Pembuat Naan di Kabul, Afghanistan

Di bawah sinar matahari yang perlahan bergerak ke arah barat, di depan pintu sebuah toko swalayan kecil yang berada di jalan Wazir Akhbar Khan, terletak tepat di depan bundaran jalan terlihat hal yang menarik. Seorang anak lelaki kecil dengan rambut coklat yang berantakan dan berpipi kemerahan berjalan cepat sambil memeluk roti yang berbentuk panjang. Seorang kakek tua dengan garis kerut tegas di wajahnya dan berjanggut putih lengkap dengan turbannya mengayuh sepeda dengan tumpukan roti di dudukan belakang. Seorang wanita dengan wajah tertutup burqa berwarna biru membawa roti yang dibungkus selembar kain tipis.

Di hari yang lain secara tidak sengaja saya melewati sebuah toko penjual roti, tidak jauh dari “Chicken Street” jalan yang sangat populer di kalangan turis sebagai tempat membeli cinderamata. Setelah beberapa langkah melewati toko roti itu, saya berhenti sejenak dan kemudian kembali ke toko tersebut untuk mengambil beberapa gambar. Siang itu tepat pukul dua belas siang ketika orang sedang berangkat menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat Jumat, sedangkan pembuat roti sedang membuat dan mempersiapkan roti jualannya.

Toko roti kecil itu disebut “Nanwaee”, dari luar terlihat hanya pintu dan jendela kaca yang bertuliskan karakter bahasa Dari dengan cat berwarna merah. Di balik kaca tertata rapih roti pipih berbentuk panjang yang masih panas. Masyarakan lokal menyebut roti ini naan atau lebih tepatnya naan-i-Afghani berasal dari bahasa Persia yang secara harfiah berarti roti Afghanistan. Naan sangat umum didapatkan di negara-negara di Asia Tengah dan Asia Selatan, hanya saja bentuk dan variasi bahan dan topping yang sedikit berbeda.

Bediri di depan pintu dengan kamera di tangan, tukang roti itu sudah mengenali bahwa saya adalah orang asing yang datang bukan untuk membeli roti. Sambil menggerakan tanggannya dia menyuruh saya masuk “Come in, take picture”. Setelah mengambil beberapa gambar sesuai permintaan mereka, saya dipersilahkan duduk di atas dipan kayu yang sedikit kotor dengan serpihan tepung gandum.

Keempat pembuat roti itu bekerja sama sesuai tugasnya masing masing. Yang duduk di sudut ruangan dengan lengan baju tergulung mengaduk adonan gandum yang dicampur sedikit garam dan ragi. Pembuat roti di depannya memotong, menimbang dan membentuk adonan yang telah siap. Pembuat roti yang duduk di depan tungku api atau tandoor dengan cekatan menempelkan adonan roti panjang dengan bantalan kain ke dalam dinding tandoor yang berupa tungku api terbuat dari tanah liat. Dan yang terakhir duduk dekat jendela kaca bertugas menata roti yang sudah matang untuk siap dijual.

Pembuat roti itu adalah Ahmed, dengan dua tongkat besi, kedua tangannya sangat terampil mencungkil roti-roti yang telah matang berwarna kecoklatan dari tandoor. Sejak umur dua belas tahun, selepas pulang sekolah Ahmed selalu membantu seorang pembuat roti di dekat rumahnya. Pada saat itu Ahmed harus bekerja untuk membantu keluarganya. Selain membawa pulang sepotong roti gratis, Ahmed juga mendapatkan sedikit uang yang diberikan kepada Ibunya. Saat ini Ahmed berumur tiga puluh lima tahun, dengan dibantu tiga temannya Dia mengelola toko rotinya sendiri.

Walaupun hanya mengelola toko roti kecil, hingga kini Ahmed tidak pernah menyesali keputusannya dulu meninggalkan sekolah. Pada masa itu Ahmed kecil hidup di keluarga yang berkekurangan. Orang tuanya bekerja serabutan dan uang yang dihasilkan habis untuk kebutuhan sehari hari. Ditambah lagi mencari pekerjaan sangatlah sulit di tengah perang yang berkelanjutan saat itu.

Sampai akhirnya Ahmed menemukan seorang Mullah yang memiliki usaha toko roti dan membutuhkan pembuat roti. Pengalamannya membuat roti membuat Ahmed diterima bekerja penuh waktu di toko roti milik Mullah. Seiring berjalannya waktu Ahmed membuat toko rotinya sendiri dengan pinjaman modal dari Mullah tempat di mana dia bekerja saat itu.

Dalam sehari Ahmed bisa menjual 1.500 buah roti yang harganya telah ditetapkan pemerintah Afghanistan sebesar 10 Afs per buah. “Biasanya orang selalu datang pada saat jam jam makan pagi siang dan malam untuk membeli roti,” kata Ahmed. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kabul, mereka hanya menyiapkan lauknya di rumah dan membeli roti di toko roti yang menjamur di setiap sudut kota Kabul.

Tak lama seorang gadis kecil bermata hijau dengan pakaian yang lusuh datang ke toko roti Ahmed meminta sepotong roti. Sambil memberikan sepotong roti, Ahmed berkata, “Gadis itu berasal dari keluarga orang miskin seperti saya dulu. Miskin, kaya, polisi, pemerintah, masyarakat biasa bahkan Taliban, semua makan roti ini,” candanya sambil menunjukan naan yang baru diangkat dari tandoor.

  • Disunting oleh SA 23/06/2011