Page 3 of 94

Kisah Pabrik Mentega dan Sungai Yarra

oleh

Kami bertiga tertidur pulas dari jam dua siang hingga jam tujuh malam pada hari pertama kami datang, karena kelelahan tidak tidur dalam perjalanan. Janis saja yang tidur. Akibatnya, kami sudah tak punya energi lagi untuk pergi jauh-jauh. Kami putuskan untuk di apartemen saja dan makan malam sushi dan nasi kari paket yang kami beli di 7-11 terdekat.

southern_cross_02

southern_cross_03

southern_cross_01
Penampakan stasiun Southern Cross, stasiun paling modern di Melbourne.

Hari kedua di Melbourne adalah hari kerja, dan saya memanfaatkan pagi hari untuk ke tempat co-working teman sejawat saya. Bahagianya bekerja di perusahaan saya yang sekarang, saya bisa meminta bekerja di luar kantor sesuai kebutuhan. Kebetulan, ada teman saya yang bekerja di Melbourne. Saya bertandang ke York Butter Factory, sebuah tempat co-working yang cukup hits. Bangunan tua masih terjaga dan tempat ini awalnya adalah pabrik mentega. Sekarang, ia menjadi tempat bekerja para “buruh digital” seperti saya.

melbourne_morning
Selamat pagi, Melbourne!

York Butter Factory
Penampakan York Butter Factory. Sumber gambar di sini.

Satu hal yang sangat patut dicontoh di Melbourne adalah usaha pemerintah dan masyarakat lokalnya untuk melestarikan bangunan tua, terutama di pusat kotanya. Menurut teman saya di sana, ketika ada pihak yang ingin mengubah fasad atau bagian kecil dari bangunan, proses perizinannya panjang, dan harus atas persetujuan tetangga-tetangganya pula.


Area Central Business District di Melbourne.

Karena masih jetlag, Janis dan istri saya masih tinggal di apartemen sampai siang hari. Kami berjanji untuk bertemu agak siang, atau agak sore. Akhirnya kami bertemu sore hari karena ternyata istri dan anak saya memang belum terbiasa dengan waktu lokal. Saya sudah beberapa kali mengalami jetlag yang lebih parah, jadi buat saya ini masih biasa saja.

station
Stasiun Jolimont.

train
Kereta datang di Stasiun Jolimont.

waiting_jolimont
Menunggu kereta di Stasiun Jolimont.

Oh ya, ini hari pertama saya mencoba naik kereta, dari stasiun Jolimont ke stasiun Southern Cross. Kemarin kami sempat mencoba tram, dari Jolimont ke Flinders St. untuk berbelanja di supermarket Coles. Hari ini giliran kereta. Jaraknya cukup dekat, hanya dua stasiun pemberhentian. Setelah itu, saya jalan kaki dua blok. Sekilas, Melbourne memang mirip San Francisco, tapi San Francisco lebih berbukit. Suhunya terhitung “pleasant“, tidak lembab (sehingga harus berhati-hati kekeringan kulit), dan matahari juga tak terlalu kuat.

Namun, Carol Calderwood, teman kami di Newcastle yang akan terbang juga ke Melbourne sore ini, mewanti-wanti bahwa Melbourne punya cuaca yang tak terprediksi. Terkadang bisa panas, terkadang hujan, terkadang mendung. Betul saja, sorenya hujan!

Selesai bekerja pada pukul empat sore, saya minta izin pada teman saya untuk pulang dan menemui Janis dan istri. Kami janji bertemu di stasiun Southern Cross. Setelah itu, kami punya rencana untuk bertemu keluarga Carol Calderwood yang baru mendarat di Melbourne. Kami berencana bertemu di National Gallery of Victoria (NGV), sekitar satu kilometer dari Southern Cross.

Kami putuskan untuk jalan kaki. Awalnya semangat, lalu ternyata menyadari bahwa jaraknya lumayan jauh!

Ternyata, itu keputusan yang benar. Karena kami dapat menyeberangi jembatan Queensbridge St. melintasi Sungai Yarra yang terkenal itu! Ketika senja, pula… Ah, indahnya!

queensbridge_shot
Janis dan Lintang di jembatan Queensbridge St.

yarra_01
Sungai Yarra di sore hari, menjelang senja.

yarra_02
Matahari senja di Sungai Yarra. Cantik, kan?

Keputusan terasa lebih tepat ketika kami sampai di Southbank Promenade, area pejalan kaki di pinggir Sungai Yarra. Saat itu, sedang ada banyak jajanan pinggir jalan dalam format food truck dan kios-kios kecil. Hari Jumat sore, ketika akhir minggu baru saja dimulai, dan penduduk Melbourne baru saja gajian. Ramainya minta ampun! Senang rasanya.

Sambil berjalan ke NGV, kami memutuskan untuk duduk sebentar menikmati berliner stroberi. Semilir angin sore dengan hujan rintik-rintik membuat segalanya semakin sempurna. Janis pun senang.

biggay_ice
Kios es krim Big Gay Ice Cream.

happy_girl
Si kecil bahagia!

Ketika kami akhirnya sampai di NGV, sedang ada pameran Andy Warhol. Tapi karena ada komitmen bertemu dengan teman kami dari Newcastle, niat itu urung kami wujudkan. Kami jalan kaki ke Queen Victoria Gardens sambil menunggu.

Tak lama kemudian, Carol menelepon dan akhirnya kami bertemu keluarga ini setelah 10 tahun lamanya tidak bertemu! Kami bertemu Carol, Miranda dan Eleanor. Suaminya, Bruce, terpaksa tinggal di Newcastle karena masih bekerja. Jillian, anaknya satu lagi, akan sampai malam nanti. Kemungkinan kami akan bertemu dengan Jillian besok.

queen_victoria_gardens_02

queen_victoria_gardens_03

queen_victoria_gardens_04

queen_victoria_gardens_01
Queen Victoria Gardens.

meet_carol
Bertemu ibu angkat kami sekaligus teman lama, Carol Calderwood.

Malam itu kami habiskan dengan jalan di taman dan makan di sebuah pub. Ya, kami membawa bayi ke pub — tapi pub ini ternyata ramah keluarga, kok. Bukan pub yang hingar-bingar dengan orang-orang yang mabuk-mabukan. Ternyata, mereka juga menyediakan kursi bayi.

Setelah puas makan malam dan bernostalgia dengan teman lama, kami pulang naik kereta dari stasiun Flinders St.

night_train
Menunggu kereta malam untuk pulang di Stasiun Flinders St.

pub_shot
Makan malam di pub Charles Dickens, Collins St.

Besok, kami akan berangkat melihat koala dan kangguru di Healesville Sanctuary, dua jam perjalanan dari kota! Tak sabar rasanya.

Si Turis Kecil Penggemar Focaccia

oleh

Si Kecil Penggemar Foccacia
Si Kecil Penggemar Foccacia.

Setelah diminta untuk menunggu selama tiga jam di Melbourne Cricket Ground (untungnya, taman di luar sangat luas dan nyaman), kami akhirnya ditelepon oleh pemilik Airbnb yang mengatakan kami sudah bisa masuk. Sepertinya, mereka kasihan dengan kondisi kami yang “melas”, baru datang dari penerbangan panjang dan membawa bayi. Syukurlah!

Kami pun masuk dan diinstruksikan untuk mengambil kunci di tempat rahasia di luar apartemennya.

Apartemen ini mungil, terdiri dari tiga lantai, dan kami berada di lantai dasar. Untunglah, karena ternyata tidak ada lif, dan kami juga membawa banyak barang. Apartemen studio di daerah Jolimont ini luasnya mungkin sekitar 30 meter persegi, dengan dapur tanpa sekat. Cukup buat kami bertiga selama sepuluh hari di Melbourne. Harganya sekitar A$110 per malam. Bagi kami, yang penting ada dapur, untuk membuat makanan si kecil. Ada microwave oven, kulkas, dan kompor, sudah cukup.

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne

Sudut Airbnb di Jolimont, East Melbourne
Sudut-sudut Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne.

Kami sempatkan mandi dan istirahat sebentar. Namun, karena khawatir ketiduran sampai malam, kami hanya istirahat sebentar dan segera keluar dalam waktu satu jam, sambil menunggu pengantaran stroller.

Stroller datang diantar oleh seorang bapak bernama Rob. Beliau menjelaskan cara mengoperasikannya, dan konfirmasi tanggal penjemputan, sekitar sembilan hari lagi.

Setelah semua siap, kami langsung keluar cari makan siang. Opsinya di mana saja, ya?

Ada beberapa opsi makanan seperti makanan India, Jepang dan Italia, dan keinginan untuk ke Flinders St. atau pusat kota sekalian, tetapi karena terlalu letih, kami akhirnya memutuskan beredar di sekitar apartemen saja, jalan kaki.

Daerah yang kami tinggali sangatlah nyaman dan sepi. Sebenarnya, kesan sepi ini kesan yang pasti didapat dari kami-kami yang biasa tinggal di Indonesia yang penuh keramaian. But really, it’s like a fresh blow of air.

Janis, Senyum Dong?
Janis, Senyum Dong?

Kami berjalan ke arah Fitzroy Garden. Fitzroy Garden adalah salah satu taman terbesar di Melbourne. Didirikan tahun 1848, luasnya mencapai 26 hektar, tepat membatasi Central Business District di sebelah timur. Anda bisa jalan kaki ke taman ini dari stasiun Parliament, salah satu stasiun dalam jalur looping kereta di Melbourne, atau berhenti di stasiun kereta Jolimont dan jalan kaki sebentar ke arah barat.

Fitzroy Garden
Halo, Fitzroy Garden! (Foto diambil di lain hari.)

Salah satu fitur utama di Fitzroy Garden adalah Cook’s Cottage, tempat tinggal orang tua James Cook, penjelajah asal Inggris yang menemukan pesisir timur Australia pada abad ke-17. Ada juga kafe spesialis sarapan KereKere Green, dan restoran yang lebih upscale bernama The Pavilion, jika anda ingin makan di tengah hijaunya taman dan berwarnanya bunga-bunga. Saya membayangkan, Syahrini pasti bisa menghabiskan setengah hari di sini.

Anak kami Janis senang sekali di atas stroller. Padahal, di Jakarta, Janis hampir tidak betah di atas stroller. Mungkin karena angin semilir dan udara yang lebih bersih? Tapi memang, suasana yang berbeda ketika melakukan perjalanan berpengaruh besar terhadap mood si kecil!

Ayo cari makan siang!
Ayo, cari makan siang!

Kami berjalan menyusuri Wellington Parade untuk fokus mencari makanan. Karena sudah lapar berat, kami langsung belok ke sebuah kafe kecil sederhana (bukan makanan padang). Karena masih hari pertama, kami menghindari makan di kafe yang lebih “mahal”, untuk menghemat uang jika nanti ada tempat jajan yang lebih pantas sesuai ulasan.

Karena Janis suka makan roti, kami putuskan membeli roti focaccia isi ayam Cajun, bayam, tomat, mayonais, mustard dan keju untuk dimakan bersama. Istri saya pesan yang sama dengan isi ayam Schnitzel. Rasanya enak, tidak terlalu tajam, seperti makanan-makanan berbasis roti lain. Cukup mengenyangkan bagi perut jetlag kami ini.

Hari pertama ini kami gunakan untuk menyesuaikan diri dengan waktu, membeli kartu Myki untuk transportasi umum dan stok jajanan di 7-11 terdekat. Tidak lupa juga mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak.

Setelah puas makan, kami pulang lagi ke apartemen dan tak heran, kami semua tertidur pulas dari jam dua sampai jam tujuh malam!

Bagaimana makan malam kami? Apa rencana kami di hari esoknya? Tunggu di artikel selanjutnya, ya!

Terdampar di Melbourne Cricket Ground

oleh

Kami tiba di Melbourne sekitar pukul tujuh pagi waktu lokal, atau sekitar pukul empat pagi waktu Indonesia bagian barat. Janis yang tidur sepanjang perjalanan baru saja bangun sekitar 20 menit sebelum pendaratan. Menangis sedikit, tapi tetap pintar, ya Nak!

Begitu mendarat, kami langsung diwanti-wanti oleh pramugari untuk membersihkan dan membuang semua makanan yang dibawa, apalagi jika itu makanan segar, seperti nasi dan ikan bandeng yang kami bawa untuk Janis. Akhirnya, terpaksa kami buang, dan untungnya, ikan bandeng itu sudah agak bau. Karena khawatir diendus oleh anjing pelacak, kami juga terpaksa mencuci semua alat makan dengan sabun seadanya di toilet.

Menunggu di taman MCG
Halo Melbourne! Maafkan perut yang agak “offside“!

Antrian imigrasi berjalan lambat. Sekitar 50 orang ada di depan kami dan kami harus berpindah jalur ketika ada bagian yang dibuka. Sekitar 45 menit kemudian, kami lolos imigrasi. Syukurlah!

Kami sudah pesan shuttle bus ke kota, tapi kesulitan menemukan dan menelepon shuttle-nya. Lagipula, kami belum beli kartu telepon lokal, dan dengan antrian pembelian kartu telepon yang begitu panjang, kami terpaksa merelakan pesanan shuttle bus itu yang sudah “pakem” di jam tertentu. Akhirnya, kami pilih saja sembarang shuttle bus yang kiranya tersedia, dan langsung bayar di tempat. It worked. Kami memilih Starbus Shuttle dan biayanya sekitar A$18 pulang pergi untuk masing-masing dewasa, sedangkan anak kami karena masih di bawah 2 tahun, gratis.

unspecified-3
Kami mengantri untuk kartu sim ini selama 30 menit!

Bentuk shuttle-nya lucu, mobil dengan 9 tempat duduk lalu di belakangnya menarik wagon kecil tempat menaruh bagasi, jadi tidak mengambil tempat di dalam mobil. Seperti layaknya shuttle bus bandara, kami harus berkeliling mengantar tamu-tamu lain ke tempat penginapannya masing-masing.

Perjalanan dari bandara Tullamarine ke pusat kota Melbourne memakan waktu sekitar satu jam. Ternyata ada beberapa titik yang macet juga. Kami agak terburu-buru menuju penginapan Airbnb kami di Jolimont, East Melbourne, karena sudah capek dan khawatir Janis butuh istirahat di tempat tidur.

Ini kali pertama kali kami ke Melbourne. Kotanya nyaman dan bersih, agak mendung ketika kami datang. Yang jelas, banyak taman dan hijau-hijau. Sekilas sangat walkable. Oh ya, untuk perjalanan kali ini kami memutuskan menyewa stroller City Mini (bukan yang GT) di BebaBaby, demi menghemat bawaan dan kenyamanan di jalan. Kami juga mengejar waktu karena rencananya stroller ini akan dikirim ke penginapan jam 12 siang, padahal jam menunjukkan jam 11:30 siang.

Kami tinggal di daerah Jolimont, tepat di seberang Melbourne Cricket Ground (MCG), stadium kriket terbesar di Melbourne. Lokasinya sangat strategis: tenang, di depan taman yang luas, namun tetap bisa jalan kaki ke sarana transportasi kereta.

Sekitar pukul 11:45 kami tiba di lokasi, namun apa daya, kami belum bisa masuk! Pemilik Airbnb mengatakan kami baru bisa check-in jam 3 sore. Kami bawa satu koper ukuran medium dan satu koper ukuran kecil. Bagaimana ini? Bagaimana membunuh waktu 3 jam, dalam keadaan belum mandi dan makan?

Pemilik Airbnb menyarankan kami ke stasiun Flinders St. atau Southern Cross, dua stasiun utama di pusat kota Melbourne, untuk menitipkan barang dan makan siang di sana. Tapi, jalan ke sana agak jauh dan kami agak malas dan capek.

Kami putuskan menunggu di taman, sambil menikmati suara burung dan angin semilir. Untungnya, cuaca sangat baik.

Bagaimana kelanjutan perjalanan kami? Apakah kami menunggu tiga jam di taman? Baca cerita selanjutnya, ya!