Halaman 2 dari 55

Menapaki Sejarah di Hoi An

hoian_bangunantua

Ketika membaca tentang Hoi An di salah satu novel, saya jadi penasaran dan merencanakan perjalanan ke sana. Kota yang diakui UNESCO sebagai salah satu khazanah warisan dunia ini terletak di provinsi Quang Nam di bagian sentral Vietnam. Kota kecil berpenduduk 120.000 jiwa.

Walaupun menjadi kota turis, akses ke kota ini sangat bergantung dengan keberadaan kota Da Nang, sekitar 30 km di utara. Kota Da Nang memiliki satu-satunya bandara dan stasiun kereta api yang paling dekat.

Setelah riset sana-sini, akhirnya saya memutuskan naik kereta api ke Da Nang setelah perjalanan dari Hue, kota historis lain di utara kota itu. Dari Da Nang, berlanjut dengan taksi yang sudah saya pesan dari hotel di Hoi An, seharga 100.000 rupiah. Ada alternatif lebih murah yaitu dengan bis, yang hanya sekitar 8.000 rupiah untuk bis umum atau 40.000 rupiah untuk bis turis.

Sepanjang perjalanan singkat dari Da Nang ke Hoi An, saya melihat sebuah perkembangan pesisir yang pesat. Pemerintah tampaknya ingin menjadikan pesisir antara kedua kota ini sebagai pusat wisata pantai atau bahari. Beberapa hotel lokal dan internasional pun sedang dibangun. Jalanan cukup besar dan sepi.

hoian_museum

Hoi An memiliki slogan “The Ancient Town“, atau kota tua. Benar saja, pusat kotanya masih didominasi bangunan tua dan jalan-jalan sederhana yang tak beraspal. Jangan bayangkan kota tua yang bernafas Eropa, Hoi An justru sangat bernafas Vietnam tradisional. Ia dinobatkan sebagai kota tua otentik Asia yang masih terawat. Dulunya, Hoi An adalah sebuah kota pelabuhan dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan ini didatangi bangsa Portugis dan Jepang. Namun sayang, keberadaannya sebagai pelabuhan utama terkikis oleh letak Da Nang yang lebih strategis dan pengendapan di pelabuhan Hoi An.

hoian_pedagang01

hoian_pedagang02

Namun, jangan khawatir. Bagi anda pecinta sejarah, pasti suka dengan keadaan Hoi An sekarang. Memang, untuk setiap “perangkap turis”, atau “tourist trap“, selalu ada bagian-bagian yang berkembang sesuai keinginan pasar. Beruntung, pemerintah dan penobatan UNESCO tampaknya sedikit membantu merawat kota tua pada kondisi nostalgisnya.

Menjelajah kota ini lebih baik dengan jalan kaki. Selain kecil, kluster blok dan ruas jalan yang sengaja dikonservasi untuk dipertahankan keasliannya membuat kita tak ingin cepat-cepat melalui setiap detil. Rasanya seperti mengunjungi sebuah kota pelabuhan dan perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17.

Dapat saya bayangkan dulu di jalan-jalan mungil ini ada pedagang keramik, pedagang gerobak yang menjajakan rempah-rempah, kuli pelabuhan, penjaja makanan atau majikan yang memarahi anak buahnya. Saat ini wajahnya sudah berubah, pedagang cinderamata mendominasi, menjajakan baju dan memorabilia Vietnam untuk berbagai usia, lukisan kanvas dan lukisan di atas marmer sampai miniatur beragam kapal antik. Ruas jalan mungil memastikan mobil tidak bisa melaluinya dan saya pikir ini bagus. Tentu saja, penjaja makanan tetap ada, baik itu yang di rumah makan maupun gerobak, menjual mi Cao Lau, semangkok mi beras yang dilengkapi dengan daging, chive dan daun ketumbar, dengan air rebusan yang konon memberikan rasa khas karena berasal dari sumur setempat, hingga roti Banh Mi, baguette isi daging panggang dan sayuran. Siap-siaplah untuk dipanggil masuk oleh pelayan restoran.

hoian_malam

Malam hari tak kalah dengan siang hari, justru lebih menarik. Lampu-lampu kecil dan lampion-lampion menghiasi seluruh penjuru Old Town, geliat pedagang dan penjaja makanan pun seolah tiada henti. Alunan tembang instrumental mengumandang dari pengeras-pengeras suara yang dipasang di bangunan-bangunan kota. Udaranya cukup sejuk.

Hoi An dipenuhi turis, jadi mungkin bagi mereka yang mencari ketenangan, di sini bukan tempatnya. Namun, bagi mereka yang senang dengan fotografi, sejarah dan melihat Vietnam dari sisi berbeda, Old Town di Hanoi cukup layak dikunjungi. Fotografi arsitektur menjadi tema utama. Cobalah naik ke tingkat dua sebuah rumah toko (shophouse) kuno ala peranakan dan fotolah suasana jalan. Hati-hati dengan rendahnya langit-langit! Setelah itu, coba ke tepi sungai, atau bahkan naik perahu kecil untuk memotret pedagang buah di pinggiran.

hoian_sumbangan

Jalan-jalan ke Hoi An tergolong murah. Hotel yang cukup besar dan bersih hanya bertarif sekitar USD20 (Rp200.000) per malam, bisa diisi dua orang. Tentu, hotelnya bukan gedung yang besar, tapi hanya sebuah rumah toko. Berkeliling tak perlu kendaraan bermotor, kecuali anda ingin ekskursi lebih luas ke pantai di sekitarnya. Cukup jalan kaki atau sewa sepeda (sekitar USD0.50 atau Rp5.000 per hari). Sewa sepeda motor, jika perlu, bertarif sekitar USD5 (Rp50.000) per hari.

Khusus di Old Town, yang menyerupai sebuah museum hidup, belilah tiket terusan tiga hari untuk masuk ke beberapa tempat atau properti yang diseleksi khusus karena signifikansi sejarahnya, antara lain rumah-rumah tua milik pedagang lama yang sekarang disewakan pemiliknya sebagai museum, jembatan dengan arsitektur Jepang, gedung pertemuan dan lain sebagainya. Tampak dari fasad arsitektur, kota ini sepertinya menjadi ruang lebur antara beberapa budaya, antara lain Vietnam, China, Jepang dan India.

Puas menikmati kota tua, hari lain kita bisa mengunjungi reruntuhan candi Mỹ Sơn, sekitar satu jam perjalanan di barat laut Hoi An. Kompleks candi dulunya pusat peribadatan raja-raja Cham, tidak besar tetapi memiliki sejarah penting, karena merupakan peninggalan masyarakat Cham yang konon berasal dari Kalimantan. Mereka berbahasa Malayo-Polynesia, yang artinya mirip dengan bahasa Melayu, Indonesia dan Tagalog. Sayang, beberapa candi dibom dalam Perang Vietnam.

Panduan Wisata Islandia

Thinglevir National Park

Alex Cornell melakukan perjalanan ke Islandia dan mendokumentasikannya dalam bentuk panduan wisata di majalah Gone.

  • Cara terbaik menikmati Islandia adalah dengan mobil berkeliling negara pulau ini. “The Ring Road” adalah jalan lingkar negara yang buka sepanjang tahun, dan dapat ditempuh non-stop selama 18 jam. Idealnya, kita habiskan waktu 8 – 14 hari berhenti dan menginap di sepanjang jalan. Waktu ideal road trip adalah bulan Mei – Agustus.
  • Islandia terkenal dengan Aurora Borealis (“The Northern Lights”). Idealnya anda pergi di musim dingin untuk menyaksikannya. Namun, musim panas juga menarik: anda bisa menyaksikan “senja abadi” dari jam 9 malam hingga jam 3 pagi.
  • Walau ada musim panas dan musim panas menjadi waktu terbaik untuk mengunjungi Islandia, perlu diwaspadai bahwa cuaca tidak menentu di negara ini. Terkadang cerah, terkadang berkabut, dan terkadang hujan. Pastikan anda selalu update soal cuaca.
  • Bawa variasi pakaian mulai dari kaos hingga jaket. Anda tidak tahu kapan cuaca bagus dan buruk.

Baca lebih lengkap lagi di sini.

Beberapa jalan bisa tiba-tiba ditutup

Bagi saya, Islandia adalah tujuan idaman dengan nuansa magis dan petualangan yang kental. Semoga suatu saat saya bisa ke sana.

Menikmati Warisan Kuliner di Jonker Street, Melaka

Melaka adalah kota kaya sejarah sekitar dua jam perjalanan dengan bis dari bandara internasional Kuala Lumpur, ke arah selatan. Bersama dengan Penang, dulunya Melaka menjadi tempat persinggahan pedagang. Hasilnya, kota ini menjadi lokasi strategis yang diperebutkan negara-negara Eropa. Beberapa gedung peninggalan Belanda (gedung-gedung di kompleks Stadhuys) dan Portugis (benteng Famosa) menjadi bukti jelas pengaruh kolonialisme. Di sisi lain Sungai Melaka, kita lihat pula kota tua Cina dengan rumah-rumah toko Cina Selat yang khas dan jalan-jalan serta gang-gang kecil. Di antaranya pula, ada kuil, mesjid dan vihara, menyiratkan perpaduan budaya dan agama yang kental dulu di sini.

Penjual "carrot cake" di Jonker Street

Sekarang, pusat kota Melaka yang bersejarah itu dikonservasi dan dijadikan atraksi bagi pejalan. Salah satu jalan utama di kota tua, yakni Jalan Hang Jebat, juga dijadikan atraksi kuliner setiap akhir pekan, antara lain pada malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin. Jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai jam enam sore hingga 10 malam. Dengan cepat pun jalan ini dipenuhi kios, meja, kursi dan gerobak makanan “dadakan”.

Puluhan penjaja makanan dan pernak-pernik lucu pun menghiasi senja.

Jalan ini lebih dikenal dengan nama lamanya, Jonker Street. Siang hari, kesibukan toko-toko di sekitarnya menarik perhatian para pengunjung. Malam hari, seolah ada kehidupan baru dari pedagang-pedagang spontan ini.

Kosongkan perut ketika datang ke sini. Mulai dari salah satu ujungnya, lalu nikmatilah berbagai sajian kuliner mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Tentu saja, ini adalah kiasan semata — karena tidak ada yang akan menghidangkan anda langsung. Andalah yang memilihnya dan nikmatilah di jalan sambil berdiri atau duduk (jika tersedia!).

Hidangan pembuka yang bisa dinikmati antara lain carrot cake, telur dadar kerang (oyster omelette), cumi bakar disate dan beraneka dim sum. Jangan salah artikan carrot cake sebagai kue manis berbahan dasar wortel. Lebih tepatnya, ia disebut chai tow kway. Bahan dasarnya lobak, dicampur tepung beras lalu digoreng dengan saus, bumbu dan garnish. Perhatikan cara masaknya yang serba cepat dan menggunakan wajan datar. Menarik! Setelah itu, carilah penjual telur dadar isi kerang. Bahan dasarnya hanya telur dan kerang, ditambah kecap asin dan daun bawang. Dimakan dengan kucuran jeruk nipis. Bukanlah opsi tersehat, tetapi tetap enak. Jika anda ingin yang lebih ringan, bisa mencoba aneka dim sum jalanan yang juga tak kalah nikmat dan tetap bersahabat di kantong. Kalau tertarik, anda juga bisa mencoba sate cumi bakar yang langsung dibakar dipinggir jalan. Hm!

Hidangan utama yang bisa dinikmati antara lain chicken rice ball dan nyonya assam laksa. Nasi ayam “bola” ini uniknya ada di nasinya yang dikepal menjadi bola-bola seukurang bola golf. Alkisah, dulu penjual nasi ayam ingin menjual nasi ayamnya ke buruh-buruh angkutan dan kelasi kapal yang tidak punya waktu untuk makan nasi dengan piring. Akhirnya, supaya praktis, dibuatlah nasi kepal bola-bola ini. Assam laksa adalah salah satu makanan khas yang terdiri dari kuah kaldu ikan, mi beras, daun ketumbar, kecombrang dan asam jawa, dan ditaburi potongan ikan.

Penjaja makanan di Jonker Street

Hidangan penutup yang bisa dinikmati antara lain es cendol durian, coconut shake, kue tart nanas dan durian puff. Sesuai namanya, es cendol durian adalah es bersantan yang berisi cendol (di Indonesia disebut dawet), gula merah dan ditambah potongan durian asli. Kue tar nanas sebenarnya adalah versi besar dari kue nastar yang kita tahu di Indonesia, tetapi nanasnya bisa lebih segar. Durian puff adalah hidangan penutup istimewa lain yang bisa dicoba — gulungan puff yang diisi esensi durian atau malah durian segar.

Bagi anda yang suka nongkrong sampai larut lewat jam 10 malam, jangan khawatir, ketika anda sudah selesai di Jonker Street, bisa mampir di beberapa kafe di sekitarnya yang buka sampai tengah malam.

Sepuluh Perintah Makan Sushi

Sushi Ten Commandments

Dalam “The Ten Commandments of Sushi“, Tom Downey bercerita tentang perjalanan kulinernya ke Jepang dan beliau menemukan beberapa “perintah” makan sushi, yang tidak kita temukan di Indonesia.

Antaranya yang saya suka:

1. “Makan penuh semestinya selesai dalam 10-15 menit.”
2. “Makan sushi untuk makan siang, bukan makan malam.”
3. “Sushi tidak hanya soal rasa, tapi juga indera penciuman.”
5. “Makan sushi dengan tangan, bukan dengan sumpit.”
9. “Jangan berbicara sambil makan sushi. Nikmati saja!”

Bepergian dengan Bayi

Bepergian dengan bayi tidak sama dengan bepergian sendiri, atau bersama teman-teman saja. Ketika punya bayi tujuh bulan lalu, saya jadi tahu banyak hal tentang bepergian bersama bayi. Oh ya, mungkin karena itu juga blog ini sudah lama tidak diperbaharui, karena saya sibuk dengan keluarga dan pekerjaan. Setelah ini saya punya niat untuk meneruskan blog ini agar tidak terbengkalai, dimulai dari artikel tips ini!

Untungnya, saya punya istri yang mendukung. Saya justru banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengurus bayi dan apa yang sebaiknya dilakukan. Persiapan bayi untuk bepergian memang banyak, tetapi jika kita pintar bersiasat maka semuanya dapat dijalani mudah-mudahan dengan lancar.

Popok

Tentu saja ini barang pertama yang diingat. Sehari-hari, kami tidak pakai popok pakai-buang, tapi popok kain, untuk menghemat, tapi untuk urusan bepergian, kami mengkombinasikan popok pakai-buang untuk pagi, siang dan sore, dan popok kain untuk malam hari agar bayi lebih nyaman. Tapi, tentu saja ini tergantung kebiasaan dan kenyamanan bayi anda. Jika bisa, beli popok sesuai jumlah hari perjalanan. Bayi saya membutuhkan lima sampai delapan popok setiap 24 jam. Jika tidak muat kopernya, bawa setengahnya dan beli di tujuan, jika ada.

Alat makan dan makanan

Jika bayi sudah dalam tahap makanan pendamping ASI (MPASI), maka perlu disiapkan semua yang berkaitan dengannya, seperti alat makan. Siapkan juga sabun cuci dan spons yang baru. Siapkan juga tisu anti-bakteri atau disinfektan lain untuk membersihkan alat makan. Untuk makanannya sendiri, jika di tempat tujuan ada pasar atau swalayan, maka lebih baik membeli buah atau daging yang segar. Tetapi jika tidak bisa, makanan siap saji juga bisa, mulai dari yang dibuat segar sampai yang dijual di swalayan, terutama jika dalam perjalanan terbang, di kereta api atau di bis.

Jangan lupa, ketika mengepak makanan dan minuman si bayi, taruh dalam tempat transparan untuk ditunjukkan pada petugas keamanan di bandara. Biasanya, makanan cair atau minuman bayi diterima walau lebih dari 100ml.

Jadwal perjalanan

Bayi juga makan dua atau tiga kali sehari, terutama pagi dan siang atau sore. Oleh karenanya, kita bisa mencari jadwal terbang di antaranya, misalnya ketika pagi buta (ketika bayi masih terlelap), siang hari (ketika belum makan) atau malam hari (ketika bayi sudah mulai terlelap lagi).

Membawa stroller atau tidak?

Dorongan bayi (stroller) bisa berguna hanya pada tujuan perjalanan yang nyaman dilalui pejalan kaki, misalnya negara maju, di mana infrastrukturnya sudah ada dan aman digunakan. Jika tujuan perjalanan anda ke hutan, pantai terpencil, kota di Vietnam, atau kebanyakan kota di Indonesia di mana anda tidak akan pergi ke mal, maka tinggalkan sajalah dorongan bayi itu di rumah. Anda diharuskan mengepaknya untuk dimasukkan bagasi, dan idealnya anda harus punya tas pelindung agar tidak kotor. Saran saya, lebih baik gunakan gendongan bayi modern seperti ransel yang bisa membawa bayi di depan tubuh orang tuanya agar anak lebih tenang.

Koper apa ransel?

Untuk urusan bayi, gunakan koper. Orang tuanya bisa gunakan ransel, kalau mau. Bayi butuh lebih banyak ruang dan mencuci tidak selalu menjadi solusi. Ada gunanya cari penginapan yang punya mesin cuci atau fasilitas binatu, tapi hanya sebagai jaga-jaga.

Perjalanan udara yang panjang

Perjalanan udara yang panjang, di atas empat jam, bisa menjadi mimpi buruk bagi orang tua dan bayi. Usahakan beli kursi sendiri untuk bayi anda, walau ada opsi lap infant (bayi didudukkan di atas paha orang dewasa). Anda tidak akan mampu memangku bayi anda selama 10 jam. Lebih mahal, tapi sangat berharga!

Siapkan satu popok setiap dua jam. Jadi, jika perjalanannya memakan waktu 10 jam, sediakan minimal lima popok. Lebihkan satu atau dua.

Jangan lupa sedia penutup telinga untuk menghindari anak merasa tidak nyaman dengan pergantian tekanan udara (walau tidak semua bayi memerlukannya).

Beberapa maskapai bahkan menyediakan makanan bayi dan popok tambahan, jadi bisa lihat-lihat opsi maskapai mana yang akan anda gunakan.

Sesuaikan fase anda

Jika anda terbiasa bepergian aktif dan berfase cepat, dengan bayi, anda tidak bisa begitu. Ketika sampai tujuan, misalnya, anda mungkin harus menggunakan taksi atau mobil dan rela mengantri lebih lama, demi kenyamanan. Anda mungkin hanya mengunjungi tempat-tempat yang ramah bayi (tidak bisa lagi, tuh, berlama-lama di pasar yang ramai). Anda mungkin keluar pada jam-jam sesuai jam bangun bayi anda, dan setelah bayi anda makan. Anda mungkin harus pulang sebelum waktu yang anda inginkan. Sesuaikanlah semuanya, yang penting bayi anda bisa menikmati juga perjalanan itu.