Ini tentang hasil perburuan jajanan tradisional waktu pulang kampung kemarin. Bersama adik paling kecil, pada suatu Minggu pagi, kami niatkan pergi ke Pasar Wage, pasar terbesar se-kabupaten Banyumas, untuk berburu kudapan jaman dulu.

Ternyata tidak mudah menemukan jajanan pasar yang sudah tergolong antik. Untuk beberapa jenis jajanan alasannya antara lain adalah karena jajanan itu tidak memiliki nilai ekonomis yang cukup layak untuk dijual atau karena memiliki masa kadaluarsa yang pendek.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: grebi, mendut, golang-galing, carabikang, talam.

Ambil saja misalnya awug-awug dan ongol-ongol. Biasanya jajanan tersebut dibuat guna pra-syarat yang harus ada pada acara slametan pengantinan, khitanan, ruwatan, wayangan dan acara sejenis lainnya. Jajanan macam itu sengaja dimasak pagi hari untuk untuk dapat dihidangkan langsung siang harinya, karena kalau tidak habis dimakan hari itu, dapat dipastikan besoknya pasti basi.

Asal-usul jajanan macam ini tidak bisa dijelaskan secara pasti, karena biasanya sejarahnya hanya berdasar cerita mulut ke mulut yang entah dimulai dari siapa. Contohnya kisah tentang kue kamir.

Beberapa cerita menyebutkan bahwa kue kamir dibuat pertama kalinya oleh keturunan Arab yang tinggal di kelurahan Mulyoharjo, Pemalang. Nama Kamir sendiri konon kabarnya berasal dari kata “khamir” yang artinya ragi. Tapi, siapa yang bisa menjamin kebenaran sejarah tersebut, kalau bahkan adik saya pun bisa memiliki pendapat lain. “Kue kamir itu bukan dari Arab, kue kamir itu sebenernya dari Jepang, aslinya namanya kue dorayaki, sering dimakan Doraemon!”. Padahal, pergi ke Jepang atau makan kue dorayaki yang asli pun adik saya belum pernah.

Bicara tentang kemiripan, kudapan lokal juga memiliki beberapa kemiripan dengan makanan kecil dari negara luar, seperti misalnya serabi juruh dan roti klepes.

Serabi juruh sungguh sangat mirip dengan panekuk atau kue pancake. “Serabi juruh ini seperti pancake tradisional, atau kue panekuk kampung, mas,” adik saya berkomentar. Serabi juruh dan panekuk sama-sama dibuat dari tepung terigu ditambah bahan-bahan lain yang kemudian dituang dalam cetakan. Yang membedakan antara serabi juruh dan panekuk adalah bahwa serabi juruh memiliki pasangan saos berupa campuran antara santan, gula kelapa dan pandan, sedangkan panekuk biasanya disajikan dengan madu.

Lain lagi dengan kue klepes. Kue klepes ini dibuat dari dua lapis biskuit yang antar lapisnya diisi tape. Sekilas hampir mirip dengan konsep pembuatan crepes, bukan? Bisa jadi karena itulah namanya berasal. Crepes menjadi klepes?

Selain memiliki kesamaan dengan makanan luar, jajanan pasar juga memiliki kesamaan antar daerah di Indonesia, kadang yang membedakan hanya penyebutannya saja.

Misalnya, jajanan berbahan baku singkong yang digoreng dengan cairan gula merah di dalamnya. Kalau di Banyumas jajanan itu namanya ondol-ondol sedang di Sunda biasa disebut roti obi. Ada lagi kudapan dari sayuran matang disiram bumbu parutan kelapa pedas, kalau di Banyumas disebut kluban, sedang di tanah Sunda disebut urap. Lalu ada lagi tentang holang-galing Banyumas yang di Jakarta biasa disebut “kue bantal”. Dage Purwokerto, oncom tahu di sunda atau menjes di Malang.

Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.
Dari kiri ke kanan, searah jarum jam: utri, jongkong, kue kamir, putu mayang, dage/gajes, grontol, ondol-ondol.

Untuk jenis jajanan tertentu bahkan walau memiliki komposisi yang sama namun bisa memiliki nama yang berlainan, di sama-sama satu daerah. Misalnya nagasari dan utri. Sama-sama berasal dari olahan tepung beras dan sama-sama dibungkus daun pisang (yang dibuat seperti jenang dengan potongan pisang di dalamnya), namun kalau nagasari dibungkus berbentuk segitiga, sedang utri cukup “digubet” sehingga berbentuk pipih menyerupai tempe bungkus.

Beberapa jajanan juga memiliki cerita yang unik, tentang meniran misalnya. Walau hampir sama dengan arem-arem tapi sejatinya dia berbeda. Kalau arem-arem dibuat dari beras yang masih baik sedang meniran dibuat dari beras menir, atau sisa beras yang rusak/patah. Namun justru karena itu meniran jadi memiliki rasa yang lebih unik karena teksturnya, yang berasal dari beras rusak tersebut, lebih lembut.

Jajanan pasar tradisional, juga memiliki kemiripan dalam bahan baku olahannya. biasanya jajanan pasar tradisional berbahan baku beras, terigu, singkong, kedelai, bahkan ada beberapa memakai bahan ampas yang dimanfaatkan kembali.

Jajanan berbahan baku beras (atau tepung beras) dan terigu contohnya serabi, kamir, carabikang, lupis (beras ketan), utri, golang-galing, mendut, meniran, jongkong dan lain sebagainya. Kalau yang berbahan baku singkong misalnya ciwel, cenil, getuk (oyek, mawur, intil), klanting dan cimplung. Sedang yang berasal dari ampas yang diolah kembali bisa seperti seperti ranjem (ampas tahu), templek (ampas kedelai), tempe bongkrek (ampas peraman air kelapa) dan dage (ampas kelapa).

Masih terkait bahan baku, beberapa jajanan tradisional juga masih memakai bahan pewarna alami. Misalnya ciwel hitam (jajanan yang dibuat dari pati singkong). Warna hitamnya berasal dari oman (abu hasil bakaran batang padi selepas panen) yang diambil airnya untuk dijadikan pewarna si ciwel.

Pada akhirnya jajanan tradisional, walau sudah semakin jarang ditemukan, masih tetap terbukti sebagai legenda hidup tangguh yang tetap bisa menahan gempuran makanan olahan modern yang lebih canggih dan lebih “nge-brand”.

  • Disunting oleh SA 09/09/2012