Dabbawalla di Mumbai
Dabbawalla di Mumbai. Foto oleh Steve Evans, (lisensi Creative Commons)

Ketika makan siang bersama kolega kantor saya beberapa minggu lalu, di sela-sela santapan yang menggugah selera dan diskusi produktif tentang pekerjaan, kami sampai pada cerita tentang ksatria-ksatria Mumbai. Kolega kantor saya memang berasal dari Mumbai, India, namun sudah bekerja di Indonesia hampir 15 tahun lamanya. Ksatria apa yang dimaksud? Jangan membayangkan mereka ksatria berbaju besi yang naik kuda untuk membela kepentingan negaranya. Ksatria yang kami bicarakan adalah ksatria pelanjut kehidupan: sang dabbawalla. Mereka adalah pekerja-pekerja gigih yang berkontribusi membantu jutaan rakyat Mumbai untuk makan siang. Kenapa saya juluki ksatria, kita akan tahu sebentar lagi.

Mumbai adalah kota besar berpenduduk lebih dari 13 juta jiwa di sebuah pesisir India bagian barat, ibukota dari negara bagian Maharashtra. Setiap harinya bisa jadi 25% dari jumlah itu sedang bekerja atau belajar di luar rumah. Satu hal yang biasa menjadi dilema dan pikiran kita ketika bekerja atau belajar di luar rumah adalah makan siang.

Semua dari kita pasti pernah mengalami dilema memilih makan siang: di mana, apa, dan kapan. Makan siang di rumah? Tidak selalu mungkin untuk pulang ke rumah ketika ada di kantor. Makan siang di kantin atau warung murah terdekat terkadang membuat kita khawatir akan kebersihannya. Makan siang di mal atau kafe tidak bisa setiap hari karena harganya kurang terjangkau. Lalu, makan apa? Pilihan makanan belum tentu sehat dan sesuai dengan selera. Karena tak ada waktu, kebanyakan kita memilih yang enak dan bikin kenyang saja. Kemudian, ada pertanyaan kapan kita makan siang? Terkadang kita lupa atau tak sempat beranjak dari tempat duduk. Alangkah enaknya jika ada yang mengantarkan makan siang di kantor kita.

Persoalan-persoalan inilah yang coba dijawab oleh para dabbawalla atau “pengantar makan siang” di Mumbai. Pertama, makan siang yang paling sehat, murah dan baik adalah makan siang yang dibuat di rumah: bahannya pasti, orang rumah tahu apa yang terbaik buat kita, dan hampir pasti selalu enak. Kedua, bagaimana jika kita membawa makan siang rumahan ini ke kantor atau sekolah, tapi tanpa bersusah-payah membawanya sendiri? Ketiga, bagaimana jika makan siang rumahan itu diantar tepat waktu setiap hari jam 12 siang, lalu rantang (disebut “tiffin” atau “dabba” di India) kosongnya diantarkan lagi pulang ke rumah untuk dibersihkan dan dipersiapkan keesokan harinya? Menyenangkan bukan?

Para dabbawalla ini bekerja setiap hari melakukan semua itu.

Dengan biaya tak sampai Rs. 300 (Rp50.000-an) per bulan tunai, kita dapat menikmati makan siang rumahan di kantor (porsi penuh dan besar!) tanpa harus repot-repot membawa rantang besar di tas. Bagaimana caranya?

Ada 5.000-an dabbawalla tersebar di berbagai distrik Mumbai dengan radius 60-80km yang siap menjemput rantang makan siang di rumah kita setiap pagi buta. Tentunya, makan siang ini harus dibuat oleh orang rumah, seperti ibu atau pembantu, atau kita sendiri kalau sempat. Para dabbawalla kemudian mengantarkan ke tempat kerja atau sekolah kita secara estafet. Satu rantang tidak dibawa oleh satu orang saja selama perjalanan. Mereka yang langsung mengambil rantang di rumah kita mungkin hanya membawanya sekian ratus meter atau beberapa kilometer, lalu memindahtangankan ke dabbawalla lain, yang kemudian, dengan modal sederhana seperti gerobak, sepeda atau rak yang dipanggul, melanjutkan perjalanan menemui dabbawalla berikutnya. Mungkin saja, dabbawalla berikut sudah menunggu di stasiun kereta api. Di sebuah gerbong khusus, mereka memasukkan ratusan bahkan ribuan rantang dari berbagai daerah. Gerbong kereta ini akan sampai di suatu tempat di tengah kota, lalu dabbawalla lain sudah menunggu di situ untuk dilanjutkan ke gedung kantor yang kita tuju. Begitu rantang sampai di kantor kita, jam sudah menunjukkan hampir makan siang, dan sesuai jadwal, kita bertemu kembali dengan rantang kita tadi pagi!

Akhirnya makan siang pun disantap. Lalu bagaimana nasib rantang kosong itu?

Rantang kosong kita tinggalkan saja di situ. Satu jam kemudian, ada dabbawalla yang sama yang akan mengambil rantang tersebut untuk diantarkan pulang, dengan rute yang sama ketika berangkat! Kita sebagai pelanggan pun bisa melanjutkan bekerja tanpa memikirkan ke mana rantang kita pergi. Kita pulang dan rantang kosong sudah ada di rumah, siap untuk dicuci dan digunakan kembali esok hari.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mereka bisa tahu rantang mana dikirim ke mana, dan ke kantor mana, untuk siapa? Para dabbawalla dibantu oleh sistem kode tulisan dan warna di rantangnya. Mereka tak peduli nama dari si pengirim dan penerima. Pelanggan hanya perlu memberitahukan lokasi pengiriman, (misalnya kalau di Jakarta, minta dikirimkan dari Tanjung Barat ke sebuah gedung kantor di Sudirman). Selanjutnya, “manajemen” dabbawalla yang akan memberikan kode sesuai sistem mereka sendiri. Berikut contoh kode dabbawalla yang dicat di atas rantang, berikut penjelasannya.

Kode dabbawalla
Data diaptasi dari mumbaidabbawala.org

Dalam kasus di atas, rantang dikirimkan ke sebuah gedung bertingkat. Dalam kasus gedung bertingkat, biasanya rantang hanya disampaikan di lantai dasar, untuk kemudian diambil oleh pegawai bersangkutan.

Menurut diskusi saya dengan kolega kantor tadi, tidak pernah terjadi kesalahan selama enam tahun dia menggunakan jasanya ketika masih di Mumbai dulu. Tingkat kesalahannya hanya satu dari 16 juta pengiriman. Padahal, setiap harinya ada 200.000 rantang yang dikirim dan katanya mereka tidak berhenti bekerja walaupun dalam badai monsoon sekalipun. Mereka juga bekerja tanpa kendaraan bermotor. Mereka mengandalkan jalan kaki, sepeda atau gerobak. Terbayang laju yang tidak cukup cepat, tetapi tetap sampai pada tujuan tepat waktu.

Distribusi rantang makan ala Mumbai ini juga tidak menggunakan teknologi tinggi seperti reservasi internet atau alat-alat canggih lainnya. Sebuah kenyataan menohok bagi kita barangkali yang selalu memuja perkembangan teknologi seluler!

Sistem kerja dabbawalla ini sangat tersohor di dunia bisnis karena konsepnya yang dekat dengan logistik dan supply chain management. Beberapa pekerja dabbawalla bahkan sempat diundang ke seminar-seminar dan kuliah-kuliah bisnis di India untuk menjelaskan konsep mereka bekerja kepada para mahasiswa modern. Perlu diingat bahwa pekerja dabbawalla bukanlah individu berpendidikan tinggi (rata-rata berpendidikan SMP) dan tidak ada manajemen resmi, apalagi perusahaan yang mengatur semua ini.

Penghasilan yang didapat oleh masing-masing dabbawalla per bulan paling rendah adalah US$40 (Rp360.000) sampai US$80 (Rp720.000). Beberapa ada yang mendapatkan Rs. 5.000 – 6.000 (Rp 971.000 – 1.100.000).

Terbukti, bisnis dabbawalla ini memiliki banyak keunggulan dan manfaat. Ia merupakan bisnis yang rendah investasi, minim teknologi, ramah lingkungan, tetapi sangat efisien dan efektif, sangat berdedikasi, memberikan 100% kepuasan pada pelanggan dan dengan tingkat kesalahan yang hampir nihil.

Wajar jika mereka saya juluki ksatria, karena berkat pengorbanan dan dedikasi mereka, warga Mumbai dapat menikmati makan siang murah, sehat dan teratur setiap hari.

Seusai berbincang dengan kolega kantor, saya menatap kembali piring kosong di depan saya sisa makan siang kami hari ini dan berharap makanan yang baru kami santap telah diantarkan oleh seorang dabbawalla pertama di Jakarta…

  • Disunting oleh ARW 30/03/2011