tua yang bernafas Eropa, Hoi An justru sangat bernafas Vietnam tradisional. Ia dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

hoian_pedagang01

hoian_pedagang02

Namun, jangan khawatir. Bagi anda pecinta sejarah, pasti suka dengan keadaan Hoi An sekarang. Memang, untuk setiap “perangkap turis”, atau “tourist trap“, selalu ada bagian-bagian yang berkembang sesuai keinginan pasar. Beruntung, pemerintah dan penobatan UNESCO tampaknya sedikit membantu merawat kota tua pada kondisi nostalgisnya.

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detil. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Dapat saya bayangkan dulu di jalan-jalan mungil ini ada pedagang keramik, pedagang gerobak yang menjajakan rempah-rempah, kuli pelabuhan, penjaja makanan atau majikan yang memarahi anak buahnya. Saat ini wajahnya sudah berubah, pedagang cinderamata mendominasi, menjajakan baju dan memorabilia Vietnam untuk berbagai usia, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Ruas jalan mungil memastikan mobil tidak bisa melaluinya dan saya pikir ini bagus. Tentu saja, penjaja makanan tetap ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Siap-siaplah untuk dipanggil masuk oleh pelayan restoran.

hoian_malam

Malam hari tak kalah dengan siang hari, justru lebih menarik. Lampu-lampu kecil dan lampion-lampion menghiasi seluruh penjuru Old Town, geliat pedagang dan penjaja makanan pun seolah tiada henti. Alunan tembang instrumental mengumandang dari pengeras-pengeras suara yang dipasang di bangunan-bangunan kota. Udaranya cukup sejuk.

Hoi An dipenuhi turis, jadi mungkin bagi mereka yang mencari ketenangan, di sini bukan tempatnya. Namun, bagi mereka yang senang dengan fotografi, sejarah dan melihat Vietnam dari sisi berbeda, Old Town di Hanoi cukup layak dikunjungi. Fotografi arsitektur menjadi tema utama. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah rumah toko (shophouse) kuno ala peranakan dan fotolah suasana jalan. Hati-hati dengan rendahnya langit-langit! Setelah itu, coba ke tepi sungai, atau bahkan naik perahu kecil untuk memotret pedagang buah di pinggiran.

hoian_sumbangan

Jalan-jalan ke Hoi An tergolong murah. Hotel yang cukup besar dan bersih hanya bertarif sekitar USD20 (Rp200.000) per malam, bisa diisi dua orang. Tentu, hotelnya bukan gedung yang besar, tapi hanya sebuah rumah toko. Berkeliling tak perlu kendaraan bermotor, kecuali anda ingin ekskursi lebih luas ke pantai di sekitarnya. Cukup jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD0.50 atau Rp5.000 per hari). Sewa sepeda motor, jika perlu, bertarif sekitar USD5 (Rp50.000) per hari.

Khusus di Old Town, yang menyerupai sebuah museum hidup, belilah tiket terusan tiga hari untuk masuk ke beberapa tempat atau properti yang diseleksi khusus karena signifikansi sejarahnya, antara lain rumah-rumah tua milik pedagang lama yang sekarang disewakan pemiliknya sebagai museum, jembatan dengan arsitektur Jepang, gedung pertemuan dan lain sebagainya. Tampak dari fasad arsitektur, kota ini sepertinya menjadi ruang lebur antara beberapa budaya, antara lain Vietnam, China, Jepang dan India.

Puas menikmati kota tua, hari lain kita bisa mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi dulunya pusat peribadatan raja-raja Cham, tidak besar tetapi memiliki sejarah penting, karena merupakan peninggalan masyarakat Cham yang konon berasal dari Kalimantan. Mereka berbahasa Malayo-Polynesia, yang artinya mirip dengan bahasa Melayu, Indonesia dan Tagalog. Sayang, beberapa candi dibom dalam Perang Vietnam.


Panduan Wisata Islandia

Thinglevir National Park

Alex Cornell melakukan perjalanan ke Islandia dan mendokumentasikannya dalam bentuk panduan wisata di majalah Gone.

  • Cara terbaik menikmati Islandia adalah dengan mobil berkeliling negara pulau ini. “The Ring Road” adalah jalan lingkar negara yang buka sepanjang tahun, dan dapat ditempuh non-stop selama 18 jam. Idealnya, kita habiskan waktu 8 – 14 hari berhenti dan menginap di sepanjang jalan. Waktu ideal road trip adalah bulan Mei – Agustus.
  • Islandia terkenal dengan Aurora Borealis (“The Northern Lights”). Idealnya anda pergi di musim dingin untuk menyaksikannya. Namun, musim panas juga menarik: anda bisa menyaksikan “senja abadi” dari jam 9 malam hingga jam 3 pagi.
  • Walau ada musim panas dan musim panas menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Islandia, perlu diwaspadai bahwa cuaca tidak menentu di negara ini. Terkadang cerah, terkadang berkabut, dan terkadang hujan. Pastikan anda selalu update soal cuaca.
  • Bawa variasi pakaian mulai dari kaos hingga jaket. Anda tidak tahu kapan cuaca bagus dan buruk.

Baca lebih lengkap lagi di sini.

Beberapa jalan bisa tiba-tiba ditutup

Bagi saya, Islandia adalah tujuan idaman dengan nuansa magis dan petualangan yang kental. Semoga suatu saat saya bisa ke sana.


Menikmati Warisan Kuliner di Jonker Street, Melaka

Melaka adalah kota kaya sejarah sekitar dua jam perjalanan dengan bis dari bandara internasional Kuala Lumpur, ke arah selatan. Bersama dengan Penang, dulunya Melaka menjadi tempat persinggahan pedagang. Hasilnya, kota ini menjadi lokasi strategis yang diperebutkan negara-negara Eropa. Beberapa gedung peninggalan Belanda (gedung-gedung di kompleks Stadhuys) dan Portugis (benteng Famosa) menjadi bukti jelas pengaruh kolonialisme. Di sisi lain Sungai Melaka, kita lihat pula kota tua Cina dengan rumah-rumah toko Cina Selat yang khas dan jalan-jalan serta gang-gang kecil. Di antaranya pula, ada kuil, mesjid dan vihara, menyiratkan perpaduan budaya dan agama yang kental dulu di sini.

Penjual "carrot cake" di Jonker Street

Sekarang, pusat kota Melaka yang bersejarah itu dikonservasi dan dijadikan atraksi bagi pejalan. Salah satu jalan utama di kota tua, yakni Jalan Hang Jebat, juga dijadikan atraksi kuliner setiap akhir pekan, antara lain pada malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin. Jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai jam enam sore hingga 10 malam. Dengan cepat pun jalan ini dipenuhi kios, meja, kursi dan gerobak makanan “dadakan”.

Puluhan penjaja makanan dan pernak-pernik lucu pun menghiasi senja.

Jalan ini lebih dikenal dengan nama lamanya, Jonker Street. Siang hari, kesibukan toko-toko di sekitarnya menarik perhatian para pengunjung. Malam hari, seolah ada kehidupan baru dari pedagang-pedagang spontan ini.

Kosongkan perut ketika datang ke sini. Mulai dari salah satu ujungnya, lalu nikmatilah berbagai sajian kuliner mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Tentu saja, ini adalah kiasan semata — karena tidak ada yang akan menghidangkan anda langsung. Andalah yang memilihnya dan nikmatilah di jalan sambil berdiri atau duduk (jika tersedia!).

Hidangan pembuka yang bisa dinikmati antara lain carrot cake, telur dadar kerang (oyster omelette), cumi bakar disate dan beraneka dim sum. Jangan salah artikan carrot cake sebagai kue manis berbahan dasar wortel. Lebih tepatnya, ia disebut chai tow kway. Bahan dasarnya lobak, dicampur tepung beras lalu digoreng dengan saus, bumbu dan garnish. Perhatikan cara masaknya yang serba cepat dan menggunakan wajan datar. Menarik! Setelah itu, carilah penjual telur dadar isi kerang. Bahan dasarnya hanya telur dan kerang, ditambah kecap asin dan daun bawang. Dimakan dengan kucuran jeruk nipis. Bukanlah opsi tersehat, tetapi tetap enak. Jika anda ingin yang lebih ringan, bisa mencoba aneka dim sum jalanan yang juga tak kalah nikmat dan tetap bersahabat di kantong. Kalau tertarik, anda juga bisa mencoba sate cumi bakar yang langsung dibakar dipinggir jalan. Hm!

Hidangan utama yang bisa dinikmati antara lain chicken rice ball dan nyonya assam laksa. Nasi ayam “bola” ini uniknya ada di nasinya yang dikepal menjadi bola-bola seukurang bola golf. Alkisah, dulu penjual nasi ayam ingin menjual nasi ayamnya ke buruh-buruh angkutan dan kelasi kapal yang tidak punya waktu untuk makan nasi dengan piring. Akhirnya, supaya praktis, dibuatlah nasi kepal bola-bola ini. Assam laksa adalah salah satu makanan khas yang terdiri dari kuah kaldu ikan, mi beras, daun ketumbar, kecombrang dan asam jawa, dan ditaburi potongan ikan.

Penjaja makanan di Jonker Street

Hidangan penutup yang bisa dinikmati antara lain es cendol durian, coconut shake, kue tart nanas dan durian puff. Sesuai namanya, es cendol durian adalah es bersantan yang berisi cendol (di Indonesia disebut dawet), gula merah dan ditambah potongan durian asli. Kue tar nanas sebenarnya adalah versi besar dari kue nastar yang kita tahu di Indonesia, tetapi nanasnya bisa lebih segar. Durian puff adalah hidangan penutup istimewa lain yang bisa dicoba — gulungan puff yang diisi esensi durian atau malah durian segar.

Bagi anda yang suka nongkrong sampai larut lewat jam 10 malam, jangan khawatir, ketika anda sudah selesai di Jonker Street, bisa mampir di beberapa kafe di sekitarnya yang buka sampai tengah malam.


Sepuluh Perintah Makan Sushi

Sushi Ten Commandments

Dalam “The Ten Commandments of Sushi“, Tom Downey bercerita tentang perjalanan kulinernya ke Jepang dan beliau menemukan beberapa “perintah” makan sushi, yang tidak kita temukan di Indonesia.

Antaranya yang saya suka:

1. “Makan penuh semestinya selesai dalam 10-15 menit.”
2. “Makan sushi untuk makan siang, bukan makan malam.”
3. “Sushi tidak hanya soal rasa, tapi juga indera penciuman.”
5. “Makan sushi dengan tangan, bukan dengan sumpit.”
9. “Jangan berbicara sambil makan sushi. Nikmati saja!”


« Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya »

© 2017 Ransel Kecil