Artikel-artikel dari kategori Makanan (halaman ke-2 dari 3)

Resep Membuat Chai Latte di Rumah

Resep dari situs ini.

“Redolent of the spices of India, and especially warming during cold winters, Chai tea is a delicious beverage that has migrated from India to, well, everyone! You can find Chai tea lattes at Starbucks and other coffee shops, recipes on Pinterest, and premade at the store. But many of them have strange ingredients – and weak spices.”

(via Wandering Educators)


Erişte

Erişte (eh-rish-te), pasta asal Turki yang dipotong-potong pendek, dibuat tanpa telur. Dimasak dengan daging atau keju. Di Turki utara, hidangan ini dimasak di oven.

(via EatingTurkey)


Icip-Icip Ayam Taliwang Asli Lombok

Bagi saya belum resmi ke Pulau Lombok kalau belum menyantap Ayam Taliwang. Kala berlibur di Lombok, saya sempatkan diri saya untuk icip-icip Ayam Taliwang di salah satu restoran di sekitar Pantai Senggigi Lombok. Bagi yang belum tahu Ayam Taliwang, makanan ini adalah menu khas Lombok yang khas dengan bumbu pedasnya. Sejarahnya, menu lezat ini ditemukan oleh juru masak dari kalangan Kesultanan Sumbawa. Pertama kali menu ini dirintis oleh sang Ibu Tua Maknawiyah bernama Pupuq yang berasal dari Kampung Taliwang, Ibu ini bekerja sebagai penjual nasi ayam. Kala itu Ayam Taliwang amat tenar dan kemudian bermunculan pedagang-pedagang baru asal kampung itu yang semakin menjamur menggunakan nama Ayam Taliwang pula.

Ayam Taliwang Bumbu Pedas
Ayam Taliwang Bumbu Pedas.

Bagi penggemar makanan pedas, pasti akan suka dengan menu ini, pedasnya dijamin akan memanjakan lidah Anda. Ayam Taliwang dibuat dengan bahan dasar ayam kampung berukuran kecil yang umurnya harus masih muda, sekitar tiga sampai empat bulan, karena kondisi umur ayamnya yang masih muda bentuk ayamnya kecil, sehingga bisa dihidangkan utuh satu ekor tanpa dipotong-potong lagi.

Siang itu, matahari mulai naik dan bersinar terik, saya dan ketiga teman saya duduk di dermaga kapal Pulau Gili Trawangan untuk kembali ke Pulau Lombok. “Nanti, sesampainya di Pantai Senggigi kita harus berburu Ayam Taliwang, ya,” ajak saya ke ketiga teman saya. “Oh, tentunya! Suatu keharusan itu,” jawab ketiga teman saya serentak. Sudah hampir satu jam lebih saya menunggu kapal, tapi kapal belum menunjukan tanda-tanda kemunculannya. Karena kelelahan saya menunggu sampai terkantuk-kantuk. Saya merasa lelah karena hari sebelumnya waktu saya habis untuk berpetualang di Tiga Gili, yaitu Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Setalah hampir dua jam menunggu, akhirnya kapal yang saya tunggu-tunggu pun muncul, langsunglah saya menuju ke tepian pantai dan langsung menaiki kapal dengan perlahan sambil membayangkan kelezatan Ayam Taliwang.

Saya bertanya pada supir taksi untuk menujukan tempat restoran Ayam Taliwang yang paling enak. “Mau ke mana, dek?”, tanya sang supir pada kami. “Kita mau ke Pantai Senggigi Pak, tapi sebelum itu kita mau cari restoran Ayam Taliwang yang enak di sekitaran Senggigi, kira-kira di mana ya, Pak?”, tanya saya penasaran. “Oh, Kalau restoran Ayam Taliwang banyak, kok, di sekitar Senggigi, nanti akan saya tunjukan tempat yang paling enak dan nyaman,” sang supir menjelaskan. Taksi terus melaju, sampai akhirnya sampai di Senggigi. Supir taksi langsung mengarahkan taksinya ke arah restoran yang menurut keterangannya tempatnya bersih dan menunya enak. Taksi pun berhenti di depan restoran tersebut, ternyata lokasinya tepat di pinggir Jalan Raya Senggigi.

Saya pun menuruni taksi, dan langsung melangkahkan kaki saya untuk masuk ke dalam, kesan pertama memasuki restoran itu menorehkan kesan yang baik, restorannya lumayan luas dan rapi. Ada beberapa meja dan bangku kayu yang disusun memanjang dan ada pula yang disusun melingkar dengan payung kayu diatasnya. Saya pun disambut dengan pelayan yang ramah yang kemudian langsung menyodorkan buku menu.

“Pak, Menu Ayam Taliwang di sini ada berapa macam ya,” tanya saya sesaat setelah disodorkan buku menu. “Cuma ada satu jenis, dek, Ayam Taliwang bumbu pedas,” jawab sang pelayan singkat. Saya pun langsung memesan Ayam Taliwang empat porsi, untuk saya dan ketiga teman saya. Tidak lupa, selain itu saya juga memesan Plecing Kangkung sebagai menu tambahan.

Plecing Kangkung
Plecing Kangkung.

Setelah dua puluh menit ditunggu pelayan berjalan dari dapur restoran menghampiri kami dengan menu sesuai pesanan saya. Akhirnya Ayam Taliwang terhidang di depan mata saya. Ayam Taliwang utuh satu ekor dan sungguh menggugah selera. Tak pakai pikir panjang, setelah berdoa dalam hati, kami makan Ayam Taliwang itu. Gigitan pertama, sungguh menggugah selera, dagingnya terasa sangat empuk, terasa sekali bumbunya menyerap sampai ke dalam daging. Gigitan kedua, makin menambah selera saya untuk segera menghabiskan santapan yang begitu lezat. Disela menikmati Ayam Taliwang tidak lupa saya icip-icip Plecing Kangkung sebagai menu tambahan. Plecing Kangkung yang begitu lezat, sungguh terasa perpaduan bumbu yang sempurna di mulut, Plecing Kangkung memang pendamping yang pas untuk Ayam Taliwang.

Tiba pada suapan terakhir, rasanya tetap nikmat dan lezat sampai pada suapan terakhir. Rasa kecapnya, rasa cabainya, bumbu rempah-rempahnya, semua terasa menjadi suatu kombinasi citra rasa yang sempurna. Diakhiri dengan menyeruput es teh manis, kemudian saya pun memanggil pelayan untuk meminta bon dan lekas membayar. Setelah itu saya meninggalkan restoran dan lanjut ke Pantai Senggigi yang letaknya tidak jauh dari restoran.

  • Disunting oleh SA 28/11/2012

Kudapan Legendaris Indonesia

Ini tentang hasil perburuan jajanan tradisional waktu pulang kampung kemarin. Bersama adik paling kecil, pada suatu Minggu pagi, kami niatkan pergi ke Pasar Wage, pasar terbesar se-kabupaten Banyumas, untuk berburu kudapan jaman dulu.

Ternyata tidak mudah menemukan jajanan pasar yang sudah tergolong antik. Untuk beberapa jenis jajanan alasannya antara lain adalah karena jajanan itu tidak memiliki nilai ekonomis yang cukup layak untuk dijual atau karena memiliki masa kadaluarsa yang pendek.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.

Ambil saja misalnya awug-awug dan ongol-ongol. Biasanya jajanan tersebut dibuat guna pra-syarat yang harus ada pada acara slametan pengantinan, khitanan, ruwatan, wayangan dan acara sejenis lainnya. Jajanan macam itu sengaja dimasak pagi hari untuk untuk dapat dihidangkan langsung siang harinya, karena kalau tidak habis dimakan hari itu, dapat dipastikan besoknya pasti basi.

Asal-usul jajanan macam ini tidak bisa dijelaskan secara pasti, karena biasanya sejarahnya hanya berdasar cerita mulut ke mulut yang entah dimulai dari siapa. Contohnya kisah tentang kue kamir.

Beberapa cerita menyebutkan bahwa kue kamir dibuat pertama kalinya oleh keturunan Arab yang tinggal di kelurahan Mulyoharjo, Pemalang. Nama Kamir sendiri konon kabarnya berasal dari kata “khamir” yang artinya ragi. Tapi, siapa yang bisa menjamin kebenaran sejarah tersebut, kalau bahkan adik saya pun bisa memiliki pendapat lain. “Kue kamir itu bukan dari Arab, kue kamir itu sebenernya dari Jepang, aslinya namanya kue dorayaki, sering dimakan Doraemon!”. Padahal, pergi ke Jepang atau makan kue dorayaki yang asli pun adik saya belum pernah.

Bicara tentang kemiripan, kudapan lokal juga memiliki beberapa kemiripan dengan makanan kecil dari negara luar, seperti misalnya serabi juruh dan roti klepes.

Serabi juruh sungguh sangat mirip dengan panekuk atau kue pancake. “Serabi juruh ini seperti pancake tradisional, atau kue panekuk kampung, mas,” adik saya berkomentar. Serabi juruh dan panekuk sama-sama dibuat dari tepung terigu ditambah bahan-bahan lain yang kemudian dituang dalam cetakan. Yang membedakan antara serabi juruh dan panekuk adalah bahwa serabi juruh memiliki pasangan saos berupa campuran antara santan, gula kelapa dan pandan, sedangkan panekuk biasanya disajikan dengan madu.

Lain lagi dengan kue klepes. Kue klepes ini dibuat dari dua lapis biskuit yang antar lapisnya diisi tape. Sekilas hampir mirip dengan konsep pembuatan crepes, bukan? Bisa jadi karena itulah namanya berasal. Crepes menjadi klepes?

Selain memiliki kesamaan dengan makanan luar, jajanan pasar juga memiliki kesamaan antar daerah di Indonesia, kadang yang membedakan hanya penyebutannya saja.

Misalnya, jajanan berbahan baku singkong yang digoreng dengan cairan gula merah di dalamnya. Kalau di Banyumas jajanan itu namanya ondol-ondol sedang di Sunda biasa disebut roti obi. Ada lagi kudapan dari sayuran matang disiram bumbu parutan kelapa pedas, kalau di Banyumas disebut kluban, sedang di tanah Sunda disebut urap. Lalu ada lagi tentang holang-galing Banyumas yang di Jakarta biasa disebut “kue bantal”. Dage Purwokerto, oncom tahu di sunda atau menjes di Malang.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.

Untuk jenis jajanan tertentu bahkan walau memiliki komposisi yang sama namun bisa memiliki nama yang berlainan, di sama-sama satu daerah. Misalnya nagasari dan utri. Sama-sama berasal dari olahan tepung beras dan sama-sama dibungkus daun pisang (yang dibuat seperti jenang dengan potongan pisang di dalamnya), namun kalau nagasari dibungkus berbentuk segitiga, sedang utri cukup “digubet” sehingga berbentuk pipih menyerupai tempe bungkus.

Beberapa jajanan juga memiliki cerita yang unik, tentang meniran misalnya. Walau hampir sama dengan arem-arem tapi sejatinya dia berbeda. Kalau arem-arem dibuat dari beras yang masih baik sedang meniran dibuat dari beras menir, atau sisa beras yang rusak/patah. Namun justru karena itu meniran jadi memiliki rasa yang lebih unik karena teksturnya, yang berasal dari beras rusak tersebut, lebih lembut.

Jajanan pasar tradisional, juga memiliki kemiripan dalam bahan baku olahannya. biasanya jajanan pasar tradisional berbahan baku beras, terigu, singkong, kedelai, bahkan ada beberapa memakai bahan ampas yang dimanfaatkan kembali.

Jajanan berbahan baku beras (atau tepung beras) dan terigu contohnya serabi, kamir, carabikang, lupis (beras ketan), utri, golang-galing, mendut, meniran, jongkong dan lain sebagainya. Kalau yang berbahan baku singkong misalnya ciwel, cenil, getuk (oyek, mawur, intil), klanting dan cimplung. Sedang yang berasal dari ampas yang diolah kembali bisa seperti seperti ranjem (ampas tahu), templek (ampas kedelai), tempe bongkrek (ampas peraman air kelapa) dan dage (ampas kelapa).

Masih terkait bahan baku, beberapa jajanan tradisional juga masih memakai bahan pewarna alami. Misalnya ciwel hitam (jajanan yang dibuat dari pati singkong). Warna hitamnya berasal dari oman (abu hasil bakaran batang padi selepas panen) yang diambil airnya untuk dijadikan pewarna si ciwel.

Pada akhirnya jajanan tradisional, walau sudah semakin jarang ditemukan, masih tetap terbukti sebagai legenda hidup tangguh yang tetap bisa menahan gempuran makanan olahan modern yang lebih canggih dan lebih “nge-brand”.

  • Disunting oleh SA 09/09/2012

Roti Isi Ikan Khas Eminonu

Susunan meja kayu berukuran kecil tumpah ruah ke area publik. Tempat duduk pun penuh diduduki ramainya pengunjung yang sedang bersantap siang. Belum lagi terlihat antrian panjang di depan perahu yang terombang ambing di pinggir dermaga. Beberapa pria dengan seragam hitam dan bordiran warna kuning berlomba lomba memanggil pengunjung, “Balik Elmek… Balik Elmek… Balik Elmek…” untuk masuk ke dalam tendanya.

Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar
Roti dijual melalui perahu kecil yang bersandar

Penasaran dengan makanan apa yang disiapkan dan dijual di atas perahu itu, sayapun duduk di anak tangga sambil membuka helai halaman pada puku panduan yang saya bawa. Di halaman itu tertulis:

“The cheapest way to enjoy fresh fish from the waters around Istanbul is to buy a ‘balik ekmek’ (fish sandwich) from a boatman.”

Rupanya secara tidak sengaja saya menemukan penjual roti isi ikan khas Eminonu yang sangat populer di kalangan masyarakat lokal Istanbul. Di sepanjang bibir dermaga Eminonu terdapat beberapa penjual roti isi ikan yang merapatkan perahunya di Teluk Golden Horn. Siang itu saya memilih penjual dengan pengunjung paling banyak, biasanya banyaknya pembeli mencerminkan kualitas dari makanan yang dijual.

Papan harga
Papan harga

Roti isi ikan siap disantap!
Roti isi ikan siap disantap!

Empat orang pembuat roti isi di dalam perahu bekerja dengan cekatan, dua orang memanggang ikan segar, biasanya sejenis ikan kembung yang banyak ditemui di perairan Turki, dan duanya lagi memasukan ikan panggang, irisan selada dan bawang bombai ke dalam roti berukuran setengah kaki. Bergabung dengan antrian di depan perahu, kami pun bergerak sangat cepat. Mungkin karena tidak ada menu lain yang dijual selain roti isi ikan. Memesannya pun sangat sederhana, hanya dengan menyebutkan jumlah roti isi yang mau dibeli dan dengan lincah petugas di depan perahu akan memberikan roti isi yang terbungkus kertas dan menarik bayaran sebesar lima lira per roti isi.

Menikmati roti sambil bersantai
Menikmati roti sambil bersantai

Sultan Ahmed Square
Sultan Ahmed Square

Melihat tempat duduk kosong yang baru saja ditinggalkan pengunjung sebelumnya, saya duduk di kursi rendah di bawah bangunan berstruktur besi yang ditutupi tenda berwarna merah. Tempat yang sangat pas untuk berisitirahat dan bersantap siang dengan pemandangan minaret menghiasi garis cakrawala kota tua Sultan Ahmed. Suasana masih diramaikan dengan kicauan burung camar yang berterbangan.

Roti isi ikan disantap dengan taburan garam dan perasan air jeruk nipis yang sudah tersedia di atas meja. Sesekali penjual minuman datang menawarkan minuman pickle juice, minuman yang terdiri dari irisan beberapa jenis acar sayuran. Terus terang, untuk urusan rasa, saya lebih memilih kebab, tapi roti isi ini patut dicoba apabila anda berkunjung ke Istanbul.

  • Disunting oleh SA 27/072012

Memesan Kopi/Teh Ala Singlish

Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lengang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.

Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.

Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.

Duduk di satu-satunya meja dengan logo rokok tak tercoret tepat di pinggir jalan, saya pun menikmati segelas es teh susu yang disebut tukang kopi “iced tea“.

Tak berapa lama, sebuah taksi menepi dan memarkirkan kendaraannya. Supir taksi itu duduk di meja yang sama dengan yang saya tempati. Dengan menggunakan bahasa Hokkien, saya mengerti supir taksi itu memesan segelas kopi. Ketika pesanannya datang, segelas kopi itu tidak terlihat seperti kopi hitam, lebih tepatnya seperti kopi susu.

Iseng-iseng saya pun bertanya, “You asked a coffee, didn’t you?”.

Yes, this is the coffee,” jawab si supir taksi.

So it’s not a coffee milk?” lanjut saya.

Sambil tersenyum si supir taksi kembali mengatakan, “No, it is a coffee!”

Supir taksi itupun menjelaskan istilah-istilah yang digunakan orang Singapura ketika memesan kopi atau teh. Di Singapura kalau memesan teh atau kopi berarti sudah otomatis dicampur dengan susu kental manis. Tidak perlu menambahkan kata susu. Berbeda dengan warung kopi di Jakarta. Kopi ya kopi saja, kalau mau ditambah susu berarti kopi susu.

Lain kali, saya pikir, jika ingin memesan kopi atau teh di kopitiam, maka saya harus mematuhi beberapa peraturan istilah berikut:

Kopi/Teh: kopi/teh dicampur dengan condensed milk/susu kental manis. Di Indonesia setara dengan kopi/teh susu.

Kopi-C/Teh-C: kopi dicampur dengan evaporated milk/susu tawar dan gula pasir

Kopi-O/Teh-O: kopi/teh dicampur dengan gula pasir. Di Indonesia setara dengan kopi/teh manis.

Kopi/Teh Kosong: kopi/teh tanpa gula dan susu. Di Indonesia setara dengan kopi/teh tawar/pahit.

Semua kopi dan teh disajikan panas, apabila mau disajikan dingin tinggal ditambahkan kata “Peng” yang berarti es, di akhir seperti Kopi-O Peng.

  • Disunting oleh SA 25/06/2012.

Nikmatnya Kuliner Cirebon

Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu? Mari kita simak!

Empal Gentong

Empal Gentong
Empal Gentong

Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.

Nasi Jamlang

Nasi Jamlang
Nasi Jamlang

Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.

Nasi Lengko

Nasi Lengko
Nasi Lengko

Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.

Tahu Gejrot

Tahu Gejrot
Tahu Gejrot

Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil.

Itu hanya segelintir daftar makanan yang dapat dijadikan referensi jika Anda berkunjung ke kota ini. Di luar menu itu, kota udang ini masih menyimpan segudang khazanah kuliner yang dijamin membuat lidah bergoyang.

Tertarik mengecap sedapnya kuliner kota Cirebon? Segera langkahkan kaki menuju Cirebon.

  • Disunting oleh SA 23/01/12

Cerita Si Pembuat Roti

Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan

Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.

Di hari yang lain secara tidak sengaja saya melewati sebuah toko penjual roti, tidak jauh dari “Chicken Street” jalan yang sangat populer di kalangan turis sebagai tempat membeli cinderamata. Setelah beberapa langkah melewati toko roti itu, saya berhenti sejenak dan kemudian kembali ke toko tersebut untuk mengambil beberapa gambar. Siang itu tepat pukul dua belas siang ketika orang sedang berangkat menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat, sedangkan pembuat roti sedang membuat dan mempersiapkan roti jualannya.

Toko roti kecil itu disebut “Nanwaee”, dari luar terlihat hanya pintu dan jendela kaca yang bertuliskan karakter bahasa Dari dengan cat berwarna merah. Di balik kaca tertata rapih roti pipih berbentuk panjang yang masih panas. Masyarakan lokal menyebut roti ini naan atau lebih tepatnya naan-i-Afghani berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti roti Afghanistan. Naan sangat umum didapatkan di negara-negara di Asia Tengah dan Asia Selatan, hanya saja bentuk dan variasi bahan dan topping yang sedikit berbeda.

Bediri di depan pintu dengan kamera di tangan, tukang roti itu sudah mengenali bahwa saya adalah orang asing yang datang bukan untuk membeli roti. Sambil menggerakan tanggannya dia menyuruh saya masuk “Come in, take picture”. Setelah mengambil beberapa gambar sesuai permintaan mereka, saya dipersilahkan duduk di atas dipan kayu yang sedikit kotor dengan serpihan tepung gandum.

Keempat pembuat roti itu bekerja sama sesuai tugasnya masing masing. Yang duduk di sudut ruangan dengan lengan baju tergulung mengaduk adonan gandum yang dicampur sedikit garam dan ragi. Pembuat roti di depannya memotong, menimbang dan membentuk adonan yang telah siap. Pembuat roti yang duduk di depan tungku api atau tandoor dengan cekatan menempelkan adonan roti panjang dengan bantalan kain ke dalam dinding tandoor yang berupa tungku api terbuat dari tanah liat. Dan yang terakhir duduk dekat jendela kaca bertugas menata roti yang sudah matang untuk siap dijual.

Pembuat roti itu adalah Ahmed, dengan dua tongkat besi, kedua tangannya sangat terampil mencungkil roti-roti yang telah matang berwarna kecoklatan dari tandoor. Sejak umur dua belas tahun, selepas pulang sekolah Ahmed selalu membantu seorang pembuat roti di dekat rumahnya. Pada saat itu Ahmed harus bekerja untuk membantu keluarganya. Selain membawa pulang sepotong roti gratis, Ahmed juga mendapatkan sedikit uang yang diberikan kepada Ibunya. Saat ini Ahmed berumur tiga puluh lima tahun, dengan dibantu tiga temannya Dia mengelola toko rotinya sendiri.

Walaupun hanya mengelola toko roti kecil, hingga kini Ahmed tidak pernah menyesali keputusannya dulu meninggalkan sekolah. Pada masa itu Ahmed kecil hidup di keluarga yang berkekurangan. Orang tuanya bekerja serabutan dan uang yang dihasilkan habis untuk kebutuhan sehari hari. Ditambah lagi mencari pekerjaan sangatlah sulit di tengah perang yang berkelanjutan saat itu.

Sampai akhirnya Ahmed menemukan seorang Mullah yang memiliki usaha toko roti dan membutuhkan pembuat roti. Pengalamannya membuat roti membuat Ahmed diterima bekerja penuh waktu di toko roti milik Mullah. Seiring berjalannya waktu Ahmed membuat toko rotinya sendiri dengan pinjaman modal dari Mullah tempat di mana dia bekerja saat itu.

Dalam sehari Ahmed bisa menjual 1.500 buah roti yang harganya telah ditetapkan pemerintah Afghanistan sebesar 10 Afs per buah. “Biasanya orang selalu datang pada saat jam jam makan pagi siang dan malam untuk membeli roti,” kata Ahmed. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kabul, mereka hanya menyiapkan lauknya di rumah dan membeli roti di toko roti yang menjamur di setiap sudut kota Kabul.

Tak lama seorang gadis kecil bermata hijau dengan pakaian yang lusuh datang ke toko roti Ahmed meminta sepotong roti. Sambil memberikan sepotong roti, Ahmed berkata, “Gadis itu berasal dari keluarga orang miskin seperti saya dulu. Miskin, kaya, polisi, pemerintah, masyarakat biasa bahkan Taliban, semua makan roti ini,” candanya sambil menunjukan naan yang baru diangkat dari tandoor.

  • Disunting oleh SA 23/06/2011

Ksatria Pengantar Makan Siang di Mumbai

Dabbawalla di Mumbai
Dabbawalla di Mumbai. Foto oleh Steve Evans, (lisensi Creative Commons)

Ketika makan siang bersama kolega kantor saya beberapa minggu lalu, di sela-sela santapan yang menggugah selera dan diskusi produktif tentang pekerjaan, kami sampai pada cerita tentang ksatria-ksatria Mumbai. Kolega kantor saya memang berasal dari Mumbai, India, namun sudah bekerja di Indonesia hampir 15 tahun lamanya. Ksatria apa yang dimaksud? Jangan membayangkan mereka ksatria berbaju besi yang naik kuda untuk membela kepentingan negaranya. Ksatria yang kami bicarakan adalah ksatria pelanjut kehidupan: sang dabbawalla. Mereka adalah pekerja-pekerja gigih yang berkontribusi membantu jutaan rakyat Mumbai untuk makan siang. Kenapa saya juluki ksatria, kita akan tahu sebentar lagi.

Mumbai adalah kota besar berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa di sebuah pesisir India bagian barat, ibukota dari negara bagian Maharashtra. Setiap harinya bisa jadi 25% dari jumlah itu sedang bekerja atau belajar di luar rumah. Satu hal yang biasa menjadi dilema dan pikiran kita ketika bekerja atau belajar di luar rumah adalah makan siang.

Semua dari kita pasti pernah mengalami dilema memilih makan siang: di mana, apa, dan kapan. Makan siang di rumah? Tidak selalu mungkin untuk pulang ke rumah ketika ada di kantor. Makan siang di kantin atau warung murah terdekat terkadang membuat kita khawatir akan kebersihannya. Makan siang di mal atau kafe tidak bisa setiap hari karena harganya kurang terjangkau. Lalu, makan apa? Pilihan makanan belum tentu sehat dan sesuai dengan selera. Karena tak ada waktu, kebanyakan kita memilih yang enak dan bikin kenyang saja. Kemudian, ada pertanyaan kapan kita makan siang? Terkadang kita lupa atau tak sempat beranjak dari tempat duduk. Alangkah enaknya jika ada yang mengantarkan makan siang di kantor kita.

Persoalan-persoalan inilah yang coba dijawab oleh para dabbawalla atau “pengantar makan siang” di Mumbai. Pertama, makan siang yang paling sehat, murah dan baik adalah makan siang yang dibuat di rumah: bahannya pasti, orang rumah tahu apa yang terbaik buat kita, dan hampir pasti selalu enak. Kedua, bagaimana jika kita membawa makan siang rumahan ini ke kantor atau sekolah, tapi tanpa bersusah-payah membawanya sendiri? Ketiga, bagaimana jika makan siang rumahan itu diantar tepat waktu setiap hari jam 12 siang, lalu rantang (disebut “tiffin” atau “dabba” di India) kosongnya diantarkan lagi pulang ke rumah untuk dibersihkan dan dipersiapkan keesokan harinya? Menyenangkan bukan?

Para dabbawalla ini bekerja setiap hari melakukan semua itu.

Dengan biaya tak sampai Rs. 300 (Rp50.000-an) per bulan tunai, kita dapat menikmati makan siang rumahan di kantor (porsi penuh dan besar!) tanpa harus repot-repot membawa rantang besar di tas. Bagaimana caranya?

Ada 5.000-an dabbawalla tersebar di berbagai distrik Mumbai dengan radius 60-80km yang siap menjemput rantang makan siang di rumah kita setiap pagi buta. Tentunya, makan siang ini harus dibuat oleh orang rumah, seperti ibu atau pembantu, atau kita sendiri kalau sempat. Para dabbawalla kemudian mengantarkan ke tempat kerja atau sekolah kita secara estafet. Satu rantang tidak dibawa oleh satu orang saja selama perjalanan. Mereka yang langsung mengambil rantang di rumah kita mungkin hanya membawanya sekian ratus meter atau beberapa kilometer, lalu memindahtangankan ke dabbawalla lain, yang kemudian, dengan modal sederhana seperti gerobak, sepeda atau rak yang dipanggul, melanjutkan perjalanan menemui dabbawalla berikutnya. Mungkin saja, dabbawalla berikut sudah menunggu di stasiun kereta api. Di sebuah gerbong khusus, mereka memasukkan ratusan bahkan ribuan rantang dari berbagai daerah. Gerbong kereta ini akan sampai di suatu tempat di tengah kota, lalu dabbawalla lain sudah menunggu di situ untuk dilanjutkan ke gedung kantor yang kita tuju. Begitu rantang sampai di kantor kita, jam sudah menunjukkan hampir makan siang, dan sesuai jadwal, kita bertemu kembali dengan rantang kita tadi pagi!

Akhirnya makan siang pun disantap. Lalu bagaimana nasib rantang kosong itu?

Rantang kosong kita tinggalkan saja di situ. Satu jam kemudian, ada dabbawalla yang sama yang akan mengambil rantang tersebut untuk diantarkan pulang, dengan rute yang sama ketika berangkat! Kita sebagai pelanggan pun bisa melanjutkan bekerja tanpa memikirkan ke mana rantang kita pergi. Kita pulang dan rantang kosong sudah ada di rumah, siap untuk dicuci dan digunakan kembali esok hari.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mereka bisa tahu rantang mana dikirim ke mana, dan ke kantor mana, untuk siapa? Para dabbawalla dibantu oleh sistem kode tulisan dan warna di rantangnya. Mereka tak peduli nama dari si pengirim dan penerima. Pelanggan hanya perlu memberitahukan lokasi pengiriman, (misalnya kalau di Jakarta, minta dikirimkan dari Tanjung Barat ke sebuah gedung kantor di Sudirman). Selanjutnya, “manajemen” dabbawalla yang akan memberikan kode sesuai sistem mereka sendiri. Berikut contoh kode dabbawalla yang dicat di atas rantang, berikut penjelasannya.

Kode dabbawalla
Data diaptasi dari mumbaidabbawala.org

Dalam kasus di atas, rantang dikirimkan ke sebuah gedung bertingkat. Dalam kasus gedung bertingkat, biasanya rantang hanya disampaikan di lantai dasar, untuk kemudian diambil oleh pegawai bersangkutan.

Menurut diskusi saya dengan kolega kantor tadi, tidak pernah terjadi kesalahan selama enam tahun dia menggunakan jasanya ketika masih di Mumbai dulu. Tingkat kesalahannya hanya satu dari 16 juta pengiriman. Padahal, setiap harinya ada 200.000 rantang yang dikirim dan katanya mereka tidak berhenti bekerja walaupun dalam badai monsoon sekalipun. Mereka juga bekerja tanpa kendaraan bermotor. Mereka mengandalkan jalan kaki, sepeda atau gerobak. Terbayang laju yang tidak cukup cepat, tetapi tetap sampai pada tujuan tepat waktu.

Distribusi rantang makan ala Mumbai ini juga tidak menggunakan teknologi tinggi seperti reservasi internet atau alat-alat canggih lainnya. Sebuah kenyataan menohok bagi kita barangkali yang selalu memuja perkembangan teknologi seluler!

Sistem kerja dabbawalla ini sangat tersohor di dunia bisnis karena konsepnya yang dekat dengan logistik dan supply chain management. Beberapa pekerja dabbawalla bahkan sempat diundang ke seminar-seminar dan kuliah-kuliah bisnis di India untuk menjelaskan konsep mereka bekerja kepada para mahasiswa modern. Perlu diingat bahwa pekerja dabbawalla bukanlah individu berpendidikan tinggi (rata-rata berpendidikan SMP) dan tidak ada manajemen resmi, apalagi perusahaan yang mengatur semua ini.

Penghasilan yang didapat oleh masing-masing dabbawalla per bulan paling rendah adalah US$40 (Rp360.000) sampai US$80 (Rp720.000). Beberapa ada yang mendapatkan Rs. 5.000 – 6.000 (Rp 971.000 – 1.100.000).

Terbukti, bisnis dabbawalla ini memiliki banyak keunggulan dan manfaat. Ia merupakan bisnis yang rendah investasi, minim teknologi, ramah lingkungan, tetapi sangat efisien dan efektif, sangat berdedikasi, memberikan 100% kepuasan pada pelanggan dan dengan tingkat kesalahan yang hampir nihil.

Wajar jika mereka saya juluki ksatria, karena berkat pengorbanan dan dedikasi mereka, warga Mumbai dapat menikmati makan siang murah, sehat dan teratur setiap hari.

Seusai berbincang dengan kolega kantor, saya menatap kembali piring kosong di depan saya sisa makan siang kami hari ini dan berharap makanan yang baru kami santap telah diantarkan oleh seorang dabbawalla pertama di Jakarta…

  • Disunting oleh ARW 30/03/2011

Kopitiam dan Mamak

Foto Oriental Kopitiam, Malaysia
Oriental Kopitiam, Malaysia. Foto oleh Mohd. Fahmi Mohd. Azmi, (lisensi Creative Commons)

Di Jakarta khususnya akhir-akhir ini sering ditemukan restoran atau warung makan yang di depannya ada panggilan “kopitiam”. Setidaknya, sepengetahuan saya, ada beberapa merek kopitiam di Jakarta: Kopitiam Oey, milik pengamat kuliner Bondan Winarno, Killiney Kopitiam, Lau’s Kopitiam, KL Village Kopitiam, Old Town Kopitiam, dan barangkali beberapa kopitiam lain yang tidak kita ketahui. Sekilas, penampilan kopitiam hampir tak ada bedanya dengan restoran biasa, baru bisa diketahui bedanya ketika melihat perabotan dan dekorasi yang digunakan, biasanya menyiratkan khazanah visual dan budaya peranakan. Peranakan sendiri adalah asimilasi dari budaya Cina dan budaya setempat, dalam hal ini, Melayu, karena asal kopitiam adalah dari ranah Singapura dan Malaysia.

Kedai Kopitiam Oey di Jakarta
Kopitiam Oey di Jl. H. Agus Salim, milik Bondan Winarno

Bagaimana awalnya kopitiam itu ada? Sebenarnya tak ada bedanya dengan warung kopi di Indonesia. Nama kopitiam itu sendiri artinya adalah warung kopi. Kopi, kita tahu bersama, adalah istilah untuk coffee, dan tiam adalah kosakata Hokkien untuk toko atau shop. Jadi, kopitiam = coffee shop = warung kopi.

Istilah kopitiam sendiri memang asalnya dari Singapura, menyajikan minuman kopi dan teh, lalu dengan sarapan sebagai menu utamanya. Tidak ada makanan “berat” di kopitiam. Menu yang biasa disajikan adalah kopi, teh, teh susu/teh tarik, Milo, roti bakar dengan berbagai selai (biasanya srikaya), dan telur setengah matang yang disajikan dengan merica, garam dan kecap asin. Kopitiam lalu berkembang menjadi food court (pujasera), dengan pemilik kopitiam yang menyewakan tempatnya untuk penjaja lain. Alhasil, menu yang ditawarkan berkembang menjadi full meal (char kway tiao, nasi lemak dan mie hokkien), tetapi si kopitiam asal tetap mempertahankan menu utamanya: sarapan. Setelah itu, muncullah kopitiam yang lebih mandiri dan eksklusif, menyajikan menu spesialis sarapan sampai ada juga yang lebih komplit, tetapi tetap oleh satu pengelola.

Lokasi kopitiam biasanya berada di pusat-pusat perbelanjaan atau lingkungan perumahan. Tempat ini menjadi favorit masyarakat Singapura untuk bertemu ketika pagi hari maupun sore hari.

Dekorasi yang paling khas dari kopitiam adalah meja kayu yang dilapis pualam di atasnya. Selebihnya, bisa bervariasi. Kalau tak mampu menyediakan meja pualam, meja dan bangku apapun jadi, yang penting makanannya!

Lalu, apa pula itu “mamak”? Bukan, ini bukan panggilan ibu di Singapura. “Mamak” adalah warung kopi ala Malaysia yang akarnya dari pendatang Tamil dari negeri India. Menu yang disajikan sedikit berbeda, dan tidak hanya sarapan, melainkan lebih luas, dan, seperti bisa ditebak, memiliki pengaruh India yang kental.

Kedai mamak yang dimiliki oleh Melayu di Singapura
Kedai mamak yang dimiliki oleh Melayu di Singapura

Di Malaysia sendiri, istilah “kopitiam” lebih merujuk pada warung kopi ala peranakan, khususnya Cina, dan sifatnya lebih eksklusif. Mamak, di sisi lain, lebih merakyat. Mamak biasanya terdapat di ruko, di satu sisi daerah permukiman, atau yang lebih modern pun ada, di dalam mall yang menjadi satu dengan pujasera.

Menu apa saja yang disajikan di sebuah kedai mamak? Hampir sama dengan kopitiam: teh tarik, kopi susu, teh, kopi, es teh jeruk nipis, Horlicks, Milo, es jeruk nipis. Makanan yang disajikan merupakan variasi makanan India seperti roti canai dengan saus kari, martabak, chappati, nasi briyani, nasi kandar (nasi rames ala India) sampai asimilasi makanan Thailand dan Melayu: nasi lemak, tomyam, nasi goreng pattaya.

Apa kesamaan dari kopitiam dan mamak? Pada dasarnya, kopitiam dan mamak adalah sebuah budaya kuliner rakyat di Singapura dan Malaysia, berakar dari negeri asing, yang sudah berasimilasi dengan budaya warga setempat. Mereka sama-sama menjadi wadah sosialisasi warganya dengan harga yang murah meriah. Sama seperti warung kopi angkringan di Indonesia. Yang menarik, mereka bisa mengekspornya ke luar negeri sebagai alternatif coffee culture yang berasal dari barat seperti Starbucks dan The Coffee Bean and Tea Leaf.

Oh ya, mereka juga punya kosakata yang sama untuk menyebut menu minumannya:

* kopi oh = kopi saja, panas, manis
* kopi oh peng = kopi saja, dingin, manis
* kopi oh kosong = kopi saja, panas, tak manis
* kopi oh kosong peng = kopi saja, dingin, tak manis
* kopi = kopi susu, panas, manis
* kopi peng = kopi susu, dingin, manis
* kopi ‘c’ = kopi panas dengan susu kental, manis
* kopi ‘c’ kosong = kopi panas dengan susu kental, tak manis
* kopi ‘c’ peng = kopi dingin dengan susu kental, manis
* teh oh = teh saja, panas, manis
* teh oh peng = teh saja, dingin, manis
* teh oh kosong = teh saja, panas, tak manis
* teh oh kosong peng = teh saja, dingin, tak manis
* teh = teh susu, panas, manis
* teh peng = teh susu, dingin, manis
* teh ‘c’ = teh panas dengan susu kental, manis
* teh ‘c’ kosong = teh panas dengan susu kental, tak manis
* teh ‘c’ peng = teh dingin dengan susu kental, manis

Disunting oleh ARW 31/08/10


Artikel sebelumnya Artikel selanjutnya

© 2017 Ransel Kecil