Halaman ke-2 dari 94

Minum Cantik di Brunetti, Tanglin, Singapura

Sejak ke Melbourne pada Maret lalu, kami sekeluarga kesengsem Brunetti, bakeri/patiseri yang berasal dari Carlton, sebuah wilayah di Melbourne. Konsepnya adalah “Italian pasticceria“. Intinya, patiseri ala Italia. Waktu di Melbourne, kami diundang Iliyas, teman dari teman kami, Carol, untuk makan siang di sana. Benar saja, pilihan kue, gelato, kopi, roti isi dan salad-nya menggugah selera.

Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall
Pintu masuk utama Brunetti di Tanglin Mall.

Interior
Interior kafe.

Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk
Mosaik di lantai yang sangat cantik di pintu masuk.

Setelah googling pada suatu malam soal Brunetti, kami sadari ternyata Brunetti punya cabang di Singapura. Dengan semangat membara, kami impulsif membeli tiket ke Singapura dua minggu kemudian. Ya, sebenarnya, ada acara lain juga, tapi sekalian kan tidak ada salahnya ya?

Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya
Kue stroberi yang berbentuk seperti buahnya.

Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase
Ketika baru buka, petugas masih menata kue-kue di etalase.

Tempat duduk favorit kami ada di luar
Tempat duduk favorit kami ada di luar.

Letaknya di Tanglin Mall, di persimpangan Grange Rd dan Tanglin Rd. daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan Orchard yang terkenal itu. Lingkungannya sepi, malnya juga sepi, walau dekat dengan Orchard.

"Pameran" gelato yang begitu menggoda...
“Pameran” gelato yang begitu menggoda…

Brunetti sendiri kalau di Indonesia mungkin mirip dengan Harvest Cakes, tapi mungkin tidak ada kue keringnya.

Untuk ke Brunetti di Tanglin Mall, silakan naik bis no. 7, 77, 106, 111, 123 dan 174, langsung dari seberang stasiun MRT Orchard. Cari Orchard Parksuites dan seberangi jalan, dan naik dari halte itu. Gampangnya, Uber atau taksi ke sana.

Untuk ngemil kue dan minum kopi atau teh, siapkan anggaran S$30-40 (Rp300.000 – Rp400.000) untuk dua orang, karena satu kue bisa berharga S$8-12 (Rp80.000 – Rp120.000).

Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue
Janis dan Lintang menunggu minuman dan kue.




Menurut kami, rasanya masih lebih enak di Melbourne, apa mungkin terpengaruh suasananya? Tapi, kelebihan Brunetti di Singapura adalah tidak seramai di Australia dan kursi-kursi di bagian luar suasananya lebih enak dengan angin semilir yang menambah nikmatnya kopi atau teh sore.

Kaunter kopi
Kaunter kopi dan minuman lain.

Pear and Cheese Crumble
Pear and Cheese Crumble, favorit kami.

Latte dan iced chocolate
Latte dan iced chocolate.

Saat itu, kami tidak makan besar, tapi mereka juga menjual makanan utama/pembuka seperti pasta, pizza dan sup.

Alamat & Kontak

Brunetti
163 Tanglin Rd, Tanglin Mall #01-35,
Singapore 247933
Telepon: +65 6733 9088
Jam buka: 09:00 – 21:00


Sarapan Mengesankan di Pinggir Rel

Satu-satunya pengalaman makan di pinggir rel yang saya punya di Indonesia adalah Bakso Presiden di Malang. Baksonya lumayan, suasananya juga cukup nyaman walau selang beberapa waktu kita harus rela “berangin-angin” seperti mau terbang karena kereta lewat tepat di samping kuping kita.

Di Melbourne, ada tempat jajan serupa, tapi untungnya, bukan di rel kereta api, tapi di pinggir rel tram. Adalah di salah satu sudut Albert Park, sebuah stasiun tram tua yang sudah direnovasi, dan fungsinya sebagai stasiun seutuhnya sudah diganti dengan sebuah kafe mungil bernama Mart 130.

Di Dalam Kafe
Interior kafe.

Papan Marka Stasiun Middle Park
Papan marka Stasiun Middle Park.

Penampakan Kafe dari Luar
Penampakan kafe dari luar.

Pintu Masuk ke Kafe
Pintu masuk ke kafe, yang juga difungsikan sebagai peron.

Ruang Makan di Teras
Ada ruang makan di teras belakang juga! Menghadap taman!

Kami tahu kafe ini dari sebuah review blog, dan karena bingung mau makan di mana, kami putuskan pergi ke tempat ini. Tempat ini menyajikan makan brunch dan makan siang, sehingga buka hanya dari pukul tujuh pagi hingga tiga petang.

Hampir semua comfort food untuk sarapan, brunch dan makan siang ada di sini. Bayangkan roti bakar, oats, grains, telur, pancake, buah-buahan sampai pide, pizza ala timur tengah yang bentuknya seperti wajik itu. Urusan kopi juga ada, juga chai latte dengan bonsoy dan madu (hm!), lassi stroberi, mangga dan tak lupa jus penambah stamina.

Scrambled Egg on Toast
Scrambled egg on toast.

Bircher Muesli
Bircher muesli. Salah satu yang terenak yang pernah saya makan.

Setelah enam hari pertama yang hiruk-pikuk dan sibuk, kami putuskan untuk memulai hari ini dengan bersantai di tempat yang jauh dari keramaian sambil menikmati pagi. Pilihan kami ternyata tepat. Di Mart 130, tidak ada orang lain lalu-lalang, karena memang letaknya agak jauh dari jalan raya dan pusat bisnis, lalu di sebelah timurnya ada taman yang besar (Albert Park), yang biasa dipakai untuk Formula 1. Saat itu tidak ada Formula 1, jadi taman tampak sepi.

Di Dalam Tram
Di dalam tram.

Perjalanan ke kafe ini cukup panjang. Kami mulai dari Jolimont Terrace di timur Melbourne dengan mengambil kereta atau tram ke Southern Cross, setelah itu lanjut tram no. 96 ke arah selatan. Sekitar lima atau enam pemberhentian, anda akan menemukan pemberhentian tram Middle Park. Jangan lupa, untuk naik tram di Melbourne, anda harus tekan tombol berhenti agar operatornya dapat memberhentikan tram. Jika tidak, ada kemungkinan keterusan.

Stasiun Southern Cross
Stasiun Southern Cross tempat menunggu tram no. 96.

Setelah Makan, Pose Dulu!
Setelah makan, pose dulu.

Alamat & Kontak

107A Canterbury Road
Middle Park, Victoria, 3206
Telepon: (03) 9690 8831
Email: mart130cafe@gmail.com


Tentang Rumah Mungil di Pantai Brighton

Begitu tahu kami akan ke Melbourne, istri saya, Lintang, langsung berkata, “Di Melbourne bukannya ada pantai yang ada rumah-rumah berwarna-warni itu, ya?”

Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton
Rumah-rumah mungil di Pantai Brighton.

Saya sekilas teringat, sepertinya, ya, ada! Setelah mencarinya di Google, ternyata memang ada, dan letaknya di Brighton Beach, di sebelah selatan pusat kota Melbourne. St. Kilda, tujuan pantai dan dermaga populer itu, berbatasan langsung dengan Brighton, kota di sebelah selatannya. Pantai Brighton ada di pesisir barat kota Brighton.

Seagull?
Sekumpulan burung camar barangkali mencari makanan.

Kami berencana pergi ke sana setelah perjalanan ke Phillip Island dibatalkan karena alasan kenyamanan Janis. Menurut Google Maps, jika dari East Melbourne, kami harus menyetir sekitar 25-30 menit dan menempuh jarak sekitar 13-14 km ke arah selatan.

Kami pun bertanya-tanya, sebenarnya rumah-rumah kecil berwarna-warni di pinggir pantai ini apa dan buat apa ya? Ternyata, setelah diselidiki, mereka punya sejarah panjang. Pada abad ke-18, mereka digunakan sebagai tempat ganti baju untuk wanita yang sedang rekreasi di pantai Brighton. Sejak saat itu, fungsinya tetap sama. Hari ini, ia dikelola pemerintah, ada yang dimiliki pribadi, dan ada sebagian yang dijual lagi oleh pemiliknya. Harganya hari ini bisa mencapai Rp2,5 milyar, namun tak ada listrik dan air, dan tidak bisa diinapi semalaman atas alasan keamanan dan kenyamanan pengguna pantai. Jadi, siapapun yang menjadi pemiliknya harus menggunakannya sebagai sarana rekreasi pantai pada saat pantai buka saja. Setelah itu, pack up and leave.

Ada aturan juga tentang pengecetan dan modifikasi. Rumah-rumah kecil ini tidak boleh dicat dengan menampilkan merek atau usaha tertentu, tidak boleh dipakai beriklan, dan tidak boleh dimodifikasi melebihi ruang yang disediakan. Selain itu, tidak boleh digunakan sebagai tempat usaha, misalnya dijadikan warung kelontong, tempat nasi pecel, apalagi usaha fotokopi.

Keramaian di Pantai Brighton

Keramaian di Pantai Brighton
Keramaian di Pantai Brighton.

Terkesan eksklusif dan restriktif, tapi mungkin saya bisa paham tujuannya: untuk melindungi pantai ini dan melestarikan sejarah rumah-rumah kecil ini.

Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai
Pejalan kaki bisa menikmati trotoar untuk menyusuri pantai.

Kami suka daerah Brighton. Saat itu sudah musim gugur, angin sejuk cukup kencang tapi tidak terik dan berkeringat. Kami berjalan agak jauh menyisir pantai dari mulai dari The Baths at Middle Brighton, sebuah restoran dan klub olahraga—dengan ruang parkir mobil yang agak luas—menuju ke selatan.

Melihat ke pusat kota Melbourne
Jika melihat ke utara, anda dapat melihat pusat kota Melbourne dari kejauhan.

Perjalanan diakhiri dengan membeli fish and chips di “warung” terdekat dan memarkir mobil tempat di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin senja.

Carol, Janis dan Lintang menikmati senja dan fish and chips
Carol, Janis dan Lintang di dalam mobil.

Pantai Brighton menjelang senja
Pantai Brighton menjelang senja.

Kami akan kembali, Brighton.


« Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya »

© 2016 Ransel Kecil