Halaman 2 dari 54

Menikmati Warisan Kuliner di Jonker Street, Melaka

Melaka adalah kota kaya sejarah sekitar dua jam perjalanan dengan bis dari bandara internasional Kuala Lumpur, ke arah selatan. Bersama dengan Penang, dulunya Melaka menjadi tempat persinggahan pedagang. Hasilnya, kota ini menjadi lokasi strategis yang diperebutkan negara-negara Eropa. Beberapa gedung peninggalan Belanda (gedung-gedung di kompleks Stadhuys) dan Portugis (benteng Famosa) menjadi bukti jelas pengaruh kolonialisme. Di sisi lain Sungai Melaka, kita lihat pula kota tua Cina dengan rumah-rumah toko Cina Selat yang khas dan jalan-jalan serta gang-gang kecil. Di antaranya pula, ada kuil, mesjid dan vihara, menyiratkan perpaduan budaya dan agama yang kental dulu di sini.

Penjual "carrot cake" di Jonker Street

Sekarang, pusat kota Melaka yang bersejarah itu dikonservasi dan dijadikan atraksi bagi pejalan. Salah satu jalan utama di kota tua, yakni Jalan Hang Jebat, juga dijadikan atraksi kuliner setiap akhir pekan, antara lain pada malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin. Jalan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai jam enam sore hingga 10 malam. Dengan cepat pun jalan ini dipenuhi kios, meja, kursi dan gerobak makanan “dadakan”.

Puluhan penjaja makanan dan pernak-pernik lucu pun menghiasi senja.

Jalan ini lebih dikenal dengan nama lamanya, Jonker Street. Siang hari, kesibukan toko-toko di sekitarnya menarik perhatian para pengunjung. Malam hari, seolah ada kehidupan baru dari pedagang-pedagang spontan ini.

Kosongkan perut ketika datang ke sini. Mulai dari salah satu ujungnya, lalu nikmatilah berbagai sajian kuliner mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup. Tentu saja, ini adalah kiasan semata — karena tidak ada yang akan menghidangkan anda langsung. Andalah yang memilihnya dan nikmatilah di jalan sambil berdiri atau duduk (jika tersedia!).

Hidangan pembuka yang bisa dinikmati antara lain carrot cake, telur dadar kerang (oyster omelette), cumi bakar disate dan beraneka dim sum. Jangan salah artikan carrot cake sebagai kue manis berbahan dasar wortel. Lebih tepatnya, ia disebut chai tow kway. Bahan dasarnya lobak, dicampur tepung beras lalu digoreng dengan saus, bumbu dan garnish. Perhatikan cara masaknya yang serba cepat dan menggunakan wajan datar. Menarik! Setelah itu, carilah penjual telur dadar isi kerang. Bahan dasarnya hanya telur dan kerang, ditambah kecap asin dan daun bawang. Dimakan dengan kucuran jeruk nipis. Bukanlah opsi tersehat, tetapi tetap enak. Jika anda ingin yang lebih ringan, bisa mencoba aneka dim sum jalanan yang juga tak kalah nikmat dan tetap bersahabat di kantong. Kalau tertarik, anda juga bisa mencoba sate cumi bakar yang langsung dibakar dipinggir jalan. Hm!

Hidangan utama yang bisa dinikmati antara lain chicken rice ball dan nyonya assam laksa. Nasi ayam “bola” ini uniknya ada di nasinya yang dikepal menjadi bola-bola seukurang bola golf. Alkisah, dulu penjual nasi ayam ingin menjual nasi ayamnya ke buruh-buruh angkutan dan kelasi kapal yang tidak punya waktu untuk makan nasi dengan piring. Akhirnya, supaya praktis, dibuatlah nasi kepal bola-bola ini. Assam laksa adalah salah satu makanan khas yang terdiri dari kuah kaldu ikan, mi beras, daun ketumbar, kecombrang dan asam jawa, dan ditaburi potongan ikan.

Penjaja makanan di Jonker Street

Hidangan penutup yang bisa dinikmati antara lain es cendol durian, coconut shake, kue tart nanas dan durian puff. Sesuai namanya, es cendol durian adalah es bersantan yang berisi cendol (di Indonesia disebut dawet), gula merah dan ditambah potongan durian asli. Kue tar nanas sebenarnya adalah versi besar dari kue nastar yang kita tahu di Indonesia, tetapi nanasnya bisa lebih segar. Durian puff adalah hidangan penutup istimewa lain yang bisa dicoba — gulungan puff yang diisi esensi durian atau malah durian segar.

Bagi anda yang suka nongkrong sampai larut lewat jam 10 malam, jangan khawatir, ketika anda sudah selesai di Jonker Street, bisa mampir di beberapa kafe di sekitarnya yang buka sampai tengah malam.

Sepuluh Perintah Makan Sushi

Sushi Ten Commandments

Dalam “The Ten Commandments of Sushi“, Tom Downey bercerita tentang perjalanan kulinernya ke Jepang dan beliau menemukan beberapa “perintah” makan sushi, yang tidak kita temukan di Indonesia.

Antaranya yang saya suka:

1. “Makan penuh semestinya selesai dalam 10-15 menit.”
2. “Makan sushi untuk makan siang, bukan makan malam.”
3. “Sushi tidak hanya soal rasa, tapi juga indera penciuman.”
5. “Makan sushi dengan tangan, bukan dengan sumpit.”
9. “Jangan berbicara sambil makan sushi. Nikmati saja!”

Bepergian dengan Bayi

Bepergian dengan bayi tidak sama dengan bepergian sendiri, atau bersama teman-teman saja. Ketika punya bayi tujuh bulan lalu, saya jadi tahu banyak hal tentang bepergian bersama bayi. Oh ya, mungkin karena itu juga blog ini sudah lama tidak diperbaharui, karena saya sibuk dengan keluarga dan pekerjaan. Setelah ini saya punya niat untuk meneruskan blog ini agar tidak terbengkalai, dimulai dari artikel tips ini!

Untungnya, saya punya istri yang mendukung. Saya justru banyak belajar dari beliau tentang bagaimana mengurus bayi dan apa yang sebaiknya dilakukan. Persiapan bayi untuk bepergian memang banyak, tetapi jika kita pintar bersiasat maka semuanya dapat dijalani mudah-mudahan dengan lancar.

Popok

Tentu saja ini barang pertama yang diingat. Sehari-hari, kami tidak pakai popok pakai-buang, tapi popok kain, untuk menghemat, tapi untuk urusan bepergian, kami mengkombinasikan popok pakai-buang untuk pagi, siang dan sore, dan popok kain untuk malam hari agar bayi lebih nyaman. Tapi, tentu saja ini tergantung kebiasaan dan kenyamanan bayi anda. Jika bisa, beli popok sesuai jumlah hari perjalanan. Bayi saya membutuhkan lima sampai delapan popok setiap 24 jam. Jika tidak muat kopernya, bawa setengahnya dan beli di tujuan, jika ada.

Alat makan dan makanan

Jika bayi sudah dalam tahap makanan pendamping ASI (MPASI), maka perlu disiapkan semua yang berkaitan dengannya, seperti alat makan. Siapkan juga sabun cuci dan spons yang baru. Siapkan juga tisu anti-bakteri atau disinfektan lain untuk membersihkan alat makan. Untuk makanannya sendiri, jika di tempat tujuan ada pasar atau swalayan, maka lebih baik membeli buah atau daging yang segar. Tetapi jika tidak bisa, makanan siap saji juga bisa, mulai dari yang dibuat segar sampai yang dijual di swalayan, terutama jika dalam perjalanan terbang, di kereta api atau di bis.

Jangan lupa, ketika mengepak makanan dan minuman si bayi, taruh dalam tempat transparan untuk ditunjukkan pada petugas keamanan di bandara. Biasanya, makanan cair atau minuman bayi diterima walau lebih dari 100ml.

Jadwal perjalanan

Bayi juga makan dua atau tiga kali sehari, terutama pagi dan siang atau sore. Oleh karenanya, kita bisa mencari jadwal terbang di antaranya, misalnya ketika pagi buta (ketika bayi masih terlelap), siang hari (ketika belum makan) atau malam hari (ketika bayi sudah mulai terlelap lagi).

Membawa stroller atau tidak?

Dorongan bayi (stroller) bisa berguna hanya pada tujuan perjalanan yang nyaman dilalui pejalan kaki, misalnya negara maju, di mana infrastrukturnya sudah ada dan aman digunakan. Jika tujuan perjalanan anda ke hutan, pantai terpencil, kota di Vietnam, atau kebanyakan kota di Indonesia di mana anda tidak akan pergi ke mal, maka tinggalkan sajalah dorongan bayi itu di rumah. Anda diharuskan mengepaknya untuk dimasukkan bagasi, dan idealnya anda harus punya tas pelindung agar tidak kotor. Saran saya, lebih baik gunakan gendongan bayi modern seperti ransel yang bisa membawa bayi di depan tubuh orang tuanya agar anak lebih tenang.

Koper apa ransel?

Untuk urusan bayi, gunakan koper. Orang tuanya bisa gunakan ransel, kalau mau. Bayi butuh lebih banyak ruang dan mencuci tidak selalu menjadi solusi. Ada gunanya cari penginapan yang punya mesin cuci atau fasilitas binatu, tapi hanya sebagai jaga-jaga.

Perjalanan udara yang panjang

Perjalanan udara yang panjang, di atas empat jam, bisa menjadi mimpi buruk bagi orang tua dan bayi. Usahakan beli kursi sendiri untuk bayi anda, walau ada opsi lap infant (bayi didudukkan di atas paha orang dewasa). Anda tidak akan mampu memangku bayi anda selama 10 jam. Lebih mahal, tapi sangat berharga!

Siapkan satu popok setiap dua jam. Jadi, jika perjalanannya memakan waktu 10 jam, sediakan minimal lima popok. Lebihkan satu atau dua.

Jangan lupa sedia penutup telinga untuk menghindari anak merasa tidak nyaman dengan pergantian tekanan udara (walau tidak semua bayi memerlukannya).

Beberapa maskapai bahkan menyediakan makanan bayi dan popok tambahan, jadi bisa lihat-lihat opsi maskapai mana yang akan anda gunakan.

Sesuaikan fase anda

Jika anda terbiasa bepergian aktif dan berfase cepat, dengan bayi, anda tidak bisa begitu. Ketika sampai tujuan, misalnya, anda mungkin harus menggunakan taksi atau mobil dan rela mengantri lebih lama, demi kenyamanan. Anda mungkin hanya mengunjungi tempat-tempat yang ramah bayi (tidak bisa lagi, tuh, berlama-lama di pasar yang ramai). Anda mungkin keluar pada jam-jam sesuai jam bangun bayi anda, dan setelah bayi anda makan. Anda mungkin harus pulang sebelum waktu yang anda inginkan. Sesuaikanlah semuanya, yang penting bayi anda bisa menikmati juga perjalanan itu.

Mengunjungi Grand Central Terminal, New York

Ruang Utama
Ruang Utama

Dari luar, Grand Central Terminal tak ubahnya seperti gedung-gedung lain di kota New York, hanya lebih cantik sedikit. Tapi tentu saja, banyak gedung cantik di New York, saya pun terkagum-kagum. Lebih kagum lagi karena semuanya dapat dilihat dengan jalan kaki saja dari blok ke blok.

The Whispering Hall
The Whispering Hall

Grand Central Terminal terletak di antara 42nd Street dan Park Avenue di kota New York. Dulunya dibangun sebagai stasiun utama kota yang melayani jalur kereta api antar kota. Sempat melayani layanan kereta nasional Amtrak yang tahun 1991 dipindah ke Penn Station.

Grand Central Terminal dijuluki sebagai salah satu terminal kereta api tercantik di dunia. Berdiri sejak 1871, beberapa renovasi telah menghampirinya. Tahun 1960, gedung ini hampir dirobohkan untuk digantikan gedung lain, tetapi, Jacqueline Kennedy, istri presiden John F. Kennedy, berinisiatif untuk menobatkannya sebagai warisan nasional.

Secara arsitektur, gayanya adalah Beaux-Arts, ditandai dengan atap datar, lantai satu dengan langit-langit tinggi, penyekatan ruang walau pada satu lantai — misalnya pintu besar lalu ada anak tangga masuk ke ruang utama, jendela-jendela lengkung, pintu-pintu lengkung, desain simetris, seni patung dan detail-detail arsitektur klasik lainnya.

Papan Pengumuman Kereta Api
Papan Pengumuman Kereta Api

Khusus di Grand Central Terminal, terdapat mural astronomi di langit-langitnya yang tingginya bisa jadi mencapai dua lantai.

Diajak seorang teman yang bersikukuh ingin saya mengunjungi Grand Central Terminal, siang itu, seperti biasa, jalan menuju ke sana begitu riuh dengan banyaknya penumpang kereta yang lalu lalang. Selain dikunjungi oleh komuter setiap harinya, stasiun ini juga dikunjungi turis-turis hingga 21 juta orang tiap tahun (menjadikannya salah satu dari sepuluh besar atraksi turis di dunia versi majalah Travel+Leisure).

Ruang Utama
Ruang Utama, dari sisi lain

Setelah turun dari subway jalur N kami langsung menuju ke ruang utama terminal ini. Sungguh megah terlihatnya! Suasana keemasan yang ditimbulkan dari pencahayaan dan warna material gedung membuatnya semakin memesona.

Grand Central Terminal ini lebih sering disebut sebagai Grand Central Station, karena kebanyakan orang datang ke sini dengan kereta api. Kabarnya, ia jadi fasilitas terminal perkeretaapian terbesar di dunia dengan 67 jalur kereta api. Ada dua tingkat platform, keduanya berada di bawah tanah. Selain melayani subway dalam kota, Grand Central Station juga melayani kereta jarak jauh komuter yang melayani kota-kota di sekitar seperti Westchester, Putnam, Fairfield dan New Haven.

Teman saya menunjuk ke langit-langit dan mencoba mengarahkan pandangan saya ke bagian kecil di sudut atap stasiun ini.

“Lihat, ada kotak kecil berwarna hitam, kan?”

Saya mengernyitkan dahi sambil memperhatikan dengan seksama.

“Ah ya, memangnya itu apa?”, tanya saya.

“Itu adalah warna langit-langit stasiun ini sebelum dibersihkan tahun 1998. Kotor begitu karena dulu banyak residu asap rokok yang menempel.”

Wah, kontras sekali. Warna sekarang adalah hijau toska dengan mural zodiak berlatarbelakang hijau toska yang mencolok, dikelilingi warna keemasan dinding di sekitarnya.

Di tengah aula utama terdapat sebuah kaunter mungil. Ada petugas di situ yang bertugas memberikan informasi dan petunjuk arah. Tiket bisa dibeli di kaunter terdekat atau di mesin.

Saya sempatkan ke tengah-tengah aula dekat kaunter informasi itu dan melihat berbagai kalangan lalu-lalang mengejar keretanya. Mereka tampak masuk dari pintu-pintu sekeliling, dari tangga di atas dan di bawah, berjalan dengan cepat ke tengah seolah ingin bertemu kami… namun mempercepat laju jalannya lagi ke tempat lain. Kami berada tepat di tengah kesibukan kota yang tidak pernah tidur ini.

Teman saya kemudian mengajak ke sisi lain stasiun yang disebut The Whispering Hall (aula berbisik). Ada empat pilar di sini. Di setiap pilar kita dapat berbisik ke tembok, lalu orang lain yang berada di pilar berseberangan dapat mendengar bisikan kita! Entah apa yang memotivasi arsiteknya untuk membuatnya. Bahkan, kita tak tahu apakah keadaan ini memang sengaja dibuat atau benar-benar aksidental.

Belum sempat puas menikmati suasana di Grand Central, teman saya langsung mengajak saya menaiki kereta berikutnya.

24 Jam di Guayaquil, Ekuador

Kebanyakan turis berkunjung ke Ekuador untuk melihat ibukota Quito serta Kepulauan Galapagos yang melegenda karena menjadi inspirasi Charles Darwin dalam mencetuskan teori evolusi. Menurut saya, Guayaquil haruslah juga menjadi salah satu destinasi utama bagi para turis yang mengunjungi Ekuador meskipun hanya sehari saja. Dalam perjalanan saya ke Peru baru-baru ini, saya dan teman saya sempat melihat-lihat Guayaquil selama 24 jam sebelum kami kembali dari Peru ke tempat kami tinggal di Pantai Timur Amerika Serikat. Kami terpesona pada cantiknya Guayaquil!

Kota terbesar dan terbanyak jumlah penduduknya di Ekuador ini sebenarnya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Guayaquil adalah kota metropolitan dengan pelabuhan yang ramai dan aktifitas perdagangan dan jasa yang menggeliat sepanjang siang dan malam. Dalam sejarah negeri-negeri Amerika Latin, Guayaquil terkenal karena menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822, yang mempertemukan dua tokoh besar pro-kemerdekaan Amerika Latin, yakni Jose de San Martin dan Simon Bolivar. Kini, bagi kebanyakan turis, ibukota finansial Ekuador ini berperan sebagai tempat persinggahan bagi turis asing yang hendak berkunjung ke Galapagos. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk tiba di Galapagos dari Bandara Jose Joaquin de Almedo di Guayaquil.

Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000
Menara jam kuno berasitektur Moorish di samping Balaikota Guayaquil, sebagaimana terlihat dari boardwalk Malecon 2000

Begitu kami tiba di Guayaquil, kami terkesan pada megahnya bandara. Rasanya tidak jauh beda dengan Terminal 3 Bandara Changi di Singapura. Di antara terminal kedatangan dengan foyer tempat penumpang bisa dijemput ada kolam ikan koi yang dikelilingi tanaman-tanaman tropis. Sambil menunggu datangnya shuttle bus dari hotel, saya memutuskan memberi makan ikan-ikan koi yang berseliweran. Pengunjung bandara bisa dengan mudah membeli makanan ikan koi dari vending machine di sebelah kolam. Saya pun memasukkan koin 25 sen/satu quarter berlambang bald eagle Amerika Serikat ke dalam vending machine karena mata uang yang berlaku di Ekuador adalah dolar AS.

Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil
Kolam ikan koi di depan Bandara Internasional Jose Joaquin de Almedo, Guayaquil

Dari hotel, kami dijemput oleh ayah teman dekat saya ketika S1 yang kebetulan berasal dari Guayaquil dan kini kembali tinggal di kota kelahirannya setelah lama merantau di New York dan Puerto Rico. Tío Leo langsung mengajak kami bersepeda santai di kawasan cagar alam Pulau Santay. Sebuah jembatan pedestrian dengan panjang sekitar 1 km menghubungkan Guayaquil dengan Santay yang dipisahkan oleh sungai Guayas. Dari jembatan ini kami menikmati pemandangan metropolis Guayaquil yang penuh pencakar langit. Namun, hiruk pikuk kota besar terasa langsung hilang sebegitu sepeda kami memasuki wilayah cagar alam. Dari raised platform tempat kami bersepeda, kami bisa dengan mudah melihat burung-burung berseliweran di antara berbagai jenis bakau dan tanaman tropis lainnya. Pantas saja Tío Leo sering bersepeda ke Santay untuk menghilangkan penat.

Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil
Suasana kampung nelayan di Pulau Santay dekat Guayaquil

Sambil bersepeda ke kampung nelayan di Santay untuk makan siang dan melihat penangkaran buaya, Tío Leo banyak bercerita tentang optimismenya akan masa depan Ekuador. Ia adalah pendukung berat Presiden Rafael Correa yang saat ini tengah menjabat. Menurutnya, Presiden Correa memberikan angin perubahan dan rasa percaya diri sebagaimana Presiden Obama, Modi, dan Jokowi membawa negara masing-masing ke era baru yang terlihat lebih menjanjikan. Kata Tío Leo, Presiden Correa yang ekonom dan lulusan Amerika Serikat tetapi berasal dari keluarga kelas pekerja Guayaquil ini berani mengajukan tuntutan penghapusan utang rezim lama ke pengadilan internasional dan berhasil mengurangi secara drastis jumlah utang Ekuador, selain juga berhasil mengurangi angka kemiskinan dan memberikan akses yang luas ke pendidikan dan layanan kesehatan bagi rakyat Ekuador. Bahkan, wajah cagar alam Santay yang tampak rindang dan desa nelayan Santay yang bersih dengan fasilitas memadai tidak lepas dari peran sang presiden. Cagar alam tersebut baru saja diresmikan Correa pertengahan tahun 2014 lalu.

Sekembalinya kami dari Santay, kami langsung naik Metroquil, sistem bus rapid transit Quayaquil yang tidak jauh beda dengan TransJakarta busway di ibukota, menuju ke bulevar Malecon 2000. Dengan panjang sekitar 2,5 km, boardwalk lebar di samping sungai Guayas ini adalah tempat rekreasi utama warga Quayaquil dan sekitarnya. Beruntung kami ada di sana pada Sabtu sore, karena ada dua konser musik gratis di atas boardwalk menghibur jalan-jalan sore kami menyusuri Malecon 2000. Di sisi kiri kami berjajar gedung-gedung tua bernuansa art deco dan moorish yang terawat dengan baik sedangkan angin sepoi-sepot berhembus dari sungai di sisi sebelah kanan. Sisi selatan Malecon 2000 tempat kami memulai jalan-jalan sore didominasi tempat perbelanjaan bawah tanah serta bermacam-macam pujasera yang menawarkan makanan khas Ekuador maupun makanan cepat saji internasional. Di sepanjang boardwalk berjajar patung-patung tokoh historis asal Guayaquil, termasuk monumen yang memperingati berlangsungnya Konferensi Guayaquil tahun 1822. Di sana sini terdapat area rekreasi dan olahraga yang bisa dinikmati secara gratis oleh penduduk Guayaqil. Mendekati akhir boardwalk di bagian utara, kami mendapati beberapa museum, pusat kebudayaan, serta bioskop IMAX. Tak jauh dari pusat kebudayaan tersebut ada taman kota rindang dengan kolam air mancur tua yang amat cantik. Kalau tidak ingat bahwa ada banyak tempat menarik lain yang harus dikunjungi, rasanya saya ingin menghabiskan sore membaca buku di tempat yang sedemikian teduh. Ah, andai saja kota saya Jakarta punya banyak taman kota indah seperti ini.

Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822
Monumen La Rotonda di tengah Malecon 2000 yang dihiasi patung Jose de San Martin dan Simon Bolivar, didirikan guna memperingati Konferensi Guayaquil tahun 1822

Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador
Tío Leo berpose sebelum menikmati makan malam khas Ekuador

Dari ujung utara Malecon 2000, Tío Leo mengajak kami naik ke puncak bukit atau cerro Santa Ana. Di bukit inilah, yang sering juga disebut Las Penas, pemukiman pertama di Guayaquil berdiri. Karena itulah, di puncak bukit terdapat reruntuhan benteng lengkap dengan meriam-meriamnya. Di bagian paling atas bukit ada kapel kecil dan mercusuar yang hingga kini masih berfungsi. Untuk sampai ke puncak bukit, kami perlu mendaki ratusan anak tangga yang dikelilingi rumah-rumah kuno beraneka warna yang kebanyakan kini telah beralih fungsi menjadi restoran, galeri, dan toko suvenir. Arsitektur Hispaniknya mengingatkan saya pada rumah-rumah kuno di kawasan kota tua Intramuros di Manila. Dari bawah bukit, cerro Santa Ana terlihat seperti favela di Rio de Janeiro dan Gamcheon art village di Busan yang dicat warna-warni, sedangkan dari puncak mercusuar, kami menikmati pemandangan kota Guayaquil diiringi temaram matahari yang mulai tenggelam. Rumah-rumah aneka warna di punggung bukit berkilau terang terkena sinar mentari sore. Indah sekali. Kata Tío Leo, satu dekade lalu Las Penas/Cerro Santa Ana adalah daerah kumuh. Pemerintah Guayaquil bersama dengan warga lokal lantas merevitalisasi kawasan kuno ini. Hasilnya jelas tidak mengecewakan. Kalau waktu Anda di Guayaquil terbatas, daerah ini layak menjadi persinggahan utama.

Suasana senja di atas puncak Cerros Santa Ana; gambar diambil dari puncak mercusuar

Kami lantas berjalan kaki menuju Katedral Metropolitan Guayaquil yang dibangun dengan gaya neo-Gothik. Di depan Katedral ini terdapat sebuah plaza dan taman dengan nama Parque Seminario, tetapi lebih banyak dikenal dengan sebutan Parque de las Iguanas. Disebut begitu karena memang taman ini dihuni banyak sekali iguana. Kami menemukan iguana bergelantungan di pohon, tidur-tiduran di pinggir kolam ikan dan berkeliaran di sekitar pagar. Meskipun malam sudah tiba, taman ini terang oleh lampu-lampu besar. Di tengah taman berdiri patung perunggu Simon Bolivar, pahlawan kemerdekaan negeri-negeri Amerika latin yang namanya kini diabadikan juga sebagai nama negara Bolivia. Di sekeliling patung terdapat banyak tempat duduk yang ramai oleh keluarga dan pasangan. Beberapa dari mereka mencoba memberi makan dan bermain dengan para iguana yang memang sudah menjadikan taman ini habitatnya. Berlama-lama guna bercengkerama dengan iguana-iguana jinak di taman ini boleh-boleh saja, asal jangan kaget kalau tiba-tiba ada “bom” kotoran iguana atau burung yang jatuh ke badan Anda dari pepohonan tempat para hewan bermukim.

Malam sudah penuh menyelimuti Guayaquil ketika kami memutuskan menyudahi jalan-jalan kami. Tío Leo lantas membawa kami ke restoran khas Ekuador tak jauh dari Parque de las Iguanas. Karena Guayaquil terletak dekat laut, pilihan saya jatuh pada “chupe de corvine y camarones” yakni sup ikan dan udang khas Guayaquil yang bertaburan irisan bawang dan kentang. Hmm, segar dan yummy! Apalagi bila ditambah dengan sedikit aji atau saus sambal. Tentu kami tak lupa mengudap penganan nasional Guayaquil yaitu pisang goreng. Sambil makan, Tío Leo bercerita banyak tentang dinamika perubahan yang tengah terjadi di Ekuador, di mana beberapa tahun terakhir di bawah Presiden Correa korupsi mulai berkurang dan birokrasi menjadi lebih efisien. Memang Ekuador masih harus banyak belajar memperbaiki kekurangan di sana-sini, tapi perubahan itu sudah bisa dilihat. Misalnya saja, dulu Guayaquil adalah kota yang terkenal dengan tingkat kriminalitas tinggi. Banyak sekali terjadi perampokan dan pembunuhan yang menjadikan penumpang dan terkadang juga supir taksi sebagai korban. Kini semua taksi yang beroperasi di Guayaquil dilengkapi dengan tombol darurat di sebelah tempat duduk penumpang. Begitu ada kemungkinan kejadian mengkhawatirkan di dalam ataupun di luar taksi, sang penumpang dapat menekan tombol tersebut dan mobil polisi terdekat akan segera tiba. Setelah sistem tersebut mulai diimplementasikan, angka kriminalitas Guayaquil mulai menurun.

Setelah puas mengobrol, Tío Leo mengantar kami kembali ke tempat kami menginap yang terletak tak jauh di bandara dan berseberangan dengan mal terbesar di Guayaquil, Mall de Sol. Waktu istirahat telah tiba setelah seharian menjelajahi Guayaquil. Kami pun harus terbang kembali ke New York keesokan harinya. Sebelum tidur saya mengirimkan pesan WhatsApp ke Melina, teman kuliah S1 saya yang merupakan putri Tío Leo dan kini bermukim di Puerto Rico setelah sebelumnya sempat tinggal di Jakarta beberapa tahun lamanya: “Guayaquil is a great city; I wish Jakarta had something like Malecon 2000 and its beautiful gardens.” Tak berapa lama Melina menjawab: “Jakarta has so much potential and sooo much it can showcase; it just needs the government to see how important it is to invest on it.” Benar, true that, Melina!