Sudah menjadi kebiasaan kalau tidak bisa tidur, saya selalu keluar mencari cemilan atau sekedar minum sambil menikmati suasana menjelang hari berganti. Malam itu di North Bridge Rd., Singapura, sudah terlihat sepi. Lampu pusat perbelanjaan di seberang jalan sudah dipadamkan. Jalanan terasa lengang oleh lalu lalang kendaraan. Pelanggan kopitiam (rumah makan yang menyediakan kopi dan teh) bisa dihitung dengan jari.

Di malam yang hampir larut itu, saya memesan segelas es teh susu. “Can I have iced milk tea please?”. Dengan muka bertanya-tanya, tukang kopi itu pun mengulangi “Tea with ice, ah?”, “…and milk!” lanjut saya. “It’s iced tea lor…” tukang kopi kembali meyakinkan pesanan saya. Daripada pusing saya pun meng-iya-kan saja kesimpulan si tukang kopi sambil mengeluarkan recehan S$1.20.

Tukang kopi itu pun membuatkan pesanan saya, memasukkan beberapa sendok susu kental manis, disusul menuangkan air teh dan es batu ke dalam gelas dan mengaduk rata. “Nah, your iced tea, one twenty cents.” Dalam hati saya, “It’s iced milk tea, not iced tea!” Masih terheran dan penasaran dengan perdebatan kecil itu pun saya tetap membayar pada akhirnya.

Duduk di satu-satunya meja dengan logo rokok tak tercoret tepat di pinggir jalan, saya pun menikmati segelas es teh susu yang disebut tukang kopi “iced tea“.

Tak berapa lama, sebuah taksi menepi dan memarkirkan kendaraannya. Supir taksi itu duduk di meja yang sama dengan yang saya tempati. Dengan menggunakan bahasa Hokkien, saya mengerti supir taksi itu memesan segelas kopi. Ketika pesanannya datang, segelas kopi itu tidak terlihat seperti kopi hitam, lebih tepatnya seperti kopi susu.

Iseng-iseng saya pun bertanya, “You asked a coffee, didn’t you?”.

Yes, this is the coffee,” jawab si supir taksi.

So it’s not a coffee milk?” lanjut saya.

Sambil tersenyum si supir taksi kembali mengatakan, “No, it is a coffee!”

Supir taksi itupun menjelaskan istilah-istilah yang digunakan orang Singapura ketika memesan kopi atau teh. Di Singapura kalau memesan teh atau kopi berarti sudah otomatis dicampur dengan susu kental manis. Tidak perlu menambahkan kata susu. Berbeda dengan warung kopi di Jakarta. Kopi ya kopi saja, kalau mau ditambah susu berarti kopi susu.

Lain kali, saya pikir, jika ingin memesan kopi atau teh di kopitiam, maka saya harus mematuhi beberapa peraturan istilah berikut:

Kopi/Teh: kopi/teh dicampur dengan condensed milk/susu kental manis. Di Indonesia setara dengan kopi/teh susu.

Kopi-C/Teh-C: kopi dicampur dengan evaporated milk/susu tawar dan gula pasir

Kopi-O/Teh-O: kopi/teh dicampur dengan gula pasir. Di Indonesia setara dengan kopi/teh manis.

Kopi/Teh Kosong: kopi/teh tanpa gula dan susu. Di Indonesia setara dengan kopi/teh tawar/pahit.

Semua kopi dan teh disajikan panas, apabila mau disajikan dingin tinggal ditambahkan kata “Peng” yang berarti es, di akhir seperti Kopi-O Peng.

  • Disunting oleh SA 25/06/2012.