Halaman ke-2 dari 30

Perbedaan Berkelana Saat Sendiri dan Sesudah Berkeluarga


Berjalan di tepi Clarke Quay, Singapura

Dulu, ketika saya masih belum menikah, bepergian ke mana pun terasa lebih ringan, tetapi mungkin lebih kesepian. Kita dengan mudahnya membeli tiket (karena di situs pemesanan pesawat, biasanya sudah default untuk satu orang, berkemas untuk satu orang, dan menganggarkan semuanya untuk satu orang. Di perjalanan, bisa saja kita tidak makan atau ngemper di jalan. Tidak banyak yang dikhawatirkan.

Setelah berkeluarga, tentu semuanya berbeda. Bukan berarti tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi memang banyak hal yang harus dipertimbangkan pada saat merencanakan dan menjalani perjalanan itu sendiri. Positifnya, semua terasa lebih indah, karena hal-hal kecil menjadi lebih bermakna dan kita belajar mengapresiasi hidup lebih baik.

Oh ya, tentu saja, melakukan perjalanan ketika belum punya anak, dan sesudah punya anak, adalah dua spektrum yang berbeda jauh. Tanpa anak, mirip seperti pacaran, dan keputusan relatif lebih mudah dibuat. Tapi tentu saja, ego masing-masing bisa berperan lebih besar, sehingga rencana gagal juga bisa terjadi.

Berikut beberapa tips untuk menghadapi perjalanan ketika sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak.

Manusia berencana, situasilah yang menentukan

Kita bisa merencanakan segala sesuatu hingga detil ke menitnya, dan lokasinya, serta aktivitasnya, tetapi pada realitanya, situasi dan kondisi pada saat itulah yang menentukan. Misalnya, ketika kami berencana ingin pergi ke Philip Island di selatan kota Melbourne, semua tampak memungkinkan. Sampai pada hari-H di mana Janis, anak kami, tidak betah berada di kursi bayi di mobil di sana yang masih terlalu besar buatnya. Akibatnya, perjalanan itu kami batalkan. Rencana boleh dibuat, tapi lebih fleksibel-lah. Utamakan menikmati hal-hal yang ada di sekitar tanpa harus pergi jauh-jauh.

Lebih lama di satu tempat

Dulu, ketika single, saya ingin sapu jagat. Dua hari di kota A, satu hari di kota B, bahkan kadang dua kota untuk satu hari. Pokoknya, harus semuanya dapat. Buat apa sudah menabung banyak-banyak dan lama-lama tapi tidak melihat semuanya? Sekarang, semua berubah. Saya dan istri lebih banyak ingin menikmati suasana di satu kota atau satu tempat, selain karena tidak repot berkemas dan berpindah-pindah, juga dapat menikmati vibe satu kota.

Belajar apresiasi hal-hal kecil

Jika dulu kita lebih senang untuk mengejar tren, misalnya berkunjung ke tempat-tempat tertentu, mencoba makanan dan minuman tertentu, atau mengalami atraksi tertentu, maka saat ini kami dalam tahap dapat menikmati hal-hal kecil seperti jalan kaki dengan nyaman menghirup udara segar, mengamati orang-orang lalu-lalang, menyelami kehidupan di sebuah tempat seolah menjadi penghuni kota, berimajinasi lebih jauh: bagaimana kalau kita benar tinggal di sini? Lalu, berbahagia dengan apa yang ada dan yang lebih baik dari tempat asal. Atau, sekedar berbahagia bisa datang ke suatu tempat yang jauh setelah menabung berbulan-bulan.

Perlindungan perjalanan itu penting, jenderal!

Saya selalu rutin membeli asuransi perjalanan dengan coverage yang cukup baik. Bukan apa, jika terjadi apa-apa, dan biayanya banyak, tentu kita tak mau tabungan terkuras habis begitu saja, kan? Memang, kita keluar lebih banyak uang, tapi dengan jaminan yang membuat perjalanan kita lebih aman dan nyaman, tidak apa, kan? Anggaran yang saya keluarkan untuk keluarga biasanya Rp1-2 juta untuk asuransi perjalanan dengan durasi perjalanan 7-14 hari, tergantung dari produk asuransi yang Anda butuhkan. Biasanya saya menggunakan AIG, tapi saya juga ingin mencoba FWD dan WorldNomads. Beberapa asuransi juga melindungi perjalanan dari pembatalan misalnya karena sakit atau hal-hal mendadak lain dalam hidup, sampai puluhan ribu dolar Amerika.

Memilih penerbangan yang lebih nyaman

Jika melakukan perjalanan dengan bayi dan anak-anak yang lebih kecil, cobalah untuk berinvestasi sedikit dengan membeli tiket maskapai full-service dengan pelayanan prima. Anda tidak akan menyesal. Saya pernah beli tiket AirAsia dan tanpa membeli tambahan antrian cepatnya, saya barangkali harus mengantri panjang bersama penumpang lain, padahal saya membawa bayi yang waktu itu sedang rewel-rewelnya. It’s always good to splurge on flights.

Rumah vs. hotel

Menginap di rumah atau apartemen seperti model Airbnb atau HomeAway menjadi alternatif yang baik jika anda mengutamakan luas ruang dan fasilitas, tetapi bersiap untuk memasak dan membersihkan ruang sendiri. Saya biasanya menggunakan rumah atau apartemen karena tingkat privasi lebih tinggi dan beberapa host lebih bersahabat dari resepsionis hotel. Pada kasus lain, saya gunakan hotel jika saya merasa akses di sebuah tempat agak sulit, misalnya kendala bahasa, atau saya butuh fasilitas tambahan seperti sarapan pagi.

Belanja di tempat

Terkadang, belanja kebutuhan sehari-hari di tempat tujuan lebih masuk akal daripada membawa semuanya dari rumah. Misalnya, belanja toiletries atau makanan dan minuman untuk si kecil. Tentu saja, jangan lupa untuk menyiapkan makanan dan minuman si kecil selama di perjalanan pesawat, tapi secukupnya saja.


Buku-Buku Penginspirasi Perjalanan

Berikut beberapa buku yang dapat menginspirasi anda untuk melakukan perjalanan. Ketagihan tidak ditanggung, ya. Bukan, bukan “Eat, Pray, Love”, kok.

The Great Railway Bazaar oleh Paul Theroux

Paul Theroux adalah salah satu penulis perjalanan paling terkenal di dunia. Buku-bukunya menangkap esensi perjalanan dengan narasi yang jujur tetapi tetap imajinatif. Dalam buku ini, ia menceritakan tentang perjalananannya melalui kereta api di benua Asia, mulai dari The Orient Express di Singapura, Malaysia dan Thailand, Khyber Pass di Afganistan, Golden Arrow di Malaysia, Mandalay Express di Myanmar sampai Trans-Siberian Express yang membentang dari Cina, Mongolia sampai Rusia.

Istanbul oleh Orhan Pamuk

Siapa yang tidak tertarik pada Istanbul? Sejatinya, kota ini memang selalu dalam persimpangan, bahkan sejak dulu, jaman Kekaisaran Ottoman. Orhan Pamuk, seorang sastrawan terkemuka dari Turki, dilahirkan dan dibesarkan di Istanbul. Dalam buku ini, beliau menceritakan dan menggambarkan dengan detil dan menarik tentang semua sudut-sudut kota tempat ia dibesarkan. Tapi, tidak hanya itu, ia juga membumbuinya dengan cerita-cerita masa kecilnya, mulai dari hal-hal yang menyenangkan seperti makanan masa kecilnya, ketidaksukaannya pada beberapa aspek di keluarganya, sampai bagaimana kota ini membentuknya sebagai penulis. Jika ada tulisan yang “cantik dan menawan”, inilah hasilnya.

The Rice Mother oleh Rani Manicka


Saya tak pernah merasa jatuh cinta lebih besar pada Asia Tenggara, terutamanya Malaysia, sebelum membaca buku ini. Namun, fiksi yang berlatar belakang Malaysia dan Sri Lanka ini membuat saya lebih mengapresiasi detil-detil kultural dan kehidupan sehari-hari di ranah geografi yang lebih dekat dengan tempat saya dibesarkan: Indonesia dan Malaysia. Mulai dari detil-detil seperti kain, rumah, buah dan makanan lokal, sampai detil-detil sosiokultural seperti kebiasaan atau adat-istiadat. Semuanya diramu dalam fiksi tentang pubertas, pernikahan, pertikaian keluarga sampai konflik eksternal: penjajahan Jepang pada Perang Dunia II. Di sini, kita bisa melihat perjuangan seorang Lakshmi, gadis desa dari Sri Lanka yang pindah ke Malaysia karena pernikahan (yang agak dipaksakan). Melihat budaya dari sisi pendatang dan bagaimana pendatang itu berusaha dengan keras untuk berasimilasi, walau dengan konflik batin.

The Lonely Planet Story oleh Tony Wheeler dan Maureen Wheeler

Tidak banyak yang tahu tentang pendiri (atau istilah kerennya sekarang, founders) Lonely Planet, penerbit buku-buku panduan perjalanan. Adalah Tony Wheeler dan Maureen Wheeler, sepasang suami istri yang awalnya berasal dari Inggris, dan mengawali konsep backpacking dengan melakukan perjalanan darat dari Inggris ke Australia. Dari hasil perjalanannya ini, mereka memutuskan untuk membuat sebuah panduan perjalanan pertama di dunia, yang diberi judul “Across Asia on the Cheap“. Ternyata, edisi pertama laku keras. Mereka akhirnya “ketagihan” untuk menulis buku-buku lainnya, hingga pada akhirnya meminta penulis-penulis lain untuk berkontribusi dalam satu brand yang sama, yakni Lonely Planet.

Mereka memutuskan untuk berdomisili di Melbourne, Australia, dan beroperasi dari situ.

Di buku ini, mereka bercerita tidak hanya soal detil perjalanan lintas negara dari Inggris ke Australia melalui jalan darat, tetapi juga tentang motivasi bagaimana Lonely Planet lahir, serta apa visi dan misi mereka melalui publikasi ini.


Tempat-Tempat Ramah Anak Kecil di Singapura

Sebenarnya, agak bingung juga membuat daftar ini karena hampir semua tempat wisata atau tempat umum di Singapura itu ramah anak kecil. Bayangkan saja, setiap sudut ditata rapi, trotoar hampir selalu tidak putus, keamanan dan kenyamanan ruang publik selalu dijaga. Tapi, tentu saja kami suka bingung jika akhir pekan tiba, karena opsi-opsinya biasanya mal lagi, mal lagi. Syukurlah, tidak seperti ketika kami tinggal di Jakarta, untuk sekedar ngadem, tidak perlu ke mal. Berikut beberapa tempat yang sudah kami kunjungi, yang kiranya cocok untuk keluarga dengan anak kecil seperti kami.

Satu hal yang kami cari adalah ruang publik atau lokasi yang tidak terlalu ramai pengunjung, sehingga anak-anak pun lebih betah.

National Library

Terletak di Bugis, gedung perpustakaan pusat ini terdiri dari 16 lantai yang isi koleksinya bermacam-macam. Terdapat juga ruang kuliah dari beberapa universitas ternama. Tapi, yang paling penting, ada surga untuk anak-anak di lantai B1. Begitu masuk ke ruang perpustakaan pusat, carilah My Tree House, ruang buku dan bermain khusus anak-anak. Ruang ini sangat luas, dan ada replika rumah pohon di tengahnya, semuanya karpet, sehingga anak-anak bisa leluasa berlari-lari dengan membuka sepatunya. Orang tua pun senang dan adem ayem, sambil sesekali membacakan buku kepada anaknya.

Bandara Changi

Warga Singapura menganggap bandara kesayangannya sebagai sebuah destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Setiap ujung minggu, ada saja yang berkunjung hanya untuk makan, minum, belajar atau bermain. Ruang publik yang melimpah, opsi makanan dan belanja yang juga seperti mal, membuat bandara ini praktis menjadi tempat nyaman untuk menghabiskan waktu walau tidak terbang ke mana-mana. Di semua terminal terdapat ruang bermain anak yang tak kalah menarik dengan apa yang ada di mal, bahkan jauh lebih baik.

National Gallery

Atraksi baru ini terdapat di dekat MRT City Hall, tepat di depan Padang, lapangan besar yang menjadi saksi perayaan kemerdekaan tiap tahun. Baru saja diresmikan tahun 2015, museum seni ini memiliki ruang khusus anak-anak, yang bernama Keppel Center for Art Education. Di sini, ada bagian yang gratis, dan ada yang berbayar. Untuk yang gratis, ada ruang bermain dengan replika taman yang mengingatkan saya pada pesta teh di Alice in Wonderland. Untuk opsi berbayar, ada berbagai workshop menarik buat si kecil, tentunya bertema kesenian.

Stadium

Kami sekeluarga suka ruang terbuka, karena di sini si kecil bisa menyalurkan energinya secara bebas tanpa harus khawatir akan celaka atau mengganggu orang lain. Di Stadium, ada banyak ruang terbuka, mulai dari lingkaran untuk berlarinya di sekitar stadium—yang tertutup—sehingga bisa menghindari hujan, sampai di kawasan tepi airnya yang cukup luas. Ada juga taman air yang bisa digunakan jika anak anda ingin bermain air.

Changi Beach Park

Untuk opsi alternatif selain East Coast Park, bisa dicoba berkunjung ke Changi Beach Park, di timur Singapura dekat dengan bandara Changi. Ukurannya lebih kecil, tapi juga cukup leluasa untuk berjalan kaki. Yang menjadi sumber keramaian di sini adalah Changi Food Village, pujasera serba ada, tapi lumayan untuk mengisi perut ketika sudah lapar.

Kira-kira itulah tempat-tempat yang sudah kami kunjungi dan rekomendasi. Tentunya, ini bukan daftar yang definitif dan terbatas, nanti pasti kami perbaharui lagi.


Pindah ke Singapura

Hari pertama di Singapura

Mohon maaf karena kami sudah sangat sibuk akhir-akhir ini, untuk pindah ke Singapura. Ya! Kami sekeluarga akhirnya bisa merasakan hidup hijrah di luar negeri, walau hanya dekat, ke Singapura. Tapi, ini pengalaman yang luar biasa buat kami. Anak kami, Janis, yang baru berusia 1,5 tahun, ikut bersama kami.

Ketika tahu akan pindah ke Singapura, kami mulai mencari-cari apartemen. Pilihan pertama kali selalu ke Airbnb, lalu baru beberapa situs lokal seperti 99.co dan Nestia. Kami juga sempat melihat-lihat PropertyGuru. Tetapi, pilihan selalu jatuh pada properti yang ada di Airbnb. Menurut kami, properti-properti yang ada di Airbnb terasa lebih bersahabat dan bernada “selamat datang”. Properti yang ada di situs-situs khusus properti lebih bersifat berjualan, dan kami selalu was-was apakah kami akan diwajibkan membayar banyak hal. Trik kami, cari apartemen yang disewakan utuh, kelihatan biasa saja, dengan pemilik langsung yang profilnya baik dan bersahabat, lalu mencoba negosiasi sewa jangka panjang. It always worked like a charm.

Ada beberapa pilihan daerah yang kami inginkan di Singapura, walau sebenarnya hampir setiap daerah baik. Paling hanya masalah jarak. Tapi, bertahun-tahun tinggal di pinggiran di Bekasi dan Depok, lalu bekerja di Jakarta setiap hari pulang-pergi, tidak membuat kami goyah hanya karena dapat tempat tinggal jauh. Beberapa pilihan kami adalah Pasir Ris, Katong, Tanah Merah dan sekitar Botanic Gardens.

Taman di samping tempat tinggal kami

Pasir Ris, karena menurut kami daerah itu cukup ramah dengan keluarga, dan relatif masih murah, tetapi sangat jauh dari kantor. Tapi, dekat dengan bandara. Katong, karena saya pribadi senang dengan suasananya yang seperti Kemang, namun aksesnya agak nanggung dengan MRT, walau akses bis cukup banyak. Tanah Merah juga punya beberapa lokasi yang cukup mumpuni, tapi terlalu ramai buat saya karena daerah persinggungan. Botanic Gardens, karena daerahnya tenang, banyak penghijauan, tetapi mungkin agak mahal.

Ketika memilih, akhirnya pilihan jatuh pada Katong. Terutama karena dapat Airbnb yang bersahabat di sini. Sebuah kondominium tua yang masih terawat, dikelola oleh sebuah perusahaan keluarga yang memang memiliki tanah dan propertinya sejak bertahun-tahun. Saya merasa lebih percaya karena langsung berhubungan dengan salah satu anggota keluarga yang mengelolanya, dan lebih percaya karena mereka sudah mengelolanya paling tidak 20 tahun. Kami menemukan sebuah unit apartemen sederhana satu kamar dengan luas lebih kurang 90 meter persegi (total). Pikir saya, paling tidak ini cukup buat sekarang. Harga sewa per bulan sudah termasuk listrik, air dan gas (utility). Wah, ini terbaik buat lokasi dan luasnya. Memang, kami bisa mencari unit dua kamar yang lebih luas dengan harga seperti itu, terutama di pinggiran, tapi akhirnya kami memutuskan untuk di sini dulu, minimal setahun. Anak kami, Janis, juga masih kecil.

Yang jadi kekurangan adalah unit ini berada di lantai empat dan tidak ada lif. Artinya, kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari. Seminggu pertama sulit, tetapi setelah ditekuni, tidak begitu berarti. Kesulitan ini dikompensasi dengan fasilitas umum yang tersedia di dalam kondominium, seperti kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket dan area publik (rumput dan fasilitas bermain anak) di tengahnya yang dapat kami akses 24 jam. Selain itu, di sebelah kondominium terdapat taman umum yang juga cukup luas. Tak ada halaman rumah, tapi kami punya dua halaman besar! This is very important!

Syukur, ketika kami datang, walau belum ada seprei, ada beberapa perabot dan alat rumah tangga yang sudah dipersiapkan, seperti kulkas, mesin cuci dengan pengering, AC, sofa dan meja, meja makan dan kursi, jemuran, sampai ketel buat masak air. Alat makan seperti sendok, garpu, piring, mangkok dan gelas juga sudah ada walau sedikit. Hari pertama kami datang, kami hanya perlu membeli rice cooker.

Silakan tunggu cerita-cerita kami selanjutnya di Singapura (dan harapan besar kami, juga di perjalanan lain di luar Singapura dan Indonesia).


Melihat Terminal 3 Baru Cengkareng


Salah satu sisi keren di bandara ini adalah ketika keluar dari pesawat.

Dalam rangka perjalanan kerja, akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba Terminal 3 baru di bandara Soekarno-Hatta, atau yang lebih sering disebut sebagai Terminal 3 Ultimate. Sebenarnya saya agak kurang setuju dengan istilah ini, karena terlalu membesar-besarkan dan seolah sudah final. Bagi saya, bandara akan selalu diperbaiki, ditingkatkan. Tidak pernah selesai.


Hal yang saya kagumi dari bandara ini: langit-langit tinggi dan kaca-kaca besar.

Catatan ini diambil pada bulan September 2016, yaitu satu bulan sejak dibukanya Terminal 3 ini pada bulan Agustus 2016. Saya paham ada beberapa sudut yang mungkin belum optimal. Ada juga berita-berita yang menunjukkan betapa pembukaannya terkesan terburu-buru dengan segudang masalah. Ada soal banjir, ada soal plafon yang rubuh, ada yang soal kualitas bahan bangunan yang kualitas rendah. Saya juga dengar dari teman-teman, kondisinya memang belum siap, papan marka yang tidak ergonomis karena ukuran hurufnya kekecilan, alur yang aneh, dan lain sebagainya. Macam-macam, pokoknya. Hingga, pada akhirnya, saya mencoba sendiri.


Antrian di salah satu pintu.

Pada malam itu saya akan terbang ke Surabaya dengan Garuda Indonesia, satu-satunya maskapai yang beroperasi di Terminal 3 ini, untuk saat ini. Dengan jantung yang berdebar-debar, saya turun dari taksi di area keberangkatan Terminal 3. Kesan pertama, besar dan luas. Mewah? Tidak. Nyaman? Tidak juga. Lantainya seperti lantai ruko atau rumah tinggal. Beberapa pilar tampak seperti tidak selesai, mungkin maksudnya gaya ala “industrial”.


Beberapa sudut masih terlihat suram dan redup.

Ada pemeriksaaan keamanan sesaat setelah masuk di pintu utama mana pun. Ini mungkin mengantisipasi serangan-serangan teroris atau ancaman keamanan lain. Memang, dari teras depan sampai masuk tidak ada pengecekan kendaraan dan siapapun bisa masuk. Kesan pertama? Megah! Tapi agak redup dengan lampu-lampu yang sinarnya kurang merata. Dengan lampu sinar putih, kesan mewah dan nyaman tidak terasa. Seharusnya, jika mereka belajar dan ingin menyaingi Changi, belajar juga ilmu desain interior dan belajarlah bagaimana penerangan mempengaruhi mood para pengguna ruangan itu. Warna kekuningan dapat menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Karena itulah Changi cenderung seperti ini. Perhatikan saja.

Tapi, yang saya suka adalah langit-langitnya yang super tinggi. Dibandingkan dengan Terminal 1 dan 2, saya tidak merasa klaustrofobik di sini. Karena semua kaunter check-in adalah untuk Garuda Indonesia, saya bebas memilih di mana saja selain Business Class dan First Class. Hampir tidak ada antrian panjang. Hanya dua atau tiga orang di depan saya. Proses check-in pun dilakukan sempurna selama 10 menit saja termasuk menunggu antrian.


Mengintip sisi internasional yang belum selesai.

Setelah itu, saya kelaparan. Saya lihat opsi makanan dan minuman di sini masih sangat sedikit, terutama di ruang publik sebelum keberangkatan. Oh ya, lain dengan Terminal 1 atau 2, pengantar bisa bebas masuk ke ruang check-in dan makan minum di sini. Opsinya hanya kafe seperti Starbucks, Krispy Kreme, makanan Bali (kalau tidak salah ingat) dan beberapa kios kecil. Itu pun semua masih dalam skala kios kecil. Saya tak paham. Masih ada ruang luas di mana-mana tapi yang digunakan hanya kios-kios kecil. Menumpuklah semuanya di situ. Antrian mengular. Saya putuskan hanya beli donat saja buat makan malam.

Setelah itu, saya pergi ke ruang keberangkatan (air side). Saya harus melalui pemeriksaan keamanan. Tempatnya sungguh luas dan bisa memilih di mana saja. Saya suka bagian ini, karena sangat luas, bisa menghindari antrian-antrian mengular seperti di Terminal 1 atau 2.

Setelah berada di ruang keberangkatan, terkejutlah saya karena areanya jauh lebih besar lagi, ada mezzanine-nya juga. Opsi makanan dan tokonya juga lebih banyak, seperti Liberica, Eat and Eat To Go dan beberapa kios makanan nasi dan lauk. Ada Mothercare dan Periplus. Seperti mal pada umumnya. Ada beberapa gerai lain yang masih dipersiapkan. Yang saya lihat ada FamilyMart. Yang lain tidak tahu apa. Semoga cepat selesai dan buka, karena kami semua kelaparan dan kehausan.


Sesaat setelah pemeriksaan keamanan.

Satu hal lain yang saya suka juga adalah ketersediaan toilet yang sangat memadai, dan ada di setiap dua pintu. Di tempat yang sama pula terdapat ruang menyusui bagi ibu-ibu yang punya bayi. Bersih dan besar. Ada travelator yang membantu kita untuk lebih cepat di pintu tujuan (ya, walau masih digunakan untuk “berdiri santai” instead of jalan cepat). Ini juga kali pertama saya bisa bekerja di laptop dengan tenang karena banyak sekali sudut-sudut yang tenang. Bagi penikmat pesawat, pasti senang ada di sini karena tersedia tempat-tempat duduk yang menghadap ke jendela besar nan tinggi melihat pesawat-pesawat lalu lalang.


Tempat duduk yang lumayan keras tapi yang penting menghadap ke jendela.

Secara pribadi, saya lebih suka ruang air side ini, karena lebih tenang, luas dan akomodatif terhadap kebutuhan pejalan seperti saya, paling tidak pada saat ini ketika semua fasilitas belum siap secara merata. Yang bisa saya sarankan adalah, tetap, suasana menjadi redup ketika malam dan tidak nyaman karena memakai penerangan putih. Silau sekali melihatnya. Satu pintu juga masih ada tiga penerbangan dan antrian akan menumpuk sehingga membuat penerbangan yang terakhir menjadi tertunda 45 menit.

Ketika turun dari pesawat, di dalam garbarata juga sangat panas sekali, tidak ada pendingin udara.


Turun dari pesawat, di garbarata. Panas sekali di sini.


Di area pengambilan bagasi, masih ada pekerjaan seperti ini.

Satu hal lagi, saya melihat ada beberapa sudut dinding yang sudah berjamur, atau pekerjaan yang tidak rapi. Setengah-setengah. Tolonglah, ini bandara internasional.


Ada jamur di beberapa sisi dinding.

Tapi saya harus tetap mendukung ya? Nanti ada yang mengejek-ngejek saya tidak nasionalis…


Tentang Kopi

Tulisan ini adalah kontribusi dari Arif Widianto, sahabat kami sejak lama yang juga penginisiasi Ransel Kecil. Terima kasih, Mas Arif!

Biji kopi

Minum kopi akan selalu berbeda.

Saya kenal kopi ya kopi murni. Kopi sejati. Asli. Kopi racikan nenek saya.

Biji kopi mentah berwarna hijau itu dipanggang di atas wajan. Setelah itu biji kopi matang digiling halus. Kopi bubuk dimasukkan kaleng. Setiap hari, kakek dan nenek saya bisa bikin kopi asli seperti itu. Ada dua anak beruntung di rumah, saya dan adik, ya, kita boleh cicip kopi.

Kopi gaya orang Jawa biasanya ditambah gula. Manis. Kental. Kopi akan menghangatkan suasana pagi itu sebelum kakek pergi ke sawah. Atau sebelum nenek pergi ke pasar.

Ketika saya mulai bekerja, saat itu baru mulai budaya minum kopi instan.

Kopi bubuk instan, begitu awalnya. Urusan gula harus ditambah sendiri.

Kemudian ada yang membuat kopi susu. Saya ingat agak merasa aneh saat itu, kopi kok dicampur susu? Mana saya anak desa ini gak senang susu. Eh ternyata semua orang suka saja, termasuk saya. Laris.

Varian kopi instan pun beragam: kopi bubuk, kopi dan gula, kopi-susu-gula, kopi-gula-ginseng, kopi-gula-coklat, dan banyak macam lagi. Ada pula kopi instan dalam kaleng, kopi instan botol plastik. Dengan aneka rasa.

Orang kemudian mengenal kopi dingin. Sebelumnya, kopi itu selalu panas.

Semua yang serba instan mungkin dibuat untuk membuat segalanya gampang. Bahkan untuk urusan kopi.

Tak terasa, setelah puluhan tahun, setelah merasuki jutaan rumah, ratusan juta cangkir, milyaran tegukan, kopi instan sudah menjadi budaya.

Gemerisik bungkus plastik. Tinggal sobek. Tuang air panas. Aduk. Jadilah, kopi instan. Kopinya kita, hingga beberapa saat kemudian…

Budaya instan kemudian menghadirkan kedai kopi. Ada kedai kopi murahan hingga kedai kopi mahal.

Kedai kopi bisa hadir dalam bentuk waralaba kedai yang tertata rapi dan cantik di pojok perempatan di depan Sarinah. Kedai kopi bisa maujud dalam remang-remang berbau busuk got dan semerbak sampah di pinggir terminal Pulogadung.

Bersyukurlah Anda yang pernah menikmati kedua sensasi kedai kopi macam itu. Itulah kehidupan. Kehidupan bisa dikenal dari secangkir kopi setiap orang.

Saya lupa berapa kali minum kopi di warung yang menyajikan kopi bungkus seperti itu. Tak terhitung. Semua itu membawa kenangan tersendiri.

Ada saat tengah malam nongkrong makan Indomie telor bersama kawan-kawan kos di Pasar Cideng.

Ada juga saat ketika di Jakarta tak ada angkutan dan mobil di jalan raya. Hanya lalu lalang mobil tentara, ambulan, dan bunyi sirine. Bahkan saya pun bisa berdiri di tengah jalan Thamrin saking sepinya. Tapi masih ada saja penjaja kopi beredar di jalanan. Dari mereka lah dahaga kopi terpuaskan.

Juga ketika saya terjebak di Terminal Tirtonadi Solo dalam perjalanan ke Jombang menumpang bus. Tak ada bus ke Jawa Timur karena jalan rusuh oleh pendukung Bu Mega yang gagal terpilih jadi presiden. Kopi di terminal mengingatkan saya kejadian ketika saya harus balik lagi naik bus ke Jakarta.

Kopi memang kawan yang tepat untuk saat menunggu.

Jadi ingat pula saat minum kopi berdua saat bersama pacar yang kemudian jadi ibunya anak-anak.

Kopi menciptakan kenangan. Atau kenangan tercipta karena kopi?

Hingga kemudian, saya, dan juga banyak orang lain, kembali ingat bahwa negara ini ada produsen kopi berkualitas.

Kalau kita punya kopi berkualitas, kenapa kita hanya merasakan gula berasa kopi? Karena saking manisnya. Atau kenapa pula hanya puas dengan kopi berasa jagung? Meski sudah diberi banyak tulisan tentang “murni”, “asli”, dll.

Hanya dari kedai kopi lah kita berharap bisa mendapat kopi bermutu. Ya, memang tidak semua kedai kopi. Mayoritas kedai kecil menjual kopi instan. Tapi saya pernah mencicipi kopi asli, khas, kuat, diracik secara tubruk di sebuah kedai pinggir jalan di sebuah kota kecil (lupa di mana!). Beberapa kedai kopi mahal menyajikan varian kopi berkualitas dari lokal hingga asing.

Eh, omong-omong kopi mahal, kopi mahal pertama saya cicipi di kota Las Vegas.

Saya pernah berlagak demikian. Jadi tuan berkantong tebal minum kopi di kedai mahal. Tidak sepenuhnya ingin berlagak sih, tapi keadaan memaksa demikian.

Saya baru kenalan dengan anak Venezuela ini. Saat itu saya tak bisa tidur karena jetlag. Tampaknya dia juga demikian, entah karena apa. Saat itu sudah lewat tengah malam. Kami ketemu di tengah jalan, dan kebetulan ada kedai kopi itu, Saya ajak kawan ini. Perlente dan ganteng anaknya. Hush, jangan curiga macam-macam. Bayangkan Marlon Brando muda ketemu Rano Karno muda, kira-kira begitulah wajah dua orang di kedai itu, tak bisa dibayangkan…

Kami berdua dari negara miskin. Wajar dong sekali-kali ngopi, di Amerika lagi. Ingat pesan istri saya ini, kalau ingin merasakan kemewahan memuaskan mulut dan perut, cicipi makanan atau minuman di tempat makanan itu berasal. Ingin sushi, ya nanti makan di Jepang. Ingin kopi Starbucks, jadi wajar dong di Amerika. Begitulah argumentasi pikiran saya.

Saya bayar $4 untuk secangkir kopi hangat di kedai berlogo hijau itu. Saya kira relatif tidak mahal kalau makanan cepat saji pun dijual seharga $7-$10. Hampir tiap hari makan di restoran cepat saji, sebab itu makanan termurah. Tidak ada warung pojok yang jual nasi bungkus di negeri Amerika. Harga kopi itu relatif murah. Relatif untuk situasi saat itu.

Itulah kopi pertama saya di Starbucks. Bahkan saya lupa bagaimana rasa kopinya.

Secangkir kopi

Kedai kopi yang awalnya murni urusan jual beli kopi, saat ini jadi ranah publik. Tempat untuk bertemu dan bikin janji. Mungkin itulah mereka berani jual lebih mahal.

Kopi instan dan kedia kopi menawarkan budaya instan. Segala yang instan awalnya dibuat sebagai pengganti. Bila bepergian, kita pasti repot bila harus membuat kopi sendiri, maka dibuatlah kopi instan seperti itu. Ironisnya, budaya kopi instan justru menjadi gaya minum kopi massif. Hingga gaya ngopi di rumah pun menjadi budaya kopi instan. Industri punya peran besar dalam hal ini. Tak tak sepenuhnya salah mereka. Kita sendiri yang terlalu terlena. Atau kita sendiri juga menikmatinya.

Konyolnya, produk kopi instan dari dua perusahaan kopi terbesar di Indonesia saat ini sudah menyasar pasar negara lain seperti Malaysia dan bahkan higga Afrika sana.

Tapi jangan lupa, negeri kita mempunya kopi berkualitas. Beragam varian rasa dari seluruh nusantara. Ragam kopi ini, bila dibikin sendiri di rumah, seperti yang dilakukan nenek saya dulu, pasti jadi pengalaman minum kopi tak terlupakan dan tidak mahal.

Kopi Arabika 1.000 gram berkualitas cukup bagus bisa kita beli seharga Rp120.000, termasuk ongkos kirim. Bila dicampur kopi Robusta lokal, biaya itu bisa lebih murah lagi. Katakanlah kita memakai 8 gram biji kopi untuk satu cangkir, sejumlah kopi tadi cukup untuk membuat sekitar 125 cangkir. Ingat 8 gram kopi bisa jadi sudah terlalu “kuat” bagi sebagian orang. Jika satu bungkus kopi instan dijual seharga paling murah Rp1.000, maka kita perlu dana Rp 125.000 untuk membuat 125 cangkir kopi. Di luar gula, bila kita memang suka, dana yang kita keluarkan hampir sama. Anda bisa mencicipi aneka kopi dari Aceh, Jawa, Toraja, Papua, Flores, dan lain-lain. Dengan kualitas dan rasa yang jauh berbeda!

Ada kopi yang pahitnya minta ampun. Ada yang diselingi asam menyakitkan perut, bila Anda tak cocok. Ada pula aneka rasa buah-buahan, coklat, juga aroma sekitar kopi yang bisa masuk ke rasa kopi. Bahkan ada satu jenis kopi asing dari Afrika yang punya tiga rasa berbeda ketika baru masuk mulut, ketika kita hisap di dalam rongga mulut, dan setelah kopi masuk tenggorokan. Sensasi ngopi tak akan sama.

Ah, membahas kopi aja jadi panjang lebar begini. Tapi membahas kopi rasanya tak akan pernah selesai.

Karena terkenalnya kopi sebagai minuman kaum muslim, Paus Pope Clement VIII konon ditekan sejawatnya untuk mendeklarasikan sebagai “Temuan Pahit Setan”. Setelah mencicipinya, konon katanya Paus berkata, “Minuman setan ini begitu lezat. Kita harus mencurangi Setan dengan membaptisnya”. Hehehe, ada-ada saja, anggap saja cerita hiburan.

Kita pergi ke kedai kopi bila memang ada keperluan. Atau, bila suasana tidak mendukung dan perlu tendangan kafein, kadang bikin kopi instan juga tak masalah. Lalu ingatlah saat-saat memilih varian kopi, suara gilingan menghancurkan biji kopi, menunggu tetesan air panas merayu bubuk kopi agar menyumbangkan aroma dan rasanya, hingga kemudian siap satu cangkir kopi hitam. Kemudian saat duduk sendiri, bersama kawan, atau bersama orang yang kita cintai, masuknya rasa pahit, asam, aroma rempah, buah-buahan, coklat, dan ragam rasa lainnya merasuk ke dalam otak kita. Seolah ingin mengatakan dunia begitu berwarna. Pahit, memang. Tapi kita akan selalu menikmatinya.

Pada akhirnya minum kopi adalah merasakan pengalaman yang berbeda.


Bunga Rampai: Nostalgia Penuh Rasa

Bagian belakang yang menawan
Bagian belakang yang menawan.

Sabtu kemarin kami akhirnya mencoba makan siang di Bunga Rampai, rumah makan fine dining dengan spesialisasi menu Indonesia di bilangan Menteng, tepatnya di depan Jakarta Eye Center (JEC). Tempatnya dari luar sungguh penuh nostalgia: rumah klasik dari era kolonial, kami perkirakan, bentuknya hanya sedikit berubah setelah direnovasi. Barangkali, dulu rumah ini adalah tempat tinggal para ningrat atau pegawai Belanda.

Ketika kami datang pukul 11 pagi, parkir masih sepi. Tentu saja, tinggal di Jakarta, parkiran selalu menjadi masalah. Untung saja pada hari itu kami naik Uber, karena mobil lagi di-servis.

Janis tampak sangat menikmati area yang luas!
Janis tampak sangat menikmati area yang luas!

Ketika masuk, suasana dalamnya luar biasa nyaman dan cantik. Tidak pretensius sama sekali, seperti beberapa restoran yang mengaku Indonesia, tapi interiornya sedikit memaksa dengan menambah sangkar burung atau pintu gebyok di sudutnya. Tidak, Bunga Rampai tidak seperti itu. Cantik, elegan dan tidak berusaha menjadi Indonesia. Biasa saja. Ada elemen klasik Eropa di sana-sini. Bersih mengkilat. Pendingin udara yang merata sejuknya membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk berbincang-bincang.

Sajian menu di sini sangat bervariasi. Kami sampai bingung dibuatnya. Seperti restoran fine dining lain, selalu ada appetizer, main course dan dessert, tetapi, lebih dari itu, ada juga kategori spesifik lain seperti sajian berbasis nasi, sajian berbasis mi, salad, daging, poultry, ikan sampai specialty.

Elegan, tanpa memaksakan diri
Elegan, tanpa memaksakan diri.

Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang
Area "patio" yang sudah ditutup dan dilengkapi pendingin, tapi tetap terang.

Nama-nama sajiannya pun menggugah kenangan dan selera makan secara bersamaan. Siapa yang tidak akan tertarik dengan “Putik Sari Dua Rasa”, “Sate Sekar Sari” atau “Sekoteng Anggrek Bulan”? Tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap terdengar cantik.

Beberapa makanan yang kami coba
Beberapa makanan yang kami coba.

Harganya terhitung mahal, tetapi untuk kunjungan beberapa bulan sekali atau setahun sekali dengan keluarga, semua jadi terbayar. Terima kasih, Bunga Rampai. Semoga kau tetap bisa merangkai warisan kuliner Indonesia sampai kapan pun.


Mengurus SIM Internasional

Ketika berkunjung ke Australia awal tahun ini, saya sedikit menyesal karena tidak mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi) internasional, sehingga bisa menyewa mobil sendiri dan menyetir sendiri, walau sebenarnya bisa melegalisir SIM Indonesia di konsulat. Tapi, sayangnya, waktu agak mepet pada saat itu.

Setelah pulang, saya berpikir, mari bersiap-siap mana tahu bisa ke luar negeri lagi dan harus menyetir (seperti, misalnya, ke Islandia).

Akhirnya, berbekal nekat dan informasi dari blog orang lain, saya pergi ke Korlantas Polri di Jl. MT. Haryono, Tebet, Jakarta Selatan. Karena tidak yakin ada tempat parkir, saya ke sana dengan transportasi umum.

Sesampainya di sana, sekitar pukul jam 8 pagi, saya langsung bertanya ke polisi yang bertugas di pos di depan, “Di mana tempat mengurus SIM internasional, Pak?”

“Bapak lurus saja sampai ke dalam, nanti ada mesjid, sebelah kirinya.”

Saya berharap semoga Bapaknya tidak melihat saya sebagai ahli neraka dan menyuruh saya bertaubat.

Ternyata benar, ada mesjid, tapi tempat pengurusan SIM internasional sebenarnya ada di dalam kompleks NTMC (National Traffic Management Center), tempat di mana polisi memonitor lalu lintas Jakarta dan sekitarnya melalui kamera pengintai yang dipasang di pinggir-pinggir jalan.

Ketika saya datang, kantor pengurusan SIM internasional belum buka. Kantornya baru buka pukul 08:30. Ada beberapa orang yang sudah menunggu dan mengambil nomor antrian. Tepat pukul 08:30, pintu dibuka dan terkejutnya saya karena tempat mengurusnya sungguh nyaman. Ada pendingin udara, dispenser minuman, bunga di tengah, dan sofa yang nyaman. Tidak ada calo atau orang yang jongkok atau berdiri tidak jelas di luar dan di dalam.

Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri

Ruang Tunggu Pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri
Ruang tunggu pengurusan SIM Internasional di Korlantas Polri.

Saya mempersiapkan beberapa persyaratan seperti:

  • SIM asli dan fotokopi
  • KTP asli dan fotokopi
  • Paspor asli dan fotokopi
  • Uang tunai Rp250.000
  • Materai Rp6.000, satu lembar
  • Pas foto 4x6cm terbaru berwarna berlatar belakang biru dan berdasi (laki-laki), satu lembar

Setelah menunggu sekitar lima menit, saya dipanggil dan diminta menyerahkan semua persyaratan di atas. Dokumen asli hanya dilihat dan diverifikasi saja, lalu dikembalikan. Kurang dari 30 detik, mbak polisi meminta saya membayar Rp250.000, tunai (tidak bisa digantikan dengan logam mulia atau perhiasan). Setelah dibuatkan tanda terima saya diminta kembali ke tempat duduk.

Bukti bayar
Bukti pembayaran.

Tidak sampai lima menit, tiba masanya untuk foto dan sidik jari di ruang terpisah. Setelah itu, foto saya langsung dicetak, sidik jari saya langsung direkam dan SIM internasional pun sudah di depan mata.

Saya senang sekali, karena prosesnya tidak sampai 15 menit dari awal saya duduk sampai menerima dokumen-dokumennya.

Sebenarnya, SIM internasional ala kepolisian Indonesia ini sifatnya endorsement, dan mudah dilakukan karena menerjemahkan dokumen SIM Indonesia yang sudah ada dan membuatnya dalam versi beberapa bahasa utama di dunia.

Alternatifnya, anda dapat pergi ke kedutaan atau konsulat Indonesia di negara tujuan dan melakukan proses terjemah resmi serta legalisir SIM Indonesia anda, dan SIM Indonesia anda pun dapat juga digunakan di luar negeri. Tapi, tentunya, cek juga regulasi lalu lintas setempat di negara tempat anda berada. Setiap negara punya aturan berbeda-beda.

Saya mendengar bahkan beberapa negara Eropa juga mau menerima SIM Indonesia apa adanya tanpa harus mengurus SIM internasional.

SIM Internasional sudah jadi!
Hore! SIM Internasional-nya sudah jadi!


Pengalaman Pertama Mudik Bersama Bayi

Mudik tahun ini ke Semarang, Karanggede dan Solo adalah pengalaman pertama keluarga kami mudik sejak Janis lahir tahun lalu. Lebaran tahun lalu, kami tidak mudik, karena Janis masih berusia empat bulan. Kami sempat pulang ke Semarang dan Solo untuk mengunjungi eyang-eyang pada Desember 2015, tapi ketika itu jalanan tidak begitu ramai.

Perjalanan di hari yang cerah
Perjalanan Jakarta-Semarang dengan Garuda Indonesia cukup aman dan damai pada lebaran hari kedua.

Lain cerita pada tahun 2016, kami berniat mudik walau hanya empat hari. Rencananya, kami berangkat pada lebaran hari ke-2, setelah berlebaran hari pertama di Jakarta. Setelah menikah, memang kami harus pintar-pintar membagi waktu dan “jatah” antara keluarga saya dan istri, hingga tidak ada yang merasa ketinggalan. Memang, eyang, bude, pakde, om dan tante semua mengerti jika kami tidak pulang, tapi akhirnya kami kasihan juga dan kebetulan ada waktu.

Rute kami sederhana. Terbang dari Jakarta ke Semarang, lalu menyetir dari Semarang ke Solo melalui Karanggede, sebuah desa di dekat Boyolali, lalu menginap di Solo semalam sebelum menyetir kembali ke Semarang dan terbang pulang ke Jakarta pada hari ke-empat. Kenapa kami tidak pulang dari Solo saja? Karena mobil harus kami kembalikan ke Semarang. Orang tua Lintang berdomisili di Semarang dan cara paling baik menurut kami adalah dengan mengambil dan menggunakan mobil di rumah Semarang lalu kembali ke kota yang sama. Pulangnya pun terbang dari Semarang ke Jakarta.

Terbang kali ini barangkali menjadi pengalaman terbang Janis ke-10 atau ke-11 kalinya, sehingga kami tidak terlalu khawatir. Walau demikian, kami tetap bersiap mental dan fisik. Siapa tahu Janis bisa lebih rewel dari sebelumnya, apalagi mengingat jam perjalanan kami cukup siang dan melewati jam tidur paginya, pukul sembilan.

Janis tertidur pulas di udara setelah menangis ketika lepas landas
Janis tertidur pulas di udara, setelah menangis ketika lepas landas.

Bersiap terbang bersama eyang-kung
Bersiap terbang bersama eyang-kung.

Benar saja, Janis menangis ketika pesawat akan lepas landas, cukup keras. Kami cukup terbantu karena ada eyangnya yang membantu menenangkan. Sepertinya suhu pesawat yang cukup hangat membuatnya rewel. Ketika pesawat sudah berada di udara, pendingin udara berfungsi baik, Janis tertidur pulas sampai mendarat di Semarang. Pada hari kedua lebaran 2016, bandara Soekarno-Hatta dan pesawat (kami naik Garuda Indonesia) cukup ramai tapi tidak padat. Kondisi cuaca juga baik sehingga tidak terjadi guncangan yang berarti.

Bandara Ahmad Yani, di sisi lain, sangat padat dengan pemudik. Kami tadinya mencoba menyewa mobil di Golden Bird, tetapi ternyata armadanya habis. Akhirnya, kami naik taksi resmi bandara, dan ternyata cukup murah: Rp90.000 saja, tarif flat sampai tujuan kami di Banyumanik. Belum termasuk tol.

Perjalanan dari bandara Ahmad Yani ke Banyumanik memakan waktu 30-45 menit. Banyumanik adalah sebuah kecamatan di selatan Semarang yang berbatasan dengan kota Ungaran. Kebetulan dinas eyang-kung Janis di sini, dan rumah dinasnya ada di Banyumanik.

Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang
Perbanyak aktivitas yang membuat si kecil senang.

Kenyangkan diri sebelum berangkat
Makan dulu sebelum terbang ya!

Kami makan siang sebentar sebelum mulai berangkat melalui darat dengan menyetir mobil dari Semarang ke Solo, melalui Karanggede. Mengingat perjalanan ini akan melewati beberapa titik macet, kami menyiapkan beberapa hal berikut untuk Janis dan kami semua, seperti popok, mainan bayi, air minum yang cukup (terutama air mineral), ganti baju, serta uang tunai tentunya.

Macet di Suruh terbayar dengan pemandangan seperti ini
Macet terbayar dengan pemandangan seperti ini, apalagi ketika senja.

Sejauh ini, perjalanan mudik kami menyenangkan, walau ada beberapa titik kemacetan yang tidak kami duga (antara Salatiga dan Karanggede, di desa Suruh), sehingga Janis kelelahan luar biasa. Namun, setelah tidur semalam, mood kami semua kembali seperti semula.

Setelah mengalami mudik pertama dengan bayi ini, kami simpulkan beberapa hal. Yang pertama, jika ada rezekinya, naiklah pesawat ke titik terdekat dari kampung halaman. Menabunglah hingga cukup. Ini akan membantu menjaga mood dan kesehatan fisik semua orang. Yang kedua, jika membawa bayi, bawa persediaan makan, minum dan sandang yang cukup, terutama untuk bayi. Jika ada rezeki lebih, sewalah mobil pribadi sehingga bisa bebas berhenti di mana saja. Yang ketiga, menginaplah di beberapa titik, sehingga energi tidak terforsir. Selain itu, sebisa mungkin bayi kenyang sebelum perjalanan sehingga bisa menghemat banyak waktu dan tenaga.

Memang, mudik jadi semacam perjuangan dan kewajiban, dan banyak orang rela berkorban bersusah-payah di perjalanan demi sampai di tujuan. Tetapi, mari kita bersusah-payah di hari lain untuk menabung lebih banyak sehingga ketika mudik tiba, kita bisa merasa lebih nyaman.

Wajah bahagia bisa mudik
Wajah bahagia bisa mudik.


5 Cara Dapatkan Tiket Pesawat Murah

Dulu saya lebih sering menerima saja harga tiket yang saya beli, tanpa memikirkan apa ada alternatif lain, misalnya dari segi maskapai, waktu, hari terbang, sampai bandara asal dan tujuan. Namun, sejak beberapa tahun terakhir dan mulai lebih aktif traveling lagi, saya menemukan ada beberapa cara yang biasanya dapat menurunkan sedikit atau banyak harga tiket pesawat. Paling tidak, bisa menghemat untuk akomodasi, makan atau visa.

Terbang pada tengah minggu

Ini mungkin trik yang awam digunakan. Biasanya, tarif pesawat cenderung lebih murah pada tengah minggu, misalnya Selasa, Rabu dan Kamis. Cobalah berangkat pada hari Rabu, lalu pulang lagi pada hari Kamis, misalnya. Bandara juga tidak seramai itu pada hari-hari tengah minggu ini.

Terbang pada siang hari

Biasanya, perjalanan bisnis dimulai pada pagi hari dan diakhiri pada malam hari. Coba untuk hindari jam-jam kritis ini, mulai dari jam 6 pagi hingga 9 pagi, lalu jam 6 sore hingga 9 malam. Jika ingin pagi, cobalah penerbangan jam 4 atau 5 pagi sekalian, dan jika ingin malam, cobalah penerbangan jam 9 ke atas. Selain itu, satu trik yang biasanya ampuh adalah cari jam terbang di atas jam 9 pagi, atau menjelang makan siang seperti jam 11 atau jam 12.

Terbanglah dengan maskapai flag carrier

Jika tujuan anda Helsinki, maka terbanglah dengan flag carrier atau maskapai penerbangan resmi negara tersebut, dalam kasus ini Finnair. Jika tujuan anda Hong Kong, cobalah terbang dengan Cathay Pacific. Tidak semua begini, tapi ada kalanya mereka sedang mempromosikan negaranya sendiri, sehingga maskapai resminya membanting harga.

Manfaatkan promosi stopover

Ketika saya terbang ke Melbourne, Australia, dari Jakarta, saya pilih Singapore Airlines dan saya mendapatkan harga yang relatif murah. Saya memang harus bersusah-payah transit di Singapura dulu (walau tak apa juga, sih!), tapi selisih harga dengan Garuda Indonesia yang penerbangan langsung dari Jakarta saat itu sampai 2-3 juta rupiah. Ternyata, Singapore Airlines memang ingin banyak pengunjung transit untuk menarik devisa dan kemungkinan menginap. Icelandair juga punya promosi serupa, memberikan 7 malam gratis di Reykjavik antara destinasi-destinasi Amerika Utara dan Eropa, dengan harga yang relatif lebih murah pula.

Terbang pada off-peak seasons

Jika anda terbang ke belahan bumi utara, cobalah terbang pada Oktober-Desember, kemungkinan harga lebih murah karena tidak banyak turis yang datang pada saat itu. Konsekuensinya sih, cuaca musim gugur memang gloomy dan suhunya sudah mulai sangat dingin.


« Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya »

© 2017 Ransel Kecil